• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALA"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS DENGAN

PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI SMP MUHAMMADIYAH 2 DEPOK

Oleh: ANWARIL HAMIDY NIM. 15709251018

Dosen Pengampu: Dr. Jailani, M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCASARJANA

(2)

ii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Diagnosis Masalah ... 4

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 5

E. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori ... 7

1. Motivasi Belajar ... 7

2. Pembelajaran ... 12

3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS ... 13

4. Pembelajaran Kontekstual ... 20

5. Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS dengan Pendekatan Kontekstual ... 22

B. Kajian Penelitian yang Relevan ... 23

(3)

iii

D. Hipotesis Tindakan ... 25

BAB III DESAIN PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. Jenis dan Desain Penelitian ... 26

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 27

C. Subyek Penelitian ... 27

D. Prosedur Penelitian ... 28

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 30

F. Teknik Analisis Data ... 32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 36

1. Siklus 1 ... 36

2. Siklus 2 ... 47

B. Pembahasan ... 56

C. Keterbatasan Penelitian ... 64

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 66

DAFTAR PUSTAKA ... 67

(4)

iv DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kondisi Awal Motivasi Siswa Kelas VII B

SMP Muhammadiyah 2 Depok ... 2

Tabel 2. Jadwal Penelitian Tindakan ... 27

Tabel 3. Pedoman Penskoran Angket ... 32

Tabel 4. Pedoman Konversi Skor terhadap Kriteria ... 32

Tabel 5. Interval Skor Kriteria Motivasi ... 32

Tabel 6. Indikator Ketercapaian Peningkatan Motivasi dan Kualitas Pembelajaran ... 35

Tabel 7. Hasil Pengamatan Siklus 1 ... 43

Tabel 8. Hasil Pengamatan Siklus 1 Dibandingkan dengan Kondisi Awal dan Target ... 43

Tabel 9. Kegiatan Guru yang Belum Terlaksana pada Siklus 1 ... 44

Tabel 10. Kegiatan Siswa yang Belum Terlaksana pada Siklus 1 ... 45

Tabel 11. Hasil Pengamatan Siklus 2 ... 52

Tabel 12. Hasil Pengamatan Siklus 2 Dibandingkan dengan Siklus 1, Kondisi Awal dan Target ... 53

Tabel 13. Kegiatan Guru yang Belum Terlaksana pada Siklus 2 ... 54

(5)

v DAFTAR GAMBAR

(6)

vi LAMPIRAN

Lampiran 1 Angket Motivasi Siswa ... 71

Lampiran 2 Perangkat Pembelajaran Siklus 1 a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 75

b. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan 1 ... 82

c. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan 2 ... 87

d. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan 3 ... 93

e. Tes Ulangan Harian ... 101

Lampiran 3 Perangkat Pembelajaran Siklus 2 a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 111

b. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan 1 ... 115

c. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan 2 ... 122

d. Tes Ulangan Harian ... 128

Lampiran 4 Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran ... 136

Lampiran 5 Data Hasil Angket Motivasi Siswa a. Kondisi Awal ... 141

b. Siklus 1 ... 143

c. Siklus 2 ... 145

Lampiran 6 Hasil Ulangan Harian a. Siklus 1 ... 147

b. Siklus 2 ... 149

(7)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesuksesan dalam pendidikan sering dikaitkan dengan perolehan hasil

belajar dan prestasi belajar yang tinggi. Hal ini mendorong munculnya berbagai

penelitian yang fokus mengungkap berbagai faktor yang memengaruhi hasil dan

prestasi belajar tersebut. Di antara faktor tersebut adalah motivasi belajar. Elliot &

Dweck (2005) menyimpulkan dari berbagai hasil penelitian bahwa motivasi

memainkan peran yang besar bagi seseorang dalam mengembangkan kompetensi

dan beradaptasi dengan lingkungan. Geodenough (Mappaita, 1994) menyatakan

bahwa motivasi merupakan variabel yang sangat penting untuk menentukan

keberhasilan dalam belajar. Seorang peserta didik atau mahasiswa yang gagal

dalam tugas akademisnya disebabkan tidak termotivasi dengan memadai. Selain

itu, Kurikulum 2013 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013

tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang

Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa standar proses pembelajaran

memenuhi kriteria diantaranya adalah interaktif, inspiratif, menyenangkan,

menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif (Kemendikbud,

2016). Dengan demikian, setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan,

pelaksanaan serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan

(8)

2

diantaranya adalah motivasi. Oleh karena itu, pembelajaran yang baik adalah

pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

Hasil data angket motivasi belajar siswa kelas VII B SMP Muhammadiyah 2

Depok menunjukkan bahwa rata-rata motivasi siswa adalah 82,9 yang termasuk

kategori sedang.

Tabel 1. Kondisi Awal Motivasi Siswa Kelas VII B SMP Muhammadiyah 2 Depok

Variabel Interval Kriteria Persentase

Siswa

Motivasi

104 < X Sangat Tinggi 3,57%

, < X 104 Tinggi 28,60%

, < X , Sedang 57,10%

< X , Rendah 10,70%

X Sangat Rendah 0%

Rata-rata = 82,39 Sedang

Tabel di atas menunjukkan bahwa 57,10% siswa kelas VIIB tergolong siswa dengan

motivasi sedang, sedangkan persentasi siswa dengan motivasi tinggi masih kurang

dari 30%. Selain itu, masih terdapat 10,7% siswa yang motivasinya berada pada

kategori rendah. Kondisi ini masih perlu ditingkatkan lagi agar memberikan dampak

yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Diantara upaya meningkatkan

motivasi belajar siswa tersebut adalah melalui penerapan model pembelajaran

yang tepat.

Di satu sisi, pembelajaran Matematika di sekolah masih cenderung teacher

oriented dan dominan menggunakan metode ceramah. Banyaknya siswa dalam

satu kelas yang cukup besar, yakni sekitar 30 orang tentunya tidak memungkinkan

(9)

3

belajar melalui metode ceramah. Hal ini mengakibatkan siswa cenderung pasif dan

merasa bosan selama pembelajaran.

Selain itu, berbagai teori dan model pembelajaran dalam Matematika

belum dioptimalkan untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Guru

cenderung mengajar dengan metode ceramah dengan alasan lebih mudah dalam

persiapan dan penerapannya. Tidak adanya variasi dalam pembelajaran

mengakibatkan siswa jenuh dalam belajar. Hal ini akan berdampak kepada kualitas

pembelajaran dan output yang diharapkan, baik dari segi afektif, kognitif maupun

psikomotorik. Dengan demikian diperlukan suatu model atau pendekatan

pembelajaran yang bersifat student oriented dan konstruktivistik serta mampu

meningkatkan motivasi siswa.

Diantara pendekatan pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi

belajar siswa adalah pembelajaran kontektstual. Pembelajaran kontekstual adalah

pembelajaran yang bertujuan membantu siswa dalam mengaitkan makna pelajaran

secara tepat melalui delapan komponen, yaitu, keterkaitan yang bermakna,

pekerjaan yang berarti, pengaturan diri, kerja sama, berpikir kritis dan kreatif,

menumbuhkembangkan individu dan penilaian autentik (Johnson, 2010).

Penelitian Davi (2012) menemukan bahwa pembelajaran kontekstual dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa VIII-B SMP Negeri 10 Malang. Hal ini sejalan

dengan pernyataan Frankl bahwa pencarian makna merupakan motivasi utama

dalam hidup manusia (Johnson, 2010); sehingga pembelajaran kontekstual dapat

(10)

4

Selain materi pembelajaran yang kontekstual, manajemen kelas juga perlu

dikelola dengan baik agar mengoptimalkan proses pembelajaran yang memotivasi

siswa. Salah satu manajemen kelas yang memotivasi adalah model pembelajaran

kooperatif tipe TPS (Think, Pair, Share). Pembelajaran kooperatif tipe TPS

merupakan model pembelajaran yang memiliki tiga tahapan utama yaitu

mengarahkan siswa untuk berpikir dalam menyelesaikan masalah (Think),

kemudian mendiskusikan hasil pemikirannya secara berpasangan (Pair), dan

akhirnya menyampaikan hasil diskusi untuk disepakati dalam forum kelas (Share)

(Slavin, 2005). Penelitian Kurniawan dan Istiningrum (2012) menyimpulkan bahwa

model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan

motivasi belajar Akuntansi siswa kelas X Akuntansi 2 SMK Negeri 7 Yogyakarta. Hal

ini sejalan dengan model pembelajaran kooperatif pada umumnya yang

mendorong siswa untuk belajar untuk meraih kesuksesan secara berkelompok

(Slavin, 2005).

