BAB V PENUTUP
5.2 Saran
Berdasarkan temuan data, hasil analisis, dan kesimpulan peneliti memberikan saran kepada para pendidik khususnya dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk mengimplementasikan kajian pragmatik dalam karya sastra.
Bagi para peneliti, perlu memahami penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, supaya implikatur tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari namun bisa dituangkan dalam karya fiksi sebagai kehidupan nyata.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti lain juga dapat melakukan penelitian lanjutan. Penelitian lanjutan yang dimaksud seperti implikatur kehidupan sehari-hari dengan menganalisis wujud secara imperatif dan maksudnya. Hal tersebut dikarenakan implikatur hasil penelitian lebih menunjukkan wujud secara non-imperatif. Dengan demikian, hasil penelitian selanjutnya dapat memperkuat hasil penelitian ini.
67
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta.
Irma, C. N. 2019. Analisis Fungsi Dan Bentuk Implikatur Dalam Iklan Sprite:
Kenyataan Yang Menyegarkan Di Televisi. Hasta Wiyata, 2(2), 26–32.
https://doi.org/10.21776/ub.hastawiyata.2019.002.02.03
Rahardi, R. Kunjana. 2000. Imperatif dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Duta Wacana University Press
Rahardi, R. Kunjana. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Rahardi, Kunjana. 2006. Pragmatik Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.
Jakarta: Erlangga
Rahardi, R. Kunjana. 2008. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.
Jakarta : Erlangga
Rahardi, R. Kunjana, Yuliana Setyaningsih & Rishe Purnama Dewi. 2018.
Pragmatik: Fenomena Ketidaksantunan Berbahasa. Jakarta: Erlangga.
Sumarsono. 2009. Pragmatik. Singaraja: Undiksha.
Kesumawardi, Prastuti. DEIKSIS PERSONA, TEMPAT, DAN WAKTU DALAM NOVEL PULANG KARYA TERE LIYE (KAJIAN
PRAGMATIK) DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA. Deiksis : Deiksis : Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia,
http://repository.upy.ac.id/1580/1/ARTIKEL%20PRASTUTI%20KESUMA WARDANI.pdf
Kridalaksana, Harimurti. 1984.Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Kurniati, A. 2019. Implikatur dan Pelanggaran Prinsip Kerjasama dalam Wacana Percakapan Debat Calon Gubernur DKI Jakarta (Penelitian Analisis Isi dalam Acara Gelar Mata Najwa di Metro TV). Deiksis : Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 6(1).
https://doi.org/10.33603/deiksis.v6i1.1215
68
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Terjemahan MDD Oka.
Jakarta:Universitas Indonesia Press.
Nababan, PWJ.1986. Ilmu Pragmatik (Teori dan penerapannya). Jakarta:
Depdikbud
Pranowo. 2009. Kesantunan Berbahasa Tokoh Masyarakat Ditinjau dari Aspek Pragmatik. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
Pudyastuti, L. A., & Zamzani, Z. 2019. IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH. Widyaparwa, 47(1). https://doi.org/10.26499/wdprw.v47i1.316
Widoyoko, E. P. 2016. Teknik Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian.
Yogyakarta. In Yogyakarta: Pustaka Pelajar (Vol. 15, Issue April).
Widyaningrum, H. K., & Hasanudin, C. 2019. Bentuk lokusi, ilokusi, dan perlokusi siswa dalam pembelajaran tematik. BAHASTRA, 39(2).
https://doi.org/10.26555/bahastra.v39i2.14161
Wijaya, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset.
Yule, Georege. 1996. Pragmatics. Oxford University Press.
Yule, Georege. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yuniarti, N. 2014. Implikatur Percakapan Dalam Percakapan Humor. Jurnal Pendidikan Bahasa, 3(2), 225–2
1
LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Permohonan Triangulator
2 Lampiran 2 Triangulasi Data
DATA PENELITIAN
PERCAKAPAN SUAMI, ISTERI DAN ANAK DALAM FILM KELUARGA CEMARA KAJIAN PRAGMATIK Oleh: Christin Subiyanto / 181224013
Pembimbing: Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum.
