BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan
Pada penelitian ini, akan dijelaskan bagaimana proses koneksi matematis peserta didik dalam pembelajaran matematika kelas VIII SMP N 5 Terbanggi Besar.
1. Subjek dengan Kemampuan Awal Tinggi
Dalam penelitian ini diambil 2 subjek yang memiliki kemampuan awal tinggi. Koneksi matematis peserta didik berkemampuan awal tinggi dapat membuat perencanaan penyelesaian masalah sesuai indikator koneksi matematis. Hal ini sesuai dengan hasil NCTM dalam Romli yaitu peserta didik dengan kemampuan awal tinggi mampu memahami bagaimana ide-ide matematika saling berhubungan dan membangun satu sama lain untuk menghasilkan kesatuan yang utuh, serta sesuai dengan hasil PCS dalam Romli mengemukakan bahwa peserta didik dengan kemampuan awal tinggi dapat menerapkan konsep dan prosedur yang telah diperoleh. Dari hasil tes dan wawancara menunjukkan bahwa peserta didik dengan kemampuan awal tinggi mampu menggunakan kemampuan koneksi matematis dengan baik.
Peserta didik dengan subjek kemampuan awal tinggi dapat memahami konsep yang sama dengan baik. Terlihat saat peserta didik dapat mengenali dan menggunakan setiap konsep dalam matematika. Konsep materi yang telah dipelajari sebelumnya seperti lingkaran yang tertuang dalam konsep baru seperti
prisma. Hal ini sesuai dari hasil NCTM yang mengemukakan bahwa tanpa koneksi matematika peserta didik harus belajar dan mengingat terlalu banyak konsep dan prosedur yang saling terpisah. Namun, peserta didik dengan kemampuan awal tinggi dapat mengingatnya dengan baik dan dapat menuangkannya secara tulisan dalam bentuk jawaban akhir. Selain itu dalam proses pengerjaan peserta didik tidak mengalami kesulitan, peserta didik menyelesaikannya dengan tenang tanpa harus membuat gaduh dan percaya diri dengan jawabannya.
Peserta didik dapat memahami hubungan antar topik matematika dengan baik. Dari hasil jawaban, peserta didik dapat menghubungkan topik satu dengan yang lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Bruner yang mengemukakan bahwa setiap topik matematika terkait dengan topik lain dalam matematika itu sendiri. Dalam keterkaitan setiap topik peserta didik dapat mengetahui topik materi untuk menyelesaikan permasalahan dalam soal. Peserta didik dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan benar. Kemudian peserta didik dapat mencari hubungan berbagai representasi konsep dengan baik. Terlihat peserta didik dapat menjelaskan kembali konsep yang telah dipelajarinya secara sistematis dan urut. Selain itu, Peserta didik menjelaskan setiap alur untuk mendapatkan jawaban akhir yang sesuai. Dan peserta didik tidak mengalami kesulitan saat menjelaskan konsep yang telah dipelajarinya.
Peserta didik dapat menggunakan koneksi matematika dalam kehidupan sehari-hari dengan baik. Terlihat saat hasil tes dan wawancara peserta didik dapat memahami permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dan mengubah permasalahan kehidupan sehari-hari kedalam bentuk permodelan matematika. Hal ini sesuai pendapat Johanes bahwa matematika berperan sebagai ilmu pengetahuan pembantu bagi ilmu pengetahuan lain, terutama ilmu pengetahuan eksternal atau dalam kehidupan sehari-hari. Saat peserta didik menyelesaikan permasalahan volume sebuah tenda dengan konsep prisma segitiga dalam matematika. Hal ini terbukti peserta didik dapat menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian peserta didik dapat menggunakan koneksi antar matematika dengan baik. Terlihat saat peserta didik dapat menyelesaikan permasalahan matematika yang saling berkaitan dengan benar. Peserta didik memahami permasalahan yang harus diselesaikan terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan unsur sebuah prisma. Hal ini sesuai dengan hasil Cuoco yang mengatakan keindahan matematika terletak pada adanya keterkaitan dalam matematika itu sendiri. Dalam menggunakan koneksi antar matematika peserta didik akan mengetahui bahwa dari hasil yang diperoleh dapat mengetahui sebuah ukuran dari sebuah sisi bangunan.
2. Subjek dengan Kemampuan Awal Sedang
Dalam penelitian ini diambil 2 subjek yang memiliki kemampuan awal sedang. Kemampuan awal sedang bisa disebut memiliki hasil yang signifikan.
