BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Dari hasil penelitian akan diuraikan pembahasan tentang hasil penurunan dari pemberian teknik abdominal breathing terhadap nyeri persalinan. Dari hasil penelitian yang didapat penelitian mengenai pengaruh teknik abdominal breathing terhadap penurunan nyeri persalinan kala I fase aktif pada persalinan fisiologis, dengan sampel 26 orang yang dikelompokkan menjadi 2 kelompok 13 responden pada kelompok intervensi dan 13 responden pada kelompok kontrol. Pengukuran skala nyeri dilakukan dengan metode VAS (Visual
Analog Scale) dimana nyeri dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu
1-5 nyeri ringan, 6-8 nyeri sedang, 9-10 nyeri berat.
1. Teknik Abdominal Breathing
Teknik Abdominal breathing merupakan salah satu teknik mengurangi nyeri persalinan yang termasuk dalam metode
nonfarmakologi. Teknik abdominal breathingini menggunakan
langkah-langkah yang harus dilakukan oleh responden sebagai indikator berhasil atau tidaknya teknik ini dilakukan, dari 12 indikator yang harus dicapai jika responden mendapatkan skor < 5 dikatakan responden belum melakukan teknik ini dengan benar jika > 5 maka responden dikatakan melakukan teknik abdominal breathing dengan benar.
Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan aplikasi komputerisasi maka didapatkan hasil yaitu untuk distribusi frekuensi teknik abdominal breathing dari 13 responden yang dilakukan teknik abdominal breathing 10 responden melakukan teknik
Abdominal breathing dengan benar 3 responden belum melakukan
teknik abdominal breathing dengan benar.
Menurut Bobak wanita diajarkan untuk merelaksasikan otot-otot yang tidak terlihat saat ia mengkontraksikan otot tertentu. Ia akan menerapkan latihan ini pada saat melahirkan, yakni dengan merelaksasikan semua otot bahwa pernafasan dada mengangkat diagframa dari Rahim yang berkontraksi, pola pernafasan dada bervariasi, sesuai intensitas kontraksi dan kemajuan persalinan.
dapat merelaksasi semua otot yang berperan saat persalinan dari 13 responden tersebut 3 diantaranya belum melakukan teknik abdominal breathing dengan benar oleh karena itu perlu dilakukan latihan pada saat kehamilan disamping nutrisi dan hygiene teknik abdominal breathing perlu diajarkan selama kehamilan.
2. Distribusi intensitas nyeri pada ibu Inpartu Kala I fase Aktif Pada Persalinan Fisiologis
Berdasarkan hasil penelitian sebelum dilakukan teknik abdominal
breathing pada kelompok intervensi sebelum tindakan diperoleh
intensitas nyeri sedang 5 responden dengan persentase 38,4 % dan berat 8 responden dengan persentase 61,6 % sedangkan sesudah tindakan diperoleh intensitas nyeri ringan sebanyak 3 responden dengan persentase 23,2 % nyeri sedang sebanyak 5 responden dengan persentase 38,4 % dan nyeri berat sebanyak 5 responden dengan persentase 38,4 %
Smeltzer & Bare menyatakan bahwa tujuan teknik relaksasi nafas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelaksi paru, meningkatkan efisiensi batuk, mengurangi stress, baik stress fisik maupun stress emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan.
Menurut Theresia Yuliati (2010) Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa tingkat nyeri responden sebelum dilakukan relaksasi pernapasan nilai rata-rata mencapai 6,27 dengan stándar deviasi 1,386 dan setelah dilakukan intervensi nilai rata-rata tingkat nyeri ibu inpartu 4.77 dengan stándar deviasi 1,688. Nyeri responden setelah intervensi lebih rendah dari pada nilai rata-rata sebelum intervensi sehingga dapat dinyatakan bahwa metode relaksasi pernapasan ini berpengaruh terhadap pengurangan nyeri persalinan kala I fase aktif
Hasil penelitian ini sama dengan teori yang ada bahwa metode relaksasi dapat mengurangi intensitas nyeri yang dirasakan responden dari yang sebelum dilakukan teknik abdominal breathing adalah nyeri sedang setelah dilakukan teknik abdominal breathing menjadi nyeri ringan hal ini dikarenakan relaksasi otot-otot yang berperan dalam merangsang terjadinya kontraksi otot rahim.
3. Pengaruh Teknik Abdominal Breathing Terhadap Penurunan Nyeri Pada Ibu Inpartu Kala I fase Aktif Pada Persalinan Fisiologis
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata nyeri setelah dilakukan teknik abdominal breathing pada kelompok intervensi yaitu sebanyak 13 orang diperoleh rata-rata nyeri = 5,85, SD =1.625 dan
kelompok kontrol yaitu sebanyak 13 orang diperoleh rata-rata nyeri = 7,85, SD = 0,927 dengan perbedaan mean adalah 7.846 . Hasil uji statistik (t-independen) diperoleh nilai P = (0,000), sehingga dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan teknik abdominal breathing efektif secara signifikan terhadap penurunan intensitas nyeri selama persalinan kala I fase aktif.
