ANALISIS PENERAPAN E-GOVERNMENT MENUJU ASAHAN SMART CITY
(Studi Kasus Pada Pemerintah Kabupaten Asahan)
TESIS
Oleh
NIKO BONAR HALOMOAN MANURUNG 177024023/SP
MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
ANALISIS PENERAPAN E-GOVERNMENT MENUJU ASAHAN SMART CITY
(Studi Kasus Pada Pemerintah Kabupaten Asahan)
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Pembangunan Dalam Program Studi Magister Studi Pembangunan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh
NIKO BONAR HALOMOAN MANURUNG 177024023/SP
MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Judul Tesis : ANALISIS PENERAPAN E-GOVERNMENT MENUJU ASAHAN SMART CITY
Nama Mahasiswa : Niko Bonar Halomoan Manurung
NIM : 177024023
Program Studi : Magister Studi Pembangunan
Menyetujui, Komisi Pembimbing
(Dr. Muryanto Amin, M.Si) Ketua
(Dr. Warjio, MA) Anggota
Ketua Program Studi Dekan
(Prof. Dr. Badaruddin, M.Si) (Dr. Muryanto Amin, M.Si)
Tanggal Lulus : 19 Maret 2020
Telah diuji pada
Tanggal, 19 Maret 2020
PANITIA PENGUJI TESIS :
Ketua : Dr. Muryanto Amin, M.Si Anggota : Warjio, MA., Ph.D
Prof. Dr. Badaruddin, M.Si
PERNYATAAN
ANALISIS PENERAPAN E-GOVERNMENT MENUJU ASAHAN SMART CITY
(Studi Kasus Pada Pemerintahan Kabupaten Asahan)
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Studi Pembangunan pada Program Studi – Studi Pembangunan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisasn tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku
Medan, Maret 2020 Penulis
Niko Bonar Halomoan Manurung
ANALISIS PENERAPAN E-GOVERNMENT MENUJU ASAHAN SMART CITY
(Studi Kasus Pada Pemerintahan Kabupaten Asahan) ABSTRAK
Pelayanan publik berbasis elektronik yang didasari oleh Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2018 Tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) bertujuan untuk memberikan manfaat dalam kemudahan pelayanan terhadap masyarakat. Pemerintah Kabupaten Asahan dalam Peraturan Bupati Nomor 39 Tahun 2018 tentang Penyelenggaran E-Government di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Asahan berupaya mewujudkan serta menjalankan e-Government di Kabupaten Asahan dengan azas manfaat, keadilan dan pemerataan, kepastian hukum, keamanan serta etika dengan tujuan untuk mewujudkan tata kepemerintahan yang bersih, baik, transparan, akuntabel, efektif dan efisien dalam pelayanan publik menuju penyelenggaraan pemerintahan yang smart government dengan prinsip ekonomi biaya ringan. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi terkait data- data sekunder untuk mendukung penelitian ini. Adapun kondisi dari terselenggaranya e-Government di lingkungan Kabupaten Asahan dapat dikatakan cukup baik secara infrastruktur command center, kelembagaan seperti perangkat hukum, kemampuan keuangan daerah, serta sumber daya manusia meskipun ada tugas-tugas yang harus diperbaharui dan ditingkatkan seperti halnya pengembangan sistem informasi di seluruh perangkat daerah yang belum terintegrasi seluruhnya. Selanjutnya pemenuhan dan pengembangan Sumber Daya Manusia di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa sistem yang belum terintegrasi karena kekurangan sumber daya manusia untuk menjalanankan sistem serta pemahaman akan sistem teknologi informasi dan komunikasi belum dimengerti oleh hampir seluruh pihak terutama organisasi perangkat daerah di lingkungan kecamatan dan kelurahan. Oleh karena itu perlu adanya pelatihan dan pengembangan Sumber Daya Manusia di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Asahan agar fasilitas sarana dan prasarana yang telah disediakan untuk mendukung pelayanan publik secara elektronik dapat berjalan dengan baik.
Kata Kunci : Command Center, e-Government, Kelembagaan, Smart City
ABSTRACK
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu memberikan berkat dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis ini yang berjudul Analisis Penerapan E-Government Menuju Asahan Smart City. Adapun Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pascasarjana pada Program Studi Magister Studi Pembangunan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa selesainya tesis ini tidak terlepas dari bantuan beberapa pihak yang terus memberikan doa, dukungan, bimbingan, serta saran.
Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Muryanto Amin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara serta Ketua Komisi Pembimbing yang telah banyak membantu dan mengarahkan penulis dalam penyelesaian tesis ini.
3. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Ketua Program Studi Magister Studi Pembangunan serta Komisi Penguji yang telah banyak memberikan masukan dan saran kepada penulis.
4. Bapak Warjio, PhD selaku Anggota Komisi pembimbing yang telah banyak membantu dan mengarahkan penulis dalam penyelesaian tesis ini dengan baik.
5. Bapak Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si, selaku Komisi penguji yang telah memberikan banyak masukan dan saran kepada penulis.
6. Seluruh staf dan pegawai pada Program Studi Magister Studi Pembangunan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
7. Kedua orang tuaku tercinta, bapak J.Manurung dan mama T.Purba yang selalu memberikan doa, poda ni, semangat, dukungan, cinta dan kasih sayangnya. Semoga Tuhan selalu menyertai dan melindungi semuanya.
8. Rekan-rekan Mahasiswa Program Pascasarjana Tahun 2017.
Demikian Tesis ini disusun, atas segala kekurangannya mohon maaf dan semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.
Medan, Maret 2020
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... 1
ABSTRAK ... 6
ABSTRACK ... 7
KATA PENGANTAR ... 8
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Penelitian Terdahulu ... 10
2.2 Landasan Teori ... 14
2.2.1 Teori Strukturasi... 14
2.2.2 Konsep Smart City ... 16
2.2.3 Konsep e-Government ... 19
2.2.3.1 Teori penerapan indikator e-Government ... 20
2.2.3.2 Tipe Relasi e-Government ... 22
2.2.4 Kelembagaan e-Government ... 23
2.2.4.1 Pendekatan Kelembagaan (Institusionalisme) ... 23
2.2.4.2 Dimensi Kelembagaan e-Government ... 24
2.3 Kerangka Penelitian ... 25
2.3.1 Skema Pemikiran Penelitian ... 27
BAB III METODE PENELITIAN ... 28
3.1 Jenis Penelitian ... 28
3.2 Lokasi Penelitian ... 28
3.3 Informan Penelitian ... 29
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 29
3.5 Tahapan Analisis Data ... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 33
4.1 Karakteristik Objek Penelitian ... 33
4.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Asahan ... 33
4.1.2 Kondisi Penduduk Kabupaten Asahan ... 35
4.1.3 Kondisi Kesehatan Kabupaten Asahan ... 35
4.1.7 Kondisi Keuangan Daerah Kabupaten Asahan ... 40
4.1.8 Gambaran Umum Pemerintahan Kabupaten Asahan ... 41
4.1.9 Deskripsi Umum Konsep Penerapan e-Government ... 42
4.2 Hasil Penelitian ... 45
4.2.1 Deskripsi dan Analisis Data ... 45
4.2.2 Penerapan e-Government Pemerintah Kabupaten Asahan ... 47
4.2.2.1 Infrastruktur Teknologi Informasi ... 47
4.2.2.2 Tingkat Konektivitas dan Penggunaan TI ... 57
4.2.3 Aspek Kelembagaan Penerapan e-Government ... 60
4.2.3.1 Struktur Organisasi ... 60
4.2.3.2 Perangkat Hukum ... 65
4.2.3.3 Ketersediaan Sumber Daya Manusia ... 67
4.2.3.4 Perubahan Paradigma ... 69
4.2.3.5 Ketersediaan Dana dan Anggaran ... 72
4.2.4 Aspek Penghambat e-Government Kabupaten Asahan... 74
4.3 Pembahasan ... 78
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 88