Hal ini sesuai pendapat Anggraini yang menyimpulkan bahwa ada hasil belajar yang signifikan antara kemampuan awal tinggi dan rendah. Kemampuan awal yang dimiliki peserta didik memberikan pengaruh terhadap hasil belajar. Dari hasil tes dan wawancara menunjukkan bahwa peserta didik dengan kemampuan awal sedang dapat menggunakan kemampuan koneksi matematis dengan baik.
Peserta didik dengan subjek kemampuan awal sedang dapat memahami konsep yang sama. Hal tersebut terlihat dari peserta didik dapat mengenali dan menggunakan setiap konsep dalam matematika. Konsep materi yang telah dipelajari sebelumnya seperti lingkaran yang tertuang dalam konsep baru seperti prisma. Peserta didik dapat mengingatnya dengan baik dan dapat menuangkannya secara tertulis dalam bentuk jawaban akhir. Selain itu dalam proses pengerjaan peserta didik tidak mengalami kesulitan, peserta didik menyelesaikannya dengan tenang tanpa harus membuat gaduh dan percaya diri dengan jawabannya.
Peserta didik tidak dapat memahami hubungan antar topik matematika dengan baik. Hal ini terlihat saat peserta didik menggunakan topik materi yang sesuai permasalahan yang ada namun hasil akhir yang diperoleh belum mendapatkan hasil yang benar. Hal ini sesuai hasil NCTM yang menyatakan bahwa matematika secara keseluruhan sangat penting dalam belajar dan berfikir tentang koneksi diantara topik-topik matematika. Namun dari hasil peserta didik dengan kemampuan awal sedang tidak dapat menggunakannya dengan baik, karena peserta didik tidak menyadari setiap topik yang saling berkaitan. Sehingga hasil
yang diperoleh belum benar. Kemudian peserta didik dapat mencari hubungan berbagai representasi konsep dengan baik. Terlihat peserta didik dapat menjelaskan kembali konsep yang telah dipelajarinya dengan sistematis dan urut. Peserta didik menjelaskan setiap alur dan hubungan yang saling berkaitan untuk mendapatkan jawaban akhir yang sesuai. Peserta didik tidak mengalami kesulitan saat menjelaskan konsep yang telah dipelajarinya.
Peserta didik dalam menggunakan koneksi matematika dalam kehidupan sehari-hari. Terlihat saat hasil tes dan wawancara peserta didik dapat memahami permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dan mengubah permasalahan kehidupan sehari-hari kedalam bentuk permodelan matematika yang terdapat pada soal yang mengerjakan secara sistematis dan benar. Kemudian peserta didik dengan kemampuan awal sedang tidak dapat menggunakan koneksi antar matematika dengan baik. Terlihat saat peserta didik menyelesaikan sebuah permasalahan tinggi prisma yang menggunakan koneksi sebuah unsur-unsur prisma untuk mendapatkan sebuah sisi tegak prisma. Peserta didik hanya menyelesaikan satu permasalahan saja. Hal ini sesuai pernyataan Bell yang menyatakan bahwa tidak hanya koneksi matematik yang penting namun kesadaran perlunya koneksi dalam belajar matematika juga penting, dengan koneksi matematik maka pelajaran matematika menjadi lebih bermakna. Peserta didik tidak mampu menyelesaikannya secara sistematis dan peserta didik mengalami kesulitan saat menyelesaikannya.
3. Subjek dengan Kemampuan Awal Rendah
Dalam penelitian ini diambil 2 subjek yang memiliki kemampuan awal rendah. Dari hasil tes dan wawancara menunjukkan bahwa peserta didik dengan kemampuan awal rendah tidak mampu menggunakan kemampuan koneksi matematis dengan baik. Penyebab rendahnya kemampuan koneksi matematis terjadi dalam proses pembelajaran yang belum optimal sehingga hasil yang diperoleh belum maksimal.. Hal ini sesuai dengan pendapat Wahyudin dalam Arsinah yang mengemukakan rendahnya kemampuan koneksi matematis peserta didik dapat berpengaruh pada prestasi belajar peserta didik.
