• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Pra Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling

a. Perencanaan

Tahap perencanaan dalam pra penelitian ini berfungsi untuk mempermudah peneliti untuk melakukan tindakan bimbingan pada siklus I. Tahap ini berisi rancangan kegiatan yang akan dilakukan peneliti saat pelaksanaan pra penelitian. Perencanaan pra penelitian tindakan bimbingan berisi kegiatan yang akan dilaksanakan pada saat pengambilan data awal penelitian. Data awal yang diperoleh melalui pra penelitian ini dijadikan sebagai tolok ukur ketercapaian kriteria peningkatan kemampuan komunikasi asertif dengan menggunakan metode sosiodrama.

b. Pelaksanaan pra penelitian

Tahap pelaksanaan pra penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: rekaman fakta, kuesioner asertif, dan hasil pengamatan.

1) Hasil rekaman fakta a) Pembukaan

Peneliti membuka pelaksanaan pra tindakan dengan memberikan salam pembuka dilanjutkan dengan pemberian

ice breaker untuk mencairkan suasana kelas menjadi lebih santai.

b) Inti

Kegiatan inti dalam tahap ini adalah sesi perkenalan. Peneliti menggunakan sesi perkenalan untuk mengenal lebih jauh setiap siswa. Dalam sesi ini peneliti juga mendapat gambaran tentang kemampuan komunikasi asertif siswa. Peneliti juga tidak lupa menyampaikan alasan peneliti melakukan penelitian.

c) Penutup

Setelah sesi perkenalan, dilanjutkan dengan pengisian angket yang telah dibagikan oleh peneliti. Peneliti menjelaskan intruksi yang harus dilakukan dalam pengisian angket tersebut, siswa diharapkan mampu mengisi angket sesuai dengan keadaannya saat ini dan tidak dianjurkan untuk bertanya kepada teman sebelah, melainkan dianjurkan untuk langsung bertanya kepada peneliti mengenai hal yang kurang jelas. Diakhir pertemuan peneliti mengucapkan salam serta ucapan terimakasih

karena telah membantu peneliti dalam melaksanakan penelitian.

2) Hasil skala komunikasi asertif

Skala komunikasi asertif disusun berdasarkan teori yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya. Dari hasil skala komunikasi asertif pada pra penelitian diperoleh data skor item dan data skor subjek.

Tabel 9.

Prosentase Skala Kemampuan Komunikasi Asertif

Indikator

Kategori Sangat

Rendah Rendah Sedang Tinggi

Sangat Tinggi Skor Item 2% 13% 36% 20% 4% Skor Subyek - - 55% 45% -

Data skor item bertujuan untuk menunjukkan item yang memiliki nilai kurang sehingga menjadi titik fokus perbaikan. Rekapitulasi hasil skor item dapat dilihat pada grafik berikut ini:

Grafik 1.

Skor Item Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Pra Tindakan

Berdasarkan kategori diperoleh data 2% item menunjukkan kategori sangat rendah, 13% item menunjukkan kategori rendah dan 36% item menunjukkan kategori sedang yang berarti item-item tersebut menjadi fokus perbaikan. 20% item berada pada kategori tinggidan 4% item berada dalam kategori sangat tinggi yang berarti item tersebut tidak perlu untuk diperbaiki. Tabel data skor dan kategori skor item selengkapnya terdapat pada lampiran.

Data skor subyek merupakan data yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan komunikasi asertif siswa. Rekapitulasi hasil skor subyek dapat dilihat pada grafik berikut ini:

2% 13% 36% 20% 4% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% 40% sangat rendah

rendah sedang tinggi sangat tinggi

kategori

Grafik 2.

Tingkat Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi Pada Pra Tindakan

Pada skor subyek diperoleh 55% siswa memiliki kemampuan komunikasi asertif sedang dan 45% siswa memiliki kemampuan komunikasi asertif tinggi. Tabel skor subjek dan tabel kategori skor subyek selengkapnya terdapat dalam lampiran.

