BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Analisis pada data penelitian adalah analisis pada data dengan tujuan mengevaluasi Stigma masyarakat Desa Pegantenan tentang Perawatan Kehamilan Berbasis Budaya Madurayang diperoleh dari hasil wawancara mendalam dengan 4 orang informan dan 2 informan pendukung. Berdasarkan dengan draf wawancara yang telah dibuat oleh peneliti. Berdasarkan wawancara mendalam dengan narasumber atau informan, maka dapat menganalisis tentang Stigma masyarakat Desa Pegantenan tentang Perawatan Kehamilan Berbasis Budaya Madura dengan panduan 1 tujuan khusus yaitu mengevaluasi Stigma masyarakat Desa Pegantenan tentang Perawatan Kehamilan Berbasis Budaya Madura sehingga peneliti mendapatkan 8 tema penelitian yng didapatkan meliputi:
63
1. Bagaimana Pengalaman Ibu Selama Hamil dalam perawatan kehamilan di
Madura?
2. Apakah ada mitos – mitos dalam merawat kehamilan di Madura, jika ada
coba ibu ceritakan pengalamannya?
3. Berdasarkan pengalaman, Apa resikonya jika tidak mengikuti semua ritual
kehamilan menurut budaya Madura ?
4. Apa resikonya tidak mengikuti proses ritual budaya Madura terkait dengan
kehamilan?
5. Bagaimana pengalaman ibu terkait apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan ibu selama hamil menurut aturan budaya Madura ?
6. Jika terjadi tekanan emosi (cemas, nangis atau marah )apa yang dilakukan
ibu selama hamil ?
7. Selama kehamilan, apakah ibu sering pijet?
8. Apa ada kegiatan khusus setiap bulan selama kehamilan menurut budaya
Madura?
Dari 8 hasil tema yang di dapatkan berikut penjabarannya dari masing- masing tema meliputi:
Tema Pertama pengalaman ibu selama hamil dalam perawatan kehamilan di madura, dari keempat informan di dapat stigma masyarakat pegantenan tentang perawatan kehamilan berbasis budaya madura, dari keempat informan, ada tiga informan yaitu P1, P3, dan P4 yang berpendapat lebih percaya untuk mendatangi dukun beranak dibandingkan bidan desa, ibu hamil berpendapat bahwa mendatangi dukun beranak dinilai lebih akurat dalam mengecek posisi bayi
64
didalam kandungan. Sedangkan P2 sudah mulai percaya untuk memeriksakan kehamilannya kepada bidan desa.
Setelah peneliti menganalisis, didapat bahwa masyarakat desa mayoritas lebih mempercayai dukun beranak untuk memeriksakan kehamilannya daripada bidan desa, dukun beranak lebih bisa mengecek posisi bayi di dalam kandungan, dukun beranak merupakan orang yang cukup dikenal di desa, dianggap sebagai orang tua yang dapat dipercayai dan sangat besar pengaruhnya pada keluarga yang mereka tolong. Hal tersebut dibenarkan oleh tokoh masyarakat dan bidan desa bahwa masyarakat pegantenan lebih banyak pergi ke dukun beranak dibanding bidan desa, dukun beranak diyakini bisa mempermudah ibu ketika akan melahirkan, dan lebih tepat ketika mengecek dan meruba posisi bayi yang ada di dalam kandungan.
Berdasarkan skema 5.2.1 yang telah dijelaskan oleh peneliti dan berdasarkan analisa yang di dapatkan , maka tema dari pembahasan tersebut adalah pengalaman ibu selama hamil dalam perawatan kehamilan di Madura. Dalam hal ini yang menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih percaya terhadap dukun beranak walaupun sudah ada yang mulai percaya kepada bidan desa hal ini disebabkan karena pendidikan yang rendah dan kepercayaan terhadap kebiasaan jaman dulu masih kuat.
