BAB V HASIL PENELITIAN
5.2 Pembahasan Hasil Penelitian
5.2.1 Fenomena Panti Pijat di Padang Bulan
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ada penyimpangan perilaku pekerja di panti pijat merupakan manifestasi dari penyimpangan peran dan fungsi dari seorang pemijat di sebuah panti pijat ini merupakan tindakan yang menjurus pada praktek prostitusi terselubung, mengingat bahwa perkembangan zaman
semakin modern dan bebas sehingga norma tidak lagi dianggap sebagai suatu batasan penting. Hal ini dikarenakan perilaku muncul karena adanya proses terbentuknya perilaku itu sendiri, begitu juga perilaku menyimpang dari norma atau perilaku yang seharusnya dilakukan karena fungsi dan peran pemijat ini adalah memberikan layanan pijat justru malah menjurus kepada praktek prostitusi terselubung yang dilakukan oleh pekerja panti pijat tersebut. Becker mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan hanya mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian, hal ini disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami mengalami dorongan untuk melanggar pada situasi tertentu. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Robert K Merton dalam konsep anomie, dimana suatu keadaan di dalam masyarakat tanpa adanya norma (deregulation) sehingga menimbulkan perilaku deviasi.
Seks sering kali digunakan dan disalahgunakan sebagai daya tarik semua abidang komersial yang sebenarnya tidak ada hubungannya secara langsung dengan seks, salah satunya adalah kasus penyimpangan perilaku pemijat di panti pijat ini, yang seharusnya para pemijat tersebut professional dengan memberikan layanan pijat untuk kebugaran dan relaksasi ternyata disalahgunakan sebagai tempat beroperasinya praktek prostitusi terselubung dengan nama panti pijat.
Cara pekerja di panti pijat dalam melayani pelanggan mulanya pekerja panti pijat akan memijat bagian tubuh tertentu seperti bokong pengunjung sampai ke sela selangkangan bahkan sampai meraba-raba alat Vital. Cara pekerja di Panti Pijat melayani pelanggan yaitu dengan melakukan pemijatan, pelayanan akan melakukan pembicaraan yang menjurus kepada pengalaman seksual si pelanggan.
Setelah memberikan pijat, biasanya pekerja dan pengunjung berdiskusi dan
70
pengunjung menanyakan apakah ada layanan pijat yang lebih lama atau layanan pijat plus-plus. Layanan pijat plus-plus yang ditawarkan oleh pekerja antara lain yaitu: Handjob (Oral Seks), dan Blowjob (aktivitas seks secara penuh) dan setelah terjadi kesepakatan tarif dan layanan pijat plus-plus barulah aktivitas seksual antara pengunjung dan pekerja dilakukan di salah satu kamar/bilik di panti pijat tersebut. Pelayanan itu menunjukkan bahwa ada berbagai cara yang dilakukan oleh pekerja di Panti Pijat Padang Bulan, tindakan itu dilakukan oleh pekerja panti dalam memberikan pelayanan seks kepada pengunjung atau pelanggan.
Penjelasan mengenai aspek ruang dalam penelitian ini menyinggung dengan tata urutan waktu dan latar belakang pendirian Panti Pijat A yang berada di Padang Bulan. Panti pijat A di Padang Bulan merupakan salah satu panti pijat yang tergolong memiliki fasilitas dan service yang cukup baik. Lokasinya yang berada di Padang Bulan Kecamatan Medan Baru dapat dijangkau dengan mudah.
Pengunjung saat pertama kali masuk ke salah satu panti pijat biasanya akan langsung berhadapan dengan resepsionis atau orang yang menyambut tamu, hal pertama yang ditawarkan oleh resepsionis adalah memperlihatkan foto-foto para pekerja yang bisa di pesan sesuai keinginan pelanggan. Panti pijat A berdasarkan observasi memiliki 6 (enam) buah bilik standar, fasilitas lainnya adalah terdapat 1 buah kamar VIP yang cukup nyaman dan aman khusus disediakan untuk tamu khusus.
