• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN DOSEN YAYASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN DOSEN YAYASAN"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TEKNIK ABDOMINAL BREATHING TERHADAP PENURUNAN NYERI PERSALINAN KALA I FASE AKTIF

PADA PERSALINAN FISIOLOGIS DI BIDAN PRAKTEK MANDIRI

(BPM) “G” PADANG 2014

Peneliti:

Nikmatullah Wahida, S.ST

Dana bersumber dari Institusi STIKes Prima Nusantara 2014

PROGRAM STUDI D-IV BIDAN PENDIDIK STIKES PRIMA NUSANTARA

(2)

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Ucapan terima kasih teristimewa buat kedua orang tua, terima kasih atas kasih sayang, dukungan, nasehat, pengorbanan, doa dan harapan yang selalu menjadi semangat dalam setiap langkah penulis.

Seterusnya ucapan terima kasih saya kepada yang terhormat :

1. Ibu Hj. Evi Susanti, S.ST, M. Biomed selaku Ketua STIKes Prima Nusantara Bukittinggi.

2. Ibu Bidan Gusniati yang telah bersedia untuk memberikan data dan membantu dalam pelaksanaan penelitian

3. Untuk para sahabat dan semua pihak yang telah memberikan dukungan dan masukan serta kebersamaan yang telah kita jalani bersama.

Dalam Penyusunan laporan penelitian ini peneliti sudah berusaha semaksimal mungkin, namun peneliti menyadari bahwa penyusunan laporan penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu peneliti mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Bukittinggi, Juni 2014

(3)

Halaman PERNYATAAN PERSETUJUAN KATA PENGANTAR………..… DAFTAR ISI……….. DAFTAR BAGAN………. DAFTAR TABEL………... DAFTAR LAMPIRAN………. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang………. B. Identifikasi Masalah……….………..…….. C. Batasan Masalah………..……….. D. Rumusan Masalah………... E. Tujuan Penelitian ……….…... 1 Tujuan umum……….…….… 2 Tujuan khusus………... F. Manfaat Penelitian ………..…… BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Nyeri Persalinan………...………... c. Teknik Abdominal Breathing ……….…… B.Kerangka Teori... C. Kerangka Konsep………... D. Hipotesis………... E. Definisi Operasional……….…… BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... B. Tempat dan Waktu Penelitian... ... C. Populasi dan Sampel………... 1. Populasi……… 2. Sampel………... D. Etika Penelitian ………... E. Pengumpulan Data……….. F. Pengolahan Data………..………... G. Analisis Data ……….. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ……… B. Pembahasan………. C. Keterbatasan Penelitian ……….. i iii v vi vii 1 4 4 5 5 5 5 6 8 19 32 33 33 34 35 36 36 36 36 38 40 41 41 44 47 50

(4)

B. Saran ………...… DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(5)

1. Bagan Patofisiologi ... 22 2 Kerangka Teori ... 32 3. Kerangka Konsep……….…….……… . 33

(6)

E. Defenisi Operasional ... 34 Tabel 4. Analisis Univariat... .. 44 Tabel 4.1 Intensitas Nyeri sebelum dan setelah dilakuakn teknik abdominal

breathing pada kelompok intervensi... 44 Tabel 4.2 Intensitas Nyeri sebelum dan setelah dilakuakn teknik abdominal

breathing pada kelompok kontrol... .. 44 Tabel 5. Analisis Bivariat... ... 45 Tabel 5.1 Perbandingan nyerisebelum dan setelah dilakukan teknik abdominal

breathing pada kelompok intervensi... 45 Tabel 5.2 Perbandingan nyerisebelum dan setelah dilakukan teknik abdominal

breathing pada kelompok kontrol... . 46 Tabel 5.3Perbandingan intensitas nyeri sesudah dilakukan teknik abdominal

breathing pada kelompok kontrol dan sesudah dilakukan teknik

abdominal breathing pada kelompok intervensi... 46

(7)

Lampiran I Kisi-kisi kuesioner

Lampiran II Formulir persetujuan menjadi responden Lampiran III Kuesioner

Lampiran IV Jadwal Penelitian (dalam bentuk ganchart) Lampiran V Daftar nama pasien

(8)

penurunan nyeri persalinan kala I fase aktif pada persalinan fisiologis di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” padang tahun 2014

vii+60 halaman+9 tabel +3 skema+6 Lampiran ABSTRAK

Nyeri persalinan merupakan pengalaman subjektif tentang sensasi fisik yang terkait dengan kontraksi uterus dilatasi dan penipisan serviks serta penurunan janin selama persalinan . Salah satu metode yang sangat efektif dalam menanggulanginya adalah metode abdominal breathing yang dilakukan secara

nonfarmakologi. Pengukuran skala nyeri dilakukan menggunakan skala VAS

(Visual Analog Scale). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur ada atau tidaknya penurunan nyeri persalinan kala I fase aktif dengan Metode abdominal breathing yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen yang bersifat

one group pretest-postes. dengan besar sampel sebanyak 26 orang dengan metode

pengambilan sample accidental sampling dan analisis data yang digunakan adalah uji t-dependen. Penelitian dilakukan pada tanggal 22 Januari sampai 28 Mei 2014. Instrument dalam penelitian ini berupa lembar observasi yang meliputi tingkat nyeri dengan skala nyeri VAS numeric sebelum dan setelah intervensi. Dari hasil uji t-dependent diperoleh intensitas nyeri sebelum dilakukan metode abdominal breathing nilai rata-rata adalah 7,15 standar deviasinya 1,144 dan setelah dilakukan intervensi nilai rata-rata adalah 5,85 standar deviasinya 1,625. Dan untuk kelompok kontrol sebelum dilakukan teknik abdominal breathing didapatkan nilai rata-rata 7,23 dengan SD 0,927 dan setelah dilakukan teknik abdominal breathing nilai rata-rata adalah 7,85 dengan SD 0,987 dan perbedaan rata-rata skala nyeri sebelum dan sesudah intervensi 7,486 . Hasil uji statistik

t-dependent ada pengaruh yang signifikan metode relaksasi pernapasan terhadap

nyeri persalinan kala I fase aktif dengan nilai p= 0,000. Dari hasil penelitian ini bidan dapat menerapkan metode relaksasi abdominal breathing dalam layanan asuhan persalinan normal dan diharapkan ada penelitian lanjutan yang menggunakan judul lain yang sejenis untuk penelitian.

Daftar Pustaka : 29 (2002 – 2011)

(9)

Prodi : D-IV Educator of Midwife

Title : Effect of abdominal breathing techniques to decrease pain first stage of labor in the active phase of labor in the physiological Midwife Independent Practice (BPM) "G" field in 2014

Vii + 60 Pages + 9 tables + 3 Chart + 6 attachment

ABSTRACK

Labor pain is a subjective experience of physical sensations associated with uterine contractions and cervical dilation and thinning of the fetus during labor decreased. One method that is very effective in overcoming abdominal breathing method is performed nonfarmakology. Pain scale measurements performed using the VAS scale (Visual Analog Scale). The purpose of this study was to measure the presence or absence of pain decreased active phase of the first stage of labor with abdominal breathing method used in this study is an experiment that is one-group pretest-posttest. with a sample size of 26 people with accidental sampling method of sampling and analysis of data used is the t-dependent. The study was conducted on 22 Januari until 28 Mei 2014. Instrument in this study is the observation sheet that includes the level of pain with numeric VAS pain scale before and after the intervention. From the test results obtained by t-dependent pain intensity prior to abdominal breathing method mean value is 7.15 and the standard deviation is 1.144 after intervention, the average value is 5.85 standard deviation of 1.625. And for the control group prior to abdominal breathing techniques obtained average value of 0.927 and 7.23 with SD after abdominal breathing techniques mean value was 7.85 with SD 0.987 and the difference in average pain scale before and after the intervention 7.486. Results of t-dependent statistical test was no significant effect on pain breathing relaxation methods first stage of labor active phase with p = 0.000. From the results of this study can be applied midwife abdominal breathing relaxation methods in normal delivery care services and it is expected that no further research using other similar titles for research.

Reading list : 29 ( 2003-2011)

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada tahun 2010 WHO Membuat Kehamilan Lebih Aman (MPS) yang pada dasarnya menekankan pada penyediaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang terampil untuk mengurangi angka kematian bayi dan kematian ibu secara signifikan pada tahun 2015 dengan deteksi dini, antenatal care, penatalaksanaan persalinan dan nifas yang baik (WHO, 2010).

