BAB II. LANDASAN TEORI
A. Ingatan
3. Sistem Pemrosesan Informasi
Pendekatan terkait pemrosesan informasi menggambarkan bahwa proses mental dapat dipandang seperti operasi komputer dan perkembangan informasi melalui serangkaian tahapan (Matlin, 2009). Pendekatan ini menyebutkan adanya beberapa komponen yang berperan dalam pemrosesan informasi. Komponen-komponen ini memungkinkan stimulasi sensoris diterjemahkan ke dalam representasi konseptual yang akan diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, atau diubah menjadi gerakan motorik (Sternberg, 2008).
Informasi yang berasal dari lingkungan akan diproses menjadi ingatan melalui beberapa tahap, seperti yang digambarkan berikut ini :
Gambar 1.
Bagan Aliran Informasi dan Sistem Memori (Atkinson & Shiffrin, 1971)
Memori jangka panjang Simpanan memori permanen Memori Jangka Pendek Memori yang bekerja secara temporer Proses-proses pengontrolan : pengulangan informasi Strategi-strategi perolehan informasi Input Lingkungan Register cerapan indera Visual Auditoris Haptik Output respons
Bagan aliran informasi dan sistem memori tersebut menunjukkan adanya proses dari aktivitas mental manusia dalam menerima stimulasi dari lingkungan. Input yang berupa stimulasi dari lingkungan atau di luar individu itu melalui tiga tahap pengolahan informasi atau tiga tahap ingatan (register cerapan indera, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang), sebelum muncul sebagai respon. Respon tersebut dapat berupa reaksi terhadap suatu peristiwa inderawi ataupun berupa respon terhadap tugas. Secara ringkas, proses tersebut juga dapat dilihat pada skema multi-store model.
Gambar 2. Skema Multi-Store Model
(Atkinson & Shiffrin, 1971 dalam Foster, 2009)
informasi attention transfer
retrieval
rehearsal
Berikut ini adalah karakteristik dari setiap tahap pemrosesan informasi yang terjadi di otak tersebut :
a. Ingatan Sensoris atau Sensory Memory (SM)
Atkinson dan Shiffrin (1971) menggambarkan bahwa informasi atau stimulus dari lingkungan pertama kali masuk dalam ingatan sensoris. Ingatan sensoris berada pada alat indera, yaitu stimulus visual, stimulus suara, dan sentuhan (haptik). Ingatan ini merupakan bagian yang menampung stimulus yang diterima oleh setiap alat
Sensory memory Long-term memory Short-term memory
indera yang akan disampaikan pada short-term memory (STM) langsung setelah adanya perhatian (atensi) terhadap stimulus tersebut. Perhatian terjadi karena ketertarikan terhadap suatu stimulus atau karena adanya stimulus lain yang dapat mengalihkan perhatian. Stimulasi yang datang akan diproses pada tahap berikutnya jika mendapatkan perhatian. Perhatian terhadap stimulus tertentu ini membutuhkan kemampuan konsentrasi.
b. Ingatan Jangka Pendek atau Short-Term Memory (STM)
Matlin (2009) mengungkapkan bahwa ingatan jangka pendek merupakan pusat pemrosesan informasi yang dilakukan secara sadar dan bersifat aktif. Informasi pada tahap sensory memory yang mendapat perhatian sistem indera akan masuk ke dalam ingatan jangka pendek atau short-term memory. Tahap ini menjadi tempat penyimpanan sementara informasi yang masih akan diproses dan disimpan dalam long-term memory (Matlin, 2009).
Ingatan jangka pendek (STM) seringkali digambarkan sebagai sistem kerja yang di dalamnya informasi-informasi yang masuk akan memudar dan menghilang dengan cepat (Solso & Maclin, 2008). STM juga merupakan tempat penyimpanan sementara terhadap arus informasi yang ada di dalam otak. Informasi yang terdapat dalam STM dapat berupa informasi dari ingatan sensoris yang baru diproses, informasi yang baru dipanggil dari ingatan jangka panjang, atau informasi dari proses mental.