5.3 Faktor-Faktor Penyebab Prostitusi Di Panti Pijat 5.3.1 Faktor Internal
a) Faktor Sakit Hati
Berawal dari rasa sakit dengan perlakuan buruk para PSK pernah dapatkan dari laki-laki baik itu pacar, mantan pacar, suami maupun mantan suami mereka dan akhirnya membuat mereka mencari sebuah pelarian atau pelampiasan. Mereka melampiaskan rasa sakit hati tersebut dengan bekerja menjadi pekerja seks seperti informan I,II menjadi pekerja seks di panti pijat karena rasa sakit hati dulu nya bersama mantan pacarnya akhirnya ia memilih jalan pintas untuk mencari pelampiasan seks dengan bekerja di panti pijat tersebut, sedangkan informan III pun juga merasa sakit hati bersama mantan suami nya dulu.
b) Faktor Perceraian Dini
Menurut Hull (1997) akibat dari perceraian maupun perpisahan mereka dahulu menikah di usia yang masih sangat muda atau masih di bawah umur dan tidak memiliki banyak persiapan baik itu mental, keterampilan dan pendidikan.
Usia pernikahan dijalani mereka juga hanyalah sebentar. Mereka berpisah dari suami mereka dengan membawa anak tanpa memiliki bekal ilmu maupun keterampilan yang memadai untuk bertahan hidup. Akibat nya banyak dari mereka yang mengalami kesulitan keuangan dan gangguan emosi (labil) karena selama menikah mereka menggantungkan hidup sepenuhnya pada suami mereka, dan hal ini merupakan faktor penting yang menyebabkan perempuan muda tersebut ke dunia prostitusi seperti infoman III.
72
c. Gaya hidup
Bagong Suryanto (2014) menjelaskan bahwa salah satu faktor perempuan bisa terjun ke dunia prostitusi yaitu karena gaya hidup. Gaya hidup merupakan bagian dari kebutuhan sekunder manusia yang bisa berubah bergantung zaman atau keinginan seseorang untuk mengubah gaya hidupnya. Gaya hidup seseorang bisa dilihat dari cara berpakaian, kebiasaan, dan lain-lain seperti informan I, II dan III menjadi PSK untuk mengubah gaya hidupnya . Informan I terlihat gaya hidup yang serba mewah seperti membeli HP Iphone, perhiasan,baju, alat kosmetik,dan lain-lain sedangkan informan II,III dan IV gaya hidup yang sederhana seperti memakai perhiasan saja seperti kalung dan gelang saja dan tidak terlalu mewah.
Gaya hidup juga bisa dijadikan sebagai contoh dan bisa juga dianggap sesuatu yang tabu dalam masyarakat, gaya hidup yang bisa dijadikan contoh antara lain adalah gaya hidup sehat, gaya hidup hemat, dan lain-lain, sedangkan gaya hidup yang dianggap tabu adalah gaya hidup mewah yang hartanya di dapat dari cara yang tidak patut. Jika berbicara masalah gaya hidup mewah dan hedon, hidup dengan bergelimangan harta memang menjadi dambaan semua orang, namun bagi kebanyakan orang hidup yang sedemikian mewah tidak bisa didapat dengan cara yang instan, butuh perjuangan untuk mendapatkan gaya hidup yang mewah dan semua butuh proses yang memakan waktu yang tidak sebentar.
Namun bagi segelintir orang penikmat gaya hidup mewah nan hedon mereka memilih jalan pintas yang mungkin bisa menjadikan mereka salah satu penikmat hidup mewah.
5.3.2 Faktor Eksternal a) Faktor Ekonomi
Kartini Kartono (2017:187) menjelaskan bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab mengapa sebagian orang melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, namun tetap dilakukan dengan melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat tersebut. Kebutuhan akan ekonomi dan ketidakmampuan seseorang dari segi tingkat ekonomi yang rendah serta ketidakmampuan seseorang dalam menyesuaikan diri untuk mencari pekerjaan yang layak demi menunjang kebutuhan ekonominya, menjadi hal yang menyebabkan sebagian orang menghalalkan segala cara untuk menghidupi diri maupun keluarga seperti informan utama 1 dan informan utama 2 yang mencari uang dengan cara yang tidak halal karena himpitan ekomoni yang membuat mereka terpaksa bekerja di panti pijat tersebut.
