BAB VI HASIL PENELITIAN
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan yakni mencakup pemaparan lebih lanjut dari hasil analisis data yang ditujukan untuk memaparkan lebih jauh lagi terkait masing-masing indikator komponen pembangunan dan lingkungan sosial dalam penelitian ini. Dalam menganalisis data hasil penelitian, peneliti menggunakan teori Indikator Keberhasilan Pembangunan Deddy T. Tikson (2005:98) dapat diukur oleh setidaknya 6 indikator yang diantaranyaPendapatan Perkapita, Struktur ekonomi, Urbanisasi, Angka Tabungan, Indeks Kualitas Hidup, Indeks Pembangunan Manusia dan Indikator kualitas Lingkungan Sosial Jonny Purba (2005:20) dapat diukur oleh setidaknya 3 indikator yang diantaranya segenap pihak diikutsertakan dan masing – masing berperan dan bertanggungjawab, hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat luas guna meningkatkan kesejahteraan hidupnya, penghormatan terhadap hak – hak masyarakat serta modal social yang dikembangkan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya alam dan pengelolaan lingkungan hidup.Berikut adalah pembahasan dari masing-masing indikator keberhasilan pembangunan dan indikator kualitas lingkungan sosial dalam penelitian mengenai
Lingkungan Sosial Masyarakat Nelayan di Desa Teluk Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang - Banten‖.
4.3.1 Pendapatan Perkapita
Pendapatan perkapita erat hubungan dengan terjadinya penambahan atau pengurangan pendapatan nelayan di desa Teluk jika dilihat dari tabel 4.8 berdasarkan data produksi dari pemerintah pada tahun 2011 jumlah ramannya adalah Rp. 2.068.320.000 dan pada tahun 2012 raman meningkat sebesar Rp. 821.957.880 kemudian pada tahun 2013 peningkatan raman sebesar Rp. 3.444.887.724 dan pada tahun 2014 raman meningkat lagi sebanyak Rp. 7.352.202.100 berdasarkan data tersebut dapat dilihat peningkatan raman setiap tahunnya sangat meningkat atau dengan kata lain dilihat dari presentase dari tahun 2011 ke tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 28,43% kemudian dari tahun 2012 ke tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 47,57% dan dari tahun 2013 ke tahun 2014 mengalami peningkatan sebesar 41,4%, hasil tangkapan nelayan juga semakin meningkat karena semakin canggihnya alat tangkap dan semakin besar kapal yang digunakan sangat mempengaruhi banyaknya hasil tangkapan nelayan yang juga akan berdampak pada ramannya dengan kata lain BPPP melaksanakan fungsinya yang ke 5 yaitu pengumpulan data tangkap dan hasil perikanan. Hasil tangkapan nelayan bergantung musim yang terjadi bukan dengan adanya pelabuhan maka hasil tangkapan juga meningkat seperti pada saat musim barat biasanya ikan sangat sulit dicari karena arus air yang begitu deras maka nelayan rata – rata hampir semua tidak melaut dan para nelayan hanya berharap pada pendapatan mereka pada saat musim ikan tetapi tetap saja ada juga beberapa
nelayan yang pergi jauh untuk melaut seperti di lautan Krakatau untuk mencari ikan. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat nelayan sebelum adanya pelabuhan dan sesudah dibangunnya pelabuhan tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan dan peningkatan pendapatan yang ada juga masih tetap bergantung pada musimdan alat tangkapnya namun dengan adanya pelabuhan membuat masyarakat menjadi merasa lebih jauh mencari ikan semenjak adanya pelabuhan masyarakat tidak bisa mencari ikan disekitar pesisir, adanya tpi yang memang berpengaruh besar namun bukan mempengaruhi hasil tangkapan tapi sebagai media penampung hasil tangkapan.Pendapatan masyarakat teluk yang mayoritasnya adalah nelayan bergantung pada hasil tangkapan ikan maka masyarakat hanya berfokus pada pencarian ikan, masyarakat tidak merasa keberatan dengan adanya pelabuhan selama tidak mengganggu aktivitas melaut para nelayan. Dengan kata lain bahwa dampak dari pembangunan PPP belum memiliki dampak positif terhadap hasil tangkapan nelayan desa Teluk. Dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti saat berada ditempat penelitian dan berdasarkan hasil wawancara dengan para informan tentang hasil tangkapan nelayan bahwa hasil tangkapan nelayan pada kenyataannya memang sangat bergantung terhadap musim yang ada, pemerintah menyediakan fasilitas yaitu TPI hanya sebagai media untuk menampung pelelangan ikan dan memungut retribusi dari hasil tangkapan nelayan yang kemudian langsung dilelang ke pengusaha – pengusaha ikan, setiap nelayan membawa hasil tangkapannya ke TPI para pengusaha pemberi modal langsung melelang ikan dan pendapatan juga dibagi dari modal yang diberikan kepada nelayan sebelum melaut bukan membantu
nelayan agar hasil tangkapan nelayan menjadi semakin banyak nelayan biasanya diberikan modal sebelum melaut oleh pengusaha ikan untuk kebutuhan nelayan dikapal selama seminggu atau bahkan lebih kemudian hasil tangkapan nelayan dilelang oleh pengusaha ikan yang kemudian hasilnya dikurangi dengan modalnya terlebih dahulu setelah modal kembali kemudian hasilnya dibagi 50 % untuk pengusaha 50 % untuk nelayan beserta abk nya. Berikut rincian biaya perbekalan nelayan
Tabel 4.5
Rincian Biaya Perbekalan Nelayan Alat Tangkap Jumlah ABK Daerah Tangkapan Jumlah Hari
Rincian Biaya Pembiayaan No Bahan Pemberk elan Volume Harga Satuan jumlah
Payang 12 Liwungan 2 1 Solar 100 7.500 750.000
Sumur 2 Oli 2 25.000 50.000 Pesauran 3 Bensin 4 Bumbu masak 1 300.000 300.000 5 Rokok 30 10.000 300.000 6 Gula 1 kg 20.000 20.000 7 Kopi 2 pck 15.000 30.000 8 Beras 20 liter 10.000 200.000 9 Kayu bakar 1 30.000 30.000 10 Es 5 25.000 125.000 11 Suku cadang 1.790.000 Sumber : Inventaris Fasilitas BPPP Labuan 2015
Berdasarkan tabel data pemerintah diatas dapat diketahui bahwa nelayan diberikan modal awal oleh pengusaha ikan sebesar Rp.1.790.000 dari hasil rincian perbekalan yang akan dibawa oleh nelayan kelaut untuk melaut dalam jangka waktu 2 hari yang daerah tangkapannya antara lain Liwungan, Sumur dan Pesauran. Sebelum adanya pelabuhan ketika status masih Pangkalan Pendaratan
sebelum adanya pelabuhan hasil tangkapan nelayan tetap bergantung kepada musim yang ada begitu juga setelah adanya pelabuhan BPPP tidak mengubah pola hubungan antara pengusaha ikan dengan nelayan sehingga hasil tangkapan tidak terdampak langsung kepadan nelayan dan nelayan belum memiliki potensi besar untuk sejahtera, BPPP belum melaksanakan fungsi no 4 yaitu pemasaran dan distribusi ikan karena pengusaha masih berperan penting dalam pemasaran dan distribusi ikan seharusnya dengan adanya Pelabuhan BPPP membantu nelayan untuk meningkatkan pendapatannya melalui hasil tangkapanya dengan menangani langsung pemasaran dan distribusi ikan sehingga bukan pengusaha ikan lagi yang berperan penting karena hasil tangkapan merupakan pendapatan nelayan sehingga kesejahteraan nelayan tercermin dari pendapatannya karena tujuan dari Pembangunan Pelabuhan ini adalah mengubah masyarakat menjadi lebih sejahtera.
