BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Upaya peningkatan kemampuan komunikasi asertif siswa melalui layanan bimbingan pribadi-sosial dengan menggunakan metode sosiodrama telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah direncanakan. Penelitian tindakan yang terdiri dari 2 siklus perbaikan menghasilkan beragam data mengenai kondisi nyata siswa kelas VIIB SMP N 1 Tretep, Temanggung tahun ajaran 2013/2014. Beragam data tersebut telah terangkum pada hasil penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya. Data tersebut dijadikan sebagai tolok ukur mengenai keberhasilan dalam penelitian tindakan ini. Data yang disampaikan melalui berbagai macam teknik pengumpulan data dan menghasilkan data yang variatif pula namun terlihat sejalan.
Sejatinya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi asertif siswa melalui bimbingan pribadi-sosial tidaklah mudah. Layanan bimbingan melalui metode konvensional membuat siswa mudah bosan sehingga materi tidak dapat ditangkap oleh siswa. Hal tersebut terjadi karena berbagai macam faktor diantaranya guru bimbingan dan konseling kurang kreatif dalam menerapkan variasi metode, kondisi fisik dan psikis siswa yang lelah, serta kurangnya interaksi dan peran serta siswa dalam penyampaian materi bimbingan. Penelitian dengan metode sosiodrama ditujukan agar siswa mampu berperan serta dalam kegiatan layanan.
Kegiatan pra penelitian yang diisi dengan perkenalan dapat memberikan gambaran kepada peneliti mengenai kemampuan komunikasi asertif siswa. Dalam sesi perkenalan tersebut banyak siswa yang enggan
untuk memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, beberapa siswa mengejek nama teman dengan memberikan julukan, siswa tidak menanggapi ejekan teman yang membuatnya terganggu, siswa tidak mau bertanya kepada teman saat sesi pertanyaan, Ketika tidak memahami intruksi mereka enggan bertanya kepada pembimbing melainkan mereka menanyakannya dengan teman sebangku. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil data pada skor item. Dalam data tersebut diperoleh beberapa item yang rendah yaitu item 7,16 dan 28. Ketiga item tersebut mengarah pada rendahnya kemampuan siswa dalam menegur/memprotes teman yang menimbulkan masalah bagi diri siswa, menyampaikan kritik kepada teman tanpa merasa tidak enak.
Keadaan yang berbanding terbalik justru terlihat pada pelaksanaan perbaikan siklus I dan II dmana metode sosiodrama di aplikasikan. Data kuantitatif dan data kualitatif keduanya menunjukkan adanya perbedaan dibandingkan dengan pra penelitiannya. Topik sosiodrama pada tahap perbaikan dibuat berdasarkan item terendah yang diperoleh dari hasil angket yang di isi oleh siswa. Setelah dilaksanakan tahap perbaikan siswa dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan tidak menyakiti orang lain dengan memperhatikan bahasa yang dipakai dalam berkomunikasi. Siswa juga aktif dalam menjawab pertanyaan pembimbing maupun teman sekelasnya. Ketika mereka tidak jelas dengan intruksi yang diberikan pembimbing mereka tidak segan untuk menanyakannya. Disamping itu peneliti juga merasakan kepuasan pribadi melihat kondisi siswa yang terlihat banyak berkomunikasi dengan teman dan pembimbing serta menyatakan
pendapatnya dalam kelompok. Siswa merasakan adanya manfaat dari bimbingan klasikal sehingga kompetensi yang ingin dicapai melalui bimbingan pribadi-sosial dapat dicapai. Nilai-nilai yang diharapkan tertanam dalam diri siswa semakin kuat melalui metode sosiodrama.