Informan utama 1 menjadi PSK karna faktor ekonomi dan memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang banyak karna untuk biaya sekolah adik-adiknya dan kebutuhan yang semakin banyak membuat informan 1 memaksa bekerja di panti pijat tersebut, informan 2 juga sama dengan informan 1 bedanya informan 2 memcari uang untuk biaya kuliah sedangkan informan 3 dan 4 pun juga karna masalah ekonomi yang rendah dan untuk mengubah kehidupan keluarga mereka di kampung.
b) Ajakan Teman
Soedjono (1981) para pekrja seks saling mempengaruhi teman-teman
74
yang semula tidak tahu apa-apa tentang prostitusi akhirnya ikut terjun menjadi pekerja seks karena ajakan dari orang lain seperti Informan I yang memperkenalkan pekerjaan tersebut berkat teman nya sendiri yang sudah lama bekerja di panti pijat dan akhirnya terjerumus oleh temannya untuk mendapatkan uang dengan cepat atau instan sedangkan informan II yag memperkenalkan pekerjaan tersebut juga berkat teman kampus nya yang pernah menjadi pelanggan setia panti pijat tersebut. Informan III dan IV yang memperkenalkan pekerjaan tersebut berkat teman dekatnya.
c) Pengaruh Lingkungan
Menurut (Rosenbarg, 2003:24) lingkungan merupakan semua yang ada di lingkungan dan terlibat individu pada waktu melaksanakan aktifitasnya, lingkungan biologis, komunitas dan masyarakat. Lingkungan dengan berbagai ciri khususnya memegang peranan besar terhadap munculnya corak dan gambaran kepribadian kepada seseorang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan utama I,II,III dan IV faktor yang membuat informan menjadi pekerja seks adalah pergaulan yang terlalu bebas dan dorongan ajakan teman.
5.4 Keterbatasan Penelitian
1. Peneliti merasa kesulitan dalam mewawancari pelanggan setia Panti Pijat Padang Bulan karna pelanggan nya tidak mau untuk wawancarai.
2. Sebagian Pekerja lainnya Panti Pijat disitu tidak bersedia di wawancara.
A. Kesimpulan
Fenomena prostitusi panti pijat di Padang Bulan menunjukkan eksistensi dalam lingkungan prostitusi yang berbeda yaitu diselubungi kebijakan dengan berkedok panti pijat dengan tema baru mengatasnamakan bisnis. Disamping itu persaingan bisnis prostitusi yang mengalami persaingan yang ketat menyebakan pelaku bisnis berusaha memberikan nuansa kenikmatan yang berbeda-beda bagi pelanggan-pelanggan mereka melalui prostitusi panti pijat.
Dalam prostitusi berkedok panti pijat ini memiliki hubungan timbal balik antara PSK dan pemilik panti pijat, dengan menawarkan pijat plus-plus mampu menarik pelanggan. Tarif harga setiap melakukan pemijatan dengan prostitusi biasanya dikenakan Rp 150.000-300.000, untuk dalam satu hari pemijat memperoleh 1-4 orang pelanggan bahkan dalam kondisi tertentu sama sekali tidak ada. Untuk layanan pijat plus-plus berkisar Rp 500.000-1.000.000 tergantung dari jenis pelayanan yang diminta pelanggan terhadap pekerja prostitusi.
Penyebab munculnya prostitusi di panti pijat tersebut adalah masih alasan klasik yaitu masalah ekonomi atau kemiskinan untuk memenuhi biaya kebutuhan hidup dan gaya hidup yang mewah, selain itu juga pekerjaan ini dipengaruhi oleh melihat kesuksesan teman yang memang sukses bergelimangan harta dengan cara instan sehingga mereka tertarik terjun ke dunia prostitusi dengan modus layanan pijat. Faktor lingkungan di Padang Bulan yang ditandai dengan sikap apatis masyarakat tanpa ada rasa kecurigaan serta melakukan kontrol oleh pemerintah dan masyarakat ditengah layanan panti pijat tersebut.
