BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan
5.2.1 Pengaruh Current Ratio Terhadap Pertumbuhan Laba (Profit Growth) Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Current Ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba (Profit Growth). Hal ini berarti bahwa Current Ratio yang tinggi belum tentu memberikan dampak yang positif bagi pertumbuhan laba perusahaan, sebab semakin tinggi Current Ratio, semakin rendahPertumbuhan Laba dari waktu ke waktu. Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya tidak sejalan dengan kemampuan perusahaan dalam menciptakan pertumbuhan laba yang diinginkan.
Current Ratio yang tinggi bisa saja disebabkan karena kurang efektifnya manajemen kas, persediaan dan piutang, dimana perusahaan memegang uang kas dalam jumlah besar, menumpuknya persediaan di gudang, atau tingginya piutang usaha (Hery, 2016). Perusahaan yang dinilai terlalu likuid akan berdampak buruk bagi kinerja perusahaan, karena manajemen tidak dapat memanfaatkan aktiva produktifnya sehingga menimbulkan biaya bagi perusahaan, yang pada akhirnya akan mengakibatkan penurunan laba. Teori Sinyal menjelaskan bahwa informasi
dalam laporan keuangan merupakan sarana bagi manajemen perusahaan dalam memberikan sinyal kepada publik terutama kepada para investor. Current Ratio yang tinggi bisa berarti merupakan sinyal negatif bagi keberlangsungan investasi yang ditanamkan oleh para investor, karena semakin tinggi Current Ratio semakin rendah pertumbuhan laba yang akan diperoleh.
Berdasarkan data penelitian, diketahui bahwa peningkatan Current Ratio dari tahun ke tahun didorong oleh peningkatan persediaan yang merupakan komponen dalam current asset yang mempunyai porsi terbesar. Dalam laporan keuangan perusahaan sektor consumer goods, persediaan terdiri dari persediaan bahan baku, bahan pembantu, bahan suku cadang, bahan kemasan, barang dalam proses, barang jadi (finished goods) dan lainnya (tidak sama pada semua perusahaan).Bila dilihat dari jenisnya, perusahaan sektor consumer goods memang memerlukan banyak persediaan bahan baku dan persediaan lainnya yang mendukung untuk diolah menjadi barang jadi (finished goods). Persediaan merupakan aset yang dianggap paling tidak likuid diantara akun-akun dalam current asset. Persediaan memerlukan tahapan yang cukup panjang untuk dijadikan kas, karena harus diproses lagi menjadi barang jadi (finished goods) yang siap untuk dijual.
Heikal et al menyatakan bahwa peningkatan bahan baku dan barang dalam proses dapat menyebabkan peningkatan Current Ratio tetapi tidak meningkatkan laba dikarenakan perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk memproses bahan baku dan barang dalam proses tersebut untuk dijadikan barang jadi (finished goods) yang siap untuk dijual.
Data penelitian menunjukkan bahwa persediaan bahan baku, bahan pembantu, bahan suku cadang, bahan kemasan dan barang dalam proses mempunyai porsi yang lebih besar bila dibandingkan dengan barang jadi (finished goods). Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa peningkatan likuiditas menyebabkan adanya peningkatan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan sektor consumer goods untuk memproses bahan baku dan persediaan lainnya sehingga berakibat pada penurunan laba.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Umobong (2015) yang menyatakan bahwa Current Ratio memiliki hubungan negatif dan berkontribusi signifikan dengan pertumbuhan laba. Namun tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Wibowo & Pujiati (2011) dan Gustina
& Wijayanto (2015) yang menyimpulkan bahwa Current Ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan laba. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Gunawan & Wahyuni (2013), Rice (2016), Riyadi (2017), Nugroho, et al (2017)menyimpulkan bahwa Current Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba.
