MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS DENGAN
PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI SMP MUHAMMADIYAH 2 DEPOK
Oleh: ANWARIL HAMIDY NIM. 15709251018
Dosen Pengampu: Dr. Jailani, M.Pd.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCASARJANA
ii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... v
DAFTAR LAMPIRAN ... vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Diagnosis Masalah ... 4
C. Rumusan Masalah ... 5
D. Tujuan Penelitian ... 5
E. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori ... 7
1. Motivasi Belajar ... 7
2. Pembelajaran ... 12
3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS ... 13
4. Pembelajaran Kontekstual ... 20
5. Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS dengan Pendekatan Kontekstual ... 22
B. Kajian Penelitian yang Relevan ... 23
iii
D. Hipotesis Tindakan ... 25
BAB III DESAIN PENELITIAN TINDAKAN KELAS A. Jenis dan Desain Penelitian ... 26
B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 27
C. Subyek Penelitian ... 27
D. Prosedur Penelitian ... 28
E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 30
F. Teknik Analisis Data ... 32
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 36
1. Siklus 1 ... 36
2. Siklus 2 ... 47
B. Pembahasan ... 56
C. Keterbatasan Penelitian ... 64
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 65
B. Saran ... 66
DAFTAR PUSTAKA ... 67
iv DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kondisi Awal Motivasi Siswa Kelas VII B
SMP Muhammadiyah 2 Depok ... 2
Tabel 2. Jadwal Penelitian Tindakan ... 27
Tabel 3. Pedoman Penskoran Angket ... 32
Tabel 4. Pedoman Konversi Skor terhadap Kriteria ... 32
Tabel 5. Interval Skor Kriteria Motivasi ... 32
Tabel 6. Indikator Ketercapaian Peningkatan Motivasi dan Kualitas Pembelajaran ... 35
Tabel 7. Hasil Pengamatan Siklus 1 ... 43
Tabel 8. Hasil Pengamatan Siklus 1 Dibandingkan dengan Kondisi Awal dan Target ... 43
Tabel 9. Kegiatan Guru yang Belum Terlaksana pada Siklus 1 ... 44
Tabel 10. Kegiatan Siswa yang Belum Terlaksana pada Siklus 1 ... 45
Tabel 11. Hasil Pengamatan Siklus 2 ... 52
Tabel 12. Hasil Pengamatan Siklus 2 Dibandingkan dengan Siklus 1, Kondisi Awal dan Target ... 53
Tabel 13. Kegiatan Guru yang Belum Terlaksana pada Siklus 2 ... 54
v DAFTAR GAMBAR
vi LAMPIRAN
Lampiran 1 Angket Motivasi Siswa ... 71
Lampiran 2 Perangkat Pembelajaran Siklus 1 a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 75
b. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan 1 ... 82
c. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan 2 ... 87
d. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan 3 ... 93
e. Tes Ulangan Harian ... 101
Lampiran 3 Perangkat Pembelajaran Siklus 2 a. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 111
b. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan 1 ... 115
c. Lembar Kegiatan Siswa Pertemuan 2 ... 122
d. Tes Ulangan Harian ... 128
Lampiran 4 Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran ... 136
Lampiran 5 Data Hasil Angket Motivasi Siswa a. Kondisi Awal ... 141
b. Siklus 1 ... 143
c. Siklus 2 ... 145
Lampiran 6 Hasil Ulangan Harian a. Siklus 1 ... 147
b. Siklus 2 ... 149
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesuksesan dalam pendidikan sering dikaitkan dengan perolehan hasil
belajar dan prestasi belajar yang tinggi. Hal ini mendorong munculnya berbagai
penelitian yang fokus mengungkap berbagai faktor yang memengaruhi hasil dan
prestasi belajar tersebut. Di antara faktor tersebut adalah motivasi belajar. Elliot &
Dweck (2005) menyimpulkan dari berbagai hasil penelitian bahwa motivasi
memainkan peran yang besar bagi seseorang dalam mengembangkan kompetensi
dan beradaptasi dengan lingkungan. Geodenough (Mappaita, 1994) menyatakan
bahwa motivasi merupakan variabel yang sangat penting untuk menentukan
keberhasilan dalam belajar. Seorang peserta didik atau mahasiswa yang gagal
dalam tugas akademisnya disebabkan tidak termotivasi dengan memadai. Selain
itu, Kurikulum 2013 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013
tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa standar proses pembelajaran
memenuhi kriteria diantaranya adalah interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif (Kemendikbud,
2016). Dengan demikian, setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan,
pelaksanaan serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan
2
diantaranya adalah motivasi. Oleh karena itu, pembelajaran yang baik adalah
pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.
Hasil data angket motivasi belajar siswa kelas VII B SMP Muhammadiyah 2
Depok menunjukkan bahwa rata-rata motivasi siswa adalah 82,9 yang termasuk
kategori sedang.
Tabel 1. Kondisi Awal Motivasi Siswa Kelas VII B SMP Muhammadiyah 2 Depok
Variabel Interval Kriteria Persentase
Siswa
Motivasi
104 < X Sangat Tinggi 3,57%
, < X 104 Tinggi 28,60%
, < X , Sedang 57,10%
< X , Rendah 10,70%
X Sangat Rendah 0%
Rata-rata = 82,39 Sedang
Tabel di atas menunjukkan bahwa 57,10% siswa kelas VIIB tergolong siswa dengan
motivasi sedang, sedangkan persentasi siswa dengan motivasi tinggi masih kurang
dari 30%. Selain itu, masih terdapat 10,7% siswa yang motivasinya berada pada
kategori rendah. Kondisi ini masih perlu ditingkatkan lagi agar memberikan dampak
yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Diantara upaya meningkatkan
motivasi belajar siswa tersebut adalah melalui penerapan model pembelajaran
yang tepat.
Di satu sisi, pembelajaran Matematika di sekolah masih cenderung teacher
oriented dan dominan menggunakan metode ceramah. Banyaknya siswa dalam
satu kelas yang cukup besar, yakni sekitar 30 orang tentunya tidak memungkinkan
3
belajar melalui metode ceramah. Hal ini mengakibatkan siswa cenderung pasif dan
merasa bosan selama pembelajaran.
Selain itu, berbagai teori dan model pembelajaran dalam Matematika
belum dioptimalkan untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Guru
cenderung mengajar dengan metode ceramah dengan alasan lebih mudah dalam
persiapan dan penerapannya. Tidak adanya variasi dalam pembelajaran
mengakibatkan siswa jenuh dalam belajar. Hal ini akan berdampak kepada kualitas
pembelajaran dan output yang diharapkan, baik dari segi afektif, kognitif maupun
psikomotorik. Dengan demikian diperlukan suatu model atau pendekatan
pembelajaran yang bersifat student oriented dan konstruktivistik serta mampu
meningkatkan motivasi siswa.
Diantara pendekatan pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi
belajar siswa adalah pembelajaran kontektstual. Pembelajaran kontekstual adalah
pembelajaran yang bertujuan membantu siswa dalam mengaitkan makna pelajaran
secara tepat melalui delapan komponen, yaitu, keterkaitan yang bermakna,
pekerjaan yang berarti, pengaturan diri, kerja sama, berpikir kritis dan kreatif,
menumbuhkembangkan individu dan penilaian autentik (Johnson, 2010).