5.1 Kesimpulan ... 88
5.2 Saran ... 89
DAFTAR PUSTAKA ... 91
LAMPIRAN ... 95
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah Tahun 2017 ... 4
Tabel 1.2 Jarak Pusat Pemerintahan Terhadap Kecamatan Kab. Asahan ... 5
Tabel 4.1 Letak dan Geografis Kabupaten Asahan ... 33
Tabel 4.2 APK dan APM Tahun 2018 ... 37
Tabel 4.3 Persentase Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan ... 38
Tabel 4.4 Distribusi PDRB Kabupaten Asahan Tahun 2018 ... 39
Tabel 4.5 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah ... 40
Tabel 4.6 Rekapitulasi Inventaris Barang Tahun 2017 ... 51
Tabel 4.7 Rangkuman Pembagian Tanggungjawab S.I. Kab. Asahan... 54
Tabel 4.8 Ringkasan Publikasi Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Asahan ... 55
Tabel 4.9 Perkembangan Layanan Aplikasi Kabupaten Asahan ... 58
Tabel 4.10 Pencapaian Sasaran Strategis Diskominfo Tahun 2017-2018 ... 64
Tabel 4.11 Jumlah Tenaga Kerja Diskominfo ... 67
Tabel 4.12 Akuntabilitas Keuangan Tahun 2018 ... 72
Tabel 4.13 Perjanjian Kinerja Diskominfo Kabupaten Asahan Tahun 2018 ... 74
Tabel 4.14 Hasil Temuan Lapangan Terhadap Teori Indrajit ... 87
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Skema Kerangka Berpikir ... 27
Gambar 4.1 Peta Kabupaten Asahan ... 34
Gambar 4.2 Angka Harapan Hidup Kabupaten Asahan Tahun 2014-2018 ... 36
Gambar 4.3 Kerangka e-Government ... 43
Gambar 4.4 Layanan E-Government... 44
Gambar 4.5 Skema Penerapan e-Gov Kabupaten Asahan ... 47
Gambar 4.6 Command Center Kabupaten Asahan ... 49
Gambar 4.7 Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Asahan ... 55
Gambar 4.8 Bagan Susunan Organisasi Diskominfo Asahan ... 62
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Urgensi penerapan smart city di berbagai daerah dilatarbelakangi oleh kebutuhan daerah untuk menjawab perkembangan globalisasi yang secara terus berkembang lebih cepat sehingga membentuk berbagai isu-isu yang sebelumnya belum ada menjadi isu yang hangat serta menarik perhatian dunia. Beberapa isu- isu yang menarik antara lain seperti demokratisasi, HAM (Hak Asasi Manusia), hukum, transparansi dan akuntabilitas, korupsi, smart government, smart city, serta berbagai hal yang akan menjadi perhatian berbagai negara dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Dalam membangun sebuah daerah yang pintar (smart city) bukanlah sesuatu hal yang mudah ketika pemerintah dihadapkan pada suatu tuntutan untuk menjadi pemerintahan yang mampu menyelesaikan permasalahan didaerahnya, oleh karena hal itu mengharuskan pemerintah untuk lebih memahami terkait konsep mendalam dari smart city. Salah satu bentuk dari pemerintahan yang good government adalah mewujudkan sistem e-Government yang merupakan bentuk upaya pemerintah untuk memperbaiki serta meningkatkan kinerja pemerintah agar menjadi lebih cepat, efektif dan eisien dalam menjawab setiap permasalahan.
Menurut Arjita (2017) bahwa pondasi bagi pembangunan smart city adalah mengimplementasikan e-Government dalam suatu negara. Ciri smart city
Government yang baik melalui pemanfaatan teknologi informasi yang baik juga dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga, e-Government hanya sebagai salah satu faktor pendukung dalam membangun smart city dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.
Perkembangan e-Government di Indonesia disebabkan oleh adanya faktor yang memicu yaitu, perubahan zaman saat ini memaksa pemerintah untuk melakukan reposisi dari hal yang bersifat internal menjadi eksternal, artinya bahwa sebelumnya fokus yang dilakukan pemerintah dari pemenuhan kebutuhan negara menjadi fokus pada pemenuhan sumber daya manusia.
Tekanan lain yang menyebabkan perkembangan e-Government adalah kualitas pelayanan. Tanpa disadari bahwa sektor swasta selalu memberikan peningkatan kualitas dari sisi pelayanan masyarakat sehingga standar pelayanan semakin meningkat dari waktu ke waktu jika dibandingkan dengan pelayanan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah. Tekanan inilah yang menjadi tuntutan kepada pemerintah sebagai sektor publik melalui pemanfaatan teknologi dengan harapan dapat mewujudkan kualitas pelayanan yang baik kepada masyarakat, sehingga perkembangan e-Government menjadi sarana untuk menghubungan seluruh para stakeholder baik sektor swasta, masyarakat maupun kalangan lainnya (Kencono, 2015).
Kabupaten Asahan sebagai salah satu kabupaten di Indonesia yang tengah fokus terhadap penerapan serta pengembangan e-Government untuk mewujudkan Asahan smart city. Komitmen yang diberikan pemerintah Kabupaten Asahan tertuang dalam Peraturan Bupati Asahan Nomor 39 Tahun 2018 tentang
Penyelenggaraan e-Government di lingkungan Pemerintah Kabupaten Asahan, bahwa pemanfaatan teknologi informasi atau TI dalam proses pemerintahan smart government melalui e-Government akan meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi serta akuntabilitas.
Komitmen tersebut diungkapkan juga oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Asahan melalui media (Heta News, 2018) bahwa “visi dan misi Pemerintah Kabupaten Asahan adalah untuk menciptakan Asahan menjadi Kabupaten cerdas, artinya dapat membantu berbagai hal tentang kegiatan masyarakat, terutama dalam membangun dan mengelola sumber daya yang ada secara efektif dan efisien, serta memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengetahui melalui akses sumber informasi yang belum didapat. Adapun program yang dicanangkan berupa Command Center dengan konsep pembangunan berupa Smart City”.
Urgensinya penerapan e-Government di Kabupaten Asahan dilatarbelakangi oleh berbagai macam permasalahan yang pada umumnya dialami juga oleh daerah-daerah lain, sedikitnya ada point penting permasalahan yang dihadapi Kabupaten Asahan yaitu: pertama, Kepadatan bangunan, lahan-lahan parkir liar serta kerusakan jalan, Kedua, peningkatan jumlah penduduk.
Berdasarkan data BPS tahun 2016 Kabupaten Asahan berjumlah 712.684, sementara diakhir tahun 2017 tercatat Kabupaten Asahan berjumlah 718.718 jiwa jika dibandingkan Kabupaten/kota terdekatnya ditahun 2017 seperti Batubara berjumlah 409.091, Labuhan Batu 478.593, Labusel 326.825, Labura 357.691 dan
dari meningkatnya jumlah penduduk yang berdampak pada tingkat kemacetan, terutama salah satu lokasi kemacetan terletak sepanjang Jalan Imam Bonjol yang mana adanya sarana hiburan masyarakat Cinema XX1 yang bukan hanya masyarakat Kabupaten Asahan saja melainkan kabupaten lain seperti Tanjung Balai, Batubara.
Tabel 1.1 Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah Tahun 2017
No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk
Luas Wilayah m2
1 Labuhan Batu 478 593 2156,02
2 A s a h a n 718 718 3702,21
3 Batu Bara 409 091 922,20
4 Labusel 326 825 3596,00
5 Labura 357 691 3570,98
6 Tanjung Balai 171 187 107,83
Sumber : BPS Kabupaten Asahan Tahun 2017
Berdasarkan Tabel di atas, menunjukkan bahwa terdapat 6 (enam) Kabupaten/Kota yang secara geografis berdekatan dengan Kabupaten Asahan.
Pada data tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang terbesar ada pada Kabupaten Asahan berjumlah 718.718 jiwa di tahun 2017 dan yang terkecil ada pada Kota Tanjung Balai berjumlah 171.187 jiwa. Adapun luas wilayah bagi Kabupaten Asahan 3702.21 m2 sedangkan yang terkecil ada pada Kota Tanjung Balai dengan luas wilayah 107,83 m2.
