HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Tidak Terdapat Hubungan Antara Kompensasi Dengan Kinerja Dosen Dari hasil pengujian hipotesis nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,862 lebih besar dari α (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara kompensasi dengan kinerja dosen. Hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara kompensasi dengan kinerja dosen tidak terbukti.
Dikemukakan oleh Al Fajar (2013), bahwa tindakan kompensasi merupakan faktor penting untuk dapat menarik, memelihara, maupun mempertahankan tenaga kerja bagi kepentingan organisasi. Dengan demikian baiknya kinerja dosen dapat dikaitkan dengan besarnya tindakan kompensasi yang diberikan, karena itu tindakan kompensasi memegang peranan penting dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Namun pernyataan di atas tidak terbukti pada penelitian ini, hal tersebut dikarenakan setiap dosen mempunyai persepsi yang berbeda tentang kompensasi yang diterimanya. Kemungkinan lain yang terjadi adanya bias dalam pengukuran yang mana peneliti tidak dapat mengendalikan faktor budaya organisasi yang mempengaruhi hasil kompensasi. Dalam budaya commit to user
organisasi pondok pesantren menanmkan kejiwaan keiklasan, ketulusan atau segala perbuatan yang dilakukan adalah sebuah pengabdian, sehingga membincangkan kompensasi finansial merupakan hal yang tabu, disisi lain apapun yang diterimanya sudah merasa cukup.
Latar belakang pendidikan maupun kultur organisasi mempengaruhi persepsi seseorang. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muafi (2010), yang menyatakan bahwa sebuah tradisi qana’ah di pondok pesantren siap menerima sejumlah imbalan/gaji dengan lapang dada. Para alumni pondok pesantren cenderung menunjukkan perilaku balas budi terhadap yayasan dan kyai.
Subhan (2004) dalam penelitiannya juga mengemukakan Semangat kerja tinggi yang selalu ditunjukkan oleh guru/dosen/asatidz di pondok pesantren dikarenakan kyai, koordinator pesantren dan guru senior selalu menanamkan doktrin-doktrin tentang kerja (amalan) yang istiqomah dan ikhlas yang akan menghantarkan seorang muslim mencapai derajat yang tertinggi di mata manusia dan Allah, mendapat barokah dan selalu dalam perlindungan Allah. Doktrin ini dikuatkan dengan pengalaman-pengalaman spiritual yang dialami oleh guru senior pesantren yang kemudian diungkapkannya sebagai “buah” dari setiap tindakan istiqomah dan ikhlas yang dilakukannya dalam setiap proses pendidikan yang dikerjakannya selama mengabdi menjadi tenaga edukatif di lingkungan pesantren dan masyarakat pada umumnya.
Sejalan pula dengan Syifa (2012) mengemukakan pesantren melalui filsafat teosentrisnya mengabdikan segala kegiatan dalam belajar mengajar demi kepentingan ukhrawi segala perbuatan terkait erat dengan hukum agama. Para
kiai dalam melakukan kegiatan secara sukarela sebagai manifestasi ibadah kepada Allah SWT.
2. Tidak Terdapat Hubungan Kompetensi Dengan Kinerja Dosen
Dari hasil pengujian hipotesis nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,845 lebih besar dari α (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara kompetensi dengan kinerja dosen. Hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara kompensasi dengan kinerja dosen tidak terbukti.
Hal ini dapat dipahami bahwa kompetensi dosen yang harus dimiliki sepenuhnya yakni kompetensi pedagogik, kompetensi pribadi, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Peran tenaga pendidik di dalam mendidik santri atau mahasiswa di pondok pesantren lebih menekankan bukan hanya mampu mentransfer ilmu melainkan juga harus mampu merubah tingkah laku santri menjadi lebih baik. Dengan kriteria guru atau dosen yakni memiliki kepribadian yang luhur dan mulia, ikhlas dan tidak mudah putus asa menerima segala sesuatu yang diterimanya.
Pondok pesantren seringkali menerapkan pola manajemen yang berorientasi pada penanaman jiwa ketulusan, keiklasan, kesukarelaan yang biasa dikenal dengan istilah “ lillhahi ta’ala. Konsep tersebut menjiwai semua aktifitas pada pondok pesantren termasuk aktifitas dalam proses pembelajaran. Menurut Tohirin et al (2014), permasalahan seputar pengelolaan model pendidikan pondok pesantren dalam hubungannya dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia (human resource) merupakan berita actual dalam arus perbincangan
kepesantrenan kontemporer karena pesantren dewasa ini dinilai kurang mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki yakni potensi pendidikan.
