• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini membahas hasil belajar luas dan keliling bangun datar segitiga dan jajargenjang, pembelajaran kelas eksperimen yang menggunakan metode penemuan terbimbing dan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional Hasil penelitian yang peneliti dapat bisa dibandingkan dengan penelitian lain yang relevan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat dilihat bahwa hasil tes yang dilakukan setelah pembelajaran (posttest) diketahui nilai rata-rata kelompok eksperimen sebesar 82,22 dan nilai rata-rata kelompok kontrol sebesar 65,14.

Terjadi perbedaan hasil belajar pada kedua kelompok disebabkan karena adanya perbedaan perlakuan dalam belajar. Pada kelompok eksperimen diterapkan dengan metode pembelajaran penemuan terbimbing dan pada kelompok kontrol tidak diterapkan metode pembelajaran penemuan terbimbing.

Dari hasil perhitungan pengujian hipotesis juga menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar matematika siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan thitung lebih besar dari ttabel yaitu 8,95 dan 2,00. Berdasarkan perhitungan analisis data melalui uji hipotesis dengan uji-t, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika.

Pada kelas eksperimen pendekatan pembelajaran yang digunakan dengan metode penemuan terbimbing, sedangkan pada kelas kontrol metode pembelajaran kovensional. Tahapan-tahapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metode penemuan terbimbing menjadikan hasil belajar peserta didik lebih tinggi dari pada kelas kontrol.

Penelitian ini hasil uji hipotesis menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada penggunaan metode penemuan terbimbing terhadap hasil belajar peserta didik pada konsep luas dan keliling segitiga dan jajargenjang. Hal ini terlihat dari hasil uji hipotesis bahwa thitung > ttabel yaitu 8,95 > 2,00, maka H1

diterima H0 ditolak. Selain itu, terlihat juga dari nilai rata-rata posttest kelas

eksperimen lebih tinggi dibanding dengan kelas kontrol, yaitu 82,22 untuk kelas eksperimen dan 65,14 untuk kelas kontrol. Selain itu, terlihat juga dari nilai rata-rata posttest kelas eksperimen lenih tinggi dibandingkan dengan kelas konrol, yaitu 82,22 untuk kelas eksperimen dan 60,14 untuk kelas kontrol.

Jika hasil belajar dari penelitian ini dilihat dari jenjang kognitif nya, maka akan terlihat bahwa di kelas eksperimen lebih tinggi disetiap jenjang nya (C1, C2, dan C3) dibandingkan kelas kontrol. Pada jenjang kognitif C1 kelas eksperimen memperoleh presentase sebesar 85,62% sedangkan kelas kontrol memperoleh 70,25%. Hal ini disebabkan karena dalam proses belajar dengan metode penemuan terbimbing peserta didik menjadi aktif karena peserta didik melakukan sebuah percobaan menemukan konsep dengan menggunakan alat peraga

sederhana. Dengan percobaan, peserta didik dilatih untuk merekam semua data fakta yang diperolehnya, melalui hasil pengamatan dan bukan data opini hasil rekayasa pemikiran. Peserta didik belajar tidak hanya menghafal teori tetapi mencoba untuk menemukannya, sehingga teori yang dipelajari lebih lama tersimpan dalam ingatannya.

Pada jenjang kognitif C2 pada kelas eksperimen juga lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yaitu kelas eksperimen memperoleh presentase sebesar 65,54% dan 52,58% untuk kelas kontrol. Adanya diskusi setelah peserta didik melakukan penemuan menambah pemahaman peserta didik baik secara lisan maupun tulisan karena selain melakukan penemuan, peserta didik juga harus membuat rangkuman hasil diskusi bersama kelompoknya kemudian menginformasikan dan mengkomunikasikannya kepada teman-teman tentang hasil penemuan dan diskusi yang telah dilakukannya. Dengan demikian, peserta didik dapat mengingat kembali tentang hasil penemuannya dan memperoleh tambahan informasi tentang hal-hal yang mungkin tidak didapatkan nya pada saat pelaksanaan penemuan. Hal ini lah yang membuat jenjang kognitif C2 pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol.