Berdasarkan paparan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana

meningkatkan kualitas pembelajaran dan motivasi belajar siswa melalui penerapan

model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual pada

pembelajaran Matematika di kelas VII B SMP Muhammadiyah 2 Depok.

B. Diagnosis Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka diperoleh

(11)

5

1. Masih terdapat siswa SMP kelas VII B Muhammadiyah 2 Depok dengan motivasi

rendah.

2. Pembelajaran Matematika masih cenderung teacher oriented.

3. Belum ada variasi model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran di

kelas.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan diagnosis masalah tersebut, rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah: Bagaimana meningkatkan meningkatkan kualitas

pembelajaran dan motivasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran

kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual pada pembelajaran

Matematika di kelas VII B SMP Muhammadiyah 2 Depok?

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan

motivasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS

dengan pendekatan kontekstual pada pembelajaran Matematika di kelas VII B SMP

Muhammadiyah 2 Depok.

E. Manfaat Penelitian

(12)

6

Memberikan kontribusi dalam memperbaiki permasalahan-permasalahan

terkait pembelajaran Matematika, khususnya mengenai peningkatan motivasi

siswa dalam pembelajaran Matematika.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti

Memberikan pengalaman dalam menyusun penelitian tindakan kelas

sekaligus penerapan model pembelajaran Matematika

b. Bagi Guru

Memberikan wawasan model pembelajaran yang baik dalam meningkatkan

motivasi belajar siswa

c. Bagi Siswa

(13)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Motivasi Belajar

Motivasi dikenal dengan beberapa istilah, yaitu desakan atau drive, motif

atau motive, kebutuhan atau need dan keinginan atau wish. Sukmadinata (2009)

berpendapat bahwa kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu disebut

motivasi, yang menunjukkan suatu kondisi dalam diri individu yang mendorong

atau menggerakkan individu tersebut melakukan kegiatan mencapai sesuatu

tujuan. Santrock (2010) berpendapat bahwa motivasi adalah proses yang memberi

semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah

perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Djaali (2008) berpendapat

bahwa motivasi adalah kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri

seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai

suatu tujuan (kebutuhan). Githua & Mwangi (2003) menjelaskan bahwa motivasi

berpengaruh terhadap tujuan, arah dan intensitas suatu perilaku sehingga

berdampak kepada hasil dari suatu pekerjaan yang berbeda-beda. Dalam konteks

pembelajaran, motivasi menjadi penentu terhadap seberapa banyak yang dapat

dipelajari oleh siswa, keterlibatan mereka, proses kognitifnya, pemahamannya

(14)

8

Schunk, Pintrich, & Meece (2010: 4) mendefi isika motivation is the

process whereby goal-directed activity is instigated and sustained . Defi isi tersebut menjelaskan bahwa motivasi adalah sebuah proses di mana tujuan

diarahkan kepada aktivitas yang berkelanjutan. Selanjutnya Hudojo (1988)

menyatakan bahwa motivasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan

timbulnya dan berlangsungnya motif. Motif adalah kekuatan pendorong yang ada

dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai

suatu tujuan.

Usaha memiliki makna yang sama dengan motivasi. Seorang individu

yang menunjukkan usaha yang lebih besar dianggap memiliki motivasi,

sedangkan seseorang yang dimotivasi juga akan menunjukkan usaha yang lebih.

Motivasi berasal dari kata motif, yang artinya kekuatan yang berasal dari dalam diri

seseorang, motivasi yang tinggi dari siswa untuk berprestasi dan menghindari

kegagalan akan lebih banyak merespon terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh

guru. Keberhasilan dan penghargaan dari kawan atau dari guru akan memberikan

rasa kepuasan dan mempertinggi rasa kemampuannya. Purwanto (2004)

menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan motif ialah segala sesuatu yang

mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Motivasi juga dapat

berfungsi mengaktifkan atau meningkatkan kegiatan. Kegiatan yang tidak

bermotif atau motifnya sangat lemah, akan dikerjakan dengan tidak

sungguhsungguh dan sebaliknya jika motifnya kuat maka akandilakukan dengan

(15)

9

Keberhasilan belajar siswa tidak lepas dari faktor motivasi yang

membuat siswa mempelajari apa yang ingin dicapainya. Elliot (2000: 332)

Motivation is defined as an internal state that arouses us to action, pushes us in

particula direction, and keep us engaged in certain activity . Moti asi didefinisikan sebagai suatu keadaan dari dalam yang menggerakkan seseorang

untuk bertindak, mendorong dengan petunjuk khusus, dan menjaga untuk

tetap dalam suatu aktivitas tertentu. Motivasi merupakan bagian penting dalam

struktur psikologi yang mempengaruhi belajar dan perfomance dalam bebeapa cara

yaitu,

a. Moti ation increases an indi idual’s energy and activity level, dalam hal ini motivasi berpengaruh besar terhadap seseorang untuk terlibat dalam

aktivitas tertentu secara intensif atau parsial.

b. Motivation direct an individual toward certain goals, motivasi

mempengaruhi pilihan yang dibuat seseorang untuk mencapai sesuatu yang

diinginkan.

c. Motivation promote initiation of certain activities and persistence in those

activities, motivasi meningkatkan kemungkinan bahwa seseoarang akan

memulai sesuatu dari dirinya, tetapi pada pendirian untuk menghadapi

kesulitan, dan memulai kembali tugas setelah ada gangguan.

d. Motivation affects the learning strategis and cognitive processes an

individual employ, motivasi meningkatkan kemungkinan seseorang untuk

(16)

10

serta mencoba untuk mempelajarinya dalam suatu cara lain yang lebih

berarti. Selain itu motivasi juga akan meningkatkan kemungkinan

seorang untuk mencari bantuan ketika sedang menghadapi kesulitan.

Ormrod : e jelaska ah a motivation is something that

energizes, directs, and sustains behavior . Moti asi erupaka sesuatu ya g memberi semangat, menunjukkan, dan mempertahankan tingkah laku, motivasi

menyebabkan siswa berubah, memberikan petunjuk khusus, menjaganya untuk

tetap berbuat. Ormrod menyatakan beberapa efek dari motivasi terhadap

tingkah laku dan belajar siswa yaitu a). Motivasi mengarahkan tingkah laku ke arah

tujuan tertentu, b). Motivasi meningkatkan usaha dan energi, c). Motivasi

meningkatkan inisiasi dari aktivitas dan ketahanan dalam beraktifitas, d). Motivasi

meningkatkan proses kognitif, e). Motivasi menentukan penguatan konsekuensi.

Kelima efek tersebut akan meningkatkan performance,

Motivasi siswa dapat diketahui dari pengamatan terhadap perilakunya

dalam kegiatan belajar. Berikut ciri-ciri siswa yang memilki motivasi menurut

Ratumanan (2004) sebagai berikut.

a. Memperlihatkan minat dan perhatian yang serius terhadap apa yang

dipelajari,

b. Memiliki orientasi masa depan, kegiatan belajar dianggap sebagai

jembatan untuk mencapai harapan masa depannya,

c. Siswa cenderung mengerjakan tugas-tugas belajar yang menantang

(17)

11

d. Memiliki keinginan yang kuat untuk terus berkembang,

e. Selalu menyediakan waktu yang kuat untuk belajar,

f. Tekun belajar dan cenderung berupaya menyelesaikan tugas yang

diberikan kepadanya.