Peserta didik dengan subjek kemampuan awal rendah tidak dapat memahami konsep yang sama dengan baik. Hal ini sesuai dengan hasil Lembke Reys yang mengemukakan bahwa peserta didik dalam memahami konsep-konsep matematika yang saling berkaitan hanya sedikit peserta didik yang mampu menguasai konsep tersebut. Salah satunya adalah peserta didik dengan kemampuan awal rendah yang tidak dapat mengenali dan menggunakan setiap konsep dalam matematika. Selain itu peserta didik dalam proses pengerjaan tidak menyelesaikan secara sistematis dan urut. Peserta didik memperoleh hasil akhir dengan mencontek hasil dari teman lain. Begitu pula peserta didik dalam memahami hubungan antar topik matematika tidak dapat memahaminya dengan baik. Dalam proses pengerjaan peserta didik menuliskan setiap topik dalam permasalahan namun hasil yang diperoleh belum benar, peserta didik kurang teliti dalam menghitung dan kurang percaya diri dari hasil yang dikerjakannya.
Peserta didik tidak dapat mencari hubungan berbagai representasi konsep dengan baik. Dari hasil wawancara peserta didik tidak dapat menjelaskan kembali konsep yang telah dipelajarinya secara sistematis. Hal ini sesuai dengan hasil Hodgson yang mengemukakan bahwa koneksi diantara proses-proses dan konsep-konsep dalam matematika merupakan koneksi saat peserta didik menggunakan pikirannya untuk mengoneksikan antara simbol dan penjelasan proses penyelesaiannya. Terlihat saat peserta didik menjelaskan kembali konsep, peserta didik tidak memahami hubungan setiap konsep yang saling berkaitan karena hasil akhir yang diperoleh peserta didik diperoleh dari mencontek hasil temannya begitu pun dari setiap langkah dalam hasil jawaban peserta didik tidak mengetahui dari mana asal setiap langkah tersebut.
Peserta didik dapat menggunakan koneksi antar matematika dengan baik. Terlihat saat hasil tes dan wawancara peserta didik menyelesaikan sebuah permasalahan tinggi prisma yang menggunakan konseksi sebuah unsur-unsur prisma untuk mendapatkan sebuah sisi tegak prisma. Peserta didik mampu menyelesaikannya dengan baik dan secara sistematis peserta didik tidak mengalami kesulitan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan rumusan masalah, hasil penelitian yang telah diuji keabsahannya menggunakan triangulasi waktu dan pembahasan, maka pada penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Subjek dengan kemampuan awal tinggi mampu menyelesaikan soal
dengan memenuhi 5 indikator koneksi matematis. Subjek mampu memahami konsep yang sama dengan mengoneksikan gagasan yang ada pada soal tentang apa yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal. Subjek mampu memahami hubungan antar topik matematika dengan subjek masih mengingat dengan semua topik materi yang telah dipelajari yang terkait dalam soal. Subjek mampu mencari hubungan representasi konsep dengan menjelaskan kembali konsep yang telah dipelajarinya secara lisan. Subjek mampu mengoneksikan permasalahan kehidupan sehari-hari dalam bentuk permodelan matematika seperti volume tenda dengan prisma segitiga. Subjek mampu menggunakan koneksi antar matematika dengan baik. Subjek dapat mengenali dan menggunakan hubungan antar matematika.
2. Subjek dengan kemampuan awal sedang mampu menyelesaikan soal dengan memenuhi 3 indikator kemampuan koneksi matematis diantaranya: subjek dapat memahami konsep yang sama dengan mengoneksikan gagasan yang ada pada soal tentang apa yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal. Subjek mampu mencari hubungan representasi konsep dengan menjelaskan kembali konsep yang telah dipelajarinya secara lisan. Subjek mampu mengoneksikan permasalahan kehidupan sehari-hari dalam bentuk permodelan matematika seperti volume tenda dengan prisma segitiga. Kemudian subjek tidak dapat memenuhi 2 indikator kemampuan koneksi matematis diantaranya: Subjek tidak dapat memahami hubungan antar topik matematika dengan baik. Subjek tidak mampu mengingat semua topik materi yang telah dipelajari yang terkait dalam soal dan dalam menyelesaikan soal subjek kurang teliti dalam menghitung Subjek tidak dapat menggunakan koneksi antar matematika dengan subjek tidak dapat menggunakan hubungan antar matematika.
3. Subjek dengan kemampuan awal rendah mampu menyelesaikan soal
dengan memenuhi 1 indikator kemampuan koneksi matematis yaitu subjek dapat menggunakan koneksi antar matematika dengan baik, terlihat subjek dapat menggunakan hubungan antar matematika. Kemudian subjek tidak dapat menyelesaikan soal dengan 4 indikator kemampuan koneksi matematis diantaranya: Subjek dalam memahami konsep yang sama tidak
dapat mengoneksikan gagasan yang ada pada soal tentang apa yang diketahui dan yang ditanyakan dari soal. Subjek tidak dapat memahami hubungan antar topik matematika dengan subjek tidak mampu menyelesaikan topik materi yang ada pada soal. Subjek tidak dapat mencari hubungan representasi konsep, subjek tidap dapat menjelaskan kembali konsep yang telah dipelajarinya secara lisan. Subjek tidak mampu mengoneksikan permasalahan kehidupan sehari-hari dalam bentuk permodelan matematika seperti volume tenda dengan prisma segitiga.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Sebaiknya, untuk para pendidik lebih memahami kemampuan setiap
peserta didik, terutama dalam menggunakan koneksi matematis yang berkaitan dengan materi yang telah dipelajari.
2. Peserta didik dengan kemampuan awal tinggi dan sedang dapat
menyelesaikan soal dengan benar dan dalam waktu yang cepat, berbeda dengan kemampuan awal rendah yang kurang mampu memahami dengan cepat hendaknya diberi perhatian khusus saat proses pembelajaran berlangsung, disarankan untuk peserta didik agar dapat memperhatikan saat guru menjelaskan materi.
3. Subjek dalam penelitian ini hanya terbatas pada peserta didik SMP N 5 Terbanggi Besar, maka disarankan bagi peneliti lain untuk menggeneralisasi peserta didik tingkat SMP.
DAFTAR PUSTAKA
Annas Sudijono. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011.
Ariyadi Wijaya. Pendidikan Matematika Realistik. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2012.
Departemen Agama RI. Al-Quran Tajwid dan Terjemah. Bandung: Syaamil Qur’an,
2010.
Edi Kusnadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: Ramayana Pers, 2008.
Edy Tandililing.Pengembangan Kemampuan Koneksi Matematis Peserta didik Melalui Pendekatan Advokasi dengan Penyajian Masalah Open-Ended Pada
Pembelajaran Matematika.Jurnal Pendidikan Matematika FMIPA FKIP
UNTAN. ISBN 978-97916353-9-4. Pontianak, 2013.
Fuad Ihsan. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2013.
Hadi Waspodo.Efektivitas Media Pembelajaran Vcd dan Ohp Terhadap Prestasi
Belajar Fisika Siswa Sma Negeri Purwodadi Grobogan Ditinjau Dari Kemampuan Awal Siswa. Surakarta. 2009.
Irpan Apandi Batubara. “Student-Centered Learning Versus Teacher Centered
Learning In Large Class”. English Department Faculty Of Education
University Muslim Nusantara Al Washliya, Vol.1 No.1, 2012.
Kanisius Mandur. et. al. Kontribusi Kemampuan Koneksi. Kemampuan Representasi. Dan Disposisi Matematis Terhadap Prestasi Belajar Matematika Peserta didik
Sma SwastA Di Kabupaten Manggarai. E-Journal Program Pascasarjana
Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Matematika. Vol.2 No.1, 2013.
Kartika Yulianti. Menghubungkan Ide-Ide Matematik Melalui Kegiatan Pemecahan Masalah. FPMIPA UPI. Bandung, 2005.
---. Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematik Siswa Dengan Pembelajaran
Lexy J Moleong. Metodologi Penelitian kualitatif Edisi revisi. Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2010.
Lukman Harun. Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Humanistik Berbasis Kontruktivisitik Menggunakan ICT Ditinjsu dari Kemampuan Awal Siswa.
Jurnal Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika
UMS. ISBN.978.602.361.002.0. Semarang, 2015.
Marina Putriyani, Peningkatan Keaktifan dan Prestasi Belajar Matematika Melalui
Penerapan Pendekatan Open Ended Siswa Kelas VI Sekolah Dasar, E-Jurnal
Dinas Pendidikan, Vol.6. ISSN: 2337-3253, Surabaya.
Margono. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2010.
Nonoy Intan Haety. Endang Mulyana. “Pengaruh Model Pembelajaran Matematika Knisley Terhadap Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematis Peserta didik SMA” (Penelitian Eksperimen Terhadap Peserta didik Kelas XI Di Salah Satu
SMA Di Cimahi), 2010.
Nurfitria & Bambang. Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Ditinjau Dari
Kemampuan Dasar Matematika Di SMP. Pendidikan Matematika FKIP UNTAN, 2013.
Oemar Hamalik. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2001.
Pratiwi Dwi Warih. Analisis Kemampuan Koneksi Matematis Siswa Kelas VIII pada
Materi Teorema Pythagoras. Konferensi Nasional Penelitian Matematika dan
Pembelajarannya (KNPMP). FMIPA Universitas Muhammadiyah. ISSN: 2502-6526. Surakarta, 2016.