Ketiga, jarak antara lokasi pusat pemerintahan. Jarak pusat pemerintahan pusat Kabupaten Asahan terhadap stuktur pemerintahan dalam sektor kecil sangat lah jauh dan memerlukan waktu yang lama untuk menempuhnya. Adapun data- data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan terkait jarak pemerintahan pusat Kabupaten Asahan terhadap Organisasi pemerintahan, yaitu:
Tabel 1.2 Jarak Pusat Pemerintahan Terhadap Kecamatan Kab. Asahan
Kecamatan Ibukota Kecamatan
Jarak dari Ibukota Kabupaten ke Ibukota
Kecamatan (km)
B.P Mandoge B.P Mandoge 46
Bandar Pulau B. Pulau Pekan 60
Aek Songsongan Aek Songsongan 70
Rahuning Rahuning I 42
Pulau Rakyat P. Rakyat Pekan 44
Aek Kuasan Aek Loba Afdeling I 52
Aek Ledong Ledong Barat 64
Sei Kepayang Sei Kepayang Kanan 38
Sei Kepayang Barat Sei Tulang Pandau 30
Sei Kepayang Timur Sungai Pasir 35
Tanjung Balai Teluk Nibung 36
Simpang Empat Simpang Empat 13
Teluk Dalam Air Teluk Kiri 26
Air Batu Sungai Alim Ulu 22
Sei Dadap Sei Kamah II 10
Buntu Pane Sei Silau Timur 10
Tinggi Raja Padang Sari 22
Setia Janji Sei Silau Barat 15
Meranti Meranti 15
Pulo Bandring Suka Damai 5
Rawang Panca Arga Rawang Pasar IV 9
Air Joman Binjai Serbangan 10
Silau Laut Silau Bonto 25
Kisaran Barat Sei Renggas 5
Kisaran Timur Kisaran Naga 3
Sumber : BPS Kabupaten Asahan Tahun 2017
Berdasarkan Tabel di atas pemerintah Kabupaten Asahan dalam melakukan koordinasi terhadap 25 kecamatan serta 204 desa/kelurahan berkisar 30-70 km dengan jarak tempuh berkisar 2-3 jam bahkan lebih jika kondisi jalan yang dilalui dalam keadaan rusak-rusak. Hal ini menjadi tuntutan bagi pemerintah kabupaten Asahan untuk menjalankan pemerintahan lebih efektif dan efisien
Dalam rangka mewujudkan kesiapan sebuah sistem smart city, maka langkah awal yang harus dipersiapkan pemerintah Kabupaten Asahan yaitu kesiapan terhadap teknologi. Direktorat e-Government Kemkominfo RI Bambang Dwi Anggono (2018) menjelaskan bahwa konvergensi e-Government sebagai backbone Smart City, artinya bahwa e-Government adalah fondasi awal berdirinya smart city yang dimana pemerintah membangun sebuah ekosistem elektronik yang saling terintegrasi, saling bertukar data antar daerah, serta saling membangun business process terpadu antar sistem elektronik, bukan hanya antar lembaga pemerintah saja, namun seluruh stakeholder.
Saat ini pemerintah Kabupaten Asahan telah melaksanakan sistem e- Government sebagai pelayanan publik yang dapat diakses melalui portal resmi pemerintah Kabupaten Asahan www.asahankab.go.id. Berbagai macam sistem pengelolaan pemerintahan berbasis teknologi informasi telah dirancang oleh Pemerintah Kabupaten Asahan, salah satunya pelayanan informasi publik berbasis online yang menampung pengaduan masyarakat adalah e-Lapor. Aplikasi ini memberikan pelayanan terkait laporan keluh kesah masyarakat dan memungkinkan dalam mengawasi pelayanan pemerintah. Akan tetapi aplikasi e- Lapor belum disosialisasikan kepada masyarakat Kabupaten Asahan, sehingga masyarakat belum mengetahui fungsi dari aplikasi tersebut. Selain hal itu, beberapa aplikasi berbasis online yang telah diluncurkan oleh pemerintah Kabupaten Asahan adalah e-Perizinan, e-Planning, JDIH (Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum), LPSE, PPID, siMaya, e-Buletin, e-Kliping, Smart Pajak,
SIOLA, e-Announcement dan beberapa waktu lalu pemerintah Kabupaten Asahan baru saja meluncurkan aplikasi ASADA (Asahan Satu Data).
Pada website resmi pemerintah Kabupaten Asahan, terdapat beberapa permasalahan yang muncul kemudian adalah bahwa informasi yang ditampilkan belum lengkap serta masih terdapat beberapa domain yang belum dapat dibuka dan masih dalam proses. Selain itu, setiap OPD maupun kecamatan yang telah membentuk portal belum seluruhnya dapat diakses dan masih terlihat kosong maupun halaman awal saja. Beberapa aplikasi yang terdapat dalam domain e-Gov, CCTV belum dapat diakses secara penuh dan masih dalam tahapan halaman utama saja.
Adapun permasalahan di atas menjadi tujuan penelitian ini mengingat bahwa e-Government merupakan backbone dari pembangunan smart city, maka penting kemudian untuk melihat sejauh mana pemerintah Kabupaten Asahan secara kelembagaan (institusional) dalam kesiapan e-Government untuk menuju Asahan smart city.
1.2 Rumusan Masalah
Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Bupati Asahan Nomor 39 tahun 2018 tentang Penyelenggaraan e-Government di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dalam proses manajemen pemerintahan untuk meningkatkan efektivitas, efesinesi, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan dan sistem informasi pemerintah yang menerapkan teknologi informatika dalam pelaksanaan pemerintahan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, adapun pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penyelenggaraan kelembagaan dalam penerapan e- Government di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan ?
2. Apa saja yang menjadi penghambat dalam penerapan e-Government di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menganalisis serta mengetahui penyelenggaraan kelembagaan dalam penerapan e-Government di lingkungan Pemerintah Kabupaten Asahan.
2. Untuk menganalisis serta mengetahui hal-hal yang menjadi penghambat dalam penerapan e-Government di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara Teoritis, bahwa hasil dari penelitian ini akan memberikan informasi serta penjelasan mengenai kelembagaan e-Government di lingkungan Kabupaten Asahan.
2. Secara Praktis, bahwa hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan manfaat dan menjadi masukkan bagi masyarakat serta pemerintah tentang kajian akademik dalam penerapan e- Government mewujudkan pembangunan smart city.
2 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Marudur P Damanik dan Erisva H Purwaningsih (2018) berjudul:
“Kesiapan e-Government Pemerintah Daerah Menuju Pengembangan Smart Province (Studi Pada Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara”.
Penelitian tersebut bertujuan untuk menggambarkan kesiapan pemerintah Kabupaten Mandailing Natal dalam pelaksanaan e-Government untuk mendukung Smart Province. Penelitian tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif menemukan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah Kabupaten Mandailing Natal telah memanfaatkan TIK di dalam proses kerja organisasi pemerintahan namun proses kesiapan dalam pelaksanaan e-Government belum maksimal, karena beberapa spek kesiapan yang diukur belum terpenuhi.
Pertama, aspek tata kelola, pemkab Mandailing Natal belum memiliki landasan hukum dan kebijakan dalam pengembangan TIK maupun perencanaan dalm bentuk peraturan dan rencana strategis. Kedua, aspek infrastruktur, koneksi internet hanya memanfaatkan jaringan kabel telepon, sehingga dirasa sangat lambat terlebih ketika pegawai menggunakan secara bersama-sama. Ketiga, aspek SDM aparatur ditemukan sudah cukup familiar dengan teknologi, namun yang menjadi titik lemah adalah ketika hal-hal teknis seperti troubleshooting dan konfigurasi pada jaringan masih sangat kurang.
Melihat hal tersebut, peneliti mencoba menyimpulkan bahwa pembangunan smart province bukanlah permasalahan yang mudah dan tidak boleh sembarangan terlebih dihadapkan pada suatu tuntutan untuk menjadi pemerintahan yang mampu menyelesaikan permasalahan dengan memanfaatkan teknologi. Komitmen pemerintah Kabupaten Mandailing Natal perlu dinyatakan dengan cara merumuskan langkah terkait pembenahan penerapan e-Government serta perlunya bimbingan teknis terkait SDM yang relevan di dalamnya.
Sri Hadijah Arnus (2017) berjudul:
“Peran E-Government Dalam Mewujudkan Transparansi Pemerintahan di Provinsi Sulawesi Tenggara”.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat penerapan e-Government di wilayah pemerintahan provinsi Sulawesi Tenggara serta kendala yang dihadapi oleh Biro Humas dan PDE selaku pengelola e-Government di Sulawesi Tenggara.