Petunjuk Triangulasi:
1. Triangulator memberikan tanda centang () pada kolom ya/tidak untuk menggambarkan penilaian Anda.
2. Berilah catatan pada kolom komentar untuk membantu kebenaran dari hasil analisis.
3. Setelah mengisi tabulasi data, triangulator dimohon untuk membubuhkan tanda tangan di bagian akhir
Tabel 1. Tabel data wujud Implikatur Percakapan Suami, Isteri dan Anak dalam Film Keluarga Cemara 1. Wujud implikatur
No Data dan konteks Wujud Implikatur Validator Komentar
Ya Tidak
1 [Emak] Abah, jangan lupa. Pokoknya, nanti pukul 16.00.
Lalu, tiup lilinnya pukul 17.00.
[Abah] Iya.
Eh, sebentar.
Apa, Mak? - Ulangi dahulu.
Acaranya pukul 16.00, tiup lilinnya pukul 15.30.
Iya, bercanda. Abah pasti datang. Sudah, tenang saja, ya?
[Abah] Ara.
[Emak] Cepat pulang! - Iya.
Konteks:
Tuturan yang menunjukkan Wujud Pragmatik Imperatif
“Cepat pulang!”
v Catatan untuk no 1 sd 17
1. Masukkan dalam konteks siapa 01 dan siapa 02? Apa hubungan di antara mereka?
2. diuraikan penanda wujud implikatur dari percakapan itu sehingga menjadi ciri bahwa ini pragmatic imperatif atau formal imperative. Tuliskan dalam kolom ke 2 di bagian wujud implikatur.
(tidak cukup hanya dituliskan
3 - Mitra tutur mengingatkan bila acaranya
diadakan pukul 16.00.
- Tuturan terjadi di teras rumah saat mitra tutur hendak mengantar anaknya.
- Emak, abah, ara dan euis merupakan satu keluarga
wujud pragmatic imperatif. Perlu bukti dan alasan)
2 [wanita] Hai, Ara. Di mana Teteh?
[Emak] Eh.
Terima kasih sudah datang.
Konteks:
- Mitra tutur bertanya keberadaan Ara.
- Wanita yang dimaksud merupakan teman dari emak, yang hadir dalam acara yang diadakan oleh emak.
Tuturan yang menunjukkan Wujud Formal Imperatif
“Eh.
Terima kasih sudah datang.”
v idem
3 Ini ada apa, Kang?
Kang Fajar mengapa ambil proyek Orange City, Kang?
[Fajar] Maaf, seharusnya uangnya saya langsung kembalikan.
Saya juga ditipu.
Tapi kita sudah sepakat, Kang.
Setiap uang yang kita pakai harus langsung dikembalikan, Kang.
Kalau kita tak berani ambil, kita tak akan maju.
Seharusnya surat-suratnya sudah saya…
Konteks:
- Mitra tutur bertanya mengenai hal yang terjadi saat ini hingga rumahnya disita.
Tuturan yang menunjukkan Wujud Pragmatik Imperatif
“Kang Fajar mengapa ambil proyek Orange City, Kang?”
v idem
4 - Mitra tutur memberi alasan jika mitra tutur
ditipu.
- Fajar merupakan ipar dari abah.
4 Sudah puas, Kang?
Ha?
Sudah puas?
Sudah dapat yang Akang cari?
Konteks:
- Mitra tutur menyindir karena sudah membuat mitra tutur harus pergi dari rumah.
- Emak merupakanipar dari fajar.
Tuturan yang menunjukkan Wujud Pragmatik Imperatif
“Sudah puas, Kang?”
v idem
5 [Abah] Ara.
- [Emak] Maafkan Emak, ya?
Sudah, Ara tak usah bawa apa-apa.
- [Abah] Sudah, ini biar Abah yang bawa.
- [Emak] Tak usah, Sayang. Emak saja.
- [Abah] Sudah.
Konteks:
- Mitra tutur memberikan penjelasan dan meminta maaf kepada kedua anaknya yang tidak bisa tinggal dirumah ini lagi.
- Emak, ara, euis adalah keluarga
Tuturan yang menunjukkan Wujud Pragmatik Imperatif
“Maafkan Emak, ya?”
v idem
6 [Euis] Abah.
Rumahnya tidak mau dijual saja?
[Emak mendiamkan]
Teteh mengapa bicara begitu?
Ini warisan dari Aki dan Nini untuk Abah.