Rendya Loggina. Sri Elniati dan Yusmet Rizal. Kemampuan Koneksi Matematis dan
Metode Pembelajaran Quantum Teaching dengan Peta Pikiran. Jurnal
PendidikanMatematika. Part 2. Vol.1 No.1, 2012.
Sendi Ramdhani. Pembelajaran Matematika Dengan Pendekatan Problem Posing
Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Koneksi Matematis Siswa. Universitas Pendidikan Indonesia, 2012.
Sri Lindawati. Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Komunikasi Matematis Peserta didik Sekolah Menengah. Jurnal Matematika Pertama. Vol.2 No.2, 2011.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2012.
Sumaryanta. Pedoman Penskoran. Indonesia Digital Journal of Mathematics and
Education. Yogyakarta. Vol.2 No.3. ISSN 24077925, 2015.
Surahsimi Arikunto. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT.Rineka Cipta,2013.
Tim Dosen IKIP. Dasar-dasar Kependidikan. Semarang: IKIP Semarang Press, 1990.
Utari Sumarmo. Berfikir dan Disposisi Matematik: Apa. Mengapa. dan Bagaimana
Dikembangkan Pada Peserta Didik. FPMIPA UPI. Bandung, Januari 2010. Vivi Shinta Suci. Eksperimen Pembelajaran Matematika Dengan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (Nht) Dan Talking
Stick Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Keaktifan. (Skripsi Program Matematika Universitas Muhammadiyah). Surakarta, 2016.
Yanto Permana. Utari Sumarmo. Mengembangkan Kemampuan Penalaran dan Koneksi Matematik Peserta didik SMA Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Balai Penataran Guru Tertulis dan Universitas Pendidikan Indonesia Educationist. Jurnal Matematika. Vol.1 No.2, Juli 2007.
Yuniawati. Pembelajaran Dengan Pendekatan Open-Ended Dalam Upaya
Peningkatan Kemampuan Koneksi Matematis Siswa. (Studi Eksperimen SMU di Bandung. Tesis Magister paada PPs UPI). Bandung, 2001.
DAFTAR NILAI ULANGAN HARIAN MATEMATIKA KELAS VIII G SEMESTER GENAP 2016/2017
No Nama KKM Nilai Keterangan
1. Ajeng Henia Putri 75 75 2. Charly Octa Villiana 75 45 3. Dea Safitri 75 85 4. Denisya Maharani 75 65 5. Devi Suprihatin 75 95 6. Devi Wulandari 75 53 7. Dhea Mevi H.P 75 55 8. Eko Budi Santoso 75 45 9. Endi Kurnia 75 67 10. Esti Prasetya 75 82
11. Ferryanto 75 54
12. Fraditya Dwi Prayoga 75 84 13. Galuh Anggraini 75 78 14. Kartika Devi 75 77 15. Lesya Bella Saputri 75 54 16. Lisa Ariyanti 75 64 17. Lista Herlina 75 53
18. Muhammad Fajri 75 43 19. Muhammad Ibrahim 75 54 20. Muhammad Maulidiansyah 75 65 21. Mutiah Wijayanti 75 67 22. Panca Gigih 75 86 23. Porwanti Puji Lestari 75 45 24. Puspita Nur Baiti 75 67 25. Putri Amilia 75 54 26. Putri Wulandari 75 56 27. Raihan Azhari 75 32 28. Septi Diah Safitri 75 93 29. Shalsa Nur Fadila 75 63 30. Tiya Lestari 75 66 31. Tri Imam munandar 75 77 32. Wendi Afriliani 75 78 33. Windi Erie Febianti 75 87
Terbanggi Besar, 15 April 2017 Guru Matematika/Wali Kelas
Sri Haritini, S,Pd
SOAL UJI COBA TES
KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS
1. Perhatikan gambar dibawah ini!
Dari gambar diatas diketahui luas alas yang berbentuk segitiga 35 cm2 serta
mempunyai volume 525 cm2. Sebutkan rusuk-rusuk tegak prisma beserta
ukurannya,berikan keterangan setiap sudutnya sesuai keinginan !
2. Hitunglah luas permukaan limas dengan alas yang berbentuk segitiga siku-siku, dengan panjang sisi siku-sikunya 6 cm dan 8 cm. Jika diketahui luas sisi tegaknya masing-masing 24 cm2, 32 cm2 dan 40 cm2.
