• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

E. Pembahasan

Hasil uji t terhadap nilai gain score antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol menunjukkan hasil yang signifikan (p=0,00). Hasil ini dapat diartikan bahwa senam otak efektif untuk meningkatkan kemampuan ingatan jangka pendek anak akhir.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gerakan motorik berupa gerakan senam otak yang dilakukan teratur dapat merangsang pertumbuhan hubungan antar sel-sel dalam otak yang memiliki peranan penting dalam pembentukan ingatan (Fred Gage, 1999 dalam Jensen, 2008). Selain itu, gerakan-gerakan dalam senam otak mampu mengaktifkan dan menyeimbangkan ketiga dimensi otak sebagai fungsi kognitif manusia dengan meregangkan ketegangan (relaksasi), meningkatkan fokus (atensi), dan memperlancar sistem peredaran darah ke otak (Dennison, 2006). Dalam

penelitian ini, peneliti menggunakan 6 gerakan inti yang dapat mengaktifkan ketiga dimensi otak dan meningkatkan ingatan jangka pendek, yaitu olengan pinggul, pengisi energi, menguap berenergi, luncuran gravitasi, tombol imbang, dan tombol bumi (lihat Lampiran C). Secara khusus, keenam gerakan tersebut mengaktifkan kinerja fungsional otak dengan menghilangkan ketegangan atau stres, meningkatkan kepekaan inderawi, serta memperbaiki dan meningkatkan koordinasi, konsentrasi, dan atensi (Dennison, 2006). Kondisi otak yang terbebas dari ketegangan membantu seseorang menerima informasi baru dengan mudah. Hal ini didukung pula dengan kepekaan inderawi yang menangkap informasi tersebut dari lingkungan. Kondisi relaks tersebut dapat membantu peningkatan konsentrasi dan atensi sehingga berpengaruh pada kemampuan ingatan jangka pendek.

Sebelum melakukan gerakan-gerakan senam otak untuk meningkatkan ingatan tersebut, diperlukan adanya langkah pembukaan sebagai persiapan. Langkah pembukaan yang juga dikenal dengan proses PACE (Positive,

Active, Clear, dan Energetic) ini diharapkan dapat menghantar ke dalam

suatu keadaan yang relaks dan nyaman yang diperlukan untuk belajar mandiri dengan menggunakan keseluruhan otak (Dennison, 2006). Dengan berkurangnya ketegangan, rentang perhatian anak akan mengalami peningkatan. Perhatian yang meningkat dan kondisi tubuh yang nyaman tersebut akan membantu kesiapan individu dalam menerima informasi-informasi baru dari lingkungan. Kondisi ini akan mendukung kemampuan

individu dalam proses penyimpanan informasi baru, khususnya dalam waktu yang terbatas dan terjadi dalam ingatan jangka pendek.

Hasil penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Irwandy (2007). Hasil penelitian sebelumnya menyatakan bahwa latihan senam otak tidak memberikan pengaruh secara nyata terhadap peningkatan kapasitas muatan ingatan jangka pendek pada siswa kelas empat. Penelitian tersebut dilakukan dengan memberikan pelatihan senam otak secara keseluruhan 10 hari pada kelompok eksperimen, tetapi kurang memperhatikan kontinyuitas pelatihan. Kombinasi gerakan yang digunakan adalah gerakan-gerakan yang terkait dengan memori tanpa didahului langkah pembukaan (PACE), meliputi : gerakan burung hantu, gajah, luncuran gravitasi, pasang kuda-kuda, mengaktikan tangan, gerakan silang, pasang telinga, pompa betis, lambaian kaki, tombol bumi, dan titik positif.

Keefektivitasan pelatihan senam otak terhadap ingatan jangka pendek dalam penelitian ini didukung oleh beberapa hal, antara lain : pertama, kepekaan dari instrumen ingatan yang digunakan. Instrumen yang digunakan adalah digit-span yang berupa bilangan-bilangan tanpa makna. Digit-span

yang merupakan rentang memori ini mengacu pada kemampuan individu untuk mereproduksi serangkaian stimulus segera setelah disajikan (Memory Span, 2012). Tugas tersebut sering disebut tes recalling (Hastjarjo, 1994). Hal ini dilakukan untuk mengukur jumlah informasi yang dapat disimpan dalam ingatan jangka pendek (Labounty, 2009), dengan mengesampingkan makna

dan asosiasi terhadap bilangan-bilangan tertentu. Stimulus yang berupa bilangan atau angka tersebut dipilih karena angka dipandang lebih netral dan dapat mengungkap kemampuan ingatan bukan berdasarkan kesamaan makna antar stimulus.

