• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Tingkat Depresi

Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, tidak dapat tidur, kehilangan selera makan, hasrat seksual dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan. Depresi sering kali berhubungan dengan berbagai masalah psikologis lain, seperti serangan panik, penyalahgunaan zat, disfungsi seksual dan gangguan kepribadian (Davison et al,2006). Depresi sebagai suatu gangguan suasana hati yang dicirikan dengan tidak ada harapan dan patah hati, ketidakberdayaan yang berlebihan, tidak mampu mengambil keputusan untuk memulai suatu kegiatan, tidak mampu untuk berkonsentrasi, tidak punya semangat hidup, selalu tegang dan mencoba untuk bunuh diri (Lubis, 2009). Episode depresi biasanya berlangsung selama kurang dari 9 bulan, tetapi pada 15 - 20% penderita bisa berlangsung selama 2 tahun atau lebih.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pasien dengan tingkat depresi yang berat atau memiliki paparan yang positif memiliki kualitas hidup

yang buruk dibandingkan dengan yang memiliki kualitas hidup yang baik. Pada umumnya pasien diabetes melitus sangat rentan untuk mengalami depresi. Gangguan depresi yang dialami adalah akibat dari cara berpikir seseorang terhadap dirinya. Hal ini disebabkan karena adanya distorsi kognitif pada diri sendiri. Mereka akan mengalami isolasi sosial di masyarakat, mempunyai mobilitas yang rendah, dan memerlukan sering pengobatan klinis. Hal itu juga mengalami dampak psikologis negatif pada pasien. Pasien dengan diabetes melitus sering mengalami tingkat depresi yang lebih tinggi, takut untuk tidak puas, masa depan yang tidak ringan pada kehidupan pribadi mereka dan penyesuaian psikososial (Mazlina et al., 2011).

Tingkat depresi pada orang dengan diabetes meningkat secara signifikan dan diperkirakan akan setidaknya dua kali lipat bagi mereka dengan diabetes dibandingkan dengan mereka yang tanpa penyakit kronis. Sebuah laporan terbaru dari Survei Kesehatan Dunia memperkirakan prevalensi depresi (berdasarkan kriteria ICD-10) pada 245.404 orang dari 60 negara di seluruh dunia dengan hasil selama satu tahun dari laporan gejala depresi pada individu dengan diabetes adalah 9,3% (Lloyd et al., 2010).

Berdasarkan hasil uji statistik, diketahui bahwa tingkat depresi berisiko sebesar 1,538 kali terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2 yang buruk (CI 95% : 1,111-2,131) sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Egede and Ellis, 2010) yang meneliti mengenai

Diabetus mellitus II and depression: Global perspectives menyimpulkan bahwa penyakit diabetes mellitus II dan depresi adalah saling berhubungan secara signifikan mengenai morbiditas, mortalitas, dan biaya kesehatan. Egede et al dalam Wu et al (2007) menemukan bahwa rata-rata individu dengan DM beresiko 2 kali mengalami depresi dibandingkan dengan individu yang sehat, dan pasien DM yang mengalami depresi beresiko 4,5 kali mengeluarkan biaya lebih mahal dibandingkan dengan pasien DM yang tidak mengalami depresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang tidak mengalami depresi memiliki efikasi diri yang baik.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak memiliki depresi berat (61,5%) dari pada laki-laki (38,5%), hal ini dikarenakan proporsi jumlah sampel penelitian lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Egede dan Ellis (2010) dimana prevalensi depresi lebih banyak pasien DM tipe 2 dengan jenis kelamin perempuan (23,8%) daripada pasien laki-laki (12,8%).