Penelitian Davi (2012) menemukan bahwa pembelajaran kontekstual dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa VIII-B SMP Negeri 10 Malang. Hal ini sejalan
dengan pernyataan Frankl bahwa pencarian makna merupakan motivasi utama
dalam hidup manusia (Johnson, 2010); sehingga pembelajaran kontekstual dapat
4
Selain materi pembelajaran yang kontekstual, manajemen kelas juga perlu
dikelola dengan baik agar mengoptimalkan proses pembelajaran yang memotivasi
siswa. Salah satu manajemen kelas yang memotivasi adalah model pembelajaran
kooperatif tipe TPS (Think, Pair, Share). Pembelajaran kooperatif tipe TPS
merupakan model pembelajaran yang memiliki tiga tahapan utama yaitu
mengarahkan siswa untuk berpikir dalam menyelesaikan masalah (Think),
kemudian mendiskusikan hasil pemikirannya secara berpasangan (Pair), dan
akhirnya menyampaikan hasil diskusi untuk disepakati dalam forum kelas (Share)
(Slavin, 2005). Penelitian Kurniawan dan Istiningrum (2012) menyimpulkan bahwa
model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan
motivasi belajar Akuntansi siswa kelas X Akuntansi 2 SMK Negeri 7 Yogyakarta. Hal
ini sejalan dengan model pembelajaran kooperatif pada umumnya yang
mendorong siswa untuk belajar untuk meraih kesuksesan secara berkelompok
(Slavin, 2005).
Berdasarkan paparan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana
meningkatkan kualitas pembelajaran dan motivasi belajar siswa melalui penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual pada
pembelajaran Matematika di kelas VII B SMP Muhammadiyah 2 Depok.
B. Diagnosis Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka diperoleh
5
1. Masih terdapat siswa SMP kelas VII B Muhammadiyah 2 Depok dengan motivasi
rendah.
2. Pembelajaran Matematika masih cenderung teacher oriented.
3. Belum ada variasi model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran di
kelas.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan diagnosis masalah tersebut, rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah: Bagaimana meningkatkan meningkatkan kualitas
pembelajaran dan motivasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual pada pembelajaran
Matematika di kelas VII B SMP Muhammadiyah 2 Depok?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan
motivasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS
dengan pendekatan kontekstual pada pembelajaran Matematika di kelas VII B SMP
Muhammadiyah 2 Depok.
E. Manfaat Penelitian
6
Memberikan kontribusi dalam memperbaiki permasalahan-permasalahan
terkait pembelajaran Matematika, khususnya mengenai peningkatan motivasi
siswa dalam pembelajaran Matematika.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Memberikan pengalaman dalam menyusun penelitian tindakan kelas
sekaligus penerapan model pembelajaran Matematika
b. Bagi Guru
Memberikan wawasan model pembelajaran yang baik dalam meningkatkan
motivasi belajar siswa
c. Bagi Siswa
7 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Motivasi Belajar
Motivasi dikenal dengan beberapa istilah, yaitu desakan atau drive, motif
atau motive, kebutuhan atau need dan keinginan atau wish. Sukmadinata (2009)
berpendapat bahwa kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu disebut
motivasi, yang menunjukkan suatu kondisi dalam diri individu yang mendorong
atau menggerakkan individu tersebut melakukan kegiatan mencapai sesuatu
tujuan. Santrock (2010) berpendapat bahwa motivasi adalah proses yang memberi
semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah
perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Djaali (2008) berpendapat
bahwa motivasi adalah kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri
seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai
suatu tujuan (kebutuhan). Githua & Mwangi (2003) menjelaskan bahwa motivasi
berpengaruh terhadap tujuan, arah dan intensitas suatu perilaku sehingga
berdampak kepada hasil dari suatu pekerjaan yang berbeda-beda. Dalam konteks
pembelajaran, motivasi menjadi penentu terhadap seberapa banyak yang dapat
dipelajari oleh siswa, keterlibatan mereka, proses kognitifnya, pemahamannya
8
Schunk, Pintrich, & Meece (2010: 4) mendefi isika motivation is the
process whereby goal-directed activity is instigated and sustained . Defi isi tersebut menjelaskan bahwa motivasi adalah sebuah proses di mana tujuan
diarahkan kepada aktivitas yang berkelanjutan. Selanjutnya Hudojo (1988)
menyatakan bahwa motivasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan
timbulnya dan berlangsungnya motif. Motif adalah kekuatan pendorong yang ada
dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai
suatu tujuan.
Usaha memiliki makna yang sama dengan motivasi. Seorang individu
yang menunjukkan usaha yang lebih besar dianggap memiliki motivasi,
sedangkan seseorang yang dimotivasi juga akan menunjukkan usaha yang lebih.
Motivasi berasal dari kata motif, yang artinya kekuatan yang berasal dari dalam diri
seseorang, motivasi yang tinggi dari siswa untuk berprestasi dan menghindari
kegagalan akan lebih banyak merespon terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh
guru. Keberhasilan dan penghargaan dari kawan atau dari guru akan memberikan
rasa kepuasan dan mempertinggi rasa kemampuannya. Purwanto (2004)
menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan motif ialah segala sesuatu yang
mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu. Motivasi juga dapat
berfungsi mengaktifkan atau meningkatkan kegiatan. Kegiatan yang tidak
bermotif atau motifnya sangat lemah, akan dikerjakan dengan tidak
sungguhsungguh dan sebaliknya jika motifnya kuat maka akandilakukan dengan
9
Keberhasilan belajar siswa tidak lepas dari faktor motivasi yang
membuat siswa mempelajari apa yang ingin dicapainya. Elliot (2000: 332)
Motivation is defined as an internal state that arouses us to action, pushes us in
particula direction, and keep us engaged in certain activity . Moti asi didefinisikan sebagai suatu keadaan dari dalam yang menggerakkan seseorang
untuk bertindak, mendorong dengan petunjuk khusus, dan menjaga untuk
tetap dalam suatu aktivitas tertentu. Motivasi merupakan bagian penting dalam
struktur psikologi yang mempengaruhi belajar dan perfomance dalam bebeapa cara
yaitu,
a. Moti ation increases an indi idual’s energy and activity level, dalam hal ini motivasi berpengaruh besar terhadap seseorang untuk terlibat dalam
aktivitas tertentu secara intensif atau parsial.
b. Motivation direct an individual toward certain goals, motivasi
mempengaruhi pilihan yang dibuat seseorang untuk mencapai sesuatu yang
diinginkan.
c. Motivation promote initiation of certain activities and persistence in those
activities, motivasi meningkatkan kemungkinan bahwa seseoarang akan
memulai sesuatu dari dirinya, tetapi pada pendirian untuk menghadapi
kesulitan, dan memulai kembali tugas setelah ada gangguan.
d. Motivation affects the learning strategis and cognitive processes an
individual employ, motivasi meningkatkan kemungkinan seseorang untuk
10
serta mencoba untuk mempelajarinya dalam suatu cara lain yang lebih
berarti. Selain itu motivasi juga akan meningkatkan kemungkinan
seorang untuk mencari bantuan ketika sedang menghadapi kesulitan.
Ormrod : e jelaska ah a motivation is something that
energizes, directs, and sustains behavior . Moti asi erupaka sesuatu ya g memberi semangat, menunjukkan, dan mempertahankan tingkah laku, motivasi
menyebabkan siswa berubah, memberikan petunjuk khusus, menjaganya untuk
tetap berbuat. Ormrod menyatakan beberapa efek dari motivasi terhadap
tingkah laku dan belajar siswa yaitu a). Motivasi mengarahkan tingkah laku ke arah
tujuan tertentu, b). Motivasi meningkatkan usaha dan energi, c). Motivasi
meningkatkan inisiasi dari aktivitas dan ketahanan dalam beraktifitas, d). Motivasi
meningkatkan proses kognitif, e). Motivasi menentukan penguatan konsekuensi.
Kelima efek tersebut akan meningkatkan performance,
Motivasi siswa dapat diketahui dari pengamatan terhadap perilakunya
dalam kegiatan belajar. Berikut ciri-ciri siswa yang memilki motivasi menurut
Ratumanan (2004) sebagai berikut.
a. Memperlihatkan minat dan perhatian yang serius terhadap apa yang
dipelajari,
b. Memiliki orientasi masa depan, kegiatan belajar dianggap sebagai
jembatan untuk mencapai harapan masa depannya,
c. Siswa cenderung mengerjakan tugas-tugas belajar yang menantang
11
d. Memiliki keinginan yang kuat untuk terus berkembang,
e. Selalu menyediakan waktu yang kuat untuk belajar,
f. Tekun belajar dan cenderung berupaya menyelesaikan tugas yang
diberikan kepadanya.
