BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Pengertian Belajar Mengajar
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Pengertian Belajar Mengajar
Mengajar merupakan salah satu kompetensi guru sebagai pendidik. Pengertian mengajar mengalami perkembangan, bahkan hingga sekarang ini belum ada definisi yang tepat mengenai mengajar. Ada beberapa ahli yang memberikan pengertian mengajar, diantaranya yaitu Nana Sudjana (2003) yang menyatakan bahwa mengajar adalah membimbing peserta didik dalam belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengawasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didik yang melakukan kegiatan belajar. Menurut Oemar Hamalik (2000), mengajar adalah proses penyampaian pengetahuan dan kecakapan kepada peserta didik. Mengajar adalah aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya sehingga menciptakan kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan proses belajar secara aktif. Para ahli juga sudah merumuskan arti belajar, walaupun antara ahli yang satu dengan ahli lain berbeda ide namun adanya perbedaan tersebut dapat saling melengkapi dan memperjelas pengertian mengajar. Belajar adalah setiap kegiatan yang menghasilkan suatu perubahan (WS. Winkel, 1999: 102). Berdasarkan definisi tersebut, berarti bahwa seseorang dikatakan belajar kalau dapat memperoleh perubahan dari tidak tahu menjadi tahu dalam mempelajari pengetahuan. Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang
17
baru berkat pengalaman dan latihan (Oemar Hamalik, 2000: 21). Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku (Slameto, 2005: 2).
Berdasarkan beberapa definisi mengenai belajar mengajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan penyusunan pengetahuan dari pengalaman kongkret, aktivitas kolaboratif, reflektif, dan interpretasi untuk memahami suatu konsep. Sedangkan mengajar berarti menata lingkungan agar pelajar termotivasi dalam menggali makna dan menghargai ketidakmenentuan suatu pengetahuan. a. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Dalam mencapai tujuan belajar perlu dipertimbangkan faktor lain yang mempengaruhi belajar. Faktor yang satu dengan yang lain saling mempengaruhi dalam tercapainya tujuan proses belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar (Dalyono, 2005: 55) antara lain:
1) Faktor internal (yang berasal dari dalam diri) a) Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Bila seseorang selalu tidak sehat, sakit kepala, demam, pilek, batuk dan sebagainya, dapat mengakibatkan tidak bergairah untuk belajar.
b) Minat dan Motivasi
Sebagaimana halnya dengan intelegensi dan bakat maka minat dan motivasi adalah dua aspek psikis yang juga besar pengaruhnya terhadap pencapaian prestasi belajar.
18
c) Cara Belajar
Cara belajar seseorang juga mempengaruhi pencapaian hasil belajarnya. Belajar tanpa memperhatikan teknik dan faktor fisiologis, psikologis, dan ilmu kesehatan, akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan.
2) Faktor eksternal (yang berasal dari luar diri) a) Keluarga
Keluarga adalah ayah, ibu, dan anak-anak serta famili yang menjadi penghuni rumah. Faktor orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan anak dalam belajar.
b) Sekolah
Keadaan sekolah tempat belajar turut, mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar. Kualitas guru, metode mengajarnya, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan fasilitas/perlengkapan di sekolah, keadaan ruangan, jumlah murid per kelas, pelaksanaan tata tertib sekolah, dan sebagainya, semua itu turut mempengaruhi keberhasilan belajar anak.
c) Masyarakat
Keadaan masyarakat juga menentukan prestasi belajar. Bila di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakatnya terdiri dari orang-orang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik, hal ini akan mendorong anak lebih giat belajar. Tetapi sebaliknya, apabila tinggal di lingkungan banyak anak-anak yang nakal, tidak bersekolah dan pengangguran, hal ini akan mengurangi semangat belajar atau dapat dikatakan tidak menunjang sehingga motivasi belajar berkurang.
