• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan nilai sig > 0,05 (0,755 > 0,05) ini berarti hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat pengaruh penggunaan media pembelajaran animasi dan KIT IPA terhadap prestasi belajar siswa diterima, dan hipotesis alternatif yang menyatakan terdapat pengaruh penggunaan media pembelajaran animasi dan KIT IPA terhadap prestasi belajar siswa ditolak. Hal ini bermakna, baik media pembelajaran animasi maupun KIT IPA sama-sama tidak memberikan efek yang signifikan terhadap perbedaan prestasi belajar siswa. Jika

commit to user

diperhatikan kembali tabel 4.3 rerata kelompok eksperimen I dan eksperimen II masing-masing 75,53 dan 73,80, nilai ini menunjukkan kedua kelompok memiliki prestasi sama-sama baik dan jumlah perosentase siswa yang memperoleh nilai diatas KKM lebih dari 50% yaitu 70,59% kelolompok eksperimen I dan 62,89% kelompok eksperimen II.

Media pembelajaran animasi cukup memberikan kemudahan pada siswa, karena materi pembelajaran sudah tersedia dalam file-file komputer, siswa tinggal mengoperasikan komputer sesuai dengan pengelompokan masing-masing. Disamping itu media pembelajaran animasi memiliki tampilan yang menarik, dilengkapi dengan warna dan gerakan-gerakan yang seolah-olah menyerupai aslinya. Beberapa fungsi dari media khususnya media visual yaitu; fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. Fungsi atensi mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual. Fungsi afektif yaitu gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa. Fungsi kognitif yaitu gambar atau lambang visual dapat memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan. Fungsi kompensatoris yaitu media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasi siswa yang lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.

KIT IPA merupakan sekumpulan alat-alat IPA yang digunakan untuk melakukan percobaan, dengan melakukan percobaan sendiri siswa diharapkan memiliki konsep yang kuat terhadap materi pelajaran yang dilakukan, siswa dengan bebas melakukan kreasi dan pengamatan terhadap percobaan sehingga konsep yang

commit to user

didapatkan siswa langsung diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan. Tentu hal ini lebih baik jika dibandingkan dengan siswa hanya menerima materi pelajaran dari guru atau sekedar membaca buku. Sebagaimana pernyataan yang mengungkapkan, alat peraga dapat membantu siswa untuk berpikir logis dan sistematis sehingga mereka pada akhirnya mempunyai pola pikir yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Alat peraga berfungsi membantu guru dalam memberikan penjelasan konsep, merumuskan dan membentuk konsep, melatih siswa dalam keterampilan memberi/percobaan, penguatan konsep pada siswa, melatih siswa dalam pemecahan masalah, dan mendorong siswa berpikir kritis.

Model pembelajaran CTL dimaksudkan agar setiap langkah pembelajaran memiliki alur dan mekanisme yang jelas, model CTL menekankan perpaduan antara pengalaman yang sudah diperoleh siswa dengan materi pembelajaran yang baru diperoleh sehingga akan terjadi asimilasi maupun akomodasi pada pengetahuan siswa tersebut. Model pembelajaran CTL dikolaborasikan dengan media pembelajaran animasi dan KIT IPA dengan tujuan agar siswa lebih mudah menghubungkan pengalaman yang sudah ada dengan konsep baru yang didapatkan.

Tetapi berdasarkan hasil uji hipotesis tidak demikian, justru berbeda dengan ulasan di atas bahwa tidak terdapat pengaruh penggunaan media pembelajaran animasi dan KIT IPA terhadap prestasi belajar fisika siswa. Ini bukan berarti semua argumen yang menyangkut kelebihan kedua media tersebut tidak benar, justru sebaliknya teori-teori yang sudah diungkapkan di atas benar, karena prestasi belajar baik kognitif maupun afektif kedua kelompok yang menggunakan media tersebut sama-sama baik. Ini kemungkinan juga disebabkan oleh pemberian modul kepada

commit to user

kedua kelompok disetiap akhir pembelajaran, kemungkinan lainnya adalah karena kedua kelompok memiliki rasa persaingan yang tinggi, ini dilihat dari motivasi berprestasi kedua kelompok sama-sama tinggi. Sehingga selalu antausias dalam mengikuti pembelajaran.