Elliot (2000) menyatakan motivasi belajar siswa dapat dipelajari dari
aspek kognitifnya. Aspek kognitif dari motivasi antara lain; a) Causal
Attributions, dapat dilihat dari beberapa elemen yaitu ability, effort, luck, dan test
difficulty; b) Self Efficacy; c) Learned helpness; d) Anxiety; e) Locus of control; f)
Competitive versus cooperative activities; g) intrinsic and extrinsic motivation; h)
Curiosity and interest; dan i) Student environment. Menurut Ordmord (2003)
motivasi dapat dilihat dari a) Anxiety, b) Self Effiicacy, dan c) Interest.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah proses
berlangsungnya motif yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku
untuk mencapai untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Pada penelitian kali ini,
motivasi belajar fokus pada empat aspek yang dikembangkan oleh Burden, yaitu
interest, relevance, perceived probability of success, dan satisfaction (Githua &
Mwangi, 2003). Interest merupakan minat atau rasa ingin tahu siswa yang muncul
sehingga terdorong untuk belajar. Relevance berkaitan dengan perasaan siswa
terhadap signifikansi dan keberartian materi pelajaran bagi kehidupan mereka.
Artinya, siswa yang menganggap Matematika itu relevan bagi kehidupannya akan
mempelajari Matematika. Perceived probability of success, yakni keyakinan siswa
12
siswa akan berusaha dengan keras dalam belajar dan mengerjakan soal jika mereka
yakin mampu menyelesaikannya. Satisfaction, yakni kondisi keseimbangan
psikologi antara pengalaman atas penghargaan esktrinsik dan kesadaran atas
kepentingan untuk terus berkembang.
2. Pembelajaran
Nitko dan Brookhart (2007: 18) menjelaskan pembelajaran adalah
Instruction is the process you use to provide students with the conditions that
help them achieve the learning targets . Pe elajara adalah proses ya g digunakan untuk memberikan siswa kondisi yang membantu mereka mencapai target elajar. “e ada : e yataka ah a Instruction refers to
how curriculum gets enacted in the classroom . Per yataa i i e gandung makna bahwa pembelajaran merujuk pada bagaimana kurikulum diterapkan dalam
kelas.
Gag e & Briggs : e yataka instructions is the means
employed by teachers, designer of material, curriculum specialist, and others
whose purpose it is to develop an organized plan to promote learning . Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan cara yang
digunakan oleh guru, penyusun materi, ahli kurikulum, dan lain-lain yang
bertujuan untuk mengembangkan perencanaan yang terorganisir, untuk
mempromosikan belajar. Sedangkan dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang
Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
13
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan guru yang dirancang untuk
menciptakan interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar
pada suatu lingkungan belajar untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Proses
interaksi tersebut dapat membantu siswa dalam mengelola informasi baru baik dari
guru maupun sumber belajar lain untuk mencapai tujuan belajar.
3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
Pembelajaran kooperatif merujuk kepada berbagai macam metode
pengajaran dimana para siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk
saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran. Menekankan pada pe e tuka siste sosial, Arra, D’A to io, & D’A to io :
mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu pendekatan yang
mengorganisir aktivitas kelas ke dalam suasana akademis dan pengalaman belajar
sosial. Sedangkan pembelajaran kooperatif menurut Trianto (2009) lebih
menekankan kepada peningkatan partisipasi siswa dalam pembelajaran dan
pembentukan sikap kepemimpinan. Hal ini sejalan dengan konsep pembelajaran
kooperatif yang dijelaskan oleh Zakaria, Chin, & Daud (2010) bahwa pembelajaran
kooperatif diharapkan siswa aktif secara individu, aktif diskusi, berani
menyampaikan gagasan dan menerima gagasan dari orang lain, dan kreatif mencari
solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, partisipasi aktif itu
dibentuk dalam model bekerja sama dalam belajar dan rasa tanggungjawab
14
Roger dan David Johnson (Agus Suprijono, 2009) menyatakan bahwa
tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk
mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam pembelajaran kooperatif harus
diterapkan. Lima unsur tersebut adalah:
a. Positive interdependence (saling ketergantungan positif)
b. Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan)
c. Face to face promotive interaction (komunikasi antar anggota)
d. Interpersonal skill (kemampuan interpersonal)
e. Group processing (pemrosesan kelompok)
Lie (2002) mengemukakan bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal,
ada lima unsur metode pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan yaitu:
a) saling ketergantungan positif. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif,
pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota
kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai
tujuan mereka; b) tanggung jawab perseorangan. Kunci keberhasilan metode
pembelajaran kooperatif adalah persiapan guru dalam menyusun tugasnya,
pengajaran yang efektif dalam pembelajaran kooperatif membuat persiapan
dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masingmasing anggota
kelompok harus melaksanakan tanggungjawabnya sendiri agar tugas selanjutnya
dalam kelompok bisa dilaksanakan; c) tatap muka. Setiap kelompok harus diberi
kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan
15
anggota. Inti dari sinergi adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan
kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Setiap anggota kelompok
mempunyai latar belakang pengalaman, keluarga, dan sosial-ekonomi. Perbedaan
ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota
kelompok; d) komunikasi antar anggota. Keberhasilan suatu kelompok juga
bergantung pada kesediaan anggotanya untuk saling mendengarkan dan
kemampuan mereka mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan komunikasi
kelompok merupakan proses panjang. Siswa membutuhkan sebuah proses untuk
bisa lancar dalam menyampaikan gagasan, di mana proses ini sangat bermanfaat
dan harus ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar serta membina
perkembangan mental dan emosi para siswa; e) evaluasi kelompok. Guru perlu
mengatur waktu khusus untuk setiap kelompok agar mengevaluasi proses
kerjanya masing-masing.
Karakteristik pembelajaran kooperatif dijelaskan oleh Arends (2008)
sebagai berikut: a) siswa bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan belajar; b)
tim-tim itu terdiri atas siswa-siswa yang berprestasi rendah, sedang, dan tinggi; c)
bila mungkin, tim-tim itu terdiri atas campuran ras, budaya, dan gender; d) sistem
penghargaannya berorientasi kelompok maupun individual.
Sanjaya (2006) menuliskan keunggulan pembelajaran kooperatif sebagai
16
a. Melalui pembelajaran kooperatif siswa tidak terlalutergantung pada guru,
tapi dapat menambah kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi
dari berbagi sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
b. Pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan
mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan
membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
c. Pembelajaran kooperatif dapat membantu anak untuk respek pada
orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima
segala perbedaan.
d. Pembelajaran kooperatif dapat membantu memberdayakan setiap
siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
e. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang cukup ampuh untuk
meningkatkan prestasi belajar sekaligus kemampuan sosial, termasuk
mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif
dengan yang lain, mengembangkan keterampilan manajemen waktu, dan
sikap positif terhadap sekolah.
f. Melalui pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan
siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima
umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut
membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung
17
g. Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa
menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrakmenjadi nyata.
h. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan
memberikan rangsangan untuk berfikir. Hal ini berguna untuk proses
pendidikan jangka panjang.