Hasil yang ditemukan peneliti bahwa sistem e-Government sudah berjalan dengan namun kendala yang terjadi adalah masih kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang adanya situs e-Government, selain hal tersebut, informasi dan data yang disampaikan pada situs tersebut memerlukan kemampuan dan pemahaman administrative yang baik, sehingga hanya masyarakat yang memiliki pendidikan menengah keatas yang dapat memahami dan mengetahui penyajian informasi dan data di dalamnya. Hal lain yang ditemukan adalah e-Government belum dapat mengekspose semua rangkaian renja, namun masih banyak yang tidak lengkap dan belum actual dikarenakan masih terkendalanya dana
Endah Mustika Ramdani (2018) berjudul:
“Analisis Efektivitas Pelaksanaan E-Government di Tingkat Kelurahan”
Penelitian ini menganalisis terkait pelaksanaan e-Government diranah terendah dalam tata kelola pemerintahan Kota Bandung yaitu pada kelurahan Manjahlega. Melalui metode deskriptif kualitatif penelitian ini menemukan bahwa e-Government pada tingkat kelurahan sudah berjalan, namun belum efektif, baik dari sarana dan prasarana infrastruktur e-Government. Sisi lain penerapan e- Government belum diimbangi dengan kesiapan perangkat kelurahan sehingga tetap menggunakan pelayanan secara manual.
Kendala yang ditemukan adalah kemampuan aparatur belum optimal terhadap aplikasi e-kelurahan, jaringan dan sistem baik dari pengetahuan maupun pemahaman terkait e-Government. Sisi lain belum adanya regulasi yang mengatur terkait e-Kelurahan yang dimana merupakan bagian dari e-Government yang bertujuan untuk mendukung smart cit dalam mempercepat pelayanan publik oleh bagian Pemerintahan Umum Kota Bandung sebagai leading sector yang melakukan pengawasan dalam penerapan e-kelurahan di Kota Bandung.
Melkior N. N. Sitokdana (2015) berjudul:
“Evaluasi Implementasi eGovernemnt Pada Situr Web Pemerintah Kota Surabaya, Medan, Banjarmasin, Makassar dan Jayapura”
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui serta mengevaluasi terkait situs web e-Government dikota-kota besar di Indonesia yang mewakili dari berbagai pulau besar di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian terhadap aspek transparansi, layanan, efisiensi, ekonomi, aspirasi, tampilan, update, dan tahapan
untuk pencapaian e-Government disimpulkan bahwa Kota Surabaya lebih baik dibandingkan kota lainnya. Hasil tersebut diperkuat oleh penelitian dari PeGi dari tahun 2012-2014 bahwa dalam peningkatan situs web e-Government, di dominasi oleh pemerintahan di pulau jawa. Hal ini harus menjadi tantangan bagi pemerintahan lainnya bahwa perlu adanya regulasi dan pedoman penyelenggaraan dalam membuat masterplan dan grand strategy e-Government yang perlu dituangkan dalam undang-undang, serta perlunya bimtek terhadap aparatur negara dalam memahami terkait teknologi informasi baik secara hardware maupun software serta secara kelembagaan yaitu pemerintah termasuk DPR dan lembaga lainnya untuk ikut serta dalam merumuskan rencana induk terkait pelaksanaan e- Government yang sesuai dengan kemampuan daerah mengingat beragamnya status sosial dan ekonomi di masing-masing daerah.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, peneliti ingin menganalisis terkait penerapan e-Government di Kabupaten Asahan untuk mewujudkan Asahan yang smart government dan Smart City. Perbedaan dari penelitian sebelumnya adalah bahwa Kabupaten Asahan merupakan lokasi percontohan atau ikon bagi kabupaten disekitarnya mengingat jumlah penduduk lebih besar dari kabupaten sekitarnya yang mengimplikasikan kepadatan jumlah penduduk serta permasalahan lain yang timbul serta beberapa kebutuhan-kebutuhan terkait birokrasi yang menuntut pemerintah Kabupaten Asahan untuk memandang bahwa pentingnya bimbingan teknologi, Big Data, Command Center, e-Government, serta Smart City menjadi solusi terbaik yang diberikan pemerintah untuk
perkembangann e-Government sudah ada sejak dikeluarkannya Inpres Nomor 3 Tahun 2003 tentang kebijakan dan strategis nasional pengembangan e- Government serta Perpres Nomor 95 Tahun 2018 Tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) maka pemerintah harus lebih serius dan berkomitmen sehingga dalam menyikapi kebutuhan teknologi untuk memudahkan, mempercepat serta merespon apa saja yang menjadi keluh kesah masyarakat Asahan.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Teori Strukturasi
Menurut Anthony Giddens (2010) menggambarkan institusi sosial antara kelompok dan organisasi memiliki aturan-aturan sosial yang dimana aturan tersebut dibuat untuk pedoman perilaku anggotanya atau untuk mengarahkan seorang kontraktor dalam membangun struktur bangunan. Teori strukturasi memiliki asumsi dasar yang dapat dipahami yaitu: Pertama, kelompok dan organisasi diproduksi dan direproduksi dengan penggunaan aturan dan sumber daya. Kedua, aturan komunikasi berfungsi dengan baik untuk medium maupun hasil akhir dari interaksi. Ketiga, struktur kekuasaan terdapat di dalam organisasi dan menuntun proses pengambilan keputusan dengan menyediakan informasi terkait cara untuk mencapai tujuan dengan cara terbaik.
Pemikiran dari teori strukturasi oleh Anthony Giddens (2010) ini menggambarkan bahwa aturan secara berkesinambungan menyediakan tata cara serta batasan bagi perilaku kelompok dalam menjalankan peraturan yang
berdasarkan pada harapan awal. Dalam teori yang dikemukakan tersebut mendeskripsikan bahwa untuk memahami aturan dari sistem sosial, para aktor harus mengetahui serta memahami sumber daya yang melatari suatu aturan, sehingga kekuasaan yang dimiliki para aktor dapat mencapai hasil keputusan.
Teori tersebut juga menjelaskan adanya hubungan “dualistis” yang memiliki arti hubungan yang saling mempengaruhi antara agen dan struktur.
Seluruh tindakan membutuhkan struktur dan seluruh struktur memerlukan tindakan sosial. Dalam konsep dualistis menjelaskan adanya tindakan yang dilakukan agen secara berulang-ulang akan membentuk pola atau memori yang memungkinkan tindakan serupa dapat dilakukan oleh agen serta struktu dalam teori Giddens secara konsep hadir dalam perwujudan melalui praktik yang tertentu dan sebagai jejak memori yag berorientasi pada perilaku manusia sebagai agen yang berpengetahuan. Struktur sebagai jejak memori dan perwujudan praktik yang berulang inilah menjadi sesuatu yang membatasi (constraint) namaun sekaligus memungkinkan (enabler) tindakan dikemudian hari.
Ilustrasi yang dapat digambarkan terkait penggunaan e-Government diposisikan sebagai agen-agen berpengetahuan yang berkehendak bebas, akan tetapi pola penggunaan e-Government yang berulang-ulang diasumsikan akan membentuk struktur yang melibatkan nilai-nilai yang berkenaan dengan budaya komunikasi, namun sebaliknya dalam praktik penggunaan e-Government untuk kepentingan komunikasi dan interaksi dibatasi pula oleh aturan-aturan berupa
Dalam teori Stukturasi oleh Anthony Giddens menjelaskan bahwa ada faktor ruang dan waktu yang menjadi variabel penting dalam teori stukturasi karena dalam praktiknya secara sosial dilakukan dalam koidor waktu dan ruang tertentu. Hal ini juga diperkuat oleh peneliti Octavianto (2014) dalam penelitiannya terkait teknologi-teknologi berkembang yang dikaitkan dengan teori strukturasi karya Giddens bahwa lazimnya ruang dan waktu memiliki keterkaitan dengan kehadiran orang lain ketika praktik sosial tersebut berlangsung, biasanya kehadiran tersebut biasa terjadi ketika bertatap muka, namun dalam perkembangan teknologi dikehidupan yang serba modern ini telah memungkinkan terbentuknya sistem sosial yang berjarak dalam arti bahwa orang lain tidak perlu bertatap muka dalam waktu dan ruang yang sama.