5.2.2 Pengaruh Debt to Asset Ratio Terhadap Pertumbuhan Laba (Profit Growth)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaDebt to Asset Ratioberpengaruh positifdan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba (Profit Growth). Hal ini berarti bahwa Debt to Asset Ratioyang tinggi dapat memberikan dampak yang positif bagi pertumbuhan laba perusahaan, sebab semakin tinggi Debt to Asset Ratio, maka semakin tinggi jugapertumbuhan laba dari waktu ke waktu. Demikian juga sebaliknya semakin rendah Debt to Asset Ratio, maka semakin rendah
jugapertumbuhan laba. Perusahaan yang mempunyai Debt to Asset Ratio yang tinggi menandakan bahwa sebagian besar aset perusahaan tersebut dibiayai oleh hutang. Namun demikian, apabila hutang tersebut dapat digunakan secara efisien dan efektif untuk membeli aset produktif (seperti mesin dan peralatan), atau membiayai ekspansi bisnis, akan memberikan peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan laba yang besar (Hery, 2016).
Debt to Asset Ratiomerupakan sinyal bagi investor untuk menilai kemampuan manajemen perusahaan dalam mengelola aset yang ada untuk menghasilkan laba. Debt to Asset Ratio memberikan informasi mengenai seberapa besar pembiayaan atas aset perusahaan, serta jaminan dalam hal pengembalian atas dana yang telah diinvestasikan oleh para investor. Berdasarkan Teori Keagenan, pemegang saham sebagai principal memiliki perusahaan dan menginginkan kekayaannya tetap lestari dan bertambah, hal ini berarti bahwa mereka menginginkan laba yang berkelanjutan dan terus meningkat. Semakin tinggi Debt to Asset Ratio dapat berdampak pada timbulnya risiko keuangan yang besar bagi perusahaan. Namun demikian, ada investor yang memandang bahwa perusahaan yang bertumbuh pasti memerlukan hutang sebagai dana tambahan untuk mendanai operasional perusahaan atau mendanai ekspansi yang berjumlah besar, yang mungkin tidak dapat dipenuhi hanya dengan modal yang dimiliki perusahaan.
Berdasarkan data penelitian, dapat diketahui bahwa penurunan Debt to Asset Ratio disebabkan oleh kenaikan rata-rata total asset yang lebih besar daripada kenaikan rata-rata total debt. Hal ini berarti bahwa sebagian besar aset perusahaan sektor consumer goods dibiayai oleh modal sendiri selama periode
tahun 2013 sampai dengan 2017. Hal ini mengakibatkan menurunnya peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan laba yang besar yang kemudian berdampak pada menurunnya Pertumbuhan Laba.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo & Pujiati (2011) dan Gustina & Wijayanto (2015) yang menyimpulkan bahwa Debt to Asset Ratioberpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan laba, artinya tingginyaDebt to Asset Ratioakan diikutidengan naiknya perubahan laba. Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan Barus dan Leliani (2013) yang menyimpulkan bahwa Debt to Asset Ratioberpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas; kemudian Gunawan dan Wahyuni (2013), Rice (2016) menyimpulkan bahwa Debt to Asset Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba.
5.2.3 Pengaruh Total Asset Turn Over Terhadap Pertumbuhan Laba (Profit Growth)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaTotal Asset Turn Overberpengaruh positifdan tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba (Profit Growth). Hal ini dapat berarti bahwaperusahaan belum efektif dalam memanfaatkan aset yang dimilikinya untuk menghasilkan penjualan yang tinggi dan mendapatkan peluang untuk memperoleh pertumbuhan laba. Perusahaan memiliki kelebihan aset yang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan penjualan. Semakin tidak efisien perusahaan dalam mengelola aset, akan menambah beban perusahaan berupa investasi yang tidak menguntungkan (Barus dan Leliani, 2013).
Berdasarkan teori, semakin tinggi Total Asset Turn Overmenandakan bahwa perusahaan tersebut semakin efektif dalam memanfaatkan aset yang dimilikinya untuk menghasilkan penjualan yang tinggi dan berpeluang untuk memperoleh peningkatan laba. Hasil penelitian ini mencerminkan bahwa kemampuan dan kinerja manajemen yang belum maksimal dalam mengelola aset perusahaan sehingga Total Asset Turn Overtidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
Berdasarkan data penelitian, dapat diketahui bahwa total asset yang dimiliki terlalu besar bila dibandingkan penjualan yang dihasilkan, atau dengan kata lain penjualan belum maksimal bila dibandingkan dengan peningkatan total asset dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan Total Asset Turn Over yang dimiliki belum dapat meningkatkan Pertumbuhan Laba.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo & Pujiati (2011) yang menyimpulkan bahwa Total Asset Turn Over tidak berpengaruh signifikan dalam memprediksi perubahan laba. Kemudian penelitian Gustina & Wijayanto (2015) menyimpulkan bahwa Total Asset Turn Over tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba. Hal initerjadi karena perusahaan tidak memutarkantotal aktivanya secara efektif. Ketidakefektifanini terjadi dikarenakan perusahaan tidak menggunakankeseluruhan aktiva untuk menciptakanpenjualan yang dapat menghasilkan laba.
