• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Pada bagian ini akan di uraikan temuan-temuan yang diperoleh dari hasil analisis data penelitian. Uraian berikut ini akan menggambarkan hasil Analisis Makna Pappasang Dalam Sinrilik Bosi Timurung Di Lingkungan Masyarakat Galesong Kabupaten Takalar.Penelitian ini difokuskan pada analisis makna Pappasang dalam Sinrilik BosiTimurung di lingkungan Masyarakat Galesong Kabupaten Takalar.

Adapun hasil penelitian dan pembahasannya, sebagai berikut;

Data I Hal : 208 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Nikellaiki manakkuk rikananna tupanritaya, dinging palate, nisuroki manngukrangi ripanngajarakna Gurua, tani pabbianngaki ia takkaluppa rimatea. Pasayu ri padatari, nikana-kanai anne nia teknena anjaya, nipuli-puli panraka ri padatari, tena bedeng gauk tasitungka-tungka. Masarroki ia gauk tanigaukang masuliki ia kana ki pilanngeri pappasang lakigaukang, kella-kellataji ia masarro kipakalompo, kikaliangimi ia bori laki kajannangia.

Barang mabajiki ia makkutaknang ri Gurua, nakituntungi kananna tupanritaya, baji na passuroanga Allahu Taala.

Terjemahan: 208 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Kita diharapkan untuk merindukan nasihat-nasihat para cerdik cendekia, dingin yang sampai ke tulang, kita diminta untuk mengingat ajaran para guru ulama, kita tidak dibiarkan untuk melupakan kematian. Yang melalaikan di padang mahsyar, dikatakanlah bahwa ada kenikmatan di akhirat, akan impaslah segala kerusakan di padang mahsyar, konon tak ada perbuatan yang tak terbalaskan. Amat banyak perbuatan yang tak dilakukan, terdengar mahal perkataan, pesan yang didengar dan akan dilakukan, hanya ambisi dan harapan yang selalu diutamakan, sementara tempat kekal kita nanti kita kesampingkan.

Semoga ada baiknya kita bertanya kepada para ulama, dan kita ikuti pesan dan kata-kata para cerdik cendekia, kebaikan segala perintah Allah taala.

Makna denotatif: 208 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Kita diinginkan untuk memegang teguh pada pesan-pesan Guru dan Senantiasa mengingat mati dan hari akhirat tidak ada perbuatan yang tidak mempunyai balasan. Sehingga kita dituntut senantiasa melakukan perbuatan yang sesuai dengan pesan-pesan Guru jika keinginan yang terlalu kita kedepankan maka terkadang kita lalai dan melupakan tujuan kita sesungguhnya. Sehingga mungkin kita perlu untuk senantiasa bertanya kepada Guru dan menuntut apa yang menjadi pesan-pesan Guru, kepada jalan yang di ridhoi oleh Allah.

Makna konotatif: 208 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Kutipan tersebut merupakan data pertama dari enam Pappasang dalam Sinrilik Bosi Timurung di lingkungan Masyarakat Galesong Kabupaten Takalar, yang ditemukan. Maksud dari kutipan pappasang tersebut dapat dijelaskan,

bahwa kebaikan atau keburukan pasti akan mendapatkan balasan dari Allah, menjadi manusia adalah keharusan untuk senantiasa mengingat hari akhir agar mempersiapkan diri menghadapi kematian. Tetaplah berada di jalan yang benar sesuai dengan ajaran agama islam. Sebagai manusia sebaiknya mempunyai tujuan hidup dan keyakinan agar tetap berada pada kebaikan.

manusia sebaiknya tetap menjaga kepercayaan serta keyakinan yang menjadi petuah sejak dulu ada dilingkungan sekitar kita, serta selalu mencari apa yang harus dicari dan dijadikan bekal untuk hari akhir. Ini bertujuan agar kita tidak salah langkah dalam menjalani hidup serta dapat menyadarkan kita untuk lebih mengutamakan akhirat dari pada kehidupan sementara (duniawi).