Menurut Widyasari, dkk (2006) dukun bayi bertugas memijat ibu, termasuk juga perutnya, agar posisi bayi tidak sungsang ketika proses persalinan. Sementara tenaga bidan dibuuhkan untuk memeriksakan kandungan secara medis dan pemberian vitamin.
65
Tema kedua mitos – mitos dalam merawat kehamilan di Madura, dari
keempat informan didapat stigma masyarakat pegantenan tentang mitos – mitos
dalam merawat kehamilan berbasis budaya madura yang terdiri dari 2 sub tema yaitu ada mitos yang dipercaya dan tidak ada mitos yang dipercaya, dari keempat informan, ada tiga informan yang masih mempercayai adanya mitos- mitos dalm merawat kehamilan di Madura, yaitu P1, P3, dan P4. Adapun pernyataan masyarakat bahwa ada mitos yang dipercaya, seperti tidak boleh melilitkan handuk di leher, jika hal tersebut dilakukan maka dipercaya tali pusar akan melilit bayi yang akan membahayakan bayi yang ada di dalam kandungan. Sedangkan P2
tidak percaya kepada mitos – mitos dalam perawatan kehamilan.
Setelah peneliti menganalisis, didapat bahwa masyarakat desa pegantenan
masih percaya pada mitos – mitos seputar kehamilan, mitos tersebut sudah ada
sejak nenek moyang mereka, mitos yang dipercaya oleh masyarakat desa pegantenan seperti tidak boleh melilitkan handuk di leher dipercaya tali pusar bayi akan melilit pada bayi, tidak boleh memoong rambut dipercaya rambut yang dipotong akan tertelan oleh bayi, tidak boleh duduk di depan pintu dipercaya akan mendatangkan sial kepada ibu dan bayi. Hal tersebut dibenarkan oleh tokoh
masyarakat, bahwa masyarakat madura khususnya di desa pegantenan mitos –
mitos seputar kehamilan itu ada dan sangat diyakini oleh masyarakat asli desa pegantenan.
Berdasarkan skema 5.2.2 yang telah dijelaskan oleh peneliti dan berdasarkan analisa yang di dapatkan, maka tema dari pembahasan tersebut adalah
mitos – mitos dalam merawat kehamilan berbasis budaya madura. Dalam hal ini
sebenarnya mitos – mitos dalam perawatan di madura belum bisa dibuktikan
66
kebenarannya secara ilmiah dan cenderung mengarah ke hal yang tidak masuk akal, walaupun ada sebagian mitos yang memang terjadi dalam kehidupan nyata.
Praditama (2010) yang mengutip pendapat foosper dan anderson (2006)
terdapat tantangan ataupun mitos – mitos pada masyarakat selama masa
kehamilan yang dapat merugikan ibu hamil.
Tema ketiga Resiko jika tidak mengikuti semua ritual kehamilan menurut budaya madura, dari keempat informan, ada tiga informan yaitu P1, P3 dan P4 yang berpedapat jika tidak mengikui semua ritual akan mendatangkan musibah musibah bagi ibu dan bayi yang ada di dalam kandungan, Ritual yang djalani seperti ritual empat bulanan. Sedangkan P2 berpendapat bahwa tiidak ada resiko jika tidk mengikuti semua ritual kehamilan, hanya saja karena ritual tersebut sudah menjadi tradisi di desa Peganenan.
Setelah peneliti menganalisis, didapat bahwa sebagian besar masyarakat desa pegantenan meyakini bahwa jika tidak mengikuti semua proses ritual kehamilan akan mendatangkan musibah yang menimpa ibu dan bayi di dalam kandungan, ritual merupakan salah satu kebiasaan yang masih sangat erat dalam kebudayaan madura, hal tersbut dibenarkan oleh tokoh masyarakat bahwa di desa pagentenan ritual seputar kehamilan itu ada, dan jika tidak mengikuti semua proses ritual yang ada maka diyakini akan mendatangkan musibah kepada ibu dan bayi yang ada di dalam kandungan.
