BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pengujian Prasyarat Analisis Data
Sebelum dilakukan pengolahan data lebih lanjut maka dilakukan pengujian prasyarat penelitian yaitu uji normalitas, setelah dilakukan pengolahan data diperoleh normalitas pretest dan posttest untuk kelas JIGSAW dan TSTS. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa data berdistribusi normal bila kriteria Lo < Lt diukur pada taraf signifikansi dan tingkat kepercayaan tertentu.Uji normalitas data yang dilakukan adalah dengan menggunakan Uji Liliefors. Perhitungan uji normalitas ini disajikan pada lampiran.1 Hasil dari perhitungan normalitas yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.4:
Tabel 4. 4 Hasil Uji Normalitas Kelas Jigsaw
Α Lo (Lhitung) Ltabel Kesimpulan
Pretest Posttest
0.05 0.0857 0.0993 0.1497 Ho diterima
Berdasarkan perhitungan uji normalitas pretest dan posttest pada kelas Jigsaw, diperoleh Lo (Lhitung) pretest sebesar 0.0857 dan Lo (Lhitung) posttest 0.0993, dengan jumlah sampel sebanyak 35 siswa dan pada taraf signifikasi 0.05, maka Ltabel sebesar 0.1497.
Dari tabel 4.4 dapat diketahui bahwa Lo pretest dan posttest lebih kecil dari L tabel atau Lhitung < Ltabel, yaitu 0.0857 dan 0.0993< 0.1497, maka hipotesis nol (Ho) diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data sampel kelas Jigsaw berdistribusi normal.
Hasil dari perhitungan normalitas kelas TSTS yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.5:
Tabel 4. 5 Hasil Uji Normalitas Kelas TSTS
Α Lo (Lhitung) Ltabel Kesimpulan
Pretest Posttest
0.05 0.0857 0.0657 0.1497 Ho diterima
Berdasarkan perhitungan uji normalitas pretest dan posttest pada kelas TSTS diperoleh Lo (Lhitung) pretest sebesar 0.0857dan Lo (Lhitung) posttest sebesar 0.0657, dengan jumlah sampel sebanyak 35 siswa dan pada taraf signifikasi 0.05, maka Ltabel sebesar 0.1497.
Dari tabel 4.5 dapat diketahui bahwa Lo pretest dan postest lebih kecil nilainya dibandingkan dengan L tabel atau Lhitung < Ltabel, yaitu 0.0857dan 0.0657< 0.1497, maka hipotesis nol (Ho) diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data sampel kelas TSTS berdistribusi normal.
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk melihat perbedaan skor siswa yang menggunakan teknik Jigsaw dan yang menggunakan teknik Two Stay Two Stray. Uji homogenitas kedua kelas dilakukan dengan Uji Fisher. Untuk pengujian homogenitas terhadap kedua data yang menggunakan uji Fisher disajikan pada lampiran.2. Hasil yang diperoleh dari perhitungan uji homogenitas adalah sebagai berikut :
Fhitungpretest kedua kelas = 1.04
Fhitungpostest kedua kelas = 1.0015
Ftabel = 1.74
Dari data di atas, dapat dilihat bahwa Fhitung> Ftabel, maka hipotesis nol (Ho) diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua sampel bersifat homogen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.6:
Tabel 4. 6 Perhitungan Uji Homogenitas
Α N Fhitung Ftabel Kesimpulan
Pretest Posttest
0.05 70 1.04 1.0015 1.74 Ho diterima
3. Uji Hipotesis
Berdasarkan uji prasyarat analisis statistik, diperoleh bahwa kedua data berdistribusi normal dan homogen. Oleh karena itu, pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Uji t. untuk menentukan nilai thitungdigunakan rumus berikut ini.
Hasil penghitungan dengan menggunakan uji-t, maka didapat hasil sebagai berikut:
thitung = 4.44
ttabel = 2.000 (α = 0.05 / 5%)
Karena thitung > ttabel, maka Hipotesis nol (Ho) ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sebelum menggunakan metode pembelajaran dengan Jigsaw dan TSTS pada pelajaran IPA–Biologi konsep sistem ekosistem. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.7:
Tabel 4. 7
Hasil pengujian Hipotesis Nilai N-gain dengan “t test” Kelompok Eksperimen Jigsaw dan TSTS Kelompok
Eksperimen
Jumlah Dk _
x N-gain
thitung ttabel Keputusan
Jigsaw 35 68 0.59 4.44 2.00 Ha diterima TSTS 35 0.46 2 1 2 1 1 1 n n S t
Dari hasil perhitungan, diperoleh thitung sebesar 24.443, dengan dk (derajat kebebasan) sebesar 68 (35 + 35 – 2) tidak ada pada tabel sehingga menggunakan dk yang mendekati yaitu 70 maka diperoleh ttabel pada taraf signifikansi 0.05 sebesar 2.00.4
Karena didapat perhitungan N-gain kelompok eksperimen Jigsaw dan TSTS thitung > ttabel (4.44 > 2.00). Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat perbedaan hasil belajar biologi siswa yang diajarkan melalui pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dengan teknik Two Stay Two Stray.