Elliot (2000) menyatakan motivasi belajar siswa dapat dipelajari dari

aspek kognitifnya. Aspek kognitif dari motivasi antara lain; a) Causal

Attributions, dapat dilihat dari beberapa elemen yaitu ability, effort, luck, dan test

difficulty; b) Self Efficacy; c) Learned helpness; d) Anxiety; e) Locus of control; f)

Competitive versus cooperative activities; g) intrinsic and extrinsic motivation; h)

Curiosity and interest; dan i) Student environment. Menurut Ordmord (2003)

motivasi dapat dilihat dari a) Anxiety, b) Self Effiicacy, dan c) Interest.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah proses

berlangsungnya motif yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku

untuk mencapai untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pada penelitian kali ini,

motivasi belajar fokus pada empat aspek yang dikembangkan oleh Burden, yaitu

interest, relevance, perceived probability of success, dan satisfaction (Githua &

Mwangi, 2003). Interest merupakan minat atau rasa ingin tahu siswa yang muncul

sehingga terdorong untuk belajar. Relevance berkaitan dengan perasaan siswa

terhadap signifikansi dan keberartian materi pelajaran bagi kehidupan mereka.

Artinya, siswa yang menganggap Matematika itu relevan bagi kehidupannya akan

mempelajari Matematika. Perceived probability of success, yakni keyakinan siswa

(18)

12

siswa akan berusaha dengan keras dalam belajar dan mengerjakan soal jika mereka

yakin mampu menyelesaikannya. Satisfaction, yakni kondisi keseimbangan

psikologi antara pengalaman atas penghargaan esktrinsik dan kesadaran atas

kepentingan untuk terus berkembang.

2. Pembelajaran

Nitko dan Brookhart (2007: 18) menjelaskan pembelajaran adalah

Instruction is the process you use to provide students with the conditions that

help them achieve the learning targets . Pe elajara adalah proses ya g digunakan untuk memberikan siswa kondisi yang membantu mereka mencapai target elajar. “e ada : e yataka ah a Instruction refers to

how curriculum gets enacted in the classroom . Per yataa i i e gandung makna bahwa pembelajaran merujuk pada bagaimana kurikulum diterapkan dalam

kelas.

Gag e & Briggs : e yataka instructions is the means

employed by teachers, designer of material, curriculum specialist, and others

whose purpose it is to develop an organized plan to promote learning . Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan cara yang

digunakan oleh guru, penyusun materi, ahli kurikulum, dan lain-lain yang

bertujuan untuk mengembangkan perencanaan yang terorganisir, untuk

mempromosikan belajar. Sedangkan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang

Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan

(19)

13

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan guru yang dirancang untuk

menciptakan interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar

pada suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Proses

interaksi tersebut dapat membantu siswa dalam mengelola informasi baru baik dari

guru maupun sumber belajar lain untuk mencapai tujuan belajar.

3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

Pembelajaran kooperatif merujuk kepada berbagai macam metode

pengajaran dimana para siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk

saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran. Menekankan pada pe e tuka siste sosial, Arra, D’A to io, & D’A to io :

mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu pendekatan yang

mengorganisir aktivitas kelas ke dalam suasana akademis dan pengalaman belajar

sosial. Sedangkan pembelajaran kooperatif menurut Trianto (2009) lebih

menekankan kepada peningkatan partisipasi siswa dalam pembelajaran dan

pembentukan sikap kepemimpinan. Hal ini sejalan dengan konsep pembelajaran

kooperatif yang dijelaskan oleh Zakaria, Chin, & Daud (2010) bahwa pembelajaran

kooperatif diharapkan siswa aktif secara individu, aktif diskusi, berani

menyampaikan gagasan dan menerima gagasan dari orang lain, dan kreatif mencari

solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, partisipasi aktif itu

dibentuk dalam model bekerja sama dalam belajar dan rasa tanggungjawab

(20)

14

Roger dan David Johnson (Agus Suprijono, 2009) menyatakan bahwa

tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk

mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam pembelajaran kooperatif harus

diterapkan. Lima unsur tersebut adalah:

a. Positive interdependence (saling ketergantungan positif)

b. Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan)

c. Face to face promotive interaction (komunikasi antar anggota)

d. Interpersonal skill (kemampuan interpersonal)

e. Group processing (pemrosesan kelompok)

Lie (2002) mengemukakan bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal,

ada lima unsur metode pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan yaitu:

a) saling ketergantungan positif. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif,

pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota

kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai

tujuan mereka; b) tanggung jawab perseorangan. Kunci keberhasilan metode

pembelajaran kooperatif adalah persiapan guru dalam menyusun tugasnya,

pengajaran yang efektif dalam pembelajaran kooperatif membuat persiapan

dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masingmasing anggota

kelompok harus melaksanakan tanggungjawabnya sendiri agar tugas selanjutnya

dalam kelompok bisa dilaksanakan; c) tatap muka. Setiap kelompok harus diberi

kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan

(21)

15

anggota. Inti dari sinergi adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan

kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Setiap anggota kelompok

mempunyai latar belakang pengalaman, keluarga, dan sosial-ekonomi. Perbedaan

ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota

kelompok; d) komunikasi antar anggota. Keberhasilan suatu kelompok juga

bergantung pada kesediaan anggotanya untuk saling mendengarkan dan

kemampuan mereka mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan komunikasi

kelompok merupakan proses panjang. Siswa membutuhkan sebuah proses untuk

bisa lancar dalam menyampaikan gagasan, di mana proses ini sangat bermanfaat

dan harus ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar serta membina

perkembangan mental dan emosi para siswa; e) evaluasi kelompok. Guru perlu

mengatur waktu khusus untuk setiap kelompok agar mengevaluasi proses

kerjanya masing-masing.

Karakteristik pembelajaran kooperatif dijelaskan oleh Arends (2008)

sebagai berikut: a) siswa bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan belajar; b)

tim-tim itu terdiri atas siswa-siswa yang berprestasi rendah, sedang, dan tinggi; c)

bila mungkin, tim-tim itu terdiri atas campuran ras, budaya, dan gender; d) sistem

penghargaannya berorientasi kelompok maupun individual.

Sanjaya (2006) menuliskan keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai

(22)

16

a. Melalui pembelajaran kooperatif siswa tidak terlalutergantung pada guru,

tapi dapat menambah kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi

dari berbagi sumber, dan belajar dari siswa yang lain.

b. Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan

mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan

membandingkannya dengan ide-ide orang lain.

c. Pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada

orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima

segala perbedaan.

d. Pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap

siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.

e. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang cukup ampuh untuk

meningkatkan prestasi belajar sekaligus kemampuan sosial, termasuk

mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif

dengan yang lain, mengembangkan keterampilan manajemen waktu, dan

sikap positif terhadap sekolah.

f. Melalui pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan

siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima

umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut

membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung

(23)

17

g. Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa

menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrakmenjadi nyata.

h. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan

memberikan rangsangan untuk berfikir. Hal ini berguna untuk proses

pendidikan jangka panjang.

Selain keunggulan, pembelajaran kooperatif juga memiliki keterbatasan

di antaranya:

a. Untuk memahami dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif

membutuhkan waktu yang lama. Sebagai contoh siswa yang mempunyai

kelebihan akan merasa terhambat oleh siswa yang mempunyai

kemampuan kurang, akibatnya keadaan seperti ini dapat mengganggu

iklim kerjasama dalam kelompok.

b. Ciri utama dari pembelajaran kooperatif adalah bahwa setiap siswa saling

membelajarkan.

c. Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif kepada hasil

kelompok, namun guru perlu menyadari bahwa hasil atau presentasi yang

diharapkan sebenarnya adalah hasil atau presentasi setiap individu siswa.

d. Keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan

kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yangcukup panjang,

dan ini tidak mungkin dicapai hanya dalam waktu satu atau beberapa kali

(24)

18

Lie (2002) menambahkan bahwa metode kerja kelompok sering dianggap

kurang efektif. Berbagai sikap, kesan negatif memang bermunculan dalam

pelaksanaan metode kerja kelompok. Jika kerja kelompok itu tidak berhasil,

siswa cendrung saling menyalahkan. Sebaliknya jika berhasil, muncul perasaan

tidak adil. Siswa yang merasa pada dan rajin merasa rekannya yang kurang

mampu telah membonceng pada hasil kerja mereka. Akibatnya metode

pembelajaran kooperatif yang seharusnya bertujuan mulia yaitu menanamkan

rasa persaudaraan dan kemampuan bekerjasama, justru bisa berakhir dengan

ketidak puasan dan kekecewaan.