3. Dani menuangkan air kedalam gelas yang berbentuk tabung hingga memenuhi
1/2 gelas. Berapa banyak air yang dituangkan dani. Jika diketahui jari-jari gelas dan tinggi gelas 3,5 cm dan 11 cm. ?
4. Sebuah prisma alasnya berbentuk lingkaran dengan diameter 28 cm, dan
tinggi prisma 10 cm. Hitunglah luas permukaan prisma itu!
5. Perhatikan gambar dibawah ini!
Dari gambar prisma segi empat diatas tentukan luas prisma atau L.ABCD dan volume prisma ABCD.EFGH, serta sebutkan yang menjadi rusuk-rusuk tegak prisma dan diagonal bidang alas?
6. Sebuah prisma tegak memiliki volume 432 cm3. Dengan alas yang berbentuk segitiga siku-siku 6cm dan 8 cm. Tentukan tinggi prisma tersebut !
7. Sebuah prisma alasnya berbentuk segitiga siku-siku yang alas 12 cm dan tingginya 5 cm. Serta tinggi prisma adalah 15 cm. Berapakah luas permukaan prisma?
8. Sebuah limas segi empat beraturan sisi tegaknya terdiri atas empat segitiga sama kaki yang kongruen. Salah satu luas segitiga tersebut sudah diketahui
yaitu 135 cm2. Dan tinggi segitiga dari puncak limas tersebut adalah 15 cm.
Hitunglah luas permukaan limas?
9. Perhatikan gambar dibawah ini!
Jika diketahui IJ = 6 cm dan AG = 10√3 cm. Tentukan luas permukaan prisma segi enam beraturan diatas!
10. Sebuah lapangan berbentuk persegi panjang yang mempunyai panjang 70 m dan lebar 65 m. Lapangan tersebut digenangin air setinggi 30 cm. Berapa liter air yang menggenangi lapangan tersebut ? (1liter=1 dm3)
11. Perhatikan gambar dibawah ini!
Sebuah tenda memiliki ukuran seperti pada gambar diatas. Tentukan volume tenda diatas!
Sebuah limas dimasukkan pada kubus ABCDEFGH seperti pada gambar diatas. Jika T adalah titik potong diagonal-diagonal EFGH. Dan panjang rusuk kubus 24 cm. Berapakan volume limas T.ABCD ?
13.Perhatikan gambar dibawah ini!
Sebuah bangun terdiri atas prisma dan limas. Jika semua rusuk bangun tersebut masing-masing panjangnya 8 cm. Hitunglah luas permukaan bangun tersebut!
14.Jika diketahui sebuah limas T.ABCD berbentuk persegi panjang yang memiliki rusuk 10 cm dan tinggi limas 12 cm. Hitunglah luas permukaan limas!
15.Dari gambar di bawah ini
16.Hitunglah tinggi limas dimana alas limas berbentuk persegi panjang dengan panjang 12 cm dan lebar 9 cm serta volume nya 432 cm3!
17.Sebuah limas dengan alas berbentuk persegi panjang dengan ukuran 24 cm dan 12 cm seperti gambar di bawah ini!
Dari gambar di atas jika diketahui volume limas adalah 1728 cm3. Berapakah tinggi limas tersebut ?
18.Perhatikan gambar dibawah ini!
Sebuah limas segi empat beraturan berbentuk persegi. Jika tinggi segitiga 17 cm dan tinggi limas 15 cm. Tentukan luas permukaan limas tersebut.!
19.Hitunglah luas permukaan prisma, jika diketahui alasnya berbentuk lingkaran dengan jari-jari 7 cm. Serta diketahui tinggi prisma 10 cm!
20.Diberikan sebuah limas dengan alas yang berbentuk persegi panjang sebagai gambar berikut :
JAWABAN SOAL UJI COBA TES
1. Diketahui :
- Luas segitiga 35 cm2
- Volume prisma ABCDEF 525 cm2
Ditanya : rusuk tegak prisma beserta ukurannya ? Dijawab :
Volume = luas alas x tinggi 525 cm2 = 35 cm2 x tinggi
Tinggi =
= 15 cm
Rusuk-rusuk yang diketahui AD, CF, BE ,karena rusuk tegak prisma sama panjang bisa di artikan sebagai tinggi prisma yang mempunyai tinggi 15 cm. 2. Diketahui :
- segitiga siku-siku dengan panjang 6 cm dan 8 cm - luas sisi tegak 24 cm2, 32 cm2 dan 40 cm2
Ditanya luas permukaan limas ?