Makna yang terkandung dalam pappasang adalah petunjuk tentang apa yang mesti, apa yang harus, apa yang boleh dikerjakan, apa yang digalakkan, dan apa yang dilarang untuk dikerjakan. Kalau kita cermati lebih lanjut pappasang ini merupakan ajaran moral yang sangat ideal mengenai bagaimana seseorang harus hidup, menjalin hubungan antara sesame manusia dan menjalin hubungan dengan pencipta- Nya, Nasruddin (Syaeba 2013:7).

Hasil pertama ini, bisa menjadi acuan untuk masyarakat terkhususnya anak muda yang ada di Desa Pa‟lalakkang Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar, yang sekarang masyarakatnya lebih mementingkan dunia dari pada akhirat. Dan semoga dengan adanya penelitian ini bisa membuat masyarakat yang ada di Desa Pa‟lalakkang Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar dapat kembali bersama-sama menjaga dan melestarikan Sinrilik Bosi timurung supaya Sinrilik ini bisa kembali dikenal banyak orang.

Data II Hal : 210 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Battupi sallang pamallokinna matea. Ala nisaremako pakrisik talomo-lomo, bussang taklalo-lalo, nakale-kalennu mamo.

Terjemahan: 210 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Bila kelak datang ajal menjemput. Maka akan diberikanlah engkau sakit tiada taranya, susah yang demikian payahnya, dan tiada seorang pun menemanimu.

Makna denotatif: 210 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Jangan terlambat menyesali perbuatan sebab jika sudah merasakan sakitnya sakratul maut maka pintu taubat sudah tutup.

Makna konotatif: 210 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Kutipan tersebut merupakan data kedua dari enam Pappasang dalam Sinrilik BosiTimurung di lingkungan Masyarakat Galesong Kabupaten Takalar, yang ditemukan. Maksud dari kutipan pappasang tersebut dapat dijelaskan bahwasanya, dalam hidup kita harus tetap berbuat baik jangan sekali-kali melakukan suatu tindakan yang melanggar ajaran agama kita yang menjadi kerugian untuk diri sendiri, cepatlah menyadari kesalahan dan meminta ampunan oleh Allah Swt, karena sesungguhnya Allah maha pengampun, jangan sampai kau tidak sempat menyesali perbuatanmu selama hidupmu dan Allah Swt telah memanggilmu.

Sebagai manusia yang hidup di dunia cuma sementara jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri, perbanyak melakukan perbuatan baik. Dan jangan sampai terlambat menyesali perbuatan, taubat lah sebelum pintu taubat di tutup.

Makna yang terkandung dalam pappasang adalah petunjuk tentang apa yang mesti, apa yang harus, apa yang boleh dikerjakan, apa yang digalakkan, dan apa yang dilarang untuk dikerjakan. Kalau kita cermati lebih lanjut pappasang ini merupakan ajaran moral yang sangat ideal mengenai bagaimana seseorang harus hidup, menjalin hubungan antara sesama manusia dan menjalin hubungan dengan pencipta- Nya, Nasruddin (dalam Syaeba, 2013:7).

Hasil kedua ini bisa menjadi peringatan bagi masyarakat khususnya yang ada di Desa Pa‟lalakkang Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar, agar cepat menyadari perbuatan yang dilarangkan oleh Allah Swt, yang bisa membawanya kejalan yang penuh banyak siksaan kelak untuk dirinya, tidak ada kata terlambat bagi mereka yang mau memperbaiki diri.

Data III Hal : 211 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Ia iannamo tau angngassengi kalenna naasseng tommi antu karaenna.

Kamappilajarakjako numallalo tamanrapik kamannuntungijako numasirik makkutaknang tanu gappami ikau agamana tumakrif billah.

Terjemahan: 211 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal pula Tuhannya.

Engkau belajar dengan sungguh-sungguh namun tapi tak mencapainya, mencari tuntunan dan senantiasa bertanya namun tak engkau capai agama makrifat billah.

