• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN HASIL PENELITIAN"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN HASIL PENELITIAN

PENELITIAN DASAR INTERDISIPLINER (PDID) TAHUN ANGGARAN 2020

MODEL PENGEMBANGAN SANTRIPRENEUR SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI KREATIF BERBASIS SYARIAH DI

PROVINSI BANTEN

Tim Peneliti:

Tri Harjawati, S.Pd., M.Si. (Ketua Peneliti) Cut Dhien Nourwahida, M.A. (Anggota)

PUSAT PENELITIAN DAN PENERBITAN (PUSLITPEN)

LP2M UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan penelitian yang berjudul “Model Pengembangan Santripreneur Sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah Di Provinsi Banten”, merupakan laporan akhir pelaksanaan penelitian yang dilakkan oleh “Tri Harjawati, S.Pd., M.Si. dan Cut Dhien Nourwahida, M.A.”, dan telah memenuhi ketentuan dan kriteria penulisan laporan akhir penelitian sebagaimana yang ditetapkan oleh Pusat Penelitian dan Penerbitan (PUSLITPEN), LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, September 2020 Ketua Peneliti

Tri Harjawati, S.Pd., M.Si. NIDN. 2014118001

Mengetahui; Kepala Pusat,

Penelitian dan Penerbitan (PUSLITPEN) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DR. IMAM SUBCHI, MA. NIP. 19670810 200003 1 001

Ketua Lembaga,

Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

JAJANG JAHRONI, MA., PhD NIP. 19670612 19940 3 1006

(3)

PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI

Yang bertanda tangan di bawah ini;

Nama : Tri Harjawati, S.Pd., M.Si.

Jabatan : Dosen Tetap Non PNS Unit Kerja : Jurusan Pendidikan IPS

Alamat : Jl Puri Bintaro Residence 1 jl Cherry 2 No.i-5 Jl Serua Indah Kec Ciputat Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten

dengan ini menyatakan bahwa:

1. Judul penelitian “Model Pengembangan Santripreneur Sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah Di Provinsi Banten” merupakan karya orisinal saya.

2. Jika di kemudian hari ditemukan fakta bahwa judul, hasil atau bagian dari laporan penelitian saya merupakan karya orang lain dan/atau plagiasi, maka saya akan bertanggung jawab untuk mengembalikan 100% dana hibah penelitian yang telah saya terima, dan siap mendapatkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku serta bersedia untuk tidak mengajukan proposal penelitian kepada Puslitpen LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama 2 tahun berturut-turut.

Demikian pernyataan ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.

Jakarta, September 2020

Yang Menyatakan,

Materai Rp. 6000

Tri Harjawati, S.Pd., M.Si. NIDN.2014118001

(4)

ABSTRAK

Penelitian ini tentang Model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana kearifan lokal para santri kaitannya dengan ekonomi kreatif di Pondok Pesantren, untuk mengetahui bagaimana Potensi Usaha yang dikelola oleh para Santri di Pondok Pesantren, dan untuk mengetahui Model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah di Provinsi Banten. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik Pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara, Studi Dokumentasi dan Study Pustaka. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yaitu tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kearifan lokal para santri kaitannya dengan ekonomi kreatif di Pondok Pesantren yaitu lebih ke arah perniagaan (minimarket, londry, kantin) dengan pembiasaan-pembiasaan selama dipondok yang bertujuan untuk membangun sikap mandiri dan tanggung jawab. 2) Potensi Usaha yang dikelola oleh para Santri di Pondok Pesantren yaitu rata-rata lebih banyak ke arah perniagaan seperti warung, kopontren (koperasi pesantren), minimarket, dan kantin. 3) Model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah, saat ini lebih ke arah optimalisasi potensi yang ada (perniagaan dan kuliner) dengan dukungan berbagai macam Pihak yaitu Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Universitas, Dinas-dinas terkait, Kemenag Tangsel, FSPP, komunitas tertentu, masyarakat, pengelola pondok pesantren, yayasan, guru, wali santri dan para santri. Rekomendasi yang bisa diberikan yaitu diberikan edukasi dalam bentuk pelatihan-pelatihan membuat produk yang unik dan berkesinambungan, diberikan dukungan dana hibah, adanya lokalisasi tempat usaha, dan dipromosikan tempat usahanya, memfasilitasi pengembangan bakat para santri, dan difasilitasi link kerja sama dengan berbagai macam pihak.

