BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian yang dilakukan dapat membuktikan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar biologi siswa antara yang diajarkan melalui teknik Jigsaw dengan teknik Two Stay Two Stray, yaitu bahwa hasil belajar biologi siswa yang diajarkan melalui teknik Jigsaw lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar biologi siswa yang diajarkan dengan menggunakan teknik Two Stay Two Stray. Hal ini dimungkinkan karena pendekatan pembelajaran kooperatif teknik jigsaw lebih banyak menekankan kepada tanggung jawab pribadi sebagai kelompok ahli yang harus menguasai dan mengajarkan serta memberikan pemahaman materi yang telah ia pelajari kepada teman kelompoknya yang lain sehingga setiap siswa mempunyai tanggung jawab agar setiap kelompoknya memahami materi secara keseluruhan, sedangkan pada kelompok Two Stay Two Stray tanggung jawab yang diberikan adalah memahami dan menyelesaikan suatu tugas secara bersama-sama.
Dalam kedua pembelajaran tersebut, siswa yang biasanya belajar secara individu, tanpa kompetisi dicoba dikondisikan dengan adanya kompetisi yang menjadi motivasi bagi keberhasilan belajar mereka, serta suasana pembelajaran dapat menjadi lebih hidup dan bervariasi. Kedua pembelajaran ini juga dapat menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang baik, karena siswa tidak cepat merasa bosan dalam belajar dan dapat meningkatkan rasa percaya diri tiap siswa karena siswa dilatih untuk aktif berpendapat, menghargai perbedaan pendapat dan termotivasi untuk meningkatkan prestasinya karena adanya persaingan.
Pada penelitian ini, penulis bertindak sebagai guru dalam pengajaran model cooperative learning teknik Jigsaw dan TSTS di MTs PUI Bogor. Penelitian ini dilakukakan selama tiga kali pertemuan pada konsep ekosistem yang dilaksanakan pada dua kelas eksperimen, yaitu kelas VII-I berjumlah 35 siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran cooperative learning teknik Jigsaw, dan kelas VII-II berjumlah 35 siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran cooperative learning teknik TSTS. Guru yang berperan sebagai fasilitator bagi seluruh kelompok pada kelas eksperimen jigsaw dan TSTS, apabila terdapat hal-hal dari kegiatan belajar yang belum dimengerti oleh siswa dalam kelompok, sehingga setiap kelompok dapat memecahkan solusi dari permasalahan, secara bersama dan bukan sebagai pemberi materi total dari awal sampai akhir seperti yang dilakukan oleh sebagian guru dalam menyampaikan materi ke siswa.
Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar Biologi yang menggunakan Jigsaw dan TSTS. Untuk memperkuat hasil penelitian ini, seperti telah diuraikan sebelumnya, telah dilakukan pula uji statistik perbandingan terhadap nilai N-Gain kedua kelas yang menunjukkan kesimpulan yaitu terdapat perbedaan nilai N-Gain kedua kelas yang signifikan. N-Gain pada kelas Jigsaw lebih baik dari N-Gain pada kelas TSTS. Bahkan, dari nilai rata–rata N-Gain jauh berbeda antara kelas Jigsaw dan kelas TSTS. Sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dan peningkatannya pada kedua kelas tersebut signifikan.
Dari tabel hasil postest kelas Jigsaw dan kelas TSTS diperoleh nilai rata-rata yang berbeda (thitung = 4.44, ttabel (68) = 2.00), kelas Jigsaw 72.8 sedangkan kelas TSTS 67. Hal ini menunjukkan rata-rata nilai siswa pada kelas Jigsaw lebih tinggi dibanding kelas TSTS, tampak bahwa pembelajaran menggunakan teknik Jigsaw lebih memberikan peningkatan hasil belajar yang tinggi terhadap konsep ekosistem dibandingkan menggunakan teknik TSTS.
Pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw menganut sistem kegotongroyongan selain itu juga mengandung sistem kemandirian siswa,
serta menuntut peran aktif siswa agar dapat bertanggung jawab terhadap bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Sedangkan dalam pembelajaran kooperatif teknik TSTS materi yang diberikan dipelajari secara bersama dan dipecahkan bersama-sama. Ditinjau dari motivasi belajar, dengan metode kooperatif teknik Jigsaw yang diharapkan memberikan motivasi lebih pada siswa dengan variasi belajar dimana adanya sistem kegotongroyongan bagi siswa yang dapat mencegah timbulnya agresivitas siswa dalam situasi kompetisi dan keterasingan individu tanpa mengorbankan aspek kognitif
Dalam pembelajaran kooperatif kerja sama dalam kelompok memegang kunci keberhasilan proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw diperlukan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri maupun pembelajaran siswa lain dalam kelompok maupun di luar kelompoknya. Siswa tidak hanya dituntut untuk dapat menguasai materi untuk dirinya sendiri tetapi juga dituntut untuk dapat menjelaskan pada siswa lain dalam kelompoknya, sebab secara umum siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep ini dengan temannya. Sedangkan dalam pembelajaran kooperatif teknik TSTS materi dipelajari secara bersama-sama sehingga terkadang ada siswa yang benar–
benar berdiskusi semua, ada yang tidak hal ini mengakibatkan pemahaman terhadap materi yang diajarkan tidak tersebar secara merata, hanya siswa yang aktif dan serius dalam berdiskusi yang memiliki pemahaman yang lebih terhadap materi yang disampaikan dibandingkan siswa yang tidak aktif dalam pembelajaran, sehingga menimbulkan sifat saling mengandalkan satu sama lain.
Pada pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, guru dapat secara langsung membimbing setiap individu yang mengalami kesulitan belajar. Guru akan lebih mudah memberikan bantuan secara individu ketika mengajar atau membimbing siswa pada kelompok kecil. Pembelajaran ini mampu mengarahkan siswa untuk aktif dalam memahami materi yang
diajarkan yang pada akhirnya berdampak pada tingginya penguasaan siswa pada materi yang sedang dipelajari dan meningkatkan hasil belajar.
Pada dasarnya kedua teknik dari pendekatan pembelajaran kooperatif memiliki keunggulan masing-masing, kedua teknik ini dapat merangsang siswa terlibat secara aktif untuk bekerja sama, berdiskusi dan saling membantu antar anggota kelompok dalam belajar sehingga mereka dapat mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri secara bersama sama. Walaupun, masih terdapat siswa yang masih enggan terlibat aktif dalam pembelajaran.
Sesuai dengan dengan hasil penelitian Suprapto Mukti Nugroho yang menyatakan bahwa pembelajaran cooperative learning teknik jigsaw ini cukup efektif untuk membantu meningkatkan ketuntasan belajar siswa sehingga pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar siswa dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.5
5
Suprapto Mukti. Nugroho, Remedial Teaching dengan Teknik Jigsaw Sebagai Pendukung Kurikulum 2004. Jurnal Widya Tama. Volume 2, No. 3, September 2005, hal. 49
60 A. Kesimpulan
Hasil rata-rata nilai posttest kelas eksperimen Jigsaw (72,8) dan kelas eksperimen TSTS (67), rata-rata N-gain kelas eksperimen Jigsaw (0,59) dan kelas eksperimen TSTS (0,46), dan uji-t diperoleh thitung > ttabel , yaitu 4,44 > 2,00 dengan taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan 70. maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar biologi siswa yang diajarkan melalui pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dengan teknik TSTS pada konsep ekosistem.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai perbaikan di masa mendatang.
1. Diharapkan Guru bidang studi khususnya Biologi dapat menerapkan pembelajaran Biologi menggunakan metode Cooperative Learning teknik Jigsaw dari pada Two Stay Two Stray jika harapannya hasil belajar. 2. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pembelajaran teknik
Jigsaw dan Two Stay Two Stray yang dilihat bukan hanya dari hasil belajar tetapi menggunakan variabel lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Iqbal. Model Pembelajaran One Stay One Stray di akses dari http://iqbalali.com/2010/02/17/model-pembelajaran-one-stay-two-stray-modifikasi/, Sabtu, 30 Oktober 2010 jam 20.15 wib
Anonim, Model Pembelajaran Kooperatif JigSaw (Tim Ahli), diakses dari
http://adiwarsito.wordpress.com/2010/11/12/model-pembelajaran-kooperatif-jigsaw/ 1 Desember 2010 jam 09.00 Wib
Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Azizah, Bahriyatul. 2006. Studi Komparasi Metode Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dan Metode Konvensional Pokok Bahasan Jurnal Khusus Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Pada Siswa Kelas Ii Man Suruh. Skripsi. Semarang: UNES. Diakses dari http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH0110/00a3183 e.dir/doc.pdf , 30 oktober 2010
Bungin, M. Burhan. 2009. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana.
