• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan

Mengingat bahwa kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yng pesat serta potensi, memberikan banyak peluang bagi pengaksesan, pengelolahan dan pendayagunaan informasi dalam volume besar secara cepat dan akurat. Sesuai dengan Inpres Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government yang menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi dan informasi dalam proses pemerintahan (e-Government) akan menjadi lebih efisien, efektif, akuntanbilitas dan transparansi penyelenggaraan pemerintah serta untuk menyelenggarakan pemerintahan yang smart government diperlukan adanya kebijakan dan strategi penerapan dan pengembangan e-Government.

Dalam mewujudkan hal tersebut di lembaga pemerintahan, maka pemerintah harus mampu melakukan berbagai hal guna meningkatkan efektifitas dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Saat ini pemerintah Kabupaten Asahan telah menyelenggarakan pelayanan berbasis teknologi informasi di lingkungan pemerintahan Kabupaten Asahan berupa e-Government.

Hal ini juga mewujudkan program nasional dalam meningkatkan pelayanan dalam

berupa smart city. Pemerintah Kabupaten Asahan telah membangun infrastruktur untuk penunjang e-Government. E-Government itu sendiri merupakan pondasi awal dalam mewujudkan Asahan Smart City.

Perlu diketahui bahwa secara skematis yang terbentuk adalah ketika pemerintah menerapkan pelayanan publik berupa e-Government serta melakukan pengembangan secara rutin dan mengembangkan aplikasi yang terkait, maka akan membentuk pemerintahan smart government. Smart government merupakan perubahan dari e-Government yang dirancang dengan beberapa tahap sehingga menciptakan smart city, karena dalam bagian smart city terdapat smart government.

Hal ini diperkuat oleh (Supangkat, 2016) sebagai penemu smart city di Indonesia menjelaskan bahwa terdapat 6 (enam) garuda smart city model yang dikembangkan untuk mewujudkan smart city, yaitu smart environment, smart economi, smart living, smart people, smart mobility, dan smart government.

Penelitian yang dilakukan oleh Utama Andri Arjita (2017) terkait pelayanan publik e-Government menjelaskan bahwa e-Government mampu menjadi strategi unggulan dalam mentrasformasikan aktivitas kegiatan pemerintah dan meningkatkan pelayanan masyarakat. E-Government juga mampu menghemat anggaran serta mengefektifkan program-program pelayanan publik.

Penerapan e-Government di Kabupaten Asahan didasari atas azas manfaat, keadilan dan pemerataan, adanya kepastian hukum serta keamanan dan

untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang bersih, baik, transparan, akuntabel, efektif dan efisien dalam pelayanan publik dengan memanfaatkan prinsip ekonomi biaya ringan serta untuk memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan publik. Maka dengan adanya tujuan tersebut, perlu diperhatikan pula indikator dalam penerapan e-Government oleh Indrajit (2005) yang dimana mengandung 6 (enam) unsur yaitu: (1) Infrastruktur Telekomunikasi, (2) tingkat konektivitas dan penggunaan TI oleh pemerintah, (3) Kesiapan sumber daya aparatur pemerintah, (4) Ketersediaan dana dan anggaran, (5) Perangkat hukum, (6) Perubahan paradigma. Maka dengan demikian dapat diketahui sejauh mana penerapan e-Government di lingkungan pemerintahan Kabupaten Asahan.

Dalam penerapan pelayanan publik e-Government di Kabupaten Asahan, diperlukan pemanfaatan jaringan komunikasi serta informasi, hal ini dikarenakan menyangkut pada data masyarakat. Sehingga dalam hal ini diperlukan kerjasama antara semua pihak terkait baik organisasi perangkat daerah maupun pemerintahan terkecil untuk meningkatkan pelayanan secara cepat dan murah.

