• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALYSIS OF QUALITY OF LIFE OF PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS IN LABUANG BAJI LOCAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALYSIS OF QUALITY OF LIFE OF PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS IN LABUANG BAJI LOCAL"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

ANALYSIS OF QUALITY OF LIFE OF PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS IN LABUANG BAJI LOCAL

GENERAL HOSPITAL AND IBNU SINA HOSPITAL MAKASSAR 2015

MUHAMMAD AKBAR SALCHA

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2015

(2)

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Magister

Program Studi Kesehatan Masyarakat

Disusun dan diajukan oleh

MUHAMMAD AKBAR SALCHA

kepada

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2015

(3)
(4)

iv

Nama : MUHAMMAD AKBAR SALCHA

NIM : P1804213502

Program Studi : Kesehatan Masyarakat

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan menjiplak hasil karya orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Makassar, 19 Agustus 2015 Yang membuat pernyataan,

MUHAMMAD AKBAR SALCHA

(5)

v

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu Alaikum Wr.Wb

Tiada kata yang paling indah untuk penulis haturkan segala puja dan puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Pencipta semesta alam atas segala limpahan berkat, rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Analisis Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015”. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kesehatan Masyarakat di Universitas Hasanuddin.

Salawat dan salam tak lupa penulis haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat beliau yang telah memberikan pondasi keimanan serta tauladan pada para umat manusia.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tesis ini masih jauh dari kesempurnaan dan terdapat banyak kekurangan, meskipun penulis telah berusaha semampunya untuk menyempurnakan penulisan. Tidak sedikit hambatan dan tantangan yang penulis hadapi dalam menyelesaikan tesis ini namun berkat ketabahan, kesabaran, dan dukungan dari berbagai pihak, akhirnya tesis ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis yakni

(6)

vi

mengasuh, mendidik dengan curahan kasih sayangnya, atas doa-doa yang tiada pernah berhenti dipanjatkan dengan ketulusan hati dan dengan kebesaran jiwanya memberi dukungan bagi penulis baik moril maupun materil. Serta kepada kakak dan adikku tersayang, Istikamah Charsal S.E dan Muhammad Ainullah Salcha Amd.Rad yang selalu menjadi sumber motivasi penulis untuk terus melangkah ke depan agar lebih baik lagi.

Selain itu, juga penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih yang sedalam-dalamnya dan dengan kerendahan hati serta penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada :

Ibu Dr. Ida Leida Maria, SKM, MKM, M.Sc.PH., selaku Ketua Komisi Penasihat dan Ibu Dr. Nurhaedar Jafar, Apt, M.Kes selaku sekretaris Komisi Penasihat yang dengan tulus dan ikhlas meluangkan waktunya dalam memberikan bimbingan, arahan, motivasi, masukan dan dukungan moril sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

1. Bapak Prof. Dr. drg. A. Zulkifli Abdullah, M.Kes, Bapak Prof. Dr. drg.

A. Arsunan Arsin, M.Kes dan Ibu Dr. Suriah, SKM, M. Kes selaku penguji yang telah banyak memberikan masukan dan arahan kepada penulis.

2. Bapak Dr. Syamsul Bachri, S.H., MS selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

(7)

vii

ilmu bermanfaat selama penulis menempuh pendidikan;

4. Bapak Dr. Ridwan M. Thaha, MSc selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin;

5. Kepada nenek tercinta Andi Kambesse Opu Dg Tarima, Kakek Tercinta Abdul Rahman Raden dan Tante yang paling cantik Andi Nikma S.E atas segala doa dan bantuannya selama menjalani proses perkuliahan hingga tersusunnya tesis sampai selesai.

6. Kepada Tante Rahayu Djalle dan Paman Asri atas bantuan baik materi maupun moril kepada penilis selama proses perkuliahan.

7. Kepada yang terkasih Arni juliani yang selalu mendampingi, memberi motivasi, dan bantuan kepada penulis untuk bersama-sama menyelesaikan tugas akhir ini;

8. Sahabat-sahabat epidemiologi angkatan 2013 Konsentrasi Epidemiologi Magister Kesehatan Masyarakat PPS Unhas atas segala kebersamaan, kekompakan, dukungan, serta motivasi yang diberikan selama perkuliahan hingga dalam penulisan tesis ini;

9. Sahabat-sahabat non regular pascasarjana promosi kesehatan 2013, dan teman-teman seperjuangan dari FKM UMI 2007;

(8)

viii

11. Serta semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan namanya satu per satu, atas segala dukungan dan bantuannya dalam proses penyusunan tesis ini.

Penulis sangat menyadari dengan segala keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki, tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, besar harapan dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan tesis ini.

Akhir kata, penulis memohon maaf sebesar-besarnya atas segala kekurangan dan kekhilafan. Semoga segala bentuk bantuan yang diberikan kepada penulis mendapat balasan yang terbaik dari-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.

Makassar, 18 Agustus 2015

MUHAMMAD AKBAR SALCHA

(9)

Melitus Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015 (Dibimbing oleh Ida Leida M dan Nurhaedar Jafar).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berisiko terhadap kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2 yaitu tingkat depresi, tingkat kecemasan, komplikasi, dukungan keluarga dan lama menderita DM.

Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar. Desain penelitian yang digunakan yaitu kohor retrospektif dengan jumlah sampel sebanyak 73 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan, yaitu consectutive sampling.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang secara signifikan berisiko terhadap kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2 yaitu tingkat depresi (RR = 1,538 ;CI 95% : 1,111-2,131), tingkat kecemasan (RR = 1,595 ;CI 95% : 1,092-2,329) dan dukungan keluarga (RR = 1,724;CI : 1,160-2,564). Sedangkan faktor risiko yang tidak signifikan yaitu komplikasi (RR = 1,254 ;CI 95% : 0,717-2,195) dan lama menderita DM (RR

= 1,009; CI 95%:0,695-1,465). Analisis regresi logistik menunjukkan menunjukkan bahwa dukungan keluarga sebagai faktor yang paling berisiko terhadap kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan RR 3,764 (CI 95%; 1,321-10,724).

Kata Kunci: Diabetes mellitus tipe 2, kualitas hidup, WHOQoL BREF, dukungan keluarga

(10)

Ibnu Sina Hospital Makassar 2015 (Supervised by Ida Leida M and Nurhaedar Jafar).

The purpose of this research was to determine the risk factors on the quality of life of patients with diabetes mellitus type 2 such as level of depression, level of anxiety, complications, family support and duration of DM disease.

This research was carried out in Labuang Baji General Hospital and Ibnu Sina Hospital of Makassar. The design of this research is a retrospective cohort with a total sample of 73 people. Sampling technique were used, namely consectutive sampling.

The results showed that significant risk factors on the quality of life of patients with diabetes mellitus type 2 is the level of depression (RR = 1,538 ;CI 95% : 1,111-2,131), the level of anxiety (RR = 1,595 ;CI 95% : 1,092-2,329) and family support (RR = 1,724;CI : 1,160-2,564). Meanwhile the insignificant risking factors were complications (RR = 1,254 ;CI 95%

: 0,717- 2,195) and duration of diabetes mellitus disease (RR = 1,009;

CI 95%: 0,695-1,465). The logistic regression analysis showed that the family support as the most risking factor on the quality of life of patients with type 2 diabetes mellitus with RR 3,764 (CI 95%; 1,321-10,724).