4.3.2 Struktur Ekonomi
Struktur ekonomi erat hubungannya dengan kesejahteraan hidup masyarakat dan juga pendapatan masyarakat. Salah satu pembangunan fasilitas untuk nelayan adalah adanya pembangunan mesin pendingin es yang biasa disebut dengan cold storage yang berfungsi untuk membekukan ikan, diharapkan dengan adanya mesin pendingin es ini membantu meningkatkan struktur ekonomi masyarakat karena mesin pendingin ini mampu untuk membuat ikan lebih tahan lama sehingga ikan masih segar untuk dijual di hari berikutnya, namun nelayan sendiri tidak memanfaatkan cold storage itu karena nelayan menganggap cold storage itu tidak berfungsi maksimal sehingga cold storage sangat jarang
digunakan. Berdasarkan wawancara dengan masyarakat, masyarakat nelayan mengetahui dan mengerti fungsi dari cold storagemasyarakat tidak menggunakan fasilitas yang diberikan oleh pemerintah tersebut karena memang ikan yang mereka tangkap masih segar dan setelah dilakukan pelelangan ikan – ikan tersebut langsung dibawa dan dijual oleh pengusaha – pengusaha ikan. Cold storage
sendiri tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan bukan karena adanya mesin pendingin hasil tangkapan menjadi lebih banyak namun hasil tangkapan tetap bergantung kepada musim yang terjadi. Daerah Labuan dianggap strategis untuk menangkap ikan dan dengan adanya cold storage mempermudah masyarakat karena tidak lagi menggunakan cara yang alami dengan menimbun ikan menggunakan es didalam peti dan dengan adanya cold storage membuat daya tahan ikan menjadi lebih mudah, sehingga apabila penjualan agak terlambat nelayan masih dapat menyimpan ikan di cold storage sehingga ikan masih bisa bertahan dalam keaadan yang lama. Berdasarkan pengamatan peneliti menyatakan bahwapada kenyataannya hasil tangkapan nelayan di desa Teluk pada saat dilelang kemudian langsung dibawa dan di pasarkan.Ikan - ikan hasil tangkapan dari nelayan cukup untuk daerah Labuan jadi tidak di ekspor keluar daerah Labuan sehingga ikan tidak perlu di simpan di cold storage untuk dibekukan agar dapat dijual kembali dihari berikutnya.Dalam hasil pengamatan yang dilakukan peneliti saat berada ditempat penelitian cold storagejika dilihat dari fungsinya sangat membantu masyarakat nelayan karena memang fungsi cold storage sendiri adalah untuk membekukan ikan sehingga apabila nelayan masih ingin menjual ikan dikemudian hari dapat disimpan terlebih dahulu di cold storage namun
masyarakat tidak menggunakannya dan masyarakat menganggap pemerintah kurang tepat membangun cold storage karena ikan – ikan yang sudah ditangkap masih dijual dalam keadaan segar dan langsung dilelang sehingga masyarakat tidak perlu untuk menyimpan ikan di cold storage untuk dijual kembali esok harinya.
Gambar 4.1 Proses Pelelangan Ikan
Sumber : Peneliti 2015
Berdasarkan gambar di atas dapat dikatakan bahwa setiap nelayan pulang melaut membawa hasil tangkapan ikan pada setiap jam tetap dilakukan pelelangan karena hasil tangkapan nelayan selalu dijual habis pada saat lelang sehngga ikan – ikan yang ada tidak harus dibekukan lagi dengan kata lain pembangunan cold storage
tidak mempengaruhi semakin banyaknya hasil tangkapan nelayan karena sebelum adanya pelabuhan juga tidak ada cold storage nelayan selalu menjual habis ikannya dalam sehari begitu juga setelah adanya pelabuhan nelayan tetap menjual habis ikannya dalam seharicold storage meski dalam jangka panjang belum berfungsi maksimal untuk masyarakat. BPPP belum melaksanakan fungsinya
yang ke 8 yaitu pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sumber daya ikan, apabila dilihat dari fungsinya BPPP berperan penting untuk mengawasi hasil tangkapan dan mengendalikan stok ikan nelayan karena ikan selalu dijual habis dalam sehari cold storage tidak perlu untuk dibangun karena tidak membantu semakin banyaknya hasil nelayan pembangunan cold storage hanya membuang – buang uang saja apabila dilakukan pengawasan dengan baik maka pihak BPPP pasti mengetahui ikan hasil tangkapan nelayan selalu terjual habis setiap hari atau setiap nelayan membawa hasil tangkapannya ke darat namun sangat lebih baik apabila BPPP membangun banyak pabrik es yang sangat dibutuhkan nelayan, pabrik es memang ada namun hanya