Dalyono, M. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka.
Departemen Agama RI. 2006.Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI Tentang Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama Islam.
Devi Kusmiyati. 2008. Pengaruh Model Kooperatif Learning Teknik Two Stay Two Stray pada Konsep Ekosistem Terintegrasi Nilai Terhadap Hasil belajar Biologi. Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak dipublikasikan.
Efi. 2007. Perbedaan Hasil Belajar Biologi Antara Siswa yang Diajar melalui Pendekatan Cooperatif Learning Teknik Jigsaw dengan Teknik STAD. Skripsi. Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Dipublikasikan. Diakses dari http://idb4.wikispaces.com/file/view/ss4005.pdf
Fatirul, Ahmad Noor. Cooperative Learning, Makalah, di akses dari trimanjuniarso.wordpress.com, 25 November 2010
Feronika, Tonih. 2008. Buku ajar strategi pembelajaran kimia. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif hidayatullah Jakarta.
Haetami, Aceng dan Supriadi. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Kelarutan Dan Hasil Kali Kelarutan. Diakses dari http://jurnal.unhalu.ac.id.pdf, 30 oktober 2010
Hamalik, Oemar. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hariyatmi, Eli Herowati, dan Djumadi. “Perbedaan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII Semester II Smp Negeri 2 Kebakkramat Kabupaten Karanganyar Tahun Ajaran 2004/2005 Menggunakan Strategi Pembelajaran JIGSAW DAN STAD (Student Teams Achievement Division). MIPA, Vol. 17, No. 1, Januari 2007: 17 – 32. diakses dari http://eprints.ums.ac.id/1248/1/3._HARIYATMI.pdf, 8 oktober 2010
Hasanah, Yuli Purwanti. 2007. Efektivitas Penerapan Pembelajaran Kooperatfi Tipe STAD dan Jigsaw dalam Materi Popok Klasifikasi Makhluk Hidup di MTs NU Unggaran. Skripsi. Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan. Dipublikasikan. Diakses dari
http://idb4.wikispaces.com/file/view/ss4005.pdf
Isjoni. 2009. Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.
Iska, Zikri Neni. 2006. Psikologi Pengantar Pemahaman Diri Dan Lingkungan. Jakarta: Kizi Brother’s.
Janah, Ika Nurul Fattakhul. 2006. Upaya Meningkatkan hasil Belajar Fisika Materi Pokok Kalor Dengan Pendekatan CTL pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Tulis Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi. Semarang: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Fisika. Diakses dari http://digilib.ac.id/gdsl/collect/skrispsi/archves/hashe307.dir/doc.fdf, 1 Oktober 2010.
Junaedi, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Edisi Pertama. Learning Assistance Program For Islamic Schools Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Surabaya: LAPIS-PGMI
Karina, Tia. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Two Stay Two Stray (Dua Tingga Dua Tamu) dengan Pendekatan Nilai untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Cahaya (PTK di MTS Pembangunan UIN Jakarta). Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak dipublikasikan.
Kessler,Carolyn. 1992. Cooperative Language Learning. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall Regents.
Khalid, Abdul dkk. 2009. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Magister Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. diakses dari http://blog.unila.ac.id 11 Desember 2010
Lie, Anita. 2008. Cooperative Learning. Jakarta: PT. Gramedia.
Munadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta: Gaung Persada Press.
Nasution. 1995. Didaktik Dasar-dasar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Nugroho, Suprapto Mukti. Remedial Teaching dengan Teknik Jigsaw Sebagai Pendukung Kurikulum 2004. Jurnal Widya Tama. Volume 2, No. 3, September 2005.
Purbohadi, Dwijoko. Diakses dari http://www.ntlf.com/html/lib/bib/91-9dig.htm, 1 Oktober 2010.
Purwanto, M. Ngalim. 1998. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.
Putra, Muhammad Rosi Prayud. 2010. Meningkatkan Keterampilan Menyimak Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Two Stay Two Stray. Pendidikan Guru dan Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember. diakses dari, 4 Desember 2010.