Keywords: type 2 diabetes mellitus, quality of life, WHO QoL BREF, family support

(11)

xi

HALAMAN JUDUL………i

HALAMAN PENGESAHAN……….ii

PRAKATA ………...v

ABSTRAK………..ix

ABSTRACT………x

DAFTAR ISI………. xi

DAFTAR TABEL ………xii

DAFTAR GAMBAR ………...xv

DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN ………..xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Diabetes Melitus ... 12

B. Tinjauan Umum Tentang Kualitas Hidup... 28

C. Tinjauan Umum Tentang Faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 ... 31

D. Kerangka Teori... 51

E. Kerangka Konsep... 54

(12)

xii

A. Jenis dan Desain Penelitian ... 59

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 60

C. Populasi dan Sampel ... 61

D. Teknik Pengumpulan Data ... 64

E. Pengolahan Data ... 65

F. Analisis Data ... 66

G. Kontrol Kualitas ... 68

H. Aspek Etik Penelitian... 70

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian... 71

B. Pembahasan ... 87

C. Keterbatasan Penelitian ... 108

BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan ... 109

B. Saran... 110 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(13)

xiii

2 Klasifikasi Diabetes Menurut Perkeni 23

3 Sintesa Hasil Penelitian Terkait Depresi Terhadap Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2

33

4 Sintesa Hasil Penelitian Terkait Kecemasan Terhadap Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2

36

5 Sintesa Hasil Penelitian Terkait Komplikasi Terhadap Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2

38

6 Sintesa Hasil Penelitian Terkait Dukungan Keluarga Terhadap Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2

48

7 Sintesa Hasil Penelitian Terkait Lama Menderita Terhadap Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2

50

8 Distribusi Karakteristik Responden Pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar

72

9

10

11

12

Distribusi Responden Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Variabel Penelitian di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015 Distribusi Dimensi Dukungan Keluarga Pada Pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

Distribusi Jenis Komplikasi Penyakit Pada Pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

Distribusi Responden Berdasarkan Banyaknya Komplikasi Penyakit Pada Pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

73

74

75

76

(14)

xiv 15

16

17

18

19

20

21 22

Berdasarkan Variabel Kualitas Hidup Pada Beberapa Rumah Sakit di Kota Makassar Tahun 2015

Distribusi Responden Pasien DM Tipe 2 Berdasarkan Variabel Total Kualitas Hidup di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

Analisis Risiko Tingkat Depresi terhadap Kualitas Hidup Pasien DM Tipe di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

Analisis Risiko Tingkat Kecemasan terhadap Kualitas Hidup Pasien DM tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015 Analisis Risiko Komplikasi terhadap Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

Analisis Risiko Dukungan Keluarga terhadap Kualitas Hidup Pasien DM tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015 Analisis Risiko Lama Menderita DM terhadap Kualitas Hidup Pasien DM tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015 Rangkuman Hasil Analisis Bivariat

Hasil Analisis Multivariat Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 dengan Metode Backward LR di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

78

79

81

82

83

84

83 85

(15)

xv 1

2 3

Kerangka Teori Penelitian Kerangka Konsep Penelitian Rancangan Penelitian

53 54 60

(16)

xvi

Lampiran 2 Output analisis data kuesioner penelitian Lampiran 4 Kode Etik Penelitian

Lampiran 5 Surat Izin Penelitian dari RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Lampiran 6 Dokumentasi Penelitian

Lampiran 7 Riwayat Hidup

(17)

xvii ADA

ADH AIDS DASS

American Diabetes Association Anti Deuratic Hormone

Aquired Immuno Deficiency Syndrome Depression Anxiety and Stress Scale Defisiensi Insulin

DM GDP

Kurangnya kadar hormon insulin Diabetes Melitus

Gula Darah Puasa GDS

GODM

Gula Darah Sewaktu

Gestasional Onset Diabetes Melitus Hiperglikemia

HIV

Suatu kondisi yang terjadi pada orang dengan diabetes bila kadar glukosa darah mereka terlalu tinggi

Human Immunodeficiency Virus

Homeostasis Suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi kondisi yang di alaminya

IDF NCD PERKENI

International Diabetes Federation Non Communicable Disease

Perhimpunan Endokrinologi Indonesia

Poliuria Banyak kencing

Polidipsia Banyak minum

(18)

xviii

TTGO Tes Toleransi Glukosa Oral

WHO World Health Organization

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Diabetes melitus (DM) adalah gangguan kesehatan yang merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan atau resistensi insulin. Kriteria diagnosis dari diabetes melitus menurut WHO (2006) adalah apaibila kadar glukosa darah puasa > 7,0 mmol (126 mg/dl) atau glukosa darah 2 jam setelah puasa adalah > 11,1 mmol (200mg/dl). Kasusnya menunjukkan peningkatan prevalensi di masyarakat, khususnya DM tipe 2 yang meliputi lebih dari 90%

dari semua populasi diabetes melitus, sehingga menjadi beban kesehatan masyarakat. Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan dunia yang menghinggapi hampir seluruh lapisan masyarakat dunia (Bustan, 2007).

Diabetes merupakan global killer yang menyebabkan kematian yang jauh lebih banyak dari pada HIV/AIDS (Apriyanti, 2012). Apabila penyakit diabetes melitus dibiarkan begitu saja atau penderita tidak menyadari telah menderita diabetes, keadaan hiperglikeminya yang berlangsung bertahun- tahun akan menimbulkan berbagai komplikasi dan kematian (Dalimartha, 2012).

Data dari Global status report on Noncommunicable Diseases (NCD) World Health Organization (WHO) DM menempati peringkat ke-6 sebagai penyebab kematian. IDF memperhitungkan angka kejadian DM di dunia

(20)

pada tahun 2012 adalah 371 juta jiwa, tahun 2013 meningkat menjadi 382 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2035 DM akan meningkat menjadi 592 juta jiwa (Triyanisya, 2013).

Di Asia Tenggara sedikitnya 71 juta orang diperkirakan mengalami diabetes pada tahun 2010, dengan masalah toleransi glukosa terganggu (TGT). Sebanyak 3,4 juta orang di dunia dan 1 juta orang di Asia Tenggara meninggal setiap tahunnya dengan kasus diabetes. Sebanyak 3,4 juta orang di dunia dan 1 juta orang di Asia Tenggara meninggal setiap tahunnya dengan kasus diabetes (Depkes, 2014).

Menurut WHO, Indonesia merupakan negara kedua terbesar setelah India yang mempunyai penderita DM terbanyak yaitu 8.426.000 orang di tingkat Asia Tenggara, dan diperkirakan meningkat menjadi 21.257.000 pada tahun 2030. Menurut studi International Diabetes Federation pada tahun 2013 menjadi sekitar 382 juta orang. Indonesia merupakan negara yang menduduki urutan ketujuh dengan penderita DM terbanyak dengan jumlah penderita DM sebanyak 7,6 juta jiwa dan diperkirakan akan terus meningkat enam persen setiap tahunnya (Rachmaningtyas, 2013).

Berdasarkan survei kesehatan nasional (SKRT) tahun 2010, diabetes melitus merupakan penyakit peringkat ke-9 terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit dan juga penyebab kematian peringkat ke-9 penyakit tidak menular di rumah sakit (Depkes, 2011). Prevalansi penyakit ini meningkat terutama karena terjadi perubahan gaya hidup, kejadian jumlah

(21)

kalori yang dimakan, kurangnya aktifitas fisik dan meningkatnya jumlah populasi manusia usia lanjut.

Berdasarkan data Riskesdas 2007, penderita DM di Indonesia (1,1%), sedangkan di Sulawesi Selatan (0,8%), diperoleh pula bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45 – 54 tahun di daerah perkotaan menempati ranking ke dua, yaitu 14, 7 % dan untuk daerah pedesaan menempati rangking ke enam, yaitu 5,8%. Tahun 2011 Indonesia berada pada peringkat sepuluh negara dengan penderita DM terbanyak (usia 20 – 79 tahun), yaitu mencapai 7,3 juta orang (Riskesdas, 2013).

Pada tahun 2013, proporsi penduduk Indonesia yang berusia ≥15 tahun dengan DM adalah 6,9 persen. Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%), dan Kalimantan Timur (2,3%). Prevalensi diabetes yang terdiagnosis dokter atau berdasarkan gejala, tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (3,7%), Sulawesi Utara (3,6%), Sulawesi Selatan (3,4%) dan Nusa Tenggara Timur (3,3%) (Riskesdas, 2013).

Laporan rekam medis pasien rawat inap di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar tahun 2012 diketahui bahwa jumlah penderita penyakit diabetes mellitus pada tahun 2012 dengan prevalensi 27,3. Hal ini menunjukkan bahwa masih tingginya angka kejadian penyakit diabetes mellitus dan adapun 10 (sepuluh) jenis penyakit penyebab utama kematian di Kota Makassar tahun 2012 salah satunya adalah penyakit diabetes mellitus (Bidang Bina P2PL Dinkes Kota Makassar, 2012).