(5)

ABSTRACT

This research is about the Santripreneur Development Model as a Creative Economy Driver. The purpose of this research is to find out how the local wisdom of the students is related to the creative economy in Islamic boarding schools, to find out how the business potential is managed by the santri at the Islamic boarding schools, and to find out the Santripreneur Development Model as a Sharia-based Creative Economy Driving Force in Banten Province. This research uses descriptive qualitative method. The data collection techniques used interview techniques, documentation study and literature study. The data analysis technique used the Miles and Huberman model, namely the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results show that 1) the local wisdom of the students is related to the creative economy in Islamic boarding schools, which is more towards commerce (minimarkets, londry, canteen) with habituation during lodgings which aims to build an independent attitude and responsibility. 2) The business potential that is managed by the Santri at the Islamic Boarding School is on average more towards commerce such as warungs, kopontren (pesantren cooperatives), minimarkets, and canteens. 3) The Santripreneur Development Model as a Sharia-Based Creative Economy Mobilizer, currently it is more towards optimizing existing potential (commerce and culinary) with the support of various parties, namely the South Tangerang City Government, Universities, related agencies, Ministry of Religion of Tangsel, FSPP, communities in particular, the community, boarding school managers, foundations, teachers, guardians of the santri and the students. Recommendations that can be given are education in the form of trainings to make unique and sustainable products, grant support, localization of business premises, and promotion of business premises, facilitating the development of the talents of students, and facilitating collaborative links with various parties.

(6)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkah, taufik, dan karuniaNya laporan penelitian ini dapat diselesaikan tepat ‘pada waktunya. Laporan penelitian ini berjudul “Model Pengembangan Santripreneur Sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah Di Provinsi Banten”

Penyusunan laporan penelitian ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam penyelesaian penelitian ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus penulis sampaikan kepada yang terhormat :

1. Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis Lc, MA .,selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulisuntuk mengembangkan kemampuan penelitian dalam rangka pengembangan keilmuan yang penulis miliki.

2. Jajang Jahroni, MA., PhD. Selaku Ketua Lembaga Penel;itian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan bantuan dana sehingga penulis memiliki kesempatan untuk dapat melaksanakan penelitian ini.

3. Dr. Imam Subchi, MA, selaku Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan (PUSLITPEN) LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan bantuan dana sehingga penulis memiliki kesempatan untuk dapat melaksanakan penelitian ini.

4. Bapak M. Edi Suharsongko selaku KASI PAKIS di Kementrian Agama Kota Tangerang Selatan, yang telah memberikan izin bagi penulis untuk memperoleh data baik secara langsung melalui wawancara maupun dalam bentuk pemberian dokumentasi.

(7)

5. Bapak Musli Hudin selaku Ketua/ Pimpinan FSPP (Forum Silaturahmi Pondok Pesantren) Kota Tangerang Selatan dan selaku Pimpinan Pondok Pesantren Al Muqriyah yang dengan sabar meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam kaitannya menyediakan data penelitian baik secara langsung wawancara maupun dalam bentuk pemberian dokumentasi

6. Bapak Suryadi Yahya selaku Pengurus Harian Pondok Pesantren Al Husny, yang telah memberikan kemudahan bagi penulis untuk memperoleh data baik secara langsung melalui wawancara maupun dalam bentuk pemberian dokumentasi.