satu dan dalam kondisi rusak sehingga tidak dapat digunakan. Masyarakat sendiri menilai pemerintah sangat kurang tepat membangun cold storage lebih baik membangun pabrik es yang sangat berfungsi untuk kebutuhan nelayan dan yang menjual es adalah masyarakat sekitar atau nelayan – nelayan yang membuka usaha untuk menjual es yang akan digunakan nelayan pada saat akan melaut sehingga tidak akan sia – sia pembangunan yang dilakukan sampai saat ini pemerintah belum ada solusi untuk mengatasi tidak berfungsinya cold storage dan pembangunan kembali pabrik es masih dalam rencana BPPP dari tahun 2014 namun belum terrealisasikan sampai saat ini. 4.3.3 Urbanisasi
Urbanisasi merupakan perpindahan penduduk dari desa ke kota namun perindahan yang terjadi di Desa Teluk adalah Perpindahan dari kota ke desa atau biasa disebut sebagai Tranmigrasi dan Transmigrasi yang terjadi yaitu Transmigrasi lokal yang mencakup migrasi dalam daerah tertentu, yakni dari
daerah yang satu ke daerah yang lain. Pola perpindahan penduduk yang perlu diketahui adalah perpindahan keluar dan masuk kedalam suatu daerah secara umum, serta pola musiman dan tetap. Desa Teluk merupakan wilayah strategis untuk menjadi tempat tinggal bagi orang – orang yang berprofesi sebagai nelayan karena posisi pelabuhan perikanan terletak dekat dengan Desa Teluk dan karena mayoritas penduduk yang tinggal di Desa Teluk adalah nelayan maka banyak nelayan – nelayan yang dari kota lain pindah dan bertempat tinggal menetap ke Desa Teluk yaitu dari Sumatera dan Jawa Timur. Padatnya penduduk yang terjadi setiap tahun di Desa Teluk diakibatkan dari pendatang yang juga membawa saudaranya untuk tinggal di Desa Teluk dan kemudian menetap dan membuat KTP sehingga menjadi warga Desa Teluk. Berdasarkan wawancara dengan sekertaris desa pola perpindahan penduduk yang terjadi ada juga yang bersifat musiman yang kemudian menetap menjadi warga desa Teluk. Jika dikalkulasikan ada sekitar 20% yang kembali ke daerahnya masing – masing dan yang menetap menjadi warga Desa Teluk adalah yang belum berkeluarga yang kemudian menetap di desa mencari ikan di Desa dan juga membuat ktp di Desa Teluk. Nelayan yang bersifat musiman itu adalah nelayan yang datang dari Jawa dan Lampung nelayan musiman yang datang ke Desa Teluk disebut sebagai andon, andon ini kemudian menangkap ikan di wilayah Labuan disekitar Pelabuhan atau di daerah tempat nelayan Desa Teluk biasa mencari ikan. Para andon ini mengontrak di rumah masyarakat Desa Teluk lebih dari sebulan dengan menyediakan kontrakan untuk para andon yang datang dari Jawa dan Lampung dapat menjadi tambahan pendapatan untuk masyarakat desa Teluk yang memiliki
kontrakan namun untuk melaut lamanya di laut hanya 3 hari saja. Setelah 3 hari di laut kemudian para andon kembali ke kontrakan untuk beristirahat dan beberapa hari kemudian melaut lagi 3 hari seperti itu aktifitas para Andon sampai lebih dari 1 bulan berada di Desa Teluk. Dalam hasil pengamatan yang dilakukan peneliti saat berada ditempat penelitian, melihat bahwa dalam indikator pola perpindahan penduduk Desa Teluk sebagian besar masyarakat yang berpindah kedalam Desa Teluk adalah tetap. Nelayan musiman tinggal di desa hanya dalam waktu 1 bulan kemudian kembali lagi ke kota asalnya selama nelayan musiman mengontrak dirumah warga Desa Teluk masyarakat sekitar mendapatkan tambahan pendapatan dari hasil kontrakan tersebut namun adanya Andon tidak mempengaruhi penjualan ikan nelayan meskipun para andon ikut lelang dan menjual ikan di TPI tidak berpengaruh dengan naik atau turunnya harga ikan, ada 11 rumah yang digusur karena lahannya digunakan untuk pembangunan pemindahan TPI dan kantor TPI yang lama dibangun kembali untuk dijadikan kantor Balai Pelabuhan Perikanan Pantai (BPPP) Labuan sekarang karena sudah dibangun kantor dan memiliki halaman yang cukup luas untuk upacara pegawai dan acara – acara lainnya maka tempat penjemuran ikan asin atau talut sudah tidak boleh di halaman kantor BPPP Labuan, berikut ini adalah data warga yang sudah direlokasi oleh pemerintah :
Tabel 4.6
Data warga yang sudah di relokasi No Nama KK Pekerjaan Tahun
Berdiri
Pemberi izin Keterangan Legal Ilegal 1 Bunyamin Nelayan 2010 DKP. Prov.