Perlu diketahui bahwa dalam penerapan e-Government di lingkungan Kabupaten Asahan pelaksanaan dan pengelolaannya dilakukan oleh dinas komunikasi dan informatika Kabupaten Asahan. Tanggungjawab yang diberikan pemerintah berdasarkan Perbup Nomor 39 Tahun 2018 adalah melakukan koordinasi dengan perangkat daerah, menyusun rencana induk e-Government daerah serta publikasi kegiatan pemerintah daerah. terkait koordinasi terhadap perangkat daerah di lingkungan kabupaten Asahan, beberapa organisasi perangkat daerah terlah lebih awal melakukan pengembangan terkait pelayanan publik

sebelum pemerintah Kabupaten Asahan mengeluarkan keputusan terkait pelayanan e-Government, sehingga koordinasi diperlukan, selain pada pengembangan aplikasi juga pada pembangunan infrastruktur-infrastruktur penunjang jaringan.

Pelaksanaan serta penerapan e-Government di Kabupaten Asahan pada berbagai sistem pelayanan publik diperlukan infrastruktur yang besar dengan kemampuan teknis yang kuat. Pembangunan command center yang merupakan bentuk kebutuhan berupa kebijakan sebagai infrastruktur yang berfungsi untuk menampung seluruh sistem yang ada pada e-Government baik secara internal yang ada pada seluruh perangkat daerah, maupun eksternal seperti perkembangan lingkungan diluar birokrasi pemerintahan dengan pemanfaatan cctv sebagai bagian dari pencegahan kecelakaan dan tindak kejahatan jalanan. Perkembangan infrastruktur saat ini dilakukan oleh diskominfo Kabupaten Asahan untuk mewujudkan asahan smart government dengan penggunaan serta peningkatan penggunaan teknologi di bidang layanan data center baik dari pengembangan aplikasi-aplikasi serta layanan pengembangan internet dan pengguna akses internet secara publik meskipun pengembangan tersebut tidak terlalu signifikan namun hal tersebut dilakukan untuk dijadikan masukkan bagi pihak penyedia sebagai pembanding dari perkembangan baik sebelum maupun sesudah.

Selain keberadaan infrastruktur serta pengembangannya, perlu diketahui tingkat konektivitas serta penggunaan TI di lingkungan pemerintah Kabupaten

dalam membantu di setiap aktivitas pemerintahan dan ini akan memperlihatkan kesiapan dari pemerintah serta menjadi tolak ukur dari kesiapan pemerintah dalam menerapkan konsep e-Government.

Pada tingkat konektivitas serta perkembangan penggunaan teknologi di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan saat ini masih dapat dikatakan cukup baik dari segi pengembangan aplikasi, namun berdasarkan konektivitas terhadap aplikasi e-Government yang dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Asahan, beberapa diantaranya belum memuaskan karena hanya sebatas informasi halaman utama saja serta belum dapat memberikan informasi-informasi yang lebih rinci.

Namun yang menjadi permasalahan yang diketahui peneliti berdasarkan informasi dari informan adalah sumber daya manusia. Kebutuhan SDM menjadi bagian penting terkait pengembangan teknologi dan informasi di lingkungan Kabupaten Asahan. Kebutuhan tersebut menjadi sangat penting mengingat bahwa pembangunan infrrastruktur harus diimbangi dengan permbangunan SDM yang secara umum dapat memahami teknologi secara umum.

Ketersediaan SDM apartur di lingkungan pemerintahan Kabupaten Asahan memang menjadi peran utama di dalam pengembangan dan pelaksanaan e-Government pada suatu daerah, karena pada dasarnya manusia yang bekerja di lembaga pemerintahan, maka tingkat kompetensi dan keahlian menjadi sangat mempengaruhi performa penerapan e-Government. Kondisi yang terjadi pada pemerintahan Kabupaten Asahan adalah bahwa ketersediaan SDM aparatur di lingkungan Kabupaten Asahan masih sangat minim, hal ini juga menjadi tantangan bagi diskominfo sebagai pemangku pelaksanaan bimtek terkait

e-Government di Kabupaten Asahan. Adapun tantangan lain yaitu memanfaatkan dana anggaran dengan baik mungkin, anggaran diperlukan juga dalam meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan dan pemeliharaan hasil hasil pembangunan, memberdayakan sarana dan prasaranan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan lebih optimal, mendayagunakan tenaga teknis pelaksana dengan pemanfaatan teknologi guna profesionalisme mitra kerja dalam melaksanakan pembangunan bidang komunikasi dan informatika, meningkatkan koordinasi dengan seluruh perangkat daerah serta mengoptimalkan penanganan prioritas usulan masyarakat agar hasil pembangunan sesuai dengan aspirasi dan bermanfaat bagi masyarakat Ketersediaan sumber daya manusia di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan menjadi tantangan bagi seluruh organisasi perangkat daerah. Hal ini menyangkut pada konsistensi pemerintah dalam mengembangkan pelayanan publik e-Government.