2. Hipotesis Kedua

Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan nilai sig > 0,05 (0,335 > 0,05) ini berarti hipoteis nol yang menyatakan tidak terdapat pengaruh gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar siswa diterima dan hipotesis alternatif yang menyatakan terdapat pengaruh gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar siswa ditolak. Ini berarti baik gaya belajar visual maupun kinestetik tidak memiliki implikasi yang signifikan terhadap perbedaan prestasi belajar siswa. Jika ditinjau landasan teori pada bab II, gaya belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa apalagi didukung oleh media pembelajaran yang digunakan cukup relevan dengan kedua kategori gaya belajar.

Jumlah siswa kategori gaya belajar visual lebih banyak daripada jumlah siswa kategori gaya belajar kinestetik, rerata prestasi belajar baik kognitif maupun afektif kategori gaya belajar visual sama-sama baik yaitu 75,70 untuk kognitif dan 77,82 untuk afektif. Kemudian pada kelompok eksperimen II yang menggunakan KIT IPA, kemampuan kinestetik siswa tergolong tinggi. Sehingga lebih mudah menerima dan mengelola informasi yang didapatkan dan hal ini berdampak positif terhadap hasil belajar baik kognitif maupun afektif siswa kategori gaya belajar kinestetik, hal ini terlihat dari rerata yang diperoleh cukup baik yaitu 73,30 untuk kognitif dan 75,83 untuk afektif. Tidak memiliki pengaruh tidak selamanya bermakna negatif, ini

commit to user

terbukti dari rerata kedua kelompok sama-sama baik dan jumlah prosentase siswa yang memperoleh nilai diatas KKM lebih dari 50% yaitu 71,79% untuk gaya belajar visual dan 60,00% untuk gaya belajar kinestetik). Tetapi dinyatakan, gaya belajar tidak memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar siswa dikarenakan selisih rerata kedua kategori gaya belajar tidak signifikan. Jika diperhatikan hasil belajar kedua kategori sama-sama baik, sehingga pengkategorian sepertinya tidak berarti. Hal ini diduga karena hasil pengelompokan siswa kedalam kategori gaya belajar berdasarkan skor angket masih belum valid, kemungkinan disebabkan siswa tidak serius dalam memberikan jawaban/pernyataan dan ketekunan siswa belajar diluar sekolah juga berpengaruh karena kedua kelompok diberikan materi tambahan berupa modul pembelajaran.

3. Hipotesis Ketiga

Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan tidak terdapat pengaruh, ini disebabkan oleh nilai Sig > 0,05 (0,395 > 0,05). Jadi hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat pengaruh motivasi berprestasi tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa diterima dan hipotesis alternatif yang menyatakan sebaliknya ditolak. Rerata siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi adalah 75,54 untuk kognitif dan 77,02 untuk afektif. Sedangkan rerata siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah 73,63 untuk kognitif dan 76,88 untuk afektif. Rerata tersebut sama-sama baik dan prosentase siswa yang memperoleh nilai diatas KKM lebih dari 50% yaitu 72,97% untuk motivasi berprestasi tinggi dan 50,38% untuk motivasi berprestasi rendah. Jadi motivasi berprestasi memiliki pengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa baik kognitif maupun afektif. Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukanan

commit to user

pada bab II mengenai pengaruh motivasi terhadap aktivitas seseorang sangatlah menentukan, hal ini sebagaimana ungkapan yang menyatakan: Ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran. Pertama menentukan hal-hal yang dapat dijadikan penguat belajar, kedua memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai, dan ketiga menentukan ketekunan belajar

Motivasi dapat berperan dalam penguat belajar apabila seorang siswa dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan, sehingga masalah tersebut hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal yang pernah dilaluinya. Peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kebermaknaan dalam belajar. Siswa akan tertarik untuk belajar sesuatu jika yang dipelajari itu akan memberikan manfaat dan paling tidak dapat dinikmati bagi yang melakukan belajar. Peran motivasi dalam menentukan ketekunan belajar siswa, jika siswa telah termotivasi maka mereka akan berusaha mempelajari sesuatu dengan baik dan tekun, dengan harapan mereka akan dapat memperoleh hasil yang diharapkan. Akan tetapi sebaliknya jika tidak ada motivasi maka belajar tidak akan tahan lama dan mudah terpengaruh untuk melakukan kegiatan yang lain. Hal itu berarti bahwa motivasi dapat menentukan ketekunan dalam belajar.

