BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama, diperoleh Fa = 48,3575 > 3,84 = Ftabel, sehingga Fa Î Daerah Kritik
(DK). Oleh karena itu HOA ditolak, hal ini berarti terdapat perbedaan prestasi
belajar pada penggunaan pendekatan pembelajaran matematika peserta didik. Dari hasil perhitungan, diperoleh rataan marginal baris prestasi belajar peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended, yaitu sebesar 71,7296, sedangkan peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontruktivis mempunyai rataan marginal sebesar 51,8. Selisih rataan commit to user
97
marginal yang signifikan ini menunjukkan bahwa pendekatan Open-Ended lebih berhasil dibandingkan dengan pendekatan konstruktifis. Dan secara umum prestasi belajar matematika peserta didik menjadi lebih baik dengan mengikuti pembelajaran Open-Ended. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 29. Hal tersebut menunjukkan bahwa peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontruktivis.
Dengan demikian hipotesis pertama yaitu penggunaan pendekatan pembelajaran Open-Ended menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan pendekatan kontruktivis terbukti kebenarannya.
Hal tersebut sangat dimungkinkan karena pendekatan konstruktivis peserta didik mungkin mengalami kesulitan dalam berfikir kritis terhadap bahan yang mereka pelajari, serta mengungkapkan ide dan gagasan serta interprestasi mereka terhadap apa yang mereka pelajari dan kreatifitas peserta didik masih lemah. Sedangkan pendekatan Open-Ended memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menginvestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya untuk mengelaborasi permasalahan dan mendorong peserta didik untuk menjawab permasalahan melalui berbagai strategi. Pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended peserta didik tidak hanya mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada proses pencarian suatu
98
jawaban. Sehingga pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended memberikan prestasi yang lebih baik dari pada pendekatan kontruktivis.
2. Hipotesis Kedua
Dari hasil perhitungan anava dua jalan dengan sel tak sama diperoleh
Fb=119,5215 > 3,00 = Ftabel, sehingga Fb Î Daerah Kritik (DK). Dengan demikian
HOB ditolak, ini berarti terdapat perbedaan prestasi belajar pada tingkatan motivasi
belajar peserta didik pada pembelajaran matematika. Peserta didik yang mempunyai motivasi tinggi, sedang, dan rendah berbeda prestasi belajarnya dalam pembelajaran matematika peserta didik kelas XI IPS se Kabupaten Boyolali .
Dari hasil uji lanjut pasca anava, dengan DK = {F ï F > 2xF0,05;1,202} = {F ï
F> 6,00}, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
a. F.1-.2 = 99,6646 > 6,00 = Ftabel, atau F.1-.2 Î DK, berarti H0 ditolak
Hal ini berarti, rataan yang diperoleh dari motivasi tinggi berbeda secara signifikan dengan rataan yang diperoleh dari motivasi sedang. Karena rataan untuk motivasi tinggi (85,2) lebih tinggi dibandingkan dengan rataan motivasi sedang (63,5446), maka diperoleh kesimpulan bahwa motivasi tinggi lebih baik dibanding dengan motivasi sedang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peserta didik dengan motivasi belajar matematika tinggi akan mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang mempunyai motivasi belajar matematika sedang.
b. F.1-.3 = 298,8843 > 6,00 = Ftabel, atau F.1-.3 Î DK, berarti H0 ditolak
99
Hal ini berarti, rataan yang diperoleh dari motivasi tinggi berbeda secara signifikan dengan rataan yang diperoleh dari motivasi rendah. Karena rataan untuk motivasi tinggi (85,2) lebih tinggi dibandingkan dengan rataan motivasi rendah (37,3148), maka diperoleh kesimpulan bahwa motivasi tinggi lebih baik dibanding dengan motivasi rendah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peserta didik dengan motivasi belajar matematika tinggi akan mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang mempunyai motivasi belajar matematika rendah.
c. F.2-.3 = 147,6973 > 6,00 = Ftabel, atau F.2-.3 Î DK, H0 ditolak.
Hal ini berarti, rataan yang diperoleh dari motivasi sedang berbeda secara signifikan dengan rataan yang diperoleh dari motivasi rendah. Karena rataan untuk motivasi sedang (63,5446) lebih tinggi dibandingkan dengan rataan motivasi rendah (37,3148), maka diperoleh kesimpulan bahwa motivasi sedang lebih baik dibanding dengan motivasi rendah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peserta didik dengan motivasi belajar matematika sedang akan mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang mempunyai motivasi belajar matematika rendah.