19
d) Lingkungan sekitar
Keadaan lingkungan tempat tinggal, juga sangat penting dalam mempengaruhi prestasi belajar. Keadaan lingkungan, bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim dan sebagainya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keberhasilan peserta didik dalam proses belajar tidak hanya ditentukan dari faktor intern semata, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor ekstern yang ada di sekitar peserta didik.
b. Pembelajaran Efektif
1). Pengertian Pembelajaran Efektif
Pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada anak-anak kita. Efektif itu artinya mencapai target yang ditetapkan dalam rencana. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran yang efektif adalah yang menetapkan kriteria target dan guru melakukan pengukuran pencapaian. Jadi, mengajar yang efektif itu jika pelaksanaannya terdapat instrumen untuk mengukur keberhasilan dan melaksanakan pengukuran. Pembelajaran yang efektif dapat juga dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dianggap efektif jika peserta didik terlibat secara aktif melaksanakan tahapan-tahapan prosedur pembelajaran. Dari segi hasil, dianggap efektif jika tujuan pembelajaran dikuasai peserta didik secara tuntas. Bentuk perubahan dari hasil belajar meliputi tiga aspek, yaitu:
a). Aspek kognitif meliputi perubahan-perubahan dalam segi penguasaan pengetahuan dan perkembangan keterampilan atau kemampuan yang diperlukan untuk menggunakan pengetahuan tersebut. commit to user
20
b). Aspek efektif meliputi perubahan-perubahan dalam segi sikap mental, perasaan dan kesadaran.
c). Aspek psikomotor meliputi perubahan-perubahan dalam segi bentuk-bentuk tindakan motorik. (Daradjat, 1995: 197) Prestasi belajar peserta didik yang diperoleh dalam proses belajar-mengajar disekolah dapat dilihat dan diketahui dari nilai hasil ujian semester, yang kemudian dituangkan dalam daftar nilai raport.
2). Definisi Pembelajaran Efektif
Pembelajaran yang efektif ditandai dengan sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan peserta didik secara aktif. Pembelajaran menekankan pada penguasaan pengetahuan tentang apa yang dikerjakan, tetapi lebih menekankan pada internalisasi, tentang apa yang dikerjakan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan hayati serta dipraktekkan dalam kehidupan oleh peserta didik (E. Mulyasa, 2003:149).
Pembelajaran efektif juga akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi peserta didik. Lebih dari itu pembelajaran efektif menekankan bagaimana agar peserta didik mampu belajar dengan cara belajarnya sendiri. Melalui kreativitas guru, pembelajaran di kelas menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan. Perwujudan pembelajaran efektif dan memberikan kecakapan hidup kepada peserta didik.
21
3). Ciri Pembelajaran Efektif
Dikatakan pembelajaran yang efektif, jika dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan sesuai dengan indikator pencapaian. Pembelajaran yang efektif dapat diketahui dengan ciri:
a). Belajar secara aktif baik mental maupun fisik. Aktif secara mental
ditunjukkan dengan mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berfikir kritis. Dan secara fisik, misalnya menyusun intisari pelajaran,
membuat peta dan lain-lain.
b). Metode yang bervariasi, sehingga mudah menarik perhatian peserta didik dan kelas menjadi hidup.
c). Motivasi guru terhadap pembelajaran di kelas. Semakin tinggi motivasi seorang guru akan mendorong peserta didik untuk giat dalam belajar.
d). Suasana demokratis di sekolah, yakni dengan menciptakan lingkungan yang saling menghormati, dapat mengerti kebutuhan peserta didik, tenggang rasa, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar mandiri, menghargai pendapat orang lain.
e). Pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata.
f). Interaksi belajar yang kondusif, dengan memberikan kebebasan untuk mencari sendiri, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar
22
pada pekerjaannya dan lebih percaya diri sehingga anak tidak menggantungkan pada diri orang lain.
g). Pemberian remedial dan diagnosa pada kesulitan belajar yang muncul, mencari faktor penyebab dan memberikan pengajaran remedial sebagai perbaikan, jika diperlukan (Slameto, 1991:94-97).