Selain keunggulan, pembelajaran kooperatif juga memiliki keterbatasan
di antaranya:
a. Untuk memahami dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif
membutuhkan waktu yang lama. Sebagai contoh siswa yang mempunyai
kelebihan akan merasa terhambat oleh siswa yang mempunyai
kemampuan kurang, akibatnya keadaan seperti ini dapat mengganggu
iklim kerjasama dalam kelompok.
b. Ciri utama dari pembelajaran kooperatif adalah bahwa setiap siswa saling
membelajarkan.
c. Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif kepada hasil
kelompok, namun guru perlu menyadari bahwa hasil atau presentasi yang
diharapkan sebenarnya adalah hasil atau presentasi setiap individu siswa.
d. Keberhasilan pembelajaran kooperatif dalam upaya mengembangkan
kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yangcukup panjang,
dan ini tidak mungkin dicapai hanya dalam waktu satu atau beberapa kali
18
Lie (2002) menambahkan bahwa metode kerja kelompok sering dianggap
kurang efektif. Berbagai sikap, kesan negatif memang bermunculan dalam
pelaksanaan metode kerja kelompok. Jika kerja kelompok itu tidak berhasil,
siswa cendrung saling menyalahkan. Sebaliknya jika berhasil, muncul perasaan
tidak adil. Siswa yang merasa pada dan rajin merasa rekannya yang kurang
mampu telah membonceng pada hasil kerja mereka. Akibatnya metode
pembelajaran kooperatif yang seharusnya bertujuan mulia yaitu menanamkan
rasa persaudaraan dan kemampuan bekerjasama, justru bisa berakhir dengan
ketidak puasan dan kekecewaan.
Beberapa model cooperative learning informal yang telah dikembangkan
oleh para ahli diantaranya adalah TPS (Think, Pair, Share). Model pembelajaran TPS
dikembangkan oleh Frank Lyman merupakan model pembelajaran kooperatif yang
sederhana. Sebagaimana namanya, model pembelajaran kooperatif tipe TPS
memiliki tiga tahapan utama yaitu mengarahkan siswa untuk berpikir dalam
menyelesaikan masalah (Think), kemudian mendiskusikan hasil pemikirannya
secara berpasangan (Pair), dan akhirnya menyampaikan hasil diskusi untuk
disepakati dalam forum kelas (Share) (Slavin, 2005). Arends & Kilcher (2010)
menyatakan bahwa dalam TPS , guru mengajukan sebuah pertanyaan, kemudian
tiap siswa memikirkan dan merekam jawabannya, selanjutnya setiap siswa
berpasangan dengan siswa lainnya untuk berbagi jawaban, dan terakhir guru
19
kelompok yang lebih besar. Secara detail, model pembelajaran kooperatif TPS
dilaksanakan melalui tahapan berikut (Arends, 2008).
a. Thinking (Berpikir)
Pada tahapan ini, pembelajaran diawali dengan pengajuan pertanyaan atau
pokok persoalan yang berkaitan dengan materi oleh guru. Selanjutnya guru
meminta berpikir secara mandiri untuk menemukan jawaban dari pertanyaan
yang diajukan. Pada tahapan ini siswa tidak diperkenankan berdiskusi atau
bertanya dengan siswa lain.
b. Pairing (Berpasangan)
Pada tahap ini guru meminta siswa untuk berdiskusi dengan pasangannya
mengenai jawaban yang telah mereka peroleh pada tahapan think. Pada
tahapan ini siswa dapat membandingkan jawabannya dengan pasangannya, jika
terdapat perbedaan jawaban, siswa diminta membuat kesepakatan untuk
menentukan jawaban mana yang paling benar.
c. Sharing (berbagi)
Pada tahapan ini, guru meminta beberapa pasangan untuk membagi atau
membandingkan jawaban mereka dengan pasangan atau kelompok lain.
Selanjutnya guru akan menunjuk salah satu pasangan untuk
mempresentasikan hasil diskusi mereka. Kemudian jika memungkinkan secara
bergiliran guru menunjuk kelompok lain untuk mempresentasikan hasil
20
Eggen & Kauchak (2012) menjelaskan bahwa model pembelajaran TPS
efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran karena tiga alasan berikut: a)
strategi ini mengundang respon dari semua orang di dalam kelas dan
menempatkan semua siswa dalam peran-peran yang aktif; b) menghindari ke e deru ga ada ya pe u pa g gratisa dala kelo pok elajar, kare a
setiap anggota dari pasangan dituntut untuk berpartisipasi; dan c) strategi ini
mudah direncanakan dan di terapkan. Arends (2008) juga mengungkapkan bahwa
model pembelajaran TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi
suasana pola diskusi kelas, dengan asumsi bahwa semua diskusi membutuhkan
pengelolaan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur dalam
TPS dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir untuk merespon dan saling
membantu. Dengan demikian, model pembelajaran TPS merupakan cara yang
efektif dalam meningkatkan keaktifan dan respon siswa di kelas.
4. Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang bertujuan membantu
siswa dalam mengaitkan makna pelajaran secara tepat melalui delapan komponen,
yaitu, keterkaitan yang bermakna, pekerjaan yang berarti, pengaturan diri, kerja
sama, berpikir kritis dan kreatif, menumbuhkembangkan individu dan penilaian
autentik (Johnson, 2010). Dengan pendekatan kontekstual siswa ditawarkan
dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran
menjadi lebih konkret dan mudah dipahami. Dengan demikian, pendekatan
21
Born dan De Stefano (Kurniawan, 2010) mengemukakan aktivitas
pembelajaran kontekstual yang meliputi:
a. Belajar berbasis masalah: pembelajaran diawali dengan penyajian
masalah kontekstual yang menantang untuk memperoleh pemahaman
konsep dan kemampuan matematik lainnya
b. Belajar dengan multi kompleks: pembelajaran dilaksanakan sesuai
dengan keadaan kondisi sehari-hari atau disimulasikan dan familiar,
sehingga pengetahuan yang didapat dari sekolah dapat diaplikasikan di
tempat kerja, di rumah, atau di lingkungan masyarakatnya.
c. Belajar mandiri: siswa didorong untuk memiliki kesadaran berpikir,
dapat memilih strategi sendiri, dan memelihara motivasi.
d. Penilaian otentik: penilaian terhadap produk dan proses pembelajaran.
e. Masyarakat belajar: belajar berlangsung dalam suatu komunitas belajar
yang saling memberi, menerima, dan saling menghargai pendapat orang
lain.
Pendekatan kontekstual menjadikan siswa berhadapan dengan
persoalan-persoalan penting dan menantang di dunia nyata yang memiliki makna bagi mereka
(Johnson, 2010). Pada waktu bersamaan, mereka mengembangkan kemampuan
merencanakan, memecahkan masalah, memimpin, memberikan presentasi pada
masyarakat umum, dan menerima tanggung jawab. Terlihat jelas bahwa dengan
mengetahui apa manfaat atau kegunaan dari materi yang dipelajari siswa membuat
22
apabila siswa mengetahui manfaat atau kegunaan dari apa yang kita pelajari.
Sehingga dengan bersemangatnya siswa belajar akan berdampak positif terhadap
motivasi dan prestasi belajarnya.
5. Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS dengan Pendekatan Kontekstual
Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan model pembelajaran yang
menekankan kepada manajemen siswa di kelas secara efektif dengan tiga tahapan
utama, yaitu berpikir, berpasangan dan berbagi. Sedangkan pembelajaran
kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada konten
materi yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari agar siswa memperoleh
pembelajaran yang bermakna. Dengan demikian, pembelajaran kooperatif tipe TPS
dengan pendekatan kontekstual adalah model pembelajaran yang terdiri dari
tahapan berpikir, berpasangan dan berbagi dan dibingkai dalam suasana
pembelajaran bermakna melalui pengaitan konten materi dalam kehidupan
sehari-hari. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan
kontekstual adalah sebagai berikut.
a. Menyajikan permasalahan yang kontekstual
b. Menyajikan materi secara umum
c. Mengarahkan siswa berpikir mandiri menyelesaikan permasalahan
d. Mengarahkan siswa berdiskusi secara berpasangan terkait solusi
permasalahan
e. Menyampaikan hasil diskusi berpasangan ke forum kelas
23 B. Penelitian yang Relevan
1. Penelitian Davi (2012) menemukan bahwa pembelajaran kontekstual dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa VIII-B SMP Negeri 10 Malang.
