BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan
1. Profil kegiatan Akses dan Kontrol terhadap Pengambilan Keputusan Rujukan ke Rumah Sakit pada Ibu Hamil Berisiko Tinggi dalam Perspektif Gender di dalam Rumah Tangga
Profil kegiatan kesehatan di dalam rumah tangga yang diambil dalam penelitian ini adalah seperti dalam keuangan, tabungan, persiapan persalinan, pemeriksaan dan informasi kehamilan risiko tinggi dalam pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit. Profil kegiatan kesehatan kehamilan risiko tinggi di dalam keluarga tunjukkan tabel 4.1 analisis gender.
Hasil penelitian profil aktivitas keuangan dalam rumah tangga ini menunjukkan bahwa peran penting istri memiliki peran penting dalam
mengelola keuangan rumah tangga, karena pada dasarnya istri lebih detil dalam mengurus keuangan rumah tangga.Walaupun istri di dalam rumah tangga bukan sekedar menjadi sosok yang hanya mengasuh, mendidik anak-anak serta mengurus suami dan rumah. Namun, suami lebih memiliki kontrol dalam keuangan rumah tangga yang digunakan untuk kepentingan kesehatan istri hamil dengan risiko tinggi yang akan melahirkan Dalam kontrol penggunannyapun di dalam rumah tangga, suami tetap memegang peran utama dalam kontrol keuangan rumah tangga. Hasil tersebut ditemukan bahwa istri lebih dihargai sebagai perempuan sehingga istri memiliki peran penting dalam pengelolaan keuangan rumah tangga walupun tidak memiliki peran kontrol keuangan di dalam rumah tangga.Pada kontrol keuangan rumah tangga dalam kesehatan ibu hamil hamil berisiko tinggi perempuan tidak memiliki hak dan tidak dipercaya di dalam kesehatan istri hamil ketika memerlukan tempat rujukan ke rumah sakit untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Suami boleh jadi pintar dalam hal memperoleh uang tetapi harus diimbangi dengan istri yang juga pandai mengatur uang sehingga kondisi keuangan keluarga tetap sehat.
Hasil penelitian profil kegiatan tabungan dan persiapan persalian ditemukan dalam penelitian ini adalah ada dua pasang informan yang memiliki akses dan kontol dalam tabungan dan persiapan pesalinan istri hamil risiko tinggi. Dari kedua pasangan informasi menunjukkan bahwa suami lebih dominan dalam akses dalam kepemilikan tabungan dan persiapan persalinan
serta kontrol dalam kepemilikan tabungan dan persiapan persalinan pada istri hamil risiko tinggi. Pada kedua pasangan menunjukkan bahwa istri tidak memiliki peran gender yang lebih baik dan sama di dalam tabungan dan persiapan persalinan ibu hamil risiko tinggi. Sehingga dirasa istri kurang di dalam kepemilikan tabungan dan persiapan persalian pada kesehatan ibu hamil risiko tinggi. Walaupun istri tidak memiliki akses dan kontrol dalam tabungan dan persiapan persalinan, namun suami sadar dan perhatian pada istri bahwa istri perlu uang untuk persiapan persalinan walaupun hanya sedikit tapi itu sudah dianggap suami memiliki peran gender di dalam rumah tangga tentang kesehatan ibu hamil. Selain itu, pada aktivitas ini juga ditemukan bahwa ada tiga pasang informan yang tidak memiliki akses dan kontrol dala tabungan dan persiapan persalianan pada ibu hamil risiko tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada peran gender di dalam rumah tangga untuk kesehatan ibu hamil risiko tinggi. Ketiga pasang informasi tersebut dalam persiapan persalinan mengandalkan pinjam uang pada saudara, tetangga maupun jaminan kesehatan seperti Jamkesmas atau BPJS
