HASIL PENELITIAN
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang sudah disusun dan data yang sudah diperoleh maka :
1. Kearifan lokal para santri kaitannya dengan ekonomi kreatif di Pondok Pesantren yaitu lebih ke arah perniagaan (minimarket, londry, kantin) dengan pembiasaan-pembiasaan sebagai sikap mandiri dan tanggung jawab. Nilai-nilai kearifan lokal di pondok pesantren, merupakan keniscayaan dalam pembinaan kepribadian, terutama dalam proses pendidikan dan pembelajaran yang langsung ditangani para kyai atau ustadz secara terus menerus. Hal ini terbukti banyaknya para alumni pesantren yang tersebar di nusantara, mampu membina masyarakat melalui pendidikan dan pembelajaran. Menjadi tokoh teladan dalam kehidupan sehari-hari, nilai karismatik para kyai menjadi acuan dan rujukan, baik bagi masyarakat biasa, menengah keatas. Karakter merupakan sendi-sendi yang menopang bangsa dalam mewujudkan masyarakat yang mandiri.
Kearifan lokal yang diharapkan dari para santri adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Semua bentuk kearifan lokal ini dihayati, dipraktikkan, diajarkan dan diwariskan dari generasi ke generasi sekaligus membentuk pola perilaku manusia terhadap sesama manusia. Jadi didalam penelitian ini kearifan lokal para santri diharapkan, para santri diberi pengetahuan atau bekal tentang
sesuatu yang dapat mereka terapkan atau lakukan dalam lingkungan mereka sehingga dapat membantu ekonomi para santri baik yang masih berada di lingkungan pondok pesantren ataupun setelah mereka keluar dari pondok pesantren, pengetahuan yang mereka dapat dari senior dapat mereka wariskan kepada junior.
Selama penelitian ini, peneliti memperoleh informasi dari beberapa pondok pesantren yang berada di daerah Tangerang Selatan, di dapati hasilnya bahwa tidak banyak ponpes yang mengalakan atau menerapkan kearifan lokal pada ekonomi kreatif para santri, ini disebabkan karena kekurangan lahan atau tempat yang berada di pondok pesantren ,Kebanyakan hasil para santri terlibat dalam pengelolaan usaha yang berada dalam pondok pesantren berupa toko dalam penyedian kebutuhan para santri, berupa pakaian, dan makanan serta kebutuhan-kebutuhan lain. Adapun beberapa ponpes yang berada di Tangerang selatan memperdayakan masyarakat sekeliling atau disekitar Ponpes dalam penyedian kebutuhan makanan dan kebutuhan lain terhadap para santri yang berada di pondok pesantren, ini berarti Ponpes ikut membantu dan memperdayakan serta menunjang ekonomi kreatif masyarakat yang berada disekitar pondok pesantren.
2. Potensi Usaha yang dikelola oleh para Santri di Pondok Pesantren Berdasarkan hasil wawancara peneliti, potensi usaha yang dapat dilakukan oleh para santri dan pengelola pondok pesantren yaitu rata-rata lebih banyak ke arah perniagaan seperti warung, kopontren (koperasi pesantren), minimarket, dan kantin. Memang sebelumnya potensi lokalnya ke arah peternakan kambing dan ikan, perkebunan dengan menanam pohon mangga, multimedia yaitu radio, dan sablon. Tapi saat ini, potensi tersebut sudah tidak ada lagi (Off), bahkan ada beberapa pondok pesantren yang dari dulu sampai sekarang tidak mengetahui potensi lokal yang dimilikinya
dikarenakan pondok pesantrennya tidak memiliki sumber daya alam sehingga tidak ada kegiatan kewirausahaan dipondok pesantrennya.
Keterbatasan tersebut salah satunya yaitu lahan dan tempat serta dana untuk mengembang ekonomi kreatif terhadap para santri. Sebenarnya banyak peluang usaha yang dapat dikelola oleh para santri apabila tersedianya lahan dan hibah dana dari pemerintah seperti para santri dilibatkan dalam pengelolaan dibidang pertanian, hasil dari pertanian dapat membantu kebutuhan para santri selain memenuhi kebutuhan para santri sehari-hari. Hasil pertanian dapat dijual kepada masyarakat sekitar ataupun kepasar, sehingga hasil dari penjual dapat digunakan untuk kebutuhan para santri atau kebutuhan pondok pesantrern lainya. Dan demikian juga dibidang peternakan dan perikanan para santri dapat dilibatkan dalam pengelolaanya, ini membuat mereka jadi memahami dan mengerti tentang peluang usaha yang mereka lakukan di area Ponpes, dengan adanya keterlibatan para santri dalam pengelolaan usaha ini, dapat mendidik mereka nantinya menjadi Santripreneur. Namun yang menjadi kendala adalah ketersediaan lahan. Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh para peneliti kebeberapa ponpes yang berada di daerah Tangerang Selatan hampir sebahagian besar ponpes tidak melakukan usaha yang berhubungan dengan kearifan lokal, seperti pertanian, peternakan tetapi peluang usaha yang ada yang terdapat di Ponpes adalah peluang usaha kecil menengah lebih ke arah perniagaan seperti Koperasi pesantren yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, jajanan dan kebutuhan sekolah yang dikelola oleh pemilik pesantren yang ada beberapa ponpes dengan melibatkan para santri.
3. Model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah
Model pengembangan santripreneur sebagai penggerak ekonomi kreatif berbasis syariah lebih ke arah optimalisasi potensi yang ada (perniagaan dan kuliner) dengan dukungan berbagai macam Pihak. Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyiapkan lahan hibah sebagaipusat lokasi bisnis yang di khususkan bagi para santripreneur se Tangerang Selatan. Kemudian Dinas-dinas yang lain bekerja sama untuk mempromosikan produk yang dihasilkan oleh para santripreneur agar banyak pembeli yang berkunjung ke lokasi tersebut. Kemudian untuk pengembangan santripreneurnya melalui kerja sama antara pemerintah, universitas, dan pihak-pihak lainnya seperti Kemenag Tangsel, FSPP, komunitas tertentu misalnya komunitas bioponik untuk diberikan pelatihan dan pendampingan usaha. Produk yang dihasilkan, diusahakan masing-masing pondok pesantren memiliki ciri khas yang memiliki daya jual yang unik dan tinggi. Dan tentunya diberikan bantuan baik berupa dana/modal, alat produksi maupun skill. Selain itu diperlukan daya dukung dari masyarakat, pengelola pondok pesantren, yayasan, guru, wali santri dan para santrinya.