Berdasarkan tema 5.2.3 yang telah dijelaskan oleh peneliti dan berdasarkan analisa yang didapatkan, maka tema dari pembahasan tersebut adalah resiko jika tidak mengikuti semua proses ritual kehamilan menurut budaya madura. Ibu hamil di madura khususnya desa pegantenan masih sangat yakin
67
kepada ritual yang harus mereka jalani ketika sedang hamil, mereka meyakini bahwa jika tidak mengikuti semua ritual kehamilan akan terjadi masalah yyang menimpa i bu dan bayi, ritual tersebut seperti tradisi empat bulanan dan tuju bulanan, tradisi tujuh bulanan atau yang dikenal dengan nama pelet bettang adalah sebuah acara ritual orang hamil yang masih sangat dipercaya oleh orang maudura
Tari (2011) mengatakan bahwa upacara adat / tradisi adat bagi ibu hamil juga akan memberi rasa percaya diri, menguatkan ibu dalam masa transisi perubahan peran menjadi seorang ibu, mengubah cara pandang ibu terhadap perubahan tubuh selama kehamilan, meningkatkan rasa aman dan persaan dihargai.
Tema keempat Resiko jika tidak mengikuti proses ritual kehamilan menurut budaya madura, dari keempat informan, ada tiga informan yaitu P1, P3 dan P4 yang berpedapat jika tidak mengikuti proses ritual maka ritual yang selama ini dijalani akan percuma. Sedangkan P2 berpendapat bahwa tidak ada resiko jika tidak mengikuti proses ritual kehamilan, hanya saja akan menjadi bahan pembicaraan orang di desa Pegantenan.
Setelah peneliti menganalisis, didapat bahwa sebagian besar masyarakat desa pegantenan meyakini bahwa jika tidak mengikuti proses ritual maka ritual yang selama ini dijalani akan percuma, karena proses ritual diyakini bisa membuang kejelekan dan bisa mendatangkan keselamatan bagi bayi. ritual merupakan salah satu kebiasaan yang masih sangat erat dalam kebudayaan madura,
Berdasarkan tema 5.2.4 yang telah dijelaskan oleh peneliti dan berdasarkan analisa yang di dapatkan, maka tema dari pembahasan tersebut adalah
68
resiko jika tidak mengikuti proses ritual kehamilan menurut budaya madura. Ibu hamil di madura khususnya desa pegantenan masih sangat yakin kepada ritual yang harus mereka jalani ketika sedang hamil, mereka meyakini bahwa jika tidak mengikuti proses ritual kehamilan akan mendatangkan musibah yang akan menimpa ibu dan bayi yang ada di dalam kandungan. Sebenarnya tidak akan
terjadi apa – apa hanya saja karena ritual tersebut sudah ada secara turun
temuruun dari nenek moyang mereka.
Indriyani (2014) mengatakan bahwa Hubungan antara budaya , ritual dan kesehatan sangatlah erat hubungannya, sebagai salah satu contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat bertahan denngan cara pengobatan tertentu sesuai dengan tradisi mereka. Kebudayaan atau tradisi dapat membentuk kebiasaan dan respons terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak hanya mempromosikan kesehatan, tetapi juga membantu masyarakatt mengerti tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana meluruskan keyakinan atau budaya yang di anut hubungannya dengan kesehatan.
Tema kelima yaitu pengalaman ibu terkait apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ibu selama hamil menurut aturan budaya madura yang terdiri dari 2 sub tema yaitu berkaitan dengan kesehatan dan berkaitan dengan mitos, dari keempat informan, ada tiga informan yaitu P1, P3 dan P4 berpendapat bahwa yang boleh
dan tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil berkaitan dengan mitos – mitos yang ada
di desa pegantenan, seperti membunuh hewn, ada pantangan memakan makanan tertentu, jika hal tersebut dilakukan dipercaya akan membahayakan bayi yang ada di dalam kandungan. Sedangkan P2 berpendapat yang boleh dan tidak boleh
69
dilakukan oleh ibu hamil berkaitan dengan kesehatan seperti tidak boleh bekerja berat.