2. Penelitian Kurniawan dan Istiningrum (2012) menyimpulkan bahwa model
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan
motivasi belajar Akuntansi siswa kelas X Akuntansi 2 SMK Negeri 7
Yogyakarta.
C. Kerangka Pikir
Motivasi memainkan peran yang besar bagi seseorang dalam
mengembangkan kompetensi dan beradaptasi dengan lingkungan. Dalam konteks
pembelajaran, motivasi merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam belajar.
Namun kenyataannya, terdapat 57,10% siswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah 2
Depok yang masih tergolong siswa dengan motivasi sedang. Selain itu, masih
terdapat 10,7% siswa yang motivasinya berada pada kategori rendah.
Pembelajaran Matematika di sekolah pun masih cenderung teacher oriented,
dominan menggunakan metode ceramah dan tidak ada variasi model pembelajaran
yang diterapkan di kelas. Hal ini mengakibatkan siswa merasa bosan dan kehilangan
motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, perlu diterapkan model atau pendekatan
pembelajaran yang bersifat student oriented dan konstruktivistik serta mampu
24
Diantara model pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi belajar
siswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan
kontektstual. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan
kontekstual adalah model pembelajaran yang terdiri dari tahapan berpikir,
berpasangan dan berbagi dan dibingkai dalam suasana pembelajaran bermakna
melalui pengaitan konten materi dalam kehidupan sehari-hari. Dinamika kelas
melalui pembelajaran kooperatif dan kebermaknaan pembelajaran lewat konteks
diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.
25 D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian yang relevan, maka hipotesis
tindakan pada penelitian ini adalah: Motivasi belajar dapat meningkat dengan
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan
26 BAB III
DESAIN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A. Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan empat tahapan,
yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observing) dan refleksi
(refelcting). Model penelitian tindakan yang digunakan adalah model spiral sebagai
berikut (Kemmis & McTaggart dalam Hopkins, 2008).
Gambar 2
Model Penelitian Tindakan: Model Spiral (Kemmis & McTaggart dalam Hopkins, 2008)
Siklus 1
27 B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan selama bulan Oktober hingga November 2016 dengan
rincian jadwal sebagai berikut.
Tabel 2. Jadwal Penelitian Tindakan
NO AGENDA HARI/TANGGAL JUMLAH
JP 1 Pengisian angket motivasi dan
observasi awal
Sabtu, 24 September 2016 1
2 Pretest siklus I Sabtu, 29 Oktober 2016 1
3 Siklus I pertemuan 1 Selasa, 1 November 2016 3
4 Siklus I pertemuan 2 Sabtu, 5 November 2016 2
5 Siklus I pertemuan 3 Selasa, 8 November 2016 3 6 Post test siklus I, pre test siklus II
dan pengisian angket motivasi siklus I
Selasa, 22 November 2016 2
Penelitian dilakukan di SMP Muhammadiyah 2 Depok yang terletak di jalan
Swadaya IV Kelurahan Condongcatur Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Provinsi
DIY. SMP Muhammadiyah 2 Depok merupakan sekolah swasta yang terakreditasi A
dengan jumlah siswa 222 siswa (82 siswa kelas VII, 93 siswa kelas VIII dan 47 siswa
kelas IX). Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 2006 (KTSP).
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII B SMP Muhammadiyah 2 Depok
28
16 orang laki-laki dan 14 orang perempuan. Berdasarkan hasil pengisian angket
motivasi, rata-rata motivasi siswa berada pada kategori sedang dan masih ada siswa
yang motivasinya rendah.
D. Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan dalam beberapa siklus pembelajaran dengan
memperhatikan ketercapaian target penelitian. Deskripsi kegiatan pada tiap siklus
dijelaskan sebagai berikut
1.Planning
(Perencanaan)
: Pada tahapan ini disusun rencana tindakan dengan rincian
sebagai berikut.
a.Observasi lokasi dan subyek penelitian
b.Konsultasi dengan guru mata pelajaran terkait jadwal
dan KD yang akan digunakan untuk penelitian
c.Penyusunan perangkat pembelajaran meliputi Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dirancang
berdasarkan karakteristik dan sintaks model
pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan
kontekstual; Lembar Kegiatan Siswa (LKS); media atau
alat peraga yang diperlukan dalam pembelajaran seperti
slide Powerpoint; dan instrumen untuk pretes dan
29 2.Action
(Tindakan)
: Pada tahapan ini tindakan yang telah dirancang pada tahap
perencanaan akan diterapkan dalam pembelajaran di
kelas, yakni pembelajaran Matematika dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS
dengan pendekatan kontekstual meliputi semua
perangkat yang telah disediakan. Tindakan dilakukan oleh
peneliti. Sebelum melakukan tindakan, siswa diminta
mengerjakan soal prestes.
3.Observing
(Pengamatan)
: Pada tahapan ini, dilakukan pengamatan selama proses
pembelajaran hingga penilaian. Kegiatan pengamatan
menggunakan lembar keterlaksanaan pembelajaran yang
telah dirancang sebelumnya. Pengamat adalah guru mata
pelajaran. Setelah satu siklus pembelajaran berakhir, siswa
diminta mengerjakan soal postes dan mengisi angket
motivasi.
4.Reflecting
(Refleksi)
: Pada tahapan ini, data yang diperoleh dari lembar
keterlaksanaan pembelajaran, instrumen postes dan
angket motivasi selama satu siklus pembelajaran
dideskripsikan dan dianalisis. Deskripsi meliputi
persentase keterlaksanaan pembelajaran baik guru
30
persentase motivasi siswa pada setiap kategorinya.
Analisis berkaitan dengan capaian target indikator
keberhasilan tindakan, hal-hal yang menjadi
kekurangan/hambatan, faktor-faktor penyebab; solusi dan
rencana strategis ke depannya. Jika target belum tercapai,
maka hasil refleksi pada siklus satu akan dijadikan acuan
untuk merencanakan tindakan pada siklus berikutnya.
E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes dan non tes.
Teknik tes digunakan untuk menilai ketuntasan belajar Matematika siswa dari segi
kognitif pada setiap siklus. Instrumen yang digunakan pada teknik tes adalah tes
ulangan harian. Teknik non tes digunakan untuk mengetahui motivasi siswa dan
keterlaksanaan dalam proses dalam pembelajaran Matematika. Instrumen yang
digunakan pada teknik non tes adalah angket motivasi dan lembar observasi
keterlaksanaan pembelajaran. Instrumen pengumpulan data dijelaskan sebagai
berikut.
1. Tes Ulangan Harian
Tes ulangan harian disusun berdasarkan indikator yang dijabarkan dari
kompetensi dasar (KD) pada setiap siklus. Bentuk tes berupa pilihan ganda dengan
jumlah butir soal menyesuaikan cakupan KD yang diajarkan. Kisi-kisi pengembangan
31
Namun sebelum siklus juga siswa diberikan pretes untuk mengetahui penguasaan
siswa terhadap kompetensi yang akan diajarkan. Soal pretes dan postes (ulangan
harian) dibuat sama.
2. Angket Motivasi
Angket motivasi yang digunakan mengadopsi angket yang dikembangkan
oleh Githua, dimana motivasi terdiri dari empat aspek, yaitu interest, relevance,
perceived probability of success, dan satisfaction (Githua & Mwangi, 2003). Butir
pernyataan sebanyak 26 butir dengan menggunakan skala Likert. Angket motivasi
terlampir. Angket motivasi diberikan kepada siswa di awal penelitian dan di setiap
akhir siklus tindakan.
3. Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran
Lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran disusun berdasarkan
karakteristik dan sintaks model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan
pendekatan kontekstual yang telah dikembangkan dalam RPP. Pada siklus 1, lembar
observasi tidak memisahkan antara kegiatan guru dan siswa. Pada siklus 2, lembar
observasi direvisi sehingga terdiri dari dua bagian, yaitu bagian keterlaksanaan
kegiatan guru dan bagian keterlaksanaan kegiatan siswa. Penilaian keterlaksanaan pe elajara e ggu aka dua skala yaitu ya da tidak . Le ar o ser asi
terlampir. Lembar observasi diisi ketika proses pembelajaran di setiap siklus
32 F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Penjelasana teknik
analisis secara rinci dijelaskan sebagai berikut.
1. Analisis Motivasi Siswa
Data yang diperoleh dari angket motivasi siswa diberi skor berdasarkan
pedoman penskoran sebagai berikut.
Tabel 3. Pedoman Penskoran Angket Motivasi
Pernyataan Skor
SS S R TS STS
Positif 5 4 3 2 1
Negatif 1 2 3 4 5
Selanjutnya skor setiap butir dijumlahkan sehingga diperoleh skor motivasi setiap
siswa. Skor tersebut kemudian dikonversi menjadi suatu kriteria dengan skala
tertentu yang diadaptasi dari Ebel dan Frisbie (1991).
Tabel 4. Pedoman Konversi Skor Terhadap Kriteria
Interval Skor Kriteria
�� + ,5�� < � Sangat Tinggi �� + ,5�� < � �� + ,5�� Tinggi �� − ,5�� < � �� + ,5�� Sedang �� − ,5�� < � �� − ,5�� Rendah
� �� − ,5�� Sangat Rendah
Keterangan
� : skor empiris
�� : rata-rata ideal = (skor maksimum ideal + skor minimum ideal)
33
Butir pernyataan angket sebanyak 26 butir dengan skor maksimum tiap
butir adalah 5 dan skor minimumnya adalah 1. Dengan demikian diperoleh konversi
skor motivasi siswa menjadi kriteria sebagai berikut.
Tabel 5. Interval Skor Kriteria Motivasi Siswa
Interval Skor Kriteria 104 < X Sangat Tinggi , < X Tinggi
, < X , Sedang < X , Rendah
X Sangat Rendah
Selanjutnya siswa dikelompokkan berdasarkan kategori motivasi dan dihitung
persentasenya dengan rumus sebagai berikut.
�� % =Banyak siswa keseluruhan ×Banyak siswa pada �� %
Keterangan:
�� : kategori motivasi (sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah)
2. Analisis Ketuntasan Belajar Siswa
Analisis ketuntasan belajar siswa dilakukan berdasarkan skor ulangan harian
siswa yang berupa soal pilihan ganda. Total skor menyesuaikan dengan banyak butir
soal, di mana tiap butir soal diberi skor 1 untuk jawaban benar dan skor 0 untuk
jawaban salah atau tidak menjawab. Selanjutnya total skor dikonversi ke interval
0-100 dengan rumus sebagai berikut.
34
Selanjutnya nilai yang diperoleh dikonversi ke kriteria ketuntasan belajar
siswa secara individu. Siswa dinyatakan tuntas jika telah mencapai KKM, yaitu
minimal 70. Setelah diperoleh informasi ketuntasan belajar siswa secara individu,
selanjutnya akan dianalisis ketuntasan belajar secara klasikal. Ketuntasan klasikal
diperoleh dengan rumus sebagai berikut.
Ketuntasan Klasikal =Banyak siswa yang mencapai KKM Banyak siswa keseluruhan 7 × %
Kriteria suatu pembelajaran tuntas secara klasikal sehingga dapat melanjutkan
pembelajaran ke KD berikutnya adalah jika minimal 80% siswa mencapai KKM atau
tuntas secara individu.
3. Analisis Keterlaksanaan Pembelajaran
Analisis keterlaksanaan pembelajaran dilakukan berdasarkan total item
kegiatan yang terlaksana dalam proses pembelajaran yang direncanakan. Total
item kegiatan yang terlaksana diperoleh melalui proses observasi selama kegiatan
pembelajaran berlangsung. Item kegiatan ini mencakup kegiatan siswa dan guru
yang dianalisis secara masing-masing. Setelah memperoleh total item kegiatan
yang terlaksana, selanjutnya dihitung persentase keterlaksanaan pembelajaran
35
Keterlaksanaan pembelajaran % =Total item kegiatan yang terlaksanaTotal item kegiatan keseluruhan × %
Adapun target keterlaksanaan pembelajaran pada penelitian ini adalah minimal
80% dari total item kegiatan pembelajaran keseluruhan.
Selain itu, analisis data juga dilakukan dengan cara melakukan rekapitulasi
hasil evaluasi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan selama proses
penelitian. Hasil rekapitulasi tersebut digunakan untuk mengungkap faktor-faktor
yang berkaitan pencapaian target pada tiap siklus. Bagian ini akan dibahas lebih
mendalam pada tahapan refleksi.
G. Indikator Ketercapaian Peningkatan Motivasi dan Kualitas Pembelajaran
Rangkuman indikator ketercapaian peningkatan motivasi siswa dan kualitas
pembelajaran dijelaskan pada tabel berikut.
Tabel 6. Indikator Ketercapaian Peningkatan Motivasi dan Kualitas Pembelajaran
Variabel Interval Kriteria Kondisi Awal Target
Motivasi
104 < X Sangat Tinggi 3,57% 10%
, < X Tinggi 28,60% 50%
, < X , Sedang 57,10% 36%
< X , Rendah 10,70% 4%
X
Sangat
Rendah 0% 0%
Rata-rata 82,39 (Sedang) Tinggi
Kognitif KKM tercapai 0% 80%
Rata-rata 33,4
Proses
Pembelajaran < 80% %
36 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Siklus 1
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil survey dan observasi di kelas penelitian, siklus 1
dirancang sebanyak 4 pertemuan dengan alokasi waktu 10 jam pelajaran (JP). 3
pertemuan (8 JP) digunakan untuk pembelajaran dan 1 pertemuan (2 JP) untuk
pelaksanaan ulangan harian dan pengisian angket motivasi siklus 1. Standar
kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) dipilih berdasarkan kelanjutan dari
pembelajaran sebelumnya, yaitu SK tentang memahami bentuk aljabar, persamaan
dan pertidaksamaan linear satu variabel; dengan KD yang ingin dicapai adalah
menyelesaikan persamaan linier satu variabel. Selanjutnya KD tersebut
dikembangkan menjadi 12 indikator pencapaian kompetensi yang menjadi
panduan dalam mengembangkan RPP, LKS dan soal ulangan harian (terlampir).
Khusus soal ulangan harian mengalami perbaikan setelah diberikan pada saat
pretes. Selain itu, peneliti juga menyiapkan apersepsi dan ringkasan dalam bentuk
slide power point sebagai pengantar materi. Semua perangkat pembelajaran
dikembangkan berdasarkan karakteristik dan sintaks model pembelajaran
kooperatif tipe TPS dengan pendekatan kontekstual.
37
Rancangan tindakan di atas dilaksanakan tepat sebanyak 4 pertemuan
sebagaimana yang dirincikan sebelumnya. Peneliti berperan sebagai guru yang
mengajar, sedangkan guru mata pelajaran yang sebenarnya berperan sebagai
obsever. Adapun rincian tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1) Pertemuan 1
Pertemuan pertama dilakukan selama 3 JP (3 x 40 menit) namun ada
jeda istirahat selama 20 menit. Materi yang diajarkan adalah tentang
kalimat terbuka dan pernyataan serta persamaan dan sifatnya. Pada
awal pembelajaran guru mengucapkan salam. Kemudian guru
meminta ketua kelas untuk e i pi do’a se elu e ulai kegiata pe elajara . “etelah erdo’a, guru menanyakan
ketidakhadiran siswa sekaligus mengondisikan perhatian siswa untuk
belajar. Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan mengajukan
pertanyaan untuk mengingatkan siswa kembali tentang materi yang
dipelajari sebelumnya yaitu bentuk aljabar. Guru mengajukan
pertanyaan berupa Siapa yang bisa memberikan contoh bentuk alja ar? lalu e erapa sis a e ye utka o toh ya da guru
menuliskannya di papan tulis. Contoh bentuk aljabar yang disebutkan
oleh beberapa siswa tadi kemudian dikonfirmasi kepada siswa lainnya
terkait kebenarannya. Selanjutnya, guru mengajukan pertanyaan
berupa Dari bentuk aljabar tersebut, manakah yang disebut variabel,
38
bentuk aljabar di papan tulis kemudian guru mengkonfirmasi kembali
jawabannya kepada siswa yang lain. Selanjutnya, guru menuliskan
beberapa operasi bentuk aljabar dan meminta mereka untuk
menentukan hasil operasinya. Setelah dianggap sebagian besar siswa
telah memahami materi sebelumnya, guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, cakupan materi, dan langkah-langkah pembelajaran .