Banten
2 Rasidi B. Kasim Nelayan 2010 DKP. Prov.
Banten
3 Rosikin B. Nurdin Wiraswasta 2010 DKP. Prov.
Banten
4 Supriyadi Nelayan 2010 DKP. Prov.
Banten
5 Yubi B. Ifak Nelayan 2010 DKP. Prov.
Banten
6 Buang B. Sarka Nelayan 2010 DKP. Prov.
Banten
7 Irsad Wiraswasta 2010 DKP. Prov.
Banten 8 Rasina BT. Tabiyan Wiraswasta 2010 DKP. Prov. Banten
9 Rajad Nelayan 2010 DKP. Prov.
Banten
10 Kalis Dagang 2010 DKP. Prov.
Banten
11 Japar Nelayan 2010 DKP. Prov.
Banten
Sumber : Inventaris Fasilitas BPPP Labuan 2015
Berdasarkan tabel 4.6 diatas ada 11 keluarga yang direlokasi untuk pembangunan TPI masyarakat tersebut tidak memiliki surat tanah dan surat Izin untuk tinggal ditanah tersebut dan masyarakat itu hanya berpindah RT (Rukun Tetangga) saja dengan menempati rumah yang sudah disediakan pemerintah sebagai ganti rugi penggusuran 11 rumah tersebut dan ganti ruginya dalam bentuk bangunan bukan uang dan masyarakat yang digusur tetap menetap sebagai warga desa Teluk. Sesuai data daftar isian buku profil Desa Teluk pada tahun 2013 bahwa jumlah penduduk Desa Teluk sebanyak 6.527 jiwa dengan jumlah laki – laki sebanyak 2.019 dan perempuan sebanyak 4.508 jiwa dan mengalami peningkatan jumlah penduduk pada tahun 2014 yaitu dengan jumlah 7.003 jiwa,
Dengan kata lain dalam pengamatan peneliti peningkatan jumlah penduduk karena nelayan musiman dalam setahun ada 124 orang yang menetap dan bertempat tinggal di Desa Teluk selain itu banyak masyarakat yang datang dari Jawa menetap dan kemudian menjadi warga Desa Teluk. Selain itu penggusuran 11 rumah masyarakat merasa ganti rugi tidak sesuai dengan rumah mereka yang lama namun masyarakat tidak dapat menuntut banyakkarena tanah yang mereka tempati adalah tanah pemerintah dan tanah yang baru itu juga milik pemerintah juga dan masyarakat itu sendiri tidak memiliki tanah disekitar pelabuhan.
4.3.4 Angka Tabungan
Angka Tabungan erat hubungannya dengan pendapatan dan modal usaha yang sangat dibutuhkan untuk pergi melaut dan berdagang sehingga sangat perlu untuk menabung dari setiap penghasilan yang diperoleh oleh masyarakat nelayan. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, nelayan memiliki tabungan sendiri namun tidak ditabung di bank tetapi tabungannya di simpan sendiri dirumah dan tabungan itu di gunakan untuk persiapan pada saat terjadi musim Barat nanti untuk menabung di bank masyarakat banyak yang masih belum mengerti sehingga lebih baik menabung sendiri. Pada saat musim Barat banyak nelayan tidak pergi melaut karena cuaca buruk sehingga nelayan akan banyak mengalami resiko jika tetap melaut dan biasanya musim Barat terjadi selama 4 bulan dan nelayan menggunakan tabungan mereka untuk biaya hidup selama musim Barat terjadi. Dalam pengamatan peneliti pada saat berada ditempat penelitian bahwa masyarakat selalu mempersiapkan tabungan sendiri untuk kebutuhan hidupnya ketika musim barat tiba karena pada saat musim barat angin
sangat kencang dan nelayan tidak dapat pergi melaut selama 4 bulan, sehingga untuk kebutuhan hidup sekeluarga selama musim barat masyarakat menggunakan tabungan tersebut. Dengan kata lain setelah ada pelabuhan masyarakat juga dapat menabung di TPI dengan cara nelayan setiap mendapat hasil tangkapan dipungut retribusi 4% dari hasil tangkapannya kemudian 1% adalah tabungan yang dapat diambil nelayan pada saat musim barat tiba dengan cara ini memudahkan nelayan karena tabungannya utuh apabila ditabung sendiri biasanya diambil sedikit sesuai kebutuhan namun cara itu tergantung dari masyarakatnya masing – masing sedangkan sebelum adanya pelabuhan masyarakat hanya menabung sendiri dan terkadang tidak mampu memperhitungkan sesuai dengan kebutuhannya. BPPP dapat dikatakan telah melaksanakan fungsinya yang ke 6 yaitu pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan dengan memperbolehkan masyarakat untuk menabung di TPI dari hasil tangkapannya dipungut berapa persen tergantung keinginan dari masyarakat dengan kata lain pelabuhan membantu masyarakat untuk lebih maju dan mengembangkan diri masyarakat agar hidup para nelayan menjadi lebih baik.