Oleh karena itu, e-Government yang dibangun dan dikembangkan oleh seluruh daerah-daerah dapat dikatakan sebagai sebuah media baru bagi pelayanan publik yang memungkinkan terjadinya praktik sosial yang melintasi ruang dan waktu bagi orang-orang yang terlibat. Akan tetapi dalam penempatan konsep ruang dan waktu dalam pelayanan publik tersebut akan tergantung dari interpretasi atau makna yang diciptakan terhadap media baru.
2.2.2 Konsep Smart City
Suhono Harso Supangkat (2018) sebagai pencetus Smart City Initiatives Indonesia (SCII) mengidentifikasikan enam model smart city untuk membuat kesuksesan sebuah kota/kabupaten dalam menjalankan pembangunan smart city, yaitu:
1. Smart Government
Pemerintah yang cerdas adalah kunci utama dalam pembentukan smart city. Pemerintah yang merupakan bagian dari fundamental sebuah negara memiliki tugas untuk membentuk paradigma atau pandangan kepada masyarakat. Pemerintah yang cerdas adalah pemerintah yang peduli dan transparansi terhadap masyarakatnya untuk meningkatkan kepercayaan dan kemauan masyarakat terhadap pemerintah. Adanya Smart Government menjadi sebuah karakter pemerintah yang professional, bertanggungjawab dan bersih.
2. Smart People
Smart People merupakan sebuah kondisi dimana seluruh sumber daya manusia yang ada dalam suatu daerah sudah benar-benar berkompeten.Selain itu, nilai-nilai edukasi yang ada di dalam masyarakat dapat mendorong kehidupan sosial menjadi lebih kondusif.
3. Smart Economy
Smart Economy merupakan pemberdayaan terhadap masyarakat oleh pemerintah baik melalui UMKM maupun koperasi sehingga dapat mendorong inovasi dan mengantisipasi persaingan usaha serta mendorong rasa untuk berwirausaha.
4. Smart Mobility
Smart Mobility adalah pengelolaan infrastruktur yang dikembangkan dimasa depan sebagai sebuah sistem terpadu untuk menjamin kepentingan publik.
5. Smart Living
Smart Living merupakan suatu lingkungan pintar yang dapat memberikan rasa nyaman dan aman terhadap sumber daya baik fisik maupun non-fisik, kepada masyarakat dan publik.
6. Smart Environment
Smart Environment dilihat dari segi penggunaan bangunan agar tidak berdampak pada kerusakan sumber daya alamnya. Adanya kerusakan yang berdampak pada penurunan mutu lingkungan pada dasarnya akibat dari kelalaian maupun kesengajaan dari pemerintah atau masyarakatnya.
Smart City merupakan suatu konsep kota “pintar” yang dapat mengelola berbagai sumber dayanya secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan berbagai tantangan kota melalui solusi yang inovatif, terintegrasi serta berkelanjutan untuk menyediakan infrastruktur dan memberikan layanan-layanan kota yang dapat meningkatkan kualitas hidup warganya. Intinya bahwa melalui pemerintah, Smart City adalah bentuk pembangunan berkelanjutan yang berinovatif untuk menyelesaikan permasalahan dan tantangan, sehingga Smart City dijabarkan sebagai pemerintah yang dapat mengetahui (sensing) keadaan daerahnya atau
kotanya, memahami (understanding) keadaan daerahnya lebih dalam, dan melakukan aksi (acting) terhadap permasalahan tersebut
2.2.3 Konsep e-Government
Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government serta Perpres Nomor 95 Tahun 2018 Tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) menjelaskan bahwa perlunya penyelenggaraan pemerintahan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pemerintahan good government akan meningkatkan efisiensi, efektivitas, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraaan pemerintah. e-Government dapat diaplikasikan pada legislative, yudikatif, maupun administrative publik dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat sebagai bentuk pemerintahan yang demokratis.
Niatulla (2017) menunjukkan ada 3 (tiga) aspek pemicu konsep e- Government yang terus berkembang, yaitu:
1. Perkembangan era globalisasi yang lebih cepat dari perkiraan telah menciptakan isu-isu seperti demokratisasi, hukum dan HAM, korupsi, civil society, good governance dan hal lain yang menjadi perhatian bagi setiap negara untuk melakukan reposisi perannya di dalam suatu negara.
2. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadi semakin pesat sehingga bentuk informasi maupun bigdata menjadi semakin cepat tersebar dan berkembang seiring perkembangan waktu.
3. Berkembangnya kualitas kehidupan masyarakat didunia tidak lepas dari semakin majunya kemampuan industri swasta dalam melakukan perekonomiannya, sehingga kedekatan antara produsen dan konsumen telah membentuk sebuah standar pelayanan yang semakin baik dari hari ke hari.
2.2.3.1 Teori penerapan indikator e-Government
Menurut Indrajit (2005), terdapat beberapa faktor yang menjadi indikator dari penerapan konsep e-Government, yaitu:
1. Infrastruktur. Dalam pelaksanaannya, infrastruktur telekomunikasi seperti perangkat keras, jaringan menjadi faktor eksternal dalam penerapan e-Government. Idealnya memang harus memiliki infrastruktur yang memadai terkait pembangunan e-Government, namun perlu dipertimbangkan terkait lokasi, karena berbagai ragam kemampuan daerah baik keuangan daerah maupun point lain harus dipikirkan terkait juga hubungan kerjasama dengan sektor swasta.
2. Tingkat konektivitas serta penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah. Hal ini diperlukan mengingat bahwa sejauh mana pemerintah dalam memanfaatkan teknologi di setiap aktivitas pemerintahan menjadi tolak ukur dari kesiapan pemerintah dalam menerapkan konsep e-Government.
3. Kualitas SDM aparatur pemerintah. Pemeran utama dalam penerapan e-Government pada dasarnya adalah SDM yang bekerja di pemerintahan, sehingga tingkat kompetensi, pemahaman, serta keahlian menjadi sangat mempengaruhi peforma e-Government.
4. Ketersediaan anggaran. Anggaran menjadi hal penting ketika pemerintah melakukan suatu program untuk dilaksanakan. Dalam penerapan e-Government diperlukan anggaran yang tidak sedikit terutama untuk biaya operasional, pemeliharaan dan pengembangan terkait e-Government.
5. Perangkat hukum. Dalam penerapan konsep e-Government perlu adanya paying hukum terkait keterbukaan data, hak cipta, keamanan yang harus dilindungi oleh undang-undang agar menjamin mekanisme e-Government yang kondusif.
6. Perubahan paradigma. Hakikat dari penerapan konsep e-Government didaerah adalah sebagai bentuk perubahan manajemen. Perubahan paradigma yang dimaksud akan bermuara pada dibutuhkannya kesadaran serta keinginan untuk merubah cara kerja seluruh aparatur.
Jika pemimpin belum mengubah pola kerja maka konsep e- Government belum dapat diterapkan.
2.2.3.2 Tipe Relasi e-Government
Menurut Indrajit (2013) terdapat 4 (empat) tipe relasi yang terdapat dalam sistem e-Government, yaitu:
1. Government to Citizen (G to C)
Tipe relasi e-Government ini merupakan tipe paling umum yang dimana pemerintah membangun serta menerapkan berbagai informasi dengan tujuan memperbaiki hubungan interaksi terhadap masyarakat.
Makna dari G to C adalah bahwa untuk mendekatkan pemerintah dengan masyarakat melalui kanal-kanal akses yang beragam agar masyarakat dengan mudah dapat menjangkau pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan pelayanan sehari-hari.
2. Government to Business (G to B)
Tipe relasi e-Government ini merupakan salah satu tugas utama pemerintah yang dimana dalam suatu pemerintahan diperlukan sebuah lingkungan bisnis yang sehat dan kondusif agar perputaran perekonomian dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Makna dari G to B adalah adanya hubungan atau relasi yang baik antara pemerintah dengan kalangan bisnis memberikan keuntungan bersama terlebih lagi banyak hal yang dapat menguntungkan pemerintah jika relasi tersebut efektif dengan industri swasta.
