HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian
4. Pembahasan Hasil Penelitian
Pada regresi logistik, uji signifikansi pengaruh parsial dapat diuji
dengan uji wald. Nilai statistik dari uji wald berdistribusi chi-kuadrat.
Pengambilan keputusan terhadap hipotesis dapat dilakukan dengan
B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Step 1 Leverage 0.016 0.049 0.103 1 0.748 1.016 Company Growth -0.115 0.055 4.430 1 0.035 0.891 Firm Size -0.142 0.176 0.652 1 0.419 0.867 Debt Default 2.067 0.523 15.611 1 0.000 7.900 Reputasi KAP -2.697 0.677 15.852 1 0.000 0.067 Constant 3.002 5.117 0.344 1 0.557 20.123
75
menggunakan pendekatan nilai probabilitas dari uji wald. Hasil uji signifikansi
model secara parsial dapat dilihat pada Tabel 4.11 (variables in the equation).
H1: Leverage (X1) Berpengaruh Positif Terhadap Opini Audit Going Concern (Y).
Berdasarkan tabel 4.11, leverage (X1) menunjukkan nilai koefisien
positif sebesar 0.016 dengan signifikansi sebesar 0.748 dan lebih besar dari 0,05
(5%) yang berarti variabel leverage (X1) memiliki hubungan yang searah
dengan hipotesis tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap opini audit
going concern (Y) sehingga H1 ditolak.
Hal ini dikarenakan perusahaan dalam penggunaan hutang pada tingkat
tertentu akan dapat mengurangkan biaya modal perusahaan karena biaya atas
hutang merupakan pengurangan atas pajak perusahaan, dan dapat meningkatkan
harga saham, dimana pada akhirnya hal ini akan menguntungkan manajemen,
investor, kreditor dan perusahaan. Kebijakan hutang pada tingkat tertentu
merupakan suatu praktek untuk memaksimalkan utility dan nilai pasar
perusahaan, dimana hal ini juga merupakan bagian praktik manajemen laba.
Selain itu, jika perusahaan memiliki perencanaan dan kemampuan pengelolaan
keuangan dengan baik, serta mampu menyajikan laporan keuangan dengan
yang wajar, maka perusahaan tersebut tidak akan mendapatkan opini audit
going concern meskipun rasio leverage perusahaan tersebut tinggi. Auditor tidak hanya mempertimbangkan rasio leverage saja dalam memutuskan suatu
76
mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti kerugian operasi yang terjadi
secara berulang atau dampak kondisi ekonomi nasional lokasi tempat
perusahaan berada (Yuliyani & Erawati, 2017).
Rasio leverage yang tinggi juga bisa mengindikasikan bahwa
perusahaan tersebut lebih di percaya oleh kreditor dan tentu saja sebelum
memberikan pinjaman, seorang kreditor sudah memperhitungkan mengenai
kelangsungan hidup perusahaan sehingga perusahaan tersebut dapat membayar
pokok dan bunga sesuai dengan jangka waktu tempo yang telah ditentukan.
Kaitannya dengan agency theory yaitu bahwa leverage adalah salah satu cara
mekanisme bagi agent untuk meminimumkan masalah keagenan dengan
principal. Adanya struktur modal perusahaan yang baik dalam hal ini pengelolaan kebijakan leverage yang benar, memungkinkan untuk perusahaan
memberikan dividen kepada stakeholder yang lebih besar jika dibandingkan
dengan rasio leverage yang lebih kecil. Sehingga menunjukkan bahwa rasio
leverage yang tinggi tidak selalu bisa untuk dijadikan indikator bahwa perusahaan tersebut memiliki masalah going concern.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Yuliyani
& Erawati (2017) dan Nursasi & Maria (2015) yang menemukan bahwa
leverage tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern.
H2: Company Growth (X2) Berpengaruh Negatif Terhadap Opini Audit Going Concern (Y).
77
Berdasarkan tabel 4.11, company growth (X2) menunjukkan nilai
koefisien negatif sebesar 0.115 dengan signifikansi sebesar 0.035 dan lebih
besar dari 0,05 (5%) yang berarti company growth (X2) memiliki hubungan
yang searah dengan hipotesis dan berpengaruh secara signifikan terhadap opini
audit going concern (Y) sehingga H2 diterima.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai
pertumbuhan yang baik jika dilihat dari rasio net income growth lebih memiliki
sedikit kemungkinan untuk mendapatkan opini audit going concern dari
auditor. Hal ini bisa terjadi karena dengan adanya pertumbuhan laba bersih
perusahaan menunjukkan aktivitas operasional perusahaan berjalan dengan
semestinya sehingga perusahaan dapat mempertahankan posisi ekonominya
dan kelangsungan hidupnya (Suharsono, 2018).