3) Hasil pengamatan dan hasil wawancara a) Hasil pengamatan

Hasil pengamatan dalam pra penelitian menunjukkan bahwa 2 dari 33 siswa berani untuk memulai pembicaraan pada saat mengikuti kegiatan perkenalan. Selain itu sebagian besar siswa tidak memperhatikan intruksi yang diberikan oleh pembimbing sehingga mereka kebingungan dalam mengerjakan intruksi yang diberikan oleh pembimbing.

55% 45% 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 sangat rendah

rendah sedang tinggi sangat tinggi

kategori

Beberapa siswa menunjukkan perilaku bullying dengan mengejek nama temannya menggunakan nama samaran, sedangkan siswa yang diejek tidak memiliki keberanian untuk menegur teman yang sudah membuatnya terganggu.

b) Hasil wawancara

Wawancara dilakukan dengan menggunakan wawancara terstruktur. Wawancara pada pra penelitian ini dilakukan kepada dua siswa kelas VIIB. Dasar pemilihan siswa didasarkan atas hasil refleksi siswa (hasil belajar) dan skor subyek serta skor item. Hasil wawancara dalam pra penelitian digunakan untuk memperkuat data pengamatan, skala asertif dan studi dokumen yang telah didapatkan oleh peneliti.

Hasil wawancara dengan siswa diperoleh data bahwa siswa senang dengan diadakannya kegiatan layanan bimbingan. Menurut mereka materi yang disampaikan pada saat bimbingan sesuai dengan kebutuhan mereka. Tidak adanya materi yang dijadikan ulangan harian membuat mereka lebih antusias mengikuti kegiatan layanan bimbingan. Terlebih dengan adanya ice breaker mereka dapat memanfaatkannya sebagai kegiatan yang dapat

membuat mereka lebih semangat dalam menghadapi pelajaran di jam berikutnya. Kelemahan kegiatan bimbingan adalah materi yang diberikan tidak dipakai dalam ulangan sehingga siswa tidak begitu memperhatikan isi materi. Ketika siswa tidak menerima manfaat dari kegiatan bimbingan maka tujuan bimbingan tidak tercapai.

4) Hasil refleksi dan evaluasi

Pra tindakan bimbingan dan konseling dalam upaya peningkatan kemampuan komunikasi asertif siswa telah dilakukan dengan baik. Refleksi dilakukan oleh peneliti, mitra kolaboratif serta pengamat lain berdasarkan data yang diperoleh pada saat kegiatan layanan berlangsung. Strategi peneliti untuk memanajemen kelas sudah baik. Dengan kegiatan yang melibatkan semua siswa dikelas membuat mereka tidak bosan untuk mengikuti kegiatan layanan bimbingan. Penggunaan metode tanya jawab juga sangat membantu peneliti dalam mengukur seberapa tinggi kemampuan komunikasi asertif siswa. Berbeda dengan kegiatan bimbingan yang diberikan oleh guru BK sebelumnya. Penggunaan metode ceramah dirasa kurang efektif untuk siswa kelas VIIB. Agar materi tersampaikan maka perlu digunakan metode lain. Peneliti memilih metode sosiodrama karena

metode ini mengajak siswa berperan aktif dalam kegiatan bimbingan. Peneliti berharap ketika siswa ikut berperan aktif dalam kegiatan layanan bimbingan maka materi kegiatan akan lebih mudah ditanggap.

2. Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling Siklus I

Siklus 1 dalam penelitian tindakan bimbingan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi asertif siswa kelas VIIB. Pada siklus 1 ini hal-hal yang diperhatikan oleh peneliti adalah fokus data yang perlu diperbaiki pada pra penelitian. Fokus yang perlu diperbaiki dalam siklus 1 ini adalah siswa berani menegur teman yang merugikannya, siswa dapat mengutarakan kritik kepada orang lain dengan tidak menyinggung perasaan orang lain serta siswa mampu berkata jujur.

a. Perencanaan

Tahap perencanaan yang disiapkan oleh peneliti adalah dengan membuat susunan kegiatan, satuan layanan bimbingan, membuat skenario sosiodrama, lembar evaluasi dan refleksi, skala asertif, dokumentasi serta panduan observasi dan wawancara. Pada siklus 1 peneliti menggunakan topik mengatasi sikap pasif-agresif sebagai topik bimbingan untuk kelas VIIB. Siklus ini dilaksanakan pada tanggal 02 juli 2014 pada pukul 07.30-08.10 WIB. Metode yang digunakan dalam tindakan perbaikan ini adalah dengan sosiodrama (Role play). Bimbingan dilaksanakan di dalam kelas. Data satuan layanan bimbingan selengkapnya terdapat pada lampiran.

b. Pelaksanaan tindakan

Pelaksanaan tindakan bimbingan siklus 1 berjalan sesuai dengan perencanaan. Rancangan kegiatan pada siklus 1didasarkan atas data hasil pra penelitian tindakan. Pelaksanaan tindakan perbaikan 1 ini peneliti dibantu oleh dua observer atau pengamat yaitu guru bimbingan dan konseling serta teman mahasiswa. Berikut data hasil pelaksanaan tindakan bimbingan dan pengamatan.

1) Rekaman fakta

a) Pembukaan

Setelah bel jam pelajaran dimulai peneliti bergegas untuk masuk kelas VII B, peneliti menemukan ada beberapa siswa belum masuk kelas. Sambil menunggu semua siswa hadir peneliti berbasa-basi dengan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai mata pelajaran favorit.

Setelah semua hadir, peneliti membuka kegiatan bimbingan dengan mengucapkan salam dan menanyakan kabar. Peneliti juga menjelaskan tujuan dari pemberian bimbingan dan juga mengenai metode sosiodrama. Beberapa siswa terlihat penasaran untuk mengikuti kegiatan sehingga suasana kelas tampak ribut.

Peneliti memberikan ice breaking yang bertujuan agar suasana kelas lebih santai dan siswa akan lebih nyaman dalam menerima materi bimbingan. Ice breaking

yang digunakan adalah “mengatasi gangguan”, siswa dibagi atas 4 kelompok dan diberi tugas untuk membuat menara dari korek api. Setiap kelompok menunjuk satu siswa untuk menjadi pengganggu untuk kelompok lain. Intruksinya adalah ketika peneliti menepuk tangan sekali pengganggu melaksanakan tugasnya, dan ketika menepuk dua kali pengganggu berhenti mengganggu. Setelah ice breaker

selesai siswa terihat menjadi lebih semangat.

Peneliti menjelaskan materi secara singkat mengenai perilaku pasif agresif. Pada saat pemberian materi, peneliti menggunakan metode tanya-jawab kepada siswa mengenai contoh perilaku pasif-agresif dan cara mengatasinya menurut pandangan siswa. Setelah mendapatkan jawabannya barulah peneliti memberikan peneguhan atas jawaban siswa yang tepat dan memberikan umpan balik atas jawaban siswa yang kurang tepat serta memberikan penjelasan mengenai materi menurut pandangan ahli.

b) Inti

Setelah pemberian materi siswa diberikan skenario drama yang akan diperankan oleh beberapa siswa yang akan ditunjuk oleh peneliti. Siswa yang ditunjuk adalah siswa yang memiliki kemampuan komunikasi asertif yang

kurang, data siswa yang memiliki kemampuan komunikasi asertif rendah tersebut diperoleh dari hasil pra tindakan kelas. 4 siswa ditunjuk untuk memerankan tokoh yang ada pada skenario, dan yang lain bertugas untuk mengamati dan memberikan umpan balik dari isi atau materi sosiodrama yang diperankan.