Pada dinas komunikasi dan informatika pola permodalan yang dilakukan sudah sesuai dengan apa yang telah ditetapkan. Jika dalam hal pengadaan sistem serta jaringan dan lainnya diatur dalam APBD yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan penerapan e-Government sudah tepat. Hal ini pengalokasian yang dilakukan diskominfo Kabupaten Asahan sesuai dengan kesepakatan yang diarahkan oleh Bupati Asahan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat bahkan anggaran yang dimanfaatkan oleh diskominfo (terlampir) menggunakan 95.51 persen realisasi. Hal ini juga merupakan tujuan dari bupati Asahan dengan penggunaan anggaran dengan prinsip ekonomi biaya ringan.

Selain itu dalam penerapan e-Government, keberadaan perangkat hukum sangat penting. Perangkat hukum merupakan aturan yang mendasar dari suatu program dengan tujuan untuk melindungi hak-hak terkait bertukar data dan informasi antar individu, kelompok-kelompok, maupun antar daerah. hal ini dilakukan untuk memberikan perlindungan yang kuat serta pemberian ketentuan sanksi jika prosesnya bertentangan dengan kesepakatan.

Kondisi saat ini bahwa penerapan e-Government di Kabupaten Asahan telah memiliki landasan hukum yang tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang kebijakan dan stategi nasional pengembangan e-Government dan diperkuat dengan Peraturan Bupati Nomor 39 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan e-Government di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan.

Dalam penerapan e-Government di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Bupati Nomor 39 Tahun 2018 dilaksanakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika sebagai penanggungjawab dalam melakukan koordinasi dengan perangkat daerah terutama SKPD yang lebih dahulu sudah mengembangan pelayanan masyarakat berbasis teknologi, sehingga menjadi tugas dinas Komunikasi dan Informatika sebagai penanggungjawab untuk melakukan koordinasi baik dalam pemasangan sistem jaringan, pemuktahiran data serta informasi.

Dari keseluruhan bagian terkait indikator penerapan e-Government, pada akhirnya ditentukan pada hasil paradigma perubahan di lingkungan pemerintahan kabupaten Asahan. Perubahan paradigma yang terjadi pada pemerintahan Kabupaten Asahan terhadap penerapan e-Government tuntutan bahwa adanya

kerjasama antar seluruh perangkat daerah terkait informasi-informasi pelayanan masyarakat selain itu, tuntutan lain bahwa penerapan e-Government menuntut perubahan pada seluruh aparatur terkait penerapan teknologi pada pelayanan

Hal ini dihasilkan dari pemikiran yang bersifat fundamental yang sangat mendasar yang secara logika mengandung sejumlah ide-ide perubahan yang bersifat radikal, karena sebuah organisasi pada dasarnya merupakan kumpulan dari orang-orang dalam sebuah struktur untuk menjalankan aktivitas tertentu, maka dari itu subjek utama perubahan yang tepat pada dasarnya memperbaiki kinerja proses terkait yang ada.