Pada jenjang kognitif C3 presentase untuk kelas eksperimen juga lebih tinggi yaitu 63,5% dan kelas kontrol 55,42%. Hal ini disebabkan karena peserta didik di beri kesempatan untuk menemukan fakta, menemukan masalah, menemukan gagasan, menemukan solusi, menemukan penerimaan dan dapat menarik kesimpulan sendiri dari proses yang dialaminya. Sejalan dengan pendapat Martinis Yamin yang menyatakan bahwa dengan melibatkan siswa berperan dalam kegiatan pembelajaran, berarti mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimiliki siswa secara penuh.1 Dengan melakukan penemuan, diskusi, menyimpulkan dan mengkomunikasikan hasil penemuan kepada orang lain, peserta didik dapat memahami konsep matematika secara sistematis khususnya pada konsep luas dan keliling segitiga dan jajargenjang sehingga membuahkan hasil belajar yang lebih baik.

1

Martinis Yamin, Kiat Membelajarkan Siswa, (Jakarta: Gunung Persada Press,2010), h. 78

Pembelajaran dengan menggunakan metode penemuan terbimbing merupakan metode pembelajaran yang berpusat pada keterampilan mencari temuan, yang diikuti dengan penguatan kreatifitas. Sehingga dalam pembelajaran ini, selain dilatih menyelesaikan suatu permasalahan, kreatifitas peserta didik juga dapat terlatih. Peserta didik akan terbiasa menyelesaikan permasalahan dengan cara yang peserta didik temukan sendiri.

Sebelum memulai pembelajaran peneliti memberikan ice breaking, guru melakukan apersepsi dengan meminta peserta didik untuk menyebutkan apa saja macam-macam bangun datar dan rumus mencari luas dan keliling persegi dan jajargenjang. Kegiatan apersepsi, peneliti lakukan di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun langkah pembelajaran yang menggunakan metode penemuan terbimbing di kelas eksperimen yaitu, pertama-tama peserta didik dibagi menjadi 4-5 orang peserta didik. Setiap kelompok terdiri dari anak yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah, sehingga tiap kelompok memiliki anggota kelompok yang berkemampuan heterogen, setelah berkumpul dengan teman-teman sekelompoknya, guru memberikan media pembelajaran berupa replica segitiga dan jajargenang, kertas origami, gunting, banang dan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang harus diselesaikan peserta didik secara berkelompok.

Pada pertemuan pertama, peserta didik masih merasa kebingungan dalam mengerjakan LKS yang diberikan guru karena peserta didik belum terbiasa melakukan pembelajaran secara mandiri. Peserta didik juga tidak biasa menggunakan media pembelajaran. Guru mendampingi peserta didik saat peserta didik mengerjakan LKS dan membimbing peserta didik dalam menggunakan media pembelajaran sebagai alat bantu untuk mengerjakan LKS tersebut. Dalam LKS tersebut, peserta didik dihadapkan dengan langkah-langkah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan membimbing peserta didik untuk menemukan suatu unsur/sifat dan rumus yang akan memudahkan peserta didik dalam menyelesaikan masalah nantinya, tahap pertama yaitu peserta didik dalam kelompok merumuskan masalah yang diberikan.

Gambar 4.3.

Peserta Didik Sedang Melakukan Penemuan Secara Berkelompok Peserta didik membuat perkiraan dari apa yang mereka ketahui., setelah itu peserta didik membuat argument untuk menyelesaikan masalah. Dalam tahap ini, tiap anggota kelompok diberikan kebebasan untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai solusi penyelesaian dari permasalahan tersebut. Setelah terkumpul beberapa solusi penyelesaian, peserta didik menyeleksi solusi-solusi tersebut atau menganalisis argumen yang lebih baik untuk mencari solusi. Solusi yang dipilih merupakan solusi yang paling efisien. Setelah menemukan solusi yang dianggapnya paling efisien, kemudian peserta didik membuat kesimpulan dan menyelesaikan solusi tersebut. Setelah selesai, perwakilan dari setiap kelompok menjelaskan hasil diskusi dari kelompok masing-masing. Kelompok lain mendengarkan presentasi teman kelompok yang sedang berbicara di depan kelas, setelah selesai presentasi, kelompok lain menanggapai atau memberikan pendapat lain. Setelah diskusi selesai dilaksanakan, guru memberikan kesimpulan atau mengoreksi agar materi pelajaran lebih jelas.

Untuk kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional. Sementara itu kegiatan pembelajaran dengan metode pembelejaran konvensional, dilaksanakan dengan cara ceramah yang artinya metode ini tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru karena dalam proses ekspositori peran peserta didik hanya sekedar memperhatikan. Pembelajaran dengan metode konvensinal menjadi kurang efektif karena tidak diikuti oleh aktifitas dimana peserta didik

turut serta dalam menemukan konsep. Peserta didik hanya memperhatikan penjelasan materi yang dilakukan oleh guru sehingga pengalaman yang dirasakan berbeda dengan peserta didik yang diberi perlakukan metode penemuan terbimbing. Hal ini lah yang menyebabkan banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal latihan yang sama dengan soal yang diberikan pada kelas eksperimen yang menggunakan metode penemuan terbimbing.