Ingatan jangka pendek (STM) berperan dalam arus informasi dan memberikan pengaruh dalam proses belajar, tetapi memiliki keterbatasan dalam menyimpan informasi. Atkinson dan Shiffrin (1971, dalam Solso & Maclin, 2008) menyatakan bahwa kemampuan ingatan jangka pendek dalam menyimpan sejumlah informasi tidak lebih dari 30 detik, kecuali dilatih untuk mempertahankannya lagi. Miller (1956, dalam Matlin, 2009) mengemukakan bahwa muatan atau kapasitas penyimpanan informasi dalam STM terbatas, yaitu 7 ± 2
chunk atau dengan kata lain antara 5-9 chunk. Chunk adalah unit
informasi yang mempunyai makna, seperti tanggal, kata-kata yang disingkat, dll.
c. Ingatan Jangka Panjang atau Long-Term Memory (LTM)
Matlin (2009) menyatakan bahwa ingatan jangka panjang (LTM) merupakan sistem berkapasitas besar yang tidak dibatasi waktu penyimpanannya dan bersifat permanen. Kapasitas penyimpanan LTM berkembang seiring dengan pertambahan usia sejak masa anak-anak. Informasi yang telah tersimpan dalam LTM dapat digunakan melalui proses pemanggilan kembali.
Berk (2006) mengungkapkan bahwa perolehan kembali informasi yang telah disimpan di LTM dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu recognition, recalling, dan reconstruction.
1) Recognition
Recognition merupakan proses pengenalan kembali stimulus
dengan keberadaan objek atau situasi yang sama pada saat pertama kali objek tersebut dihadirkan. Pada saat recognition, individu cenderung membandingkan stimulus dengan serangkaian objek-objek yang pernah diingat. Individu tidak memiliki pengetahuan tentang suatu objek jika tidak memiliki kemampuan untuk mengenali kembali.
2) Recalling
Recalling merupakan proses mengingat kembali suatu stimulus
yang tidak dihadirkan secara langsung. Recalling merupakan proses yang lebih sulit daripada recognition karena informasi didapatkan kembali dari ingatan tanpa kesesuaian lingkungan atau situasi.
3) Reconstruction
Reconstruction merupakan proses menginterpretasi stimulus atau
informasi baru sesuai dengan pengetahuan-pengetahuan yang telah ada.
Alan Baddeley (1990a) memberikan pendekatan yang berbeda terkait dengan pemrosesan informasi yang terjadi di otak. Baddeley (1990a) mengungkapkan suatu model memori kerja (working memory) yang selama sesaat menyimpan dan memanipulasi informasi selama seseorang melakukan kinerja kognitif. Secara khusus, working memory ini
dipahami sebagai tipe meja kerja yang secara konstan mengubah, mengkombinasikan, dan memperbarui informasi baru dan lama (Solso & Maclin, 2008). Baddeley (1990a; 2000a, dalam Sternberg, 2008) menyatakan bahwa working memory ini memadukan empat elemen, yaitu:
visuospatial sketchpad yang menangani gambar visual dan spasial yang
singkat, phonological loop yang menangani ujaran di dalam hati yang singkat ketika memahami ucapan verbal dan melatih kemampuan akustik,
central executive yang mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas atensi dan
mengatur respon, serta episodic buffer yang mengikat atau menggabungkan informasi dari ingatan jangka panjang. Pendekatan ini menyanggah pandangan bahwa ingatan jangka pendek hanya sekedar “kotak” di kepala. Pendekatan ini juga menyanggah pandangan bahwa kapasitas ingatan jangka pendek terbatas pada tujuh aitem (Solso & Maclin, 2008). Baddeley (1990a) menyatakan bahwa rentang memori ditentukan oleh kecepatan individu mengulang informasi.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan pemrosesan informasi melalui beberapa tahapan menurut Atkinson dan Shiffrin (1968) tanpa mengabaikan atensi sebagai salah satu faktor pemrosesan informasi yang berasal dari lingkungan. Pendekatan ini digunakan untuk membatasi area penelitian hanya pada kemampuan ingatan jangka pendek (short-term memory) yang dapat menyimpan dan memproses informasi baru dalam waktu dan kapasitas yang terbatas. Kemampuan tersebut terlepas dari pemerolehan informasi yang berasal
dari ingatan jangka panjang. Ingatan jangka pendek yang terdapat dalam tahap-tahap penyimpanan dan pemrosesan informasi Atkinson dan Shiffrin (1968) tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam kinerjanya.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ingatan Jangka Pendek