Demikian pula, Sotiropoulus et al (2008) menemukan bahwa 33,4% dari kelompok orang dewasa Yunani dengan diabetes tipe 2 melaporkan gejala depresi yang tinggi. Penelitian yang dilakukan oleh Khamseh et al (2007) menunjukkan bahwa tingkat depresi yang besar ditemukan di 71,8% dari sampel 206 pasien di Iran dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2. S Ali et al (2006) menemukan bahwa prevalensi

depresi secara signifikan lebih tinggi di antara pasien dengan diabetes tipe 2 (17,6%) dibandingkan tanpa diabetes (9,8%).

Pada kondisi depresi, tubuh akan mengeluarkan hormon-hormon stress yang akan mempengaruhi peningkatan kadar gula darah. ACTH akan menstimulasi pituitary anterior untuk memproduksi glukokortikoid, terutama kortisol. Peningkatan kortisol akan mempengaruhi peningkatan kadar gula darah. Selain itu kortisol juga dapat menginhibisi pengambilan glukosa oleh sel tubuh (Smeltzer & Bare, 2012).

Depresi sendiri prevalensinya dua kali lipat lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan pada laki-laki (Culbertson and Frances, 1997). Penyebabnya antara lain dapat dibagi dari penyebab biologis dan psikososial yang membedakan antara laki-laki dan perempuan.

Secara biologis menjelang menopause, dan saat menopause pada perempuan memegang peranan penting mengapa perempuan lebih rentan terhadap depresi dibanding laki-laki (Hoeksema and Nolen, 2001). Selain itu, untuk jenis pekerjaan yang paling banyak memiliki tingkat depresi berat adalah pekerjan sebagai ibu rumah tangga (61,5%), hal ini terjadi karena rendahnya aktivitas fisik dan kegiatan yang mereka lakukan. Tingginya angka depresi pada ibu rumah tangga kemungkinan disebabkan karena banyaknya tanggung jawab serta tuntutan, ditambah lagi pekerjaan yang cenderung monoton dan tidak ada batasan jam kerja.

Hasil penelitian juga menunjukkan responden dengan usia lebih dari 65 tahun paling banyak mengalami tingkat depresi berat (46,2%).

hal ini sejalan dengan penelitian Vamos et al (2009) yang menyatakan bahwa depresi pada pasien DM paling tinggi terjadi pada orang lanjut usia. Pasien lanjut usia pada umumnya merasa terisolasi, kekhawatiran akan penghidupan masa depan yang tidak menentu serta penurunan kesehatan tubuh dan disabilitas karena usia tua (Rihmer et al., 2009).

Pasien lanjut usia dengan DM seringkali harus menghadapi berbagai macam masalah kesehatan serta berbagai jadwal pemeriksaan kesehatan yang kompleks secara terus-menerus dan dapat menurunkan motivasi pasien dalam berobat dan menurunkan energi pasien dalam usaha perawatan dirinya.

Berdasarkan domain kualitas hidup, depresi yang berat pada responden memiliki kualitas hidup yang buruk pada domain lingkungan sebesar (32,3%). Domain lingkungan terdiri dari rasa aman dan pemenuhan kebutuhan hidup yang dialami oleh responden, sarana dan informasi tentang DM tipe 2 dan kepuasan terhadap pelayanan serta transportasi. Hal ini menunjukkan bahwa depresi yang berat mempengaruhi aktivitas fisik yang dilakukan oleh responden selama menderita DM tipe 2.

2. Tingkat Kecemasan

Kecemasan merupakan kondisi perasaan yang tidak menyenangkan yang merujuk pada rasa khawatir, takut, was-was, yang ditimbulkan oleh pengaruh ancaman atau gangguan terhadap sesuatu yang belum terjadi dan sangat, mengganggu aktivitas. Kecemasan merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir disertai dengan gejala somatik yang menandakan suatu kegiatan berlebihan dari susunan saraf autonom (SSA). Kecemasan merupakan perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan dan sering disertai gejala fisiologis. Kecemasan merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang sering merupakan satu fungsi emosi disertai dengan rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besar.

Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah (Hutagalung, 2007).

