• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Kajian Teori

2.2.3 Fenomena pragmatik

2.2.3.3 Tindak tutur (speech acts)

Tindak tutur merupakan perilaku berbahasa seseorang yang berupa ujaran dalam sebuah peristiwa tutur. Tindak tutur dibagi menjadi tiga yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi dan tindak perlokusi. Berikut penjelasan ketiga tindakan di atas (Widyaningrum & Hasanudin, 2019)

1. Tindak lokusi merupakan tindak dasar tuturan atau suatu ungkapan linguistik yang bermakna.

2. Tindakan ilokusi ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan.

3. Tindakan perlokusi memiliki fungi tanpa memaksudkan tuturan itu memiliki akibat.

Tindak tutur jenis pertama yakni tindak tutur lukosi, tindak tutur tersebut merupakan tindak tutur yang menyatakan sesuatu. Tindak tutur lukosi tidak ada maksud lain selain maksud yang disampaikan oleh penutur.

Misalnya “ Abah jangan lupa. Pokoknya, nanti pukul 16.00. lalu, tiup lilinnya pukul 17.00” dari kalimat tersebut mengandung makna bahwa abah diingatkan untuk datang ke acara ulang tahun.

Tindak tutur jenis kedua yakni tindak tutur ilukosi yang mempunyai fungsi untuk ‘melakukan sesuatu’. Tindak tutur ilukosi tidak semata-mata digunakan untuk memberikan informasi melainkan untuk menangkap makna kebahasaan maka akan dapat bermakna perintah atau permintaan.

Misalnya “Pak, tidak usah ditempeli stiker begitu, pak.” Kalimat tersebut mengandung makna penutur tidak ingin rumah tersebut diberi tanda, kenyataannya rumah tersebut sudah disita. Dalam memaknai bahwa tutiran dalam tindak ilukosi itu dibutuhkan kehadiran konteks. Untuk memaknai pada tuturan ilokusioner seperti di atas hal tersebut harus mempertimbangkan dengan cermat latar waktu dan latar tempatnya.

Tindak tutur jernis ketiga atau terakhir yakni tindak tutur perlokusi merupakan tindakan untuk memperngaruhi mitra tutur atau pihak lain untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh “Rumahnya tidak mau dijual saja?”

kalimat tersebut pasti akan mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari terdapat jenis tuturan perlukosi.

2.2.3.4 Fenomena kesantunan

Dalam suatu interaksi pastinya mempunyai kesantuan dalam berbahasa, kesantunan adalah berprilaku sedemikian rupa yang sesuai dengan kaidah sosial yang berlaku dalam masyarakat. Fraser (dalam Wadji, 2013), mengatakan kesantunan dimiliki oleh penutur dan pendengar lawan tutur. Bagi penutur dan lawan tutur menggunakan variasi yang sesuai, serta

mempertimbangkan skala status, skala keakraban penutur dan lawan tutur berdasarkan hak dan kewajiban dengan tujuan hubungan yang harmonis.

Dalam fenomena kesantunan berbahasa lazimnya dipilih menjadi dua yakni kesantunan yang dasarnya adalah konsep muka, dan kesantunan yang dasarnya adalah implikatur. Kesantunan dapat dikatakan sebagai pelengkap dari prinsip kerja sama. Prinsip kerja sama tersebut bisa digunakan untuk entitas pragmatik yang sifatnya tekstual, sedangkan prinsip kesantunan digunakan dengan entitas pragmatik yang sifatnya nontekstual. Prinsip kerja sama terdapat beberapa maksim yakni maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi dan maksim pelaksaaan (Rahardi, 2009:23).

2.2.3 Implikatur dalam Pragmatik

Implikatur merupakan salah satu gagasan paling penting dalam pragmatik. Implikatur merupakan contoh hakikat dan kekuatan penjelasan pragmatik dari fenomena kebahasaan (Kurniati, 2019). Menurut (Yuniarti, 2014), implikatur percakapan merupakan implikatur yang hanya diketahui oleh sebagian orang yang mengetahui konteks tuturan. Dalam implikatur akan menganalisis suatu percakapan sehingga diperoleh makna yang benar. Maka konsep implikatur dipakai untuk menerangkan perbedaan antara ‘apa yang diungkapan’ dan ‘apa yang dimaksud’.