4). Pelaksanaan Pembelajaran Efektif
Pembelajaran memang harus tidak dilakukan secara sembarangan, diperlukan mulai dari perencanaan yang matang, pembuatan perangkat pembelajaran, pemilihan strategi, media, teknik, metode pembelajaran, hingga evaluasi pembelajaran yang semua itu saling berkesinambungan.
Salah satu yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran adalah penggunaan metode-metode pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan peserta didiknya agar dalam pembelajaran yang dilakukan dapat lebih variatif dan berjalan lancar. Penggunaan model pembelajaran ini juga disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan sehingga kesesuaian antara keduanya dan semua komponen menjadi tepat guna.
Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai peserta didik setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika
23
pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.
5).Teknik Pembelajaran Efektif
Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka
mengimplementasikan suatu metode. Misalnya, cara yang harus dilakukan agar metode ceramah berjalan efektif dan efisien. Dengan demikian, sebelum seseorang melakukan proses ceramah sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi. Misalnya, berceramah pada siang hari setelah makan siang dengan jumlah peserta didik yang banyak tentu saja akan berbeda jika ceramah itu dilakukan pada pagi hari dengan jumlah peserta didik yang terbatas.
c. Model Pembelajaran
Model pembelajaran merupakan salah satu faktor ekstern yang mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik. Pembelajaran adalah suatu proses interaksi antara guru dengan guru, guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik lain yang berupa pelatihan, pengalaman untuk mendapatkan pengalaman baru.
Menurut Eggen dan Kauchak yang dikutip oleh Sri Whardani (2005:17), model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Sedangkan Isjoni (2005: 7) model pembelajaran adalah model yang digunakan guru untuk meningkatkan motivasi belajar, sikap belajar
24
dikalangan peserta didik, mampu berpikir kritis, memiliki keterampilan sosial, dan pencapaian hasil pembelajaran yang lebih optimal.
Hal ini sesuai definisi yang dikemukakan oleh Emily Lin dalam ProQuest
Education Journals yang berjudul “ Cooperatitve Learning in the Science Classroom” yaitu Cooperitave learning is an instructional method in wich students work in small groups to accomplish a common learning goal under the guidance of teacher yang artinya pembelajaran kooperatif adalah metode
pembelajaran yang mana peserta didik bekerja dalam kelompok kecil untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran umum dengan panduan guru
Pembelajaran menurut pandangan konstruktivis membantu peserta didik untuk membangun konsep-konsep, prinsip-prinsip dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep/prinsip itu terbangun kembali, transformasi yang diperoleh menjadi konsep/prinsip baru.
Dalam proses pembelajaran mengajar, seorang guru pastilah akan dihadapkan dengan bermacam-macam materi yang harus diajarkan. Keyakinan diperlukan untuk memilih model pembelajaran yang sesuai dengan melihat karakteristik dari masing-masing materi yang berbeda. Menurut Anita Lie (2010: 23-29) terdapat tiga macam model pembelajaran, yaitu:
1) Model Kompetisi
Dalam model pembelajaran kompetisi, peserta didik belajar dalam suasana persaingan. Tidak jarang pula, guru memakai imbalan atau hadiah sebagai sarana untuk memotivasi peserta didik dalam memenangkan kompetisi.
25
2) Model Individu
Dalam model pembelajaran individu, setiap anak didik belajar dengan kecepatan yang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Setiap peserta didik diberi paket-paket pelajaran untuk di pelajari sendiri.
3) Model Cooperative Learning
Model pembelajaran Cooperative Learning disebut juga dengan model pembelajaran gotong royong dimana peserta didik bekerja sama dalam kelompok untuk membahas dan menyelesaikan soal yang diberikan guru.