Rahmatin, Ityanu. 2009. Pengaruh Pembelajaran Active Learning Metode Rotating Trio Exchange Terhadap Hasil Belajar Biologi. Skripsi. Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Tidak dipublikasikan
Rosyada, Dede. 2004. Paradigma Pendidikan Demokratis. Jakarta: Kencana.
Ruseefendi, HET. 1998. Statistik Dasar untuk Pelatihan Pendidikan. Bandung: CV Andira.
Sabri, Alisuf. 1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman jaya.
Sanjaya, Wina. 2009.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Santrok, Jhon W. 2004. Educational Psychology. New York: McGraw-Hill.
Sirih, H.M. dan Muhammad Ali. Penerapan model pembelajaran tipe jigsaw dengan tongkat estafet untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar di SMP Negeri 2 Kendari. Jurnal MIPMIPA, Vol. 6, No.1, Pebruari 2007
Salvin, Robert E. 2008. Cooperative Learning teori, riset dan praktik, cet 1, terj. Dari Cooperative Learning: theory research and practice oleh Nurlita Yusron. Bandung:Nusa Media.
Sudjana, Nana. 2002. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
---. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Sudjiono, Anas. 2008. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sugiyanto. 2010. Model-model Pembelajaran Inovavtif. Surakarta: Yuma Pustaka.
Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sulastri, Yeti dan Diana Rochintaniawati. Pengaruh Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dalam Pembelajaran Biologi Di Smpn 2 Cimalaka. Jurnal Pengajaran MIPA, Vol. 13 No. 1 April 2009. h. 15. diakses dari
Supriono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syah, Muhibbin. 2004. Psikologi Pendidikan: dengan pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
---. 2009. Psikologi Pendidikan: dengan pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Surabaya: Prestasi Pustaka.
Z, Zurinal, Wahdi Sayuti. 2006. Ilmu Pendidikan Pengantar dan Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan. Jakrta: UIN Jakarta Press.
Zuriah, Nurul. 2007. Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan Teori-Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.
KELAS JIGSAW
Nama sekolah : MTs PUI Bogor Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : VIII/1 Pertemuan : 1 dan 2 Alokasi Waktu : 3 X40 menit
Standar Kompetensi : 7. Memahami saling ketegantungan dalam ekosistem
Kompetensi Dasar : 7.1. Menentukan ekosistem dan saling ketergantungan antara komponen ekosistem
A. Indikator :
Mengidentifikasikan satuan-satuan dalam ekosistem Mengidentifikasikan komponen dalam ekosistem Menjelaskan macam-macam ekosistem
Mengidentifikasi saling ketergantungan antar ekosistem Menggambarkan rantai makanan dan jaring-jaring makanan Mengidentifikasi pola interaksi dalam ekosistem
B. Tujuan
Siswa mampu:
Menjelaskan pengertian lingkungan, dan habitat
Menjelaskan pengertian individu, populasi, komunitas, ekosistem serta biosfer
Memberikan contoh dari masing-masing pengertian individu, populasi, komunitas, dan biosfer.
Menjelaskan komponen biotik dan abiotik Memberikan contoh komponen biotik dan abiotik
Membedakan organisme autrotof dan organisme heterotof. Menjelaskan pembagian ekosistem
Memberikan contoh dari ekosistem alami dan buatan.
Menjelaskan hubungan saling ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik Menjelaskan saling ketergantungan antara produsen, konsumen, dan pengurai. Menggambarkan rantai makanan dan jaring-jaring makanan
Membedakan simbiosis mutualisme, simbiosis parasitisme dan simbiosis komensalisme. C. Materi Pembelajaran :
Peta konsep
D. Model : Pembelajaran kooperatif Pendekatan : Pendekatan konsep Metode : Jigsaw
E. Langkah-Langkah Pembelajaran Pertemuan ke-I
Langkah Kegiatan Alokasi
waktu
Guru Siswa
Pendahuluan Guru mengabsen kehadiran siswa
Siswa merespon
panggilan guru
5 menit
Inti Guru melaksakan pretest untuk mengetahui hasil
Siswa mendengarkan penjelasan guru 25 menit Netral Predasi Kompetisi Simbiosis : - Mutualisme - Komensalisme - Parasitisme Rantai makanan Jarring-jaring makanan Piramida makanan Lingkungan biotik Lingkungan abiotik Individu Populasi Komunitas Ekosistem Biosfer Heterotrof Autotrof Pengurai Produsen Konsumen Abiotik Biotik Bentuk interaksi antar organisme Hubungan antar komponen Satuan dalam ekosistem Komponen dalam ekosistem Ekosistem
adanya treatmen
Guru memberikan tes awal
(pretest) Siswa menjawab pretest
Penutup
Guru memberikan
penjelasan singkat tentang tes yang telah dilakukan Guru memberitahukan
materi dan metode yang digunakan untuk pertemuan selanjutnya Siswa memperhatikan penjelasan guru Siswa memperhatikan penjelasan guru 10 menit Peretmuan ke-II
Langkah Kegiatan Alokasi
waktu
Guru Siswa
Pendahluan Ice breaking: “guru tepuk konsentrasi”
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
Guru mengaitkan materi sebelumnya yaitu tentang organisasi kehidupan dengan bertanya “apa yang dimaksud dengan organisme?”