Pada implikatur mempunyai jenis-jenis, menurut Grice (dalam Leech, 1993: 17), mengatakan ada dua jenis implikatur yaitu conventional implicature (implikatur konvensional) dan conversation implicature (implikatur percakapan). Iimplikatur tersebut mempunyai sifat umum dan konvensional.

Implikatur konvensional bersifat umum yang dimaksud diketahui oleh masyarakat. Implikatur tersebut terjadi karena dipengaruhi oleh topik atau konteks yang sudah diketahui banyak orang. Dipertegas oleh Mulyana (2001) implikatur konvensional merupakan implikasi yang bersifat umum dan konvensial, semua orang memahami maksud atau implikasi mengenai suatu hal tertentu. Pemahaman tersebut mengandaikan kepada pendengar atau pembaca mengenai pengalaman atau pengetahuan umum.

Implikatur konvensional mengimplikasikan bahwa suatu konsep atau pengertian sudah bersifat umum dan konvensional. Hal tersebut dapat dikatakan, semua orang umumnya sudah mengetahui dan memahami maksud atau implikasi suatu hal tertentu. Sama seperti Yule (2014:78), mengatakan bahwa implikatur konvensional tidak mengharuskan terjadi pada percakapan dan tidak tergantung pada konteks lokal untuk memahami. Dengan demikian, presuposisi leksikal, implikatur konvensional diasosiasikan dengan kata-kata khusus dan mengandung makna tambahan yang disampaikan (Mulyana, 2005:12).

Dalam implikatur konvensional mempunyai makna yang diharapkan pada bentuk-bentuk bahasa tetapi tidak terungkap, menutut Kridalaksana (2008:91). Sedangkan menutut Yule (2006:78), implikatur konvensional diasosiasikan dengan kata khusus dan mempunyai maksud tambahan yang disampaikan bila kata tersebut digunakan. Menurut Yule (2006:69), implikatur percakapan merupakan asumsi dari percakapan dan mengikuti prinsip kerja sama dan maksim-maksim. Grice menghubungkan konsep implikatur percakapan dengan kaidah prinsip kerja sama. Menurut Levison (dalam Rani, dkk (2006:173), menjabarkan empat fungsi dalam implikatur dan tuturan sebagai berikut.

a. Implikatur menjelaskan makna atau fakta kebebasan yang terjangkau oleh teori- teori lingusitik.

b. Implikatur menegaskan perbedaan lahiriah yang dimaksud si pemakai bahasa.

c. Implikatur memberikan pemerian semantik sederhana mengenai hubungan klausa dengan kata hubung yang sama.

d. Implikatur memberikan fakna secara lahiriah yang tidak berkaitan melainkan berlawanan (seperti metafora).

Fungsi tersebut tidak terlepas dari teori tindak tutur. Tindak tutur merupakan pandangan bahwa ungkapan bahasa dapat dipahami jika dikaitan dengan situasi konteks yang terjadi.

Menurut Yule (2006:69-8), implikatur dibedakan menjadi lima macam yaitu:

1. Implikatur percakapan

Makna yang disampaikan penutur akan melalui implikatur dan pendengarlah yang mengenali makna yang disampaikan melalui inferensi.

2. Implikatur percakapan umum

Pengetahuan khusus yang tidak dipersyaratkan untuk menghitungkan makna tambahan yang disampaikan, merupakan implikatur percakapan umum.

3. Implikatur berskala

Informasi yang selalu disampaikan dengan memilih sebuah kata untuk menyatakan suatu nilai dari suatu skala nilai. Dalam implikatur tersebut semua bentuk negatif dari skala yang lebih tinggi akan dilibatkan apabila dalam skala itu dinyatakan.

4. Implikatur percakapan khusus

Percakapan khusus terjadi dalam kontes yang khusu dimana kita bisa mengasumsikan informasi yang diketahui secara lokal.

5. Implikaturl konvensional

Implikatur konvensional tidak didasarkan pada prinsip kerja sama atau maksim. Implikatur konvensional tidak selalu ada dalam percakapan dan tidak bergantung konteks. Kata yang biasanya digunakan pada implikaturkonvensionalini adalah kata ‘bahkan’

dan ‘tetapi’.

Hal tersebut membuat penutur dapat secara lancar berkomunikasi karena keduanya memiliki kesamaan yang dituturkan. Dengan adanya kontrak percakapan yang tidak tertulis, dan saling memahami satu dengan yang lainnya.