Hasil penelitian profil kegiatan pemeriksaan kehamilan ditemukan bahwa istri berperan lebih dominan memiliki akses di dalam rumah tangga. Walaupun suami mengantar periksa hamil hanya pada saat USG, kehamilan tua, atau ketika ibu mengalami tanda bahaya kehamilan. Bahkan suami hanya akan ikut masuk ketika dipanggil bidan atau dokter untuk memberitahu hasil pemeriksaan yang berbahaya untuk kesehatan ibu dan bayinya. Hal ini
menunjukkan bahwa istri kurang diperhatikan dan kurang dihargai suami sebagai dalam kesehatan kehamilan mereka, seakan-akan kesehatan kehamilan seorang istri merupakan tanggung istri sendiri dan tidak ada campur tangan dari suami. Memang benar bahwa kesehatan kehamilan yang menentukan adalah ibu hamil sendiri bukan suami.Sebenarnya kesehatan istri hamil itu juga merupakan tanggung jawab suami dan istri di dalam rumah tangga. Namun, ada juga pasangan informan pada aktivitas pemeriksaan kehamilan itu lebih dominan pada akses dan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa peran gender di dalam rumah tangga pasangan informan ini kurang baik karena yang menentukan untuk periksa kehamilan adalah suami. Walaupun dirasa suami sadar akan pentingnya kesehatan istri saat hamil. Padahal yang hamil dan merasakan keadaan saat hamil adalah istri. tetapi suamilah yang menginginkan dan memutuskan untuk periksa hamil.
Hasil peneliatian profil kegiatan informasi tanda bahaya kehamilan risiko tinggi di dalam rumah tangga, istri lebih dominan memiliki informasi tentang bahaya kehamilan daripada suami. Namun istri tidak memiliki kontrol informasi kehamilan risiko tinggi di dalam rumah tangga guna memilih rumah sakit rujukan untuk menyelamat ibu dan bayi. Peran gender istri di rumah tangga menjadi tidak baik, karena seharusnya istri memiliki hak dalam menentukan rumah sakit rujukan dengan informasi kehamilan risiko tinggi untuk memilih rumah sakit rujukan yang diperoleh ibu dari tenaga medis seperti bidan dan dokter maupun buku yang dibaca, karena istri yang
mengetahui kondisi kesehatan kehamilannya. Hal tersebut menjadi kurang adil bagi istri di dalam peran gender di dalam rumah tangga. Walaupun istri lebih dominan dalam mengetahui informasi dalam tanda bahaya kehamilan namun hal ini terlihat bahwa perhatian suami kepada istri hamil tidak ada tentang bahaya kehamilan yang dialami istrinya serta menunjukkan bahwa istri tidak dihargai dan tidak memiliki kedudukan yang sama tentang kesehatan di dalam rumah tangga. Hal ini dibuktikan dengan beberapa suami ada yang mengantar periksa kehamilan tetapi beberapa memilih untuk menunggu di luar, tidak ikut masuk ke ruang periksa sehingga akses informasi tentang tanda bahaya kehamilan kurang atau tidak diketahui oleh suami. Namun, suamilah yang memiliki kontrol dalam pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit pada ibu hamil berisiko tinggi di dalam rumah tangga.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Kusumo, et.al (2013) bahwa perempuan sebagai istri menyadari perannya secara tradisional, dengan memandang bahwa kedudukan istri dalam keluargalebih rendah dari pada suami sehingga wajar jika wewenang untuk mengambil keputusanada di tangan suami. Istri menilai bahwa suami yangberkewajiban mencari nafkah dan istri bertanggung jawab dalam mengurus rumah tanggadan tidak ingin bertukar posisi meskipun secara ekonomis menguntungkan. Namun di lainpihak istri juga ingin terlibat lebih jauh di sektor publik, hal tersebut terlihat bahwa istri boleh membantu suami dalam mencari nafkah, istri boleh
terlibat dalamorganisasi sosial serta persepsi istri bahwa perempuan berhak mengakses dan mengontrol sumberdaya yang ada.
Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian Kusumawati (2012) yang menyatakan bahwa pengelolaan keuangan di dalam sebuah keluarga bukanlah tugas istri saja tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga, terutama bagi pasangan suami istri. Lebih baik lagi apabila kesepakatan mengenai masalah keuangan dimana ibu mengatur keuangan dan bapak juga berperan sebagai kontrol agar tidak terjadi kesalahpahaman. Keterbukaan, komunikasi dan kesepakatan bersama adalah prinsip yang harus dipegang teguh oleh masing-masing pasangan dalam mengelola keuangan keluarga.
Hasil penelitian ini juga bertentangan dengan pernelitian Rossnanda (2011), menyatakan bahwa bahwa tiap anggota keluarga menjalankan perannya masing-masing dengan baik. Namun jika ada anggota keluarga lain mengalami kesulitan, maka mereka saling membantu. Selain sebagai ayah yang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, ia juga ikut andil dalam urusan rumah tangga atau sekedar membantu pekerjaan di rumah; sedangkan anak, selain memiliki tugas utama yaitu sekolah dan mentaati aturan yang ada di rumah, anak juga memiliki tanggung jawab untuk membantu mengurus rumah dan membantu orangtua dalam mengelola pekerjaan-pekerjaan yang ada di rumah minimal mengurus barang-barangnya sendiri, sedangkan sebagai istri, selain mengurus dan mengelola rumah tangga, ibu juga berperan sebagai
pencari nafkah untuk membantu keuangan rumah tangga; berbeda seorang istri yang hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, ia akan banyak memiliki waktu untuk mengurus rumah tangga, suami dan anak-anak.
Hasil penelitian dari anaisis gender dari profil kegiatan pada akses kesehatan kehamilan risiko tinggi di dalam rumah tangga dengan studi di Puskesmas Gondangrejo Karanganyar disimpulkan bahwa keuangan, pemeriksaan kehamilan, dan informasi lebih dominan istri. Namun, dalam kontrol keuangan, pemeriksaan kehamilan, dan informasi dalam pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit lebih dominan suami. Sedangkan pada akses dan kontrol tabungan dan persiapan persalinan lebih dominan suami. Dari hasil kesimpulan jika dilihat dari persepektif gender peran antara istri dan suami tidak seimbang, karena dalam kesehatan kehamilan pada istri hamil risiko tinggi tidak memiliki kedudukan dan hak sejajar dengan suami di dalam pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit ibu memiliki akses kegiatan di dalam rumah tangga. Padahal istri hamil risiko tinggi merasakan kesehatan kehamilannya sendiri yang seharusnya istri juga memiliki hak untuk memutuskan rumah sakit untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.
2. Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Rujukan ke Rumah Sakit pada ibu Hamil Risiko Tinggi antara dalam Pespektif Gender di dalam Rumah Tangga di dalam Rumah Tangga
Faktor yang mempengaruhi pengambilam keputusan rujukan yaitu pengetahuan, sikap, persepsi, sosial budaya, dan ekonomi yang dianalisis
yang ditunjukkan pada tabel 4.2 tabel analisis gender. Pada penelitian ini, keputusan rujukan pada ibu hamil berisiko tinggi dalam pespektif gender pada rumah tangga dengan menggunakan analisis gender ditemukan bahwa faktor pengetahuan, sikap, persepsi, dan ekonomi.
Faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan pemilihan rujukan ke rumah sakit pada ibu hamil berisiko tinggi dalam perspektif gender salah satunya adalah pengetahuan. Pengetahuan ini diperoleh dari bidan, dokter dan buku yang dibaca untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi. Pada faktor pengetahuan kehamilan risiko tinggi pada istri lebih dominan karena istri lebih mempunyai pengetahuan khususnya tentang ibu hamil yang berisiko tinggi karena sering berinteraksi dengan dokter danbidan.Walapun istri memiliki pengetahuan kehamilan risiko tinggi, tetapi istri tidak memiliki hak sepenuhnya untuk menentukan rumah sakit rujukan. Namun, istri tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan rujukan ke rumah sakit karena di dalam faktor pengetahuan ini suami yang lebih dominan. Dilihat dari perspektif gender, hal tersebut menunjukkan bahwa istri tidak memiliki hak dan kedudukan yang sama di dalam kesehatan untuk pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit pada ibu hamil berisiko tinggi.