Pemahaman dari Teori Indrajit (2005) pada aspek paradigma yang ditimbulkan menurut peneliti dengan mencoba menggambarkan bahwa inisiatif yang dibangun oleh para pemimpin daerah terkait program-program perubahan tidak akan ada artinya tanpa terlebih dahulu diawali dengan perubahan paradigma atau cara pandang terkait pelayanan publik. Artinya bahwa sikap keberanian dari pemimpin atau aktor untuk melakukan redefinisi ulang terhadap perannya serta mengambil langkah-langkah yang cukup fundamental dalam memperbaiki kinerja organisasinya, maka hal ini yang disebut sebagai change management. Hal yang sama dikemukakan oleh Warjio (2016) bahwa pemimpin atau aktor-aktor inilah yang menjadi bagian terpenting dari seluruh proses-proses pembangunan dalam rangka mewujudkan perubahan-perubahan yang dilakukan berdasarkan proses motif politik pembangunan dengan mendorong intelektual serta logika dari seorang pemimpin atau aktor yang menghendaki adanya perubahan di masyarakat

Dalam proses organisasi di lembaga pemerintahan, pemerintah harus membagi dirinya menjadi departemen serta divisi berdasarkan kebutuhan fungsional, sehingga hal tersebut menjadi pembentuk perubahan terhadap pemerintahan yang pofesional. Pemerintah yang professional merupakan pemerintah yang mampu serta kuat dalam pengambilan keputusan terutama dalam membangun sistem informasi yang utuh sehingga memudahkan bagi manajemen untuk mengambil keputusan. Namun permasalahan yang timbul adalah integrasi data yang terkumpul yang juga merupakan data dari masing-masing perangkat daerah yang terkadang terjadi duplikasi data, sehingga dalam hal tersebut menyulikan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan, Oleh karena itu, dengan adanya sistem data terpadu, maka data-data yang terintegrasi dari masing-masing perangkat daerah menjadi data central, sehingga masyarakat hanya perlu memberikan satu data untuk membuka seluruh proses pelayanan.

Tabel 4.14 Hasil Temuan Lapangan Terhadap Teori Indrajit Kriteria Penerapan Hasil Temuan Lapangan

Infrastruktur Telekomunikasi

Secara teknis, Pemkab cukup baik dalam membangun infrastruktur penunjang e-Government dengan sistem command center dan pengembangan aplikasi terkait penyatuan data dan informasi

Tingkat Konektivitas dan Penggunaan TI

Tingkat konektivitas di lingkungan Pemkab Asahan masih kurang memuaskan terkait di lingkungan pemerintahan terkecil seperti kecamatan dan kelurahan belum dapat memberikan informasi/data penting di dalam aplikasi yang dikembangkan, meskipun secara pengembangan aplikasi cukup baik, akan tetapi perlu adanya pemantauan kembali sehingga yang dibutuhkan seperti hal penting seperti informasi dan data dapat di ketahui semua pihak.

Kesiapan SDM aparatur Kondisi kesiapan aparatur terkait kemampuan dan pemahaman terhadap teknologi masih belum memadai, terlebih beberapa instansi memerlukan tenaga kontrak terhadap pembentukan sistem aplikasi yang dibutuhkan.

Oleh karena itu diperlukan pelatihan dan pengembangan secara lebih intensif sesuai dengan kebutuhan

Ketersediaan Dana dan Anggaran

Alokasi anggaran yang tersedia sudah cukup baik dan berasal dari APBD. Anggaran yang digunakan untuk pengembangan Infrastruktur dan sistem terkait e-Government, serta penggunaan prinsip ekonomi biaya ringan

Perangkat Hukum Perangkat hukum menjadi dasar penerapan e-Government. Kabupaten Asahan telah mengeluarkan Peraturan Bupati Nomor 39 tahun 2018 tentang penerapan e-Government di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan

Perubahan Paradigma Perubahan paradigma yang muncul di lingkungan Kabupaten Asahan adalah adanya sebuah tuntutan perubahan yang besar terhadap pelayanan publik untuk menjadi lebih baik serta positif meskipun sangat sulit, namun hal ini dapat membangun rasa kepercayaan dan kenyamanan oleh masyarakat terhadap pemerintah Kabupaten Asahan,

Sumber : Peneliti, 2019

5 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Struktur kelembagaan dalam penerapan e-Government di Kabupaten Asahan berada pada Dinas Komunikasi dan Informatika. Hal ini dinyatakan dalam Peraturan Bupati Nomor 39 Tahun 2018 tentang Penyelenggaran E-Government di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Asahan. Adapun azas dan tujuan di selenggarakannya e-Government di Kabupaten Asahan adalah untuk azas manfaat, keadilan dan pemerataan, kepastian hukum, keamanan serta etika dengan tujuan untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang bersih, baik, transparan, akuntabel, efektif dan efisien dalam pelayanan publik menuju penyelenggaraan pemerintahan yang smart government dengan prinsip ekonomi biaya ringan.