Dengan demikian hipotesis kedua yaitu, peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi sedang, peserta didik dengan motivasi sedang memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah, dan peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah terbukti kebenarannya. commit to user
100
Hal tersebut diatas sangat dimungkinkan karena motivasi belajar adalah perubahan energi seseorang yang ditandai dengan timbulnya ide yang efektif dan kreatif untuk melakukan kegiatan belajar motivasi belajar berfungsi sebagai dorongan pengaruh bagi penggerak perilaku seseorang untuk mencapai tujuan. Sehingga semakin tinggi motivasi belajar peserta didik, akan semakin tinggi pula dorongan untuk belajar. Dengan kata lain, peserta didik yang bermotivasi tinggi memiliki dorongan yang tinggi untuk melakukan kegiatan belajar. Sebaliknya peserta didik dengan motivasi rendah akan memiliki dorongan yang rendah pula untuk belajar. Dengan demikian peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi sedang, peserta didik dengan motivasi sedang memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah, dan peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah.
3. Hipotesis Ketiga
Dari hasil perhitungan anava dua jalan dengan sel tak sama diperoleh
Fab=2,5581 < 3,00 = Ftabel, sehingga Fab Ï DK . Oleh sebab itu, HOAB tidak ditolak,
dengan demikian tidak terdapat interaksi antara penggunaan pendekatan pembelajaran dan motivasi belajar matematika peserta didik.
Hal ini berarti, perbandingan antara penggunaan pendekatan pembelajaran
Open-Ended dan pendekatan Kontruktivis untuk setiap tingkat motivasi mengikuti
101
rataan marginalnya dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran Open-Ended menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan pendekatan pembelajaran kontruktivis, baik secara umum maupun untuk setiap tingkat motivasi belajar. Dengan kata lain, kalau dilihat pada masing-masing pendekatan pembelajaran, peserta didik dengan tingkat motivasi belajar tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang mempunyai tingkat motivasi belajar sedang dan peserta didik dengan tingkat motivasi belajar sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang mempunyai tingkat motivasi belajar rendah. Demikian pula sebaliknya, bila
dilihat dari masing-masing tingkat motivasi, penggunaan pendekatan
pembelajaran Open-Ended menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan pendekatan pembelajaran kontruktivis.
Dengan kata lain, pada pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended, peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi sedang, peserta didik dengan motivasi sedang memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah, dan peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah.
Dengan demikian hipotesis ketiga yaitu, pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Open-Ended, peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi sedang, peserta didik dengan motivasi sedang memiliki prestasi yang lebih baik daripada
102
peserta didik dengan motivasi rendah, dan peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah terbukti kebenarannya.
Hal tersebut sangat dimungkinkan karena pendekatan pembelajaran matematika yang digunakan oleh guru akan berpengaruh terhadap tinggi-rendahnya motivasi belajar peserta didik. Dalam pendekatan Open-Ended peserta didik dapat menginvestigasi berbagai strategi dan cara untuk mengelaborasi permasalahan. Peserta didik dengan motivasi tinggi mudah untuk membangun kegiatan interaktif dalam menyelesaikan permasalahan matematika melalui berbagai strategi. Peserta didik dengan motivasi rendah akan mengalami kesulitan dalam menentukan strategi dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Open-Ended, peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi sedang, peserta didik dengan motivasi sedang memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah, dan peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah.
4. Hipotesis Keempat
Berdasarkan perhitungan anava dapat disimpulkan bahwa pada
pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis, peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi sedang, peserta didik dengan motivasi sedang memiliki prestasi yang lebih baik
103
daripada peserta didik dengan motivasi rendah, dan peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah. Sehingga motivasi belajar sangatlah berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Dengan demikian hipotesis keempat yaitu, pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontruktivis, peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi sedang, peserta didik dengan motivasi sedang memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah, dan peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah terbukti kebenarannya.
Hal tersebut sangat dimungkinkan karena matematika yang disampaikan melalui pendekatan kontruktivis akan bisa mendorong keaktifan peserta didik untuk mengkontruksikan pengetahuan berdasarkan pengalamannya dalam belajar melalui berbagai sumber informasi yang diperoleh. Peserta didik dengan motivasi tinggi aktif dalam mengkontruksikan pengalamannya sehingga dia lebih dapat memahami materi daripada peserta didik yang mempunyai sedang atau rendah. Dengan demikian dalam pembelajaran dengan pendekatan kontruktivis peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi sedang, peserta didik dengan motivasi sedang memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah, dan peserta didik dengan motivasi tinggi memiliki prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan motivasi rendah.