76
Berdasarkan pemaparan diatas, maka peneliti dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya prostitusi berkedok bisnis adalah faktor Internal dan Faktor Eksternal. Faktor internal yaitu: faktor sakit hati, faktor perceraian dini, gaya hidup. Faktor Eksternal yaitu: Faktor ekonomi, faktor lingkungan dan
2. Faktor ajakan temen-temen yang sudah tahu panti pijat atau yang sudah terjun terlebih dahulu dalam dunia pelacuran. Selain faktor ekonomi, tidak sedikit dari mereka terjun ke dunia prostitusi akibat dari faktor lingkungan.
Manusia sebagai makhluk individu, tidak akan terlepas dari pengaruh lingkungan sekitarnya, seperti halnya dengan para pekerja panti pijat di Padang Bulan.
B. SARAN
1. Perlu adanya pengawasan yang ketat dari pemerintah dan dinas terkait izin usaha panti pijat dan usaha-usaha bagian kepariwisataan yang lain agar tidak disalahgunakan.
2. Terus melakukan control terhadap panti pijat yang beroperasi jika sewaktu-waktu terdapat praktek prostitusi yang mengatasnamakan panti pijat yang dilakukan oleh pekerjanya dalam melayani pelanggan.
3. Memberikan pembinaan kepada perempuan pekerja panti pijat dan memberikan kemampuan berupa keterampilan lain sehingga dapat memberikan alternative pekerjaan lain.
4. Perlu adanya perhatian yang penting dari pemerintah terhadap seorang prostitusi dan praktek prostitusi yang dilakukan secara terselubung di panti
pijat, karena terkaitan juga dengan kesehatan reproduksi dan penyebaran penyakit HIV/AIDS di kalangan pekerja panti pijat kepada pelanggannya.
5. Partisipasi masyarakat untuk ikut mengawasi dan melaporkan apabila ada indikasi panti pijat di Padang Bulan melakukan praktik-praktik prostitusi karena dengan lingkungan yang kurang peka terhadap maksiat maka penyebaran maksiat seperti bisnis prostitusi ini seolah-olah menjadi illegal.
DAFTAR PUSTAKA SUMBER BUKU :
Bagong dan Sutinah. (2008). Metode Penelitian Sosial. Surabaya: Kencana Prenada Media Grup.
Bagong, Suyanto J. Dwi Narwoko. (2004). Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Media Group.
Bungin, Burhan. (2007), Penelitian Kualitatif. Jakarta :Kencana.
Gerungan, W.A (1996). Psikologi Sosial, Bandung. Eresco.
HB. Sutopo, (2002), Metodelogi Penelitian Sosial. Surabaya :Usaha Nasional Kartini, Kartono. (1979), Psikologi Abnormal dan Patologi Seks, Bandung.
Kartini, Kartono. (1981). Patologi Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.
Kartini, Kartono 1989, Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual ; Bandung : Mandar Maju.
Kartini, Kartono.(2005). Patologi Sosial :PT Raja Grafindo Persada.
Kartini, Kartono,(2017). Patologi Sosial Jilid 1. Depok: Rajawali pers.
Molong, Lexy J. (2007), Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung.
PT Remaja Rosdakarya.
Myers, (2012). Psikologi Sosial, Jakarta: Saleba Humanika.
Siagian, Matias. (2011). Metode Penelitian Sosial (Pedoman Praktis Penelitian Bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan). Medan. PT Grasindo Monaratama.
Soedjono, (1981). Pathologi Sosial. Bandung: Alumni.
Yesmil, Anwar. (2013). Kriminologi. Bandung :PT Refika Adituma.
JURNAL :
Devi Agwin Puteri, (2016). Upaya Membangun Konsep Diri Pada Seks komersial
Dwiyadi, Andika (2016). Tinjauan Kriminologis Terhadap Kejahatan Prostitusi, Fakultas Hukum, Universitas Hasanudin, Makassar.