Dari hasil uji statistik t-dependent yang dilakukan dengan mengelompokkan responden kedalam dua kelompok yaitu kelompok interensi dan kelompok kontrol didapatkan hasil ada pengaruh yang signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol hal ini dapat dilihat pada nilai P = 0,000 atau P ≤ 0,05 yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima yaitu adanya pengaruh antara teknik abdominal breathing terhadap penurunan nyeri persalinan kala I fase aktif pada persalinan fisiologis.
Penelitian ini sesuai dengan pernyataan dari (Simpkin, 2005) bahwa relaksasi pernapasan suatu metode nonfarmakologi yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa nyeri luka, bekas operasi dan nyeri persalinan, metode relaksasi pernapasan ini juga mengurangi respon melawan atau menghindar seperti gemetar. Pada ibu inpartu menemukan bahwa tindakan ini akan mempelancar sirkulasi darah ibu dan dapat memberi kenyamanan pada ibu. relaksasi pernapasan yang
digunakan tidak memiliki efek samping yang membahayakan. Keterampilan mengatasi rasa nyeri ini dapat digunakan selama persalinan, mengatasi persalinan dengan baik berarti tidak kewalahan atau panik saat menghadapi rangkaian kontraksi (Whalley., Simkin., & Keppler.2008). Relaksasi bernapas selama proses persalinan dapat mempertahankan komponen sistem saraf simpatis dalam keadaan homeostatis sehingga tidak terjadi peningkatan suplai darah, menguragi kecemasan dan ketakutan agar ibu dapat beradapatasi dengan nyeri selama proses persalinan (Mander, 2003).
Berdasarkan teori yang diambil ada kesamaan dengan apa yang peneliti lakukan bahwa teknik abdominal breathing ini efektif dalam mengurangi nyeri persalinan, karena teknik abdominal breathing ini metode yang sederhana, tidak memerlukan alat dan melibatkan ibu sepenuhnya dengan tujuan ibu dapat mengontrol nyeri yang dirasakannya.
Nyeri persalinan menurut (Danuatmaja, 2004), merupakan rasa sakit yang terjadi akibat adanya aktivitas basar di dalam tubuh guna mengeluarkan bayi. Di mana rasa sakit kontraksi di mulai dari bagian bawah punggung kemudian menyebar ke bagian bawah perut, Umumnya rasa sakit ini berbeda-beda yang dirasakan setiap ibu.
hasil penelitian diperoleh bahwa ibu inpartu merasakan nyeri yang sangat pada kelahiran anak pertama sebanyak 22 orang (100%).
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Potter dan Perry (2005) Bahwa nyeri merupakan pengalaman yang menyeluruh dirasakan oleh semua manusia dan bersifat subjektif, sehingga nilainya dapat berbeda-beda dari satu orang dengan orang lain serta bervariasi dirasakan oleh orang dari waktu ke waktu.
Metode penatalaksanaan nyeri persalinan ada 2 yaitu secara farmakologi dan nonfarmakologi, salah satu metode nonfarmakologi adalah teknik abdominal breathing dimana bidan mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan nafas dalam,nafas lambat,( menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi nafas juga dapat meningkatkan ventilitas paru dan meningkatkan oksigenasi darah.( Smeltzer & Bare, 2002).
Relaksasi merupakan metode yang efektif terutama pada pasien yang mengalami nyeri kronis.Relaksasi sempurna dapat mengurangi ketegangan otot dan rasa jenuh dan kecemasan sehingga mencegah menghebatnya stimulus nyeri.
( Eni Kusyati, Hal 198, 2006). Tujuan teknik relaksasi nafas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran
gas, mencegah atelaksi paru, meningkatkan efisiensi batuk, mengurangi stress, baik stress fisik maupun stress emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan.
Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian Theresia yulianti (2010) dengan judul Efektifitas Metode Relaksasi Pernafasan Pada Persalinan Kala I Fase Aktif di Medan yang menyatakan ada pengaruh yang signifikan antara metode relaksasi pernafasan dengan persalinan Kala I dengan nilai P Value < 0,000.
Berdasarkan penyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil penelitian yang peneliti lakukan serupa dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Theresia yulianti (2010) yaitu bahwa ada pengaruh antara teknik relaksasi dengan penurunan nyeri persalinan kala I, dimana hasil penelitian ini diperkuat dengan beberapa teori pendukung. Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan pada instansi terkait seperti klinik bersalin, puskesmas atau rumah sakit untuk mengaplikasikan teknik abdominal breathing ini, karena metode ini sangat sederhana dan tanpa biaya sehingga dapat diterapkan dengan mudah.