(22)

Dari data rekam medik Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Kota Makassar pada tahun 2012 terdapat 214 kasus baru, tahun 2013 terdapat 217 kasus dan pada tahun 2014 terdapat 321 kasus. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan kasus baru penyakit DM di RSUD Labuang baji Kota Makassar dari tahun ke tahun. Untuk rumah sakit Ibnu Sina Kota Makassar jumlah kasus DM tipe 2 periode Januari – April 2015 pada pasien rawat jalan sebanyak 153 kasus yang terdata pada poli interna rumah sakit.

Kualitas hidup adalah penilaian seseorang terhadap apa yang terjadi di dalam kehidupannya berdasarkan pengalaman hidup yang telah dilalui.

Kualitas hidup dapat dikaitkan dengan penilaian subjektif seseorang terhadap apa yang telah terjadi dengan apa yang diinginkan dalam terjadi dalam hidupnya. Kualitas hidup memengaruhi kesehatan fisik, kondisi psikologis, tingkat ketergantungan, hubungan sosial dan hubungan pasien dengan lingkungan sekitarnya (Skevington dalam Isa & Baiyewu, 2006).

Kualitas hidup memiliki beberapa dimensi yang diantaranya dimensi fisik, psikososial, sosial, somatik, dan spritual (Borrott, 2008). Ketika dikaitkan dengan kesehatan maka keduanya memiliki hubungan yang erat.

Ketika seseorang memiliki kesehatan yang baik maka akan memengaruhi peningkatan kualitas hidup seseorang tersebut. Salah satu yang banyak menyebabkan penurunan kualitas hidup adalah penyakit.

Kualitas hidup pasien DM dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yaitu faktor demografi yang terdiri dari usia dan status pernikahan,

(23)

faktor medis yakni lama menderita dan komplikasi yang dialami serta faktor psikologis yang terdiri dari kecemasan (Raudatussalamah & Fitri, 2012).

Faktor-faktor tersebut dapat memberikan dampak negatif dan memengaruhi kualitas hidup pasien DM sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sari et al (2011) menyatakan bahwa faktor jenis kelamin, usia, lama menderita, pendidikan, status pernikahan, dan pekerjaan berpengaruh terhadap kualitas hidup.

Kualitas hidup merupakan suatu kesejahteraan yang dirasakan oleh seseorang dan berasal dari kepuasan atau ketidakpuasan dengan bidang kehidupan yang penting bagi mereka. Persepsi subyektif tentang kepuasan terhadap berbagai aspek kehidupan dianggap penentu utama dalam penilaian kualitas hidup, karena kepuasan merupakan pengalaman kognitif yang menggambarkan penilaian terhadap kondisi kehidupan yang stabil dalam jangka waktu lama. Kualitas hidup yang baik pada penderita DM merupakan perasaan puas dan bahagia akan hidupnya secara umum khususnya hidup dengan DM tersebut ( Kurniawan, 2008).

Menurut Mandagi (2010) hal yang mendorong perlunya pengukuran kualitas hidup, khususnya pada penderita DM adalah karena kualitas hidup merupakan salah satu tujuan utama perawatan, karena DM merupakan penyakit kronis yang belum dapat disembuhkan, namun apabila kadar gula darah dapat terkontrol dengan baik maka keluhan fisik akibat komplikasi akut atau kronis dapat diminimalisir atau dicegah. Selain itu, kualtas hidup yang rendah serta problem psikologis dapat memperburuk gangguan

(24)

metabolik, baik secara langsung ataupun secara tidak langsung melalui komplikasi. Hasil penelitiannya menunjukkan status kualitas hidup ada hubungannya dengan umur (p=0,040 dengan OR=5,359), olahraga (p=0,019 dengan OR=3,4), waktu tidur (p=0,036 dengan OR=4,444), pengetahuan (p=0,003 dengan OR=9), kepatuhan berobat (p=0,041) dengan OR=4,333) dukungan keluarga (p=0,003 dengan OR=6,333).

Penelitian ini menunjukkan bahwa umur dan dukungan keluarga adalah faktor yang paling berkontribusi besar terhadap kualitas hidup pasien DM tipe 2. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Hedrianti (2013) menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa faktor dukungan keluarga (p = 0.000 OR 5.143); depresi (p = 0.000 OR 3.306), lama menderita (p = 0.004 OR 7.425); dan komplikasi (p = 0.000 OR 8.125).

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pada penderita DM tipe II diantaranya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, status pernikahan, lama menderita atau durasi dan komplikasi DM. Moons et al (2004) menyatakan bahwa jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kualitas hidup. Tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi yang rendah juga berhubungan secara bermakna dengan kualitas hidup penderita diabetes. Disamping keempat faktor tersebut, lamanya menderita diabetes juga berpengaruh terhadap keyakinan pasien dalam pengobatan yang tentunya akan menyebabkan pasien berisiko untuk mengalami komplikasi, sehingga memberikan efek penurunan terhadap kualitas hidup pasien yang berhubungan secara

(25)

signifikan terhadap angka kesakitan dan kematian, hal tersebut dapat memengaruhi usia harapan hidup pasien DM (Yusra, 2010).

Penelitian yang dilakukan oleh Robinson (2010) pada 19 pasien diabetes melitus dengan hasil bahwa dukungan keluarga merupakan faktor yang paling utama untuk mempertahankan kontrol metabolik yang akan memperngaruhi kualitas hidup pasien. Selanjutnya Griffin et al dalam Skarbec (2006) menemukan hubungan yang kuat antara peran keluarga dengan status kesehatan, dimana dukungan negatif dapat mengakibatkan rendahnya status kesehatan pasien. Kesimpulan pada penelitian tersebut adalah dukungan keluarga paling signifikan terhadap kontrol gula darah dan manajemen diabetes melitus yang berpengaruh terhadap penurunan kualitas hidup (Yusra, 2010).

Dukungan keluarga bukan sekedar memberikan bantuan namun bagaimana persepsi penerima terhadap makna bantuan tersebut. Persepsi ini erat hubungannya dengan ketepatan dukungan yang diberikan, dalam arti seseorang yang menerima sangat merasakan manfaat bantuan bagi dirinya. Rendahnya dukungan keluarga akan berdampak terhadap keterlaksanaan pengelolaan DM tipe 2 yang berisiko terhadap penurunan kualitas hidup. Dukungan penghargaan dan dukungan informasi yang cukup kepada anggota keluarga yang sakit merupakan bentuk fungsi afektif keluarga yang dapat meningkatkan status psikososial dan akan memberi motivasi untuk dapat menjaga kondisi kesehatan menjadi lebih baik (Friedman, 2010).

(26)

Depresi merupakan salah satu gangguan kesehatan yang paling serius dalam kesehatan masyarakat. Depresi yang terjadi pada pasien diabetes terkait dengan kepatuhan pengobatan yang buruk, kualitas hidup terganggu, peningkatan tingkat hiperglikemia, komplikasi penyakit dan mortalitas (Carmody, 2005). Selanjutnya Reindhardt (2001) menjelaskan bahwa depresi berkaitan dengan dukungan keluarga yang negatif dan akan memberikan implikasi yang negatif terhadap manajemen diabetes melitus serta kualitas hidup pasien.

Komplikasi psikologis yang muncul diantaranya dapat berupa kecemasan. Gangguan kecemasan merupakan penyakit penyerta yang sering muncul pada pasien DM. Kecemasan yang terjadi dapat disebabkan karena penyakitnya sendiri yang bersifat long life disease ataupun oleh karena komplikasi lain yang ditimbulkannya. Kondisi ini apabila tidak ditangani secara baik maka akan menimbulkan masalah tersendiri yang akan semakin menyulitkan dalam pengelolaan penyakit DM. Secara sosial penderita DM akan mengalami beberapa hambatan utamanya berkaitan dengan pembatasan dalam diet yang ketat dan keterbatasan aktifitas karena komplikasi yang muncul. Dalam bidang ekonomi, biaya untuk perawatan penyakit dalam jangka panjang dan rutin merupakan masalah yang menjadi beban tersendiri bagi pasien. Beban tersebut masih dapat bertambah lagi dengan adanya penurunan produktifitas kerja yang berkaitan dengan perawatan ataupun akibat penyakitnya. Kondisi tersebut berlangsung kronis dan bahkan sepanjang hidup pasien, dan hal ini akan

(27)

menurunkan kualitas hidup pasien DM (Amidah, 2002). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup penderita DM Tipe 2 sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, namun studi mengenai kualitas hidup penderita dengan menggunakan metode kohort retrospektif masih kurang, sehingga penelitian ini dimaksudkan untuk melihat risiko beberapa faktor seperti depresi, kecemasan, komplikasi, dukungan keluarga dan lama menderita penyakit dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2.