Beberapa model cooperative learning informal yang telah dikembangkan

oleh para ahli diantaranya adalah TPS (Think, Pair, Share). Model pembelajaran TPS

dikembangkan oleh Frank Lyman merupakan model pembelajaran kooperatif yang

sederhana. Sebagaimana namanya, model pembelajaran kooperatif tipe TPS

memiliki tiga tahapan utama yaitu mengarahkan siswa untuk berpikir dalam

menyelesaikan masalah (Think), kemudian mendiskusikan hasil pemikirannya

secara berpasangan (Pair), dan akhirnya menyampaikan hasil diskusi untuk

disepakati dalam forum kelas (Share) (Slavin, 2005). Arends & Kilcher (2010)

menyatakan bahwa dalam TPS , guru mengajukan sebuah pertanyaan, kemudian

tiap siswa memikirkan dan merekam jawabannya, selanjutnya setiap siswa

berpasangan dengan siswa lainnya untuk berbagi jawaban, dan terakhir guru

(25)

19

kelompok yang lebih besar. Secara detail, model pembelajaran kooperatif TPS

dilaksanakan melalui tahapan berikut (Arends, 2008).

a. Thinking (Berpikir)

Pada tahapan ini, pembelajaran diawali dengan pengajuan pertanyaan atau

pokok persoalan yang berkaitan dengan materi oleh guru. Selanjutnya guru

meminta berpikir secara mandiri untuk menemukan jawaban dari pertanyaan

yang diajukan. Pada tahapan ini siswa tidak diperkenankan berdiskusi atau

bertanya dengan siswa lain.

b. Pairing (Berpasangan)

Pada tahap ini guru meminta siswa untuk berdiskusi dengan pasangannya

mengenai jawaban yang telah mereka peroleh pada tahapan think. Pada

tahapan ini siswa dapat membandingkan jawabannya dengan pasangannya, jika

terdapat perbedaan jawaban, siswa diminta membuat kesepakatan untuk

menentukan jawaban mana yang paling benar.

c. Sharing (berbagi)

Pada tahapan ini, guru meminta beberapa pasangan untuk membagi atau

membandingkan jawaban mereka dengan pasangan atau kelompok lain.

Selanjutnya guru akan menunjuk salah satu pasangan untuk

mempresentasikan hasil diskusi mereka. Kemudian jika memungkinkan secara

bergiliran guru menunjuk kelompok lain untuk mempresentasikan hasil

(26)

20

Eggen & Kauchak (2012) menjelaskan bahwa model pembelajaran TPS

efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran karena tiga alasan berikut: a)

strategi ini mengundang respon dari semua orang di dalam kelas dan

menempatkan semua siswa dalam peran-peran yang aktif; b) menghindari ke e deru ga ada ya pe u pa g gratisa dala kelo pok elajar, kare a

setiap anggota dari pasangan dituntut untuk berpartisipasi; dan c) strategi ini

mudah direncanakan dan di terapkan. Arends (2008) juga mengungkapkan bahwa

model pembelajaran TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi

suasana pola diskusi kelas, dengan asumsi bahwa semua diskusi membutuhkan

pengelolaan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur dalam

TPS dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir untuk merespon dan saling

membantu. Dengan demikian, model pembelajaran TPS merupakan cara yang

efektif dalam meningkatkan keaktifan dan respon siswa di kelas.

4. Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang bertujuan membantu

siswa dalam mengaitkan makna pelajaran secara tepat melalui delapan komponen,

yaitu, keterkaitan yang bermakna, pekerjaan yang berarti, pengaturan diri, kerja

sama, berpikir kritis dan kreatif, menumbuhkembangkan individu dan penilaian

autentik (Johnson, 2010). Dengan pendekatan kontekstual siswa ditawarkan

dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran

menjadi lebih konkret dan mudah dipahami. Dengan demikian, pendekatan

(27)

21

Born dan De Stefano (Kurniawan, 2010) mengemukakan aktivitas

pembelajaran kontekstual yang meliputi:

a. Belajar berbasis masalah: pembelajaran diawali dengan penyajian

masalah kontekstual yang menantang untuk memperoleh pemahaman

konsep dan kemampuan matematik lainnya

b. Belajar dengan multi kompleks: pembelajaran dilaksanakan sesuai

dengan keadaan kondisi sehari-hari atau disimulasikan dan familiar,

sehingga pengetahuan yang didapat dari sekolah dapat diaplikasikan di

tempat kerja, di rumah, atau di lingkungan masyarakatnya.

c. Belajar mandiri: siswa didorong untuk memiliki kesadaran berpikir,

dapat memilih strategi sendiri, dan memelihara motivasi.

d. Penilaian otentik: penilaian terhadap produk dan proses pembelajaran.

e. Masyarakat belajar: belajar berlangsung dalam suatu komunitas belajar

yang saling memberi, menerima, dan saling menghargai pendapat orang

lain.

Pendekatan kontekstual menjadikan siswa berhadapan dengan

persoalan-persoalan penting dan menantang di dunia nyata yang memiliki makna bagi mereka

(Johnson, 2010). Pada waktu bersamaan, mereka mengembangkan kemampuan

merencanakan, memecahkan masalah, memimpin, memberikan presentasi pada

masyarakat umum, dan menerima tanggung jawab. Terlihat jelas bahwa dengan

mengetahui apa manfaat atau kegunaan dari materi yang dipelajari siswa membuat

(28)

22

apabila siswa mengetahui manfaat atau kegunaan dari apa yang kita pelajari.

Sehingga dengan bersemangatnya siswa belajar akan berdampak positif terhadap

motivasi dan prestasi belajarnya.

5. Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS dengan Pendekatan Kontekstual

Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan model pembelajaran yang

menekankan kepada manajemen siswa di kelas secara efektif dengan tiga tahapan

utama, yaitu berpikir, berpasangan dan berbagi. Sedangkan pembelajaran

kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada konten

materi yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari agar siswa memperoleh

pembelajaran yang bermakna. Dengan demikian, pembelajaran kooperatif tipe TPS

dengan pendekatan kontekstual adalah model pembelajaran yang terdiri dari

tahapan berpikir, berpasangan dan berbagi dan dibingkai dalam suasana

pembelajaran bermakna melalui pengaitan konten materi dalam kehidupan

sehari-hari. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan

kontekstual adalah sebagai berikut.

a. Menyajikan permasalahan yang kontekstual

b. Menyajikan materi secara umum

c. Mengarahkan siswa berpikir mandiri menyelesaikan permasalahan

d. Mengarahkan siswa berdiskusi secara berpasangan terkait solusi

permasalahan

e. Menyampaikan hasil diskusi berpasangan ke forum kelas

(29)

23 B. Penelitian yang Relevan

1. Penelitian Davi (2012) menemukan bahwa pembelajaran kontekstual dapat

meningkatkan motivasi belajar siswa VIII-B SMP Negeri 10 Malang.

2. Penelitian Kurniawan dan Istiningrum (2012) menyimpulkan bahwa model

pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan

motivasi belajar Akuntansi siswa kelas X Akuntansi 2 SMK Negeri 7

Yogyakarta.

C. Kerangka Pikir

Motivasi memainkan peran yang besar bagi seseorang dalam

mengembangkan kompetensi dan beradaptasi dengan lingkungan. Dalam konteks

pembelajaran, motivasi merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam belajar.

Namun kenyataannya, terdapat 57,10% siswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah 2

Depok yang masih tergolong siswa dengan motivasi sedang. Selain itu, masih

terdapat 10,7% siswa yang motivasinya berada pada kategori rendah.