7. Bapak Syamsudin selaku Kepala Divisi Usaha Yayasan Al manar Al Ghontory di Pondok Pesantren Al Ghontory yang dengan sabar meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam kaitannya menyediakan data penelitian meskipun dilakukan secara online

8. Ibu Sukma selaku koordinator bidang Usaha di Pondok Pesantren Darul Tauhid yang dengan sabar meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam kaitannya menyediakan data penelitian meskipun dilakukan secara online

9. Ustad Rijal dari Pondok Pesantren sabilussalam yang dengan sabar meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam kaitannya wawancara meskipun secara online

10. Ustad Khudri dari Pondok Pesantren Darul El Hikam yang dengan sabar meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam kaitannya wawancara meskipun secara online

11. Ustazah Rodiana dari Pondok Pesantren Sabiluna yang dengan sabar meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam kaitannya wawancara meskipun secara online

12. Ustad Arapan Agung dari Pondok Pesantren jamiah Islamiyah yang dengan sabar meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam kaitannya wawancara meskipun secara online

(8)

13. Ustad Suryadi Yahya dari Pondok Pesantren AL Fahriyah yang dengan sabar meluangkan waktu untuk membantu penulis dalam kaitannya wawancara meskipun secara online

14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian laporan

Demikianlah ucapan terima kasih penulis, kiranya Allah SWT memberikan pahala yang setimpal kepada semua yang telah memberikan bantuannya, Amin.

Jakarta, September 2020

(9)

DAFTAR ISI

COVER

LEMBAR PENGESAHAN ….…….…….…….…….………... PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI …..…..……..……..…….. ABSTRAK ..…..…….…….…….…..……..……..…….……….. ABSTRACT ..……..……..……..………..………….. KATA PENGANTAR .…..…..…..…..…..….…..…..…..…..….. DAFTAR ISI ..….….…..…..…..….….…..….….….….…..….….. DAFTAR TABEL …..…..…..…..…..…..…..…….…….…..……. DAFTAR GAMBAR ..…..….…..….…..…..….….….….……. BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah …..…..…..…..…….……..…….….. B. Pembatasan Masalah ...……….. C. Perumusan Masalah …..……..……..……..……..……..…….. C. Tujuan Penelitian ..…….…..….…..….…..…..……..…….…. D. Sistematika Pembahasan …..…….…….……..…….……..…..

BAB II. KAJIAN TEORI

A. Kewirausahaan

1. Pengertian Kewirausa …..…….…….……..…….……..….. 2. Tujuan dan Manfaat Kewirausahaan …..…….…….…….. B. Ekonomi Kreatif

1. Pengertian Ekonomi Kreatif ….…….……..…….……..….. 2. Pilar Utama Pengembangan Model Ekonomi Kreatif ..….. C. Ekonomi Syariah

1. Pengertian Ekonomi Syariah ….…….……..…….……..….. 2. Tujuan Ekonomi Syariah ….…….……..…….……..……... 3. Prinsip-prinsip Ekonomi Syariah ….…….……..…….…….. D. Kearifan Lokal

1. Pengertian Kearifan Lokal ...…...……….. 2. Ciri-ciri Kearifan Lokal ...………...……. E. Ekonomi Kreatif dan Kearifan Lokal ...………..…. F. Ekonomi Kreatif dan Kearifan Lokal dalam Perspektif Ekonomi

Islam ...……...………...……. G. Penelitian Relevan ….…….……..…….……..…..…..……….. i ii iii iv v viii xi xii 1 5 6 6 6 8 9 10 11 12 12 12 14 14 15 15 17 ix

(10)

BAB III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian ..…..…….…….…….…………. B. Setting (Latar) Penelitian ..…..……..…..…….……..…….……. C. Metode Penelitian ..…..…..…..…..…..…..…….…….…..…….. D. Populasi dan Sampel ..…..…..…..…..…..…..…..…..…..…..….. E.Teknik Pengumpula Data ..….….…..….…..….…..……..…….. F. Prosedur Pengolahan Data ..…..…..…..…..……..…..……….... G. Pemeriksaan Keabsahan Data ..……..……..……..……...……. H. Teknik Analisis Data …..……..……..……..……..……..……..