5.2.4 Pengaruh Inventory Turn Over Terhadap Pertumbuhan Laba (Profit Growth)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Inventory Turn Over berpengaruh positifdan tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba (Profit
Growth). Hal ini menunjukkan bahwa persediaan tidak dikelola secara efektif sehingga dana yang tertanam dalam persediaan terlalu lama dijadikan uang kas.
Hasil investasi yang diharapkan sebagai akibat perusahaan memanfaatkan asetnya adalah seberapa cepat perusahaan dapat menjual persediaan dengan keuntungan.
Pada penelitian ini, Inventory Turn Overbelum dapat mendukung perusahaan untuk menghasilkan labadari setiap penjualan.
Pada teori keagenan, manajer sebagai agent diasumsikan melakukan tindakan dan mengambil keputusan keuangan dengan tujuan memaksimumkan kekayaan pemegang saham. Inventory Turn Over dapat digunakan untuk menggambarkan kemampuan manajemen dalam melakukan aktivitas penjualan dan seberapa cepat persediaan barang dagang berhasil dijual kepada pelanggan.Kecepatan perusahaan dalam menjual persediaan merupakan ukuran dari kinerja bisnis. Dalam penelitian ini terlihat bahwa manajemen belum maksimal dalam melaksanakan aktivitas penjualan untuk menghasilkan pertumbuhan laba yang diharapkan, dengan demikian Inventory Turn Overkurang dapat dijadikan sebagai indikator yang mempengaruhi pertumbuhan laba.
Berdasarkan data penelitian, dapat diketahui bahwa baik Harga Pokok Penjualan maupun Persediaan sama-sama mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa Inventory Turn Over yang dimiliki oleh perusahaan belum mampumeningkatkan Pertumbuhan Laba. Perusahaan belum mampu memaksimalkan penggunaan Inventory Turn Over untuk memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rice (2016) dan Margareth (2016) yang menyimpulkan bahwa Inventory Turn Over
berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba. Rice (2016) menyatakan bahwa pertumbuhan laba yang diperoleh perusahaan tidak semata-mata dipengaruhi oleh lama singkatnya persediaan berada di gudang, namun lebih tergantung pada pemanfaatan yang baik atas persediaan yang ada di tangan.
5.2.5 Pengaruh Pertumbuhan Penjualan (Sales Growth) Terhadap Pertumbuhan Laba (Profit Growth)
Nilai koefisien bernilai negatif dapat diinterpretasikan bahwa semakin tinggi Pertumbuhan Penjualan (Sales Growth), semakin semakin rendah Pertumbuhan Laba (Profit Growth), dengan demikian H5
Berdasarkan data penelitian, dapat diketahui bahwa Penjualan, Harga Pokok Penjualan dan Beban-Bersih sama-sama mengalami kenaikan. Kenaikan Penjualan dari tahun ke tahun tidak dapat mendorong Pertumbuhan Laba dikarenakan adanya kenaikan Harga Pokok Penjualan dan Beban-Bersih. Harga pokok penjualan atau bebanoperasional yang ditanggung perusahaan relatif besar bila dibandingkan dengan Penjualan yang dihasilkan sehingga tidak berpengaruh terhadap perolehan labaperusahaan dan menyebabkan Pertumbuhan Penjualan tidak berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba. Selain itu dari pembahasan sebelumnya juga telah dijelaskan bahwa barang jadi (finished goods) dalam persediaan perusahaan sektor consumer goods memiliki jumlah yang relatif sedikit dan porsi yang terbesar adalah persediaan bahan baku, bahan pembantu, bahan suku cadang, bahan kemasan dan barang dalam proses. Hal ini dapat
ditolak karena berpengaruh negatif namun tidak signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan penjualan bukanlah indikator yang menentukan peningkatan pertumbuhan laba.