Sebelum melakukan penelitian, peneliti telah membuat perencanaan yang matang, diantaranya yaitu membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajran) merancang kegiatan pembelajaran untuk kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran penemuan terbimbing dan untuk kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional, menyiapkan media pembelajaran tentang materi luas dan keliling segitiga dan jajargenjang, menyiapkan lembar kerja siswa yang akan digunakan, juga menyiapkan soal-soal post test untuk mengukur hasil belajar peserta didik.

Pemahaman peserta didik kelas eksperimen terhadap materi dalam metode pembelajaran penemuan terbimbing yang menemukan konsep sendiri dengan bantuan bimbingan guru membuat informasi lebih mudah diserap dan diingat peserta didik dalam jangka waktu yang lama. Menemukan konsep sendiri membuat peserta didik lebih mengerti dan diingat oleh peserta didik. Pemahaman peserta didik kelas eksperimen terhadap materi juga lebih baik dari pada peserta didik kelas kontrol yang tidak menggunakan metode penemuan terbimbing dalam pembelajarannya.

Pelaksanaan pembelajaran di kelas kontrol menggunakan metode pembelajaran konvensional, peserta didik hanya memperhatikan penjelasan guru. Pembelajaran di kelas kontrol berjalan biasa saja, pertama-tama guru hanya menerangkan materi yang akan dipelajari peserta didik hari itu, serta memberikan beberapa contoh, kemudian keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran hanya sebatas menulis dan mendengarkan perintah dari guru. Apabila masih ada bagian materi yang belum dipahami, peserta didik diperbolehkan untuk bertanya kepada guru. Setelah guru selesai menyampaikan materi, peserta didik diberi latihan untuk penguatan. Pembelajaran di kelas kontrol cenderung pasif sehingga

mengakibatkan kejenuhan pada peserta didik. Hal ini jelas bertolak belakang dengan kondisi di kelas eksperimen.

Dalam proses pembelajaran yang di lakukan di kelas kontrol ini, peserta didik tidak terlibat secara optimal dan cenderung pasif. Peserta didik tidak diberi kesempatan untuk bertukar pendapat dengan temannya dalam mengungkapkan ide dan gagasannya di dalam kelas. Dengan demikian, peserta didik belajar dengan hafalan. Namun kelebihan dari kelas kontrol ini adalah peserta didik dapat mengerjakan dengan lancar dan sistematis soal yang diberikan guru, dengan catatan soal tersebut sesuai dengan contoh soal yang telah dijelaskan. Apabila soal yang diberikan berbeda dengan contoh yang dijelaskan, maka peserta didik akan mengalami kesulitan untuk menyelesaikannya.

Dengan demikian, peserta didik kurang mengerti konsep dari materi yang disampaikan guru. Pemahaman ke dua kelas tersebut jelas berbeda. Hal ini bisa dilihat dari perhitungan presentase hasil post test tiap jenjang kognitif peserta didik. Hasil presentase kelas eksperimen lebih unggul pada tiap jenjang kognitif nya dibandingkan kelas kontrol.

Presentase yang didapat oleh kelas eksprimen sebesar 85,62% pada jenjang kognitif C1, 65,54% pada jenjang kognitif C2, dan 63,5% pada jenjang kognitif C3. Sedangkan presentase yang diperoleh kelas kontrol sebesar 70,25% pada jenjang kognitif C1, 52,58% pada jenjang kognitif C2, dan 55,42% pada jenjang kognitif C3. Dari perhitungan presentase tersebut terlihat perbedaan pemahaman peserta didik kelas eksperimen dan kontrol pada tiap jenjang kognitifnya terhadap materi yang telah diajarkan oleh guru.

Berdasarkan uraian di atas, menunjukan perlakuan berbeda yang diberikan pada kelas eksperimen dan kontrol dapat menghasilkan hasil akhir yang berbeda pula. Hasil belajar kelas eksperimen yang diajarkan dengan menggunakan metode penemuan terbimbing dalam pembelajarannya berbeda dengan hasil belajar kelas kontrol yang diajarkan dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional. Hasil belajar peserta didik kelas kontrol lebih rendah dari peserta didik kelas eksperimen.

Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa metode penemuan terbimbing lebih efektif dalam pembelajaran matematika pada konsep luas dan keliling segitiga dan jajargenjang.

Dokumen terkait