Kedua, instruksi dari peneliti yang jelas dan terstandardisasi ketika memberikan instrumen ingatan sebagai pre-test dan post-test. Instruksi diberikan ketika semua anak terfokus pada peneliti. Selain itu, peneliti memberikan latihan (trial) kepada anak sebelum pelaksanaan pre-test dan memberikan kesempatan bertanya jika instruksi belum jelas. Standardisasi instruksi tersebut dapat dilakukan dengan cara merekam instruksi penelitian dalam bentuk tulisan (lihat Lampiran A). Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada perbedaan pemberian instruksi ataupun instrumen penelitian antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada saat pre-test dan

post-test (Seniati et al., 2005).

Ketiga, durasi dan intensitas pelatihan yang dilakukan secara rutin dan tanpa terputus atau bersifat kontinyu. Pelatihan tersebut berlangsung selama 10 hari berturut-turut dan dilakukan setiap pagi sebelum anak memulai aktivitas belajar di kelas. Waktu 10 hari tersebut merupakan waktu minimal untuk mengevaluasi dampak senam otak (Dennison, 2004 dalam Irwandy, 2007). Peneliti memperbaiki kekurangan penelitian sebelumnya. Pelatihan senam otak yang intensif membuat anak mampu menciptakan suasana yang nyaman, aman, serta merasa siap untuk memulai aktivitas. Kesiapan anak secara kognitif memungkinkan mereka dapat menerima dan menyimpan lebih

banyak informasi baru. Selain itu, jika senam otak dilakukan di kelas selama beberapa menit sebelum pelajaran dimulai, sistem tubuh dan pikiran setiap anak dapat terintegrasi dan siap mengikuti pembelajaran (Dennison, 2006).

Keempat, keterlibatan anak untuk melakukan semua gerakan senam otak yang diinstruksikan. Keterlibatan itu tampak dari sebagian besar anak mengikuti pelatihan secara serius dari awal sampai akhir. Pada pelaksanaan pelatihan senam otak, beberapa anak menunjukkan ekspresi bosan dan kurang bersemangat ketika melakukan gerakan-gerakan tersebut secara berulang-ulang. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan konsistensi instruktur untuk mengembalikan fokus dan semangat anak-anak pada latihan gerakan senam otak. Instruktur mencoba berinteraksi dengan anak-anak sehingga mereka tetap melakukan gerakan senam otak secara serius.

Kelima, pelatihan senam otak ini dibimbing oleh seorang instruktur yang merupakan peneliti sendiri. Hal ini membuat anak tidak harus beradaptasi dengan orang baru yang bisa membawa dampak psikologis tertentu. Dalam hal ini, peneliti berusaha mempertahankan konsistensi dalam memberikan instrumen penelitian dan perlakuan sehingga hasil yang diperoleh merupakan dampak atau pengaruh dari perlakuan, bukan dari instruktur. Selain itu, tempat untuk yang digunakan selama pelatihan adalah tempat yang sama, sehingga tidak membawa dampak psikologis tertentu dan tidak mempengaruhi hasil dari perlakuan.

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa peningkatan kemampuan ingatan jangka pendek adalah akibat pelatihan senam otak. Sekalipun

demikian, proses belajar tampak terjadi pada kelompok kontrol yang menunjukkan perbedaan rerata skor pre-test dan post-test yang signifikan. Perbedaan ini tidak lebih besar daripada perbedaan rerata skor pre-test dan

post-test pada kelompok eksperimen. Sekiranya perbedaan waktu pemberian

pre-test dan post-test dapat menimbulkan perbedaan tingkat stres pada anak,

hal ini ditanggapi dengan tidak adanya perbedaan rerata skor pre-test yang signifikan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Dokumen terkait