Adapun kondisi dari terselenggaranya e-Government di lingkungan Kabupaten Asahan dapat dikatakan cukup baik meskipun ada tugas-tugas yang harus diperbaharui dan ditingkatkan seperti halnya anggaran khusus untuk membangun command center sebagai basis seluruh sistem untuk menampung seluruh komponen dalam e-Government itu sendiri serta pengembangan aplikasi dengan ramah masyarakat, artinya bahwa aplikasi yang dikembangkan tidak menyulitkan pihak lain ketika untuk mengaksesnya serta kondisi konektivitas seluruh OPD dan Kantor Kecamatan harus diperbaiki sedemikian rupa karena peneliti menemukan bahwa sistem beberapa OPD tidak dapat dibuka dan

memerlukan pengamanan untuk mengaksesnya. Hal inilah mempersulit masyarakat ketika melakukan akses terhadap e-Government di Kabupaten Asahan.

Selanjutnya merupakan hal utama dari seluruh infrstruktur yang dibentuk tanpa adanya SDM yang memadai, hal ini menjadi kesia-siaan karena SDM menjadi bagian utama yang terpenting sebagai pelaksanaan suatu program.

Kondisi di Pemerintahan Kabupaten Asahan bahwa belum sepenuhnya kerja sama antara semua pihak terutama OPD dan kecamatan karena sumber daya manusia belum memenuhi, sehingga seluruh pengembangan dan pelaksanaannya hanya berpangku pada diskominfo dan pihak akademisi dengan konsep tenaga kontrak.

5.2 Saran

Adapun saran yang peneliti ajukan berupa rekomendasi, yaitu:

1. Mengenai infrastruktur

a. Perlu adanya penambahan, pengecekan kebutuhan perangkat IT serta standarisasi di instansi-instansi pemerintah yang sesuai dengan kebutuhan sehingga idealnya seluruh instansi-instansi dapat mendapatkan kualitas yang sama.

2. Mengenai Sumber Daya Manusia

a. Seluruh instansi harus memiliki staf khusus/operator IT

b. Perlu adanya pemetaan bagi staf yang memiliki kemampuan dalam IT di seluruh instansi

c. Perlunya pelatihan/ workshop mengenai IT serta pemahaman

3. Mengenai e-Government dan Pemanfaatan TIK

a. Perlu disusun masterplan terkait penyelenggaraan e-Government b. Perlu disusun panduan kegiatan TIK

c. Perlunya pembenahan sistem terutama pada informasi-informasi terkait data, kegiatan dan aplikasi pelayanan lokal seperti kecamatan dan kelurahan sehingga sistem e-Government membuat prosedur pelayanan menjadi lebih mudah dinikmati hingga struktur terkecil pemerintahan.

DAFTAR PUSTAKA

Al-rawahna, A. S., Chen, S.-C., & Hung, C.-W. (2018). The Barriers of E-Government Success: An Empirical Study Form Jordan. International Journal of Managing Public Sector Information and Communication Technologies (IJMPICT), 1-18 Vol. 9 No. 2.

Alshehri, M., & Drew, S. (2010). Implementation of E-Government: Advantages and Challenges. IASK E-ALT Conference Proceedings, 1-8.

Anggono, B. D. (2018). Fakultas Teknologi Pertanian. Retrieved December 13, 2019, from ftp.itb.ac.id: ftp://ftp.itb.ac.id/pub/ISO-IMAGES/linux/eii2015itb/eGovt%20&%20Smartcity.pdf

Arjita, U. A. (2017). E-Government Sebagai Bagian Dalam Smart City. Seminar Nasional IPTEK Terapan (SENIT), 15-17.

Arnus, S. H. (2017). Peran E-Government Dalam Mewujudkan Transparansi Pemerintahan di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ejournal Iain Kendari.