Tuturan yang menunjukkan Wujud Formal Imperatif
“Teteh mengapa bicara begitu?”
v idem
5 Konteks:
- Mitra tutur bertanya ruamah yang akan ditempati mengapa tidak dijual, bermaksud untuk menjual dan membeli rumah di kota lagi.
- Euis, abah, emak merupakan keluarga 7 Paling-paling di pohon itu yang ada sinyal.
[Abah] Kalau misalnya mau menelepon… Hei, Ara!
Konteks:
- Bertanya-tanya untuk mencari sinyal supaya bisa memberikan kabar kepada
pengacaranya.
- Euis, abah, emak merupakan keluarga
Tuturan yang menunjukkan Wujud Pragmatik Imperatif
“Paling-paling di pohon itu yang ada sinyal.”
v idem
8 Abah, ada perkakas?
- [Abah] Ya?
- Oh, perkakas?
- Iya.
Konteks:
- Lawan tutur bertanya apakah mempunyai perkakas, untuk memperbaiki bagian yang rusak.
- Abah dan romi adalah teman kecil.
Tuturan yang menunjukkan Wujud Pragmatik Imperatif
“Abah, ada perkakas?”
v idem
6
Tabel 2. Tabel data jenis Implikatur Percakapan Suami, Isteri dan Anak dalam Film Keluarga Cemara Keluarga
2. Jenis Implikatur
No Data dan konteks Jenis Implikatur Validator Komentar
Ya Tidak
144 [Emak] Abah, jangan lupa. Pokoknya, nanti pukul 16.00.
Lalu, tiup lilinnya pukul 17.00.
[Abah] Iya.
Eh, sebentar.
Apa, Mak? - Ulangi dahulu.
Acaranya pukul 16.00, tiup lilinnya pukul 15.30.
Iya, bercanda. Abah pasti datang. Sudah, tenang saja, ya?
[Abah] Ara.
[Emak] Cepat pulang! - Iya.
Konteks:
- Mitra tutur mengingatkan bila acaranya diadakan pukul 16.00.
- Tuturan terjadi di teras rumah saat mitra tutur hendak mengantar anaknya.
- Emak, abah, ara dan euis merupakan satu keluarga
Tuturan yang menunjukkan Implikatur percakapan
“Pokoknya” dan masuk dalam implikatur
percakapan umum.
v Mengapa implikatur percakapan?
Mengapa bukan yang lain?
Penandanya apa? Tuliskan di kolom 2 (jenis implikatur)
145 Ini ada apa, Kang?
Kang Fajar mengapa ambil proyek Orange City, Kang?
Tuturan yang menunjukkan Implikatur percakapan
v Catatan seperti nomor 144
7 [Fajar] Maaf, seharusnya uangnya saya langsung
kembalikan.
Saya juga ditipu.
Tapi kita sudah sepakat, Kang.
Setiap uang yang kita pakai harus langsung dikembalikan, Kang.
Kalau kita tak berani ambil, kita tak akan maju.
Seharusnya surat-suratnya sudah saya…
Konteks:
- Mitra tutur bertanya mengenai hal yang terjadi saat ini hingga rumahnya disita.
- Mitra tutur memberi alasan jika mitra tutur ditipu.
- Fajar merupakan kakak dari emak.
“Saya juga ditipu.”
Dan masuk dalam implikatur
percakapan khusus.
146 [Abah] Ara.
- [Emak] Maafkan Emak, ya?
Sudah, Ara tak usah bawa apa-apa.
- [Abah] Sudah, ini biar Abah yang bawa.
- [Emak] Tak usah, Sayang. Emak saja.
- [Abah] Sudah.
Konteks:
- Mitra tutur memberikan penjelasan dan meminta maaf kepada kedua anaknya yang tidak bisa tinggal dirumah ini lagi.
- Abah, emak merupakan pasangan suami dan isteri.
Tuturan yang menunjukkan Implikatur percakapan
“Maafkan Emak, ya?” dan masuk dalam implikatur percakapan umum.
v Catatan seperti nomor 144
147 [Euis] Abah.
Rumahnya tidak mau dijual saja?
[Emak mendiamkan]
Tuturan yang menunjukkan
v Mengapa implikatur konvensional?
Mengapa bukan yang lain?