104
5. Hipotesis Kelima
Berdasarkan perhitungan anava dapat disimpulkan bahwa pada peserta didik dengan motivasi tinggi, peserta didik dengan pendekatan pembelajaran
Open-Ended mempunyai prestasi yang lebih baik dengan peserta didik dengan
pendekatan konstruktivis. Hal ini disebabkan karena peserta didik dengan motivasi tinggi dapat aktif diberbagai tahapan pada pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended.
Dengan demikian hipotesis kelima yaitu prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki motivasi belajar tinggi dalam pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended lebih baik dari pada dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis terbukti kebenarannya.
Hal tersebut sangat dimungkinkan karena motivasi belajar peserta didik dapat ditingkatkan melalui pendekatan pembelajaran yang tepat dan menyenangkan seperti pendekatan konstruktivis dan pendekatan Open-Ended. Peserta didik dengan motivasi belajar tinggi akan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Matematika yang disampaikan melalui pendekatan konstruktivis akan mendorong keaktifan peserta didik untuk mengkonstruksikan pengetahuan berdasarkan pengalamannya. Sedangkan matematika yang diajarkan melalui pendekatan Open-Ended mendorong peserta didik untuk berpikir secara aktif, mampu menjawab permasalahan melalui berbagai strategi, dan memacu kemampuan berpikir peserta didik, sehingga peserta didik akan memiliki motivasi yang kuat untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dan menguasai persoalan-persoalan dalam matematika sebagai upaya mencapai prestasi belajar
105
yang tinggi. Sehingga prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki motivasi belajar tinggi dalam pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended lebih baik dari pada dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis.
6. Hipotesis Keenam
Berdasarkan perhitungan anava dapat disimpulkan bahwa pada peserta didik dengan motivasi sedang, peserta didik dengan pendekatan pembelajaran
Open-Ended mempunyai prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan
pendekatan konstruktivis.
Dengan demikian hipotesis keenam yaitu prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki motivasi belajar sedang dalam pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended lebih baik dibanding dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis terbukti kebenarannya.
Hal tersebut sangat dimungkinkan karena peserta didik dengan motivasi belajar sedang lebih mudah dalam menyelesaikan masalah atau soal dengan strategi mereka sendiri daripada harus mengkonstrusikan pengetahuannya dalam menyelesaikan masalah atau soal. Dengan demikian prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki motivasi belajar sedang dalam pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended lebih baik dari pada dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis
106
7. Hipotesis Ketujuh
Berdasarkan perhitungan anava dapat disimpulkan bahwa pada peserta didik dengan motivasi rendah, peserta didik dengan pendekatan pembelajaran
Open-Ended mempunyai prestasi yang lebih baik daripada peserta didik dengan
pendekatan konstruktivis. Hal ini disebabkan peserta didik dalam pembelajaran konstruktivis cukup aktif pada awal pembelajaran. Namun ketika mereka mengalami kesulitan mereka akan berperilaku ramai sendiri atau mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan tahapan yang ada, bahkan cenderung melamun. Peran guru sebagai motivator dan fasilitator sangat diperlukan di sini untuk mengantisipasi keadaan ini, sehingga pembelajaran berjalan dengan normal dan tertib.
Dengan demikian hipotesis ketujuh yaitu prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki motivasi belajar rendah dalam pembelajaran dengan pendekatan Open-Ended lebih baik dibanding dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis terbukti kebenarannya.
Hal tersebut sangat dimungkinkan karena semakin rendah dorongan atau motivasi peserta didik untuk belajar, semakin rendah pula dia dalam memahami suatu materi. Hal tersebut dapat menyebabkan banyaknya kesulitan dalam menyelesaikan soal. Dalam pembelajaran dengan pendekatan kontruktivis, peserta didik dituntut untuk dapat mengkontruksikan pengetahuan berdasarkan pengalamannya sehingga mampu menghasilkan penyelesaian dari suatu masalah dan pada akhirnya peserta didik mencoba pada persoalan lain. Peserta didik dengan motivasi rendah akan mengalami kesulitan dalam mengkontruksi
107
pengetahuannya apalagi jika dia dihadapkan dengan persoalan lain. Dalam pembelajaran dengan Open-Ended peserta didik dapat menyelesaikan masalah dengan berbagai strategi atau cara. Peserta didik dengan motivasi rendah akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikan masalah dengan berbagai cara atau strategi maka mereka akan menyelesaikan suatu soal dengan cara yang dia pahami. Dengan demikian prestasi belajar matematika peserta didik yang memiliki motivasi belajar rendah dalam pembelajaran dengan pendekatan
Open-Ended lebih baik dari pada dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis.