• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Dari hasil pengujian hipotesis terdapat perbedaan rata-rata kemampuan memberi alasan logis siswa antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan strategi pemecahan masalah working backward lebih baik dari pada pembelajaran dengan strategi konvensional. Hal ini dikarenakan strategi pemecahan masalah working backward memuat beberapa langkah penyelesaian yang dapat mengembangkan kemampuan memberi alasan logis siswa. Selain itu, pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah working backward lebih berpusat pada siswa (student centered), guru menjadi fasilitator yang berperan sebagai pembimbing dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Sedangkan pembelajaran dengan strategi konvensional

= 0,05

1,67 2,67 Gambar 4.4

Kurva Uji Perbedaan Data Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

berpusat pada guru (teacher centered), siswa hanya menerima apa yang disampaikan guru sehingga kemampuan memberi alasan logis.

Temuan penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lia Kurniawati (2006) tentang “Pembelajaran Dengan Pendekatan Pemecahan Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan

Pemahaman Dan Penalaran Matematika Siswa SMP” yang mengungkapkan bahwa siswa yang pembelajarannya menggunakan pendekatan pemecahan masalah memiliki skor rata-rata yang lebih besar dalam semua aspek baik pemahaman, penalaran, maupun secara keseluruhan dari pada siswa yang pembelajarannya secara biasa/konvensional. Penelitian yang dilakukan Yanto Permana dan Utari Sumarmo (2007) tentang “Mengembangkan Kemampuan Penalaran dan Koneksi Matematik Siswa SMA Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah” diperoleh hasil bahwa ternyata kemampuan penalaran matematis siswa yang belajar dengan pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang belajar dengan pembelajaran biasa. Kemudian

penelitian yang dilakukan oleh Sukayasa tentang ”Pengembangan Model

Pembelajaran Berbasis Fase-Fase Polya untuk Meningkatkan Kompetensi

Penalaran Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika”, dijelaskan

bahwa dari penelitian ini menghasilkan suatu model pembelajaran berbasis fase-fase Polya untuk meningkatkan kompetensi siswa SMP dalam memecahkan masalah matematika lalu dengan mengimplementasikan model pembelajaran ini maka guru dapat memotivasi siswanya untuk berpikir kreatif, mengemukakan ide/gagasan dan meningkatkan kemampuan bernalarnya.

Kelas VII-7 terpilih sebagai kelompok eksperimen yang pembelajarannya menggunakan strategi pemecahan masalah working backward. Pada kelompok eksperimen setiap pertemuan masing-masing kelompok siswa diberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang didalamnya memuat langkah-langkah penyelesaian masalah dengan strategi pemecahan masalah working backward. Soal-soal yang terdapat dalam LKS harus diselesaikan dengan cara berdiskusi kelompok.

Pembelajaran dengan strategi working backward membuat siswa sangat antusias dan tertantang dalam menjawab persoalan yang harus dikerjakan dengan bergerak melalui hasil akhir untuk menentukan kondisi awal dari masalah tersebut. Akan tetapi tidak sedikit siswa yang merasa bingung dengan pembelajaran strategi pemecahan masalah bergerak dari belakang (working backward) dan pada saat presentasi siswa masih kesulitan mengungkapkan ide dan alasan atas jawabannya. Hal ini karena siswa belum terbiasa dengan diskusi kelompok dan pembelajaran yang menuntut siswa menemukan sendiri konsep matematikanya.

Sebelumnya diperoleh informasi bahwa pada pembelajaran matematika tidak pernah diadakan diskusi kelompok dan siswa hanya diberikan latihan-latihan soal yang penyelesaiannya serupa dengan contoh-contoh soal yang diberikan guru. selain itu juga ada beberapa siswa yang kemampuan berhitungnya masih kurang seperti penjumlahan dan perkalian, tidak menguasai materi prasyarat seperti materi aljabar sehingga pada pertemuan pertama sangat menghabiskan energi dan waktu untuk membimbing mereka.

Setelah siswa sudah mulai terbiasa dengan pembelajaran yang menggunakan strategi pemecahan masalah working backward, siswa mulai memiliki rasa keingintahuan dalam mengerjakan LKS yang selanjutnya yang dibuat oleh peneliti. Mereka sangat tertarik dengan kegiatan bergerak dari belakang karena mereka tidak perlu mengalami kesulitan jika mengerjakan dengan cara yang biasa berurut dari depan dan tertantang untuk mengerjakan latihan yang ada dalam LKS. Walaupun masih ada beberapa siswa yang belum berpartisipasi aktif dalam kelompoknya. Hal ini merupakan tugas guru untuk selalu memotivasi mereka agar bisa terlibat dalam diskusi kelompok. Berikut adalah suasana kegiatan belajar mengajar di kelas eksperimen dengan strategi pemecahan masalah working backward :

 Kegiatan inti pada tahap eksplorasi

Kegiatan inti pada tahap elaborasi

Gambar 4.5

Aktivitas Siswa Saat Melakukan strategi pemecahan masalah working backward

Pada gambar (a) memperlihatkan siswa yang sedang melakukan diskusi bersama kelompoknya setelah diberikan LKS yang di dalamnya terdapat soal-soal yang penyelesaiannya menggunakan langkah-langkah strategi pemecahan masalah working backward tetapi masih ada yang terlihat masih pasif. Gambar (b) memperlihatkan siswa sedang mengerjakan latihan bersama pada LKS. Pada gambar (c) memperlihatkan siswa sedang mengerjakan latihan secara individu pada bagian Uji Kemampuan yang terdapat dalam LKS dengan menggunakan strategi pemecahan masalah

Gambar (a) Gambar (b)

working backward, kemudian mendiskusikannya bersama kelompoknya masing-masing. Gambar (d) memperlihatkan siswa sedang menuliskan hasil diskusinya di papan tulis, kemudian mempresentasikan di depan kelas dan guru memandu jalannya diskusi.

Proses pembelajaran pada kelompok eksperimen yang menggunakan strategi pemecahan masalah working backward lebih berpusat pada siswa, siswa belajar dalam kelompok untuk menyelesaikan soal-soal yang terdapat dalam LKS dengan menggunakan strategi pemecahan masalah working backwrads sehingga siswa terlatih untuk mengembangkan kemampuan penalarannya khususnya kemampuan memberi alasan.

Adapun langkah-langkah pemecahan masalah working backward yang dapat mengembangkan kemampuan memberi alasan logis pada langkah awal yaitu siswa memahami masalah, siswa dalam kelompoknya menulis apa yang diketahui dan ditanya dari soal. Pada langkah ini kemampuan penalaran sudah mulai dikembangkan. Langkah selanjutnya adalah merencanakan penyelesaian masalah, pada langkah ini siswa bergerak dari belakang, siswa diharapkan mampu menyadari proses menghitung yang sebelumnya kemudian dapat menentukan kondisi awal dari masalah tersebut sehingga sampai pada menemukan solusi masalah yaitu siswa melakukan perhitungan dan menyelesaian masalah. Pada saat siswa menyelesaikan masalah dengan cara bergerak dari belakang dan dan mampu menemukan solusi masalah dengan dapat menjelaskan alasan dari cara penyelesaian masalah tersebut maka siswa sudah mampu mengembangkan kemampuan memberi alasan logis karena kemampuan memberi alasan logis yang diteliti adalah salah satu indikator dari kemampuan penalaran matematika. Jika siswa telah mampu memberi alasan terhadap setiap langkah penyelesaian masalah yang terdapat dalam LKS maka dapat dikatakan bahwa siswa tersebut memiliki kemampuan penalaran yang cukup baik.

Berikut ini contoh hasil pengerjaan siswa pada LKS pertemuan ke-8 dalam memberi alasan dengan menggunakan strategi pemecahan masalah working backward.

Gambar 4.6

Strategi pemecahan masalah working backward dapat mengembangkan kemampuan memberi alasan logis melalui menyelesaikan masalah dengan bekerja mundur yaitu proses menghitung yang sebelumnya karena untuk berpikir mencari tahu hal yang sebelumnya tersebut siswa harus tahu alasan dari cara menyelesaikan masalah yang dikerjakannya untuk itu diperlukan penalaran, penalaran dapat diartikan cara berpikir yang merupakan penjelasan dalam upaya memperlihatkan hubungan antara dua hal atau lebih berdasarkan sifat-sifat diakui kebenarannya untuk mengambil suatu kesimpulan. Selain itu juga, dalam langkah-langkah strategi pemecahan masalah working backward siswa dapat mengembangkan kemampuan penalaran dengan memberikan alasan logis pada langkah melalui tahap menyelesaikan soal dengan membuat penjelasan atau argumentasi. Dengan demikian, strategi pemecahan masalah working backward efektif dalam mengembangkan kemampuan memberi alasan logis siswa.

Kelas pembandingnya yaitu Kelas VII–8 sebagai kelompok kontrol. Pada kelompok kontrol, pembelajarannya menggunakan strategi konvensional yaitu guru menjelaskan materi kemudian memberikan contoh-contoh soal, melakukan tanya jawab, memberikan latihan soal di papan tulis, siswa mengerjakan latihan dan mendiskusikannya dengan teman sebangkunya, guru membimbing siswa yang mengalami kesulitan, siswa diberi kesempatan untuk menuliskan hasil pekerjaannya di papan tulis dan guru mengoreksi kemudian membahasnya bersama-sama. Materi dan tes akhir yang diberikan kepada kelompok kontrol sama dengan materi dan tes akhir yang diberikan kepada kelompok eksperimen dan perbedaannya terletak pada strategi yang digunakan dikelas.

Tes akhir kemampuan memberi alasan logis siswa dilakukan pada hari yang berbeda karena perbedaan jadwal pelajaran matematika pada kelas tersebut. Soal tes yang diberikan sebanyak 6 soal berbentuk uraian. Siswa diminta menyelesaikan tes dengan mengisi soal uraian disertai alasan.

Berikut ini perbandingan cara menjawab siswa pada tes akhir kemampuan memberi alasan logis antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

 Cara menjawab siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada soal nomor 2

Gambar 4.7.a

Jawaban Soal Post Test No.2 Siswa Kelompok Eksperimen

Gambar 4.7.b

Jawaban Soal Post-Test No.2 Siswa Kelompok Kontrol

Dari Gambar 4.7.a dan 4.7.b terdapat perbedaan jawaban antara kelompok eksperimen dan kontrol, pada kelas eksperimen terlihat bahwa

siswa mampu menyelesaikan masalah dengan baik dan memberi alasan logis secara lengkap, sedangkan pada kelas kontrol terlihat bahwa siswa belum menyelesaikan masalah dengan baik dan memberi alasan belum lengkap.  Cara menjawab siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada

soal nomor 4

Gambar 4.8.a

Jawaban Soal Post-Test No.4 Siswa Kelompok Eksperimen

Gambar 4.8.b

Dari gambar 4.8.a dan 4.8.b terdapat perbedaan antara jawaban kelas eksperimen dan kontrol, pada kelas eksperimen terlihat bahwa siswa kelas eksperimen dapat menyelesaikan soal sampai menemukan hasil perhitungan yang benar dan memberi alasan logis dengan lengkap, sedangkan pada kelas kontrol terlihat bahwa siswa dapat menyelesaikan soal sampai menemukan hasil perhitungan yang benar tetapi memberi alasan kurang lengkap.

 Cara menjawab siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada soal nomor 6

Gambar 4.9.a

Jawaban Soal Post-Test No.6 Siswa Kelompok Eksperimen

Gambar 4.9.b

Jawaban Soal Post-Test No.6 Siswa Kelompok Kontrol

Dari gambar 4.9.a dan 4.9.b dapat terlihat adanya perbedaan dari cara menjawab siswa pada tes akhir kemampuan memberi alasan logis siswa. siswa

pada kelompok eksperimen mampu memberi alasan terhadap pernyelesaian masalah yang disediakan. Sedangkan pada kelompok kontrol cara menjawab siswa yaitu dengan banyak siswa yang tidak menyelesaikan soal sampai akhir dan banyak juga kolom alasan yang tidak diisi.

Hal tersebut menunjukan adanya perbedaan perlakuan pada saat pembelajaran dikelas antara kelompok eksperimen yang pembelajarannya menggunakan strategi pemecahan masalah working backward dengan kelompok kontrol yang pembelajarannya menggunakan strategi konvensional. Beberapa siswa pada kelompok kontrol mampu memberi alasan logis dengan benar baik lengkap, kurang lengkap maupun tidak lengkap seperti terlihat pada gambar di atas. Sebagian besar siswa pada kelompok kontrol tidak tepat dalam memberi alasan logis bahkan banyak yang tidak memberikan alasan logis. Mereka mengeluh karena soal yang diberikan sangat sulit dan tidak bisa menemukan alasan logis. Sedangkan pada kelompok eksperimen sebagian besar siswa mampu memberi alasan dengan benar baik lengkap, kurang lengkap maupun tidak lengkap.

Pada kelompok eksperimen siswa yang memperoleh nilai di bawah rata-rata kelas kebanyakan dikarenakan kemampuan berhitungnya yang masih kurang. Hal ini dapat diidentifikasi dari jawaban siswa, mereka salah dalam menyelesaikan soal tapi mereka dapat memberikan alasan logis dengan benar baik lengkap, kurang lengkap maupun tidak lengkap. Selain itu, ada yang menyelesaikan soal dengan benar tapi memberikan alasan logisnya kurang tepat dan tidak lengkap. Setidaknya siswa yang memperoleh nilai di bawah rata-rata pada kelompok eksperimen bisa terlihat kemampuan memberi alasan logisnya namun masih perlu dikembangkan lagi. Sedangkan pada kelompok kontrol siswa yang memperoleh nilai di bawah rata-rata kelas dikarenakan salah dalam menyelesaikan soal dan kurang tepat dalam memberikan alasan logis bahkan banyak yang tidak memberikan alasan logis sehingga belum terlihat adanya kemampuan memberi alasan logis yang lebih baik.

Dokumen terkait