• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Hasil penelitian dari siklus 1 hingga siklus 2 menunjukkan bahwa motivasi siswa meningkat, namun berada di bawah kondisi awal. Hal ini disebabkan motivasi siswa menurun pada akhir siklus 1 lalu meningkat pada akhir siklus 2 namun tidak melebihi dari kondisi awal. Sebagaimana dijelaskan pada bagian refleksi siklus 1, terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh peneliti dalam menerapkan perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual.

1. RPP belum dikuasai sepenuhnya sehingga beberapa kegiatan lupa dilaksanakan.

Beberapa kegiatan yang tidak terlaksana tersebut antara lain adalah memberikan motivasi yang relevan dengan materi yang dipelajari, mengarahkan siswa berdiskusi berpasangan, menanggapi hasil penyajian siswa, mengarahkan

57

siswa untuk meringkas, mencatat, menggarisbawahi yang penting dari pembelajaran, melakukan refleksi terhadap pembelajaran dan memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil belajar. Kegiatan yang tidak terlaksana tersebut merupakan kegiatan yang berdampak signifikan dalam meningkatkan motivasi siswa.

Ketiadaan pemberian motivasi yang relevan dalam pembelajaran berdampak kepada siswa yang tidak memiliki motivasi lebih dalam belajar. Salah satu aspek yang diukur dalam motivasi siswa adalah relevance, berkaitan dengan perasaan siswa terhadap signifikansi dan keberartian materi pelajaran bagi kehidupan mereka (Githua & Mwangi, 2003). Siswa yang tidak memahami manfaat dari materi yang akan dipelajari tidak akan memiliki alasan kuat untuk belajar. Pembelajaran pun menjadi tidak bermakna sehingga siswa pun tidak termotivasi dalam belajar. Sebagaimana dijelaskan oleh Frankl bahwa pencarian makna merupakan motivasi utama dalam hidup manusia (Johnson, 2010).

Berdasarkan kegiatan siswa, diskusi berpasangan antar secara otomatis langsung terjadi karena telah menjadi kebiasaan siswa dalam kelas penelitian untuk saling bekerja sama. Namun hal ini menjadi kurang terkoordinir dengan baik karena tidak diarahkan oleh guru. Arends (2008: 15) mengungkapkan bahwa model pembelajaran TPS memberi siswa lebih banyak waktu untuk saling membantu. Dengan demikian, tahapan sharing perlu mendapatkan perhatian khusus oleh guru agar siswa menjadi aktif dan termotivasi dalam proses pembelajaran. Dengan

58

demikian ketiadaan instruksi dari guru juga berdampak kepada menurunnya motivasi siswa untuk bisa belajar aktif.

Kegiatan guru seperti menanggapi hasil penyajian siswa, melakukan refleksi dan memberikan umpan balik juga berperan dalam meningkatkan motivasi. Sebagaimana karakteristik dari pembelajaran kooperatif adalah sistem penghargaannya yang berorientasi kelompok maupun individual (Arends, 2008), yang merupakan faktor motivasi yang bersifat eksternal. Oleh karena itu, pembelajaran yang minim tanggapan, apresiasi, tanggapan dan refleksi akan berdampak kepada rendahnya motivasi siswa. Kendala ini perlu diatasi dengan cara mempelajari dan menguasai RPP beserta perangkat pendukungnya sebelum melaksanakan pembelajaran di kelas.

2. Siswa kesulitan memahami LKS dan penjelasan guru

Sebagaimana penjelasan Gagne & Briggs (1979) bahwa pembelajaran merupakan cara yang digunakan oleh guru untuk mengembangkan perencanaan yang terorganisir, untuk mempromosikan belajar. Pengembangan ini meliputi perangkat pembelajaran, tak terkecuali LKS. Oleh karena itu, LKS yang sulit dipahami siswa akan berdampak kepada tidak tercapainya tujuan pembelajaran, baik itu secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Selain itu, materi pengantar dari guru juga penting sebagai penjelasan terhadap kegiatan yang mesti dilakukan siswa. Ketiadaan penjelasan guru dan berharap siswa benar-benar secara mandiri mencari cara dalam menyelesaikan LKS berdampak kepada durasi pembelajaran menjadi lebih lama dari yang direncanakan. Kendala ini perlu diatasi dengan

59

menambahkan langkah-langkah yang jelas dan operasional bagi siswa serta memberikan materi pengantar secara proporsional sebelum siswa mengerjakan LKS.