Grice (1974) dalam Rahardi (2003) mengatakan bahwa tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan bagian dari tuturan. Proposisi tersebut disebut implikatur percakapan.

Implikatur tersebut memiliki makna informasi bersifat kontekstual dan informasi yang bersifat pendek dan terikat oleh konteks menurut Zamzani

& Rahayu (2017:27). Implikatur percakapan berciri sebagai berikut.

1. Implikatur percakapan membutuhkan informasi yang melatarbelakangi pengetahuan dalam konteks.

2. Implikatur berbeda dengan makna kalimat secara harafiah.

3. Implikatur percakapan berada di luar dari isi semantik yang dikatakan.

Implikatur tergantung pada makna pragmatik dan maksud yang tersirat berpengaruh pada konteks.

4. Implikatur percakapan dilatarbelakangi penutur, dan makna konvensional tidak menjadi bagian dari implikatur.

5. Implikatur percakapan tidak tergantung dari kembenaran yang dikatakan (yang dikatakan mungkin benar naumn yangdikatakan secara tersirat mungkin bisa salah), implikatur percakapan tidak berdasarkan yang dikatakan, namun dapat diperhitungkan dalam hal tindakan yang mengatakan hal tersebut.

6. Dalam (Grice, 1975:57-58; Levinson, 1983:114; Yule, 1996: 44-45;

Kroeger, 2018:140-141), mengatakan bahawa implikatur percakapan tidak memiliki penjelasan pasti.

Pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa implikatur percakapan merupakan suatu yang disampaikan secara implisit dan muncul pada konteks bahasa yang bersifat khusus.

Dalam implikatur mempunyai dua wujud imperatif yakni (1) wujud imperatif formal atau struktural dan (2) wujud imperatif pragmatik atau nonstruktural (Rahardi 2008:87). Wujud formal imperatif merupakan maksud dari imperatif menurut ciri struktur atau ciri formal. Sedangkan wujud imperatif pragmatik merupakan imperatif menurut makna pragmatik.

Menurut Grorys Keraf dalam Rahardi (2005:27), kalimat imperatif dalam bahasa Indonesia merupakan suruhan yang kasar hingga permohonan yang sangat halus dan santun. Kalimat imperatif dapat diucapkan secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam kajian pragmatik imperatif merupakan cabang ilmu yang berkesinabungan dengan penggunaan bahasa atau kalimat perintah dalam makna kebahasaan serta tuturan yang mempunyai aspek kontekstual. Hal tersebut terkandung selalu berkaitan dengan konteks situasi tutur yang mempunyai latar belakang munculnya tuturan imperatif. Wujud formal imperatif mempunyai dua macam wujud.

(1) Imperatif aktif

Rahardi (2005:88), imperatif aktif dibedakan berdasarkan penggolongan verbanya yang menjadi dua macam, imperatif aktif berciri transitif dan imperatif aktif berciri intransitif. Yang diperkuat menurut Mees dalam Rahardi (2005:23), menyatakan bahwa kata kerja transitif maupun intransitif, keduanya mempunyai fungsi sebagai pembentuk kalimat perintah. imperatif aktif dibedakan berdasarkan penggolongan verbanya yang menjadi dua macam, imperatif aktif berciri transitif dan imperatif aktif berciri intransitif. Yang diperkuat menurut Mees dalam Rahardi (2005:23), menyatakan bahwa kata kerja transitif maupun intransitif, keduanya mempunyai fungsi sebagai pembentuk kalimat perintah. Kedua ahli tersebut menunjukkan bahwa subjek perintah tuturan dalam memberikan penegasan atau penekanan pada maksud perintah tertentu.

(2) Imperatif pasif

Implikatur pasif lazimnya digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Berdasarkan ciri struktural, tuturan tersebut ditandai dengan penggunaan awalan di-, ter-, atau ter-kan. Imperatif pasif mengandung konotasi makna bahwa orang ketigalah yang diminta melakukan sesuatu, bukan orang kedua (kata ganti orang disusul oleh verba yang kehilangan awalan).

Sedangkan wujud imperatif pragmatik mempunyai tujuh belas macam makna pragmatik imperatif dalam Bahasa Indonesia. Berikut tujuh belas wujud makna pragmatik imperatif (Rahardi 2008:93-117).