Hasil analisis gender fakor yang mempengaruhi pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit pada ibu hamil berisiko tinggi selanjutnya adalah sikap. Sikap merupakan pernyataan informan mengenai rumah sakit yang akan menjadi rujukan padda ibu hamil risiko tinggi. Faktor sikap dalam
pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit, suamilah lebih dominan. Dilihat dalam perspektif gender, istri hamil dengan risiko tinggi dalam penelitian ini istri tidak memiliki kesempatan dan kedudukan sama dengan suami untuk menyikapi pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit dalam rumah tangga.
Hasil analisis gender faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit selanjutnya adalah persepsi. Persepsi ini diperoleh dari persepsi informan terhadap rumah sakit sebagai tempat rujukan dalam pengambilan keputusan. Faktor persepsi yang ditunjukkan dengan akses jalan, fasilitas rumah sakit, orang lain, dan jaminan kesehatan seperti Jamkesmas dan BPJS. Faktor persepsi ini juga akan mempengaruhi pola pengambilan keputusan rumah tangga dalam merujuk ibu bersalin ke rumah sakit sehingga dapat memperoleh penanganan kelahiran yang lebih baik. Persepsi dalam penelitian ini lebih dominan dimiliki suami. Dilihat dariperspektif gender, hal persepsipun perempuan (istri) tidak memiliki hak dan peran dalam memilih tempat rujukan ke rumah sakit yang untuk menyalamatkan ibu dan bayinya.
Hasil analisis gender gender faktor sosial budaya yang mempengaruhi pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit pada ibu hamil berisiko tinggi. Sosial budaya merupakan kebiasaan atau tradisi masyarakat yang diperoleh dari penalaran. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa, sosial budaya yang ada di masyarakat Kabupaten Karanganyar ini memiliki sosial budaya seperti mitos dan adat istiadat. Mitos yang didapat dalam peneliti ini adalah anak
tidak boleh dibawa keluar waktu magrib dan ibu hamil kalau pergi dibawain bawang dan dlingobenge. Adat istiadat yang ada di masyarakat adalah mitoni, syukuran setelah melahirkan yang disebutkan. Namun faktor sosial tidak mempengaruhi pengambilan keputusan ke rumah sakit pada ibu hamil dalam perspektif gender di dalam rumah tangga di dalam rumah tangga.
Hasil analis gender faktor ekonomi pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit lebih dominan suami. Faktor ekonomi yang dilakukan suami dengan cara bekerja untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.Perkerjaan suami yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu security, buruh bangunan, menjadi jasa pajak kendaraan bermotor, dan pemulung. Memang laki-laki yang bertanggung jawab terhadap perekonomian rumah tangga sebagai orang yang mencari nafkah, sehingga faktor ekonomi juga dapat berpengaruh terhadap biaya di rumah sakit.Serta pada pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit di dalam rumah tangga pada ibu hamil berisiko tinggi, suami lebih dominan. Walaupun dari penghasilan yang didapat suami kurang mencukupi kebutuhan keluarga, namun suami bertanggung jawab atas biaya untuk rujukan ibu hamil hamil berisiko tinggi dengan cara meminjam uang ke tetangga atau saudara dan mencari jaminan kesehatan berupa Jamkesmas dan BPJS dengan melengkapi syarat-syaratnya. Dilihat dari perspektif gender walaupun istri tidak memiliki kesempatan dan kedudukan dalam memilih rumah sakit rujukan, namun bapak memiliki peran
gender di dalam keluarga yang bagus karena bertanggung jawab atas ibu dan bayi.