3. Pasangan yang terbentuk kemampuannya tidak saling melengkapi.

Meskipun kegiatan diskusi secara berpasangan terlaksana, namun proses pairing tidak berjalan optimal karena terdapat pasangan-pasangan yang tidak seimbang. Terdapat pasangan yang pintar semua dan pasangan yang kurang pintar semua. Padahal karakteristik pembelajaran kooperatif adalah kelompok belajar yang heterogen, yakni terdiri atas siswa-siswa yang berprestasi rendah, sedang, dan tinggi (Arends, 2008). Pasangan-pasangan belajar yang tidak saling melengkapi berdampak kepada rendahnya motivasi siswa. Pasangan yang terdiri dari siswa pintar akan mengerjakan LKS tanpa merasakan tantangan, sedangkan pasangan yang terdiri dari siswa kurang pintar kesulitan dalam mengerjakan LKS sehingga menjadi tidak menyukai pembelajaran. Kendala ini perlu diatasi dengan pengaturan tempat duduk siswa sehingga siswa yang pintar dan kurang pintar dapat saling melengkapi.

4. Manajemen waktu masih kurang sehingga ada kegiatan yang tidak terlaksana. Salah satu tantangan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang memerlukan waktu cukup lama (Sanjaya, 2006). Manajemen waktu yang kurang baik oleh guru mengakibatkan kegiatan-kegiatan guru yang esensial dan berkaitan dengan sintaks pembelajaran tidak terlaksana. Hal ini tentunya berdampak kepada ketercapaian tujuan pembelajaran baik secara afektif,

60

kognitif maupun psikomotorik. Kendala ini perlu diatasi dengan mengatur penggunaan waktu lebih ketat.

Adapun keterlaksanaan pembelajaran dari aspek siswa belum optimal diamati pada siklus 1 sehingga belum dapat dibahas implikasinya terhadap motivasi siswa.

Secara umum, keempat kendala ini berdampak kepada penerapan sintaks model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual yang tidak berjalan optimal. Hal ini diduga menjadi sebab menurunnya motivasi dari kondisi awal. Menurunnya motivasi siswa tersebut diduga memberikan dampak kepada ketuntasan belajar siswa yang belum memenuhi kriteria ketuntasan klasikal. Sebagaimana penjelasan Ormrod (2003) bahwa motivasi meningkatkan proses kognitif. Siswa menjadi tidak memiliki keinginan kuat untuk berkembang dan belajar sehingga hasil belajar pun menjadi rendah.

Kendala-kendala tersebut diperbaiki pada perencanaan dan tindakan siklus 2. Perbaikan pada siklus 2 berdampak kepada meningkatnya motivasi siswa pada akhir siklus 2 dibandingkan akhir siklus 1. Meskipun begitu, motivasi siswa masih berada di bawah kondisi awal. Jika memperhatikan keterlaksanaan pembelajaran, aspek kegiatan guru telah mencapai target ketercapaian penelitian, yakni 92%. Namun jika memperhatikan aspek kegiatan siswa, masih terdapat kekurangan dan kendala dalam proses pembelajaran.

1. Kegiatan penutup tidak sempat melakukan refleksi dan umpan balik

Keterbatasan waktu masih menjadi kendala pada siklus 2, meskipun item kegiatan yang tidak terlaksana tidak sebanyak pada siklus 1. Meskipun hanya bagian

61

dari kegiatan penutup, kegiatan refleksi dan umpan balik penting sebagai upaya dalam memperbaiki metode pembelajaran, kaitannya dengan partisipasi siswa. Ketiadaan refleksi dan umpan balik membuat siswa menjadi tidak memperbaiki cara belajarnya selama proses pembelajaran. Hal ini tentunya berdampak kepada output pembelajaran, meskipun secara umum kegiatan guru telah optimal. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ormrod (2003) bahwa motivasi merupakan sesuatu yang memberi semangat, menunjukkan, dan mempertahankan tingkah laku, motivasi menyebabkan siswa berubah, memberikan petunjuk khusus, menjaganya untuk tetap berbuat. Dengan demikian perlu upaya dari guru untuk terus mengevaluasi kegiatan siswa yang mampu menumbuhkan motivasi mereka. Salah satunya adalah dengan memberikan reward kepada siswa secara proporsional.