Pembelajaran Matematika di sekolah pun masih cenderung teacher oriented,

dominan menggunakan metode ceramah dan tidak ada variasi model pembelajaran

yang diterapkan di kelas. Hal ini mengakibatkan siswa merasa bosan dan kehilangan

motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, perlu diterapkan model atau pendekatan

pembelajaran yang bersifat student oriented dan konstruktivistik serta mampu

(30)

24

Diantara model pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi belajar

siswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan

kontektstual. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan

kontekstual adalah model pembelajaran yang terdiri dari tahapan berpikir,

berpasangan dan berbagi dan dibingkai dalam suasana pembelajaran bermakna

melalui pengaitan konten materi dalam kehidupan sehari-hari. Dinamika kelas

melalui pembelajaran kooperatif dan kebermaknaan pembelajaran lewat konteks

diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

(31)

25 D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian yang relevan, maka hipotesis

tindakan pada penelitian ini adalah: Motivasi belajar dapat meningkat dengan

menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan

(32)

26 BAB III

DESAIN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan empat tahapan,

yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observing) dan refleksi

(refelcting). Model penelitian tindakan yang digunakan adalah model spiral sebagai

berikut (Kemmis & McTaggart dalam Hopkins, 2008).

Gambar 2

Model Penelitian Tindakan: Model Spiral (Kemmis & McTaggart dalam Hopkins, 2008)

Siklus 1

(33)

27 B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan selama bulan Oktober hingga November 2016 dengan

rincian jadwal sebagai berikut.

Tabel 2. Jadwal Penelitian Tindakan

NO AGENDA HARI/TANGGAL JUMLAH

JP 1 Pengisian angket motivasi dan

observasi awal

Sabtu, 24 September 2016 1

2 Pretest siklus I Sabtu, 29 Oktober 2016 1

3 Siklus I pertemuan 1 Selasa, 1 November 2016 3

4 Siklus I pertemuan 2 Sabtu, 5 November 2016 2

5 Siklus I pertemuan 3 Selasa, 8 November 2016 3 6 Post test siklus I, pre test siklus II

dan pengisian angket motivasi siklus I

Selasa, 22 November 2016 2

Penelitian dilakukan di SMP Muhammadiyah 2 Depok yang terletak di jalan

Swadaya IV Kelurahan Condongcatur Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Provinsi

DIY. SMP Muhammadiyah 2 Depok merupakan sekolah swasta yang terakreditasi A

dengan jumlah siswa 222 siswa (82 siswa kelas VII, 93 siswa kelas VIII dan 47 siswa

kelas IX). Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 2006 (KTSP).

C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMP Muhammadiyah 2 Depok

(34)

28

16 orang laki-laki dan 14 orang perempuan. Berdasarkan hasil pengisian angket

motivasi, rata-rata motivasi siswa berada pada kategori sedang dan masih ada siswa

yang motivasinya rendah.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian dilakukan dalam beberapa siklus pembelajaran dengan

memperhatikan ketercapaian target penelitian. Deskripsi kegiatan pada tiap siklus

dijelaskan sebagai berikut

1.Planning

(Perencanaan)

: Pada tahapan ini disusun rencana tindakan dengan rincian

sebagai berikut.

a.Observasi lokasi dan subyek penelitian

b.Konsultasi dengan guru mata pelajaran terkait jadwal

dan KD yang akan digunakan untuk penelitian

c.Penyusunan perangkat pembelajaran meliputi Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dirancang

berdasarkan karakteristik dan sintaks model

pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan

kontekstual; Lembar Kegiatan Siswa (LKS); media atau

alat peraga yang diperlukan dalam pembelajaran seperti

slide Powerpoint; dan instrumen untuk pretes dan

(35)

29 2.Action

(Tindakan)

: Pada tahapan ini tindakan yang telah dirancang pada tahap

perencanaan akan diterapkan dalam pembelajaran di

kelas, yakni pembelajaran Matematika dengan

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS

dengan pendekatan kontekstual meliputi semua

perangkat yang telah disediakan. Tindakan dilakukan oleh

peneliti. Sebelum melakukan tindakan, siswa diminta

mengerjakan soal prestes.

3.Observing

(Pengamatan)

: Pada tahapan ini, dilakukan pengamatan selama proses

pembelajaran hingga penilaian. Kegiatan pengamatan

menggunakan lembar keterlaksanaan pembelajaran yang

telah dirancang sebelumnya. Pengamat adalah guru mata

pelajaran. Setelah satu siklus pembelajaran berakhir, siswa

diminta mengerjakan soal postes dan mengisi angket

motivasi.

4.Reflecting

(Refleksi)

: Pada tahapan ini, data yang diperoleh dari lembar

keterlaksanaan pembelajaran, instrumen postes dan

angket motivasi selama satu siklus pembelajaran

dideskripsikan dan dianalisis. Deskripsi meliputi

persentase keterlaksanaan pembelajaran baik guru

(36)

30

persentase motivasi siswa pada setiap kategorinya.

Analisis berkaitan dengan capaian target indikator

keberhasilan tindakan, hal-hal yang menjadi

kekurangan/hambatan, faktor-faktor penyebab; solusi dan

rencana strategis ke depannya. Jika target belum tercapai,

maka hasil refleksi pada siklus satu akan dijadikan acuan

untuk merencanakan tindakan pada siklus berikutnya.

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes dan non tes.

Teknik tes digunakan untuk menilai ketuntasan belajar Matematika siswa dari segi

kognitif pada setiap siklus. Instrumen yang digunakan pada teknik tes adalah tes

ulangan harian. Teknik non tes digunakan untuk mengetahui motivasi siswa dan

keterlaksanaan dalam proses dalam pembelajaran Matematika. Instrumen yang

digunakan pada teknik non tes adalah angket motivasi dan lembar observasi

keterlaksanaan pembelajaran. Instrumen pengumpulan data dijelaskan sebagai

berikut.

1. Tes Ulangan Harian

Tes ulangan harian disusun berdasarkan indikator yang dijabarkan dari

kompetensi dasar (KD) pada setiap siklus. Bentuk tes berupa pilihan ganda dengan

jumlah butir soal menyesuaikan cakupan KD yang diajarkan. Kisi-kisi pengembangan

(37)

31

Namun sebelum siklus juga siswa diberikan pretes untuk mengetahui penguasaan

siswa terhadap kompetensi yang akan diajarkan. Soal pretes dan postes (ulangan

harian) dibuat sama.

2. Angket Motivasi

Angket motivasi yang digunakan mengadopsi angket yang dikembangkan

oleh Githua, dimana motivasi terdiri dari empat aspek, yaitu interest, relevance,

perceived probability of success, dan satisfaction (Githua & Mwangi, 2003). Butir

pernyataan sebanyak 26 butir dengan menggunakan skala Likert. Angket motivasi

terlampir. Angket motivasi diberikan kepada siswa di awal penelitian dan di setiap

akhir siklus tindakan.

3. Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran

Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran disusun berdasarkan

karakteristik dan sintaks model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan

pendekatan kontekstual yang telah dikembangkan dalam RPP. Pada siklus 1, lembar

observasi tidak memisahkan antara kegiatan guru dan siswa. Pada siklus 2, lembar

observasi direvisi sehingga terdiri dari dua bagian, yaitu bagian keterlaksanaan

kegiatan guru dan bagian keterlaksanaan kegiatan siswa. Penilaian keterlaksanaan pe elajara e ggu aka dua skala yaitu ya da tidak . Le ar o ser asi

terlampir. Lembar observasi diisi ketika proses pembelajaran di setiap siklus

(38)

32 F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Penjelasana teknik

analisis secara rinci dijelaskan sebagai berikut.

1. Analisis Motivasi Siswa

Data yang diperoleh dari angket motivasi siswa diberi skor berdasarkan

pedoman penskoran sebagai berikut.

Tabel 3. Pedoman Penskoran Angket Motivasi

Pernyataan Skor

SS S R TS STS

Positif 5 4 3 2 1

Negatif 1 2 3 4 5

Selanjutnya skor setiap butir dijumlahkan sehingga diperoleh skor motivasi setiap

siswa. Skor tersebut kemudian dikonversi menjadi suatu kriteria dengan skala

tertentu yang diadaptasi dari Ebel dan Frisbie (1991).