(1) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif perintah, Kalimat imperatif perintah terdapat makna yang tidak dapat diwujudkan dengan suatu penanda bahasa. Hal tersebut dibuktikan dengan teknik parafrasa atau ubah wujud. Imperatif perintah memiliki ciri-ciri seperti berintonasi tinggi, diungkapkan dengan bentuk kontruksi nonimperatif yang dituturkan secara tidak langsung atau menggunakan kata kerja dasar, serta partikel –lah.

Makna pragmatik dapat dipahami melalui konteks yang melatarbelakanginya.

(2) Tuturan yang mengandung makna pragmatic imperatif suruhan, Kalimat imperatif secara struktural, makna suruhan ditandai dengan pemkaian kesantunan coba, dalam sebuah kalimat. Tuturan imperatif dapat di parafrasa atau diubah wujud untuk mengetahui secara jelas, jika tuturan mengandungmakna imperatif suruhan.

Namun, makna pragmatik imperatif tidak selalu diungkapkan dengan imperatif yang berarti tuturan disampaikan penutur diikuti dengan bentuk pernyataan. Wujud tuturan yang bermakna suruhan juga dapat diungkapkan berupa kalimat deklaratif maupun kalimat interogatif (tanya).

(3) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan,

Kalimat imperatif permintaan lazimnya ditandai dengan kesantunan tolong atau minta. Tuturan lainnya yang mengandung makna pragmatik imperatif meminta dapat ditandai dengan kesantunanyang lebuh halus seperti mohon.

(4) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permohonan,

Kalimat imperatif permohonan, secara struktural ditandi dengan penandaan kesantunan seperti mohon. Makna permohonan lazimnya terdapat partikel -lah yang merupakan penanda kesantunan untuk memperhalus tuturan imperatif permohonan.

Namun, imperatif permohonan biasanya digunakan untuk menunjukkan permohonan kepada orang yang lebih tua atau kedudukannya yang tinggi, teman sebaya, atau penggunaan kalimat yang sopan dan halus untuk bertutur. Wujud imperatif tersebut tidak selalu diungkapkan dalam bentuk kontribusi imperatif.

(5) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif desakan, Tuturan imperatif desakan lazimnya menekankan intonasi dalam tuturannya. Intonasi tutuan imperatif desakan cenderung lebih keras dari pada tuturan imperatiflainnya. Hal tersebut ditandai dengan penggunaan kata ayo atau mari. Adapun penanda lainnya yang digunakan seperti harus atau harap.

(6) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif bujukan, Makna imperatif bujukan berbeda dengan lainnya, makna ini diwujudkan dengan tuturan yang berbentuk deklaratif dan interogatif. Penanda imperatif bujukan seperti ayo dan mari. Adapun, penanda yanglainnya seperti kata tolong.

(7) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif imbauan, Makna imperatif imbauan diwujudkan dalam bentuk tuturan nonimperatif. Makna tuturan imperatif imbauan salah satu kalimat mengandung intonasi ajakan untuk melakukan sesuatu, dalam bentuk perintah maupun larangan dan bersifat menasehati. Tuturan imperatif imbauan lazimnya digunakan bersama partikel –lah.

Selain itu sering digunakan untuk ungkapan, penanda kesantunannya seperti harap dan mohon. Menurut Hasan dan Dendy (2002:92) kontruksi pasif menggunakan partikel –lah, maksudnya

lebih memperlunak atau memperhalus tuturan kalimat perintah yang diungkapkan.

(8) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif persilaan, Makna imperatif persilaan cenderang digunakan untuk acara formal yang bersifat protokoler. Makna tersebut lazimnya ditandai dengan kesantunan silahkan. Kata lain yang sering digunakan dalam bentuk pasif seperti dipersilahkan, yang menyatakan maksud pragmatik imperatif persilaan. Dalam kehidupan sehari-hari ditemukan makna persilaan namun dalam bentuk nonimperatif.

(9) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif ajakan, Tuturan yang mengandung makna imperatif ini memiliki unsur penanda kesantunan yang ditandai kata mari atau ayo.

Ungkapan imperatif ajakan tidak selalu diwujudkan dengan tuturan dalam bentuk imperatif. Maka, setiap tuturan yang disampaikan penutur biasanya secara tidak langsung tanpa adanya penanda (nonimperatif).