Persalinan merupakan suatu proses alamiah yang akan dilalui oleh setiap ibu hamil, di mana terjadi pengeluaran hasil konsepsi berupa bayi dan plasenta dari rahim ibu. Pada proses ini terjadi peregangan dan pelebaran mulut rahim sebagai akibat dari kontraksi otot-otot rahim untuk mendorong bayi keluar. Bersamaan dengan setiap kontraksi, kandung kemih, rektum, tulang belakang, dan tulang pubic menerima tekanan kuat dari rahim, hal ini lah yang menyebabkan nyeri pada persalinan (Danuatmaja&Meiliasari, 2008).

(11)

Proses persalinan kala I disertai nyeri yang merupakan suatu proses fisiologis. Proses persalinan kala I merupakan pengalaman subjektif tentang sensasifisik yang terkait dengan kontraksi uterus, dilatasi, dan penipisan serviks (Arifin, 2008). Nyeri yang dirasakan berasal dari bagian bawah abdomen dan menyebar ke daerah lumbar punggung dan menurun kepaha (Bobak, 2005). Sebuah studi pada wanita dalam persalinan kala I dengan memakai McGill Pain Questionnare untuk menilai nyeri didapatkan bahwa 60% primipara melukiskan nyeri akibat kontraksi uterus sangat hebat (intolerable, unberable,

extremely severe), 30% nyeri sedang. Pada multipara 45%

nyeri hebat, 30% nyeri sedang, 25% nyeri ringan (Acute Pain

Services (APS), 2007).

Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan nyeri pada persalinan, baik secara farmakologi maupun nonfarmakologi. Manajemen nyeri secara farmakologi lebih efektif dibanding dengan metode nonfarmakologi namun metode farmakologi lebih mahal, dan berpotensi mempunyai efek yang kurang baik. Sedangkan metode nonfarmakologi bersifat non intrusif, non invasif, murah, sederhana, efektif dan tanpa efek yang

(12)

kepuasan selama persalinan karena ibu dapat mengontrol perasaannya dan kekuatannya (Burn & Blarney, 1994 ; Cook & Wilcox, 1997 dikutip oleh Arifin, 2008).

Adapun macam-macam pendekatan non farmakologis adalah dengan cara posisi dan perubahan ibu, pijatan (massage), tekanan (pressure), distraksi, dan teknik nafas dalam. Namun peneliti tertarik untuk meneliti teknik abdominal breathing hal ini dikarenakan teknik abdominal breathing selain dapat merelaksasikan otot-otot,teknik Abdominal Breathing di percaya mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opoid endogen yaitu endofin dan enkefalin sehingga nantinya dapat mengurangi nyeri yang dirasakan dan juga teknik Abdominal

Breathing mudah dilakukan dan tidak memelukan alat relaksasi.

Penelitian yang dilakukan Hariati di Trenggalek dalam upaya penurunan nyeri kala I persalinan melalui tehnik nafas dalam berirama dengan menggunakan skala nyeri Bounbanais (Hartini, 2004). Hasil penelitian ini menunjukkan dari 12 responden sebelum perlakuan 7 orang (58,34 %) nyeri berat, 4 orang (33,33 %) nyeri sedang dan 1 orang (8,33 %) nyeri sangat berat. Setelah perlakuan, menunjukkan nyeri ringan 66,67 % dan nyeri sedang 33,33 %

(13)

Teori Dick Read &Lamage bahwa nyeri persalinan yang disebabkan oleh rasa nyeri, takut dan tegang dapat dikurangi atau diredakan dengan berbagai metode yaitu menaikkan pengetahuan ibu tentang hal-hal yang akan terjadi pada suatu persalinan, menaikkan kepercayaan diri dan relaksasi pernapasan (Bobak, 2004).

Abdominal breathing merupakan salah satu cara teknik relaksasi yang dapat digunakan untuk ibu bersalin. Abdominal breathing bermanfaat untuk mengalihkan perhatian ibu dari rasa nyeri atau sakit saat bersalin. Namun sampai saat ini teknik abdominal breathing masih belum terbiasa digunakan dalam menolong persalinan fisiologis pada ibu inpartu.

Dari survey pendahuluan peneliti yang dilakukan pada bulan April di kota padang , yaitu di BPS “G” dan di BPS “E” didapatkan di BPS “E” didapatkan jumlah ibu bersalin 15 orang perbulan, bidan menggunakan teknik lain dalam menangani nyeri persalinan pada ibu bersalin yaitu dengan tindakan farmakologis namun di BPS “G” diketahui bahwa jumlah ibu bersalin semua berjumlah 10 orang perbulan pernah dilakukan teknik abdominal breathing namun tidak berpengaruh dalam

(14)

maupun ibu multipara hal ini dikarenakan bidan hanya menganjurkan pasien untuk melakukannya saja tanpa diajarkan teknik abdominal breathing secara benar. Alasan peneliti memilih kedua BPS tersebut dikarenakan pada saat survey pendahuluan kedua BPS ini memiliki masalah pada penanggulangan nyeri persalinan, dari 10 responden yang di teliti 8 diantaranya menyatakan mengalami nyeri yang hebat, yang ditandai dengan ibu tidak mampu berkomunikasi, memukul dan tidak bisa diajak kerjasama, namun penangan dari bidan masih minim diberikan kepada responden sehingga responden merasa kurang di perhatikan oleh bidannya. Berdasarkan data di atas, peneliti sudah melakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian teknik abdominal breathing terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” padang.

B. Identifikasi Masalah

Seperti yang telah diuraikan di atas, penelitian tentang teknik abdominal breathing masih relatif sedikit dilakukan dan untuk mengetahui bagaimana pengaruhnya terhadap nyeri persalinan pada ibu bersalin kala I.

(15)

C. Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada penyebab nyeri dan upaya yang dilakukan dalam mengatasi nyeri kala I fase aktif. pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan pengisian angket.penelitian ini dilakukan karena banyaknya ibu bersalin yang mengalami nyeri saat melahirkan dan berbagai upaya yang dilakukan untuk mengatasi nyeri persalinan, peneliti tertarik untuk mengaplikasikan salah satu teknik abdominal breathing terhadap nyeri persalinan. Dan bagaimana pengaruhnya terhadap nyeri persalinan tersebut.

D. Rumusan Masalah

“Apakah ada pengaruh pelaksanaan teknik abdominal breathing terhadap penurunan nyeri ibu inpartu kala I fase aktif pada persalinan fisiologis di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” padang tahun 2014?

E. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Mengetahui pengaruh pelaksanaan teknik abdominal breathing terhadap penurunan nyeri ibu inpartu kala I fase aktif pada persalinan fisiologis di Bidan Praktek Mandiri

(16)

2. Tujuan khusus

a. Diketahuinya distribusi frekuensi teknik abdominal breathing pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada persalinan fisiologis di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang Tahun 2014

b. Diketahuinya distribusi frekuensi intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan teknik abdominal breathing pada kelompok Intervensi pada persalinan fisiologis di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang Tahun 2014

c. Diketahuinya distribusi frekuensi intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan teknik abdominal breathing pada kelompok Kontrol pada persalinan fisiologis di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang Tahun 2014

d. Diketahuinya perbandingan intensitas nyeri sebelum dan setelah dilakukan teknik abdominal breathing pada kelompok intervensi di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang tahun 2014

e. Diketahuinya perbandingan intensitas nyeri sebelum dan setelah dilakukan teknik abdominal breathing pada

(17)

kelompok kontrol di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang tahun 2014

f. Mengetahui pengaruh perbandingan intensitas nyeri setelah dilakukan teknik abdominal breathing pada kelompok intervensi dan pada kelompok Kontrol di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang tahun 2014 F. Manfaat Penelitian

1) Bagi Peneliti

Peneliti dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan dalam penelitian kesehatan dan keterampilan dan dasar penerapan ilmu metodologi penelitian.

2) Bagi instansi terkait

Memberikan informasi bagi instansi terkait khususnya Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” tentang cara menananggulangi nyeri pada ibu melahirkan kala I fase aktif.

3) Bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan data dasar dan acuan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lain, misalnya tentang Pengaruh Teknik

(18)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Nyeri Persalinan

1. Pengertian Nyeri

Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subjektif karena perasaan nyeri pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanyaorang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya (Hidayat, 2006).

Nyeri persalinan merupakan pengalaman subjektif tentang sensasi fisik yang terkait dengan kontraksi uterus dilatasi dan penipisan serviks serta penurunan janin selama persalinan. Respon fisiologi terhadap nyeri meliputi peningkatan tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, keringat, diameter pupil, dan ketegangan otot (Arifin, 2008).

Nyeri Persalinan adalah nyeri kontraksi uterus yang dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas sistem syaraf simpatis. Nyeri yang hebat pada persalinan dapat menyebabkan perubahan-perubahan fisiologi tubuh seperti; tekanan darah menjadi naik, denyut jantung meningkat, laju pernafasan meningkat, dan apabila tidak segera diatasi makaakan meningkatkan rasa khawatir, tegang,

(19)

takut dan stres.Peningkatan konsumsi glukosa tubuh pada ibu bersalin yang mengalami stres menyebabkan kelelahan dan sekresi katekolamin yang menghambat kontraksi uterus, hal tersebut menyebabkan persalinan lama yang akhirnya menyebabkan cemas pada ibu, peningkatan nyeri dan stres berkepanjangan (Bobak, 2005).

Rasa takut menyebabkan pembuluh-pembuluh arteri yang mengarah ke rahim berkontraksi dan menegang, sehingga menimbulkan rasa sakit (nyeri).Kalau tanpa adanya rasa takut, otot-otot melemas dan melentur, servik (leher rahim) dapat menipis serta membuka secara alami sewaktu tubuh berdenyut secara berirama dan mendorong bayi dengan mudah sehingga membuat persalinan berlangsung secara lancar relatif lebih cepat dengan keluhan nyeri yang sangat minimal. Dengan terbiasanya ibu melakukan relaksasi, jalan lahir untuk janin akan lebih mudah terbuka sehingga ibu tidak akan terlalu kelelahan saat melahirkan. Jadi dengan latihan relaksasi yang rutin, ibu akan terbiasa pada kondisi ini dan akan sangat terbantu dalam proses persalinannya (Andriana, 2007)

(20)

2. Penyebab Nyeri Persalinan Kala I

Rasa nyeri pada ibu melahirkan berbeda dengan rasa nyeri yang biasa terjadi pada tubuh saat sakit. Rasa nyeri tak tertahankan menjelang persalinan menandakan bahwa tubuh sedang bekerja keras membuka mulut rahim agar bayi bergerak turun melewati jalan lahir, kontraksi rahim sehingga otot-otot dinding rahim mengerut dan menjepit pembuluh darah, rasa takut, cemas, dan tegang memicu produksi hormon prostaglandin sehingga timbul stres. Kondisi stres dapat mengurangi kemampuan tubuh menahan rasa nyeri. Mekanisme secara intrinsik pada nyeri persalinan kala I seluruhnya terjadi pada uterus dan adnexa selama kontraksi berlangsung. Beberapa penelitian awal menyatakan nyeri disebabkan karena penekanan pada ujung-ujung saraf antara serabut otot dari korpus fundus uterus, adanya iskemik miomerium dan serviks karena kontraksi sebagai konsekuensi dari pengeluaran darah dari uterus atau karena adanya vasokontriksi akibat aktivitas berlebihan dari saraf simpatis, adanya proses peradangan pada otot uterus, kontraksi pada serviks dan segmen bawah rahim menyebabkan rasa takut yang memacu aktivitas berlebih dari sistem saraf simpatis, adanya dilatasi dari serviks dan segmen bawah rahim.

(21)

Banyak data yang mendukung hipotesis nyeri persalinan kala I terutama disebabkan karena dilatasi serviks dan segmen bawah rahim oleh karena adanya dilatasi, peregangan dan kemungkinan robekan jaringan selama kontraksi.Rasa nyeri pada setiap fase persalinan dihantarkan oleh segmen syaraf yang berbeda-beda.Nyeri pada kala satu terutama berasal dari uterus (Kampono, 2008).

Menurut teori gate-control, mekanisme pertahanan terjadi di spinal cord.Sensasi nyeri dikirim dari perifer tubuh menuju saraf kecil pada otak. Hanya jumlah yang terbatas dari sensasi nyeri yang dapat melalui proses ini pada satu waktu. Distraksi atau aktifitas tertentu yang dapat mengganti perjalanan sensasi nyeri ini. Ketika aktifitas menempati jalan ini, gerbang akan tertutup dan impuls nyeri terhambat mencapai otak. Ketika gerbang terbuka, impuls nyeri akan naik ke otak. Mekanisme pertahanan yang sama terjadi dalam serabut syaraf hipotalamus dan serebral korteks, yang mengatur pikiran orang dan emosi dan dapat mempengaruhi apakah jangkauan impuls nyeri berada pada level kesadaran (Burrough, Arlene, 2001). Neuron delta-A dan C melepaskan substansi P untuk

(22)

terdapat mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat, yang melepaskan neurotrasmitter penghambat. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut A, maka akan menutup mekanisme pertahanan. Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut delta-A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri. Nyeri pada persalinan ada dua macam yaitu : nyeri rahim – mulut rahim dan nyeri perineal. Nyeri rahim – mulut rahim adalah perasaan subjektif, terdapat pada kala I persalinan. Sejalan dengan meningkatnya kontraksi rahim yang menyebabkan teregangnya bagian bawah rahim terjadinya pembukaan mulut bawah rahim dan iskemia otot rahim secara progresif, sehingga meningkat pula rasa nyeri.

Nyeri paling hebat dirasakan pada fase akhir persalinan ketika pembukaan mulut rahim dan kekuatan kontraksi rahim mencapai maksimal,. Nyeri parineal terdapat pada kala II persalinan dan saat melahirkan, sebagai akibat meregangnya jaringan vagina, vulva dan perineum.Rangsang nyeri persalinan disalurkan melalui dua jalur utama.Serabut saraf sensorik rahim dan mulut rahim berjalan bersama saraf simpatis rahim memasuki sumsum tulang belakang melalui saraf torakal 10 –

(23)

11–12.Karena itu nyeri rahim terutama dirasakan pada dermatom torokal 10, 11 dan 12. Rasa nyeri pada alat-alat tubuh didaerah pelvis, terutama pada daerah traktus genitalia interna disalurkan melalui susunan saraf simpatik menyebabkan kontraksi dan vasokonstriksi. Sebaliknya saraf parasimpatik mencegah kontraksi dan menyebabkan vasodilatasi. Oleh karena itu efeknya terhadap uterus yaitu bahwa simpatik menjaga tonus uterus, sedangkan saraf parasimpatik mencegah kontraksi uterus, jadi menghambat tonus uterus. Pengaruh dari kedua jenis persarafan ini menyebabkan terjadinya kontraksi uterus yang intermitten. Rangkaian susunan saraf simpatik daerah pelvik terdiri dari tiga rangkaian, yaitu rantai sakralis, pleksus haemorhoidalis superior, dan pleksus hipogastrika superior (Hutajulu, 2010).

3. Teori nyeri

Terdapat beberapa teori tentang terjadinya rangsangan nyeri, yaitu Teori Pemisahan ( Specificiy Theory). Menurut teori ini, rangsangan sakit masuk ke medulla spinalis (spinal

cord) melalui kornu dorsalis yang bersinaps di daerah

(24)

garis median ke sisi lainnya, dan berakhir di korteks sensoris tempat rangsangan nyeri tersebut diteruskan.

1) Teori Pola ( Pattern Theory),

Rangsangan nyeri masuk melalui akar ganglion dorsal ke medulla spinalis dan merangsang aktivitas sel T. Hal ini mengakibatkan suatu respons yang merangsang ke bagian yang lebih tinggi, yaitu korteks serebri, serta kontraksi menimbulkan persepsi dan otot berkontraksi sehingga menimbulkan nyeri. Persepsi dipengaruhi oleh modalitas respons dari reaksi sel T 2) Teori Pengendalian Gerbang (Gate Control Theory).