Jika pertumbuhan perusahaan negatif dalam hal ini net income growth
dari tahun ke tahun atau bahkan mengalami kerugian, akan memberikan
dampak yang signifikan terhadap cash flow perusahaan yang berakibat
perusahaan tidak bisa untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya. Kerugian
yang terjadi terus menerus juga bisa menjadi indikator bahwa market tidak lagi
tertarik dengan produk yang ditawarkan oleh perusahaan. Seperti contohnya
dalam perusahaan pertambangan dengan salah satu produknya yaitu batubara
yang saat ini sudah ada produk lain yang bisa menggantikannya dan lebih ramah
terhadap lingkungan. Kaitannya dengan signalling theory yaitu pertumbuhan
perusahaan yang negatif menunjukkan sebagai sinyal awal kebangkrutan untuk
78
yang dikelolanya akan tetap menjalankan kegiatan operasinya di masa yang
akan datang.
Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa perusahaan yang
mengalami pertumbuhan laba menuju arah yang positif atau positive growth
akan semakin kecil kemungkinan perusahaan mendapatkan opini audit going
concern oleh auditor. Sementara perusahaan dengan rasio net income growth yang negatif mengindikasikan mengalami penurunan laba sehingga perusahaan
akan semakin sulit untuk membiayai kegiatan operasinya di masa yang akan
datang. Tren negatif ini dapat menyebabkan auditor memberikan opini going
concern pada perusahaan tersebut.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Krissindiastuti & Rasmini (2016) yang menemukan bahwa pertumbuhan
perusahaan/company growth berpengaruh negatif terhadap opini audit going
concern.
H3: Firm Size (X3) Berpengaruh Negatif Terhadap Opini Audit Going Concern (Y).
Berdasarkan tabel 4.11, firm size (X3) menunjukkan nilai koefisien
negatif sebesar 0.142 dengan signifikansi sebesar 0.419 dan lebih besar dari
0,05 (5%) yang berarti firm size (X3) memiliki hubungan yang searah dengan
hipotesis tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap opini audit going
79
Perusahaan besar dapat menerima opini audit going concern. Hal ini
terjadi karena walaupun jumlah total aset yang dimiliki perusahaan besar,
namun laporan posisi keuangan perusahan tidak baik, misalnya kondisi hutang
perusahaan yang lebih besar dari aset yang dimiliki karena aset perusahaan
ternyata berasal dari dana pinjaman kreditor. Perusahaan besar juga bisa
menerima opini going concern karena sistem pengendalian internal pada
perusahaan kurang efektif dan efisien, terjadi kecurangan atau manipulasi yang
dilakukan manejemen yang tidak diketahui karena sistem pengendalian internal
yang rumit, sehingga rentan terjadi manipulasi dalam perusahaan.
Kelangsungan hidup usaha biasanya dihubungkan dengan kemampuan
manajemen dalam mengelola perusahaan agar tetap bertahan hidup. Oleh
karena itu, meskipun suatu perusahaan tergolong dalam perusahaan kecil akan
tetap bertahan hidup dalam jangka waktu yang panjang karena memiliki
manajemen dan kinerja yang bagus sehingga semakin kecil potensi perusahaan
mendapatkan opini audit going concern (Krissindiastuti & Rasmini, 2016).
Perusahaan yang besar tidak bisa menjadikan indikator bahwa
perusahaan tersebut memiliki manajemen yang lebih baik jika dibandingkan
dengan perusahaan dengan skala yang lebih kecil. Kaitannya dengan agency
theory yaitu perusahaan besar memiliki biaya keagenan yang lebih besar jika dibandingkan dengan perusahaan kecil sehingga dengan kompleksitas
perusahaan besar yang lebih tinggi, memungkinkan untuk seorang agent
melakukan suatu kebijakan yang tidak seluruhnya diketahui oleh principal
80
luas terhadap perusahaan dan dapat menentukan kelangsungan hidup
perusahaan itu sendiri. Auditor dalam memberikan opini going concern selalu
bersikap independen dan objektif. Penelitian ini membuktikan bahwa auditor
akan tetap memberikan opini going concern pada perusahaan besar meskipun
perusahaan besar menawarkan fee audit yang lebih besar kepada auditor.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Rahmawati et al. (2018) serta Krissindiastuti & Rasmini (2016) yang
menemukan bukti empiris bahwa ukuran perusahaan/firm size tidak
berpengaruh terhadap opini going concern.
H4: Debt Default (X4) Berpengaruh Positif Terhadap Opini Audit Going Concern (Y).
Berdasarkan tabel 4.11, debt default (X4) menunjukkan nilai koefisien
positif sebesar 2.067 dengan signifikansi sebesar 0.000 dan lebih kecil dari 0,05
(5%) yang berarti debt default (X4) memiliki hubungan yang searah dengan
hipotesis dan berpengaruh secara signifikan terhadap opini audit going concern
(Y) sehingga H4 diterima.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa debt default berpengaruh
signifikan terhadap opini audit going concern karena adanya fluktuasi nilai
tukar rupiah mengakibatkan jumlah hutang perusahaan dalam mata uang asing
meningkat secara signifikan, disamping itu banyak perusahaan yang mengalami
81
dengan target yang ingin dicapai, sehingga mempengaruhi kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban pokok dan beban bunga.