8 Teteh mengapa bicara begitu?
Ini warisan dari Aki dan Nini untuk Abah.
Konteks:
- Mitra tutur bertanya ruamah yang akan ditempati mengapa tidak dijual, bermaksud untuk menjual dan membeli rumah di kota lagi.
- Euis dan emak merupakan anak dan ibu.
Implikatur konvensional
“Rumahnya tidak mau dijual saja?”
Penandanya apa? Tuliskan di kolom 2 (jenis implikatur)
148 Paling-paling di pohon itu yang ada sinyal.
[Abah] Kalau misalnya mau menelepon… Hei, Ara!
Konteks:
- Bertanya-tanya untuk mencari sinyal supaya bisa memberikan kabar kepada
pengacaranya.
- Abah dan ara merupakan ayah dan anak.
Tuturan yang menunjukkan Implikatur konvensional
“Paling-paling di pohon itu yang ada sinyal.”
v Catatan seperti nomor 147
149 Abah, ada perkakas?
- [Abah] Ya?
- Oh, perkakas?
- Iya.
Konteks:
- Lawan tutur bertanya apakah mempunyai perkakas, untuk memperbaiki bagian yang rusak.
Tuturan yang menunjukkan Implikatur percakapan
“Abah, ada perkakas?” dan masuk dalam implikatur
percakapan umum.
v Catatan seperti nomor 144
150 [Abah] Mak!
- Iya, Mak. Ayo.
- Mau naik atau tidak?
- Mak, ayo.
Tuturan yang menunjukkan Implikatur percakapan
v Catatan seperti nomor 144
9 - Tidak usah.
- Naik, Mak.
- Ayo, naik.
Konteks:
- Mitra tutur memerintah untuk menaiki becak bersama anak-anaknya.
- Abah, emak, ara dan euis merupakan keluarga
“Mau naik atau tidak?” dan masuk dalam implikatur percakapan umum.
151 Ara ingat kalau lewat di sini dan belum kering, jangan diinjak, ya?
Sana, cuci kakinya. Ayo.
Oke.
Konteks:
- Mitra tutur memerintah supaya jangan menginjak karena semennya belum kering.
- Ara merupakan anak dari abah.
Tuturan yang menunjukkan Implikatur percakapan
“Ara ingat kalau lewat di sini dan belum kering, jangan diinjak, ya?”
dan masuk dalam implikatur
percakapan khusus.
v Catatan seperti nomor 144
152 Ara mau punya adik lagi.
Emak sedang hamil.
Adik?
Doa Ara terkabul.
Konteks:
- Mitra tutur menanyakan berita tentang ibunya yang sedang hamil karena mitra tutur berdoa supaya mendapatkan adik.
- Ara merupakan anak emak.
Tuturan yang menunjukkan Implikatur konvensional
“Doa Ara terkabul.”
v Catatan seperti nomor 147
10 153 Adik.
Ara siap atau tidak jadi kakak?
Siap.
Konteks:
- Mitra tutur bertanya ke lawan mengenai kesiapan menjadi kakak karena ada anggota baru.
Tuturan yang menunjukkan Implikatur percakapan
“Ara siap atau tidak jadi kakak?” dan masuk dalam implikatur
percakapan umum.
v Catatan seperti nomor 144
154 Euis boleh atau tidak bertemu teman-teman Euis?
Katanya, mau ada lomba di kota.
Jadi, lebih dekat daripada harus pergi ke Jakarta.
Nanti Euis berjanji, akan lebih rajin berjualan.
Kapan?
[Euis] Masih bulan depan.
[Abah] Euis.
Kalau menurut Abah, sebaiknya tidak usah, ya?
Bogor jauh.
Nanti, kamu menginap di mana?
Di hotel, bersama teman-teman.
Konteks:
- Mitra tutur bertanya apakah boleh mengikuti acara sekolah yang diadakan diluar desa tersebut namun respon lawan tuturnya tidak memperbolehkan karena jauh dan khawatir kepada mitra tutur mengenai tempat menginapnya.
- Abah dan euis merupakan ayah dan anak.
Tuturan yang menunjukkan Implikatur percakapan
“Kalau menurut Abah, sebaiknya tidak usah, ya?”
dan masuk dalam implikatur
percakapan umum.
v Catatan seperti nomor 144
155 [Euis] Bah, Euis butuh sekali ponselnya untuk bertemu teman-teman.