Yang dikemukakan oleh melzak dan wall, teori ini lebih komprehensip dalam menjelaskan tramisi dan presepsi nyeri, nyeri tergantung dari kerja serta saraf besar dan kecil yang keduanya berada dalam akar ganglion dorsalis. Rangsang pada serat saraf besar akan mengakibatkan tertutupnya pintu mekanisme sehingga aktivitas sel T terhambat dan menyebabkan hantaran rangsangan ikut terhambat. Rangsangan serat besar dapat langsung merangsang korteks serebri. Hasil persepsi ini akan dikembalikan ke dalam

(25)

medulla spinalis melalui spinalis serat eferen dan reaksinya memengaruhi aktivitas sel T. Rangsangan pada serat kecil akan menghambat aktivitas substansia gelatiosa dan membuka pintu mekanisme, sehingga merangsang aktivitas sel T yang selanjutnya akan menghantarkan rangsangan nyeri.

3) Teori Trasmisi dan Inhibisi

Adanya stimulus pada noiciceptor memulai implus-implus saraf, sehingga transmisi implus nyeri menjadi efektif oleh neurotransmitter yang spesifik. Kemudian, inhibisi implus nyeri menjadi efektif oleh implus-implus pada serabut-serabut besar yang memblok implus-implus pada serabut lamban dan endogen opiate system supresif (Hidayat, 2006)

4. Klasifikasi nyeri

Klasifikasi nyeri dibagi menjadi dua yaitu nyeri secara umum dan nyeri dalam persalinan sebagai berikut :

(26)

a) Nyeri akut yaitu nyeri yang timbul segera

setelah rangsangan dan hilang setelah penyembuhan.

b) Nyeri kronik yaitu nyeri yang menetap selama

lebih dari 3 bulan walaupun proses penyembuhan sudah selesai (Setiawan,2010). 2) Klasifikasi nyeri persalinan dibagi beberapa nyeri

yaitu :

a) Nyeri Viseral bersifat lambat dalam yang tidak

terlokalisir. Implus nyeri selama kala I pada persalinan di trasmisi melalui T11-T12 segment saraf spinal dan bagian bawah thorak dan bagian atas lumbal saraf simpatis, dimana uterus dan serviks terjadi pada kala I akibat dari kontraksi uterus dan pembukaan serviks. Lokasi nyeri ini meliputi bagian segmen abdomen dan menjalar kedaerah lumbal bagian belakang dan turun sampai dengan paha.

b) Nyeri somatic bersifat lebih cepat dan tajam

menusuk dan lokasi jelas. Implus nyeri pada kala II ditransmisi melalui S1-S2 saraf spina

(27)

dan parasimpatis dari jaringan perinal. Nyeri ini pada akhirnya kala I dan selama kala II yang merupakan akibat dari penurunan kepala janin yang menekan jaringan - jaringan maternal dan tarikan perinium dan

Utercocervical selama kontraksi.

c) After pain nyeri selama kala II dimana uterus

mengecil, sobek dari hasil distensi dan laserasi dari serviks, vagina dan jaringan perinal nyeri yang dirasakan seperti awal kala I dan kala II (Zulkarnain, 2003)

5. Faktor - faktor yang mempengaruhi nyeri

Faktor yang mempengaruh nyeri ada 2 macam yaitu faktor nyeri secara umum dan faktor nyeri dalam persalinan sebagai berikut :

1) Beberapa faktor yang mempengaruhi nyeri sebagai

berikut :

a) Arti nyeri merupakan arti yang negatif, seperti

membahayakan, merusak dan lain-lain. Keadaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, jenis

(28)

kelamin, latar belakang sosial, kultural, lingkungan dan pengalaman.

b) Persepsi nyeri merupakan panilaian yang sangat

subjektif tepatnya pada korteks (pada fungsi evaluatif kognitif). Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor yang dapat memicu stimulasi nociceptor.

c) Toleransi nyeri erat dihubungkan dengan adanya

intensitas nyeri yang dapat mempengaruhi seseorang menahan nyeri. Faktor yang dapat mempengaruhi adalah alkohol, obat-obatan, hipnosis, gesekan atau garukan, dan pengalihan perhatian.

d) Reaksi terhadap nyeri merupakan bentuk respon

seseorang terhadap nyeri, seperti ketakutan, gelisah, cemas, menangis, dan menjerit. (Hidayat, 2006).

2) Faktor fisiologi nyeri

a) Pembukaan dan penipisan serviks b) Segmen bawah rahim tegang c) Ligamen uterus meregang

(29)

d) Periotonium tertarik e) Kandung kemih tertekan f) Hipoksia g) Vagina tertekan h) Multi/primpara 3) Faktor Psikologis a) Ketakutan b) Panik

c) Harga diri rendah d) Marah pada bayi

e) Takut hamil ganguan aktifitas seksual 4) Faktor persepsi dan toleransi terhadap nyeri

a) Intensitas persalinan b) Kematangan serviks c) Posisi janin

d) Karakteristik panggul e) Umur

f) Banyaknya persalinan (Paritas) g) Pekerjaan

(30)

Pasien yang bersalin pertama kali pada usia tua umumnya mengalami persalinan yang lebih lama dan nyeri dibandingkan dengan pasien usia muda. intensitas kontraksi rahim pada persalinan yang pertama cenderung lebih tinggi pada awal persalinan juga pada kemacetan persalinan akibat janin yang besar atau jalan lahir yang sempit, pasien akan mengalami rasa nyeri yang lebih hebat dari pada persalinan normal.

Kelelahan dan kurang tidur berpengaruh juga terhadap toleransi pasien dalam mengurangi rasa nyeri.

6. Intensitas nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu. Pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri.Namun, pengukuran dengan teknik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri. Menurut Smeltzer, S.C & Bare B.G (2002)

skala intensitas nyeri adalah berikut : 1. Skala Intensitas Nyeri

(31)

2. Skala idensitas nyeri numerik

Ket :

0 : Tidak nyeri

1-3: Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik.

4-6: Nyeri sedang : secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.

7-9: Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak

(32)

10 Nyeri sangat berat : pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.

1. Penatalaksanaan Nyeri

Pada umumnya untuk mengatasi nyeri selama persalinan digunakan farmakologi yaitu dengan menggunakan obat-obat yang dapat mengurangi nyeri. Cara farmokologi adalah dengan pemberian obat-obatan analgesik yang disuntikan, melalui infus intra vena yaitu syaraf yang menghantarkan nyeri selama persalinan. Tindakan farmokologi masih menimbulkan pertentangan karena pemberian obat selama persalinan dapat menembus sawar plasenta, sehingga dapat berefek pada aktifitas rahim. Efek obat yang diberikan kepada ibu terhadap bayi secara langsung maupun tidak langsung (Suhaimi, 2008).

Metode pengontrolan nyeri secara nonfarmakologi sangat penting karena tidak membahayakan bagi ibu maupun janin, tidak memperlambat persalinan jika diberikan kontrol nyeri yang kuat, tidak mempunyai efek alergi maupun efek obat. Metode nonfarmakologi dibagi menjadi tiga komponen yang saling berinteraksi sehingga mempengaruhi respon terhadap nyeri menurut Melzack,

(33)

yaitu strategi motivasi-efektif (interpretasi setral dari pesan yang berada diotak yang dipengaruhi oleh perasaan, memori, pengalaman dan kultur seseorang), kognitif-evaluati (interpretasi dari pesan nyeri yang dipengaruhi oleh pengetahuan, perhatian seseorang, penggunaan strategi kognitif dan evaluasi kognitif dari situasi) dan sensori-diskriminatif (pemberian informasi keotak menurut sensasi fisik) (Batbual, 2010).

c. Teknik Relaksasi Nafas Dalam ( Abdominal Breathing) 1. Pengertian

Teknik relaksasi nafas dalam adalah suatu bentuk asuhan kebidanan, yang dalam hal ini bidan mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan nafas dalam,nafas lambat, (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi nafas juga dapat meningkatkan ventilitas paru dan meningkatkan oksigenasi darah ( Smeltzer & Bare, 2002).