Dengan demikian dalam proses pembelajaran, setiap guru memiliki beberapa alternatif pilihan model pembelajaran yang akan digunakan sesuai dengan karakteristik masing-masing materi pelajaran.
d. Pendekatan Pembelajaran
Erman Suherman (2003: 220) mengemukakan bahwa pendekatan dalam pembelajaran adalah suatu jalan, cara atau kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru atau peserta didik dalam pencapaian tujuan pembelajaran dilihat dari sudut bagaimana proses pembelajaran atau materi pembelajaran itu, umum atau khusus. Erman Suherman (2003: 221) menyatakan pula bahwa pendekatan pembelajaran merupakan suatu konsep atau prosedur yang digunakan dalam membahas suatu bahan pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sementara itu Soedjadi R. (2001: 102), membedakan pendekatan pembelajaran matematika menjadi dua, sebagai berikut.
a. Pendekatan materi (material approach), yaitu proses penjelasan topik matematika tertentu dengan menggunakan materi matematika lain.
26
b. Pendekatan pembelajaran (teaching approach), yaitu proses penyampaian atau penyajian topik matematika tertentu agar peserta didik mudah memahaminya.
Johnson and Holubec dalam Effandi Zakaria dan Zanaton Iksan (2007) dalam Journal of Mathematic, Science & Technology Education berjudul “Promoting Cooperative Learning in Science and Mathematics Education” mengatakan bahwa: five essential elements of cooperative learning:
1) Positive interdependence: The success of one leaner is dependent on the success ot the other leaners.
2) Promotive interaction: Individual can achieve promotive interaction by helping each other, exchanging resources, challenging each other’s conclusions, providing feedback, encouraging and striving for mutual benefits.
3) Individual accountability: teachers should assess the amount of effort that each member is contributing. These can be done by giving an individual tes to each student and randomly calling students to present their group’s work.
4) Interpersonal and small-group skills: Teachers must provide opportunities for group members to know each other, accept and support each other, communicate accurately and resolve differences constructively.
5) Group processing: Teachers must also provide opportunities for the class to assessgroup progress. Group processing enables group to focus on good working relationship, facilitates the learning of cooperative skills and ensures that members receive feedback.
Yang dapat diartikan sebagai berikut:
Lima unsur penting dalam pembelajaran kooperatif adalah
1) Saling ketergantungan positif: Keberhasilan peserta didik yang satu
tergantung pada keberhasilan peserta didik yang lain.
2) Saling berinteraksi untuk mencapai kemajuan: Individu dapat mencapai
kemajuan dengan cara saling membantu satu dengan yang lain, pertukaran pengetahuan, menantang masing-masing kesimpulan, memberi umpan balik, mendorong dan berusaha untuk saling menguntungkan.
3) Tanggung jawab individu: Guru seharusnya menilai usaha yang dilakukan
27
masing-masing anggota. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberi tes individu kepada peserta didik secara acak untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
4) Kemampuan berhubungan antar anggota dan ketrampilan dalam kelompok
kecil: Guru harus memberi kesempatan pada anggota kelompok untuk mengenal satu dengan yang lain, saling menerima dan mendukung, berkomunikasi secara benar dan menyelesaikan perbedaan- perbedaan secara konstruktif.
5) Proses dalam kelompok: Guru harus memberi kesempatan kepada kelas
untuk menilai kemajuan kelompok. Proses yang terjadi dalam kelompok memungkinkan kelompok untuk fokus pada kerja sama yang baik, memfasilitasi ketrampilan pembelajaran kooperatif dan menjamin semua anggota menerima umpan balik.
Sedangkan Himazoe dan Aldrich dalam Effandi Zakaria, Lu Chung Chin and Md. Yusoff Daud (2010) dalam journal of social science yang berjudul “The
Effects of Cooperative Learning on Students’ Mathematics Achievement and Attitude towards Mathematics“ menyebutkan beberapa manfaat penggunaan
pembelajaran kooperatif untuk peserta didik yaitu :
1) Cooperative learning promotes deep learning of materials.
2) Students achieve better grades in cooperative learning compared to competitive or individual learning.
3) Students learn social skills and civic values. 4) Students learn higher-order,critical thinking skills. 5) Ccooperative learning promotes personal growth.
Yang berarti :
1) Pembelajaran kooperatif meningkatkan pemahaman materi pembelajaran.