3. Government to Governments (G to G)
Tipe relasi e-Government ini menunjukkan adanya kebutuhan antara pemerintah yang satu dengan pemerintah yang lainnya. Hubungan
atau relasi yang terbentuk bukan hanya sekitaran diplomasi, melainkan memperlancar kerjasama antar pemerintah dalam melakukan berbagai hal yang berkaitan dengan administrasi, proses politik dan hubungan sosial dan budaya.
4. Government to Employess (G to E)
Tipe relasi e-Government ini merupakan tipe yang diperuntukkan untuk meningkatkan kinerja dan kesejahteraan para aparatur negeri yang bekerja di sejumlah institusi sebagai pelayanan masyarakat.
2.2.4 Kelembagaan e-Government
2.2.4.1 Pendekatan Kelembagaan (Institusionalisme)
Dalam aspek ilmu politik, kelembagaan atau institusionalisme lebih ditekankan pada sebuah aturan (the rules) serta kegiatan kolektif (collective action) untuk kepentingan publik. Struktur dan lembaga pemerintah telah lama menjadi kajian penting di dalam ilmu politik.
Menurut Miriam Budiardjo (2007) bahwa suatu lembaga atau institusi adalah organisasi yang tertata melalui berbagai pola-pola perilaku yang diatur oleh peraturan yang telah diterima sebagai sebuah standar, sehingga institusi mencakup pada struktur fisik, struktur demografis, perkembangan historis, jaringan pribadi, serta struktur sementara yaitu sebuah keputusan-keputusan sementara. Institusi memiliki peraturan yang stabil, yang mana memungkinkan seseorang sebenarnya hanya mementingkan diri sendiri untuk bekerja sama
Pendekatan lain yang dikemukakan oleh Peters (dalam Kencono, 2015) menyebutkan “Proto-teori” yaitu institusionalisme lama sebagai normative artinya berurusan dengan pemerintahan yang baik (good governance), strukturalis artinya struktur menentukan pola perilaku politik, historisis artinya pengaruh sentral terhadap sejarah, serta legalis yang artinya hukum berperan penting dalam memerintah.
Berdasarkan penjelasan yang dikemukakan oleh para ahli, maka dapat dirangkum bahwa kelembagaan merupakan tatanan atau pola hubungan antara organisasi maupun masyarakat yang saling mengikat serta diwadahi dalam suatu organisasi maupun jaringan dan ditentukan faktor pembatas dan mengikat seperti halnya norma dan aturan baik secara formal maupun informal untuk pengendalian perilaku sosial serta insentif untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama.
2.2.4.2 Dimensi Kelembagaan e-Government
Direktorat e-Government Ditjen APTIKA Kemkominfo (2007) dalam kegiatan pemeringkatan e-Government Indonesia (PeGI) bertujuan sebagai pedoman bagi instansi daerah dalam pengembangan TIK baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota agar dapat berjalan secara terarah. PeGI dibentuk untuk menggambarkan kondisi baik dari sisi kekuatan maupun kelemahan yang nantinya akan berguna untuk pengembangan TIK.
Dalam pelaksanaan PeGI, telah ditentukan 5 (lima) yang menjadi dimensi, yaitu pertama, dimensi kebijakan, sebagai landasan utama bagi pengembangan dan implementasi dari e-Government dengan bentuk dokumen
yang berupa surat keputusan, peraturan, pedoman maupun bentuk dokumen resmi yang memiliki kekuatan legal. Kedua, dimensi kelembagaan, berkaitan dengan keberadaan organisasi yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pengembangan TIK dengan adanya dokumen yang memberikan rumusan terkait kelengkapan unit kerja, tugas dan fungsi. Ketiga, dimensi infrastruktur, berkaitan dengan sarana dan prasarana yang mendukung pengembangan TIK. Keempat, dimensi aplikasi, berkaitan dengan ketersediaan serta pemanfaatan perangkat lunak aplikasi pendukung e-Government. Kelima, dimensi perencanaan, berkaitan dengan tata kelola perencanaan TIK yang ditunjukkan secara terpadu serta berkesinambungan.
2.3 Kerangka Penelitian
Pemerintah Kabupaten Asahan mengeluarkan Peraturan Bupati Asahan Nomor 39 Tahun 2018 terkait penyelenggaraan e-Government di lingkungan Kabupaten Asahan. Peneliti berasumsi bahwa dalam pelaksanaannya belum berjalan dengan baik sehingga untuk mengetahui pelaksanaan e-Government di pemerintahan Kabupaten Asahan, maka peneliti menggunakan teori indikator yang dikemukakan oleh Richardus Eko Indrajit tahun 2005 yang terdiri dari 6 (enam) indikator yaitu: Content Development, yang menyangkut pada perangkat baik lunak maupun perangkat keras, spesifikasi sistem data dan lain sebagainya.
Competency Building, hal ini menyangkut pada kompetensi SDM aparatur terkait keahlian. Connectivity, menyangkut pada ketersediannya infrastruktur komunikasi
Interfaces, terkait pengadaan SDM dan pengembangan berbagai kanal akses pada e-Government. Capita, terkait pada sumber dana atau permodalan untuk pembangunan proyek e-Government baik ketika awal hingga pada pemeliharaan infrastruktur dan lain sebagainya.
2.3.1 Skema Pemikiran Penelitian
Gambar 2.1 Skema Kerangka Berpikir PERMASALAHAN
1. Bagaimana penyelenggaraan kelembagaan dalam penerapan e-Government di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan ?
2. Apa saja yang menjadi penghambat dalam
penerapan e-Government di lingkungan pemerintah Kabupaten Asahan ?
Indikator Penerapan e-Government Menurut Indrajit (2005)
Struktur Organisasi (Peraturan Bupati No. 39/2018)
Infrastruktur TI
Tingkat Konektivitas dan Penggunaan TI Perangkat Hukum
SDM Aparatur Perubahan Paradigma
Dana dan Anggaran Perubahan Paradigma
Penerapan e-Government untuk mewujudkan Asahan Smart City
3 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekataan kualitatif.
Penelitian dengan metode deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
Alasannya adalah untuk menemukan gambaran rinci terhadap informasi yang telah digali dari beragam sumber untuk menjadi narasi. Diharapkan dari penelitian ini diperoleh data dari sumber informasi baik lisan maupun tertulis yang akan dihimpun, ditranskrip, dideskripsikan dan dianalisa dengan pendekatan kualitatif.
3.2 Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini dilakukan oleh penulis dengan mengambil lokasi di Kisaran sebagai central pemerintahan Kabupaten Asahan. Secara karakteristik, luas wilayah Kabupaten Asahan sebesar 3.732,97 km2 dengan batas wilayah utara Kabupaten Batubara, batas wilayah selatan Kabupaten Labura dan Kabupaten Toba Samosir, batas wilayah barat Kabupaten Simalungun, serta batas wilayah timur selat malaka. Dalam pemerintahan Kabupaten Asahan terdiri dari 25 kecamatan dan 204 desa/kelurahan definitif. Pemilihan lokasi penelitian ini didasari oleh adanya keputusan pemerintah Kabupaten Asahan yang tertuang dalam Peraturan Bupati Nomor 39 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan e- Government di lingkungan Kabupaten Asahan dengan melihat secara aspek
kelembagaan baik dari kebijakan, regulasi yang kedepannya mempengaruhi keberhasilan suatu program.
3.3 Informan Penelitian
Dalam penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari suatu penelitian. Subjek penelitian tercermin dari fokus penelitian yang akan menjadi informan terhadap bidang yang akan diteliti.
Menurut Suyitno (2018) bahwa informan merupakan seseorang atau organisasi yang mampu atau berkompeten untuk memberikan informasi. Pada penelitian ini terdapat beberapa narasumber atau informan kunci atau orang-orang yang berpotensi untuk memberikan informasi yang diperlukan. Adapun informan yang dipilih adalah sebagai berikut:
a. Kepala Bidang Teknologi dan Informatika b. Kepala Seksi bidang E-governemnt c. Kepala/Sekretaris Bappeda
d. Kepala Subbidang Sistem Perencanaan (e-Planning) e. Kepala Seksi PHD Sekretariat DPRD Kab. Asahan
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data primer berupa wawancara, dan studi kepustakaan yang digunakan untuk mendukung penelitian ini.Adapun pengumpulan data pada penelitian ini sebagai berikut:
1. Data Primer
Yaitu data yang diperoleh secara langsung baik dari sumbernya.