Makna denotatif: 211 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Sesungguhnya orang yang mengenal dirinya maka dia juga mengenal Tuhannya, sehingga kita di tuntut untu senantiasa belajar, bertanya dan menuntut ilmu ma‟rifat yang di ridhoi Allah.

Makna Konotatif: 211 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Kutipan tersebut merupakan data ke tiga dari enam Pappasang dalam Sinrilik BosiTimurung di lingkungan Masyarakat Galesong Kabupaten Takalar, yang ditemukan. Maksud dari kutipan pappasang tersebut ialah jika kita senantiasa melaksanakan perintah dari Allah Swt maka kita akan semakin dekat olehnya sehingga kita pula diperdekat oleh surga firdausnya. Dan begitupun sebaliknya jika kita senantiasa selalu melanggar apa yang dia perintahkan maka sebaliknya pula lah kita akan dijauhkan darinya serta dijauhkan pula dari surga firdausnya, dan kita sebagai ummat nya kita juga selalu diperintahkan untuk selalu mencari ilmu kebajikan yang akan menjadi bekal untuk kita menghadap kedapanya kelak.

Sebagai manusia kita di tuntut untuk senantiasa mengingat kewajiban serta tujuan kita sebagai manusia, serta mendekatkan diri dengan pencipta, perbanyak ilmu tentang agama, serta bertanya kepada ahli agama tentang ilmu ma'rifat yang dapat memoerdekat hubungan manusia dengan pencipta.

Makna adalah apa yang diartikan atau apa yang dimaksudkan Ullman dalam buku mansoer pateda “semantik leksikal” mengatakan, “ada hubungan antara nama dan pengertian” apabila seseorang membayangkan suatu benda ia akan segera mengtakan benda tersebut. Inilah hubungan antara timbal balik dan pengertian, dan inilah makna kata tersebut.Pateda (dalam Aswan, 2018: 16).

Hasil ke tiga ini masyarakat di perintahkan untuk selalu berbuat kebaikan yang akan di jadikan bekal nantinya, janganlah sekali kali melanggar apa yang di perintahkan karena itu bisa membuat hubungan kita dengan Allah Swt akan semakin jauh.

Data IV Hal : 213 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Nisuro bayarak ngasemmi sallang sikuntu gauk kodina siagang gauk tamatappakna nampami nakana ilalang ri pakmaikna okaraeng panrakja paeng mateja paleng ri gauk tamatappakku.

Terjemahan: 213 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Akan dibalas kelak segala perbuatan buruknya juga perbuatan ingkarnya maka barulah ia katakan dalam hatinya, oh Tuhan ternyata celakalah saya mati dalam keingkaranku.

Makna denotatif: 213 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Akan ada satu waktu perbuatan yang tidak baik dengan perbuatan yang diridhoi. Kita di tuntut untuk membayarnya dan jangan sampai tibalah masa itu baru merasakan penyesalan.

Makna Konotatif: 213 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Kutipan tersebut merupakan data ke empat dari enam Pappasang dalam Sinrilik BosiTimurung di lingkungan Masyarakat Galesong Kabupaten Takalar, yang ditemukan. Maksud dari kutipan pappasang tersebut ialah akan ada suatu masa dimana kita akan di kumpulkan pada hari akhir, dan di sana pula lah semua amalan akan di hitung dan menjadi penentu apakah kita akan masuk ke surga ataupun sebaliknya kita akan di tempatkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang di siksa karena perbuatannya sendiri, dan itu semua tergantung dari diri kita

sendiri jika kalian mau masuk dalam surga maka perbanyak berbuat baik dan hindari semua perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt begitupun sebaliknya jika perbuatan burukmu lebih banyak kau akan di tempatkan dengan orang-orang yang di siksa dalam neraka. Maka dari itu marilah sama-sama kita perbanyak berbuat baik supaya kita semua bisa digambungkan dengan orang-orang yang mukmin, jangan sampai kita terlambat menyadari dan tidak sempat memohon ampun kepada Allah Swt.