B. Rumusan Masalah

Pentingnya masalah determinan kualitas hidup penderita DM tipe 2 diteliti dikarenakan tingginya risiko (OR=6.75) penurunan kualitas hidup seseorang yang menderita DM tipe 2. Keunikan penyakit ini yang salah satunya ditandai dengan peningkatan jumlah penderita. Diabetes mellitus adalah salah satu penyakit kronik yang terjadi pada jutaan orang di dunia (American Diabetes Assosiation/ADA, 2011).

Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit kronik yang sulit untuk disembuhkan secara total. Angka kejadian di setiap tahunnya mengalami peningkatan. Jika tidak ada penanganan pada penderita DM, maka akan mengakibatkan terjadinya komplikasi seperti retinopati, neuropati, dan nefropati. Kualitas hidup penderita DM dapat mengalami penurunan akibat komplikasi tersebut. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

“Faktor-faktor yang berisiko terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015”.

(28)

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor yang berisiko terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui risiko faktor depresi terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

b. Untuk mengetahui risiko faktor kecemasan terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

c. Untuk mengetahui risiko faktor komplikasi penyakit DM Tipe 2 terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

d. Untuk mengetahui risiko faktor dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

e. Untuk mengetahui risiko faktor lama menderita penyakit terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

(29)

f. Untuk mengetahui faktor yang paling berisiko terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe di RSUD Labuang Baji dan RS Ibnu Sina Kota Makassar Tahun 2015

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Keilmuan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi yang membacanya dan sebagai bahan informasi untuk penelitian berikutnya.

2. Manfaat Institusi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi instansi terkait setempat sebagai salah satu pertimbangan dalam pengambilan kebijakan.

3. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang kualitas hidup pasien DM tipe 2

4. Manfaat Bagi Masyarakat

Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kualitas hidup dan penyakit DM Tipe 2 sehingga masyarakat dapat melakukan pengendalian dan pencegahan.

(30)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Diabetes Melitus

1. Definisi Diabetes Melitus

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang mengganggu kemampuan tubuh untuk menggunakan sari-sari makanan secara efisien. Hormon insulin yang diproduksi di pankreas membantu tubuh dalam mengubah makanan menjadi energi. Diabetes terjadi bila satu dari dua kondisi ini terjadi yaitu pankreas gagal memproduksi insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang telah diproduksi (D’Adamo P & Whitney C, 2006)

Diabetes melitus dikarakteristikan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, peningkatan ini dapat disebabkan karena penurunan atau tidak adanya produksi insulin dalam pankreas yang mengontrol gula darah melalui pengaturan dan panyimpanan glukosa.

Hal ini dapat menyebabkan abnormalitas pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak (Yusra, 2011).

Diabetes melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan adanya peningkatan kadar gula dalam darah akibat adanya masalah dengan produksi hormon insulin oleh pankreas baik hormon itu tidak diproduksi dengan jumlah benar maupun tubuh tidak dapat menggunakan hormon insulin dengan benar (Basuki,

(31)

2007). Diabetes melitus adalah suatu kondisi dimana kadar gula di dalam darah lebih tinggi dari biasa/normal (normal: 60 mg/dl sampai dengan 145 mg/dl), karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan hormon insulin secara cukup (Maulana, 2008).

Diabetes Melitus (DM) adalah suatu penyakit, dimana tubuh penderitanya tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Pada tubuh yang sehat, pankreas melepas hormon insulin yang bertugas mengangkut gula melalui darah ke otot- otot dan jaringan lain untuk memasuk energy (R. W. Bilous, 2002)

Diabetes melitus (DM) atau penyakit kencing manis merupakan suatu penyakit, penyakit menahun yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi nilai normal yaitu kadar gula sewaktu sama atau lebih dari 200 mg/dl dan kadar gula puasa diatas atau sama dengan 126 mg/dl.

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2003, diabetes melitus merupakan kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hipoglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya (Laniwaty, 2001)

2. Klasifikasi Diabetes Melitus

Menurut Smeltzer & Bare (2002), diabetes mellitus ini terdapat beberapa klasifikasinya yakni sebagai berikut:

a) DM tergantung insulin (DM tipe 1). Diabetes mellitus ini dikenal sebagai tipe juvenileonist dan tipe dependen insulin yang dapat terjadi disembarang usia. DM tipe ini terjadi akibat tubuh tidak

(32)

mampu memproduksi insulin sama sekali. Hal tersebut dikarenakan adanya disfungsi proses autoimun dengan kerusakan sel-sel beta.

Kemudian penyebab lainnya yaitu idiopatik, tidak ada bukti adanya autoimun dan tidak diketahui sumbernya.

b) DM tak tergantung insulin (DM tipe 2). Dikenal sebagai tipe non dependen insulin. Dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin sebagaimana mestinya. Pada diabetes ini terdapat dua masalah utama yang berhubungan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Insulin yang dihasilkan tidak terikat oleh reseptor khusus pada permukaan sel. Pada tipe ini tidak terjadi ketoasidosis diabetikum karena masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya.

c) DM kehamilan atau Gestasional Onset Diabetes Mellitus (GODM).

GODM ini terjadi pada wanita yang tidak menderita DM sebelum kehamilannya. Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormon-hormon plasenta. Semua wanita hamil harus menjalani skrining pada usia kehamilan 24 hingga 27 minggu untuk mendeteksi kemungkinan diabetes. Sesudah melahirkan bayi, kadar glukosa darah pada wanita yang menderita diabetes gestasional akan kembali normal. Walaupun begitu, banyak wanita yang mengalami diabetes gestasional ternyata kemudian hari menderita diabetes tipe 2. Oleh karena itu, semua wanita yang

(33)

menderita diabetes gestasional harus mendapatkan konseling guna mempertahankan berat badan idealnya dan melakukan latihan secara teratur sebagai upaya untuk menghindari penyakit diabetes tipe 2.

d) DM tipe lain dapat disebabkan oleh sindrom atau kelainan lain, infeksi, obat atau zat kimia, pankreatektomi, insufisiensi pankreas akibat pankreatitis, dan gangguan endokrin.

Tabel 1. Beberapa perbedaan antara DM Tipe 1 dan tipe 2 Kategori Diabetes mellitus Tipe 1 Diabetes Melitus Tipe 2 Nama lain Diabetes melitus yang

bergantung insulin, diabetes remaja

Diabetes mellitus yang tidak bergantung pada insulin, Diabetes yang timbul setelah dewasa Umur

terjadinya

Biasanya dibawah usia 40 Tahun

Biasanya diatas usia 40 Tahun

Berat badan Kurus Biasanya kelebihan berat badan

Gejala Muncul mendadak Muncul perlahan-lahan Produksi

Insulin

Tidak ada Tidak memedai atau cacat

Pengendalian Insulin

Membutuhkan suntikan Insulin

Bisa dikendalikan dengan obat-obatan, jika tidak insulin mungkin dibutuhkan Sumber: Ramaiah S, 2003

3. Gejala Diabetes Melitus

Tanda dan gejala pada penyakit DM menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2011 adalah sebagai berikut:

(34)

a) Poliuria (peningkatan pengeluaran urin) merupakan gejala umum pada penderita diabetes melitus, banyaknya kencing ini disebabkan kadar gula dalam darah berlebihan, sehingga merangsang tubuh untuk berusaha mengeluarkannya melalui ginjal bersama air dan kencing, gejala banyak kencing ini terutama menonjol pada waktu malam hari, yaitu saat kadar gula dalam darah relatif tinggi.

b) Polidipsia (peningkatan rasa haus) akibat volume urin yang sangat besar dan keluarnya air menyebabkan dehidrasi ekstrasel.