Apersepsi
Guru memberikan apersepsi tentang ekosistem dengan bertanya “apakah semua makhluk hidup bisa hidup ditempat yang sama misalnya kodok dan ikan
Siswa
memperhatikan dan mengikuti apa yang dilakukan oleh guru Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa merespon pertanyaan guru Siswa mendengarkan dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru.
“Guru memotivasi siswa agar belajar dengan tekun dan rajin dan serius ketika pembelajaran berlangsung” Guru menjelaskan mengenai pembelajaran teknik jigsaw Siswa mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru Inti Tahap I: pembentukan kelompok Tahap II: pembagian materi
Tahap III: diskusi antar kelompok
Tahap IV:membagi informasi
Guru membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok asal yang berjumlah 4 – 5 orang.
Guru membagikan LKS kepada setiap siswa (tim asal) dan membentuk tim ahli,
Guru meminta siswa untuk berdiskusi tentang materi yang sama dalam kelompoknya masing-masing (tim ahli), agar saling membantu memahami materi yang diberikan bersama-sama. Guru menginformasikan
bahwa diskusi tim ahli selesai
Guru meminta masing-masing siswa untuk kembali ke tim asalnya. Guru meminta tim ahli
Siswa berkumpul dengan masing-masing kelompoknya. Siswa membentuk tim ahli Siswa berdiskusi membahas materi yang diberikan Siswa mendengarkan apa yang diinformasikan guru Siswa kembali ke tim asal
Tahap V:presentasi kelompok dan evavluasi
Guru meminta setiap kelompok tim asal untuk mempresentasikan hasil kelompoknya di dalam kelas.
Guru memberikan tes individu berupa kuis kepada siswa, yang hasilnya digunakan untuk menentukan skor peningkatan individu. Pada tahap ini siswa tidak diperkenankan untuk saling
memberitahu atau bekerjasama dengan yang lain.
Guru meminta siswa untuk mengumpulkan tes dan menukarkannya dengan siswa yang lain
Guru memberikan skor peningkatan individual
Siswa dari tim asal mempresentasikan hasil yang didapat dari masing-masing anggota pada tim ahli.
Siswa menjawab kuis yang diberikan guru.
Siswa
mengumpulkan tes dan menukarkannya dengan siswa yang lain
Siswa
memperhatikan guru
Penutup Guru mengumumkan kelompok terbaik sementara
Guru melakukan refleksi tentang materi yang diberikan. Guru memberikan informasi untuk Siswa memperhatikan Siswa memperhatikan penjelasan guru Siswa memperhatikan apa
F. Sumber belajar :
Wasis dan Sugeng Yuli Irianto. Ilmu Pengethauan Alam SMP dan MTs kelas VII. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
Sugiyarto, Teguh. Ilmu pengetahuan alam 1 : untuk SMP/MTs/ kelas VII. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2008
Winarsih, Anny dkk. IPA TERPADU: SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
G. Media pembelajaran White board Spidol
H. Evaluasi (Post tes)
Jenis Instrumen : Tes Tertulis Bentuk : Pilihan ganda
Soal!
1. Tempat yang sesuai bagi makhluk hidup untuk melakukan aktivitasnya disebut …. a. Habitat
b. Komunitas
c. Bioma d. Biosfer 2. Kumpulan berbagai ekosistem di permukaan bumi disebut ….
a. biosfer b. komunitas
c. ekologi d. ekosistem 3. Sekumpulan harimau yang hidup dalam ekosistem hutan merupakan …
a. Ekosistem b. Individu
c. Komunitas d. Populasi
Perhatikan soal cerita di bawah ini untuk menjawab soal no. 4 dan 5.
