• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa di asrama putra dan asrama putri SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan tahun ajaran 2006/2007 yang sudah ideal dalam kecerdasan interpersonal berjumlah 18 orang yang terdiri dari 6 siswa di asrama putra (2 siswa memiliki kualifikasi “sangat tinggi” / 4,35%, 4 siswa memiliki kualifikasi “tinggi” / 8,69%) dan 12 siswa di asrama putri (12 siswi memiliki kualifikasi “tinggi” / 29,27% dan tidak ada siswi memiliki kualifikasi “sangat tinggi” / 0%).

Faktor-faktor yang melatarbelakangi siswa di asrama putra dan asrama putri SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan tahun ajaran 2006/2007 mampu mencapai yang ideal dalam kecerdasan interpersonal antara lain:

Pertama, mereka memiliki kematangan sosial. Melalui penerimaaan dan dukungan dari teman sebayanya, mereka sadar bahwa mereka membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Dari interaksi sosial yang mereka lakukan, mereka dapat memenuhi kebutuhan akan perhatian, kasih sayang, dan cinta. Sebagai makhluk sosial, mereka

sadar bahwa dalam membina relasi dengan orang lain diperlukan semangat kepedulian dan kerjasama.

Fakta membuktikan bahwa setiap orang tidak bisa lepas dari lingkungan sosial di mana mereka berada, karena umumnya setiap orang belajar dan berkembang dari lingkungan sosial yang ada. Semua ini diperoleh melalui proses belajar sosial. Untuk itulah teman dan lingkungan sosial yang mendukung menjadi salah satu penentu kematangan psikologis orang di kemudian hari.

Dalam konteks di asrama/sekolah, dapatlah dipahami bahwa pada umumnya baik siswa putra maupun putri perlu memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi agar siswa semakin terampil bergaul/berinteraksi dengan sesamanya. Mengingat kecerdasan interpersonal ini diperoleh melalui proses belajar yang berkesinambungan, maka dalam hal ini siswa di asrama putra dan asrama putri SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan perlu dilatih untuk senantiasa mengembangkan diri dalam relasi sosialnya. Kedua, kedekatan di antara mereka baik siswa putra maupun putri. Menurut peneliti faktor kedekatan tersebut memungkinkan mereka untuk mampu berinteraksi dengan banyak orang, tidak hanya di dalam lingkungan asrama saja melainkan juga di luar lingkungan asrama mereka tinggal.

Kedekatan mereka sebagai satu saudara dalam suatu asrama memungkinkan mereka mampu mengenal pribadi satu sama lain, mengutamakan kepentingan bersama, saling membantu di kala ada

masalah yang tidak dapat diselesaikan seorang diri, dan juga menyadari pentingnya memahami situasi sosial yang ada di sekitar. Hal ini sesuai dengan misi sekolah SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan yang pencapaian proses pendidikannya diupayakan melalui salah satu segi yang ada selain religiositas dan intelektualitas yakni segi humanitas dan sosialitas (Pedoman Umum SMA Pangudi Luhur Van Lith, 2001).

Melalui pendidikan di asrama dalam suasana persaudaraan sejati, siswa memiliki kesempatan yang cukup untuk belajar bersosialisasi mengenai banyak hal demi perkembangan dan kemajuan hidup pribadinya. Kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri bersama dengan teman-temannya di asrama menjadi point penting keberhasilan dia kelak dalam membina hubungan antar pribadi (hubungan interpersonal) dengan orang lain. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Safaria (2005:40) bahwa pada dasarnya setiap orang mengembangkan keterampilan sosial melalui hubungan sosialnya dengan orang lain seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman, bagaimana menghadapi permusuhan serta bagaimana mendapatkan dukungan dari teman.

Ketiga, adanya kesadaran diri dalam membina hubungan dengan orang lain dan lingkungan sekitar, terutama di lingkungan asrama. Dalam hidup bersama dengan orang lain, siswa sadar tentang pentingnya memiliki kemampuan menjawab dan mengatasi situasi permasalahan yang ada. Kesadaran seperti inilah yang nantinya dapat membantu siswa

berhasil dalam membina hubungan dengan sesamanya baik di asrama maupun di luar asrama.

Hasil penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa di asrama putra dan asrama putri SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan tahun ajaran 2006/2007 belum mencapai yang ideal / kurang dalam kecerdasan interpersonal. Siswa di asrama putra dan asrama putri SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan tahun ajaran 2006/2007 yang belum ideal / kurang dalam kecerdasan interpersonal berjumlah 69 orang, terdiri dari 40 siswa di asrama putra (31 siswa memiliki kualifikasi “cukup” / 67,39%, 9 siswa memiliki kualifikasi “rendah” / 19,57%, dan tidak ada siswa memiliki kualifikasi “sangat rendah” / 0%) dan 29 siswa di asrama putri (25 siswi memiliki kualifikasi “cukup” / 60,97%, 4 siswi memiliki kualifikasi “rendah” / 9,76%, dan tidak ada siswi memiliki kualifikasi “sangat rendah” / 0%).

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menduga bahwa kurang tingginya kecerdasan interpersonal yang diperoleh oleh siswa di asrama putra dan asrama putri SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan tahun ajaran 2006/2007 karena ada kemungkinan sebagian orang tua dalam mendidik anak masih menekankan pada kecerdasan intelektual. Orang tua yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan di luar rumah dan tidak memiliki waktu banyak bersama anak, memungkinkan anak menjadi pribadi yang tertutup atau ‘nakal’ karena kurang mendapat perhatian dan bimbingan dari orang tuanya.

Anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tuanya, biasanya tumbuh menjadi pribadi yang tidak matang secara emosional dan sosial. Bahkan yang sangat mengkhawatirkan bisa saja, anak tumbuh menjadi pribadi yang anti sosial, seperti tidak bisa mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain, menaruh curiga, egois, dan sulit berperilaku sesuai dengan aturan masyarakat yang ada.

Oleh karena itu peran pembimbing baik di asrama (bruder/suster pamong asrama) maupun di sekolah (guru pembimbing/BK), menjadi unsur penting dalam pembentukan pribadi siswa yang matang. Sebagai wakil orang tua siswa, pembimbing baik di asrama maupun sekolah perlu memberikan bimbingan melalui pelatihan yang di dalamnya melibatkan siswa misalnya retret, week-end, atau rekoleksi.

Menurut peneliti, tidak adanya siswa di asrama putra maupun asrama putri SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan tahun ajaran 2006/2007 yang memiliki kualifikasi “ sangat rendah” disebabkan karena adanya penerimaan dan dukungan dari lingkungan di mana mereka tinggal.

Umumnya siswa baik putra maupun putri yang tinggal dalam satu asrama terikat dengan peraturan yang berlaku. Walaupun berasal dari latar belakang keluarga dan budaya yang berbeda, siswa mampu menempatkan diri sebagai satu saudara. Adanya dukungan dan penerimaan yang siswa alami baik di lingkungan asrama maupun sekolah, membantunya dalam membangun relasi yang baik dengan sesamanya, dan menyesuaikan diri dengan orang-orang yang ada dalam lingkungan itu. Hurlock (1993:298)

menegaskan hal tersebut dalam uraiannya berikut: “Salah satu efek penerimaan sosial adalah usaha untuk menyesuaikan diri terhadap harapan kelompok.” Penerimaan kelompok ini menimbulkan perasaan aman dan nyaman dalam diri seseorang, karena dia merasa dihargai dan diterima meskipun latar belakang kelompoknya berbeda dengan dirinya.

B. Perbedaan antara Siswa di Asrama Putra dan Asrama Putri SMA

Dokumen terkait