Peneliti bertugas sebagai sutradara yang mengatur jalannya drama. Peneliti harus menghentikan jalannya drama ketika ada adegan yang harus dievaluasi yang menunjukkan adegan tersebut mencerminkan komponen perilaku asertif atau tidak. Evaluasi dilakukan oleh siswa yang bertugas untuk mengamati, beberapa siswa berusaha untuk mengungkapkan pendapat dan pandangannya mengenai adegan yang dievaluasi, tetapi beberapa siswa terlihat masih malu untuk mengungkapkan gagasannya.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh siswa, sebagian besar mereka memberikan pandangan yang tepat. Mereka dapat membedakan antara perilaku asertif dan perilaku non-asertif dalam adegan tersebut. Setelah sesi evaluasi selesai peneliti memberikan peneguhan atas materi atau isi sosiodrama. Peneliti juga menanyakan kepada siswa mengenai manfaat kejujuran dan berani menegur teman apabila tindakannya merugikan diri sendiri yang merupakan

komponen dari perilaku asertif dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa siswa mengangkat tangannya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti.Peneliti juga memberikan kesempatan kepada siswa yang pasif dengan menunjuk mereka agar mereka dapat mengungkapkan pendapatnya. Meskipun masih terlihat malu, tetapi mereka mampu memberikan pendapatnya.

c) Penutup

Peneliti kembali menjelaskan secara singkat mengenai manfaat yang didapat ketika kita mampu bersikap asertif terlebih berani menegur teman apabila tindakannya merugikan. Peneliti dibantu oleh teman pengamat membagikan secarik kertas kepada seluruh siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuliskan kembali manfaat dari bersikap jujur serta mampu menegur teman ketika tindakannya merugikan. Peneliti menunjuk 2 siswa untuk membacakan hasil pekerjaannya didepan kelas. Pemberian umpan balik dan peneguhan juga diberikan peneliti saat 2 siswa tersebut selesai memberikan jawabannya.

Peneliti dibantu dengan teman pengamat membagikan angket komunikasi asertif dan membacakan intruksi sebelum siswa mengisinya. Suasana kelas tampak

2) Skala k data po item p penelit pening siswa. item be tinggi tersebu baik. Skor Item Berdasark 0 20 40 60 80 SR 2 fr e k u e n si

sunyi karena siswa terlihat bersungguh-mengisi angket yang diberikan. Setelah sem mengisi angket, peneliti menutup kegia dengan salam dan ucapan terimakasih kepad la komunikasi asertif

Skala komunikasi asertif pada siklus 1 in pokok yaitu data skor item dan data skor sub

pada siklus ini dijadikan perbandingan sk litian. Hal tersebut dilakukan guna meng ngkatan atau menurunan kemampuan kom a. Data skor item pada siklus 1 menunjukkan berada pada kategori sedang, 73,5% item berad gi dan 5,9% berada dalam kategori sangat but telah menunjukkan peningkatan skor ite

Grafik 3.

m Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Ke arkan Kategorisasi Pada Pra Penelitian dan

SR R S T ST 13 36 20 4 0 0 21 74 6 kategori -sungguh dalam emua siswa selesai giatan bimbingan

ada para siswa.

ini memiliki dua subyek. Data skor skor dengan pra engetahui adanya omunikasi asertif kan bahwa 20,6% rada pada kategori at tinggi. Angka item yang cukup

Kelas VIIB n Siklus 1

pra penelitian siklus 1

Data sk item aserti 25, 32 dan item lainn instrument Skor Masing K Ha kategorisas kategori sa yang berad 10% berad 0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 3 5 sk o r it e m

skor item pada pra penelitian - siklus I menun rtif mengalami penurunan skor, yaitu pada ite dan 33. 1 item nomor 3 tidak mengalami peru

nya mengalami kenaikan skor pada siklus I ent dapat dilihat pada grafik berikut:

Grafik 4.

ing-Masing Item Kemampuan Komunikasi A Kelas VIIB Pada Pra Tindakan dan Siklus 1

Hasil data skor subyek dapat dilihat melalui ka isasi diperoleh data bahwa tidak ada siswa ya i sangat rendah dan rendah. Pada kelas VIIB rada pada kategori sedang, 65% ada pada kate rada pada kategori sangat tinggi.