Tuturan yang menunjukkan
v Catatan seperti nomor 144
11 Euis cuma ingin bertemu sekali saja.
Kamu sadar salahnya apa? Ha?
Euis tidak boleh pergi!
Tapi mengapa tidak boleh?
Yang di pikiran kamu itu cuma bermain terus.
Kamu tidak melihat Abah dan Emak susah payah menyekolahkan kamu?
[Abah] Kamu pikir itu gampang?
Konteks:
- Mitra tutur hanya ingin meminta ponsel untuk menghubungi temannya karena ingin bertemu dengan teman-temannya.
- Abah merupakan ayah Euis.
Implikatur percakapan
“Euis cuma ingin bertemu sekali saja.” Dan masuk dalam implikatur percakapan umum.
156 [Abah] Sepertinya memang harus membawa anak-anak ke Jakarta lagi, Rom.
Ya, tapi Abah tidak mau coba tinggal di sini dahulu bersama anak-anak dan Emak?
Ah, nanti juga kamu mengerti, kalau sudah punya keluarga, Rom.
Harus siap dengan kondisi apa pun.
Ya, itu risikonya jadi laki-laki.
Sebagai kepala keluarga, harus siap menanggung semuanya.
Konteks:
- Mitra tutur perpikir bahwa ia harus membawa anak-anaknya balik kejakarta karena mereka tidak cocok tinggal di desa.
- Romli merupakan teman kecil abah.
Tuturan yang menunjukkan Implikatur konvensioanl
“Harus siap dengan kondisi apa pun.”
v Catatan seperti nomor 147
12 157 [Ara] Teh, Ara tidak mau rumahnya dijual.
Ara suka di sini.
Abah jadi sering di rumah.
Emak masak opak setiap hari.
Lalu, Ara bisa sekamar dengan Teteh.
Dahulu, mana pernah kita begini?
Konteks:
- Mitra tutur tidak ingin rumah di desa dijual karena bila ia tinggal disitu ara merasa abah sering di rumah, emak sering masak opak dan ara senang dengan keadaan seperti ini.
- Ara dan euis merupakan adik dan kakak.
Tuturan yang menunjukkan Implikatur percakapan
“Dahulu, mana pernah kita
begini?” dan masuk dalam implikatur percakapan umum.
v Catatan seperti nomor 144
13
Tabel 3. Tabel data makna Pragmatik Percakapan Suami, Isteri dan Anak dalam Film Keluarga Cemara 3. Makna Pragmatik
No Data dan konteks Makna Implikatur Validator Komentar
Ya Tidak
44. [Ara, bahasa Inggris] Teteh, aku cinta kamu!
Konteks:
Ara memberi perintah bahwa ia menyayangi kakaknya.
Perintah v Catatan untuk no 44 sd 143
1. konteks situasinya kurang memadai. Perlu dielaborasi atau diperluas agar mempermudah penafsiran.
2. di kolom 2 (makna implikatur perlu diuraikan mengapa
maknanya perintah, mengapa bukan yang lain. Tentu dikaitkan dengan konteks)
45. Nanti biar besok, Abah yang bicara dengan Euis.
Konteks:
Abah merasa bersalah dan ingin berbicara kepada euis.
Anjuran v Permintaan
Catatan lain sama dengan atas.
46. [Emak] Abah, jangan lupa. Pokoknya, nanti pukul 16.00.
Lalu, tiup lilinnya pukul 17.00.
Konteks:
Emak meminta abah untuk datang keacara ulang tahun euis.
Permintaan v
14 47. Di acara ulang tahun Euis nanti, Abah datang.
Konteks:
Euis ingin abahnya hadir ke acara ulang tahunnya.
Permintaan v Sama seperti catatan no 44 di atas.
Konteksnya kurang jelas. Siapa bicara dengan siapa? Bukti bahwa itu permintaan pada kata-kata apa?
48. Pak Fajar sudah bisa dihubungi atau belum, ya?
Eh, belum, Pak.
Konteks:
Abah menyuruh asistennya untuk menghubungi Pak Fajar.
Suruhan v Sama seperti catatan no 44 di atas
49. [pekerja] Kurang ajar! Dua bulan kita tidak makan!