(34)

Relaksasi sempurna dapat mengurangi ketegangan otot dan rasa jenuh dan kecemasan sehingga mencegah menghebatnya stimulus nyeri.( Eni Kusyati, 2006).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, relaksasi merupakan metoda efektif untuk mengurangi nyeri yang merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan dengan mekanismenya yang menghentikan siklus nyeri

2. Jenis-jenis teknik relaksasi

Relaksasi ada beberapa macam. Miltenberger (2004) mengemukakan 4 macam relaksasi, yaitu relaksasi otot pernafasan, meditasi, relaksasi prilaku.

a. Muscle Relaxation

Tekhnik ini bertujuan untuk memberikan rasa nyaman pada otot-otot. Ketika terjadi stress, otot-otot pada bagian tubuh menjadi menegang, seperti otot leher, punggung, lengan. Teknik ini dilakukan dengan cara merasakan perubahan dan sensasi pada otot bagian tersebut. Teknik dapat dilakukan dengan meletakkan kepala diantara kedua lutut (kira-kira selama 5 detik). Dan

(35)

merebahkan badan kebelakang secara perlahan selama 30 detik, sikap ini dilakukan terus secara berulang sambil merasakan perubahan pada otot-otot tubuh.

b. Visualisasi

Teknik ini merupakan bentuk kemampuan mental untuk berimajinasi seperti melakukan perjalanan kesuatu tempat yang damai atau situasi yang tenang. Teknik visualisasi seolah-olah menggunakan beberapa indera secara bersamaan.

Beberapa teknik relaksasi lainnya yang familiar dapat dilakukan seperti ; yoga, meditasi, mendengar musik, dzikir, pijat dan sebagainya.

3. Tujuan

Smeltzer & Bare menyatakan bahwa tujuan teknik relaksasi nafas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelaksi paru, meningkatkan efisiensi batuk, mengurangi stress, baik stress fisik maupun stress emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan.

(36)

4. Patofisiologi teknik relaksasi nafas dalam terhadap nyeri

Skema 1 Patofisiologi

Adiyanto (2010)

Teknik relaksasi nafas dalam dapat mengendalikan nyeri dengan meminimalkan aktifitas simpatik dalam system saraf otonom.Ibu meningkatkan aktifitas komponon saraf parasimpatik vegetatif secara stimultan.Teknik tersebut dapat mengurangi sensasi nyeri dan mengontrol intensitas reaksi ibu terhadap rasa nyeri (Conectique, 2009). Nyeri Meningkatkan konsentrasi Teknik Relaksasi Nafas Mempermudah mengatur pernafasan Memberikan rasa tenang Oksigen dalam darah Mengurangi detak jantung Rasa Nyeri Persalinan • Kecemasan • Rasa takut • kelelahan • stress Hormone adrenalin

(37)

Hormon adrenalin dan kortisol yang menyebabkan stress akan menurun, ibu dapat meningkatkan konsentrasi dan merasa tenang sehingga memudahkan ibu untuk mengatur pernafasan sampai frekuensi pernafasan kurang dari 60-70 X/menit. Kadar PaCo2akan meningkat dan menurunkan PH sehingga akan

meningkatkan kadar oksigen dalam darah.

5. Keuntungan teknik relaksasi nafas dalam

Melakukan relaksasi dapat memberikan keuntungan secara Emosional dan psikologis ketika stress terjadi ; 1) Keuntungan Emosional

a) Memberikan pengalaman positif tentang melahirkan pada ibu

b) Mengurangi ketegangan dan ketakutan ibu saat persalinan

c) Berpartisipasi nyata dalam melahirkan anaknya d) Membantu tumbuhnya hubungan antara orang tua

dan anak

e) Membantu tumbuhnya hubungan ibu dan bapak 2) Keuntungan fisiologis

(38)

a) Dapat mengurangi rasa sakit tanpa menggunakan obat-obatan dan dapat mengurangi resiko terhadap bayi

b) Mencegah terjadinya komplikasi seperti nyeri sampai dengan menurunnya oksigen

c) Ibu dapat bekerja sama pada saat pemeriksaan d) Ibu tidak merasa lelah pada saat dan sesudah

persalinan

6. Metode yang mendasari teknik nafas dalam 1) Metode Dick-Read

Bersamaan dengan pendidikan dan latihan pernafasan, reaksasi telah menjadi landasan persalinan yang disiapkan sejak Dick-Read pertama kali mempertahankannya (Rosemary Mander, 2003).

Grantiny Dick-Read dalam bukunya Natural

Childbirth dan Childbirth Without Fair (1944),

menuliskan bahwa rasa nyeri merupakan akibat pengaruh sosial dan sindrom takut tegang nyeri, untuk mengganti rasa takut maupun nyeri program Dick-Read meliputi pemberian informasi tentang persalinan disamping nutrisi, hygiene dan latihan fisik yang

(39)

diantaranya latihan relaksasi secara sadar latihan pola nafas.

Relaksasi secara sadar meliputi relaksasi progresif kelompok otot seluruh tubuh.Dengan berlatih banyak, wanita mampu berelaksasi sesuai perintah, baik selama kontraksi, maupun diantara kontraksi. Pola nafas meeliputi nafas dalam pada abdomen hamper sepanjang masa bersalin, nafas pendek menjelang akhir tahap pertama, dan sampai waktu terakhir ini, menahan nafas pada tahap persalinan (Bobak, 2004).

2) Metode Lamaze

Metode Lamaze berasal dari karya Povlov tentang Clasical Conditioning.Metode menurut Lamaze rasa nyeri merupakan respon bersyarat. Wanita juga dapat dikondisikan supaya tidak mengalami rasa nyeri pada saat persalinan.

Wanita diajarkan untuk merelaksasikan otot-otot yang tidak terlihat saat ia mengkontraksikan otot tertentu. Ia akan menerapkan latihan ini pada saat melahirkan, yakni dengan merelaksasikan semua otot

(40)

Rahim yang berkontraksi, pola pernafasan dada bervariasi, sesuai intensitas kontraksi dan kemajuan persalinan (Bobak,2004).

7. Prosedur teknik relaksasi nafas dalam 1) Menurut Priharjo (2003)

Bentuk pernafasan yang digunakan pada prosedur ini adalah pernafasan diagfragma yang mengacu pada pendataran kubah digfragma selama inspirasi yang mengakibatkan pembesaran abdomen bagian atas sejalan dengan desakan udara masuk selama inspirasi.

Adapun langkah-langkah teknik relaksasi nafas dalam sebagai berikut:

a) Ciptakan lingkungan yang tenang b) Usahakan tetap rileks dan tenang

c) Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan

d) Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan ekstremitas atas dan bawah rileks

(41)

f) Menarik nafas lagi melalui hidung dan dilepaskan melalui mulut secara perlahan-lahan g) Membiarkan telapak tangan dan kaki rileks h) Usahakan agar tetap konsentrasi/mata terpejam i) Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah

yang nyeri

j) Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang

k) Ulangi sampai 15 kali dengan diselingi istirahat singkat selama 5 kali

l) Bila nyeri menjadi hebat, seorang dapat bernafas secara dangkal dan cepat

2. Teknik relaksasi secara umum

a. Duduk dengan tenang dalam posisi yang nyaman b. Tutup mata

c. Cipatakan rasa relaks pada semua otot-otot anda d. Kosongkan pikiran anda

e. Atur pernafasan dengan cara bernafas dngan hidung dan mengeluarkannya dengan mulut lalu hitunglah dengan mulut, lakukan secara berulang-ulang

(42)

f. Saat menarik dan melepaskan nafas lewat mulut rasakan perubahan dan sensasi pada dada dan anggota yang lain g. Lakukan secara berulang-ulang selama 10 menit

8. Faktor-faktor yang mempengaruhi teknik relaksasi nafas terhadap penurunan nyeri

Teknik relaksasi nafas dalam dapat dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui mekanisme yaitu: 1) Dengan merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami

spasme yang disebabkan oleh peningkatan prostatglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah kedaerah yang mengalami spasme dan iskemic

2) Teknik relaksasi nafas dalam dipercaya mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opoioid endogen yaitu endorphin dan enkefalin (Smeltzer & Bare, 2002) 3) Mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat relaksasi

melibatkan system otot dan respirasi dan tidak membutuhkan alat lainsehingga dapat dilakukan kapan saja atau sewaktu-waktu.