5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 siswa unjukkan bahwa 5 item nomor 9, 15, erubahan skor. 28 s I. Analisis butir i Asertif Siswa s 1 kategorisasi. Dari yang berada pada IB ada 25% siswa ategori tinggi dan

pra penelitian siklus 1

Tingka Berdasa Da menunjukk mengalam subyek dap Tingkat K 0 10 20 30 40 50 60 70 fr e k u e n si 20 40 60 80 100 120 sk o r su b y e k Grafik 5.

gkat Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa sarkan Kategorisasi Pada Pra Penelitian Den

Data skor subyek pada pra penelitian de ukkan bahwa 3 siswa mengalami penurunan sk

mi peningkatan kemampuan komunikasi a dapat dilihat pada grafik berikut:

Grafik 6.

at Kemampuan Komunikasi Asertif Masing-Kelas VIIB Pada Pra Penelitian Dengan Si 0 10 20 30 40 50 60 70 SR R S T ST 0 6 55 35 0 0 0 25 65 10 kategori 0 20 40 60 80 100 120 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 siswa a Kelas VIIB Dengan Siklus 1 dengan siklus I skor dan 17 siswa asertif. Analisis -Masing Siswa Siklus 1 pra penelitian siklus 1 pra penelitian siklus 1

3) Hasil pengamatan dan hasil wawancara a) Hasil pengamatan

Hasil pengamatan pada siklus 1 menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan yang cukup dalam mendengarkan intruksi pembimbing. Terdapat pula 18 dari 33 siswa yang bertanya mengenai hal-hal yang kurang jelas, baik itu mengenai materi bimbingan maupun berkenaan dengan sosiodrama. Kegiatan sosiodrama berjalan dengan baik. Siswa dapat memperagakan tokoh yang terdapat pada skenario dengan bimbingan pembimbing. Siswa juga mampu mengevaluasi materi sosiodrama walaupun hanya beberapa siswa yang mampu mengungkapkan pendapat dan gagasannya. Beberapa siswa memiliki kemampuan yang rendah dalam menegur teman yang mengganggunya. Beberapa kemampuan siswa tersebut yang menjadi fokus dalam tahap perbaikan selanjutnya.

b) Hasil wawancara

Wawancara dalam siklus 1 dilakukan kepada siswa. Peneliti melakukan wawancara terstruktur kepada 2 siswa, hasil data wawancara menunjukkan bahwa: siswa merasakan manfaat dari layanan bimbingan pribadi-sosial, materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, serta penggunaan sosiodrama sangat efektif karena siswa dapat memperagakan dan langsung

mengevaluasi, tetapi satu diantara siswa tersebut mengakui bahwa ia tidak dapat fokus pada kegiatan bimbingan

Dari hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa metode sosiodrama dapat meningkatkan kemampuan komunikasi asertif siswa. Siswa lebih mudah memahami materi ketika materi dapat dipraktekkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari melauimetode sosiodrama.

c. Hasil refleksi siklus 1 dan evaluasi

Berdasarkan hasil refleksi siklus 1 ini peneliti merasa bahwa kemampuan komunikasi asertif siswa kelas VIIB dalam mengikuti layanan bimbingan pribadi sosial meningkat. Peneliti merasakan bahwa sebagian besar siswa mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya. Peneliti merasakan adanya kekurangan seperti kurang tegas dalam memberikan perintah serta masih gugup dalam menghadapi siswa. Peneliti harusmemperhatikan manajemen waktu untuk tiap-tiap sesi kegiatan agar semua rancangan kegiatan dapat berjalan dengan baik.