Kecemasan (ansietas) adalah gangguan alami perasaan (affective) yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak pasien DM Tipe 2 dengan tingkat kecemasan yang berat (papparan positif) yang memiliki kualitas hidup buruk yaitu sebesar 56,8%. Sedangkan pada pasien DM Tipe 2 dengan tingkat kecemasan rendah (paparan negatif), lebih banyak memiliki kualitas hidup baik yaitu sebesar 72,4%. Berdasarkan hasil uji statistik, diketahui

bahwa tingkat kecemasan berisiko sebesar 1,595 kali terhadap kualitas hidup pasien DM TIpe 2 yang buruk (CI 95% : 1,092-2,329).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Roupa et al (2009) menunjukkan bahwa kecemasan berisiko sebesar 5,981 kali dialami oleh pasien DM tipe 2. Sejalan dengan itu hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Palizgr et al (2013) menunjukkan bahwa kecemasan berisiko dialami oleh pasien DM tipe 2 sebesar 2,774 kali.

Kecemasan apabila tidak ditangani secara baik maka akan menimbulkan masalah tersendiri yang akan semakin menyulitkan dalam pengelolaan penyakit DM. Secara sosial penderita DM akan mengalami beberapa hambatan utamanya berkaitan dengan pembatasan dalam diet yang ketat dan keterbatasan aktifitas karena komplikasi yang muncul.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Donald et al (2013) dimana kecemasan secara signifikan berhubungan dengan kualitas hidup pasien DM. Beberapa penelitian menunjukan pevalensi kecemasan pada pasien DM terjadi sekitar 67% (Nikibakht et al., 2009). Secara sosial penderita DM akan mengalami beberapa hambatan terutama berkaitan dengan pembatasan dalam diet yang ketat dan keterbatasan aktifitas karena komplikasi yang muncul.

Kondisi tersebut berlangsung kronis dan bahkan sepanjang hidup pasien, dan hal ini akan menurunkan kualitas hidup pasien (Rahmat, 2010). Dari penelitian yang dilakukan oleh (Collins, et al 2008) juga

menunjukkan bahwa manajemen kecemasan pada penderita Diabetes yang dilakukan dengan baik, yang salah satunya dengan konseling akan meningkatkan keberhasilan dalam mengontrol kadar gula darah, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Fisher et al, 2008) mendapatkan bahwa pasien diabetes mengalami gangguan tingkat afektif dan kecemasan yang tinggi dari waktu ke waktu dimana hal ini tergantung dari komunitas pasien tersebut.

Penyebab gangguan kecemasan kurang jelas. Gejala muncul biasanya disebabkan interaksi dari aspek-aspek biopsikososial termasuk genetik dengan beberapa situasi, stres atau trauma yang merupakan stresor munculnya gejala ini. Penyakit kronis, Diabetes Melitus misalnya, merupakan salah satu pemicu terjadinya kecemasan.

Sistem saraf pusat memegang peranan penting dalan kejadian gejala ini. Sistem saraf pusat memproduksi beberapa mediator utama dari gejala ini yaitu: norepinephrine dan serotonin (Ashadi, 2010).

Responden perempuan lebih banyak yang memiliki tingkat kecemasan berat (72,7%) dibandingkan laki-laki (27,3%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Roupa et al (2009) dimana persentase kecemasan pada perempuan lebih tinggi yaitu 62%

dibandingkan laki-laki sebesar 21,5%. Berdasarkan kelompok usia 55 hingga 65 tahun, kelompok usia ini yang paling banyak mengalami kecemasan berat yakni sebesar 36,4%. Menurut Kaplan dan Sadock dalam Rihmer et al (2009) gangguan kecemasan dapat terjadi pada

semua usia, lebih sering pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita dimana angka prevalensi kecemasan ditemukan berkisar antara 11% sampai 80% di kalangan pasien dewasa.