menyebabkan adanya peningkatan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan sektor consumer goods untuk memproses bahan baku dan persediaan lainnya sehingga mengakibatkan penjualan berkurang dan tidak mempengaruhi pertumbuhan laba.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Barus & Leliani (2013) yang menyimpulkan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba, hal ini dikarenakan banyaknya persediaan bahan baku dan barang dalam proses yang tidak siap untuk dijual sehingga mengakibatkan hasil penjualan berkurang. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Rice (2016) yang menyatakan bahwa tingkat penjualan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan laba, dimana peningkatan penjualan dapat mendukung peningkatan laba yang diperoleh perusahaan.
5.2.6 Pengaruh Ukuran Perusahaan (Size) Sebagai Variabel Moderating Hasil uji moderating dengan menggunakan Uji Residual menunjukkan bahwa koefisien regresi dari Profit_Grobernilai negatif sebesar -0.011138 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,8702 (lebih besar dari 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa Ukuran Perusahaan (Size) bukan merupakan variabel moderating. Ukuran Perusahaan (Size) tidak mampu memoderasi pengaruh Current Ratio, Debt to Asset Ratio, Total Asset Turn Over, Inventory Turn Over, Pertumbuhan Penjualan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan sektor consumer goods selama periode tahun 2013 sampai dengan 2017.
Berdasarkan data penelitian diketahui bahwa tidak selamanya perusahaan dengan total aset yang lebih besar akan menghasilkan pertumbuhan laba yang lebih besar, kemudian perusahaan dengan total aset yang lebih kecil tidak
selamanya menghasilkan pertumbuhan laba yang lebih kecil. Peluang dalam memperoleh pertumbuhan laba tidak ditentukan dari besar kecilnya aset yang dimiliki perusahaan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rice (2016) yang menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan bukan merupakan variabel moderating yang memperkuat/memperlemah hubungan antara rasio keuangan terhadap pertumbuhan laba. Pertumbuhan laba mengarah pada kemampuan manajer dalam mengelola aset perusahaan. Perusahaan dengan aset kecil apabila dikelola dengan lebih baik tidak menutup kemungkinan untuk memperoleh pertumbuhan laba yang lebihbesar dari perusahaan dengan aset lebih besar.
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Current Ratioberpengaruh negatif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba secara parsial pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dimana current ratio yang tinggi belum tentu memberikan dampak yang positif bagi pertumbuhan laba perusahaan, sebab semakin tinggi current ratio, maka akan berdampak pada penurunan pertumbuhan laba dari waktu ke waktu.
2. Debt to Asset Ratioberpengaruh positif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba secara parsial pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia, dimana Debt to Asset Ratioyang rendah menandakan bahwa sebagian besar aset perusahaan tersebut dibiayai oleh modal sendiri, sehingga menyebabkan menurunnya peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan laba yang besar.
3. Total Asset Turn Overberpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba secara parsial pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dimana perusahaan belum efektif dalam memanfaatkan aset yang dimilikinya untuk menghasilkan penjualan yang tinggi dan mendorong pertumbuhan laba yang positif.
4. Inventory Turn Over berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba secara parsial pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dimana perusahaan belum dapat memaksimalkan Inventory Turn Over untuk meningkatkan pertumbuhan laba.
5. Pertumbuhan Penjualan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba secara parsial pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dimana kenaikan penjualan dari tahun ke tahun tidak dapat meningkatkan pertumbuhan laba dikarenakan adanya kenaikan harga pokok penjualan dan beban-bersih.
6. Ukuran Perusahaan (Size) tidak dapatmemoderasi pengaruh Current Ratio, Debt to Asset Ratio, Total Asset Turn Over, Inventory Turn Over dan Pertumbuhan Penjualan terhadap Pertumbuhan Laba, dimana peluang dalam memperoleh pertumbuhan laba tidak ditentukan dari besar kecilnya aset yang dimiliki perusahaan.
6.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, diantaranya adalah : 1. Penelitian ini menggunakan lima variabel independen yaitu current ratio, debt
to asset ratio, total asset turn over, inventory turn over, pertumbuhan penjualan, dengan kemungkinan masih terdapat banyak lagi variabel-variabel yang dapat mempengaruhi pertumbuhan laba.
2. Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini terbatas pada perusahaan sektor consumer goods selama periode pengamatan dari tahun 2013 sampai dengan 2017.
3. Penggunaan variabel moderating ukuran perusahaan (size) yang diproksikan dengan total aset.
6.3 Saran
Berdasarkan keterbatasan penelitian, bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk :
1. Menambahkan variabel independen lainnya misalnyaquick ratio, working capital to total asset, debt to equity ratio, fixed asset turn over atau variabel lain di luar rasio keuangan seperti tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan lainnya yang mungkin dapat mempengaruhi pertumbuhan laba.
2. Menggunakan populasi dan sampel di luar perusahaan sektor consumer goods dan menambah periode pengamatan yang lebih baru.
3. Menggunakan variabel moderating ukuran perusahaan (size) yang diproksikan dengan penjualan untuk mendapatkan hasil yang berbeda dan dapat dibandingkan dengan hasil yang telah ada.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Thomas. 2014. Sinergi Sukses Pengusaha dan Bankir. Jakarta : Gramedia.
Arika, N.& Ardini, L. 2017. Pengaruh Tingkat Pertumbuhan Penjualan Dan Perputaran Piutang Terhadap Likuiditas Perusahaan Manufaktur. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi,Vol 6 (1), 18-30.
Barton, Sidney L., Ned C. Hill dan Sirinivasan Sundaran. 1989. An Empirical Test of Stakeholder Theory Predictions of Capital Structure. Journal of the FinancialManagement Association,Vol 18(1), 36-44.
Barus, A.C. & Leliani. 2013. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil, Vol 3(2), 111-121.
Deitiana, Tita. 2011. Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan Penjualan Dan Dividen Terhadap Harga Saham. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol 13 (1), 57-66.
Donleavy, Gabriel. 2016. An Introduction to Accounting Theory. 1st
Field, Andy. 2009. Discovering Statistics Using SPSS. London: Sage Publications.
Edition.
Australia :Bookboon.com.
Ghozali, Imam. 2016. Aplikasi Analisis Multivariete Dengan Program IBM SPSS 23. Edisi 8. Semarang :Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Ghozali, Imam dan Ratmono, Dwi. 2017. Analisis Multivariat dan Ekonometrika:
Teori, Konsep, dan Aplikasi dengan Eviews 10. Edisi 2. Semarang :Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gumanti, Tatang.A. 2009. Teori Sinyal Dalam Manajemen Keuangan.
USAHAWAN, No 6, TH XXXVIII.
Gunawan, Ade & Wahyuni, Sri Fitri. 2013. Pengaruh Rasio Keuangan terhadap Pertumbuhan Laba pada Perusahaan Perdagangan di Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis, Vol 13 (1), 63-84.
Gunawan, Imam. 2017. Pengantar Statistika Inferensial. Edisi 1. Jakarta:
Rajawali Pers.
Gustina, D.L. & Wijayanto, A. 2015. Analisis Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Perubahan Laba. Management Analysis Journal, 4 (2), 88-96.
Hanafi, Mamduh M. dan Halim, Abdul. 2007.Analisis Laporan Keuangan.
Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Hapsari, M. A., Nuraina, E., & Wijaya, A. L. 2017. Pengaruh Book Tax Differences, Return on Asset, dan Firm Size terhadap Pertumbuhan Laba Perusahaan (Studi Empiris Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di BEI). The 9th
Heikal, M., Khaddafi, M., & Ummah, A. 2014. Influence analysis of return on assets (ROA), return on equity (ROE), net profit margin (NPM), debt to equity ratio (DER), and current ratio (CR), against corporate profit growth in automotive in Indonesia Stock Exchange. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences,Vol 4 (12), 101.
FIPA: Forum Ilmiah Pendidikan Akuntansi – Universitas PGRI Madiun, Vol 5 (1), 334-346.
Hery. 2016. Analisis Laporan Keuangan : Integrated and Comprehensive Edition.
Jakarta: Grasindo.
Husnan, Suad & Pudjiastuti, Enny. 2004. Dasar-dasar Manajemen Keuangan.
Edisi Keempat. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Jensen, M.C. &Meckling W.H. 1976
Kasmir. 2015.Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Rajawali Pers.