Prinsip yang mendasari penurunan nyeri oleh teknik relaksasi terletak pada fisiologi system saraf otonom yang

(43)

merupakan bagian dari system saraf perifer yang mempertahankan homeostatis lingkungan internal individu pada saat terjadi pelepasan mediator kimia seperti, bradikinin, prostaglandin dan substansi akan merangsang system saraf simpatis sehingga menyebabkan vasokonstriksi yang menimbulkan berbagai efek seperti spasme otot yang akhirnya menekan pembuluh darah mengurangi pembuluh darah dan meningkatkan kecepatan metabolism otot yang menimbulkan pengiriman implus nyeri dari medulla spinalis ke otak dan dipersepsikan sebagai nyeri.

d. Persalinan

1) Pengertian persalinan

Persalinan adalah proses pergerakan keluar janin, plasenta, dan membran dari dalam rahim melalui jalan keluar. Persalinan dianggap normal jika wanita berada pada atau dekat masa aterm, tidak terjadi komplikasi, terdapat janin dengan presentasi puncak kepala, dan persalinan selesai dalam 24 jam (Bobak, 2005). Persalinan adalah kontraksi yang nyeri muncul setiap

(44)

dari tanda-tanda berikut ini : rabas vagina berupa lendir vagina bercampur darah, ruptur membran secara spontan, atau penipisan serviks secara komplit (Simkin & Ruth, 2005).

Menurut Susilawati (2009) persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil pembuahan (konsepsi) yang dapat hidup, dari dalam rahim (uterus) melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar. Usia kehamilan yang dianggap normal (matur/aterm) untuk melahirkan adalah berkisar 38-42 minggu. Jika partus terjadi di usia kehamilan kurang dari 38 minggu disebut preterm (prematur), sebaliknya jika partus terjadi saat usia kehamilan lebih dari 42 minggu dinamakan posterm (postmatur).

2) Persalinan Kala I

Persalinan kala I ditetapkan sebagai tahap yang berlangsung sejak terjadi kontraksi uterus yang teratur sampai dilatasi serviks lengkap, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran

(45)

darah-lendir yangtidak lebih banyak dari darah haid. Keluarnya lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus.Tahap pertama biasanya berlangsung jauh lebih lama daripada waktu yang diperlukan untuk tahap kedua dan ketiga (Kampono, 2008).

Frekuensi his pada persalinan kala I adalah 1 kali/10 menit pada permulaan persalinan dan 2-3 kali/10 menit pada akhir kala I. Lamanya kurang-lebih satu menit.Nyeri yang terjadi berasal dari regangan serviks yang membuka. Terjadi kalau tekanan intrauterine melebihi 20 mmHg. Biasanya dimulai dari tulang belakang yang menjalar ke depan. Kontraksi uterus dimulai pada tempat kira-kira batas tuba dengan uterus.Akibatnya terhadap janin yaitu setiap kontraksi dapat menghambat aliran darah dari plasenta ke janin. Kalau tekanannya melebihi 75 mmHg akan menyumbat

(46)

terlampau lama, atau terlampau sering dapat menimbulkan gawat janin (Sumapraja, 2003)

Pada primipara, ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu sehingga serviks akan mendatar dan menipis, baru kemudian ostium uteri eksternum membuka. Pada multipara, ostium uteri internum dan eksternum sudah sedikit terbuka. Penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang sama pada pembukaan. Ketuban akan pecah sendiri ataupun harus dipecahkan ketika pembukaan hampir lengkap atau telah lengkap. Bila ketuban telah pecah sebelum mencapai pembukaan 5 cm, disebut ketuban pecah dini.Kala I selesai apabilapembukaan serviks uteri lengkap. Pada primipara berlangsung selama kurang lebih 13 jam, sedangkan pada multipara kurang lebih 7 jam (Hanifa, 2002). Kala I persalinan dibagi dalam tiga bagian, yaitu fase laten, fase aktif, dan fase transisi. Selama fase laten,

effacement lebih banyak mengalami kemajuan daripada

penurunan janin. Selama fase aktif dan fase transisi, dilatasi serviks dan penurunan bagian presentasi

(47)

berlangsung lebih cepat (Wilson & Carrington, 1991 dalam Bobak 2005).

a. Fase persiapan / Laten

Fase persiapan merupakan fase pertama, yaitu terjadinya pembukaan (dilatasi) dan penipisan leher rahim dengan pembukaan leher rahim mencapai 3 cm, selain itu ibu mulai merasakan kontraksi yang jelas berlangsung selama 30-50 detik dengan jarak 5-20 menit. Semakin bertambah pembukaan leher rahim, semakin sering kontraksi. Beberapa ibu, khususnya yang sensitif, mulai merasa sakit, namun beberapa ibu lainnya tidak merasa sakit sama sekali.

a. Fase Aktif

Biasanya fase ini berlangsung lebih pendek dari fase persiapan. Kegiatan rahim mulai lebih aktif dan banyak kemajuan yang terjadi dalam waktu singkat.Kontraksi semakin lama (berlangsung 40-60 detik), kuat, dan sering (3-4 menit sekali). Pembukaan leher rahim mencapai 7 cm.

(48)

Fase ini merupakan fase yang paling melelahkan dan berat, banyak ibu merasakan sakit yang hebat. Hal ini dikarenakan kontraksi meningkat dan menjadi sangat kuat, 2-3 menit sekali selama 60-90 detik. Puncak kontraksi yang sangat kuat dan lamanya hampir sama dengan lama kontraksi itu sendiri. Ibu merasa seolah-olah kontraksi tidak pernah berhenti dan tidak ada waktu istirahatnya. Pembukaan rahim mencapai 10 cm dan umumnya, 3 cm terakhir berlangsung sangat cepat, rata-rata 15 menit hingga satu jam (Danuatmaja & Mila, 2004).

(49)

B. KERANGKA TEORI

- ---- - - : Yang diteliti : Yang tidak diteliti

Skema 2 Kerangka teori Nyeri persalinan: 1. Pengertian nyeri 2. Penyebab nyeri 3. Teori nyeri 4. Klasifikasi nyeri 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri 6. Intensitas nyeri 7. Penatalaksanaan nyeri Proses persalinan 1. Kala I 2. Kala II 3. Kala III 4. Kala IV

Pendekatan non farmakalogis : 1. Posisi dan perubahan ibu 2. Pijatan (massage) 3. Tekan (pressure) 4. Distraksi 5. Teknik Abdominal Breathing NYERI PERSALINAN

Mengurangi rasa nyeri proses persalinan

Pendekatan farmakologis Dengan cara pemberian

obat-obatan analgesik yang dapat mengurangi nyeri Penatalaksanaan nyeri ada 2 yaitu: farmakologis dan non

(50)

C. Kerangka Konsep

Konsep adalah merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal yang khusus. Oleh karena konsep merupakan abstraksi maka konsep tidak dapat langsung diamati atau diukur. Konsep hanya dapat diamati melalui konstruktur atau yang lebih dikenal dengan nama variable. Jadi variabel adalah simbol atau lambing yang menunjukkan nilai atau bilangan dari konsep. Variabel adalah sesuatu yang bervariasi ( Notoadmojo, 2010)

Variabel Independen Variabel

Dependen

Skema 3 Kerangka Konsep

D. Hipotesis

Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pertanyaan penelitian. Biasanya hipotesis ini dirumuskan dalam bentuk hubungan variabel, variabel bebas dan variabel terikat. Pengaruh teknik abdominal breathing terhadap nyeri persalinan Teknik abdominal breathing Nyeri persalinan

(51)

kala I fase aktif pada persalinan fisiologis di BPS Gusniati Padang.