4. Hasil Lembar Observasi
Rekap data hasil observasi yang dilakukan oleh dua orang observer dengan melihat apakah setiap tahapan dari setiap metode dilakukan oleh peneliti benar dan sesuai atau tidak dengan tahapan masing–masing metode tersebut.
Hasil dari observasi yang dilakukan pada teknik jigsaw yang terdiri dari beberapa tahapan yaitu pembentukan kelompok, pembagian materi, diskusi kelompok, membagi informasi dan evaluasi. Pada tahap pembagian materi siswa terlihat antusias untuk berkumpul dengan kelompok ahli masing-masing. Penerapan teknik jigsaw ini dalam pembelajaran dilakukan sebanyak 3 pertemuan, pada pertemuan pertama penerapan teknik jigsaw berdasarkan pengamatan (observasi) suasana kelas terlihat kurang kondusif hal ini terlihat dari alokasi waktu yang belum sesuai rencana belajar, motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan diskusi kelompok yang masih kurang, baik dalam mengajukan pertanyaan, memberikan ide dan jawaban, menghargai teman, tanggung jawab terhadap tugas dan kerjasama antara anggota kelompok. Pada penerapan teknik jigsaw pertemuan kedua dan ketiga pelaksanaan pembelajaran dengan teknik jigsaw suasana kelas dalam keadaan lebih kondusif dari
3 lampiran 15, h. 164-165 4 ibid
pertemuan sebelumnya, hal ini terlihat dari alokasi waktu yang telah sesuai dengan rencana pembelajaran, motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan, yaitu dengan semakin banyaknya siswa yang aktif dalam diskusi, baik mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, lebih menghargai teman dan telah terlihat kerjasama yang cukup baik antara siswa dalam kelompoknya.
Pada tahapan diskusi kelompok ahli disini terlihat peran guru untuk membantu mereka, disini terjadi berbagi informasi. Pada tahap presentasi dan evaluasi terlihat kelompok ahli mana yang menyampaikan informasi secara benar serta terlihat kelompok terbaik sementara. Ketika eksperimen yang pertama siswa tidak terlalu antusias dengan teknik yang diberikan pada proses pembelajaran, setelah pertemuan selanjutnya baru terlihat antusias siswa.
Begitu juga dengan hasil observasi yang dilakukan pada teknik TSTS yang terdiri dari beberapa tahapan yaitu sharing dengan kelompok, berbagi informasi, kembali kekelompok asal, diskusi dengan kelompok asal. Pada awal penelitian, siswa yang menjadi sampel merasa kebingungan dengan adanya suatu teknik pembelajaran yang tidak biasa mereka dapatkan, namun dengan bimbingan guru, siswa mulai dapat memahami dan dapat menyesuaikan diri dengan teknik ini. Penerapan teknik jigsaw ini dalam pembelajaran dilakukan sebanyak 3 pertemuan. Pada tahapan berbagi informasi misalnya, siswa terlihat antusias untuk menjalankan peran mereka masing-masing. Siswa yang bertugas menjadi tamu berperan seolah mereka bertamu kerumah orang secara sopan dan beradab. Siswa mengetuk pintu kemudian mengucapkan salam begitu juga sebaliknya, siswa yang berperan menjadi tuan rumah berperan seolah mereka tuan rumah sebenarnya. Pertukaran informasi terjadi pada tahap ini. Kemudian informasi yang didapatkan tersebut dibagikan kembali kekelompok masing-masing untuk didiskusikan. Kerjasama antar kelompok, rasa percaya diri dan bimbingan dari guru muncul.
Hasil dari lembar observasi yang diisi oleh observer tersebut, dapat disimpulkan hasilnya adalah peneliti telah menjalankan masing–masing metode sesuai dengan tahapannya dengan benar. Hasil pengamatan observer terhadap kedua kelas tersebut, yaitu pada kelas jigsaw menunjukkan bahwa sikap siswa selama proses belajar baik dan aktif. Sedangkan pada kelas TSTS sikap siswa cukup baik dan cukup aktif dalam mengikuti pembelajaran dan diskusi.