Setelah peneliti menganalisis, didapat bahwa masyarakat desa mayoritas lebih mempercayai hal hal yang berkaitan dengan mitos perihal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ibu selama hamil menurut aturan budaya madura, walaupun hal itu belum terbukti secara medis, penyebab besarnya kepercaaan masyarakat perihal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dikarenakan karena hal tersebut sudah ada turun menurun dari nenek moyang mereka yang kemudian diturunkan kepada keluarganya, Hal tersebut dibenarkan oleh tokoh masyarakat bahwa masyarakat pegantenan masih yakin terhadap mitos tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ibu selama hamil, seperti membunuh hewan, dipercaya bayi yag dilahirkan akan cacat karena dikutuk oleh hwan yang telah dibunuh;
Berdasarkan skema 5.2.5 yang telah dijelaskan oleh peneliti dan berdasarkan analisa yang di dapatkan, maka tema dari pembahasan tersebut adalah pengalaman ibu terkait apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ibu selama hamil. Dalam hal ini yang menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih yakin kepada hal yang berhubungan dengan mitos terkait apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan ibu selama hamil disebabkan karena pendidikan yang rendah dan kepercayaan terhadap kebiasaan jaman dulu masih kuat dan hal tersebut memang sudah diwariskan secara turun menurun.
Menurut Praditma (2010) yang mengutip pendapat Foster & Anderson (2006), terdapat pantangan ataupun mitos pada masyarakat selama masa kehamilan yang dapat merugikan ibu hamil, pantangan terhadap makanan tertentu
70
akan merugikan apabila berbeda dengan tinjaua medis, dalam pantangan agama, tahayul, dan kepercayaan tentang kesehatan.
Tema ke enam jika terjadi tekanan emosi apa yang dilakukan ibu selama hamil, dari keempat informan didapat stigma masyarakat pegantenan tentang apa yang dilakkan ibu selama hamil jika terjadi tekann emosi, dari keempat informan, ada tiga informan yaitu P1,P2, dan P4 yang berpendapat bahwa ketika terjadi tekanan emosi selama kehamilan akan melampiaskan tekanan emosinya yaitu dengan mengunci pintu, menangis, dan ada juga yang marah marah sendiri ketika sedang emosi, sedangkan P3 lebih memilih memendam sendiri dan lebih memilih ntuk diam ketika sedang terjadi tekanan emosi.
Setelah peneliti menganalisis, didapat bahwa masyarakat desa pegantenan mengutarakan hal yang sama tapi dalam maksud yang berbeda, adapun gambaran ketika sedang mengalami tekanan emosi yaitu melampiaskan perasaan mereka sehingga apa yang ada di dalam hati mereka bisa hilang,
Berdasakan skema 5.2.6 yang telah dijelaskan oleh peneliti dan bedasarkan analisa yang di daptkan, maka tema dari pembahasan tersebut adalah jika terjadi tekanan emosi, apa yang dilakukan ibu selama hamil. Dalam hal ini yang menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat lebih sering melampiaskan emosi yang ada dari pada dipendam, walaupun ada sebagian masyarakat yang memendam emosi yang dirasakannya di dalam hati.
Menurut Darmayanti (2003) menunjukkan bahwa 80% ibu hamil mengalami rsa khawatir, was-was, gelisah, takut, dan cemas dalam menghadapi kehamilannya.
71
Tema ke tujuh yaitu apakah ibu hamil sering pijat selama kehamilannya, dari keempat informan di dapat stigma masyarakat pegantenan tentang apakah ibu hamil sering pijat selama kehamilan, dari keempat informan, ada tiga informan yaitu P1,P3, dan P4 yang sering pijat kepada dukun beranak untuk menjaga kehamilannya. Sedangkan P2 lebih memilih untuk melakukan perawatan kehamilan ke bidan desa.