3. Tidak Terdapat Hubungan Motivasi Dengan Kinerja Dosen
Dari hasil pengujian hipotesis nilai Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,814 lebih besar dari α (0.05), maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara motivasi dengan kinerja dosen. Hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara motivasi dengan kinerja dosen tidak terbukti. Berdasarkan perhitungan selanjutnya diperoleh koefisien korelasi antara motivasi dengan kinerja dosen bernilai positif namun tidak signifikan. Hal ini menunjukkan apabila variabel motivasi mengalami peningkatan, maka kinerja cenderung mengalami peningkatan juga. Penelitian yang dilakukan oleh Abdulsalam & Mawoli (2012) juga mengungkapkan bahwa motivasi staf akademik tidak mempengaruhi kinerja dalam bidang penelitian. Penelitian yang serupa dilakukan Dermawan (2012), motivasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai yang berarti meskipun pegawai memiliki motivasi kerja yang baik, hal tersebut tidak berpengaruh signifikan atau memberikan pengaruh yang kecil terhadap peningkatan kinerja pegawai. Penelitian yang sama oleh Yensi (2010) dengan judul pengaruh kompensasi dan motivasi terhadap kinerja guru SMA Negeri Bengkulu mengungkapkan secara parsial tidak terdapat pengaruh yag signifikan antara motivasi dengan kinerja guru.
Motivasi adalah kesediaan individu untuk mengeluarkan upaya yang tinggi untuk mencapai tujuan organisasi. Ada tiga elemen kunci dalam motivasi yaitu upaya, tujuan organisasi dan kebutuhan. Upaya merupakan ukuran intensitas. Bila seseorang termotivasi maka ia akan berupaya sekuat tenaga untuk mencapai
tujuan, namun belum tentu upaya yang tinggi akan menghasilkan kinerja yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan intensitas dan kualitas dari upaya tersebut serta difokuskan pada tujuan organisasi.
4. Tidak Terdapat Hubungan Kompensasi, Kompetensi Dan Motivasi Dengan Kinerja Dosen
Dari hasil analisis regresi berganda mengenai hubungan kompensasi (X1), kompetensi (X2), motivasi (X3) dan kinerja dosen (Y) seperti pada tabel 4.13 diperoleh nilai Y = 4,584 – 0,037X1 (Kompensasi) + 0,596 X2 Kompetensi +
0,49 X3 (Motivasi). Persamaan regresi tersebut dapat untuk menjelaskan prediksi
yang menyatakan bahwa : 1) peningkatan satu satuan kompensasi akan diikuti dengan penurunan kinerja dosen sebesar 0,037 satuan. 2) peningkatan satu satuan kompetensi akan diikuti dengan peningkatan kinerja dosen sebesar 0,596 satuan. 3) peningkatan satu satuan motivasi akan diikuti dengan peningkatan kinerja dosen sebesar 0,49 satuan. Guna mengetahui tingkat keberartian/signifikansi dari hasil regresi antara kompensasi, kompetensi dan motivasi dengan kinerja dosen berdasarkan tabel tersebut menunjukkan bahwa H0 secara simultan diterima karena nilai taraf signifikansi > 0,05 artinya tidak terdapat hubungan kompensasi, kompetensi dan motivasi dengan kinerja dosen
Hasil analisis regresi pengaruh bersama koefisien determinasi hubungan kompensasi, kompetensi dan motivasi dengan kinerja dosen adalah 0,325 berarti variabel yang dipilih pada variabel independen (kompensasi, kompetensi dan motivasi) dapat menerangkan variasi variabel dependen (kinerja) dengan kontribusi 32,5%, sedangkan sisanya 67,5% diterangkan oleh variabel lain.
Tidak terdapat hubungan kompensasi, kompetensi dan motivasi dengan kinerja dosen hal ini dapat terjadi kemungkinan disebabkan kultur atau budaya organisasi di sebuah pondok pesantren dimana para kyai, koordinator pesantren dan guru senior selalu menanamkan doktrin-doktrin tentang kerja (amalan) yang istiqomah dan ikhlas yang akan menghantarkan seorang muslim mencapai derajat yang tertinggi di mata manusia dan Allah, mendapat barokah dan selalu dalam perlindungan Allah. Doktrin ini dikuatkan dengan pengalaman- pengalaman spiritual yang dialami oleh guru senior pesantren yang kemudian diungkapkannya sebagai “buah” dari setiap tindakan istiqomah dan ikhlas yang dilakukannya dalam setiap proses pendidikan yang dikerjakannya selama mengabdi menjadi tenaga edukatif di lingkungan pesantren dan masyarakat pada umumnya. Sehingga dalam kondisi seperti ini dalam melakukan kegiatan secara sukarela sebagai manifestasi ibadah kepada Allah SWT.