Adapun sumber data yang diperoleh peneliti tersebut menggunakan wawancara terhadap pihak atau informan yang telah ditentukan oleh peneliti sebelumnya di lingkungan pemerintahan Kabupaten Asahan sehingga diperoleh data informasi yang akurat berdasarkan keadaan yang terjadi.
2. Data Sekunder
Data yang diperoleh peneliti secara tidak langsung. Adapun data yang diperoleh peneliti dari berbagai sumber terpercaya seperti website resmi Kabupaten Asahan (www.asahankab.go.id) serta beberapa instansi di wilayah pemerintahan Kabupaten Asahan seperti BPS Kabupaten Asahan dan sebagainya.
3. Observasi
Observasi adalah pengamatan langsung serta pencatatan secara sistematis terhadap unsur-unsur yang terkait terhadap penelitian ini.
Peneliti melakukan observasi terkait penyelenggaraan dan penerapan e-Government di Kabupaten Asahan dengan melihat serta membandingkan dari data yang diperoleh secara sekunder dan primer terhadap kondisi nyata di lapangan.
3.5 Tahapan Analisis Data
Menurut Miles dan Huberman (dalam Silalahi, 2006), bahwa tahapananalisis data terdiri dari beberapa alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data bukanlah suatu hal yang terpisah dari analisi data melainkan sebagai proses pemilihan, serta pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstraksian dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan yang tertulis dilapangan. Kegiatan tersebut dilakukan secara terus menerus dan selama pengumpulan data berlangsung, terdapat tahap-tahap reduksi yaitu membuat ringkasan, menelusuri tema, serta membuat patisi.
2. Triangulasi
Adanya teknik keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian. Adapun triangulasi dapat dilakukan secara berbeda dengan teknik yang berbeda yaitu melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi.Dalam teknik ini digunakan untuk mengecek kebenaran data serta digunakan untuk memperkaya data.
3. Penyimpulann Data
Kegiatan analisis data ketiga yaitu kesimpulan. Ketika kegiatan pengumpulan data dilakukan, maka peneliti mulai mencari arti
penjelasan, sehingga kesimpulan yang mula-mula diperoleh belum jelas akan meningkat menjadi lebih terperinci. Adapun kesimpulan-kesimpulan akan muncul menjadi “final” tergantung dari seberapa besar pengumpulan data yang diperoleh.
4 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Objek Penelitian
4.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Asahan
Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Asahan provinsi Sumatera Utara yang secara geografis berada pada 2030’00” – 3010’00” LU, 99001 – 100000 BT dengan ketinggian 0 – 1000 m di atas permukaan laut.
Tabel 4.1 Letak dan Geografis Kabupaten Asahan
No Karakteristik Keterangan
1 Luas Wilayah 3.732,97 ha
2 Letak di atas permukaan laut 0 – 1000 m dpl 3 Batas Wilayah Utara Kabupaten Batubara
4 Batas Wilayah Selatan Kabupaten Labuhan Batu Utara Kabupaten Toba Samosir 5 Batas Wilayah Barat Kabupaten Simalungun 6 Batas Wilayah Timur Selat Malaka
7 Daerah Administrasi 25 Kecamatan 204 Desa/Kelurahan Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan
Berdasarkan jumlah desa, kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan terbanyak adalah kecamatan Kisaran Barat yang terdiri 13 desa, serta disusul kecamatan Kisaran Timur, Pulau Rakyat dan Air Batu sebanyak 12 desa dan diposisi Kecamatan Bandar Pulau, Sei Dadap dan Pulo Bandring yang masing- masing terdapat 10 desa. Adapun daerah administrasi di Kabupaten Asahan berjumlah 27 kelurahan (13,24 persen) dan 177 desa (86,76 persen) dari jumlah
Gambar 4.1 Peta Kabupaten Asahan
Sumber : loketpeta.pu.go.id
Jika dilihat berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS bahwa luas wilayah Kabupaten Asahan adalah 3.732,97 ha dengan distribusi wilayah terluas ada pada kecamatan Bandar Pasir Mandoge dengan luas 19,11 persen berkisar 713,6321 km2 diikuti oleh kecamatan sei kepayang dengan luas 9.93 persen berkisar 370,6919 km2 dan aek songsongan seluas 7,55 persen berkisar 282,2056 km2 dan kecamatan Kisaran Timur memiliki luas wiayah terkecil sebesar 30,1678 km2 atau berkisar 0,80 persen.
4.1.2 Kondisi Penduduk Kabupaten Asahan
BPS Kabupaten Asahan tahun 2018 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Asahan sebesar 724.379 atau berkisar 5,02 persen dari 14,41 juta jumlah penduduk Sumatera Utara. Berdasarkan data tersebut, jumlah penduduk lebih banyak bertempat tinggal di Kecamatan Kisaran Timur sebanyak 78,821 jiwa serta Kecamatan Kisaran Barat sebanyak 60,044 jiwa.
Berdasarkan rasio jenis kelamin yang ditampilkan oleh BPS Kabupaten Asahan menunjukkan 100,83 jumlah penduduk perempuan lebih sedikit jika dibandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan skala perbandingan setiap 100 penduduk perempuan, maka terdapat 101 penduduk laki-laki.
Penduduk di Kabupaten Asahan dikategorikan sebagai penduduk miskin pada tahun 2018 yang mencapai 10,25 persen jika dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 11,67 persen berarti menunjukkan jumlah tersebut menurun, akan tetapi dapat dikatakan lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka kemiskinan provinsi Sumatera Utara dengan pencapaian 9,22 persen untuk Kabupaten Asahan.
4.1.3 Kondisi Kesehatan Kabupaten Asahan
Angka Harapan Hidup didefinisikan sebagai alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesehatan penduduk pada umumnya, serta bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup atau disingkat AHH di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, program sosial lainnya termasuk di dalamnya program
kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk di dalamnya program pemberantasan kemiskinan (BPS, 2018).
Gambar 4.2 Angka Harapan Hidup Kabupaten Asahan Tahun 2014-2018
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan (2018)
Adapun kondisi kesehatan penduduk Kabupaten Asahan berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik Kabupaten Asahan tahun 2018 menunjukkan bahwa perlahan mengalami peningkatan seiring tahun 2014 hingga 2018.
Berdasarkan grafik di atas menunjukkan pada tahun 2014 Angka Harapan Hidup sebesar 67,27 persen dan di tahun 2015 sebesar 67,37 persen dan ditahun 2018 meningkat sebesar 67,79 persen dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 67.57 persen. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang yang lahir mampu bertahan hidup hingga mencapai umur 68 tahun. Kecenderungan peningkatan AHH tersebut juga ditunjang dari peningkatan kualitas pelayanan kesehatan serta peningkatan kondisi sosial ekonomi masyarakat, serta mengurangi resiko kematian penduduk.
4.1.4 Kondisi Pendidikan Kabupaten Asahan
BPS Kabupaten Asahan mempublikasikan Kondisi pendidikan Kabupaten Asahan tahun 2018, bahwa persentase jumlah penduduk yang menamatkan pada jenjang pendidikan sekolah dasar sebesar 26,96 persen dan untuk pendidikan tingkat menengah pertama sebesar 21,61 persen dan pendidikan tingkat menengah atas (umum dan kejuruan) sebesar 25,91 persen. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin rendah persentasenya, karena terlihat bahwa penduduk lebih banyak menamatkan pendidikan pada sekolah dasar jika dibandingkan jenjang pendidikan tinggi.
Tabel 4.2 APK dan APM Tahun 2018
Tingkat Pendidikan Angka Partisipasi Kasar (APK)
Angka Partisipasi Murni (APM)
Sekolah Dasar (SD) 115,67 99,66
SMP 86,13 80,53
SMA 72,18 60,25
PT 16,16 14,52
*Ket : dalam persen (%)
Sumber : BPS Kabupaten Asahan, Susenas tahun 2018
Berdasarkan hasil susenas, BPS mempublikasikan Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2018 dalam indikator penting Kabupaten Asahan 2018 yaitu pada sekolah dasar kabupaten asahan melebihi 100 persen yaitu sebesar 101,85 persen. Artinya bahwa usia murid sekolah dasar yang mencakup 7-12 tahun ternyata juga mencakup kurang dari 7 tahun dan lebih dari 12 tahun. Hal ini dijelaskan bahwa terdapatnya anak didik yang terlambat masuk, atau terlalu dini untuk masuk sekolah dasar maupun tinggal kelas. Jika berdasarkan APM atau
bahwa 99 dari 100 murid yang bersekolah diusia diusia 7-12 tahun sedangkan 1 murid mengalami keterlambatan masuk sekolah dasar atau terlalu cepat untuk bersekolah maupun mengalami tinggal kelas.