Pada ekosistem kebun pada lingkungan sekitar sekolah MTs PUI Bogor yang kalian amati dengan luas 200m2 terdapat dua pohon mangga, sebatang pohon kelapa, dua ekor burung, lima ekor kumbang, tiga ekor jangkrik, lima ekor belalang, tujuh ekor capung dan dua puluh ekor semut.
4. Berdasarkan cerita di atas, ada berapa macam populasi yang dijumpai di tempat tersebut? a. 4 b. 5 c. 6 d. 7
5. Populasi apakah yang paling padat pada tempat tersebut? a. Pohon mangga
b. Sebatang pohon kelapa
c. Dua puluh ekor semut d. Dua ekor burung 6. Berikut ini merupakan contoh dari individu, kecuali…
a. Sebatang pohon b. Seorang nenek
c. Sekelompok ikan d. Seekor kura-kura 7. Komponen abiotik yang terdapat pada akuarium adalah...
a. Ikan b. Tanaman air
c. Air d. Lumut
a. ekosistem b. komunitas
c. populasi d. individu 9. Berikut yang termasuk komponen biotik adalah ….
a. batu, ulat, air,kuda b. batu, air, semut, udara
c. kuda, ulat, udara, semut d. semut , ulat, kecoa, ular 10. Seluruh populasi rumput dan belalang yang ada di sebidang kebun merupakan
a. Komunitas b. Ekosistem c. Individu d. Biosfer Jawaban 1. A 2. A 3. D 4. D 5. C 6. C 7. C 8. A 9. D 10. A I. Penilaian
Menggunakan skala seratus Nilai= (Jumlah betul) x 100%
10
Mengetahui,
Bogor, Januari 2010
Guru IPA Peneliti
(Elin Marlina, S.Pd) (Irna Purnamasari)
Nama sekolah : MTs PUI Bogor Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : VIII/1 Pertemuan : 3
Alokasi Waktu : 2 X40 menit
Standar Kompetensi : 7. Memahami saling ketegantungan dalam ekosistem
Kompetensi Dasar : 7.1. Menentukan ekosistem dan saling ketergantungan antara komponen ekosistem
A. Indikator :
Mengidentifikasikan satuan-satuan dalam ekosistem Mengidentifikasikan komponen dalam ekosistem Menjelaskan macam-macam ekosistem
Mengidentifikasi saling ketergantungan antar ekosistem Menggambarkan rantai makanan dan jaring-jaring makanan Mengidentifikasi pola interaksi dalam ekosistem
B. Tujuan
Siswa mampu:
Menjelaskan pengertian lingkungan, dan habitat
Menjelaskan pengertian individu, populasi, komunitas, ekosistem serta biosfer
Memberikan contoh dari masing-masing pengertian individu, populasi, komunitas, dan biosfer.
Menjelaskan komponen biotik dan abiotik Memberikan contoh komponen biotik dan abiotik
Membedakan organisme autrotof dan organisme heterotof. Menjelaskan pembagian ekosistem
Memberikan contoh dari ekosistem alami dan buatan.
Menjelaskan hubungan saling ketergantungan antara komponen biotik dan abiotik Menjelaskan saling ketergantungan antara produsen, konsumen, dan pengurai. Menggambarkan rantai makanan dan jaring-jaring makanan
Menjelaskan arus energi dalam rantai makanan. Menyebutkan pola interaksi organisme.
C. Materi Pembelajaran :
Peta konsep
D. Model : Pembelajaran kooperatif Pendekatan : Pendekatan konsep Metode : Jigsaw
E. Langkah-Langkah Pembelajaran Peretmuan ke-III
Langkah Kegiatan Alokasi
waktu
Guru Siswa
Pendahluan Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
Guru mengaitkan materi sebelumnya dengan bertanya “Dalam ekosistem, tumbuhan tergolong produsen atau konsumen ?”
Apersepsi
Guru memberikan apersepsi
Siswa mendengarkan penjelasan guru Siswa merespon pertanyaan guru Siswa mendengarkan Netral Predasi Kompetisi Simbiosis : - Mutualisme - Komensalisme - Parasitisme Rantai makanan Jarring-jaring makanan