• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

PLANNING Membuat

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian

( )( )

24 1 6 . 2 1 6 6 4 1 6 6 0 + + + − = 24 546 4 42 − = 75 . 22 5 . 10 − = 201 . 2 769 . 4 5 . 10 =− − =

Berdasarkan hasil perhitungan uji wilcoxon tersebut di atas diperoleh Z hitung sebesar -2.201, karena nilai ini adalah nilai mutlak sehingga tanda negatif tidak diperhitungkan. Sehingga nilai Z hitung menjadi 2.201, selanjutnya nilai Z hitung ini dibandingkan dengan nilai Z tabel dengan taraf signifikasnsi 5%, harga Z tabel = 0. Maka Zhitung = 2.201 > Ztabel = 0, maka Ha diterima. Dengan demikian menunjukkan bahwa konseling realita dapat meningkatkan self esteem siswa yang mengalami pengabaian orang tua di kelas VIII-G SMP N 13 Semarang.

4.3 Pembahasan Hasil Penelitian

Di dalam pembahasan penelitian ini, akan dibahas kondisi masalah self esteem siswa yang mengalami pengabaian orang tua sebelum mengikuti konseling realitas pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 13 Semarang, masalah self esteem siswa yang mengalami pengabaian orang tua setelah mengikuti konseling realitas pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 13 Semarang, serta pengatasan masalah self

esteem siswa yang mengalami pengabaian orang tua selama mengikuti konseling realitas pada siswa kelas VIII G SMP Negeri 13 Semarang.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebelum diberikan layanan konseling ralitas, 6 siswa kelas VIII G SMP Negeri 13 Semarang yang menjadi responden, 6 siswa mengalami self esteem rendah. Hal ini dapat dilihat pada persentase tiap indikator yakni pada indikator mampu menemukan hal-hal yang positif dalam tindakan yang dilakukan sebesar 37,8% termasuk dalam kategori rendah. Pada indikator berani mengambil resiko sebesar 40% termasuk dalam kategori rendah. Pada indikator menghargai keberhasilan yang diraih sebesar 40,3% termasuk dalam kategori rendah. Pada indikator menganggap dirinya sama dan sederajat dengan orang lain sebesar 39,5% termasuk dalam kategori rendah. Pada indikator termotivasi oleh keinginan untuk memperbaiki diri sebesar 38,5% termasuk dalam kategori rendah. Pada indikator puas dan berbahagia dengan hidup sebesar 39,5% termasuk dalam kategori rendah. Pada indikator mampu menyesuaikan diri sebesar 39% termasuk dalam kategori rendah. Pada indikator memiliki perasaan-perasaan yang positif sebesar 36,7% termasuk dalam kategori rendah, dan pada indikator mampu mempertanggungjawabkan kegagalan sebesar 37% termasuk dalam kategori rendah.

Untuk meningkatkan self esteem siswa, peneliti memberikan treatment berupa konseling realitas. Ini sesuai tujuan utama pendekatan konseling realitas menurut Sunawan (2006:2) yaitu “membantu menghubungkan (connect) atau menghubungkan ulang (reconnected) klien dengan orang lain yang mereka pilih untuk mendasari kualitas hidupnya”. Disamping itu, konseling realitas juga

bertujuan untuk membantu klien memiliki rencana-rencana hidup dan belajar memenuhi kebutuhannya dengan cara yang lebih baik, yang meliputi kebutuhan mencintai dan dicintai, kekuasaan atau berprestasi, kebebasan atau indepedensi, serta kebutuhan untuk senang. Sehingga mereka mampu mengembangkan identitas berhasil (succes identity).

Latipun mengungkapkan secara umum tujuan konseling realitas sama dengan tujuan hidup, yaitu “individu mencapai kehidupan dengan success identity. Untuk itu harus bertanggung jawab, yaitu memilki kemampuan mencapai kepuasan terhadap kebutuhan personalia” (Latipun, 2008: 109).

Menurut Corey (2007:269-270) tujuan umum terapi realita adalah membantu seseorang untuk mencapai otonomi, pada dasarnya otonomi adalah kematangan yang diperlukan bagi kemampuan seseorang untuk menggantikan dukungan lingkungan dengan dukungan internal, kematangan ini menyiratkan bahwa orang-orang mampu bertanggungjawab atas siapa mereka dan ingin menjadi apa mereka serta mengembangkan rencana-rencana yang bertanggungjawab dan realita guna mencapai tujuan-tujan mereka.

Penelitian lain yang mendukung penelitian ini adalah penelitian Wida dan Hadi (2010:3) tentang penerapan konseling realita untuk meningkatkan harga diri siswa. Dalam penelitiannya Wida dan Hadi menjelaskan bahwa dalam konseling realita dijelaskan bahwa perilaku yang bermasalah disebabkan karena individu yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya salah satunya dalam hal ini adalah kebutuhan akan harga diri. Kebutuhan dasar dalam hidup manusia itu sendiri menurut Glasser dalam Nelson (2011:282) ada lima, ‘kelima kebutuhan dasar tersebut meliputi kelangsungan hidup, cinta dan belonging (rasa memiliki), kekuasaan, kebebasan, dan kesenangan’. Klien sendiri merasa kehilangan cinta

dan rasa memiliki orang tua. Kebutuhan love and belonging inilah yang membuat hidup klien serasa sengsara.