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Kota Tangerang Selatan

1. Geografis Kota Tangerang Selatan ..……..……..……..…….. B. Gambaran Umum Kementrian Agama Kota Tangerang Selatan

1. Visi dan Misi Kementrian Agama Kota Tangerang Selatan ... 2. Struktur Organisasi Kementrian Agama Kota Tangerang

Selatan ………...…....…..…....……… 3. Seksi Pakis ..……..……..……..……..……...……..…….. 4. Struktur Organisasi Seksi Pakis ..……..……..……..……... 5. Tugas dan Fungsi Seksi Pakis ..……..……..……..……….. 6. Pondok Pesantren ..……..……..……..……..…...……. C. Gambaran Umum Pondok Pesantren di Kota Tangerang Selatan

1. Data Pontren di Kota Tangerang Selatan ..……..……..…….. D. Hasil Penelitian

Hasil Wawancara

1. KASI PAKIS Kementrian Agama Kota Tangerang Selatan….. …..…..…..….………...…..…...….….

2. Ketua/ Pimpinan Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kota Tangerang Selatan ..……..……..……..…….. 3. Beberapa Pondok Pesantren di Kota Tangerang

Selatan ...……….….….…...………. 22 23 23 23 24 24 27 28 30 32 33 34 34 35 36 36 38 39 40 42 44 x

(11)

E. Pembahasan …..……..……..……..…..…..……..……..……... F. Keterbatasan Penelitian ..…..…..…….…….…….…..…..…..…..

BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan ….…..…..……..……..……..……..…….…….. B. Implikasi ..…..…….…….…….…….……..……..……..……. C. Rekomendasi ….……..…..…..…..……..……..…….…….……. DAFTAR PUSTAKA ……..………..……….. LAMPIRAN 50 54 56 57 58 61 xi

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Rancangan Alokasi Waktu Penelitian ..……..…… Tabel 3.2 Desain Penelitian ..……..……..……..……..…….. Tabel 3.3 Instrumen Penelitian ..……..……..……..……..… Tabel 3.4 Dokumen yang di Butuhkan ...

22 24 26 27

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagan rumusan ekonomi kreatif menurut UNDP (2008) Gambar 3.1 Skema Analisis Data Miles dan Huberman …………... Gambar 4.1 Peta Kota Tangerang Selatan ...……….. Gambar 4.2 Luas Wilayah Kota Tangerang Selatan ... Gambar 4.3 Wilayah Kota Tangerang Selatan ... Gambar 4.4 Struktur Organisasi Kementrian Agama Kota

Tangerang Selatan ... Gambar 4.5 Struktur Organisasi Seksi Pakis …... Gambar 4.6 Data Jumlah Santri Pontren ... Gambar 4.7 Data Pontren di Kota Tangerang Selatan ... Gambar 4.8 Data Santri antara yang mukim dan non mukim di

Kota Tangerang Selatan ... 10 29 30 31 32 33 34 37 37 38 xiii

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Industri kreatif saat ini tengah menjadi trending topic dunia. Bahkan, banyak negara mulai sadar dan menjadikan sektor ini menjadi sektor prioritas pembangunannya. Selain itu, sektor ini juga menjadi alternatif tumpuan di tengah persoalan anjloknya harga minyak yang merembet ke sektor-sektor lainnya. Industri kreatif secara tidak langsung akan memberikan manfaat bagi suatu negara yaitu memberikan percepatan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia hingga tahun 2016, total pendapatan dari industri ekonomi kreatif mencapai Rp 642 Trillun atau mencapai 7,05 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia, namun dari sekian banyak industri kreatif hanya ada 3 industri kreatif yang memberikan kontribusi paling besar yaitu Kontribusi terbesar berasal dari Usaha Kuliner sebanyak 32,4 persen, Mode 27,9 persen, dan Kerajinan 14,88 persen1.

Daya saing industri kreatif di Indonesia dapat diidentifikasi berdasarkan tujuh dimensi utama yaitu sumber daya kreatif, sumber daya pendukung, industri, pembiayaan, pemasaran, infrastruktur dan teknologi, serta kelembagaan2. Bila

dipetakan berdasarkan ketujuh dimensi tersebut, rata-rata daya saing 15 subsektor industri kreatif masih relatif rendah. Hal ini disebabkan oleh Pembiayaan yang dinilai sulit untuk dipenuhi oleh pelaku sektor industri kreatif, dikarenakan belum bankable, high risk high return, cash flow yang fluktuatif, serta aset yang bersifat intangible. Selain itu, Kelembagaan juga dinilai belum meningkatkan industri kreatif secara signifikan, hal ini dilihat dari regulasi yang ada kurang mendorong pengembangan industri kreatif. Selain itu, partisipasi pemangku kepentingan yang terbilang rendah, karena kurang mempertimbangkan kreativitas dalam pembangunan nasional, serta rendahnya partisipasi aktif dalam fora internasional serta apresiasi terhadap orang, karya, wirausaha, dan usaha kreatif lokal3.