Pernyataan yang mengatakan tidak terdapat pengaruh motivasi berprestasi tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa mengandung arti, antara siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah tidak memiliki perbedaan prestasi belajar yang signifikan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh motivasi berprestasi tinggi yang dimiliki siswa adalah motivasi ekstrinsik sehingga tidak dapat bertahan lama, kesungguhan siswa dalam

commit to user

menjawab angket, dan ketekunan siswa belajar diluar jam sekolah. Walaupun demikian prestasi belajar kognitif dan afektif kedua kategori sama-sama baik.

4. Hipotesis Keempat

Hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan tidak terdapat interaksi, hal ini disebabkan nilai sig > 0,05 (0,275 > 0,05) dengan kata lain hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat interaksi antara media pembelajaran animasi dan KIT IPA dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa diterima dan hipotesis alternatif yang menyatakan terdapat interaksi antara media pembelajaran animasi dan KIT IPA dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa ditolak. Berdasarkan landasan teori yang telah dikemukakan pada bab II, anata media pembelajaran animasi dengan gaya belajar visual memiliki hubungan yang konstruktif. Karena ciri khas orang/siswa yang memiliki gaya belajar visual sesuai dengan media pembelajaran animasi, sebagaimana yang disebutkan pada landasan teori, setiap orang (terutama pelajar visual) lebih mudah belajar jika dapat melihat apa yang sedang dibicarakan seseorang penceramah atau sebuah buku atau program komputer. Berkaitan dengan hal di atas, disebutkan juga ciri-ciri orang visual adalah: rapi dan teratur, perencana dan pengatur jangka panjang yang baik, teliti terhadap detail, mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar, mengingat dengan asosiasi visual, mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis.

Demikian juga KIT IPA dengan gaya belajar kinestetik memiliki hubungan yang saling menguatkan, hal ini sesuai dengan ciri khas orang/siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik adalah: selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak, belajar melalui manipulasi dan praktik, menggunakan jari sebagai penunjuk ketika

commit to user

membaca, banyak menggunakan isyarat bahasa tubuh, ingin melakukan segala sesuatu, dan menyukai permainan yang menyibukkan.

Oleh karena itu, walaupun tidak terdapat interaksi antara media

pembelajaran animasi dan KIT IPA dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar fisika siswa. Namun terbukti rerata prestasi belajar kelompok yang menggunakan media pembelajaran animasi dan KIT IPA sama-sama baiknya demikian juga rerata kedua gaya belajar memiliki kategori sama baiknya. Dugaan yang paling kuat penyebab terjadinya hal ini adalah keseriusan siswa dalam menjawab angket kelihatan tidak maksimal, sehingga belum dapat diidentifikasi gaya belajar siswa sebenarnya, dugaan lainnya adalah pemberian modul pada siswa disetiap akhir pembelajaran.

5. Hipotesis Kelima

Hasil keputusan pengujian hipotesis keliman menyebutkan tidak terdapat interaksi, hal ini disebabkan nilai sig > 0,05 (0,995 > 0,05) sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat interaksi antara media pembelajaran animasi dan KIT IPA dengan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa diterima dengan demikian hipotesis alternatif yang menyatakan terdapat interaksi antara media pembelajaran animasi dan KIT IPA dengan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa ditolak.

Bagi siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi diajar dengan media apapun kemungkinan hasilnya akan tetap baik, berbeda dengan siswa yang memiliki motivas berprestasi rendah. Namun dalam kasus ini pernyataan tersebut tidak terbukti, artinya baik siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi maupun rendah

commit to user

diajar menggunakan media pembelajaran animasi maupun KIT IPA memiliki prestasi belajar yang sama. Terjadinya hal seperti ini diduga karena pengkategorian siswa berdasarkan skor angket tidak sesuai dengan tingkahlaku yang dicerminkan sehari-hari.

6. Hipotesis Keenam

Hasil keputusan pengujian hipotesis keenam menyatakan tidak terdapat interaksi, hal ini disebabkan nilai sig > 0,05 (0,426 > 0,05) sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat interaksi antara gaya belajar dengan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa diterima dengan demikian hipotesis alternatif yang menyatakan terdapat interaksi antara gaya belajar dengan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa ditolak. Ini berarti gaya belajar dan motivasi berprestasi yang dimiliki siswa tidak memiliki efek singnifikan dalam memberi dampak terhadap prestasi belajar siswa.