Dehidrasi intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel karena air intrasel akan berdifusi keluar sel mengikuti penurunan gradien konsentrasi ke plasma yang hipotonik (sangat pekat). Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran Anti Diuretic Hormone (ADH) dan menimbulkan rasa haus.

c) Polifagia (peningkatan rasa lapar) merupakan gejala yang tidak menonjol. Terjadinya banyak makan ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan gula dalam tubuh meskipun kadar gula dalam darah tinggi. Sehingga dengan demikian, tubuh berusaha untuk memperoleh cadangan gula dari makanan yang diterima.

d) Peningkatan angka infeksi akibat penurunan protein sebagai bahan pembentukan antibodi, peningkatan konsentrasi glukosa disekresi mucus, gangguan fungsi imun, dan penurunan aliran darah pada penderita diabetes kronik.

(35)

e) Kelainan kulit : gatal-gatal, bisul. Kelainan kulit berupa gatal-gatal, biasanya terjadi di lipatan kulit seperti di ketiak dan dibawah payudara. Biasanya akibat tumbuhnya jamur.

f) Kesemutan rasa baal akibat terjadinya neuropati

g) Luka atau bisul yang tidak sembuh-sembuh. Proses penyembuhan luka membutuhkan bahan dasar utama dari protein dan unsur makanan yang lain. Pada penderita DM bahan protein banyak diformulasikan untuk kebutuhan energi sel sehingga bahan yang dipergunakan untuk penggantian jaringan yang rusak mengalami gangguan. Selain itu luka yang sulit sembuh juga dapat diakibatkan oleh pertumbuhan mikroorganisme yang cepat pada penderita DM.

h) Pada laki-laki terkadang mengeluh impotensi, Penderita DM mengalami penurunan produksi hormon seksual akibat kerusakan testoteron dan sistem yang berperan.

i) Mata kabur, disebabkan oleh katarak atau gangguan refraksi perubahan pada lensa oleh hiperglikemia, mungkin juga disebabkan pada korpus vitreum.

4. Patogenesis dan Patofisiologi Diabetes Melitus

Diabetes saat ini belum diketahui dengan pasti, oleh karena mekanisme terjadinya dari awal sampai saat ini belum diketahui mana yang lebih dahulu terjadi. Apakah proses kekurangan sistem perifer yaitu di otot dan hati maupun jaringan lemak. Kedua keadaan ini secara sendiri-sendiri atau bersama menyebabkan peningkatan kadar glukosa

(36)

darah yang disebut hiperglikemia atau diabetes mellitus. Namun yang pasti bagian sekresi insulin dan kerja insulin disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.

Diabetes melitus tipe 2 terjadi karna kurangnya produksi hormon insulin atau insulin tidak bekerja maksimal sebab adanya hambatan pada kerja insulin (resistensi insulin) (Nurrahmani, 2012). Pada kondisi normal, glukosa dalam tubuh yang berasal dari makanan diserap ke dalam aliran darah dan bergerak ke sel-sel di dalam tubuh. Glukosa tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pengubahan glukosa dalam darah menjadi energi dilakukan oleh hormon insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas. Hormon insulin juga berfungsi untuk mengatur kadar glukosa dalam darah.

Namun apabila insulin yang tersedia jumlahnya terbatas atau tidak bekerja dengan normal, maka sel-sel di dalam tubuh tidak terbuka dan glukosa akan terkumpul dalam darah. Kadar glukosa darah =10 mm/liter merupakan kondisi di atas ambang serap ginjal. Apabila kadar glukosa dalam darah berlebihan, maka sebagian glukosa kemudian dibuang bersama urin (Kurnia, 2012).

Pada DM tipe 2, sekresi insulin di fase 1 atau early peak yang terjadi dalam 3-10 menit pertama setelah makan yaitu insulin yang disekresi pada fase ini adalah insulin yang disimpan dalam sel beta (siap pakai) tidak dapat menurunkan glukosa darah sehingga merangsang fase 2 adalah sekresi insulin dimulai 20 menit setelah stimulasi glukosa

(37)

untuk menghasilkan insulin lebih banyak, tetapi sudah tidak mampu meningkatkan sekresi insulin sebagaimana pada orang normal.

Gangguan sekresi sel beta menyebabkan sekresi insulin pada fase 1 tertekan, kadar insulin dalam darah turun menyebabkan produksi glukosa oleh hati meningkat, sehingga kadar glukosa darah puasa meningkat. Secara berangsur-angsur kemampuan fase 2 untuk menghasilkan insulin akan menurun. Dengan demikian perjalanan DM tipe 2, dimulai dengan gangguan fase 1 yang menyebabkan hiperglikemi dan selanjutnya gangguan fase 2 di mana tidak terjadi hiperinsulinemi akan tetapi gangguan sel beta.

Sekresi insulin oleh sel beta tergantung oleh 3 faktor utama yaitu, kadar glukosa darah, ATP-sensitive K channels dan Voltage-sensitive Calcium Channels sel beta pankreas. Mekanisme kerja ketiga faktor ini sebagai berikut : Pada keadaan puasa saat kadar glukosa darah turun, ATP sensitive K channels di membran sel beta akan terbuka sehingga ion kalium akan meninggalkan sel beta (K-efflux),dengan demikian mempertahankan potensial membran dalam keadaan hiperpolar sehingga Ca-channels tertutup, akibatnya kalsium tidak dapat masuk ke dalam sel beta sehingga perangsangan sel beta untuk mensekresi insulin menurun.

Sebaliknya pada keadaan setelah makan, kadar glukosa darah yang meningkat akan ditangkap oleh sel beta melalui glucose transporter 2 (GLUT2) dan dibawa ke dalam sel. Di dalam sel, glukosa

(38)

akan mengalami fosforilase menjadi glukosa-6 fosfat (G6P) dengan bantuan enzim penting, yaitu glukokinase. Glukosa 6 fosfat kemudian akan mengalami glikolisis dan akhirnya akan menjadi asam piruvat.

Dalam proses glikolisis ini akan dihasilkan 6-8 ATP. Penambahan ATP akan meningkatkan rasio ATP/ADP dan ini akan menutup terowongan kalium. Dengan demikian kalium akan tertumpuk dalam sel dan terjadilah depolarisasi membran sel, sehingga membuka terowongan kalsium dan kalsium akan masuk ke dalam sel. Dengan meningkatnya kalsium intrasel, akan terjadi translokasi granul insulin ke membran dan insulin akan dilepaskan ke dalam darah.

Mengingat GLUT2 mempunyai sifat mengangkut glukosa ke dalam sel tanpa batas, agaknya enzim glukokinase bekerja sebagai

“pembatas” agar proses fosforilasi berjalan seimbang sesuai kebutuhan, dengan demikian peristiwa depolarisasi dapat diatur dan pelepasan insulin dari sel beta ke dalam darah disesuaikan dengan kebutuhan.

Oleh karena itu enzim glukokinase disebut sebagai glucose sensor karena bertindak sebagai sensor terhadap glukosa.

Faktor lingkungan seperti perubahan pola hidup dari pola hidup tradisional ke pola hidup modern atau kebarat-baratan serta kemajuan teknologi dan meningkatnya derajat sosial ekonomi masyarakat sehingga aktifitas fisik menurun dan pola makan berubah merupakan faktor yang dipastikan sebagai penyebab diabetes (Tandra, 2008).

(39)

Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme (metabolic syndrome) dari distribusi gula. Penderita diabetes tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, atau tubuh tak mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga terjadilah kelebihan gula dalam tubuh. Kelebihan gula yang kronis kedalam darah (hiperglikemia) ini menjadi racun pada tubuh. Saat jaringan tubuh kekurangan pasokan glukosa karena terlambat di pembuluh darah itu, muncullah gejala kelelahan, lapar gula, dan perasaan mudah tersinggung. akan membuat darah menjadi kental dan alirannya melambat, sehingga mengakibatkan gangguan kepada pasokan oksigen yang cukup untuk membakar gula menjadi energi. Akibat kekurangan oksigen tersebut, tubuh kehilangan tenaga dengan muncul gejala kelelahan, perubahan suasana hati, sakit kepala, dan jantung bekerja lebih keras (berdebar-debar) (Ilyas, 2007).

5. Diagnosis Diabetes Melitus

Diagnosis diabetes mellitus dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Tes kadar glukosa darah

Kadar glukosa darah diuji setiap waktu sepanjang hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir. Jika kadar glukosa darah sama atau di atas 200 mg/dl, hal itu menunjukan adanya diabetes mellitus.