Secara normal seiring bertambah usia seseorang terjadi perubahan baik fisik, psikologis bahkan intelektual. Penambahan usia terutama pada usia lanjut akan mengakibatkan perubahan anatomis, fisiologis dan biokimiawi. Hal ini akan menyebabkan kerentanan terhadap suatu penyakit serta bisa menimbulkan kegagalan dalam mempertahankan homeostasis terhadap suatu stress. Kegagalan mempertahankan homeostasis ini, akan menurunkan ketahanan tubuh untuk hidup dan meningkatkan kemudahan munculnya gangguan pada diri individu tersebut.

Hasil penelitian ini tingkat kecemasan juga memberikan efek yang buruk terhadap kesehatan dan efek yang buruk pula terhadap kualitas hidup pada domain sosial sebesar 69,4% sehingga dirasa perlu dilakukan deteksi sedini mungkin dengan melakukan skrining pada masyarakat, khususnya pada pasien DM Tipe 2 Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dan pasien DM Tipe 2 yang mengalami kecemasan, dapat diberikan mekanisme koping yang sesuai maupun pengobatan yang tepat sehingga dapat terhindar dari risiko penyakit DM TIpe 2 serta dapat mempertahankan kualitas hidup pasien. Respons psikologis yang buruk terutama kecemasan pada pasien DM tipe 2 akan memberikan pengaruh yang buruk pada kemampuannya dalam melakukan

hubungan personal dan sosial yang baik, kehidupan seksual yang akan menurun serta akan membuat pasien merasa dukungan dari lingkungan yang menurun.

3. Komplikasi

Diabetes dihubungkan dengan rentang komplikasi yang serius dengan hasil penurunan kualitas hidup. Komplikasi diabetes bisa terjadi dalam kategori komplikasi metabolisme akut. Komplikasi ini terjadi akibat perubahan yang relatif akut dari kadar glukosa plasma. Hal ini akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi individu yang bersangkutan. Kategori lainnya adalah komplikasi vaskuler jangka panjang baik mikrovaskuler maupun makrovaskuler tentunya akan merusak fungsi bagian tubuh yang terkena. Penyakit-penyakit seperti infark miokardium, angina pektoris, neuropati, nefropati, katarak, hipertensi merupakan beberapa contoh penyakit yang dapat muncul pada pasien DM tipe 2 sebagai akibat gangguan pada vaskuler tersebut.

(IDF, 2005)

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa penyakit DM tipe 2 dapat meningkatkan risiko pasien untuk mengalami ketidakmampuan baik secara fisik,. psikologis dan sosial yang diakibatkan komplikasi DM tipe 2 yang dialami. Keluhan yang menyertai DM tipe 2 terutama hipertensi, neuropati seperti rasa kesemutan, nyeri, rasa panas pada telapak kaki, rasa kebas pada kaki paling sering dirasakan oleh responden (Yusra, 2010).

Gejala yang dirasakan dan komplikasi yang dialami mengakibatkan keterbatasan baik dari segi fisik, psikologis bahkan sosial. Gangguan fungsi dan perubahan tersebut akan berdampak terhadap kualitas hidup pasien DM tipe 2 (Anas et al., 2008). Komplikasi seperti halnya hipoglikemia merupakan keadaan gawat darurat yang dapat terjadi pada perjalanan penyakit DM. Penelitian yang dilakukan oleh (Isa and Baiyewu, 2006) menyimpulkan bahwa pada umumnya pasien DM tipe 2 menunjukan kualitas hidup yang cukup baik berdasarkan kuesioner WHO tentang kualitas hidup.