Lalu, kita disuruh makan apa?
Tidak bisa dibiarkan begini terus!
Konteks:
Pekerja mengeluh karena tidak diberi gaji hingga melontarkan kata-kata yang tidak pantas.
Umpatan v
50. Bapak-Bapak, tolong tenang dahulu, ya.
Saya mohon Bapak-Bapak sabar.
Konteks:
Abah berharap supaya pekerja sabar menunggu kabar.
Harapan v Sama seperti catatan no 44 di atas
51. [berteriak] Sabar?
Dua bulan anak istri saya tak makan!
Sabar?
Konteks:
Umpatan v Sama seperti catatan no 44 di atas
15 Pekerja sudah tidak sabar hingga melontarkan
kata-kata yang mungkin menyakitkan hati.
52. [pekerja 1] Saya tidak makan mobil!
Saya butuh uang!
Konteks:
Pekerja tidak mau mobil tetapi pekerja hanya butuh uangnya diberikan.
Perintah v Sama seperti catatan no 44 di atas
Penolakan?
53. Sekarang, di mana Pak Fajar?
- [pekerja 2] Pak Fajar! - [pekerja 1] Iya, Pak!
- Jangan disembunyikan! - [pekerja 3] Kami bertemu Bapak.
Bapak saja yang harus bertanggung jawab!
Konteks:
Pekerja tetap memaksa untuk menghubungi dan Pak Fajar tidak disembunyikan karena harus bertanggungjawab.
Suruhan v Sama seperti catatan no 44 di atas
54. [bergumam] Selamat ulang tahun, Sayang.
Konteks:
Euis mendapatkan ucapan selamat ulang tahun.
Pemberian ucapan selamat
v Sama seperti catatan no 44 di atas
55. Sebentar lagi, Abah datang, ya.
Konteks:
Euis berharap abah segera pulang sehingga bisa melanjutkan acara dengan cepat.
Harapan v Sama seperti catatan no 44 di atas
56. SELAMAT ULANG TAHUN Dahsyat.
Konteks:
Pemberian ucapan selamat
v Sama seperti catatan no 44 di atas
16 Euis mendapatkan ucapan selamat ulang tahun.
57. Rumah ini disita.
Jadi, semua yang ada di sini saya minta keluar.
[anak buah] Keluar!
Semua keluar!
Konteks:
Semua yang ada didalam rumah diminta untuk keluar rumah karena rumah tersebut disita.
Perintah v Sama seperti catatan no 44 di atas
58. Boleh dijelaskan baik-baik dahulu, Pak?
Saya tidak tahu apa-apa.
Ibu saya minta keluar atau…
Saya tidak mengerti apa-apa, Pak.
Zul!
Keluar, Bu!
- Bisa dibicarakan baik-baik. - Keluar!
Saya tidak tahu ini ada apa.
- Keluar! - Tunggu suami saya dahulu, bisa?
Tidak. Keluar!
- [deru motor] - [Emak] Saya tak bisa bertemu anak saya?
[Zul] Bu, saya mohon keluar. Rumah ini milik kami sekarang.
Ibu sudah tidak punya hak lagi atas rumah ini.
Konteks:
Emak membujuk untuk jangan mengusir orang yang ada didalam rumah dan meminta penjelasan.
Bujukan v Sama seperti catatan no 44 di atas
59. [Emak] Euis. Euis ke Ara sekarang.
Euis!
Perintah v Sama seperti catatan no 44 di atas
17 Konteks:
Emak memerintahkan Euis untuk menemani Ara.
60. Pak, tidak usah ditempeli stiker begitu, Pak.
Sudah, Bu. Ini hak kami.
Konteks:
Emak memohon supaya rumahnya tidak ditempeli stiker.
Permohonan v Sama seperti catatan no 44 di atas
61. [Zul] Ibu sudah tidak punya hak lagi atas rumah ini.
Mau ditempeli atau mau apa.
Konteks:
Zul menghimbau karena rumah tersebut sudah tidak punyanya lagi, rumah tersebut sudah disita.
Imbauan v Sama seperti catatan no 44 di atas
62 [Emak] Kita bicarakan baik-baik saja, Pak.
Konteks:
Emak masih tetap ingin membicarakan dengan baik-baik malah ini.