Eko Lusjianto, 2015. Skripsi Hubungan antara Religius Dengan Perilaku Seksual Remaja yang sedang pacaran.
Nur, Penti. (2014). Tinjauan Kriminologis Terhadap Kasus Prostitusi Berkedok Bisnis, Makasar https://core.ac.uk/download/pdf/77620853.pdf.
Weny Kusumastuti, (2009). Dinamika Kognisi Sosial Pada Pelacur Terhadap Penyakit Menular Seksual. Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi Vol.
11, No.2, Nopember 2009 : 19-28.
Yandes, Vierly. (2017). Prostitusi Berkedok Panti Pijat, Tanjung Pinang.
INTERNET :
http://jurnal.umrah.ac.id/wpcontent/uploads/gravity_forms/1ec61c9cb232a03a96d 0947c6478e525e/2017/08/JURNAL40.pdf.
https://m.cnnindonesia.com/nasional/20180419112100-20-291933/kemensos-40-ribu-psk-menghuni-lokalisasi-indonesia, diakses pada 19 April 2018.
http://digilib.unila.ac.id/10980/3/bab%20II.pdf .
http://il-pustakawanhukum.blogspot.com/2014/03/makalah-pelacuran-sebagai-masalah.html?m=1
Pasal 296 KUHP QS. Al israa ; 32
Ilham-Koto.blogspot.com/2015/Prostitusi.Pdf.
Pedoman Wawancara Tinjauan Sosiologis Prositusi Berkedok Bisnis (Studi Kasus di Lokalisasi Panti Pijat Di PadangBulan, Jamin Ginting) Tujuan dalam melakukan wawancara tersebut untuk mengetahui diri klien kerja sebagai Pekerja Seks Komersil
1. Kriteria Umum Informan Kunci (Pemilik Panti Pijat)
1. Nama :
1. Berapa rata-rata usia PSK yang anda pekerjakan?
2. Bagaimana anda memasarkan pekerjaan ini?
3. Berapa tarif pekerja anda yang pijat biasa dengan pijat biasa?
4. Sejak kapan anda membuka usaha ini?
5. Sebagai pemilik panti berapa pendapatan anda perbulan?
6. Bagaimana proses perekrutan panti pijat anda?
2. Kriteria Umum Informan Utama (Pekerja Seks Komersial)
1. Nama :
2.1 Daftar Pertanyaan :
1. Apa alasan anda menjadi PSK?
2. Sudah berapa lama anda bekerja sebagai PSK?
3. Siapa yang memperkenalkan pekerjaan ini kepada anda?
4. Siapa yang menjadi pelanggan setia anda?
5. Permintaan pelanggan yang paling aneh seperti apa?
6. Bagaimana cara anda agar pelanggan itu kerasan atau betah sama anda?
7. Dalam semalam anda melayani berapa orang tamu?
8. Berapa penghasilan anda dalam sehari melayani tamu?
9. Penghasilan yang anda dapatkan digunakan untuk apa saja?
10. Apakah anda sudah pernah melakukan hubungan seks sebelum menekuni pekerjaan ini?
11. Apakah orangtua anda mengetahui anda sebagai PSK?
12. Apakah anda pernah mendapat pengalaman yang buruk selama menjadi PSK?
13. Apa harapan anda kedepannya?
3. Kriteria Umum Informan Tambahan (Masyarakat Setempat)
1. Nama :
1. Bagaimana pendapat anda tentang panti pijat di Padang Bulan?
2. Apakah anda merasa terganggu dengan keberadaan PSK di Panti Pijat Padang Bulan?
3. Kapan saja pengunjung datang ke panti pijat ?
4. Bagaimana mereka bersosialisasi dengan masyrakat setempat?
5. Menurut anda mengapa mereka menjadi PSK?
6. Apakah orang tua mereka mengetahui anaknya menjadi PSK dan bekerja di Panti Pijat?
7. Menurut anda apakah faktor keturunan merupakan alasan mereka menjadi PSK?
8. Bagaimana seandainya jika anggota keluarga anda ada yg seperti mereka?