4.1.5 Kondisi Ketenagakerjaan Kabupaten Asahan
Dalam pengumpulan data terkait kondisi ketenagakerjaan, BPS mengacu pada the labour force concept yang dikembangkan dan disarankan oleh ILO.
Adapun konsep ini mengelompokkan penduduk usia kerja (>15 tahun) dengan kategori penduduk yang bekerja ditambah penduduk yang aktif mencari kerja dan penduduk bukan usia kerja (< 15 tahun) dengan kategori bukan angkatan kerja.
Pada kabupaten asahan dalam kategori penduduk usia kerja sebesar 67,63 persen dan kategori penduduk yang bukan angkatan kerja sebesar 32,37 persen.
Tabel 4.3 Persentase Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan No Lapangan Pekerjaan
Utama Laki-Laki Perempuan Jumlah Total
1 Pertanian 92.613 23.236 115.849
2 Manufaktur 88.450 59.103 147.553
3 Jasa 21.189 34.576 55.765
Total 202.252 116.915 391.167
*Ket : Berdasarkan Usia 15 Tahun ke atas yang bekerja Sumber: BPS Kabupaten Asahan Tahun 2018
Berdasarkan Tabel di atas menunjukkan bahwa penduduk yang bekerja di sektor manufaktur menjadi peringkat pertama sebesar 147.553 atau berkisar 46,23 persen dan disusul pada sektor pertanian sebesar 115.849 atau berkisar 36,30 persen dan 17,47 persen ada pada sektor jasa.
4.1.6 Kondisi Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Asahan
Pertumbuhan ekonomi merupakan cara untuk mengukur keberhasilan pembangunan suatu daerah yang dicapai. Petumbuhan ekonomi juga dapat dijadikan sebagai bentuk gambaran terhadap dampak kebijakan pembangunan yang dilaksanakan khususnya bidang ekonomi serta sebagai indikator untuk perencanaan dalam menentukan arah pembangunan suatu daerah dimasa datang.
Tabel 4.4 Distribusi PDRB Kabupaten Asahan Tahun 2018
No Sektor Pertumbuhan Ekonomi Tingkat
Persentase (%) 1 Pertanian, Kehutanan dan Perikanan 36,04
2 Industri Pengolahan 23,42
3 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil
dan Sepeda Motor 19,36
4 Konstruksi 7,13
5 Transportasi dan Pergudangan 3,57
6 Pemerintahan, Pertahanan dan Jamsos Wajib 3,45
7 Lainnya 7,03
Sumber: BPS Kabupaten Asahan Tahun 2018
Berdasarkan data di atas, terdapat 3 (tiga) sektor yang cukup dominan dalam pembentukan PDRB Kabupaten Asahan di Tahun 2018 yaitu sektor pertanian sebesar 36,04 persen, sektor industri pengolahan sebesar 23,42 persen dan sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 19,36 persen sedangkan sektor lain memberikan kontribusi sebesar 21,18 persen. Hal ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi AHK tahun 2018 sebesar 5,61 persen, artinya ada peningkatan dari angka perbandingan tahun 2017 sebesar 5,48 persen.
4.1.7 Kondisi Keuangan Daerah Kabupaten Asahan
APBD merupakan unsur penting bagi suatu daerah dalam melaksanakan pembangunan daerah, sehingga dalam perencanaanya diperlukan prinsip efisiensi serta transparansi dalam penggunaan anggaran. Berikut data terkait kapasitas riil kemampuan keuangan daerah Kabupaten Asahan Tahun Anggaran 2016-2021
Tabel 4.5 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah
*APBD yang ditetapkan
Sumber : RPJMD Kabupaten Asahan Tahun 2018
Berdasarkan Tabel kapasitas riil kemampuan keuangan daerah Kabupaten Asahan di atas diketahui bahwa belanja yang wajib, mengikat serta prioritas sebesar Rp 1.0442.408.739.307,83 ditahun 2016 menjadi Rp 1.024.590.921.404,13 ditahun 2021 dan pengeluaran pembiayaan daerah dari tahun 2018 sampai pada tahun 2021 diperkirakan tetap setiap tahunnya yaitu sebesar 2,5 miliar. Oleh karena itu, setelah diperoleh angka proyeksi belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama, maka dapat diperkirakan kapasitas riil dari kemampuan keuangan daerah untuk jangka waktu lima tahun dari tahun 2016 sampai tahun 2021.
4.1.8 Gambaran Umum Pemerintahan Kabupaten Asahan
Kabupaten Asahan terdiri dari 25 kecamatan dengan jumlah 27 kelurahan dan 177 desa serta 1.538 dusun. Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pemerintah Kabupaten Asahan berjumlah 56 baik badan, dinas, kantor kecamatan dan kelurahan termasuk juga DPRD Kabupaten Asahan.
Kepemimpinan Bupati Asahan Bapak H.Surya, B.Sc periode 2016-2021 membawa Kabupaten Asahan melalui Visi Pemerintah Kabupaten Asahan yaitu untuk terwujudnya Asahan yang Religius, Sehat, Cerdas, dan Mandiri.
Misi Pemerintah Kabupaten Asahan adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan kualitas SDM berbasis IMTAQ
b. Meningkatkan pelayanan dan kesadaran kesehatan masyarakat c. Meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan yang berkeadilan d. Mengembangkan pola pembangunan dan partisipatif, proaktif,
kreatif, dan inovatif dengan menjadikan masyarakat yang cerdas sebagai basis utama pelaku pembangunan ditengah kompetensi global e. Mengelola kemajemukan masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai
budaya dan memelihara kearifan lokal
f. Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang professional, amanah, bersih dan berwibawa secara akuntabel dan transparan dengan berorientasi pada pelayanan publik yang prima untuk mendorong percepatan pembangunan.
g. Meningkatkan pembangunan infrastruktur, saranan dan prasarana lainnya secara merata dalam rangka mendorong terwujudnya masyarakat yang mandiri dan berwawasan lingkungan
h. Mendorong terciptanya penegakan hukum dan HAM, keamanan, ketertiban, keadilan dan perlindungan bagi masyarakat
i. Meningkatkan daya saing pertanian dalam arti luas
j. Melakukan percepatan pembangunan perekonomian dengan mendorong pertumbuhan investasi daerah yang dipadukan dengan koperasi dan UKM pariwisata, perdagangan, industri, pembangunan pasar tradisional dan modern.
4.1.9 Deskripsi Umum Konsep Penerapan e-Government
E-Government menggunakan teknologi informasi dan kounikasi dalam mempromosikan pemerintahan yang lebih efisien serta penekana biaya yang efektif dan adanya kemudahan pelayanan pemerintah serta akses informasi kepada masyarakat umum sehingga membuat pemerintah lebih bertanggung jawan terhadap masyarakatnya. Implementasi dari pelayanan publik berbasis teknologi informasi dan komunikasi ini menciptakan transparansi dan peningkatan layanan untuk menjawab kebutuhan birokrasi dan administrasi di pemerintahan daerah.
adapun pengembangan sistem informasi ini juga akan dapat meningkatkan proses pengambilan keputusan yang terkait dalam perencanaan pembangunan.
Gambar 4.3 Kerangka e-Government
Sumber : Inpres Nomor 3 Tahun 2003
Berdasarkan Inpres Nomor 3 Tahun 2003 dalam menjamin keterpaduan sistem pengelolaan dan pengolahan dokumen dan informasi lainnya untuk pelayanan publik yang transparan, maka terdapat 4 (empat) pilar dalam penerapan konsep e-Government di pemerintahan daerah yaitu penataan sistem manajemen dan proses kerja, pemahaman tentang kebutuhan publik, penguatan kebijakan serta pemapanan peraturan dan perundang undangan.