Permohonan v Sama seperti catatan no 44 di atas
63 - [Ara menangis] Abah! - [Abah] Ara.
Ara di sini dahulu dengan Teteh, ya?
Konteks:
Abah meminta Ara bersama Euis.
Perintah v Sama seperti catatan no 44 di atas
64 [Fajar] Maaf, seharusnya uangnya saya langsung kembalikan.
Saya juga ditipu.
Konteks:
“ngelulu” v Sama seperti catatan no 44 di atas
18 Fajar memberikan penjelaskan bahwa fajar kena
tipu dan tidak bisa membayar hutang semuanya.
65 Tapi kita sudah sepakat, Kang.
Setiap uang yang kita pakai harus langsung dikembalikan, Kang.
Kalau kita tak berani ambil, kita tak akan maju.
Seharusnya surat-suratnya sudah saya…
Konteks:
Emak mengingatkan bahwa mereka sudah ada perjanjian.
Permintaan v Sama seperti catatan no 44 di atas
Peringatan?
66 Semua harta saya ada di sini, Pak.
Konteks:
Abah memohon supaya hartanya satu-satunya tidak disita.
Permohonan v Sama seperti catatan no 44 di atas
67 Fajar.
Beri tahu iparmu.
Bung.
Saya sudah lama bekerja seperti ini.
Jadi, saya tidak akan menyita apa pun kalau tidak ada perjanjiannya.
Dan yang Bung mesti ketahui,
bukan saya yang memutar uang ke Orange City.
Maaf, Bung.
Bukan saya yang jahat.
Konteks:
Dedi memberikan ajuran bahwa ia tidak jahat, ia melakukan ini karena adanya perjanjian diatas
Anjuran v Sama seperti catatan no 44 di atas
Penjelasan?
19 kertas bila tidak ada perjanjian pasti tidak akan
seperti ini kejadiannya.
68 Kau bisa memenangkan ini di jalur hukum.
Kau ditipu kakak iparmu sendiri.
Tapi saya juga ikut tanda tangan, Bang.
Tapi kau tak tanda tangan untuk Orange City.
Nanti aku coba menangkan dari situ.
Biar yang bersalah yang susah.
Jangan kalian.
Konteks:
Pengacara memberikan anjuran bahwa abah akan memenangkan persidangan ini.
Anjuran v Sama seperti catatan no 44 di atas
Menghibur?
69 [Tobing] Kalian menjauhlah dahulu dari lintah-lintah ini.
Agar mereka tak cari cara untuk memeras kalian lagi.
Ke rumah saudara?
Atau ke rumah sahabat?
Konteks:
Pengacara menganjurkan abah dan keluarga tidak tinggal dikota melainkan mengungsi ke rumah saudara atau sabahat.
Anjuran v Sama seperti catatan no 44 di atas
70 Liburan sekolah yang sekarang, kita berliburnya di tempat Aki, ya?
[bersorak]
Kamu memang tahu rumah Aki di mana?
Tidak.
Konteks:
Ajakan v Sama seperti catatan no 44 di atas
20 Abah mengajak keluarga untuk tinggal dirumah
Aki dengan perumpamaan berlibur.
71 [Abah] Jangan bergadang. Euis juga istirahat.
Konteks:
Abah memberitahu supaya Euis segera tidur dan beristirahat.
Larangan v Sama seperti catatan no 44 di atas
72 [Abah] Nanti kalau sudah beres, kita lanjutkan lagi usahanya, ya.
- Mari, Pak!
Konteks:
Abah mengharapkan masalahnya segera selesai.
Harapan v Sama seperti catatan no 44 di atas
73 - Mau dibawa Abah?
- Tidak usah.
- Euis bisa?
- Bisa.
Konteks:
Abah meminta izin membawakan tas Euis.
Permintaan izin v Sama seperti catatan no 44 di atas
74 Rumahnya tidak mau dijual saja?
[Emak mendiamkan]
Teteh mengapa bicara begitu?
Ini warisan dari Aki dan Nini untuk Abah.
Konteks:
Euis dengan nada lembut sabil bertanya, dan meminta agar rumah Aki dijual.
Permintaan v Sama seperti catatan no 44 di atas
75 Tidak ada sinyal di sini, Mak.
Ya, lalu?
Harapan v Sama seperti catatan no 44 di atas