Komplikasi diabetes bisa terjadi dalam kategori komplikasi metabolisme akut. Komplikasi ini terjadi akibat perubahan yang relatif akut dari kadar glukosa plasma. Hal ini akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi individu yang bersangkutan. Kategori lainnya adalah komplikasi vaskuler jangka panjang baik mikrovaskuler maupun makrovaskuler tentunya akan merusak fungsi bagian tubuh yang terkena. Penyakit-penyakit seperti infark miokardium, angina pektoris, neuropati, nefropati, katarak, hipertensi merupakan beberapa contoh penyakit yang dapat muncul pada pasien DM tipe 2 sebagai akibat gangguan pada vaskuler tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak pasien DM Tipe 2 dengan komplikasi (paparan positif) terhadap memiliki kualitas hidup buruk yaitu sebesar 84,1%. Berdasarkan hasil uji statistik, diketahui bahwa tingkat kecemasan berisiko sebesar 1,254 kali terhadap kualitas

hidup pasien DM Tipe 2 yang buruk namun tidak signifikan sebab nilai dari interval kepercayaan mencakup nilai 1 (CI 95% : 0,717-2,195).

Komplikasi yang paling banyak diderita oleh responden pada penelitian ini adalah hipertensi sebesar 46,7%.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komlikasi tidak berhubungan secara statistik dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2, hali ini dilihat dari persentasi antara pasien yang memiliki komplikasi memiliki kualitas hidup yang buruk hampir sama dengan yang memiliki komplikasi dan memiliki kualitas hidup baik. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Chyun et al., 2006) menyatakan bahwa faktor komplikasi yang dialami oleh pasien DM Tipe 2, merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas hidup, begitupula dengan penelitian yang dilakukan oleh (Isa and Baiyewu, 2006) yang menyatakan ada hubungan bermakna antara komplikasi DM seperti hipertensi, katarak, gangren, gangguan seksual merupakan faktor risiko untuk terjadinya penurunan nilai kualitas hidup pasien DM Tipe 2.

Status gula darah responden menunjukkan bahwa pasien DM tipe 2 yang memiliki komplikasi dengan gula darah tidak terkontrol lebih besar yaitu 82,6% (38 orang) dibandingkan dengan yang tidak memiliki komplikasi sebesar 77,8% (21 orang). Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai komplikasi kerusakan organ seperti ginjal, mata, saraf, jantung, dan peningkatan risiko penyakit

kardiovaskular sehingga mempengaruhi kualitas hidup. Sebagian besar pasien DM tipe 2 tidak mengetahui bila menderita DM tipe 2 karena tidak pernah melakukan kontrol gula darah. Mereka baru mengetahui menderita DM tipe 2, saat memeriksakan dirinya ke tempat pelayanan kesehatan karena adanya keluhan penyakit lain yang sebenarnya merupakan komplikasi dari penyakit DM tipe 2.

Seseorang yang didiagnosis menderita diabetes melitus harus merubah seluruh gaya hidupnya guna menghindari terjadinya komplikasi yang tidak diinginkan atau penyakit yang lebih parah.

Penanganan diabetes melitus sangat memerlukan motivasi dan ketekunan dari penderitanya. Apabila penderita sedikit saja lalai dalam mengontrol kadar gulanya, enggan berolah raga secara teratur, dan menjalani pola makan yang tidak sesuai, maka akan menyebabkan munculnya komplikasi yang tidak diinginkan.

4. Dukungan Keluarga

Menurut Taylor dalam Yusra (2010) dukungan keluarga diartikan sebagai bantuan yang diberikan oleh anggota keluarga yang lain sehingga akan memberikan kenyamana fisim dan psikologis pada orang yang diharapkan pada situasi stres. Dukungan sosial keluarga adalah proses yang terjadi selama masa hidup dengan sifat dan tipe dukungan sosial bervariasi pada masing-masing tahap siklus kehidupan keluarga.

Menurut Sacco & Yanover (2006), dukungan keluarga yang memadai akan meningkatkan kesehatan fisik penderita diabetes dengan menurunkan gejala depresi. Dukungan keluarga dapta meningkatkan kesehatan fisik terutama terkait dengan kontrol gula darah yang lebih baik dan meningkatkan kepatuhan dalam perawatan diri pasien diabetes. Hal ini menurunkan resiko komplikasi pada penderita dan meningkatkan kualitas hidupnya (Tang et al,2008).