(10) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif permintaan izin

Secara pragmatik, makna imperatif permintaan izin lazimnya menggunakan penanda kesantunan yang ditandai kata mari dan boleh. Makna tersebut tidak semua menggunakan makna imperatif, dalam segi tuturan dapat diwujudkan dalam bentuk tuturan nonimperatif.

(11) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif mengizinkan,

Imperatif mengizinkan ditandai dengan kesantunan silahkan.

Selain itu ditandai dengan makna imperatif mengizinkan dapat ditemukan dalam komunikasi sehari-hari, diwujudkan dengan tuturan nonimperatif atau disampaikan secara tidak langsung tanpa adanya penanda imperatif.

(12) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif larangan, Secara struktural, penggunaan makna imperatif larangan mempunyai wujud yang macam-macam serta pengungkapannya tidak selau berwujud tuturan imperatif. Bentuk pengungkapan makna larangan lazimnya diwujudkan secara pragmatik yang ditandai dengan kesantunan seperti kata jangan.

(13) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif harapan, Tuturan makna pragmatik imperatif harapan memiliki penanda kesantunan yang ditandai dengan kata harap dan semoga.

Kedua penanda tersebut sama-sama mengandung makna harapan didalamnya. Adapun kalimat intransitif harapan yang dituturkan dalam bentuk nonimperatif atau ujaran secara tidak langsung. Dalam Prihatini (2015:71), penanda tambahan yang diungkapkan dalam harapan yaitu hendaknya.

(14) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif umpatan, Dalam pemakaian bahasa Indonesia makna umpatan sering kali ditemukan pada saat berkomunikasi sehari-hari dan digunakan banyak orang. Namun, implikatur umpatan jarang sekali muncul di lingkungan sekolah. Makna umpatan ini tidak hanya berwujud imperatif melainkan nonimperatif. Tuturan yang disampaikan tidak ada penanda, namun tuturan tersebut merupakan bagian dari pragmatik imperatif.

(15) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif pemberian ucapan selamat,

Tuturan yang mengandung imperatif pemberian ucapan selamat menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia, dalam peristiwa tertentu. Pemakaian tuturan ini cukup banyak ditemukan dikehidupan sehari-hari dan seluruh anggota masyarakat menggunakan bahasa tersebut untuk menyampaikan pesan ucapan salam, ucapan selamat kepada mitra tutur. Sama dengan lainnya, makna tuturan tersebut tidak jauh berbeda dengan makna pragmatik

lainnya untuk menyampaikan ucapan selamat, ucapan salam kepada mitratutur.

(16) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif anjuran, dan

Tuturan yang mengandung imperatif anjuran lazimnya ditandai dengan penggunaan kata hendaknya dan sebaiknya. Makna tersebut dapat dipahami sebagai kalimat menganjurkan atau memerintah melalui sebuah saran maupun pesan untuk orang lain atau mitra tutur.

(17) Tuturan yang mengandung makna pragmatik imperatif “ngelulu”.

Makna imperatif ngelulu merupakan bagian dari bahasa Indonesia. Namun kata “ngelulu” berasal dari bahasa jawa yang mempunyai maknamelarang seseorang untuk melakukan sesuatu hal seperti menyuruh mitra tutur melakukan sesuatu. Hal tersebut dapat dipahami dengan adanya penanda kesantunan jangan. Selain itu, ungkapan “ngelulu” berbeda dengan makna lainnya, yang tidak diikuti penanda lainnya. Namun menggunakan bentuk tuturan imperatif.

2.2.4 Konteks dalam pragmatik

Menurut Rahardi (2006), konteks merupakan latar belakang pengetahuan yang diasumsikan sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tuturuntu mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang disampaikan oleh penutur dalam proses bertentu. Hal tersebut memiliki maksud latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh kedua pihak pelaku komunikasi, baik komunikatir dan komunikan dengan tingat pengetahuan yang sama agar proses komunikasi berjalan dengan lancar, jelas dan tidak ada kesalah pahaman penafsiran suatu tuturan.

Preston (Supardo, 2000:46), menjelaskan bahwa konteks merupakan seluruh informasi yang berada disekitar pemakaian bahasa yang ada disekitar.

Preston juga menyebutkan jenis-jenis konteks dan cara kerjanya. Konteks tersebut dibagi menjadi dua jenis, konteks bahasa dan konteks non bahasa.

Dokumen terkait