• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Analisis data korelasi product moment dari Pearson yang mendapatkan hasil sebesar -0,744 dengan probabilitas 0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara kompetensi interpersonal dan kesepian. Semakin tinggi kompetensi interpersonal maka semakin rendah tingkat kesepian, demikian pula sebaliknya semakin rendah kompetensi interpersonal maka semakin tinggi tingkat kesepian.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara kompetensi interpersonal dan kesepian pada dewasa awal. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Peplau & Perlman (dalam Wright, 2005) yang mengemukakan kesepian adalah hasil dari kurangnya hubungan sosial individu. Peplau dan Perlman (dalam Sarwono,1999) juga menyatakan bahwa kesepian adalah perasaan yang timbul jika harapan untuk terlibat dalam hubungan yang akrab dengan orang lain tidak tercapai. Dari teori tersebut dapat diartikan bahwa individu dengan tingkat kesepian yang tinggi adalah individu yang memiliki hubungan sosial terbatas yang diakibatkan oleh individu yang sangat menginginkan hubungan yang akrab dengan individu lain, namun tidak dapat mewujudkan harapannya. Pada individu dewasa awal, kesepian merupakan keadaan yang sering mereka alami. Hal ini sesuai dengan pendapat Erikson (dalam Hurlock, 1990) yang menekankan bahwa masa dewasa dini merupakan masa ”krisis keterpencilan”. Pada masa ini pria dan wanita sering merasa kesepian karena teman-teman lama sudah berpencar dan

banyak diantaranya yang sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Akibat yang ditimbulkan adalah mereka kehilangan pergaulan yang menyenangkan pada masa remaja ketika selalu ada teman untuk diajak berbincang-bincang atau melakukan kegiatan bersama.

Pendapat yang lain menyatakan bahwa penting bagi setiap individu untuk mampu bertahan. Kemampuan bertahan ini terjadi pada berbagai bidang seperti ekonomi, psikologis seseorang, akademis, jabatan, dan sosial. Bagian sukses dari kemampuan bertahan ini diukur dalam kaitan dengan kebahagiaan pribadi. Dengan kata lain, orang-orang kesepian tidak merasakan kebahagiaan pribadi karena kurang memiliki ketrampilan sosial (Booth et al, 1992). Pendapat tersebut senada dengan pernyataan dari Burns (1988) yaitu orang yang merasa kesepian adalah orang yang merasa tidak punya harapan, karena mereka percaya tidak akan pernah menemukan kebahagiaan atau berkesempatan berhubungan dengan orang lain. Mereka merasa kosong dan tidak puas sebab menurut anggapan mereka segala kepuasan dalam hidup ini berasal dari hubungan yang penuh arti dengan orang lain. Havighurst (dalam Hurlock, 1990) menjelaskan bahwa rasa kesepian dialami individu pada masa dewasa dini. Hal ini karena mereka tidak lagi dapat dengan mudah menikmati pergaulan yang spontan sebagaimana dulu ketika masih bersekolah. Sekarang mereka harus mencari jalannya sendiri, menjalin tali persahabatan baru yang memantapkan identitas mereka lewat upaya mereka sendiri.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan Jackson, et al (2000) yang menghubungkan karakteristik kepribadian tertentu dan dukungan sosial yang berperan untuk meramalkan kesepian di masa mendatang. Hasilnya menunjukkan bahwa rasa malu kurang berpengaruh secara langsung terhadap kesepian di masa mendatang, namun individu sangat pemalu yang merasa tidak memiliki hubungan akrab kemungkinan mudah mengalami kesepian dengan tingkat yang tinggi. Individu ini umumnya menghindari interaksi sosial dan menolak mengambil resiko memulai hubungan. Beberapa peneliti juga telah menemukan orang-orang yang kesepian itu cenderung lebih malu dibanding orang-orang yang tidak kesepian (Boothet al, 1992).