Sesuai dengan sebuah hasil studi oleh Huang et al (2001) yang menemukan bahwa peningkatan intervensi dukungan keluarga akan meningkatkan metabolisme glukosa dan mengurangi depresi pada penderita diabetes.

Pengaruh dukungan keluarga pada kesehatan fisik ini akan memediasi melalui faktor psikologis yaitu penurunan depresi pada penderita diabetes. Selain itu dukungan keluarga diketahui dapat meningkatkan kemampuan adaptif dari kognisif termasuk meningaktkan optimisme penderita diabetes, mengurangi kesepian dan meningkatkan kemampuan diri yang akhirnya terjadi peningkatan kualitas hidup (Soutwick et al, 2005).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih banyak pasien DM Tipe 2 dengan dukungan keluarga yang baik (paparan negatif) memiliki kualitas hidup yang baik pula yaitu sebesar 72,4% dibandingkan dengan pasien DM Tipe 2 dengan dukungan keluarga yang buruk (paparan positif) yang juga memiliki kualitas hidup yang buruk pula yaitu

sebesar 61,4%. Berdasarkan hasil uji statistik, diketahui bahwa dukungan keluarga yang baik memiliki kontribusi sebesar 1,724 kali terhadap kualitas hidup pasien DM TIpe 2 yang baik (CI 95% : 1,160-2,564).

Hasil penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh (Herdianti, 2013) dimana dukungan keluarga baik dimensi emosional, penghargaan, instrumental dan informasi memiliki kontribusi sebesar 5, 143 kali terhadap kualitas hidup yang baik. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Yusra, 2010) yang menyatakan bahwa dukungan keluarga berhubungan secara signifikan terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2 (p=0,001).

Lebih lanjut (Allen, 2006) menjelaskan bahwa dukungan keluarga berupa kehangatan, keramahan, dukungan emosional terkait monitoring glukosa, diet dan latihan dapat meningkatkan efikasi diri pasien sehingga mendukung keberhasilan dalam perawatan diri sendiri. Dari perawatan diri yang baik akan menciptakan kualitas hidup yang baik pula. (Mills, 2008) menyatakan ada bebrapa hal penting yang dapat dilakukan untuk mendukung anggota keluarga yang menderita DM Tipe 2 yaitu dengan meningkatkan kesadaran dirinya untuk mengenali penyakit DM Tipe 2, bahwa penyakit tersebut dapat dikontrol sehingga pasien memiliki kesadaran yang tinggi untuk mengelolah penyakitnya.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa responden dengan dukungan keluarga yang baik memiliki tingkat depresi yang ringan sebesar 92,1%. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh tingkat kecemasan. Respondeden dengan dukungan keluarga yang baik memiliki tingkat kecemasan yang ringan sebesar 63,2%.

Rasa nyaman yang timbul pada diri pasien DM tipe 2 akan muncul karena adanya dukungan baik emosional, penghargaan, instrumental dan informasi dari keluarga. Kondisi ini akan mencegah munculnya stress pada pasien DM tipe 2. Dapat dipahami jika pasien DM tipe 2 mengalami stres, tentunya ini akan berpengaruh kepada fungsi tubuh.

Terjadinya peningkatan kortisol akibat stres akan mempengaruhi peningkatan glukosa darah melalui glukoneogenesis, katabolisme protein dan lemak. Selain itu kortisol juga dapat menghalangi pengambilan glukosa oleh sel tubuh, sehingga dapat mempengaruhi kadar glukosa darah. Selanjutnya kortisol juga akan berdampak terhadap penurunan daya tahan tubuh pasien DM tipe 2, sehingga akan mudah untuk mengalami permasalahan kesehatan.