Baik siswa yang memiliki gaya belajar visual motivasi berprestasi tinggi, siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik motivasi berprestasi tinggi, siswa yang memiliki gaya belajar visual motivasi berprestasi rendah, dan siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik motivasi berprestasi rendah, semua kategori tersebut tidak memiliki efek terhadap prestasi belajar siswa. Jika diperhatikan ulasan sebelunya kedua kategori gaya belajar siswa sudah cukup relevan dengan media pembelajaran yang digunakan, tetapi memiliki gaya belajar saja tidak cukup membuat prestasi belajar lebih baik jika tidak dimanfaatkan dengan maksimal apalagi gaya belajar yang dimiliki tersebut masih tergolong lemah. Artinya perlu latihan-latihan untuk mengasah gaya belajar yang dimiliki agar lebih peka terhadap lingkungan/objek yang

commit to user

diamati, oleh karena itu dibutuhkanlah motivasi yang kuat supaya tidak mudah berhenti dalam mencoba.

Motivasi tersebut juga harus datang dari diri siswa sehingga bisa bertahan lebih lama pada diri siswa, jika memang tidak demikian, dibutuhkan kemampuan untuk mengubah motivasi ekstrinsik menjadi motivasi intrinsik. Dengan rancangan demikian yaitu media yang relevan terhadap gaya belajar dan didukung oleh motivasi berprestasi yang tinggi diharapkan siswa memiliki prestasi yang memuaskan, tetapi kenyataannya tidak demikian, antara gaya belajar dengan motivasi berprestasi tidak memiliki efek terhadap prestasi belajar siswa walaupun hasil belajar sisiwa sudah cukup baik. Kemungkinan ada faktor-faktor lain berpengaruh dan tidak disadari baik oleh guru maupun siswa, diantaranya: dalam menjawab angket siswa tidak serius. Hal tersebut bisa saja terjadi sehingga berpengaruh terhadap variabel-variabel penelitian. 7. Hipotesis Ketujuh

Hasil keputusan pengujian hipotesis ketujuh menyatakan tidak terdapat interaksi, hal ini disebabkan nilai sig > 0,05 (0,959 > 0,05) sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak terdapat interaksi antara media pembelajaran animasi dan KIT IPA, gaya belajar dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa diterima dengan demikian hipotesis alternatif yang menyatakan terdapat interaksi antara media pembelajaran animasi dan KIT IPA, gaya belajar dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa ditolak.

Telah dijelaskan sebelumnya, berdasarkan landasan teori ketiga variabel bebas tersebut bersifat konstruktif. Dalam artian variabel-variabel tersebut akan saling mendukung untuk memberikan efek terhadap hasil belajar siswa, sebagaimana

commit to user

ungkapan yang menyatakan bahwa, gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari kemampuan menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Jadi gaya belajar erat kaitannya dengan media yang membantu seseorang untuk mendapat informasi dengan lebih mudah dan tahan lama. Selanjutnya diungkapkan juga ciri-ciri gaya belajar visual dan kinestetik, sebagai berikut: ciri-ciri orang visual adalah: rapi dan teratur, perencana dan pengatur jangka panjang yang baik, teliti terhadap detail, mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar, mengingat dengan asosiasi visual, mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis. Ciri-ciri orang kinestetik: selalu berorientasi pada fisik dan banyak bergerak, belajar melalui manipulasi dan praktik, menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca, banyak menggunakan isyarat bahasa tubuh, ingin melakukan segala sesuatu, dan menyukai permainan yang menyibukkan.

Kemudian motivasi berprestasi juga mendukung hal tersebut, sebagaimana ungkapan yang menyatakan bahwa, motivasi dapat disimpulkan dari adanya observasi tingkahlaku. Ketika seseorang mempunyai motivasi positif, maka ia akan: memperhatikan minat, mempunyai perhatian, ingin ikut serta, bekerja keras serta memberikan waktu pada usaha tersebut, dan terus bekerja sampai tugas terselesaikan.

Semua siswa kelihatan antausias dalam belajar karena mereka diberikan kebebasan untuk melakukan aktifitas sendiri, merasa merdeka, tidak tertekan, dan mampu menjawab LKS sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan. Kondisi tersebut berdampak pada prestasi belajar siswa yang bervariatif. Tidak terdapatnya interaksi pada hipotesis ketujuh diduga karena pada hipotesis-hipotesis sebelumnya

commit to user

terlihat, antara satu variabel dengan variabel yang lainnya tidak memiliki efek terhadap prestasi siswa.

Dokumen terkait