Tabel 4. Pedoman Konversi Skor Terhadap Kriteria

Interval Skor Kriteria

�� + ,5�� < � Sangat Tinggi �� + ,5�� < � �� + ,5�� Tinggi �� − ,5�� < � �� + ,5�� Sedang �� − ,5�� < � �� − ,5�� Rendah

� �� − ,5�� Sangat Rendah

Keterangan

� : skor empiris

�� : rata-rata ideal = (skor maksimum ideal + skor minimum ideal)

(39)

33

Butir pernyataan angket sebanyak 26 butir dengan skor maksimum tiap

butir adalah 5 dan skor minimumnya adalah 1. Dengan demikian diperoleh konversi

skor motivasi siswa menjadi kriteria sebagai berikut.

Tabel 5. Interval Skor Kriteria Motivasi Siswa

Interval Skor Kriteria 104 < X Sangat Tinggi , < X Tinggi

, < X , Sedang < X , Rendah

X Sangat Rendah

Selanjutnya siswa dikelompokkan berdasarkan kategori motivasi dan dihitung

persentasenya dengan rumus sebagai berikut.

�� % =Banyak siswa keseluruhan ×Banyak siswa pada �� %

Keterangan:

�� : kategori motivasi (sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah)

2. Analisis Ketuntasan Belajar Siswa

Analisis ketuntasan belajar siswa dilakukan berdasarkan skor ulangan harian

siswa yang berupa soal pilihan ganda. Total skor menyesuaikan dengan banyak butir

soal, di mana tiap butir soal diberi skor 1 untuk jawaban benar dan skor 0 untuk

jawaban salah atau tidak menjawab. Selanjutnya total skor dikonversi ke interval

0-100 dengan rumus sebagai berikut.

(40)

34

Selanjutnya nilai yang diperoleh dikonversi ke kriteria ketuntasan belajar

siswa secara individu. Siswa dinyatakan tuntas jika telah mencapai KKM, yaitu

minimal 70. Setelah diperoleh informasi ketuntasan belajar siswa secara individu,

selanjutnya akan dianalisis ketuntasan belajar secara klasikal. Ketuntasan klasikal

diperoleh dengan rumus sebagai berikut.

Ketuntasan Klasikal =Banyak siswa yang mencapai KKM Banyak siswa keseluruhan 7 × %

Kriteria suatu pembelajaran tuntas secara klasikal sehingga dapat melanjutkan

pembelajaran ke KD berikutnya adalah jika minimal 80% siswa mencapai KKM atau

tuntas secara individu.

3. Analisis Keterlaksanaan Pembelajaran

Analisis keterlaksanaan pembelajaran dilakukan berdasarkan total item

kegiatan yang terlaksana dalam proses pembelajaran yang direncanakan. Total

item kegiatan yang terlaksana diperoleh melalui proses observasi selama kegiatan

pembelajaran berlangsung. Item kegiatan ini mencakup kegiatan siswa dan guru

yang dianalisis secara masing-masing. Setelah memperoleh total item kegiatan

yang terlaksana, selanjutnya dihitung persentase keterlaksanaan pembelajaran

(41)

35

Keterlaksanaan pembelajaran % =Total item kegiatan yang terlaksanaTotal item kegiatan keseluruhan × %

Adapun target keterlaksanaan pembelajaran pada penelitian ini adalah minimal

80% dari total item kegiatan pembelajaran keseluruhan.

Selain itu, analisis data juga dilakukan dengan cara melakukan rekapitulasi

hasil evaluasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan selama proses

penelitian. Hasil rekapitulasi tersebut digunakan untuk mengungkap faktor-faktor

yang berkaitan pencapaian target pada tiap siklus. Bagian ini akan dibahas lebih

mendalam pada tahapan refleksi.

G. Indikator Ketercapaian Peningkatan Motivasi dan Kualitas Pembelajaran

Rangkuman indikator ketercapaian peningkatan motivasi siswa dan kualitas

pembelajaran dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 6. Indikator Ketercapaian Peningkatan Motivasi dan Kualitas Pembelajaran

Variabel Interval Kriteria Kondisi Awal Target

Motivasi

104 < X Sangat Tinggi 3,57% 10%

, < X Tinggi 28,60% 50%

, < X , Sedang 57,10% 36%

< X , Rendah 10,70% 4%

X

Sangat

Rendah 0% 0%

Rata-rata 82,39 (Sedang) Tinggi

Kognitif KKM tercapai 0% 80%

Rata-rata 33,4

Proses

Pembelajaran < 80% %

(42)

36 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Siklus 1

a. Perencanaan

Berdasarkan hasil survey dan observasi di kelas penelitian, siklus 1

dirancang sebanyak 4 pertemuan dengan alokasi waktu 10 jam pelajaran (JP). 3

pertemuan (8 JP) digunakan untuk pembelajaran dan 1 pertemuan (2 JP) untuk

pelaksanaan ulangan harian dan pengisian angket motivasi siklus 1. Standar

kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) dipilih berdasarkan kelanjutan dari

pembelajaran sebelumnya, yaitu SK tentang memahami bentuk aljabar, persamaan

dan pertidaksamaan linear satu variabel; dengan KD yang ingin dicapai adalah

menyelesaikan persamaan linier satu variabel. Selanjutnya KD tersebut

dikembangkan menjadi 12 indikator pencapaian kompetensi yang menjadi

panduan dalam mengembangkan RPP, LKS dan soal ulangan harian (terlampir).

Khusus soal ulangan harian mengalami perbaikan setelah diberikan pada saat

pretes. Selain itu, peneliti juga menyiapkan apersepsi dan ringkasan dalam bentuk

slide power point sebagai pengantar materi. Semua perangkat pembelajaran

dikembangkan berdasarkan karakteristik dan sintaks model pembelajaran

kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual.

(43)

37

Rancangan tindakan di atas dilaksanakan tepat sebanyak 4 pertemuan

sebagaimana yang dirincikan sebelumnya. Peneliti berperan sebagai guru yang

mengajar, sedangkan guru mata pelajaran yang sebenarnya berperan sebagai

obsever. Adapun rincian tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1) Pertemuan 1

Pertemuan pertama dilakukan selama 3 JP (3 x 40 menit) namun ada

jeda istirahat selama 20 menit. Materi yang diajarkan adalah tentang

kalimat terbuka dan pernyataan serta persamaan dan sifatnya. Pada

awal pembelajaran guru mengucapkan salam. Kemudian guru

meminta ketua kelas untuk e i pi do’a se elu e ulai kegiata pe elajara . “etelah erdo’a, guru menanyakan

ketidakhadiran siswa sekaligus mengondisikan perhatian siswa untuk

belajar. Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan mengajukan

pertanyaan untuk mengingatkan siswa kembali tentang materi yang

dipelajari sebelumnya yaitu bentuk aljabar. Guru mengajukan

pertanyaan berupa Siapa yang bisa memberikan contoh bentuk alja ar? lalu e erapa sis a e ye utka o toh ya da guru

menuliskannya di papan tulis. Contoh bentuk aljabar yang disebutkan

oleh beberapa siswa tadi kemudian dikonfirmasi kepada siswa lainnya

terkait kebenarannya. Selanjutnya, guru mengajukan pertanyaan

berupa Dari bentuk aljabar tersebut, manakah yang disebut variabel,

(44)

38

bentuk aljabar di papan tulis kemudian guru mengkonfirmasi kembali

jawabannya kepada siswa yang lain. Selanjutnya, guru menuliskan

beberapa operasi bentuk aljabar dan meminta mereka untuk

menentukan hasil operasinya. Setelah dianggap sebagian besar siswa

telah memahami materi sebelumnya, guru menjelaskan tujuan

pembelajaran, cakupan materi, dan langkah-langkah pembelajaran .