Selanjutnya, guru membagikan LKS yang berisi materi yang relevan, lalu
meminta siswa untuk mencantumkan identitas mereka pada bagian
yang disediakan. Pada bagian pertama LKS, telah disajikan
permasalahan kontekstual, di mana siswa diminta untuk
mencermatinya. Kemudian guru memberikan penjelasan secara umum
tentang materi yang dipelajari. Pada bagian ini waktu yang digunakan
cukup lama, sehingga kegiatan siswa mengerjakan LKS belum optimal
dan diskusi secara berpasangan pun belum bisa berjalan. Selanjutnya
guru meminta siswa untuk menyampaikan hasil pekerjaannya di depan
kelas dan siswa lainnya memberikan tanggapan, pertanyaan atau
koreksi. Beberapa siswa menyampaikan hasil pekerjaannya dan siswa
lainnya memberikan tanggapan.
Karena waktu yang hampir habis, akhirnya guru langsung melakukan
refleksi terhadap pembelajaran dan memberikan beberapa tanggapan
dari proses pembelajaran. Selanjutnya guru memberikan penjelasan
39
meminta ketua kelas untuk memimpin berdoa untuk menutup
pembelajaran.
2) Pertemuan 2
Pertemuan kedua dilakukan selama 2 JP (2 x 40 menit). Materi yang
diajarkan adalah tentang persamaan linier satu variabel dan
penyelesaiannya. Pada awal pembelajaran guru mengucapkan salam. Ke udia guru e i ta ketua kelas u tuk e i pi do’a se elu
memulai kegiatan pembelajaran. Setelah erdo’a, guru e ge ek kehadiran setiap siswa sekaligus mengondisikan perhatian siswa untuk
belajar. Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan mengajukan
pertanyaan untuk mengingatkan siswa kembali tentang materi yang
dipelajari sebelumnya yaitu kalimat terbuka, pernyataan dan persa aa . Guru e gajuka perta yaa erupa “iapa ya g isa e erika o toh kali at ter uka da per yataa ? lalu e erapa
siswa menyebutkan contohnya. Contoh yang disebutkan oleh beberapa
siswa tadi kemudian dikonfirmasi kepada siswa lainnya terkait
kebenarannya. Selanjutnya, guru menuliskan beberapa bentuk aljabar da erta ya Ma akah ya g erupaka persa aa ? lalu e erapa
siswa menjawab dan guru mengkonfirmasi kembali jawabannya kepada
siswa yang lain. Sebelum memasuki pembahasan pertemuan kedua,
guru membahas permasalahan kontekstual pada pertemuan
40
besar siswa telah memahami materi sebelumnya, guru menjelaskan
cakupan materi dan langkah-langkah pembelajaran berikutnya.
Selanjutnya, guru membagikan LKS yang berisi materi yang relevan, lalu
meminta siswa untuk mencantumkan identitas mereka pada bagian
yang disediakan. Pada bagian pertama LKS, telah disajikan
permasalahan kontekstual, di mana siswa diminta untuk
mencermatinya. Kemudian guru memberikan penjelasan secara umum
tentang materi yang dipelajari lewat media power point. Selanjutnya
siswa diminta mengerjakan kegiatan yang terdapat pada LKS secara
mandiri. Selang beberapa waktu, siswa kemudian diarahkan untuk
berdiskusi dengan teman sebangkunya terkait hasil pekerjaan. Ketika
berdiskusi, guru berkeliling memantau proses diskusi. Selanjutnya, guru
meminta beberapa perwakilan siswa menyampaikan hasil diskusinya
dan siswa lainnya dipersilahkan untuk menanggapi. Setelah semua
bagian LKS diselesaikan, siswa diminta untuk menyelesaikan
permasalahan kontekstual yang disajikan di awal pembelajaran dan
menyajikannya.
Menjelang akhir pembelajaran, guru memberikan penjelasan tentang
materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya lalu meminta
ketua kelas untuk memimpin berdoa untuk menutup pembelajaran.
41
Pertemuan ketiga dilakukan selama 3 JP (3 x 40 menit) namun ada jeda
istirahat selama 20 menit. Materi yang diajarkan adalah tentang
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan persamaan linier satu
variabel. Pada awal pembelajaran guru mengucapkan salam. Kemudian guru e i ta ketua kelas u tuk e i pi do’a se elu e ulai kegiata pe elajara . “etelah erdo’a, guru e ge ek kehadira
setiap siswa sekaligus mengondisikan perhatian siswa untuk belajar.
Selanjutnya guru melakukan apersepsi dengan mengajukan
pertanyaan untuk mengingatkan siswa kembali tentang materi yang
dipelajari sebelumnya yaitu persamaan linier satu variabel. Guru
menuliskan beberapa bentuk SPLV dan meminta beberapa siswa
menyelesaikannya. Penyelesaian beberapa siswa tadi kemudian
dikonfirmasi kepada siswa lainnya terkait kebenarannya. Sebelum
memasuki pembahasan pertemuan kedua, guru membahas
permasalahan kontekstual pada pertemuan sebelumnya yang belum
sempat dibahas. Setelah dianggap sebagian besar siswa telah
memahami materi sebelumnya, guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, cakupan materi, dan langkah-langkah pembelajaran
berikutnya.
Selanjutnya, guru membagikan LKS yang berisi materi yang relevan, lalu
meminta siswa untuk mencantumkan identitas mereka pada bagian
42
permasalahan kontekstual, di mana siswa diminta untuk
mencermatinya. Kemudian guru memberikan penjelasan secara umum
tentang materi yang dipelajari lewat media power point. Selanjutnya
siswa diminta mengerjakan kegiatan yang terdapat pada LKS secara
mandiri. Namun selang beberapa waktu, siswa sudah langsung
berdiskusi dengan teman sebangkunya tanpa diarahkan. Ketika
berdiskusi, guru berkeliling memantau proses diskusi. Selanjutnya, guru
meminta beberapa perwakilan siswa menyampaikan hasil diskusinya
dan siswa lainnya dipersilahkan untuk menanggapi. Setelah semua
bagian LKS diselesaikan, siswa diminta untuk menyelesaikan
permasalahan kontekstual yang disajikan di awal pembelajaran dan
menyajikannya.
Menjelang akhir pembelajaran, guru meminta siswa mempersiapkan
diri untuk ulangan harian pada pertemuan berikutnya lalu meminta
ketua kelas untuk memimpin berdoa untuk menutup pembelajaran.
4) Pertemuan 4
Pertemuan keempat dilaksanakan selama 2 JP (2 x 40 menit) untuk
ulangan harian dan mengisi angket motivasi. Sebanyak 30 siswa yang
mengikuti ulangan harian dan pengisian angket pada siklus 1.
43
Pengamatan mencakup motivasi siswa, ketuntasan belajar siswa dan
keterlaksanaan proses pembelajaran sesuai RPP. Berikut ini adalah rangkuman hasil
pengamatan dari ketiga aspek tersebut.