Memiliki kemampuan komunikasi asertif tinggi akanmembantu siswa untuk semakin mengenal dirinya sendiri. Oleh karena itu siswa yang asertif akan bertindak lebih kongkret pada apa yang dirasakan dan dengan demikian orang yang asertif memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan diri dengan cara-cara baru dan menggairahkan (Adams &Lenz 1995 : 29-30)
Siswa yang memiliki kemampuan komunikasi asertif tinggi akan hidup dalam kekinian sehingga ia dapat memenuhi kebutuhannya sekarang. Bertambahnya harga diri juga akan dirasakan bagi siswa yang memiliki kemampuan komunikasi asertif sebab ia mampu mengungkapkan perasaan dan ide-ide dengan jujur kepada orang lain (Adams & Lenz 1995: 30). Hal senada juga dikatakan oleh Ros Jay (2005:96) bahwa kemampuan komunikasi asertif yang tinggi akan memperoleh penghargaan dari orang lain atas ide-ide yang dikemukakan.
Ketika siswa memiliki kemampuan komunikasi asertif ia dapat membuat teman/orang lain juga semakin terbuka untuk mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya. Siswa yang asertif bersedia untuk terbuka dengan teman/orang lain sehingga membuka jalan bagi orang lain juga untuk terbuka (Adams & Lenz 1995: 33). Hal ini juga dikatakan oleh Ros Jay
(2005:96) bahwa orang lain akan mampu mengekspresikan pandangan, harapan dan perasaan mereka terhadap orang yang asertif.
Dengan adanya komunikasi asertif didalam suatu hubungan maka hal tersebut dapat mencegah terjadinya keretakan hubungan. Siswa yang asertif akan mampu untuk mengungkapkan kebutuhannya dan mampu memahami kebutuhan orang lain (Adams & Lenz 1995: 33). Hal ini juga dikatakan oleh Ros Jay (2005:96) bahwa orang yang asertif sangat menghargai orang lain yang membuat dirinya juga dihargai oleh orang lain sehinga membuat hubungan menjadi semakin baik.
Metode sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Brown (2005) yang menyatakan bahwa Sosiodrama adalah metode belajar yang menciptakan pemahaman yang mendalam mengenai sistem sosial yang membentuk kita secara individu dan kolektif.
Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi asertif telah dibahas pada bab sebelumnya. Pada penelitian ini ditemukan bahwa pola asuh orangtua sangat berpengaruh pada kemampuan komunikasi asertif anak. Kualitas perilaku asertif individu sangat dipengaruhi oleh interaksi individu tersebut dengan orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Hal tersebut akan menentukan pola respon individu dalam merespon masalah. Anak yang di didik dengan polah asuh demokratis akan mempuyai kepercayaan diri yang besar, dapat mengkomunikasikan segala keinginannya secara wajar, dan tidak
memaksakan kehendak (Santosa, 1999). Hal ini dibenarkan juga oleh hasil penelitian tentang asertivitas yang dilakukan oleh setiono dan Pramadi (dalam Nafisah, 2010) yang memeliti tentang pelatihan asertif dan peningkatan perilaku asertif pada siswa-siwi SMP. Penelitian tersebut memperoleh hasil bahwa individu yang mengalami peningkatan skor asertivitas yang pesat adalah individu yang dididik dengan polah asuh yang demokratis
Penggunaan metode sosiodrama memiliki beberapa keunggulan diantaranya: Menumbuhkan rasa empati dan memperkaya siswa dalam berbagai pengalaman situasi sosialisasi yang bersifat problematik. Memperkaya pengetahuan dan pengalaman semua siswa mengenai cara menghafal dan memecahkan sesuatu masalah. Dengan bermain peran siswa memperoleh kesempatan untuk belajar mengekspresikan penghayatan mereka mengenai suatu problema sosial. Memupuk keberanian siswa untuk tampil didepan umum tanpa kehilangan keseimbangan pribadi.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menyumbangkan gagasan pada kemajuan bimbingan dan konseling khususnya pada bimbingan pribadi-sosial. Dengan penggunaan metode sosiodrama dalam meningkatkan kemampuan komunikasi asertif siswa akan membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang berkenaan dengan aspek pribadi maupun sosial dan diharapkan siswa mampu berkembang secara utuh.