Dampak yang terjadi baik fisik maupun psikologis tentunya akan berlanjut terhadap penurunkan kualitas hidup pasien DM tipe 2, Selain itu tinggal bersama dengan anggota keluarga yang sakit dan memberikan bantuan, menyediakan waktu, mendorong untuk terus belajar dan mencari tambahan pengetahuan tentang DM merupakan

bentuk-bentuk kegiatan yang bisa dilakukan keluarga dalam rangka memberi dukungan pada anggota keluarga yang sakit

Kualitas hidup adalah kapasitas fungsional, psikologis dan kesehatan sosial serta kesejahteraan individu. Kualitas hidup mempengaruhi kesehatan fisik, kondisi psikologis, tingkat ketergantungan, hubungan sosial dan hubungan pasien dengan lingkungan sekitarnya (Isa and Baiyewu, 2006). Meningkatnya dukungan keluarga dan terhindar dari berbagai komplikasi tentunya akan lebih meningkatkan status kesehatan pasien DM Tipe 2 sehingga komponen kualitas hidup tentunya juga akan terpelihara dengan baik.

Penelitian ini diketahui bahwa dimensi emosional yang diberikan keluarga antara lain keluarga mengerti dengan masalah yang dialami oleh responden, mendengarkan keluhan responden tentang penyakit yang dirasakan, serta memberikan kenyamanan kepada responden dalam mengatasi masalahnya. Sedangkan dimensi penghargaan yang diperoleh responden antara lain dorongan dari keluarga untuk mengontrol gula darah, mematuhi diet, pengobatan serta kontrol kesehatan. Dimensi instrumental yang diperoleh responden antara lain keluarga membantu mengingatkan dan menyediakan makanan sesuai diet, mendukung usaha responden untuk olah raga, mendukung usaha perawatan DM tipe 2 serta membantu membayar pengobatan.

Selanjutnya dimensi informasi yang diperoleh responden antara lain menyarankan responden untuk ke dokter, menyarankan mengikuti

edukasi serta memberikan informasi baru kepada responden tentang diabetes.

Hasil analisis dimensi dukungan keluarga dan kualitas hidup menunjukkan bahwa dimensi penghargaan secara signifikan berhubungan dengan kualitas hidup dengan nilai RR = 2,456.

Dukungan keluarga berupa dorongan dari keluarga untuk mengontrol gula darah, mematuhi diet, pengobatan serta kontrol kesehatan ini merupakan dukungan yang harus di lakukan dengan baik sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien DM tipe 2.

5. Lama Menderita DM

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien DM Tipe 2 dengan risiko tinggi lama menderita DM (paparan positif) yang memiliki kualitas hidup buruk yaitu sebesar 52,3%, sedangkan pasien yang berisiko rendah (paparan negatif) yang dengan kualitas hidup buruk sebesar 47,7%. Berdasarkan hasil uji statistik, diketahui bahwa lama menderita DM berisiko sebesar 1,009 kali terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2 yang buruk namun tidak signifikan sebab nilai dari interval kepercayaan mencakup nilai 1 (CI 95% : 0,695-1,465).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama menderita DM pada pasien adalah selama 7,07 tahun dengan nilai minimum menderita DM adalah selama 1 tahun dan maksimum selama 30 tahun.

Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Taloyan et al., 2013) dimana durasi atau lama menderita DM secara statistik tidak

signifikan dengan kualitas hidup pasien (p=0,22). Namun penelitian lain yang dilakukan oleh (Javanbakht et al., 2012) menyatakan bahwa lama menderita DM berhubungan dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 dan (Islam et al., 2013) mengemukakan bahwa durasi DM erat kaitannya dengan tingkat stres pada pasien DM.

Selain itu dinyatakan pula oleh (Isa and Baiyewu, 2006) bahwa lama DM tidak berhubungan dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2.