Bitjoli, B. E., Rindengan, Y. D., & Karouw, S. D. (2017). Analisa Kesiapan Kota Cerdas (Studi Kasus: Pemerintah Kota Manado). E-Journal Teknik Informatika Vol 12, No.1, 1-7.

BPS. (2018). Beberapa Indikator Penting Kabupaten Asahan. Asahan: Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan.

BPS. (2018). Kabupaten Asahan Dalam Angka. Asahan: Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan.

BPS. (2018). Kondisi Kesehatan Penduduk Kabupaten Asahan 2018. Asahan:

Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan.

Budiardjo, M. (2007). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Damanik, M. P., & Purwaningsih, E. H. (2018). Kesiapan E-government Pemerintah Daerah Menuju Pengembangan Smart Province (Studi Pada Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal provinsi Sumatera Utara). Jurnal

Diskominfo Kabupaten Asahan. (2018). IKU DIskominfo Kabupaten Asahan.

Retrieved December 19, 2019, from Diskominfo Kabupaten Asahan:

https://diskominfo.asahankab.go.id/index.php/pages/iku

Diskominfo Kabupaten Asahan. (2018). Indikator Kinerja Utama LKJ. Retrieved December 19, 2019, from Diskominfo Kabupaten Asahan:

https://diskominfo.asahankab.go.id/index.php/pages/lkj

Diskominfo Kabupaten Asahan. (2018). Rencana Aksi. Retrieved December 19,

2019, from Diskominfo Kabupaten Asahan:

https://diskominfo.asahankab.go.id/index.php/pages/rencana-aksi

Diskominfo Kabupaten Asahan. (2018). Renstra Diskominfo Kabupaten Asahan.

Retrieved December 19, 2019, from

https://diskominfo.asahankab.go.id/index.php/pages/renstra

Diskominfo Kabupaten Asahan. (2018). TUPOKSI Diskominfo Kabupaten Asahan. Retrieved December 19, 2019, from Diskominfo Kabupaten Asahan: https://diskominfo.asahankab.go.id/index.php/pages/tupoksi-dinas Giddens, A. (2010). Teori Strukturasi: Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial

Masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Hardjaloka, L. (2014). Studi Penerapan E-government di Indonesia dan Negara Lainnya Sebagai Solusi Pemberantasan Korupsi di Sektor Publik. Jurnal Rechts Vinding BPHN, 435-452.

Haryanto. (2017). Elit, Massa, dan Kekuasaan : Suatu Bahasan Pengantar.

Yogyakarta: PolGov Fisipol UGM.

Hayati, & Purnomo, E. P. (2018). Implementasi E-government Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul Yogyakarta. Jurnal Research Gate.

Heeks, R. (2003). Most eGovernment For Development Project Fail: How Can Risks be Reduced? IPDM, 1-19.

Heta News. (2018, Februari 27). Pembangunan Command Center, Ini Fungsinya Kata Kadis Kominfo Asahan. Retrieved Desember 13, 2018, from Heta News: http://www.hetanews.com/article/122145/pembangunan-command-center-ini-fungsinya-kata-kadis-kominfo-asahan

Indrajit, R. E. (2005). ELECTRONIC GOVERNMENT IN ACTION, Ragam Kasus Implementasi Sukses di Berbagai Belahan Dunia. Yogyakarta: Academia.

Indrajit, R. E. (2006). Electronic Government : Konsep Pelayanan Publik Berbasis Internet dan Teknologi Informasi. Jakarta: APTIKOM.

Indrajit, R. E. (2013). Empat Tipe Relasi E-Government. e-Artikel sistem dan Teknologi Informasi, 1-4.

Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003. (n.d.). Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government.

JASMERAH. (2013). Sejarah Kota Kisaran. Jurnal Pendidikan Sejarah, 1-126.

Kencono, D. S. (2015). Analisis Struktur Kelembagaan Penyelenggaraan e-Government Pada Pemerintah Kabupaten Sragen Tahun 2013. Politika, 1-24.

Lauranti, M., Afrina, E., & Mawesti, D. (2017). Mengkaji Penggunaan e-Government Pemerintah Daerah di Indonesia. Jakarta: Perkumpulan Prakarsa.