Kegagalan pembayaran utang tersebut juga berdampak langsung pada
kegiatan operasi di tahun berikutnya, ancaman ini timbul karena perusahaan
tidak memiliki modal yang cukup untuk terus menjalankan bisnisnya. Ketika
hal itu terjadi, masa depan perusahaan juga tidak bisa dipastikan karena kreditor
akan ragu untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan kembali. Kaitannya
dengan signalling theory yaitu kegagalan bayar pada kewajiban pokok dan
beban bunga menjadi sinyal bahwa cash flow perusahaan sedang terganggu
sehingga tidak bisa membayar kewajiban jangka pendeknya. Jika hal ini terus
terjadi maka akan berakibat going concern perusahaan tersebut dipertanyakan.
Oleh sebab itu, debt default adalah indikator yang banyak digunakan auditor
dalam memberikan keputusan opini audit going concern.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Trenggono & Triani (2015), Mariana, Kuncoro, & Ryando (2018) dan Imani,
Nazar, & Budiono 2017) yang menjelaskan bahwa debt default berpengaruh
positif terhadap opini audit going concern.
H5: Reputasi Kantor Akuntan Publik (X5) Berpengaruh Negatif Terhadap Opini Audit Going Concern (Y).
Berdasarkan tabel 4.11, reputasi kantor akuntan publik (X5)
menunjukkan nilai koefisien negatif sebesar 2.697 dengan signifikansi sebesar
82
(X5) memiliki hubungan yang searah dengan hipotesis dan berpengaruh secara
signifikan terhadap opini audit going concern (Y) sehingga H5 diterima.
Hasil penelitian ini menunjukkan semakin baik reputasi kantor akuntan
publik maka akan semakin rendah kemungkinan perusahaan mendapatkan opini
audit going concern pada auditee dengan asumsi variabel lainnya dianggap
konstan. KAP yang berafiliasi dengan The Big Four ataupun tidak mereka
mempunyai kode etik untuk selalu bersikap objektif, independen dan senantiasa
menggunakan kemahiran profesional dalam melakukan pekerjaannya, sehingga
baik auditor yang berafiliasi dengan The Big Four ataupun tidak akan tetap
memberikan opini going concern pada perusahaan yang mengalami masalah
keberlangsungan usaha. Sampel pada penelitian ini menunjukkan meskipun
lebih banyak perusahaan yang menggunakan jasa auditor KAP Big Four
dibandingkan dengan KAP non-Big Four, KAP non-Big Four tersebut tetap
menunjukkan professionalitasnya dengan memberikan opini audit going
concern terhadap pada perusahaan yang memiliki masalah keberlangsungan hidup karena pemberian opini audit going concern ini memang didasarkan pada
kondisi keuangan suatu perusahaan itu sendiri.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Kusumayanti & Widhiyani (2017) yang menemukan bahwa reputasi kantor
83 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dan mengacu pada perumusan
serta tujuan dari penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan
sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan
bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern.
2. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan
bahwa company growth berpengaruh negatif terhadap opini audit going
concern.
3. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan
bahwa firm size tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern.
4. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan
bahwa debt default berpengaruh positif terhadap opini audit going concern.
5. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan
bahwa reputasi kantor akuntan publik berpengaruh negatif terhadap opini
84 B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini telah diusahakan dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur
ilmiah, namun demikian masih memiliki keterbatasan yaitu:
1. Penelitian menggunakan data sekunder sehingga analisis data yang
digunakan oleh penulis sangat bergantung pada hasil dari publikasi data
yaitu laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan dijadikan sebagai
data mempunyai keterbatasan karena setiap perusahaan memiliki metode
dan kebijakan akuntansi yang berbeda meskipun beberapa peraturan telah
diatur di dalam PSAK.
2. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini hanya menggunakan
perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
sehingga tidak dapat digeneralisasikan pada jenis industri lain.
C. Saran
Berdasarkan keterbatasan penelitian tersebut, maka diajukan
saran-saran sebagai berikut:
1. Untuk peneliti selanjutnya yang ingin kembali melakukan penelitian
mengenai opini audit going concern dapat menggunakan variabel-variabel
independen lain seperti opinion shopping, opini audit tahun sebelumnya,
audit client tenure, audit lag, dan disclosure level. Selain itu, penelitian selanjutnya juga dapat menambahkan variabel moderasi yang berfungsi
untuk memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel
85
2. Untuk variabel penelitian yang belum berpengaruh secara signifikan
diharapkan dapat menggunakan alat ukur variabel lain seperti contohnya
pada variabel leverage yang menggunakan debt to asset ratio sebagai alat
pengukurnya dapat diganti dengan alat ukur lain seperti times interest
earned ratio sehingga dapat ditemukan hasil penelitian yang berbeda. 3. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambahkan jumlah data
perusahaan maupun industri lain untuk dijadikan penelitian.
4. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan tahun periode yang
lebih baru sebagai penelitian sehingga dapat menunjukkan keadaan
86