Hasil penelitian ini mendukung pernyataan Surajiyo (2007) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu manusia terhadap sesuatu atau segala perbuatan manusia untuk memahami atau hasil suatu obyek yang dihadapinya atau hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu, meningkatnya pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan risiko tinggi akan membuat suami dan istri mempunyai sikap dan persepsi dalam mengambil keputusan dalam penentuan rujukan ke rumah sakit. Hal ini juga dipengaruhi faktor sosial budaya, dimana faktor sosial budaya merupakan salah faktor yang mempengaruhi keputusan dalam merujuk.
Hasil penelitian ini mendukung penyataan Dinkes Kabupaten Demak (2007) yang meunyakan bahwa kehamilan dapat menimbulkan suatu perubahan yang cukup drastis, baik perubahan fisik maupun perubahan psikologis. Perubahan secara fisik pada ibu hamil seperti perubahan bentuk tubuh yang ditandai dengan meningkatnya berat badan, timbulnya kloasma gravidarum pada wajah (topeng pada wajah), timbulnya garis-garis pada akibat peregangan kulit (biasanya pada kulit perut, kulit paha) dan lain sebaginya. Sehingga perubahan fisik tersebut dapat mempengaruhi perubahan secara psikologis. Perubahan psikologis akan menimbukan suatu pengharapan dengan disertai kecemasan dalam menyambut kelahiran bayi. Sehingga akan menimbulkan suatu sikap dan reaksi antar anggota dalam keluarga, seperti
sikap dan reaksi seorang suami pada kehamilan istri akan berbeda pada setiap suku, bangsa serta mungkin akan lebih tergantung pada budaya/ada istiadat setempat.
Peran bidan atau dokter juga berpengaruh dalam pengambilan keputusan rujukan suami istri dengan kehamilan risiko tinggi. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Sari (2013) yang menyatakan bahwa kualitas bidan ataupun dokter yang disediakan pihak rumah sakit merupakan hal penting yang harus dicermati oleh rumah sakit karena dapat mempengaruhi citra dari rumah sakit. Citra tersebut dapat menjadi suatu pertimbangan pasien dalam memilih suatu rumah sakit yang akan menangani masalah kesehatanya. Pasien akan menganggap suatu pelayanan rumah sakit tersebut baik apabila mereka merasa kualitas dari dokter-dokter di rumah sakit tersebut baik dan banyak orang yang sudah pernah menggunakan jasanya dan orang-orang tersebut berpendapat baik serta banyak sekali orang yang mengunjungi, maupun mengetahui pelayanan dari rumah sakit tersebut.
Penelitian ini mendukung penelitian Wawan dan Dewi (2010) menyatakan bahwa status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga, keadaan ekonomi akan mempengaruhi sistem pelayanan kesehatan. Membayar biaya perawatan kesehatan merupakan suatu masalah besar bagi masyarakat. Biaya yang dikeluarkan oleh pasien yang berobat ke pelayanan kesehatan menimbulkan persepsi bahwa biaya perawatan kesehatan yang
mahal atau biaya kesehatan yang murah. Selain itu faktor harga juga berpengaruh dalam pengambilan keputusan rujukan rumah sakit pada suami atau istri dengan kehamilan risiko tinggi. Konsumen akan mengharapkan harga yang ditawarkan produsen dapat terjangkau dan sesuai dengan keinginannya. Harga akan menjadi pertimbangan yang cukup penting bagi konsumen dalam memutuskan pembeliannya, konsumen akan membandingkan harga dari produk pilihan mereka dan kemudian mengevaluasi apakah harga tersebut sesuai atau tidak dengan nilai produk serta jumlah uang yang harus dikeluarkan. Harga dalam industri jasa rumah sakit menurut pendapat dari Aditama (2002) adalah biaya di sebuah rumah sakit tidak hanya tertuju kepada besarnya tarif yang harus dibayar tiap pasien untuk satu jenis pemeriksaan atau tindakan tetapi namun keseluruhan biaya yang harus dibayar oleh pasien untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit. Keberadaan rumah sakit yang bersedia menerima pasien dengan BPJS, Jamkesmas dapat menjadi rujukan bagi informan untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Hasil penelitian dari analisis gender tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan ibu risiko tinggi di dalam rumah tangga dengan studi di Puskesmas Gondangrejo Karanganyar adalah pengetahuan, sikap, persepsi, dan ekonomi. Dari faktor pengetahuan dalam pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit lebih dominan suami walaupun istri memiliki pengetahuan kehamilan risiko tinggi untuk
menentukan keputusan rujukan ke rumah sakit. Sedangkan faktor sikap, persepsi dan ekonomi lebih dominan suami dan suami lebih dominan dalam pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit yang dipengaruhi faktor tersebut. Dari hasil kesimpulan jika dilihat dari persepektif gender peran antara istri dan suami tidak seimbang, karena faktor yang ditemukan dalam pengambilan keputusan, istri hamil risiko tinggi tidak memiliki kedudukan dan kesempatan di dalam rumah tangga. Padahal istri hamil risiko tinggi merasakan kesehatan kehamilannya sendiri yang seharusnya istri juga memiliki hak untuk memutuskan rumah sakit untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.
3. Pengambil Keputusan Rujukan ke Rumah Sakit pada Ibu Hamil Risiko Tinggi dalam Perspektif Gender di dalam Rumah Tangga
Pengambilan keputusan keluarga dalam merujuk ibu hamil berisiko tinggi ke rumah sakit dalam perspektif gender di dalam keluarga merupakan suatu proses pengambilan keputusan yang melibatkan beberapa keputusan. Suatu keputusan melibatkan pilihan di antara kedua atau lebih alternatif tindakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suami memegang peranan yang lebih dominan dalam pengambilan keputusan rujukan hal ini disebabkan karena suami merupakan kepala keluarga.
Pengambilan keputusan rujukan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu menurut tingkatan, kategori, dan jenis. Faktor yang mempengaruhi menrut dibagi menjadi empat, yaitu keputusan otomatis, keputusan berdasarkan
informasi yang diharapkan, keputusan berdasarkan pertimbangan, dan berdasarkan ketidakpastian ganda. Faktor yang mempengaruhi menurut kategori dibagi menjadi dua, yaitu keputusan dengan kategori representatif, keputusan empiris, keputusan informasi, dan keputusan eksplorasi. Sedangkan faktor yang mempengaruhi keputusan menurut jenisnya ada dua, yaitu keputusan pribadi dan keputusan bersama.
Hasil penelitian yang menggunakan analisis gender menunjukkan bahwa informan mempunyai jenis pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit pada ibu hamil berisiko tinggi di dalam keluarga, mayoritas dengan tingkatan otomatis dansuami lebih dominan dalam pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit. Keputusan otomatis merupakan keputusan diambil dengan cara sederhana dan seketika itu juga. Hasil analisis gender tersebut menunjukkan bahwa suami lebih dominan dalam pengambilan keputusan rujukan ke rumah sakit. Sehingga dalam perspektif gender, penelitian ini menunjukkan bahwa istri hamil risiko tinggi tidak memiliki kesempatan dan kedudukan yang sama dalam mengambil keputusan rujukan ke rumah sakit sesuai dengan keinginan istri di dalam keluarga untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.
Hasil penelitian dengan analisis gender pada kategori pengambilan keputusan rujukana ke rumah sakit pada ibu hamil berisiko tinggi dalam perspektif gender di dalam rumah tangga mayoritas kategori keputusan rujukan empiris dan suami lebih dominan dalam mengambil keputusan rujukan ke rumah sakit. Keputusan empiris merupakan keputusan yang yang