4.3.5 Indeks Kualitas Hidup
Variabel ini menggambarkan kesejahteraan masyarakat, karena tingginya status ekonomi keluarga akan mempengaruhi status pendidikan para anggotanya. Tingkat pendidikan nelayan di desa Teluk pada umumnya hanya sd saja paling tinggi sampai tingkat smp dikarenakan kurangnya biaya dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pendidikan karena bagi nelayan hanya mencari ikan lah tujuan utama dalam hidup
mereka dengan adanya Pelabuhan diharapkan pemerintah mampu untuk memperhatikan kesejahteraan keluarga diharapkan dengan memberikan bantuan berupa beasiswa kepada masyarakat untuk memotivasi agar semakin banyak masyarakat yang bersekolah dan memperoleh pendidikan dan juga mempermudah masyarakat mengakses pendidikan, berdasarkan wawancara dengan nelayan untuk menyekolahkan anak tergantung kepada rejeki yang didapatkan oleh nelayan bantuan beasiswa disediakan untuk anak – anak yang bersekolah yang didapatkan dari BPPP dan kemudian beasiswa itu diambil di pos yang berada di seberang kiri kantor BPPP dengan beasiswa ini secara langsung memotivasi anak untuk bersekolah karena tidak banyak membebankan orangtua lagi untuk biaya perlengkapan sekolah begitu juga bagi para nelayan, dengan adanya beasiswa ini mempermudah nelayan untuk biaya sekolah anak sehingga uang yang seharusnya untuk sekolah anak bisa ditabung dan digunakan untuk keperluan kedepannya. Masyarakat nelayan lain mengatakan bahwa beasiswa yang diberikan kepada masyarakat tidak merata dan tidak dilihat dari latarbelakang ekonomi karena ada yang sudah mampu namun anaknya mendapat beasiswa. Tetapi anak – anak nelayan sekarang sudah bersekolah sehingga tingkat pendidikan di masyarakat menjadi meningkat dengan adanya kesadaran masyarakat untuk bersekolah dan juga motivasi dengan diberiannya bantuan seperti beasiswa kepada masyarakat.
Tingkat Pendidikan Tahun 2011 Tahun 2014 SD 2112 3536 SMP 967 1100 SMA 753 1250 Kejuruan 560 890 Sarjana 37 346
Sumber : Buku Profil desa Teluk
Berdasarkan data pemerintah desa pada tabel 4.7 tingkat pendidikan yang ada di desa Teluk mengalami peningkatan dari tahun 2011 ke tahun 2014.Dalam hasil pengamatan yang dilakukan peneliti saat berada ditempat penelitian, dengan adanya Pelabuhan ada bantuan penambahan pembangunan sekolah di desa Teluk sebelum adanya pelabuhan sd hanya ada satu saja namun setelah adanya pelabuhan sudah ada 3 sekolah yang dibangun untuk sd, 1 madrasah, smp dan sma juga sudah ada dan sekarang tk sedang dalan pembangunan ada juga rumah pintar yang diberikan untuk anak – anak nelayan belajar tentang Pelabuhan dan Laut.
Gambar 4.2 Rumah Pintar Anak Nelayan
Sumber : Peneliti 2015
Berdasarkan gambar di atas hasil pengamatan peniliti menyatakan bahwa dengan adanya fasilitas seperti ini anak – anak nelayan juga akan memiliki
sudah ada anak nelayan yang tingkat pendidikannya sampai ke jenjang perkuliahan dilihat dari tabel diatas yang sarjana sudah ada 346 orang, dari sini terlihat bahwa cara berpikir anak – anak nelayan juga sudah semakin maju sehingga mereka berkeinginan sekolah setinggi – tingginya bukan lagi berpikir untuk menjadi nelayan pergi melaut dan membantu orangtua mencari ikan. BPPP sudah melaksanakan fungsinya yaitu sebagai pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan dengan adanya bantuan pembangnan sekolah