Segala perbuatan yang kita lakukan baik atau pun buruk, itu semua yang menjadi penentu bagi kita di hari akhir, cepat lah menyesali kesalahan dan bertaubat lah, sebelum waktunya jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Menurut Marwati (2017:5), Sinrilik Bosi Timurung merupakan karya sastra yang lahir di tanah Makassar Sulawesi Selatan, berupa teks-teks leluhur yang syarat akan nilai-nilai kearifan. Pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya melekat erat dalam adat istiadat masyarakat Makassar dalam berperilaku.Adapun hasil data yang ditemukan oleh peneliti yang kemudian diolah dalam pembasan dengan menggunakan pendekatan Makna denotatif disebut juga dengan beberapa istilah seperti makna denotasional yang merupakan kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan.Makna denotative disebut sebagai makna referensial, konseptual, dan ideasional karena makna itu merujuk (denote) kepada suatu referen, konsep atau ide dari suatu referen.Makna denotatif adalah makna yang disampaikan secara wajar dan eksplisit, Eko (2019:25).Sedangkan Makna konotatif merupakan makna asosiatif, artinya, makna tersebuttercipta karena adanya akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan

kriteria tambahan yang dikanakan pada sebuah makna konseptual, Eko (2019:14).Makna konotatif terkadang berisikan kiasan ataupun makna yang biasa timbul setelah disusun dalam kalimat dengan nilai-nilai emosi tertentu.

Data V Hal: 214 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Cinikmi anjo tuni nanroa matuwa niaka parek bajikna namajai amalakna naniakpassidakkana. Massare-sarea ritau kamase-masea riana-anak makukanga mangamaseanga ritau kamase-masea nierang tommi nitesang nikira-kira nipanaik ritimbangang nabattalanngammo gauk bajikna.

Terjemahan: 214 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Maka lihatlah mereka dalam keadaan baik sebaik perbuatan baiknya dan banyak pula amalannya serta ada sedekahnya yang memberi pada orang miskin, anak-anak yatim dan mengasihani orang tak mampu. Dibawa juga mereka pada timbangan lalu lebih berat perbuatan baiknya.

Makna denotatif: 214 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Lihatlah orang-orang yang diberikan rahmat, yang selalu berbuat baik, yang memperbanyak amalan, serta rajin bersedekah dan selalu berbagi ke anak yatim dan yang selalu membantu sesamanya. Pada saat tibalah perhitungan amalan maka semua perbuatan baiknya yang menjadi penolong bagi dirinya.

Makna Konotatif: 214 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Kutipan tersebut merupakan data ke lima dari enam Pappasang dalam Sinrilik BosiTimurung di lingkungan Masyarakat Galesong Kabupaten Takalar, yang ditemukan. Maksud dari kutipan pappasang tersebut adalah kita sebagai ummat islam dianjurkan untuk sentantiasaberbuat baik dan sentantiasa pula membantu kesesama ummat islam, serta selalu bebrbagi kepada anak yatim yang membutuhkan bantuan. Karna sebagian harta yang kita miliki ada pula hak untuk

anak yatim, dari perbuatan baik inilah yang dapat menjadi amalan dan bekal untuk menghadapi hari akhir seupaya diberikan jalan lurus menuju kebahagian sesungguhnya di hari akhir nanti karena dengan amalan serta perbuatan baik itu yang menjadi penolong agar dijauhkan dari siksa apineraka.

Sebagai manusia sebaiknya memperhatikan contoh dari orang-orang yang di berikan rahmat, yang selalu melakukan perbuatan baik, yang selalu mengumpulkan amalan, orang orang yang selalu memberikan rezekinya ke anak yatim, mereka akan mendapatkan balasan yang begitu besar di hari akhir dan menjadi penolong bagi dirinya dari siksan hari akhir.

Fachruddin (dalam Syaeba,2013:5), mengatakan bahwa kalau kita ingkar terhadap pappasang maka akan mendapat peringatan dari yang maha kuasa yang dapat berupa kesulitan hidup, bahkan sering malah petaka. Jadi dengan demikian, pappasang adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya sebagai amanah yang harus dipatuhi dan dilaksanakan.