Tabel 7. Hasil Pengamatan Siklus 1
Variabel Interval Kriteria Siklus 1
Motivasi
Kognitif KKM tercapai 13%
Rata-rata 43,5
Hasil pengamatan yang diperoleh selanjutnya dibandingkan dengan kondisi
awal dan indikator ketercapaian target penelitian.
Tabel 8. Hasil Pengamatan Siklus 1 Dibandingkan dengan Kondisi Awal dan Target
Variabel Interval Kriteria
Kondisi
(Sedang) 79,73 (Sedang) Tinggi
44
Tabel di atas menunjukkan bahwa motivasi siswa, ketuntasan belajar dan
keterlaksanaan proses pembelajaran belum mencapai target penelitian.
Motivasi belajar siswa di akhir siklus 1 cenderung mengalami penurunan
dari kondisi awal. Hal ini ditunjukkan dari menurunnya rata-rata skor motivasi
siswa; menurunnya persentase siswa pada kategori sangat tinggi, tinggi dan
sedang; dan sebaliknya persentase siswa pada kategori rendah meningkat. Dengan
demikian motivasi siswa pada akhir siklus 1 belum mencapai target penelitian.
Ketuntasan belajar siswa pun belum tercapai, yakni hanya 13% dari 30 siswa
yang berhasil mencapai KKM. Rata-rata nilai ulangan harian siswa pun masih
dibawah 70, yakni 43,5. Hal ini menunjukkan bahwa sejak klasikal pembelajaran
pada KD menyelesaikan persamaan linier satu variabel masih belum tuntas.
Target keterlaksanaan proses pembelajaran pun belum tercapai. Dari 25
item kegiatan pada guru dan siswa, baru 72% untuk kegiatan guru dan 20% kegiatan
siswa yang dinilai berhasil dilaksanakan pada siklus 1. Kegiatan guru dan kegiatan
siswa yang belum terlaksana dengan optimal tersebut dirangkum dalam tabel
berikut.
Tabel 9. Kegiatan Guru yang Belum Terlaksana pada Siklus 1
Kegiatan Guru Refleksi
Memberikan motivasi yang relevan dengan materi yang dipelajari
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi
Mengarahkan siswa berdiskusi berpasangan
45
Kegiatan Guru Refleksi
Menanggapi hasil penyajian siswa
Waktu pembelajaran yang hampir habis sehingga langsung masuk ke kegiatan penutup
Mengarahkan siswa untuk meringkas, mencatat, menggarisbawahi yang penting dari pembelajaran
Waktu pembelajaran yang hampir habis sehingga langsung masuk ke kegiatan penutup
Melakukan refleksi terhadap pembelajaran
Waktu pembelajaran yang hampir habis sehingga langsung masuk ke kegiatan penutup
Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil belajar
Waktu pembelajaran yang hampir habis sehingga langsung masuk ke kegiatan penutup
Tabel 10. Kegiatan Siswa yang Belum Terlaksana pada Siklus 1
Kegiatan Siswa Refleksi
>80% menjawab salam dengan antusias
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% berdoa dengan khidmat Item kegiatan ini baru ditambahkan
setelah lembar observasi direvisi Semua mengkonfirmasi kehadiran Item kegiatan ini baru ditambahkan
setelah lembar observasi direvisi >80% merespon apersepsi yang
diberikan
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak penyampaian tujuan
pembelajaran dengan perhatian
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak penyampaian
motivasi dengan perhatian
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak penyampaian
cakupan materi
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak penyampaian
langkah-langkah pembelajaran dengan perhatian
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi
>80% menyimak permasalahan kontekstual yang disajikan dengan perhatian
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi
>80% menyimak penjelasan umum tentang materi dengan perhatian
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >10% menanyakan hal yang sulit
kepada guru
46
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak tanggapan guru
dengan perhatian
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% meringkas, mencatat,
menggarisbawahi hal penting dari pembelajaran
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi
>80% merespon refleksi yang dilakukan guru
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% menyimak umpan balik dari
guru dengan perhatian
Item kegiatan ini baru ditambahkan setelah lembar observasi direvisi >80% mencatat PR yang diberikan Item kegiatan ini baru ditambahkan
setelah lembar observasi direvisi >80% mengafirmasi permintaan guru Item kegiatan ini baru ditambahkan
setelah lembar observasi direvisi >80% berdoa dengan khidmat Item kegiatan ini baru ditambahkan
setelah lembar observasi direvisi
Berdasarkan keterlaksanaan kegiatan pembelajaran di atas, terdapat
beberapa kondisi riil dan hambatan dalam proses pembelajaran siklus 1 sebagai
berikut.
1) Sintaks TPS belum berjalan
2) Pendekatan Kontekstual belum berjalan
3) Siswa kesulitan memahami LKS dan penjelasan guru
4) Pasangan yang terbentuk kemampuannya tidak saling melengkapi. Ada
pasangan yang pintar semua dan pasangan yang kurang pintar semua
5) Manajemen waktu masih kurang sehingga ada kegiatan yang tidak
47
6) RPP belum dikuasai sepenuhnya sehingga beberapa kegiatan lupa
dilaksanakan
Dari ketercapaian motivasi, ketuntasan belajar, keterlaksanaan pembelajaran,
kondisi riil dan kekurangan tersebut, maka perlu dilakukan siklus 2 dengan
beberapa rencana strategis sebagai berikut.
1) Menambah bantuan langkah-langkah dalam LKS
2) Mengondisikan pasangan belajar sebelum pembelajaran dimulai oleh
guru
3) Mengatur penggunaan waktu lebih ketat
4) Mengoptimalkan media power point untuk penjelasan materi di awal
5) Guru mempelajari RPP sebelum mengajar agar lebih menguasai dan
memahami proses pembelajaran
2. Siklus 2
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi siklus 1, siklus 2 dirancang sebanyak 3 pertemuan
dengan alokasi waktu 8 jam pelajaran (JP). 2 pertemuan (5 JP) digunakan untuk
pembelajaran dan 1 pertemuan (3 JP) untuk pelaksanaan ulangan harian dan
pengisian angket motivasi siklus 2. Kompetensi dasar (KD) yang dipilih adalah
kelanjutan dari pembelajaran sebelumnya, yaitu menyelesaikan pertidaksamaan
linear satu variabel. Selanjutnya KD tersebut dikembangkan menjadi 10 indikator
pencapaian kompetensi yang menjadi panduan dalam mengembangkan RPP, LKS
48
operasional dengan langkah-langkah yang lebih rinci. Soal ulangan harian
mengalami perbaikan setelah diberikan pada saat pretes. Selain itu, posisi duduk
siswa telah diatur ulang sesuai dengan kemampuan Matematika agar dapat saling
membantu dalam proses sharing.
b. Tindakan
Rancangan tindakan di atas dilaksanakan tepat sebanyak 3 pertemuan
sebagaimana yang dirincikan sebelumnya. Peneliti berperan sebagai guru yang
mengajar, sedangkan guru mata pelajaran yang sebenarnya berperan sebagai
obsever. Adapun rincian tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1) Pertemuan 1
Pertemuan pertama dilakukan selama 3 JP (3 x 40 menit) namun ada
jeda istirahat selama 20 menit. Materi yang diajarkan adalah
pertidaksamaan linier satu variabel dan sifatnya. Pada awal
pembelajaran guru mengucapkan salam. Kemudian guru meminta ketua kelas u tuk e i pi do’a se elu e ulai kegiatan pe elajara . “etelah erdo’a, guru e gecek kehadiran siswa
sekaligus mengondisikan perhatian siswa untuk belajar. Selanjutnya
guru melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan tentang
operasi aljabar, sifat persamaan dan penyelesaian persamaan. Pada
bagian ini cukup lama guru memberikan waktu karena pada ulangan
harian siklus 1 masih banyak siswa yang belum tuntas. Selanjutnya, guru