Ha : Ada Pengaruh teknik abdominal breathing terhadap nyeri persalinan kala I fase aktif pada persalinan fisiologis di BPS Gusniati

Ho : Tidak ada pengaruh Teknik Abdominal Breathing tehadap nyeri persalinan kala I fase aktif pada persalinan

(52)

E. Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur

Hasil Ukur Skala Ukur Variabel Independen Teknik Abdominal Breathing Merupakan suatu bentuk asuhan kebidanan, yang dalam hal ini bidan mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan nafas dalam,nafas lambat, (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi nafas juga dapat meningkatkan

ventilitas paru dan meningkatkan oksigenasi darah Observasi Lembar Observas i Dikelompokka n menjadi 2: 1. Dilakukan 0.Tidak Dilakukan Nomina l Variabel Dependen Nyeri Persalinan merupakan pengalaman subjektif tentang sensasi fisik yang terkait dengan kontraksi uterus dilatasi dan penipisan serviks Visual Analog Scale (VAS) dengan garis horizont Lembar observasi Dinyatakan dengan nilai rentang nilai VAS = 0-10 yang dikelompokkan menjadi : Ordinal

(53)

serta penurunan janin selama persalinan. Respon fisiologi terhadap nyeri meliputi peningkatan tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, keringat, diameter pupil, dan ketegangan otot (Arifin, 2008). al sepanjan g 10 cm 0 = tidak nyeri 1-3 = nyeri ringan 4-6 = nyeri sedang 7-9 = nyeri berat 10 = nyeri berat tidak terkontrol

(54)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat eksperimental yaitu peneliti melakukan percobaan atau perlakuan terhadap variabel independennya, kemudian mengukur akibat atau pengaruh percobaan tersebut pada dependen variabel. Dengan desain penelitian Pre-Exsperimental Designs (nondesigns) yaitu variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen dengan menggunakan jenis rancangan

Intact-Group comparison pada desain ini terdapat satu kelompok yang

digunakan untuk penelitian, tetapi terbagi dua, yaitu setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan)

X O1 O2

Gambar 3.1 Cara pendekatan penelitian

(55)

Keterangan:

X : teknik Abdominal Breathing

O1 : hasil pengukuran setengah kelompok yang diberi perlakuan

O2 : hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi perlakuan

Pengaruh perlakuan = O1 – O2 B. Lokasi dan Waktu

Lokasi penelitian ini di laksanakan di BPS “G” Padang. Dengan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Mei 2014.

C. Populasi dan Sampel

a) Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu inpartu Kala I yang bersalin di BPS Gusniati dengan jumlah populasi dari bulan januari-maret yaitu sejumlah 35 orang.

b) Sampel

Menurut Notoatmodjo (2010) sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Sedangkan

(56)

menurut Nursalam (2003) sampling adalah cara atau metode pengambilan sampel untuk dapat mewakili populasi.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Accidental Sampling yaitu pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada disuatu tempat sesuai dengan konteks penelitian( Notoatmodjo,2010).

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara:

n = 1 N(d)2 N + n = 2 ) 1 , 0 ( 35 1 35 + = ) 01 , 0 ( 35 1 35 + = 35 , 0 1 35 + = 35 , 1 35 n = 25,92 = 26 (Notoatmodjo, 2002 : 92)

Jadi, jumlah sampel yang didapat adalah 13 orang diberi perlakuan dan 13 tidak diberi perlakuan.

Keterangan :

(57)

N : Jumlah populasi dalam 3 bulan terakhir

d2 : presisi (0,1)

Kriteria inklusi dan ekslusi dalam penelitian ini: 1. Kriteria inklusi

1) Ibu inpartu kala I fase aktif (4-5cm). Aterm dengan kehamilan tunggal, presentasi kepala, kehamilan 37-42 minggu, rencana melahirkan normal.

2) Tidak mendapatkan obat atau ramuan lain yang mempunyai efek anti nyeri dan atau induksi

3) Bersedia menjadi responden 2. Kriteria ekslusi

1) Ibu inpartu kala dengan gangguan kehamilan, misalnya kehamilan ganda atau kelainan letak

2) Kehamilan beresiko tinggi, disertai dengan penyakit seperti preekslamsi, jantung, ketuban pecah dini

3) Ibu dengan kelainan panggul

D. Etika Penelitian

Nursalam (2003) menyatakan secara umum prinsip etika dalam penelitian dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

(58)

Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan kepada subjek, khususnya jika menggunakan tindakan khusus. Penelitian ini tidak akan menimbulkan penderitaan pada subjek penelitian, karena tidak ada intervensi didalamnya.

b. Bebas dari eksploitasi

Partisipasi subjek dalam penelitian, harus dihindarkan dari keadaan yang tidak menguntungkan. Responden harus diyakinkan bahwa partisipasinya dalam penelitian atau informasi yang sudah diberikan, tidak akan dipergunakan dalam hal-hal yang dapat merugikan subjek dalam bentuk apapun. Peneliti dalam hal ini, juga mempertahankan prinsip kerahasiaan dengan tidak mencantumkan nama subjek penelitian.

c. Bebas dari risiko

Peneliti harus secara hati-hati mempertimbangkan risiko dan keuntungan yang akan berakibat kepada subyek pada setiap tindakan. Penelitian yang dilakukan bukan eksperimen dan instrumen penelitian yang digunakan hanya berupa kuisioner maka risiko dapat dihindarkan seminimal mungkin dari subjek penelitian.

(59)

2. Prinsip Menghargai Hak Asasi Manusia (Respect Human

Dignity)

a. Hak untuk ikut/tidak menjadi responden (right to

self determination)

Subjek harus diperlakukan secara manusiawi. Semua responden yang dijadikan subjek penelitian mempunyai hak memutuskan untuk terlibat atau tidak terlibat dalam penelitian.

b. Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan (right to full disclosure).

Seorang peneliti harus memberikan penjelasan secara rinci tentang perlakukan yang akan diberikan kepada subjek dan bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi kepada subjek. Penelitian ini tidak melibatkan aspek perlakuan, namun demikian peneliti memberikan penjelasan tujuan dan manfaat penelitian yang akan dilakukan.

(60)

Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, mempunyai hakuntuk bebas berpartisipasi atau menolak menjadi responden. Pada inform consent juga perlu dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya akan dipergunakan untuk pengembangan ilmu.

3. Prinsip keadilan (Right to Justice)

a. Hak untuk mendapatkan perilaku adil (right in fair

treatment) Subjek harus diperlakukan secara adil baik

sebelum, selama dan sesudah keikutsertaannya dalam penelitian tanpa adanya diskriminasi. Apabila ternyata subjek tidak bersedia atau dropped out sebagai responden, maka subjek tetap mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan.

b. Hak dijaga kerahasiaannya (right to privation)

Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan harus dirahasiakan, untuk itu perlu adanya anonymity (tanpa nama) dan confidentiality (rahasia). Instrumen penelitian berupa kuisioner telah peneliti sediakan tanpa adanya identitas nama.

(61)

E. Pengumpulan Data a. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini berupa data kualitatif yang meliputi tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif

b. Sumber Data

1) Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh peneliti secara langsung dengan cara mengukur tingkat nyeri persalinan kala I fase aktif.

2) Pengumpulan data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung. Dalam penelitian ini data sekundernya berupa data yang diperoleh peneliti dari data dan catatan medis di BPS Gusniati

c. Instrumen Penelitian

Instrumen pada penelitian ini menggunakan lembar observasi Instrumen penelitian meliputi tingkat nyeri responden berupa Visual Analog Scale (VAS) responden memilih rentang nyeri dari scale 0-10 sesuai dengan

(62)

tingkat nyeri yang dirasakan dimana 0 adalah tidak nyeri sedangkan 10 adalah nyeri tidak terkontrol.

F. Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini meliputi tahapan sebagai berikut :

1. Editing, yaitu mengkaji dan meneliti data yang telah terkumpul pada kuisioner.

2. Coding, yaitu memberikan kode pada data untuk memudahkan dalam memasukkan data ke program komputer.

3. Entry, yaitu memasukkan data dalam program komputer untuk dilakukan analisis lanjut.

4. Cleaning, yaitu Data yang telah telah di proses diperiksa kembali untuk memastikan bahwa data telah bersih dari kesalahan. (Notoadmojo,2010)

G. Analisis Data

Data yang disajikan dengan mendistribusikan melalui analisis univariat dan bivariat.

1) Analisis univariat

Analisis univariat bertujuan untuk mendeskripsikan semua variabel yang diteliti. Analisis univariat

(63)

menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel. Analisis ini dilakukan untuk mendeskripsikan variabel penelitian dengan membuat tabel distribusi frekuensi atau untuk mendeskripsikan data ditampilkan dalam proporsi atau persentase dan tabel (Hidayat, 2009).

Tujuan dari analisis univariat adalah untuk menjelaskan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti. Data yang ditampilkan dalam analisa univariat adalah distribusi frekuensi sebelum dan sesudah dilakukan teknik abdominal breathing pada kelompok intervensi dan kontrol sehingga didapatkan Mean,dan standar deviasi pada tiap-tiap kelompok. 2) Analisis bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui interaksi antar variable, baik bersifat komparatif, asosiatif ataupun korelatif pada dua variabel (Saryono, 2011). Analisa bivariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi abdominal breathing digunakan uji statistic uji t berpasangan

(64)

melihat perubahan perlakuan dengan membandingkan kondisi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan rumus t-test nya adalah

t=

keterangan:

t = nilai t yang dihitung X = nilai rata-rata

µ0 = nilai yang dihipotesiskan

s = simpangan baku sampel n = jumlah anggota sampel

Dasar pengambilan keputusan penerimaan hipotesis berdasarkan tingkat signifikan (nilai α) sebesar 95% : a. jika nilai p > α (0,05) maka hipotesis penelitian (Ha) ditolak.

b. jika nilai p ≤ α (0,05) maka hipotesis penelitian (Ha) diterima.