. Theory of The Firm: Managerial. Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, Vol 3 (4), 305-360.
Kesuma, Ali. 2009. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal Serta Pengaruhnya Terhadap Harga Saham Perusahaan Real Estate Yang Go Public di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan,Vol11 (1), 38-45.
Kuswadi. 2005. Meningkatkan Laba Melalui Pendekatan Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Biaya. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Mahaputra, I Nyoman Kusuma Adnyana. 2012. Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan Terhadap Pertumbuhan Laba Pada Perusahaan Manufaktur Yang terdaftar di BEI. AUDI Jurnal Akuntansi dan Bisnis. Vol 7 (2), 243-254.
Mahapsari, R.N.& Taman, A. 2013. Pengaruh Profitabilitas, Struktur Aktiva dan Pertumbuhan Penjualan Terhadap Harga Saham Dengan Struktur Modal Sebagai Variabel Interviening Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Nominal. Vol II (1), 137-158.
Margareth, L.E. 2016. Pengaruh Pertumbuhan Rasio Keuangan Terhadap Pertumbuhan Laba Dengan Ukuran Perusahaan Dan Kepemilikan Manajerial Sebagai Variabel Moderating Pada Perusahaan Perkebunan Yang Terdaftar Di BEI Dan Bursa Malaysia Periode 2012-2014. Skripsi.
Medan : Universitas Sumatera Utara.
Murhadi, Werner R. 2013
Nugroho, E. S., Nurdiansyah, D. H., & Erviana, N. 2017. Financial Ratio to Predicting the Growth Income (Case Study: Pharmaceutical Manufacturing Company Listed on Indonesia Stock Exchange Period 2012 to 2016). International Review of Management and Marketing, Vol 7 (5), 77-84.
. Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi Saham. Jakarta: Salemba Empat.
Prihadi, Toto. 2008. Deteksi Cepat Kondisi Keuangan : 7 Analisis Rasio Keuangan. Seri Panduan Praktis No 48. Jakarta :PPM.
Purwanto dan Bina, C. R. 2016. Analysis of Financial Ratio towards Earning Growth in Mining Companies. Universal Journal of Industrial and Business Management, Vol 4(3), 81-87.
Puspasari, M. F., Suseno, Y. D., & Sriwidodo, U. (2017). Pengaruh Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Total Asset Turnover, Net Profit Margin Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Pertumbuhan Laba. Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, Vol 11 (1), 121-133.
Rehman, M. Z., Khan, M. N., & Khokhar, I. 2014. Select financial ratios as a determinant of profitability evidence from petrochemical industry in Saudi Arabia. European Journal of Business and Management, Vol 6(6), 187-196.
Rice, R. 2016. Analisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba Dengan Ukuran Perusahaan Sebagai Variabel Moderating Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil, Vol 6(1), 85-101.
Riyadi, Bambang. 2017. Profit Analysis With Financial Ratio (Study At Manufacturing In Indonesia Stock Exchange). IOSR Journal of Economics and Finance, Vol 8 (5), Ver IV, 39-43.
Sari, Ratna Candra dan Zuhrohtun. 2008. Keinformatifan Laba di Pasar Obligasi dan Saham : Uji Liquidation Option Hypothesis. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, Vol 3(1).
Scott, William R. 2009. Financial Accounting Theory. Fifth Edition. Canada :Pearson Prentice Hall.
Subramanyam, K.R. 2017. Analisis Laporan Keuangan. Edisi 11. Buku 1. Jakarta:
Salemba Empat.
Subramanyam, K.R dan Wild, J.J. 2010. Analisis Laporan Keuangan. Edisi Sepuluh. Jakarta: Salemba Empat.
Sudarmadji, Ardi Murdoko dan Sularto, Lana. 2007. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary Disclosure Laporan Keuangan Tahunan.Seminar Ilmiah Nasional PESAT. Lembaga Penelitian Universitas Gunadarma.
Sudarsono, J. 2005. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sukamulja, Sukmawati. 2017. Pengantar Pemodelan Keuangan dan Analisis Pasar Modal. Edisi Pertama. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Suwardjono. 2017. Teori Akuntansi: Perekayasaan Laporan Keuangan. Edisi
Suwardjono. 2017. Teori Akuntansi: Perekayasaan Laporan Keuangan. Edisi