2. Siswa masih belum aktif menjalankan sintaks

Hal ini merupakan dampak dari ketiadaan proses refleksi dan umpan balik sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. Siswa masih belum aktif dalam menjalankan semua sintaks yang diarahkan oleh guru. Meskipun guru telah menjalankan sintaks pembelajaran secara optimal, tetapi tidak akan berdampak kepada peningkatan motivasi siswa jika mereka tidak aktif menerapkannya. Sebagaimana penjelasan Schunk, Pintrich, & Meece (2010) bahwa motivasi adalah sebuah proses di mana tujuan diarahkan kepada aktivitas yang berkelanjutan.

Beberapa kegiatan siswa yang belum terlaksana optimal adalah menyimak penyampaian tujuan pembelajaran, menyimak penyampaian motivasi,

62

mendiskusikan hasil pekerjaannya dengan pasangannya, memberikan tanggapan atau pertanyaan terkait penyampaian temannya, dan menyelesaikan permasalahan kontekstual yang diberikan. Salah satu catatan khusus pada siklus 2 adalah kegiatan diskusi berpasangan yang tidak terlaksana pada siklus 2, padahal pada siklus 1 terlaksana dengan optimal. Hal ini diduga akibat ketidakcocokan siswa dengan pasangannya yang bukan teman sebangkunya sejak awal. Ketidakcocokan ini mengakibatkan siswa enggan berdiskusi sehingga suasana pembelajaran pun menjadi tidak menyenangkan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Lie (2002) bahwa ketidakberhasilan pembelajaran kooperatif akan menimbulkan kekecewaan dan ketidakpuasan. Kondisi ini juga tentunya berdampak kepada motivasi siswa dalam belajar.

Selain itu, materi yang digunakan dalam pendekatan kontekstual masih belum berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga siswa tidak begitu antusias dalam menyelesaikan permasalahannya. Hal ini perlu diperbaiki dengan memilih permasalahan kontekstual yang erat kaitannya dengan kehidupan siswa sehingga benar-benar bermakna.

3. Siswa masih terbiasa dengan pembelajaran teacher centered

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai pembelajar aktif. Zakaria, Chin, & Daud (2010) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif menuntut siswa aktif secara individu, aktif diskusi, berani menyampaikan gagasan dan menerima gagasan dari orang lain, dan kreatif mencari solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi. Sanjaya (2006) pun

63

menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif tidak terlalu bergantung kepada guru. Begitu pula pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang student centered. Born dan De Stefano (Kurniawan, 2010) mengemukakan aktivitas pembelajaran kontekstual yang meliputi di antaranya adalah belajar mandiri, yakni siswa didorong untuk memiliki kesadaran berpikir, dapat memilih strategi sendiri, dan memelihara motivasi.

Ketika siswa masih memegang teguh pembelajaran teacher centered hal berdampak kepada keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual pun menjadi terhambat. Hal ini tentunya berdampak kepada capaian target peningkatan motivasi yang kurang optimal. Untuk mengubah mindset ini, siswa perlu pembiasaan dalam pembelajaran yang bersifat student centered.

4. Pengajar yang merupakan mahasiswa sehingga siswa kurang respect

Kendala ini juga diduga berpengaruh terhadap keterlaksanaan pembelajaran pada aspek siswa. Meskipun guru (dalam hal ini merupakan mahasiswa peneliti) telah optimal menjalankan sintaks pembelajaran, namun karena sikap siswa yang kurang respect terhadap guru mengakibatkan mereka tidak optimal dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini perlu diperbaiki dengan melakukan kolaborasi penelitian dengan guru mata pelajaran.

Secara umum, meskipun masih terdapat kendala, penerapan sintaks model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual oleh guru telah berjalan optimal. Namun kegiatan siswa masih belum mencapai target

64

keterlaksanaan. Hal ini diduga menjadi sebab peningkatan motivasi siswa belum signifikan mencapai target, bahkan masih di bawah kondisi awal. Oleh karena itu, perlu dilakukan siklus 3 yang menindaklanjuti solusi dari kendala yang dihadapi pada siklus 2.

Selain itu, ketuntasan belajar siswa secara klasikal juga mengalami sedikit peningkatan dan masih belum mencapai target penelitian. Hal ini wajar mengingat KD siklus 2 memiliki kaitan dengan KD siklus 1 yang ketuntasannya masih di bawah 80%. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual tidak cocok diterapkan pada kelas penelitian sehingga perlu diganti dengan metode pembelajaran lain yang lebih tepat.

Dalam dokumen MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALA (Halaman 62-70)

Dokumen terkait