(40)

b. Tes kadar glukosa darah puasa

Tes ini memerukan puasa 12-14 jam sebelum darah diambil untuk pemeriksaan. Puasa adalah keadaan tanpa suplai makanan (kalori) selama minimum 8 jam, tetapi tetap diperbolehkan minum air putih. Jadi bukan puasa makan dan minum seperti yang biasa dilakukan. Jika kadar darah puasa sama atau lebih dari 126 mg/dl maka dikategorikan diabetes mellitus.

Berdasarkan American Diabetes Association (ADA), ada dua tes yang dapat dijadikan sebagai dasar terhadap diagnosis diabetes mellitus yang didasarkan pada pemeriksaan kadar glukosa plasma vena.

1) Kadar glukosa darah sewaktu (tidak puasa) ≥ 200 mg/dl

2) Kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl. Pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO), kadar glukosa darah yang diperkiksa kembali setelah 2 jam ≥200 mg/dl.

Berdasarkan sumber dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), berikut klasifikasi penentuan dasar seseorang terkena diabetes mellitus atau tidak.

(41)

Tabel 2. Kalsifikasi diabetes Menurut PERKENI

Bukan DM Belum pasti DM DM

Kadar glukosa darah tidak puasa

Plasma vena < 110 100-199 ≥200

Darah kapiler < 90 90-199 ≥200

Kadar glukosa darah puasa

Plasma vena < 100 100-125 ≥126 Darah kapiler < 90 90-99 ≥100

Sumber : Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), 2011 c. Pemeriksaan urin

Pemeriksaan urin dapat memperkuat dugaan adanya diabetes mellitus, tetapi pemeriksaan urin tidak dapat digunakan sebagai dasar diagnosis adanya diabetes melitus. Pada pemeriksaan urin, urin akan dianalisis, mengandung glukosa atau tidak, hal itu dapat memperkuat dugaan adanya diabetes mellitus.

d. Tes keton

Keton ditemukan dalam urin jika kadar glukosa darah sangat tinggi atau sangat rendah. Jika hasil tes positif dan kadar glukosa juga tinggi, dapat memperkuat dugaan adanya diabetes mellitus.

e. Pemeriksaan mata

Dari hasil pemeriksaan, pada mata menampakkan adanya retina yang abnormal (tidak normal). Hal ini terjadi pada penderita diabetes mellitus kronis akibat komplikasi penyakit diabetes mellitus.

(42)

6. Pengobatan diabetes melitus a. Penyuluhan kesehatan

Penyuluhan kesehatan harus sering diberikan oleh dokter atau perawat kepada para penderita diabetes melitus. Penyuluhan tersebut meliputi beberapa hal, antara lain pengetahuan perlunya diet secara ketat, latihan fisik, minum obat dan juga pengetahuan tentang komplikasi, pencegahan maupun perawatannya.

Penyuluhan dapat diberikan langsung baik secara perseorangan maupun kelompok atau melalui poster.

b. Diet

Pada diet diabetes melitus penderita harus pantang gula dan makanan yang manis untuk selamanya dan harus memperhatikan tiga “J”, yaitu : jumlah makanan, jadwal makan dan jenis makanan.

1. Jumlah makanan harus disesuaikan dengan jumlah kalori yang dibutuhkan setiap harinya. Kebutuhan ini ditentukan secara individual berdasarkan berat badan (obesitas, kurus atau ideal), Jenis kelamin, usia, gaya hidup dan aktifitas.

2. Jadwal makan atau frekuensi makan, dengan tujuan untuk membagi secara merata pemasukan kalori setiap harinya, sehingga dapat menghindari kenaikan kadar gula darah yang terlalu tinggi.

(43)

3. Jenis makanan atau komposisi diet yang dianjurkan bagi penderita diabetes melitus, hendaknya dari karbohidrat, protein dan lemak.

c. Latihan Fisik Teratur

Semua penderita diabetes melitus dianjurkan untuk melakukan latihan fisik ringan secara teratur setiap harinya selama kurang lebih 20 menit. Latihan dilakukan 1,5 jam setelah makan. Bagi para penderita diabetes melitus dengan obesitas sangat dianjurkan untuk melakukan latihan fisik.

d. Obat Hipoglikemik

Obat hipoglikemik (penurunan kadar darah) bisa berbentuk oral (tablet obat anti diabetis) atau injeksi /suntikan (insulin) mana cara yang baik tergantung situasi penderita diabetes melitus.

e. Cangkok Pankreas (R. W. Bilous, 2002).

7. Pencegahan Diabetes Melitus

Ada tiga jenis pencegahan diabetes melitus yaitu : 1. Pencegahan primer

Pencegahan ini merupakan suatu upaya yang ditujukan kelompok risiko tinggi. Mereka yang belum menderita DM, tetapi berpotensi untuk menderita penyakit ini, yaitu mereka yang tergolong kelompok usia dewasa (diatas 45 tahun) kegemukan, tekanan darah tinggi (lebih dari 140/90 mmHg), riwayat keluarga DM, dan lain-lain (Tandra, 2008).

(44)

Upaya yang dilakukan bertujuan untuk mencegah terjadinya diabetes melitus dengan menghilangkan faktor-faktor yang dapat menyebabkan diabetes melitus, baik secara genetik maupun secara lingkungan. Berikut hal-hal yang dapat dilakukan dalam pencegahan primer.

a. Pola makan sehari-hari harus seimbang dan tidak berlebihan b. Olah raga secara teratur dan tidak banyak berdiam diri c. Usahakan berat badan dalam batas normal

d. Hindari obat-obatan yang dapat menimbulkan diabetes melitus.

Penyuluhan sangat penting perannya dalam upaya pencegahan primer. Masyarakat luas melalui lembaga swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya harus diikut sertakan.

2. Pencegahan sekunder

Pencegahan ini berupa upaya untuk mencegah dan menghambat timbulnya penyakit dengan tindakan deteksi dini dan dilakukan sejak awal timbulnya penyakit. Tindakan ini berarti mengelola DM dengan baik agar tidak timbul penyakit lanjut.

Penyuluhan mengenai DM dan pengelolaannya memegang peran yang penting untuk meningkatkan kepatuhan berobat (Maulana, 2008).

Deteksi dini dilakukan dengan pemeriksaan penyaringan (screening), namun kegiatan tersebut memerlukan biaya besar.

(45)

Memberikan pengobatan penyakit sejak awal berarti mengelola DM dengan baik agar tidak menimbulkan komplikasi penyakit DM.

Pencegahan sekunder tujuannya untuk mencegah agar penyakit diabetes melitus yang sudah timbul tidak menimbulkan komplikasi penyakit lain, menghilangkan gejala, dan keluhan penyakit diabetes melitus, terutama bagi kelompok yang berisiko tinggi terkena diabetes melitus. Bagi yang dicurigai terkena diabetes melitus, perlu diteliti lebih lanjut untuk memperkuat dugaan adanya diabetes melitus (Laniwaty, 2001)

Berikut hal-hal yang harus dilakukan dalam pencegahan sekunder.

a. Diet sehari-hari harus seimbang dan sehat b. Menjaga berat badan seimbang dan sehat

c. Usaha pengendalian gula darah agar tidak terjadi komplikasi diabetes melitus

d. Olahraga teratur sesuai dengan kemampuan fisik dan umur.

3. Pencegahan tersier

Pencegahan tersier bertujuan untuk mencegah kecacatan lebih lanjut dari komplikasi penyakit yang sudah terjadi dan merehabilitasi pasien sedini mungkin sebelum kecacatan tersebut menetap.

(46)

Berikut ini upaya pencegahan yang dimaksud :

a. Mencegah terjadinya kebutaan jika menyerang pembuluh darah ginjal.

b. Mencegah gagal ginjal kronik jika menyerang pembuluh darah ginjal

c. Mencegah stroke jika menyerang pembuluh darah otak.

d. Mencegah terjadinya gangrene jika terjadi luka

Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan secara rutin dan berkala terhadap bagian organ tubuh yang rentan terhadap komplikasi dan kecacatan (Sugondo, 2007).

Pelayan kesehatan yang holistik dan terintegrasi antar disiplin terkait sangat diperlukan, terutama di rumah sakit rujukan, baik dengan para ahli sesama disiplin ilmu seperti ahli jantung dan ginjal, maupun para ahli dari disiplin lain seperti bagian ilmu penyakit mata, bedah otopedi, bedah vascular, radiologi, rehabilitasi medis, gizi, dan lain sebagainya.