1 Abdur Rohim Boy Berawi, Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dalam Rakor Rencana Program Pengembangan Ekonomi Kreatif yang digelar BEKRAF di Ambon, Maluku, Selasa (1 Maret 2016). “Industri Kreatif Sumbang Rp 642 Triliun dari Total PDB RI“ .Tempo.Co.Jakarta. Alamat :

https://m.tempo.co/read/news/2016/03/02/090750007/industri-kreatif-sumbang-rp-642-triliun-dari-total-pdb-ri. Tertanggal Rabu, 02 Maret 2016 | 18:38 WIB.

2 Journal Nov 15, 2015. Menangkap Gelombang Ekonomi Kreatif Indonesia di Era MEA. Alamat Web : https://www.selasar.com/jurnal/12226/Menangkap-Gelombang-Ekonomi-Kreatif-Indonesia-di-Era-MEA

3 Tri Harjawati. 2018. Peran Pemerintah Dalam Pengembangan Lembaga Pembiayaan Di Sentra Industri Berbasis Ekonomi Kreatif (Studi Kasus Industri Kuliner Kota Tangerang Selatan) SOSIO

(15)

Model pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia selama ini menggunakan triple-helix, yang memerlukan kemitraan sinergis di antara tiga faktor utama, yaitu: Pemerintah, swasta (industri), dan intelektual (tim ahli dari kalangan akademisi dan publik). Dari segi Pemerintah, sikap pemerintah terhadap industri kreatif dinilai belum berpihak karena mereka masih dilanda berbagai kesulitan. Seperti yang diungkapkan oleh Ajib Hamdani Ketua HIPMI Tax Center dalam acara Forum Dialog HIPMI ke-37 di Menara Bidakara 2 Jakarta, (Selasa, 15/3/2016), yang menyatakan bahwa “Mereka sangat membutuhkan skema permodalan yang lebih mudah. Namun, mereka yang baru memulai usaha sering terkendala permodalan. Tak hanya itu saja, mereka juga dikenakan pajak PPn, terus ditambah lagi PPh badan. Ini tentu memberatkan dan perlakuannya harus dibedakan. Kalau bisa gak bayar pajak, kenapa harus bayar?”4. Dari pernyataan

diatas, jelas terlihat bahwa persoalan yang di hadapi oleh Industri Kreatif saat ini adalah kaitannya dengan aspek permodalan dan aspek perpajakan.

Kaitannya dengan permodalan, berdasarkan hasil penelitian terdahulu tentang bagaimana skema pembiayaan bagi Industri Kreatif di Kota Tangerang Selatan pada tahun 2016, menunjukkan bahwa pemerintah sudah memfasilitasi Industri kreatif untuk memperoleh bantuan permodalan dari lembaga pembiayaan yang sudah bekerja sama dengan pemerintah Kota Tangerang Selatan (Bank BNI, Bank BRI, dan Bank BJB). Namun, hal ini belum maksimal terlihat dari jumlah keseluruhan industri kuliner yang terdaftar di Dinas Perkoperasian dan UMKM Kota Tangerang Selatan, ada sekitar 7.547 UKM dari total jenis industri yang ada yaitu 20.6714. Tetapi dari total tersebut yang memperoleh Fasilitas Sertifikasi

Halal, PIRT, dan HKI oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangerang Selatan, hanya berjumlah 164 IKM dan lebih mirisnya hanya 12 IKM yang bisa dianggap unggul dan perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan lebih jauh oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan5

Tangerang selatan merupakan bagian wilayah dari Propinsi Banten.