Metro Rakyat News. (2018, Februari 28). Pemkab Asahan Bangun Command Center Berbasis IT. Retrieved Juli 16, 2019, from Metrorakyat.com:

https://metrorakyat.com/pemkab-asahan-bangun-command-center-berbasis/

Nasrullah. (2018). Implementasi Electronic Government dalam Mewujudkan Good Government dan Smart City (Studi Kasus Pemerintah Kota Makassar). Jurnal Teknik Informatika.

Niatullah. (2017). Analisis Penyelenggaraan E-government Menurut Rencana Induk Teknologi Informasi dan Komunikasi Oleh Pemerintah Kabupaten Pinrang. Thesis (pp. 1-66). Makassar: Sekolah Pascasarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin.

Nugraha, J. T. (2018). E-government dan Pelayanan Publik (Studi Tentang Elemen Sukses Pengembangan E-government di Pemerintah Kabupaten SLeman. Jurnal Komunikasi dan Kajian Media, 32-42.

Nugroho, T. W. (2016). Analisis E-government Terhadap Pelayanan Publik di Kementerian Hukum dan HAM. Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum.

Octavianto, A. W. (2014). Strukturasi Giddens dan Social Constructions Of Technology (SCOT) Sebagai Pisau Analisis Alternatif Penelitian Sosial

Peraturan Bupati Asahan Nomor 39 Tahun 2018. (n.d.). Penyelenggaraan e-Government di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Asahan.

Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2018. (2018). Perubahan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2016 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Asahan Tahun 2016-2021. Asahan.

Perpres Nomor 95 Tahun 2018. (2018). Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik.

Jakarta: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Rahmadanita, A., Santoso, E. B., & Wasistiono, S. (2018). Implementasi Kebijakan Smart Govenrment Dalam Rangka Mewujudkan Smart City di Kota Bandung. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja, 81-106.

Ramdani, E. M. (2018). Analisis Efektivitas Pelaksanaan E-government di Tingkat Kelurahan. Jurnal SAWALA, 31-48.

Sitokdana, M. N. (2015). Evaluasi Implementasi E-government Pada Situs Web pemerintah Kota Surabaya, Medan, Banjarmasin, Makassar, dan Jayapura.

Jurnal Buana Informatika, 289-300.

Subekti, T., & Gustomy, R. (2018). Menguji Sistem E-government Kota Malang Menuji Smart City. Interkatif Universitas Brawijaya, 1-21.

Supangkat, S. H. (2016). Smart City Initiatives. SII Smart Indonesia Initiatives.

Surdin, J. (2016). Analisis Kelayakan Implementasi E-government Dalam Pelayanan Publik di Bidang Keagrariaan di Kabupaten Pinrang. Jurnal Komunikasi KAREBA, 1-14.

Suyitno. (2018). Metode Penelitian Kuanlitatif. Tulungagung: Akademia Pustaka.

Twizeyimanaa, J. D., & Anderssona, A. (2019). The public value of E-Government – A literature review. E-Government Information Quarterly by ScienceDirect, 167 (1-12).

Warjio. (2016). Politik Pembangunan (Paradoks, Teori, Aktor, dan Ideologi).

Jakarta: Kencana.

Wijaya, A. (2015). Penerapan E-government di Sekretariat Daerah Kabupaten Semarang. Skripsi (pp. 1-102). Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Yusuf, R. M., & Jumhur, H. M. (2018). Penerapan E-government Dalam Membangun Smart City Pada Kota Bandung Tahun 2018. Jurnal e-Proceeding of Management, 3126.

LAMPIRAN

BUPATI ASAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI ASAHAN,

Menimbang : a. bahwa pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam proses pemerintahan (e-government) akan meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan maka berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-government perlu diatur penyelenggaraan e-government di daerah;

b. bahwa penyelenggaraan e-government di daerah melalui pengintegrasian infrastruktur dan sistem informasi dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dengan

b. bahwa penyelenggaraan e-government di daerah melalui pengintegrasian infrastruktur dan sistem informasi dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dengan

Dokumen terkait