Setelah peneliti menganalisis, didapat bahwa masyarakat desa mayoritas lebih percaya untuk melakukan pijat untuk merawat kehamilannya daripada melakukan perawatan ke bidan desa, pemijatan terhadap ibu hamil biasanya dilakukan oleh dukun bayi yang ada di desa mereka, pemijatan dipercaya bisa mengatur posisi bayi yang ada di dalam kandungan, dan dipercaya bisa mengatur posisi bayi yang ada di dalam kandungan, dan dipercaya dengan pemijatan tersebut bisa mempermudah sang ibu ketika melahirkan. Hal tersebut dibenarkan oleh tokoh masyarakat bahwa tradisi pijat kandungan bisa memperbaiki posisi janinyang ada di dalam kandungan, pijat kandungan diyakini bisa mempermudah ibu saat melahirkan.
Berdasarkan skema 5.2.7 yang telah dijelaskan oleh peneliti dan berdasarkan analisa yang di dapatkan, maka tema dari pembahasan tersebut adalah apakah ibu hamil sering pijat selama kehamilannya, dalam hal ini yang menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat lebih mempercayai perawatan kehamilannya dengan pijat kandungan, mereka mempercayai pemijatan dapat mempermudah saat mereka melahirkan, tetapi ada juga yang lebih memilih memeriksakan kehamilannya kepada bidan desa karena dianggap lebih akurat.
72
Menurut taufik jamaan dokter ahli kandungan dan kehamilan daari RSIA Bunda, Menteng, pijatan tersebut justu meningkatkan resiko bayi terlilit atau tal pusar terpilin akibat gerakan putaran bayi yang tidak terpantau. Sebaiknya ibu tetap aktif bergerak dan rajin kontrol sehingga kondisi janin bisa terus terpantau.
Tema kedelapan apa ada kegiatan khusus setiap bulan selama kehamilan menurut budaya madura, dari keempat informan di dapat stigma masyarakat pegantenan tentang apa ada kegiatan khusus setiap bulan selama kehamilan menurut budaya madura, dari keempat informan, ada tiga informan yaitu P2, P3, dan P4 yang berpendapat bahwa masyarakat tidak mempunyai kegiatan khusus setiap bulan dalam merawat kehamilannya, ibu hamil berpendapat bahwa kegiatan yang dilakukan ibu hamil selama kehamilannya sama saja seperti kegiatan ibu hamil pada umumnya. Sedangkan P1 masih mempunyai kegiatan khusus setiap bulan seperti sering mendengarkan lagu nasyid islami dan mengikat sabuk di atas perut.
Setelah peneliti menganalisis, didapat bahwa msyarakat tidak mempunyai kegiatan khusus dalam merawat kehamilannya, mereka merawat kehamilannya sama seperti orang hamil pada biasanya, Hal tersebut dibenarkan oleh tokoh masyarakat dan bidan desa bahwa masyarakat tidak mempunyai kegiatan khusus dalam merawat kehamilannya, cukup perbanyak istirahat, dan menjaga pola makan sama seperti ibu hamil pada umumnya.
Berdasarkan tema 5.2.8 yang telah dijelaskan oleh peneliti dan berdasarkan analisa yang di dapatkan, maka tema dari pembahasan tersebut adalah kegiatan khusus yang dilakukan ibu hamil setiap bulan selama kehamilan. Dalam hal ini yang menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan ibu hamil selama
73
kehamilan sama seperti ibu hamil pada umumnya, tidak ada kegiatan khusus, walaupun memang ada sebagian masyarakat yang mempunyai kegiatan khusus seperti sering mendengarkan lagu nasyid islami dan memakai sabuk di atas perut.
BAB 6