Ditambahkan lagi oleh (Mier et al., 2008) pada penelitiannya tentang kualitas hidup, bahwa lama DM tidak menentukan kondisi kualitas hidup pasien DM Tipe 2. Hasil penelitian ini secara statistik tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara DM dengan kualitas hidup walaupoun memiliki risiko sebesar 1,151 kali.

Beberapa hal yang dapat disimpulkan bahwa lama mengalami DM tipe 2 seringkali kurang menggambarkan proses penyakit yang sebenarnya. Hal ini dikarenakan pasien yang baru mengetahui terdiagnosis DM Tipe 2 oleh tenaga medis pada saat telah mengalami komplikasi, artinya bahwa proses perjalanan penyakit sudah terjadi selama bertahun-tahun sebelumnya namun belum terdiagnosis.

Selain hal tersebut walaupun lama menderita DM masih dalam jangka waktu yang singkat, namun jika disertai komplikasi baik dalam jangka panjang maupun jangka pndek, maka akan berdampak pada penurunan kualitas hidup, hal ini terlihat dari hasil penelitian, meskipun masih dalam kategori lama menderita risiko rendah (≤ 5 tahun) namun

banyak responden yang telah memiliki komplikasi sebesar 44,1%.

Perbedaan persentase ini tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan yang telah menderita DM tipe 2 lebih dari 5 tahun (risiko tinggi) sebesar 55,9%). Sebaliknya durasi DM yang panjang disertai dengan kepatuhan dan terhindar dari komplikasi tentunya akan membuat pasien memiliki kualitas hidup yang baik dan terpelihara. Hal ini berdasarkan temuan peneliti terhadap responden yang menderita DM Tipe 2 dalam jangka waktu yang masih pendek namun telah mengalami komplikasi.

6. Analisis Multivariat.

Hasil analisis multivariat dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara beberapa variabel penelitian (dukungan keluarga dan tingkat kecemasan) dengan kualitas hidup pasien DM tipe 2. Dari analisis ini diperoleh bahwa yang paling besar pengaruhnya dari semua faktor risiko yang diteliti adalah dukungan keluarga (p=0.013) dan hasil probabilitas dukungan keluarga dan tingkat kecemasan terhadap kualitas hidup sebesar 14%.

Adanya dukungan keluarga sangat membantu pasien DM Tipe 2 untuk dapat meningkatkan keyakinan akan kemampuannya melakukan tindakan perawatan diri. Pasien DM Tipe 2 yang berada dalam lingkungan keluarga dan diperhatikan oleh anggota keluarganya akan dapat menimbulkan perasaan nyaman dan aman sehingga akan

tumbuh rasa perhatian terhadap diri sendiri dan meningkatkan motivasi untuk melaksanakan perawatan diri.

Dukungan yang diberikan oleh keluarga dalam penelitian ini berupa pendampingan saat kontrol gula darah di rumah sakit, pengaturan diet dan aktiitas fisik serta dukungan untuk tetap dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Dukungan tersebut akan mencegah munculnya respon psikologis yang buruk pada pasien DM tipe 2. Dukungan keluarga yang baik akan mereduksi respons psikologis yang buruk pada pasien DM tipe 2, dengan penghargaan, empati dan dorongan untuk tetap dapat merasakan hidup yang positif walaupun telah menderita penyakit akan meningkatkan kualitas hidup pasien DM tipe 2.

Dalam penelitian ini dukungan keluarga pada dimensi penghargaan berupa dorongan dari keluarga untuk mengontrol gula darah, mematuhi diet, pengobatan serta kontrol kesehatan merupakan yang paling signifikan untuk meningkatkan kualitas hidup, dengan dukungan terutama pada dukungan dalam mengatur pola makan akan meningkatkan kepatuhan dan efikasi diri pasien DM tipe 2 dalam menjalankan pengobatan dan perawatan diri serta keteraturan dalam menerapkan pola hidup yang lebih sehat agar gula darah dapat tetap terkontrol dengan baik.

Dokumen terkait