Hasil evaluasi yang dilakukan bersama dengan pengamat menunjukkan adanya perbaikan dalam pemberian bimbingan sehingga secara langsung materi bimbingan dapat tersampaikan dengan baik dan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi asertif. Menurut pengamat siswa merasa antusias dan bersemangat dengan metode yang digunakan dalam pemberian layanan.

d. Keputusan

Tahap terakhir dalam siklus 1 ini adalah memberikan keputusan. Keputusan yang diberikan oleh peneliti berdasarkan hasil data penelitian siklus 1. Adanya peningkatan kemampuan komunikasi asertif siswa dalam mengikuti layanan bimbingan pribadi-sosial menggunakan metode sosiodrama. Hal ini membuat peneliti ingin memastikan bahwa metode tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan asertif siswa. Peneliti memutuskan untuk melakukan perbaikan pada siklus II. Kenaikan skor item dan skor subyek tampak jelas dalam pembahasan sebelumnya. Tetapi dalam tahap perbaikan II ini ada beberapa hal yang harusdiperbaiki, yaitu: kemampuan untuk mengekspresikan rasa marah kepada teman yang mengganggunya, keberanian untuk berkata jujur saat siswa merasa takut, serta keberanian untuk menyampaikan pendapat atau gagasan tanpa menyakiti orang lain.

3. Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling Siklus II

a. Perencanaan

Tahap perencanaan yang disiapkan oleh peneliti adalah dengan membuat susunan kegiatan, satuan layanan bimbingan, membuat skenario sosiodrama, lembar evaluasi dan refleksi, skala komunikasi asertif, dokumentasi serta panduan observasi dan wawancara. Pada siklus II peneliti menggunakan topik Komunikasi asertif sebagai topik

bimbingan untuk kelas VIIB. Tahap ini dilakukan pada tanggal 09 Juli 2014 pada pukul 07.30-08.10 WIB. Metode yang digunakan dalam tindakan perbaikan ini adalah dengan metode sosiodrama. Bimbingan dilaksanakan didalam ruang kelas VIIB. Data satuan layanan bimbingan pribadi-sosial selengkapnya terdapat pada lampiran.

b. Pelaksanaan tindakan

Peneliti melaksanakan kegiatan bimbingan sesuai dengan skenario dalam SPB. Hasil perbaikan pada siklus kedua adalah sebagai berikut: 1) Rekaman fakta

a) Pembukaan

Seperti pada siklus sebelumnya, peneliti mengawali kegiatan layanan bimbingan dengan ice breaking “Kili-Kili”. Setelah melakukan ice breaking peneliti menyampaikan materi yang akan diberikan dan menjelaskan tujuannya. Peneliti menggunakan topik Komunikasi yang efektif pada siklus II. Peneliti selanjutnya mengajukan pertanyaan untuk membangun ingatan (recall) siswa berkenaan dengan seputar komunikasi. b) Inti

Seperti pada pertemuan sebelumnya, peneliti membagi kelompok menjadi dua. Kelompok pengamat dan kelompok yang memperagakan sosiodrama yang telah disiapkan oleh peneliti. Dalam sesi evaluasi adegan peneliti lebih

memperhatikan siswa yang kemampuan komunikasi asertifnya masih kurang yang diperoleh dari data siklus sebelumnya.

Peneliti mengajak siswa untuk merefleksikan kegiatan dan materi sosiodrama yang telah diperagakan dengan mengambil manfaat dari materi sosiodrama tersebut. Disinilah peneliti menggunakan strategi tanya jawab untuk melihat sejauh mana siswa mampu mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara efektif.

c) Penutup

Setelah memberikan penegasan dan penguatan atas jawaban siswa berkenaan dengan refleksi, peneliti membagikan angket untuk kembali diisi oleh siswa. Suasana kelas tampak berbeda dengan saat mereka diberi kesempatan untuk merefleksikan kegiatan dan materi sosiodrama. Kelas terlihat tenang karena masing-masing siswa terlihat sibuk untuk mengisi angket asertif. Setelah semuanya selesai mengisi angket, peneliti mengucapkan terimakasih dan menutup kegiatan dengan salam penutup.