B. Tinjauan Umum Tentang Kualitas Hidup 1. Definisi Kualitas Hidup

Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu terhadap posisinya dalam kehidupan dilihat dari konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka hidup yang berhubungan dengan perhatian, harapan, standar hidup, kesenangan, dan tujuan hidup mereka. Hal ini merupakan konsep luas yang terangkum secara kompleks mencakup

(47)

kesehatan fisik, kondisi psikologis, derajat kebebasan, hubungan sosial, keyakinan individu dan hubungan seseorang dengan lingkungannya (WHO dalam Isa & Baiyewu 2006).

Menurut WHO dalam Skevington (2004), kualitas hidup merupakan persepsi seseorang tentang posisinya dalam hidup dalam kaitannya dengan budaya dan sistem tata nilai dimana ia tinggal dalam hubungannya dengan tujuan, harapan, standar, dan hal-hal menarik lainnya. Selain itu, menurut WHO dalam Skevington (2004) juga mendefinisikan kualitas hidup sebagai suatu kesejahteraan yang dirasakan oleh seseorang dan berasal dari kepuasan atau ketidakpuasan dengan bidang kehidupan yang penting bagi mereka.

Kualitas hidup yang baik pada penderita DM merupakan perasaan puas dan bahagia akan hidupnya secara umum khususnya hidup dengan DM tersebut (Kurniawan, 2008).

Menurut Post, Witte, dan Schrijvers (1999), ada tiga cara yang dapat digunakan untuk mengoperasionalkan konsep dari kualitas hidup yaitu melihat kualitas hidup sebagai kesehatan, sebagai kesejahteraan, dan sebagai konstruk yang bersifat global (superordinate construct).

Secara umum terdapat 5 bidang (domain) yang dipakai untuk mengukur kualitas hidup berdasarkan kuesioner yang dikembangkan oleh WHO dalam Silitonga (2007), bidang tersebut adalah kesehatan fisik, kesehatan psikologik, keleluasaan aktifitas, hubungan sosial dan

(48)

lingkungan, sedangkan secara rinci bidang-bidang yang termasuk kualitas hidup adalah sebagai berikut:

a. Kesehatan fisik (physical health): kesehatan umum, nyeri, energi dan vitalitas, aktifitas seksual, tidur dan istirahat.

b. Kesehatan psikologis (psychological health): cara berpikir, belajar memori dan konsentrasi.

c. Tingkat aktifitas (level of independence): mobilitas, aktifitas sehari- hari, komunikasi, kemampuan kerja.

d. Hubungan sosial (sosial relationship): hubungan sosial, dukungan sosial.

e. Lingkungan (environment), keamanan, lingkungan rumah, kepuasan kerja.

2. Pengukuran Kualitas Hidup

Kualitas hidup terkait kesehatan merupakan suatu variabel abstrak. Kualitas hidup mengandung dua komponen yaitu ungkapan subjektif atau persepsi seseorang dan komponen objektif. Data objektif yang diukur adalah status kesehatan seseorang. Ungkapan subjektif lebih sulit diukur tetapi masih bisa diukur secara tidak langsung dengan menggunakan sekumpulan pertanyaan/kuesioner. Jawaban dari orang tersebut kemudian dikonversi menjadi suatu nilai/skala sehingga bisa diukur secara objektif (Rochmayanti, 2011).

Dalam penelitian ini untuk mengukur kualitas hidup digunakan kuesioner WHOQOLBREF terdiri dari 26 facets yang mencakup 4

(49)

domain dan terbukti dapat digunakan untuk mengukur kualitas hidup seseorang. Keempat domain tersebut adalah: i) kesehatan fisik (physical health) terdiri dari 7 pertanyaan; ii) psikologik (psychological) 6 pertanyaan; iii) hubungan sosial (social relationship) 3 pertanyaan; dan iv) lingkungan (environment) 8 pertanyaan. WHOQOL-BREF juga mengukur 2 facets dari kualitas hidup secara umum yaitu: i) kualitas hidup secara keseluruhan (overall quality of life); dan ii) kesehatan secara umum (general health).

C. Tinjauan Umum Tentang Faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes Melitus Tipe 2 dan pengobatannya dapat memengaruhi kualitas hidup pasien. Kualitas hidup sangat penting bagi pasien diabetes dan pemberi layanan kesehatan. Ada beberapa faktor yang memengaruhi kualitas hidup penderita DM tipe 2 yaitu sebagi berikut:

1. Tinjauan Umum tentang Depresi

Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah, menarik diri dari orang lain, tidak dapat tidur, kehilangan selera makan, hasrat seksual dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan. Depresi sering kali berhubungan dengan berbagai masalah psikologis lain, seperti serangan panik, penyalahgunaan zat, disfungsi seksual dan gangguan kepribadian (Davison et al, 2006). Depresi sebagai suatu gangguan suasana hati yang dicirikan dengan tidak ada harapan dan

(50)

patah hati, ketidakberdayaan yang berlebihan, tidak mampu mengambil keputusan untuk memulai suatu kegiatan, tidak mampu untuk berkonsentrasi, tidak punya semangat hidup, selalu tegang dan mencoba untuk bunuh diri (Lubis, 2009). Episode depresi biasanya berlangsung selama kurang dari 9 bulan, tetapi pada 15 - 20% penderita bisa berlangsung selama 2 tahun atau lebih.

Penelitian Ikeda et al dalam Skarbek (2006) yang menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan, depresi, efikasi diri, regulasi gula darah, dan mekanisme koping pada pasien DM tipe 2.

Diperkirakan 10,9% sampai 32,9% pasien DM mengalami depresi. Gejala depresi yang terjadi ditandai dengan perasaan tidak berdaya, tertekan, sedih, perasaan tidak berharga pada pasien DM tipe 2 yang dapat timbul karena terjadinya penurunan kondisi fisik, munculnya komplikasi. Depresi dapat memengaruhi motivasi seseorang dalam menyelesaikan tugas dan hasil yang diharapkan. Depresi dapat berkontribusi pada penurunan fungsi fisik dan emosional yang menyebabkan seseorang menjadi kehilangan motivasi untuk melakukan perawatan diri harian secara rutin (Wu et al, 2007).

Pasien DM tipe 2 yang mengalami depresi cenderung lebih mudah menyerah dengan keadaannya dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami depresi. Egede et al dalam Wu et al (2007) menemukan bahwa rata-rata individu dengan DM beresiko 2 kali mengalami depresi dibandingkan dengan individu yang sehat, dan pasien DM yang mengalami

(51)

depresi beresiko 4,5 kali mengeluarkan biaya lebih mahal dibandingkan dengan pasien DM yang tidak mengalami depresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang tidak mengalami depresi memiliki efikasi diri yang baik.

Lovibond (1995) memberikan standar tentang kategori depresi berdasarkan kuesioner DASS yang terdiri dari 42 pertanyaan. Kategori depresi dalam kuesioner ini adalah normal (0-9), lembut (10-13), cukup (14- 20), berat (21-27) dan sangat berat (28+). Dalam penelitian ini dikategorikan bahwa depresi berat bila rentang skor ≥ 21 dan ringan dikategorikan dengan rentang skor <21.

Tabel 3. Sintesa Hasil Penelitian terkait Depresi terhadap Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2

No Judul dan Sumber Jurnal

Peneliti (tahun)

Metode Penelitian

Temuan Subjek Instrumen Desain

Penelitian 1 Relationship of

Depression and Diabetes Self-Care, Medication Adherence, and

Preventive CareSumber (http://care.diabe

tesjournals.org)

(Elizabet h et al,

2004)

4.463 pasien DM yang diperoleh dari

gabungan beberapa Pelayanan Kesehatan di

Washington

Kuesioner Patient Health untuk mengukur

tingkat depresi

Cross sectional

Depresi memengaruhi kepatuhan pasien DM terhadap pengobatan dan pemeriksaan gula

darah sehingga memengaruhi kualitas

hidup.