DIDAKTIKA: Social Science Education Journal, 5 (1), 2018 Alamat Website: http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/SOSIO-FITK

4 HIPMI : Industri Kreatif harusnya dapat Insentif. Palapa News. Alamat :

http://palapanews.com/2016/03/16/hipmi-industri-kreatif-harusnya-dapat-insentif/. Tertanggal : Rabu, 16 / 03 / 2016 jam 2:14 WIB

4 4Hasil wawancara dengan Dinas Perkoperasian dan UMKM Kota Tangerang Selatan dalam penelitian Tri Harjawati. 2016. Peran Pemerintah dalam Pengembangan Lembaga

Pembiayaan di Sentra Industri Berbasis Ekonomi Kreatif (Studi Kasus Industri Kuliner Kota Tangerang Selatan). PUSLITPEN LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak di Publikasikan.

5 5Hasil wawancara dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangerang Selatan dalam penelitian Tri Harjawati. 2016. Peran Pemerintah dalam Pengembangan Lembaga Pembiayaan di Sentra Industri Berbasis Ekonomi Kreatif (Studi Kasus Industri Kuliner Kota Tangerang Selatan). PUSLITPEN LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak di Publikasikan.

(16)

Kemudian penulis melakukan research lanjutan pada Tahun 2018 dengan menambah fokus penelitian di Wilayah Propinsi Banten kaitannya tentang model pengembangan industri kreatif berbasis syariah di Provinsi Banten, dengan alasan ingin mengetahui lebih jauh bagaimana kebijakan pemerintah Provinsi tentang pengelolaan industri kreatif karena selama penelitian di Kota Tangsel banyak informasi yang simpang siur terutama tentang kebijakan industri Kreatif. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Perkembangan Industri Kreatif Berbasis Syariah di Wilayah Propinsi Banten masih dalam tahap penyusunan rancangan regulasi dan kebijakan kawasan industri Halal. Namun secara tidak langsung teknik pelaksanaan industri kreatif yang berdasarkan syariah sudah berjalan yaitu untuk sektor kuliner dan fashion (baju muslim). Hanya saja mereka tidak memiliki label halal serta belum ada regulasi yang memayunginya. Namun, untuk target kedepannya, Pengembangan Industri Kreatif Berbasis Syariah di Wilayah Propinsi Banten lebih ke arah pemberdayaan pondok pesantren melalui entrepreneur sehingga dapat menciptakan santripreneur. Sehingga nantinya, pondok pesantren bisa menjadi pusat unggulan produk dan pusat peradaban Islam di Provinsi Banten. Seperti yang diungkapkan oleh Santi, koordinator Biro Bina Perekonomian Setda Provinsi Banten yang mengatakan bahwa “...belum punya...masih merupakan wacana dan saya sedang menyusun rangka kebijakan industri kreatif berbasis syariah”. Kemudian diungkapkan pula oleh Rudiansyah, Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten yang mengatakan bahwa “...belum memiliki industri kreatif berbasis syariah, karena kami baru akan merumuskan kebijakan kawasan industri Halal seperti yang tertera di Rencana Kebijakan 20 tahun ke depan”. Dan Menurut Mulyadi, Kasi Perencanaan dan Pengembangan Industri di Dinas Industri dan Perdagangan Provisi Banten mengatakan bahwa “ Industri Syariah sebenarnya sudah ada misalnya produk kuliner yang halal dan fashien yang halal juga (baju muslim) tetapi karena payungnya belum ada maka pengembangannya belum jelas ke arah mana. Nah, Untuk menuju ke tahap Industri berbasis syariah, yang perlu kami lakukan yaitu menyiapkan sertifikasi halal, mengarahkan para industri kreatif ke pembiayan-pembiayaan yang syariah (akadnya syariah), baru pelaksanaannya mengikuti regulasi syariah yang sudah disusun nanti”.

Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa Provinsi Banten memiliki rencana untuk mengimplementasikan Industri Kreatif berbasis syariah. Ditambah lagi, Sejarah Banten dapat menjadi salah satu magnit bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis syariah. Selain itu, menurut Rudiansyah, Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten, Visi Misi Propinsi Banten, salah satunya adalah berakhlakul karimah artinya pemberdayaan ekonomi umat. Ekonomi umat salah satunya adalah dengan pemberdayaan pondok pesantren melalui entrepreneur sehingga dapat menciptakan santripreneur. Di Pondok

(17)

pesantren ini, nantinya bisa menjadi pusat unggulan produk dan pusat peradaban Islam. Menurut Bapak Rudi, “Provinsi Banten memiliki 33.000 Pondok pesantren dan ini merupakan jumlah terbesar di Indonesia yang merupakan Aset utama dalam pelaksanaan Industri Kreatif berbasis syariah. Sehingga untuk target pelaksanaan Industri Kreatif berbasis syariah kedepannya melalui pemberdayaan umat di pondok pesantren. Diharapkan perekonomian masyarakat di sekitar pondok pesantren bisa meningkat, dan tentunya syariat islam untuk perekonomian bisa di implementasikan”.

Model Pengembangan Industri Kreatif berbasis syariah di Provinsi Banten berbentuk bangunan yaitu terdiri dari pondasi, bangunan, dan atap yang berdasarkan pada batasan-batasan syariat islami. Untuk Pondasinya berupa insan kreatif, untuk pengembangan insan yang kreatif pemerintah mengadakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas. Sedangkan pilar utamanya terdiri dari Industri, Teknologi, Sumberdaya Alam, Kelembagaan, dan Lembaga Keuangan. Atap disini adalah aktor utama, yang terdiri dari cendikiawan/ masyarakat, pelaku bisnis, dan pemerintah daerah. Semua bagian dari pondasi bangunan tersebut harus berdasarkan pada syariat islam. Sebagai daya dukung pelaksanaannya bisa mengoptimalkan kerja sama antara pihak akademisi, bisnis, dan pemerintah atau biasa disebut sebagai triple helix. Dimana, semua peran diatas harus berlandaskan pada prinsip-prinsip ekonomi syariah yaitu Sumber Daya yang dimiliki adalah titipan Allah SWT sehingga harus dengan kejujuran dalam pengelolaannya karena kita harus yakin akan penentuan di hari akhir, mengutamakan kepentingan orang banyak, menerapkan kegiatan jual beli yang islami, adil, halal dan tidak merugikan salah satu pihak, dan melarang adanya riba dalam segala macam bentuk.

Pengembangan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Banten baik Arah maupun Strategi sesuai dengan yang dirancang oleh Departemen Perdagangan yang mengatakan bahwa pengembangan industri kreatif menitik beratkan pada lapangan usaha kreatif dan budaya (creative cultural industry), lapangan usaha kreatif (creative industry), dan Hak Kekayaan Intelektual seperti hak cipta (copyright industri). Pengembangan ini diharapkan memberikan dampak positif pada kehidupan sosial, iklim bisnis, peningkatan ekonomi, dan juga pada pencitraan di kawasan Banten.

Berdasarkan Informasi yang diperoleh dari Rudiansyah Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten mengatakan bahwa dari 3.300 pondok pesantren yang tersebar di wilayah Provinsi Banten, jumlah pondok pesantren yang mengoptimalkan keberadaan santripreneur hanya sebagian kecil. Selebihnya mereka hanya mengoptimalkan keagamaan saja. Padahal jika ini di kembangkan berapa produk yang akan di muncul, berapa omset yang akan diterima oleh pondok pesantren, berapa jumlah tenaga kerja yang akan terserap, dan tentu ini akan berimbas pada peningkatan taraf hidup masyarakat banten pada

(18)

umumnya. Inilah yang sedang kami galakkan dan tentunya perlu support dari berbagai pihak.

Dari pemaparan di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang pengoptimalan Ekonomi Kreatif bagi para santri di pondok pesantren Wilayah Propinsi Banten dengan judul “MODEL PENGEMBANGAN SANTRIPRENEUR SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI KREATIF BERBASIS SYARIAH DI PROVINSI BANTEN”.