2) Hasil angket asertif

Data angket menunjukkan dua hal utama yang menjadi sorot perhatian dalam penelitian ini yaitu skor item dan skor subyek. Skor item menunjukkan bahwa 64,7% item berada pada kategori tinggi dan 35,3% item berada pada kategori sangat tinggi.

Berdas item pa siklus diband Skor Ite Da dan 34 tida lainnya m instrument 0 10 20 30 40 50 60 70 80 fr e k u e n si

asarkan rekapitulasi data skor item menunjuk pada siklus II lebih baik dibandingkan dengan

s I. Secara detailpun item-item pada siklu ndingkan dengan upaya perbaikan siklus I.

Grafik 7.

Item Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Berdasarkan Kategorisasi Pada Siklus

Data skor item asertif menunjukkan bahwa item tidak mengalami perubahan skor dari siklus I- s

mengalami peningkatan skor pada siklus II. ent dapat dilihat pada grafik berikut:

SR R S T ST 2 13 36 20 4 0 0 21 74 6 0 0 0 65 35 kategori

ukkan bahwa skor an skor item pada lus II meningkat

swa Kelas VIIB us II

em nomor 2, 3, 23 siklus II. 30 item II. Analisis butir

pra penelitian siklus 1 siklus 2

Skor Masing Pa asertif sisw komunikas komunikas Tingk 0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 3 sk o r it e m 0 10 20 30 40 50 60 70 F re k u e n si Grafik 8.

ing-Masing Item Kemampuan Komunikasi A Kelas VIIB Pada Siklus II

Pada upaya perbaikan siklus II, skor subyek se siswa menunjukkan hasil 65% siswa memili kasi asertif tinggi dan 35% siswa memili kasi asertif sangat tinggi.

Grafik 9.

gkat Kemampuan Komunikasi Asertif Siswa Berdasarkan Kategorisasi Pada Siklu 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 siswa SR R S T ST 0 6 55 35 0 0 0 25 65 10 0 0 0 65 35 Kategori si Asertif Siswa sebagai indikator iliki kemampuan iliki kemampuan wa Kelas VIIB lus II pra penelitian siklus 1 siklus 2 pra penelitian siklus 1 siklus 2

Da siswa men mengikuti sosiodrama Tingkat K 3) Hasil p a) Ha seb bai me tem me sos 0 20 40 60 80 100 120 140 1 sk o r su b y e k

Data skor subyek pada siklus II menunjukkan engalami kenaikan kemampuan komunikas uti layanan bimbingan pribadi-sosial de

ma. Analisis subyek dapat dilihat pada grafik b

Grafik 10.

kat Kemampuan Komunikasi Asertif Masing Kelas VIIB Berdasarkan Kategorisasi Pada

il pengamatan dan wawancara Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada siklus 2 menun sebagian siswa memiliki kemampuan menden baik saat pembimbing atau teman lain berbica menunjukkan ekspresi ketidaknyamanannya d teman yang membuatnya terganggu. Saa menyampaikan pendapatnya pada saat e sosiodrama, siswa tampak tenang dan menden

3 5 7 9 11 13 15 17 19

siswa

kan bahwa semua asi asertif dalam dengan metode k berikut: ing-Masing Siswa da Siklus II nunjukkan bahwa dengarkan dengan icara. Siswa mulai dengan menegur Saat siswa lain evaluasi materi dengarkan dengan

pra penelitian siklus 1 siklus 2

sungguh-sungguh. Bahkan siswa telah mampu menanggapi pendapat dengan memberikan saran maupun kritikan.

b) Hasil Wawancara

Wawancara pada siklus II dilakukan kepada seorang siswa yang memiliki kemampuan asertif kurang berdasarkan hasil perhitungan kuesioner. Wawancara dilakukan dengan

Dokumen terkait