2 The Prevalence of Comorbid

Depression in Adults With DiabetesSumber (http://care.diabe tesjournals.org)

Anderso net al (2001)

21.351 subjek dari

42 studi tentang depresi dan

diabetes

Menggunak an uji chi square dan

uji OR

Meta Analisis

Nilai OR untuk kemungkinan depresi pada pasien DM adalah 5,2 LL-Ul

(1,8 – 2,2)

Sumber : Elizabeth (2004), Anderson (2001)

(52)

2. Tinjauan Umum Tentang Kecemasan

Kecemasan merupakan kondisi perasaan yang tidak menyenangkan yang merujuk pada rasa khawatir, takut, was-was, yang ditimbulkan oleh pengaruh ancaman atau gangguan terhadap sesuatu yang belum terjadi dan sangat mengganggu aktivitas. Kecemasan merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir disertai dengan gejala somatik yang menandakan suatu kegiatan berlebihan dari susunan saraf autonom (SSA). Kecemasan merupakan perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan dan sering disertai gejala fisiologis. Kecemasan merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang sering merupakan satu fungsi emosi disertai dengan rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besar. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah (Hutagalung, 2007).

Penyebab gangguan kecemasan kurang jelas. Gejala muncul biasanya disebabkan interaksi dari aspek-aspek biopsikososial termasuk genetik dengan beberapa situasi, stres atau trauma yang merupakan stresor munculnya gejala ini. Penyakit kronis diabetes melitus misalnya, merupakan salah satu pemicu terjadinya kecemasan. Mekanisme terjadinya kecemasan belum diketahui dengan pasti, tetapi kecemasan diperantarai oleh suatu sistem kompleks yang melibatkan sistem limbik (amigdala, hipokampus), thalamus, korteks frontal secara anatomis dan norepinefrin (lokus seruleus), serotonin (nucleus rafe dorsal), dan GABA

(53)

(reseptor GABA berpasangan dengan reseptor benzodiasepin) pada sistem neurokimia, yang mana hingga saat ini belum diketahui jelas bagaimana kerja bagian-bagian tersebut menimbulkan anxietas. Sistem saraf pusat memegang peranan penting dalan kejadian gejala ini. Sistem saraf pusat memproduksi beberapa mediator utama dari gejala ini yaitu: norepinephrine dan serotonin (Ashadi, 2009).

Penyakit DM sebagai penyakit kronis yang banyak menimbulkan komplikasi dan membutuhkan biaya perawatan tinggi yang berkelanjutan.

Pasien akan mengalami gangguan fisik, psikis, sosial, dan menimbulkan beban ekonomi yang berat. Keadaan penyakit dan komplikasi ini berpotensi menimbulkan stresor yang sifatnya kronis bagi pasiennya. Kondisi kompleks ini selain memengaruhi integritas fisik juga akan mengancam integritas psikologis pasien. Kondisi psikologis yang sering muncul pada pasien DM berupa kecemasan. Kecemasan merupakan gejala yang umum dialami oleh pasien DM selain gangguan kesehatan lain diakibatkan oleh DM (Collins et all, 2008).

Penyebab kecemasan diantaranya oleh karena kurangnya manajemen penyakit yang tepat, biaya perawatan yang tinggi, kendala karena jumlah hari sakit yang panjang, risiko kematian yang tinggi, konsekuensi dari regimen terapi, dan komplikasi yang bervariasi dari ringan sampai berat, berhubungan dengan kontrol kadar gula yang kurang, dan meningkatnya risiko penyakit koroner. Kejadian kecemasan bervariasi pada individu. Kecemasan terutama dijumpai pada pasien yang baru didiagnosis

(54)

penyakit ini. Penanganan pasien dengan Diabetes Mellitus harus ditujukan kepada masalah psikis, fisik, sosial, dan ekonomi. Tenaga Kesehatan harus mempunyai perhatian lebih pada masalah psikis yang dialami pasien, dengan memberikan terapi suportif yang dibutuhkan pasien (Li, 2008).

Lovibond (1995) memberikan standar tentang kategori kecemasan berdasarkan kuesioner DASS yang terdiri dari 42 pertanyaan. Kategori depresi dalam kuesioner ini adalah normal (0-7), lembut (8-9), cukup (10- 14), berat (15-19) dan sangat berat (20+). Dalam penelitian ini dikategorikan bahwa depresi berat bila rentang skor ≥ 15 dan ringan dikategorikan dengan rentang skor <15.

Tabel 4. Sintesa Hasil Penelitian terkait Kecemasan terhadap Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2

No Judul dan Sumber Jurnal

Peneliti (tahun)

Metode Penelitian

Temuan Subjek Instrumen Desain

Penelitian 1 Psychology

Anxiety and Depression Symptoms in Patients with

Diabetes Sumber (https://www.pu

bmed.com)

(Collins et al , 2008)

2.049 pasien dengan DM

Tipe 1 dan Tipe 2 di beberapa pelayanan kesehatan di

Irlandia

Kuesioner Hospital Anxiety and Depression

Scale

Cross sectional

Berdasarkan HADS, ada bukti dari tingkat kecemasan tinggi dan gejala depresi pada pasien dengan diabetes; 32,0 (95%

confidence interval=

29,5-34,6

2 A longitudinal study of affective and

anxiety disorders, depressive

affect and diabetes distress in adults with Type

2 diabetes Sumber (http://www.pub medi.com/journ

als/

Fisher et al (2008)

572 pasien yang terdaftar di

rekam medis dari

14 pusat pelayan kesehatan

Obesrvasi menggunak

an kuesioner

untuk melihat

tingkat kecamasan dan depresi

Studi non intervensi selama 18 bulan

Pasien diabetes menggambarjan tingginya tingkat gangguan afektif dan kecemasan dari waktu

ke waktu, tergantung dari komunitas pasien

dewasa

Sumber : Collins (2008), Fisher (2008)

(55)

3. Tinjauan Umum Tentang Komplikasi

Komplikasi diabetes bisa terjadi dalam kategori komplikasi metabolisme akut. Komplikasi ini terjadi akibat perubahan yang relatif akut dari kadar glukosa plasma. Hal ini akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi individu yang bersangkutan. Kategori lainnya adalah komplikasi vaskuler jangka panjang baik mikrovaskuler maupun makrovaskuler tentunya akan merusak fungsi bagian tubuh yang terkena.

Penyakit-penyakit seperti infark miokardium, angina pektoris, neuropati, nefropati, katarak, hipertensi merupakan beberapa contoh penyakit yang dapat muncul pada pasien DM tipe 2 sebagai akibat gangguan pada vaskuler tersebut

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa penyakit DM tipe 2 dapat meningkatkan resiko pasien untuk mengalami ketidakmampuan baik secara fisik,. psikologis dan sosial yang diakibatkan komplikasi DM tipe 2 yang dialami. Keluhan yang menyertai DM tipe 2 terutama hipertensi, neuropati seperti rasa kesemutan, nyeri, rasa panas pada telapak kaki, rasa kebas pada kaki paling sering dirasakan oleh responden. Gejala yang dirasakan dan komplikasi yang dialami mengakibatkan keterbatasan baik dari segi fisik, psikologis bahkan sosial. Gangguan fungsi dan perubahan tersebut akan berdampak terhadap kualitas hidup pasien DM tipe 2.

Komplikasi seperti halnya hipoglikemia merupakan keadaan gawat darurat yang dapat terjadi pada perjalanan penyakit DM. Isa & Baiyewu (2006), dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa pada umumnya pasien

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan kualitas hidup pasien DM tipe 2 pada semua aspek kesehatan antara lain fungsi fisik, fungsi sosial, kesehatan

Based on this description, the researcher is interested in describing the relationship between self-care and quality of life in type 2 diabetes mellitus patients at

Based on the results of the study, it was found that there was a significant relationship between self- esteem and diabetes distress in type 2 DM patients with a correlation value

examination of acid secretion was done by measuring the gastric pH of the dypepsia patients. Gastric pH of dyspepsia patients with DM was compared to dyspepsia patients without

Tabel 6 menunjukkan bahwa pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan kualitas tidur baik cenderung memiliki kadar gula dalam darah normal yaitu berjumlah 8 orang (66,7%)

The objective of this study is to determine the average of quality of life’s score in diabetes mellitus patients who use monotherapy and combination therapy of antidiabetic oral in

Self-efficacy in type 2 diabetes mellitus patients focuses on patient confidence to be able to perform behaviors that can support the improvement of their disease and improve self-care

Prevalensi penderita diabetes mellitus mengalami peningkatan pada tahun Hubungan Kualitas Diet dengan Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Kota Yogyakarta The