Jones (1982) menemukan hubungan negatif antara kesepian dengan faktor sosial seperti pengambilan resiko dan kecenderungan seseorang untuk bergabung dalam kelompok. Ia juga menemukan bahwa karakteristik seperti itu sebagai introversi, kecemasan, dan mempunyai kesulitan mendekati orang lain untuk membina hubungan positif yang dihubungkan dengan kesepian. Orang-orang yang kesepian cenderung menjaga jarak dengan individu lainnya. Dari beberapa pendapat dan penelitian diatas, tampak bahwa kesepian dihubungkan dengan bagaimana individu berhubungan dengan individu lainnya. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk membangun hubungan dengan orang lain untuk mengurangi rasa kesepian. Salah satu cara untuk membina hubungan akrab adalah dengan membangun komunikasi yang efektif dan hubungan interpersonal yang baik dengan individu lain. Kemampuan tersebut yaitu kompetensi interpersonal yang berarti kemampuan individu

dalam menjalin dan membina suatu hubungan interpersonal (Buhrmester, 1988).

Individu yang kurang memiliki kompetensi interpersonal umumnya adalah individu dengan tingkat kesepian yang tinggi. De Jong Gierveld (dalam Latifa, 2007) menyebutkan bahwa kesepian dapat terjadi ketika terdapat kesenjangan antara keinginan individu untuk mendapatkan afeksi dan kehangatan dari orang lain dan kenyataan yang dimiliki individu. Individu pada kenyataannya tidak mendapat afeksi dan kehangatan sesuai harapannya, misalnya teman yang dimiliki tidak sebanyak gambaran jumlah teman yang diinginkan, orang dekat yang dimiliki tidak sesuai dengan harapan kedekatan yang diinginkan. Pace (dalam Sukmono et al, 2000), mengemukakan bahwa kemampuan menjalin hubungan interpersonal adalah kemampuan dalam menjalani suatu hubungan yang akrab, yang dialami seseorang dengan individu lain. Pernyataan tersebut semakin menguatkan bahwa kurangnya kompetensi interpersonal yang di dalamnya terdapat unsur kemampuan menjalin hubungan akrab, akan semakin mempertinggi tingkat kesepian. Pada individu dewasa awal, menurut Erikson dan Havighurst (dalam Hurlock,1990) hal ini tampak pada saat mereka menghadapi salah satu tugas perkembangan yaitu menjadi bagian dari kelompok. Hambatan yang terjadi adalah orang muda mengalami kesulitan untuk bergabung dengan satu kelompok sosial yang cocok. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan kesulitan ini. Wanita yang terikat oleh tanggung jawab rumah tangga mungkin tidak mempunyai waktu ataupun uang untuk kegiatan-kegiatan sosial yang sebelumnya mereka

nikmati dan mungkin mereka tidak mampu memperoleh pengganti yang memuaskan. Situasi seperti ini mengakibatkan rasa yang tidak puas yang sering mempengaruhi kepuasan dengan perkawinan. Demikian juga pria, karena tekanan dan tanggung jawab rumah tangga yang begitu berat dan melelahkan serta menyita waktu sering mengalami kesulitan untuk bergabung dengan kelompok sosial yang cocok. Sama seperti wanita, mereka kemudian juga merasa tidak puas dengan kehidupan mereka. Dalam hal ini bahkan jika kaum muda mempunyai waktu dan uang untuk melakukan kegiatan sosial, orang dewasa tertentu sulit sekali menciptakan hubungan yang hangat dan akrab dengan orang sekeliling mereka. Itulah salah satu alasan mengapa baik Erikson dan Havighurst menyatakan bahwa periode awal kedewasaan adalah salah satu periode saat orang paling merasa kesepian.

Di sisi lain individu dengan tingkat kesepian yang rendah merupakan individu yang mampu mengatasi kesepian dengan membangun relasi dengan individu lain. Kompetensi interpersonal sangat berperan dalam hal ini. Individu yang memiliki kompetensi interpersonal yang tinggi akan mampu mengatasi kesepian karena ia mampu menjalin hubungan yang efektif, termasuk menjalin kedekatan dengan banyak individu. Masa dewasa awal merupakan masa ketika individu biasanya membangun hubungan yang intim dengan individu yang lain. Individu yang memiliki kompetensi interpersonal tinggi akan mudah membangun relasi dan hubungan yang intim dengan individu lain. Salah satu aspek dalam kompetensi interpersonal adalah memberikan dukungan emosional. Individu yang memiliki kompetensi ini

akan mampu memberikan afeksi kepada orang lain sehingga ia juga akan menerima afeksi dari orang lain. Hal itu berarti bahwa individu yang memiliki kompetensi interpersonal yang tinggi adalah individu dengan tingkat kesepian yang rendah.

Dokumen terkait