Data VI Hal : 218 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Aulek anak cucunna adam sombalang mabella dudu nanu sombali borik tanannulabbakki nukurang bokong nataena modalaknu. Ala nierang mako mange.

Terjemahan : 218 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Wahai anak cucu adam, pelayaran yang teramat jauhnya kau arungi, negeri yang tak pernah kau datangi lalu engkau kurang bekal dan modal. Maka dibawalah engkau ke sana.

Makna denotatif: 218 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Wahai anak cucu Adam, perjalanan panjang yang engkau lalui, negeri yang belum engkau kenal tidak membawa modal dan bekal.

Makna Konotatif: 218 pada buku Sinrilik Bosi Timurung.

Kutipan tersebut merupakan data keenam sekaligus data terakhir dari enam Pappasang dalam Sinrilik Bosi Timurung di lingkungan Masyarakat Galesong Kabupaten Takalar, yang ditemukan. Maksud dari kutipan pappasang tersebut adalah kita di anjurkan untuk selalu mencari dan menuntut apa yang seharusnya kita cari yang akan menjadi penolong bagi kita untuk menghadap kepadanya, jangan sampai kita hidup di dunia ini tanpa ilmu jangan sampai kita hidup didunia ini tanpa amalan serta perbuatan baik, sia-sialah kita hidup dinua ini tanpa memperbanyak bekal sia-sialah kita hidup hanya untuk menikmati keindahan serta bersenang-senang di dunia. Ingatlah dunia ini hanya sementara dan marilah senantiasa menuntut ilmu agar kita bisa menjadi orang-orang yang berilmu.

Sebagai keturunan dari Nabi Adam, kita di tuntut memperbanyak bekal amalan, jangan sampai sudah tiba saatnya kita di perhadapkan di hari akhir lantas tidak mempunyai bekal untuk di pertanggung jawabkan

Makna adalah apa yang diartikan atau apa yang dimaksudkan Ullman dalam buku mansoer pateda “semantik leksikal” mengatakan, “ada hubungan antara nama dan pengertian” apabila seseorang membayangkan suatu benda ia akan segera mengtakan benda tersebut. Inilah hubungan antara timbal balik dan pengertian, dan inilah makna kata tersebut.Pateda (dalam Aswan, 2018: 16).

Demikian lah pembahasan dari hasil penelitian makna Pappasang dalam Sinrilik Bosi Timurung yang ada di lingkungan masyarakat Galesong Kabupaten Takalar. Dari kutipan pertama hingga akhir,dapat disimpulkan bahwasanya dalam Sinrilik Bosi Timurungini mengandung pesan atau amanat yang menyuruh kita senantiasa untuk memperbanyak amalan dan berbuat baik dalam menjalani hidup di dunia yang hanya bersifat sementara dan dijadikan bekal untuk kita menghadap kepada Allah Swt di hari akhir nanti, serta kita juga diajak untuk cepat menyadari bahwasanya ada kehidupan yang kekal kehidupan yang penuh banyak kebahagian melampaui kebahagian yang ada di dunia. Sehingga kita dituntut untuk mengejar dan mengutamakan akhirat dari pada dunia, karena jika lebih mengutamakan akhirat maka percayalah duania akan mengikuti.

Besar harapan penulis untuk masyarakat yang ada di Desa Pa‟lalakkang Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar, agar kembali dapat melestarikan Sinrilik Ini yang menjadi budaya sejak dulu, karena keberadaan Sinrilik ini sudah memprihatinkan dan sudah banyakmasyarakat yang tidak tahu apa dan bagaimana bentuk dari sinrilik itu, padahal Sinrilik ini bisa menjadi pengingat untuk senantiasa melakukan perbuatan baik dan memperbanyak amalan, dan semoga dengan adanya penelitian ini masyarakat khusunya anak muda yang menjadi generasi penerus dapat mengumpulkan kembali semangat serta kemampuan literasinya agar sinrilik ini bisa dilestarikan dan kembali dikenal banyak orang khususnya masyarakat yang ada di Galesong Kabupaten Takalar.

Dokumen terkait