Selanjutnya, guru membagikan LKS yang berisi materi yang relevan, lalu

meminta siswa untuk mencantumkan identitas mereka pada bagian

yang disediakan. Pada bagian pertama LKS, telah disajikan

permasalahan kontekstual, di mana siswa diminta untuk

mencermatinya. Kemudian guru memberikan penjelasan secara umum

tentang materi yang dipelajari. Pada bagian ini waktu yang digunakan

cukup lama, sehingga kegiatan siswa mengerjakan LKS belum optimal

dan diskusi secara berpasangan pun belum bisa berjalan. Selanjutnya

guru meminta siswa untuk menyampaikan hasil pekerjaannya di depan

kelas dan siswa lainnya memberikan tanggapan, pertanyaan atau

koreksi. Beberapa siswa menyampaikan hasil pekerjaannya dan siswa

lainnya memberikan tanggapan.

Karena waktu yang hampir habis, akhirnya guru langsung melakukan

refleksi terhadap pembelajaran dan memberikan beberapa tanggapan

dari proses pembelajaran. Selanjutnya guru memberikan penjelasan

(45)

39

meminta ketua kelas untuk memimpin berdoa untuk menutup

pembelajaran.

2) Pertemuan 2

Pertemuan kedua dilakukan selama 2 JP (2 x 40 menit). Materi yang

diajarkan adalah tentang persamaan linier satu variabel dan

penyelesaiannya. Pada awal pembelajaran guru mengucapkan salam. Ke udia guru e i ta ketua kelas u tuk e i pi do’a se elu

memulai kegiatan pembelajaran. Setelah erdo’a, guru e ge ek kehadiran setiap siswa sekaligus mengondisikan perhatian siswa untuk

belajar. Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan mengajukan

pertanyaan untuk mengingatkan siswa kembali tentang materi yang

dipelajari sebelumnya yaitu kalimat terbuka, pernyataan dan persa aa . Guru e gajuka perta yaa erupa “iapa ya g isa e erika o toh kali at ter uka da per yataa ? lalu e erapa

siswa menyebutkan contohnya. Contoh yang disebutkan oleh beberapa

siswa tadi kemudian dikonfirmasi kepada siswa lainnya terkait

kebenarannya. Selanjutnya, guru menuliskan beberapa bentuk aljabar da erta ya Ma akah ya g erupaka persa aa ? lalu e erapa

siswa menjawab dan guru mengkonfirmasi kembali jawabannya kepada

siswa yang lain. Sebelum memasuki pembahasan pertemuan kedua,

guru membahas permasalahan kontekstual pada pertemuan

(46)

40

besar siswa telah memahami materi sebelumnya, guru menjelaskan

cakupan materi dan langkah-langkah pembelajaran berikutnya.

Selanjutnya, guru membagikan LKS yang berisi materi yang relevan, lalu

meminta siswa untuk mencantumkan identitas mereka pada bagian

yang disediakan. Pada bagian pertama LKS, telah disajikan

permasalahan kontekstual, di mana siswa diminta untuk

mencermatinya. Kemudian guru memberikan penjelasan secara umum

tentang materi yang dipelajari lewat media power point. Selanjutnya

siswa diminta mengerjakan kegiatan yang terdapat pada LKS secara

mandiri. Selang beberapa waktu, siswa kemudian diarahkan untuk

berdiskusi dengan teman sebangkunya terkait hasil pekerjaan. Ketika

berdiskusi, guru berkeliling memantau proses diskusi. Selanjutnya, guru

meminta beberapa perwakilan siswa menyampaikan hasil diskusinya

dan siswa lainnya dipersilahkan untuk menanggapi. Setelah semua

bagian LKS diselesaikan, siswa diminta untuk menyelesaikan

permasalahan kontekstual yang disajikan di awal pembelajaran dan

menyajikannya.

Menjelang akhir pembelajaran, guru memberikan penjelasan tentang

materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya lalu meminta

ketua kelas untuk memimpin berdoa untuk menutup pembelajaran.

(47)

41

Pertemuan ketiga dilakukan selama 3 JP (3 x 40 menit) namun ada jeda

istirahat selama 20 menit. Materi yang diajarkan adalah tentang

menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan persamaan linier satu

variabel. Pada awal pembelajaran guru mengucapkan salam. Kemudian guru e i ta ketua kelas u tuk e i pi do’a se elu e ulai kegiata pe elajara . “etelah erdo’a, guru e ge ek kehadira

setiap siswa sekaligus mengondisikan perhatian siswa untuk belajar.

Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan mengajukan

pertanyaan untuk mengingatkan siswa kembali tentang materi yang

dipelajari sebelumnya yaitu persamaan linier satu variabel. Guru

menuliskan beberapa bentuk SPLV dan meminta beberapa siswa

menyelesaikannya. Penyelesaian beberapa siswa tadi kemudian

dikonfirmasi kepada siswa lainnya terkait kebenarannya. Sebelum

memasuki pembahasan pertemuan kedua, guru membahas

permasalahan kontekstual pada pertemuan sebelumnya yang belum

sempat dibahas. Setelah dianggap sebagian besar siswa telah

memahami materi sebelumnya, guru menjelaskan tujuan

pembelajaran, cakupan materi, dan langkah-langkah pembelajaran

berikutnya.

Selanjutnya, guru membagikan LKS yang berisi materi yang relevan, lalu

meminta siswa untuk mencantumkan identitas mereka pada bagian

(48)

42

permasalahan kontekstual, di mana siswa diminta untuk

mencermatinya. Kemudian guru memberikan penjelasan secara umum

tentang materi yang dipelajari lewat media power point. Selanjutnya

siswa diminta mengerjakan kegiatan yang terdapat pada LKS secara

mandiri. Namun selang beberapa waktu, siswa sudah langsung

berdiskusi dengan teman sebangkunya tanpa diarahkan. Ketika

berdiskusi, guru berkeliling memantau proses diskusi. Selanjutnya, guru

meminta beberapa perwakilan siswa menyampaikan hasil diskusinya

dan siswa lainnya dipersilahkan untuk menanggapi. Setelah semua

bagian LKS diselesaikan, siswa diminta untuk menyelesaikan

permasalahan kontekstual yang disajikan di awal pembelajaran dan

menyajikannya.

Menjelang akhir pembelajaran, guru meminta siswa mempersiapkan

diri untuk ulangan harian pada pertemuan berikutnya lalu meminta

ketua kelas untuk memimpin berdoa untuk menutup pembelajaran.

4) Pertemuan 4

Pertemuan keempat dilaksanakan selama 2 JP (2 x 40 menit) untuk

ulangan harian dan mengisi angket motivasi. Sebanyak 30 siswa yang

mengikuti ulangan harian dan pengisian angket pada siklus 1.

(49)

43

Pengamatan mencakup motivasi siswa, ketuntasan belajar siswa dan

keterlaksanaan proses pembelajaran sesuai RPP. Berikut ini adalah rangkuman hasil

pengamatan dari ketiga aspek tersebut.

Tabel 7. Hasil Pengamatan Siklus 1

Variabel Interval Kriteria Siklus 1

Motivasi

Kognitif KKM tercapai 13%

Rata-rata 43,5

Hasil pengamatan yang diperoleh selanjutnya dibandingkan dengan kondisi

awal dan indikator ketercapaian target penelitian.

Tabel 8. Hasil Pengamatan Siklus 1 Dibandingkan dengan Kondisi Awal dan Target

Variabel Interval Kriteria

Kondisi

(Sedang) 79,73 (Sedang) Tinggi

(50)

44

Tabel di atas menunjukkan bahwa motivasi siswa, ketuntasan belajar dan

keterlaksanaan proses pembelajaran belum mencapai target penelitian.

Motivasi belajar siswa di akhir siklus 1 cenderung mengalami penurunan

dari kondisi awal. Hal ini ditunjukkan dari menurunnya rata-rata skor motivasi

siswa; menurunnya persentase siswa pada kategori sangat tinggi, tinggi dan

sedang; dan sebaliknya persentase siswa pada kategori rendah meningkat. Dengan

demikian motivasi siswa pada akhir siklus 1 belum mencapai target penelitian.

Ketuntasan belajar siswa pun belum tercapai, yakni hanya 13% dari 30 siswa

yang berhasil mencapai KKM. Rata-rata nilai ulangan harian siswa pun masih

dibawah 70, yakni 43,5. Hal ini menunjukkan bahwa sejak klasikal pembelajaran

pada KD menyelesaikan persamaan linier satu variabel masih belum tuntas.