(65)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Januari – 28 Mei 2014 di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang dengan menggunakan angket yang berisi skala nyeri Visual Analoge Scale (VAS) sebanyak 26 responden yang dibagi menjadi 2 kelompok 13 responden untuk kelompok intervensi 13 respon untuk kelompok kontrol didapatkan hasil sebagai berikut:

1. Analisis Univariat

1.1 Distribusi Frekuensi Teknik Abdominal Breathing pada ibu inpartu pada ibu Inpartu Kala I Fase Aktif Pada persalinan Fisiologis di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang tahun 2014

(66)

Tabel 4.1.

Distribusi Frekuensi Teknik Abdominal Breathing pada ibu inpartu pada ibu Inpartu Kala I Fase Aktif Pada persalinan Fisiologis di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang tahun

2014 Variabel Teknik Abdominal Breathing Tidak dilakukan (F) Persentase (%) Dilakukan (F) Persentase (%) Kelompok intervensi 10 76,9 3 23,1 Kelompok Kontrol 0 13 13 100

Berdasarkan hasil penelitian sebelum dilakukan teknik abdominal

Breathing pada kelompok intervensi diperoleh frekuensi nyeri jika

nilai pada lembar observasi lebih dari 5 maka dikatakan responden melakukan teknik abdominal breathing yaitu sebanyak 10 responden melakukan teknik abdominal breathing dengan benar dengan persenatse 76,9 % sedangkan yang tidak melakukan teknik abdominal

(67)

%. Sedangkan untuk kelompok kontrol memang tidak dilakukan perlakuan apapun sebanyak 13 responden .

1.2 Distribusi Intensitas Nyeri pada ibu Inpartu Kala I Fase Aktif Pada persalinan Fisiologis di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang tahun 2014

Tabel 4.2.

Distribusi Intensitas Nyeri pada ibu inpartu pada ibu Inpartu Kala I Fase Aktif Pada persalinan Fisiologis di Bidan Praktek

Mandiri (BPM) “G” Padang tahun 2014

N o Variabel Intensitas nyeri Total Ringa n (F) % Sedan g (F) % Bera t (F) % 1 Intensitas Nyeri sebelum tindakan - - 5 38,4 8 61,6 100 2 Intensitas Nyeri sesudah tindakan 3 23,2 5 38,4 5 38,4 100

(68)

Berdasarkan hasil penelitian sebelum dilakukan teknik

abdominal breathing pada kelompok intervensisebelum tindakan

diperoleh intensitas nyeri sedang 5 responden dengan persentase 38,4 % dan berat 8 responden dengan persentase 61,6 % sedangkan sesudah tindakan diperoleh intensitas nyeri ringan sebanyak 3 responden dengan persentase 23,2 % nyeri sedang sebanyak 5 responden dengan persentase 38,4 % dan nyeri berat sebanyak 5 responden dengan persentase 38,4 %

2. Analisis Bivariat

2.1 Pengaruh Teknik Abdominal Breathing Terhadap Peneurunan Nyeri Pada Ibu Inpartu Kala I Fase Aktif Pada Persalinan Fisiologis di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang Tahun 2014

(69)

Tabel 4.3

Pengaruh Teknik Abdominal Breathing Terhadap Penurunan Nyeri Pada Ibu Inpartu Kala I Fase Aktif Pada Persalinan Fisiologis di Bidan Praktek Mandiri (BPM) “G” Padang

Tahun 2014

No Variabel Mean SD Perbedaan Mean P value N 1 Intensitas nyeri sesudah tindakan pada Kelompok Kontrol 7,85 0,927 7.846 0,000 13 2 Intensitas nyeri sesudah tindakan pada Kelompok Intervensi 5.85 1,625 13

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rata-rata nyeri setelah dilakukan teknik abdominal breathing pada kelompok intervensi yaitu sebanyak 13 orang diperoleh rata-rata nyeri = 5,85, SD =1.625 dan

(70)

kelompok kontrol yaitu sebanyak 13 orang diperoleh rata-rata nyeri = 7,85, SD = 0,927 dengan perbedaan mean adalah 7.846 . Hasil uji statistik (t-independen) diperoleh nilai P = (0,000), sehingga dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan teknik abdominal breathing efektif secara signifikan terhadap penurunan intensitas nyeri selama persalinan kala I fase aktif.

B. Pembahasan

Dari hasil penelitian akan diuraikan pembahasan tentang hasil penurunan dari pemberian teknik abdominal breathing terhadap nyeri persalinan. Dari hasil penelitian yang didapat penelitian mengenai pengaruh teknik abdominal breathing terhadap penurunan nyeri persalinan kala I fase aktif pada persalinan fisiologis, dengan sampel 26 orang yang dikelompokkan menjadi 2 kelompok 13 responden pada kelompok intervensi dan 13 responden pada kelompok kontrol. Pengukuran skala nyeri dilakukan dengan metode VAS (Visual

Analog Scale) dimana nyeri dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu

1-5 nyeri ringan, 6-8 nyeri sedang, 9-10 nyeri berat.

1. Teknik Abdominal Breathing

Teknik Abdominal breathing merupakan salah satu teknik mengurangi nyeri persalinan yang termasuk dalam metode

(71)

nonfarmakologi. Teknik abdominal breathingini menggunakan

langkah-langkah yang harus dilakukan oleh responden sebagai indikator berhasil atau tidaknya teknik ini dilakukan, dari 12 indikator yang harus dicapai jika responden mendapatkan skor < 5 dikatakan responden belum melakukan teknik ini dengan benar jika > 5 maka responden dikatakan melakukan teknik abdominal breathing dengan benar.

Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan aplikasi komputerisasi maka didapatkan hasil yaitu untuk distribusi frekuensi teknik abdominal breathing dari 13 responden yang dilakukan teknik abdominal breathing 10 responden melakukan teknik

Abdominal breathing dengan benar 3 responden belum melakukan

teknik abdominal breathing dengan benar.

Menurut Bobak wanita diajarkan untuk merelaksasikan otot-otot yang tidak terlihat saat ia mengkontraksikan otot tertentu. Ia akan menerapkan latihan ini pada saat melahirkan, yakni dengan merelaksasikan semua otot bahwa pernafasan dada mengangkat diagframa dari Rahim yang berkontraksi, pola pernafasan dada bervariasi, sesuai intensitas kontraksi dan kemajuan persalinan.

Referensi

Dokumen terkait

Perbedaan post test perilaku hidup sehat keluarga antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdasarkan hasil uji statistik t independent didapatkan p value 0,000 &lt;

Data nilai delta kadar gula darah pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dilakukan uji statistik melalui Independent sample t-test, dan didapatkan hasil p=0.005,

Berdasarkan hasil uji statistik paired T-test pada kelompok contr ol didapatkan ρ value : 0.165 dan kelompok intervensi uji statistik independent T test didapatkan ρ value

kontrol dan kelompok uji dianalisa statistik dengan uji t-test bebas Pooled t-test α = 0,05 dan didapatkan hasil t hitung = 2,641 dan t tabel = 1,734 dimana t hitung > t tabel

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa hasil uji statistik dengan uji dependent t test didapatkan nilai p 0,000&lt; p 0,05 dan t hitung 6,19 &gt; t table 1,73,,

Hasil dari uji statistik independent t test yang sudah dilakukan yaitu didapatkan selisih nilai perbedaan antara tekanan darah sistol kelompok perlakuan dan kelompok

Untuk perbedaan nilai motilitas usus kelompok perlakuan dan kontrol dengan uji statistik T-test Independent didapatkan hasil bahwa nilai signifikansi (2-tailed)

Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan paired t test kelompok kontrol pada pengukuran nyeri asam urat didapatkan nilai rata-rata nyeri sebelum dilakukan pemberian