Dalam hal ini peneliti membantu siswa dalam menemukan alternatif-alternatif dalam mencapai tujuan konseling yang ingin dicapai yaitu tujuan klien sendiri dalam mengatasi self esteem rendah. Dalam penelitian ini, konseling realita membantu siswa mencapai tingkah laku bertanggung jawab terutama dalam mengatasi masalah self esteem rendah. Klien dapat mengikuti komitmen-komitmennya sendiri sehingga mampu mengatasi masalah self esteem rendah. Dalam perkembangannya, siswa lebih bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan realistis dalam melakukan suatu tindakan atau kegiatan, mampu menilai perilakunya sendiri dan menyusun rencana-rencana perilaku yang tepat untuk tujuannya sendiri.

Analisis deskriptif pada hasil post test menunjukkan adanya peningkatan self esteem siswa. Setelah diberikan konseling realitas, keenam klien tersebut menunjukkan peningkatan pada tiap indikator. Pada indikator mampu menemukan hal-hal yang positif dalam tindakan yang dilakukan sebesar 70,5% termasuk dalam kategori tinggi. Pada indikator berani mengambil resiko sebesar 79,5% termasuk dalam kategori tinggi. Pada indikator menghargai keberhasilan yang diraih sebesar 79,5% termasuk dalam kategori tinggi. Pada indikator menganggap dirinya sama dan sederajat dengan orang lain sebesar 79,5% termasuk dalam kategori tinggi. Pada indikator termotivasi oleh keinginan untuk memperbaiki diri sebesar 77,5% termasuk dalam kategori tinggi. Pada indikator puas dan berbahagia dengan hidup sebesar 81% termasuk dalam kategori tinggi. Pada

indikator mampu menyesuaikan diri sebesar 78% termasuk dalam kategori tinggi. Pada indikator memiliki perasaan-perasaan yang positif sebesar 79% termasuk dalam kategori tinggi, dan pada indikator mampu mempertanggungjawabkan kegagalan sebesar 76,5% termasuk dalam kategori tinggi.

Dari hasil analisis data dengan membandingkan tabel uji Wilcoxon Match Pairs Test dengan hasil pre-test dan post-test per indikator dalam taraf signifikansi 5% berada lebih besar dari pada tabel yaitu 0 untuk sampel yang berjumlah 6. Untuk menguji hipotesis penelitian ini dengan rumus uji Wilcoxon Match Pairs Test ketentuannya adalah 1) Ho ditolak dan Ha diterima apabila Zhitung > Ztabel, 2) Ho diterima dan Ha ditolak apabila Zhitung < Ztabel. Berdasarkan hasil pre test dan post test menunjukkan bahwa jenjang terkecil sama dengan 0 sehingga seluruh indikator signifikan. Analisis data wilcoxon match pair test dari hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan Zhitung = 2.201 > Ztabel = 0, sehingga dapat ditarik kesimpulan Ha diterima dan Ho ditolak.

Dengan kata lain, self esteem rendah siswa yang mengalami pengabaian orang tua setelah diberikan konseling realitas menunjukkan terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik yakni klien dapat menemukan hal-hal yang positif dalam tindakan yang mereka lakukan, lebih berani mengambil risiko, mampu menghargai keberhasilan yang mereka raih, mulai bergaul secara terbuka dengan teman-teman sekolah, termotivasi untuk memperbaiki diri, mampu memahami keadaan hidup dan berbahagia dengan hidupnya, mampu menyesuaikan diri, memiliki optimisme, dan klien juga membiasakan diri untuk tidak melakukan self talk negatif.

Hasil konseling terhadap masalah self esteem rendah siswa memang belum memberikan pengaruh yang besar terhadap penyelesaian secara keseluruhan, namun mampu mengurangi masalah self esteem rendah siswa khususnya pada 6 siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Setelah mendapatkan konseling, klien lebih objektif menilai tentang dirinya sendiri dan lingkungannya. Klien dapat melaksanakan komitmennya dan membawa dampak yang lebih baik untuk mengatasi self esteem rendah.

Sesuai dengan judul skripsi ini, yaitu meningkatkan self esteem pada siswa yang mengalami pengabaian orang tua melalui konseling realitas diharapkan melalui layanan konseling individu tersebut mampu untuk meningkatkan self esteem pada siswa kelas VIII-G SMP N 13 Semarang. Sesuai dengan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa konseling realitas dapat mengatasi self esteem rendah, sehingga dapat diketahui bahwa harapan dari penelitian ini tercapai.