Target keterlaksanaan proses pembelajaran pun belum tercapai. Dari 25

item kegiatan pada guru dan siswa, baru 72% untuk kegiatan guru dan 20% kegiatan

siswa yang dinilai berhasil dilaksanakan pada siklus 1. Kegiatan guru dan kegiatan

siswa yang belum terlaksana dengan optimal tersebut dirangkum dalam tabel

berikut.

Tabel 9. Kegiatan Guru yang Belum Terlaksana pada Siklus 1

Kegiatan Guru Refleksi

Memberikan motivasi yang relevan dengan materi yang dipelajari

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi

Mengarahkan siswa berdiskusi berpasangan

(51)

45

Kegiatan Guru Refleksi

Menanggapi hasil penyajian siswa

Waktu pembelajaran yang hampir habis sehingga langsung masuk ke kegiatan penutup

Mengarahkan siswa untuk meringkas, mencatat, menggarisbawahi yang penting dari pembelajaran

Waktu pembelajaran yang hampir habis sehingga langsung masuk ke kegiatan penutup

Melakukan refleksi terhadap pembelajaran

Waktu pembelajaran yang hampir habis sehingga langsung masuk ke kegiatan penutup

Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil belajar

Waktu pembelajaran yang hampir habis sehingga langsung masuk ke kegiatan penutup

Tabel 10. Kegiatan Siswa yang Belum Terlaksana pada Siklus 1

Kegiatan Siswa Refleksi

>80% menjawab salam dengan antusias

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% berdoa dengan khidmat Item kegiatan ini baru ditambahkan

setelah lembar observasi direvisi Semua mengkonfirmasi kehadiran Item kegiatan ini baru ditambahkan

setelah lembar observasi direvisi >80% merespon apersepsi yang

diberikan

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak penyampaian tujuan

pembelajaran dengan perhatian

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak penyampaian

motivasi dengan perhatian

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak penyampaian

cakupan materi

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak penyampaian

langkah-langkah pembelajaran dengan perhatian

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi

>80% menyimak permasalahan kontekstual yang disajikan dengan perhatian

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi

>80% menyimak penjelasan umum tentang materi dengan perhatian

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >10% menanyakan hal yang sulit

kepada guru

(52)

46

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak tanggapan guru

dengan perhatian

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% meringkas, mencatat,

menggarisbawahi hal penting dari pembelajaran

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi

>80% merespon refleksi yang dilakukan guru

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak umpan balik dari

guru dengan perhatian

Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% mencatat PR yang diberikan Item kegiatan ini baru ditambahkan

setelah lembar observasi direvisi >80% mengafirmasi permintaan guru Item kegiatan ini baru ditambahkan

setelah lembar observasi direvisi >80% berdoa dengan khidmat Item kegiatan ini baru ditambahkan

setelah lembar observasi direvisi

Berdasarkan keterlaksanaan kegiatan pembelajaran di atas, terdapat

beberapa kondisi riil dan hambatan dalam proses pembelajaran siklus 1 sebagai

berikut.

1) Sintaks TPS belum berjalan

2) Pendekatan Kontekstual belum berjalan

3) Siswa kesulitan memahami LKS dan penjelasan guru

4) Pasangan yang terbentuk kemampuannya tidak saling melengkapi. Ada

pasangan yang pintar semua dan pasangan yang kurang pintar semua

5) Manajemen waktu masih kurang sehingga ada kegiatan yang tidak

(53)

47

6) RPP belum dikuasai sepenuhnya sehingga beberapa kegiatan lupa

dilaksanakan

Dari ketercapaian motivasi, ketuntasan belajar, keterlaksanaan pembelajaran,

kondisi riil dan kekurangan tersebut, maka perlu dilakukan siklus 2 dengan

beberapa rencana strategis sebagai berikut.

1) Menambah bantuan langkah-langkah dalam LKS

2) Mengondisikan pasangan belajar sebelum pembelajaran dimulai oleh

guru

3) Mengatur penggunaan waktu lebih ketat

4) Mengoptimalkan media power point untuk penjelasan materi di awal

5) Guru mempelajari RPP sebelum mengajar agar lebih menguasai dan

memahami proses pembelajaran

2. Siklus 2

a. Perencanaan

Berdasarkan hasil refleksi siklus 1, siklus 2 dirancang sebanyak 3 pertemuan

dengan alokasi waktu 8 jam pelajaran (JP). 2 pertemuan (5 JP) digunakan untuk

pembelajaran dan 1 pertemuan (3 JP) untuk pelaksanaan ulangan harian dan

pengisian angket motivasi siklus 2. Kompetensi dasar (KD) yang dipilih adalah

kelanjutan dari pembelajaran sebelumnya, yaitu menyelesaikan pertidaksamaan

linear satu variabel. Selanjutnya KD tersebut dikembangkan menjadi 10 indikator

pencapaian kompetensi yang menjadi panduan dalam mengembangkan RPP, LKS

(54)

48

operasional dengan langkah-langkah yang lebih rinci. Soal ulangan harian

mengalami perbaikan setelah diberikan pada saat pretes. Selain itu, posisi duduk

siswa telah diatur ulang sesuai dengan kemampuan Matematika agar dapat saling

membantu dalam proses sharing.

b. Tindakan

Rancangan tindakan di atas dilaksanakan tepat sebanyak 3 pertemuan

sebagaimana yang dirincikan sebelumnya. Peneliti berperan sebagai guru yang

mengajar, sedangkan guru mata pelajaran yang sebenarnya berperan sebagai

obsever. Adapun rincian tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut.

1) Pertemuan 1

Pertemuan pertama dilakukan selama 3 JP (3 x 40 menit) namun ada

jeda istirahat selama 20 menit. Materi yang diajarkan adalah

pertidaksamaan linier satu variabel dan sifatnya. Pada awal

pembelajaran guru mengucapkan salam. Kemudian guru meminta ketua kelas u tuk e i pi do’a se elu e ulai kegiatan pe elajara . “etelah erdo’a, guru e gecek kehadiran siswa

sekaligus mengondisikan perhatian siswa untuk belajar. Selanjutnya

guru melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan tentang

operasi aljabar, sifat persamaan dan penyelesaian persamaan. Pada

bagian ini cukup lama guru memberikan waktu karena pada ulangan

harian siklus 1 masih banyak siswa yang belum tuntas. Selanjutnya, guru

Gambar

Tabel 1. Kondisi Awal Motivasi Siswa Kelas VII B SMP Muhammadiyah 2 Depok
Gambar 1
Gambar 2 Model Penelitian Tindakan: Model Spiral
Tabel 2. Jadwal Penelitian Tindakan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Berita Acara Hasil Pengadaan Langsung Nomor 50e/BAHPL/Pj/BPAD/2014 tanggal 16 April 2014 dan Penetapan Penyedia Nomor 52f/PP/Pj/BPAD/2014 tanggal 17 April 2014 kami

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Departemen Pendidikan Kimia.

Melalui surat ini perkenankan kami D‟ART BEAT, selaku produser Drama Musikal PUTIH HITAM LASEM mengajukan proposal sponsorship dalam rangka dipentaskan kembali

jika diperhatikan pada tabel – tabel sebelumnya tentang perolehan dan pertumbuhan laba yang mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun pada bank – bank.

Hal ini terjadi karena dengan metode diskusi, setiap kelompok diberi masalah yang harus diselesaikan .Namun hasilnya belum optimal karena pada siklus 1 belum

Masing-masing umur telur terdiri dari 30 butir telur tetas, yang digunakan untuk pengamatan berat telur, indeks bentuk telur, kedalaman kantung udara, ketebalan kerabang,

Pengantar tugas akhir ini berjudul Perancangan Visual Branding Grup Band “Holy Spirit”. Adapun permasalahan yang dikaji adalah merancang promosi “Holy Spirit” agar lebih di

Makna Nilai-nilai Pendidikan karakter pada Materi Ajar Seribu Pena Bahasa Indonesia Untuk SMA/MA Kelas XII Terbitan Erlangga Tahun 2009 ... Makna