B. Pembatasan Masalah

Pada Penelitian Tahun ini, peneliti lebih memfokuskan pada pemetaan potensi-potensi lokal yang ada di beberapa Pondok pesantren kaitannya dengan ekonomi kreatif di wilayah Kota Tangerang Selatan Hal ini dikarenakan kondisi Pandemi Covid-19 yang tidak memungkinkan dilakukan penelitian untuk level provinsi karena keterbatasan Dana dan Keterbatasan Perizinan dari masing-masing instansi terutama disini pondok pesantren. Mereka melakukan Lockdown sehingga membatasi jumlah pengunjung bahkan tidak menerima dari pihak luar untuk dilakukan penelitian. Output Penelitian ini, memberikan model pengembangan yang tepat bagi para santri di pondok pesantren dilihat dari potensi-potensi yang ada sehingga mereka bisa menjadi santripreneur yang akan membuat perubahan melalui pergerakan ekonomi kreatif berbasis syariah di Provinsi Banten pada umumnya dan pada khususnya di Wilayah Kota Tangerang Selatan. Referensi Penelitian akan dilakukan melalui kajian pustaka dan study banding ke beberapa pondok pesantren tentang penerapan ekonomi kreatif berbasis syariah, sehingga memberikan masukan bagi kemajuan pondok pesantren di wilayah kota tangerang selatan. Ini merupakan penelitian tahun Pertama, yang insyaAllah kedepannya akan ditindak lanjuti dengan penelitian lanjutan tentang implementasi model pengembangan santripreneur tersebut di beberapa kota di Provinsi Banten.

C. Perumusan Masalah

1. Bagaimana kearifan lokal para santri kaitannya dengan ekonomi kreatif di Pondok Pesantren?

2. Bagaimana Potensi Usaha yang dikelola oleh para Santri di Pondok Pesantren ? 3. Bagaimana Model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi

(19)

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana kearifan lokal para santri kaitannya dengan ekonomi kreatif di Pondok Pesantren

2. Untuk mengetahui bagaimana Potensi Usaha yang dikelola oleh para Santri di Pondok Pesantren

3. Untuk mengetahui Model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah di Provinsi Banten

E. Sistematika Pembahasan

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan sistematikan pembahasan sebagai berikut :

BAB I : Berisi mengenai latar belakang masalah mengapa mengambil judul “ MODEL PENGEMBANGAN SANTRIPRENEUR SEBAGAI PENGGERAK EKONOMI KREATIF BERBASIS SYARIAH DI PROVINSI BANTEN”, kemudian merumuskan permasalahan dan menjelaskan tujuan dari melakukan penelitian ini. Sehingga diharapkan dapat bermanfaat bagi para stakeholder kaitannya dengan Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah.

BAB II : Berisi mengenai teori-teori yang digunakan dalam penelitian, menjabarkan beberapa penelitian yang relevan, serta menjelaskan mengenai indikator variabel yang digunakan dalam penelitian melalui bagan kerangka konseptual

BAB III : Berisi mengenai metodologi yang di gunakan, terdiri dari : Tempat dan Waktu Penelitian, Setting (Latar) Penelitian, Metode Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, Prosedur Pengolahan Data, Pemeriksaan Keabsahan Data, serta Teknik Analisis Data

BAB IV : Berisi mengenai hasil penelitian dan pembahasannya BAB V : Berisi mengenai kesimpulan, implikasi, dan rekomendasi

(20)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kewirausahaan

1. Pengertian Kewirausahaan

Secara etimologis, istilah wirausaha berasal dari kata "wira" dan "usaha". Kata "Wira" bermakna: berani, utama, atau perkasa. Sedangkan "usaha" bermakna kegiatan dengan mengerahkan tenaga pikiran dan fisik untuk mencapai sesuatu maksud. Secara terminologis, wirausaha adalah kemampuan untuk menciptakan, mencari, dan memanfaatkan peluang dalam menuju apa yang diinginkan sesuai dengan yang diidealkan5.

Terdapat dua pengertian kewirausahaan menurut Suryana dalam bukunya yang berjudul kewirausahaan yakni sebagai berikut6:

1. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru dan sesuatu yang berbeda yang bermanfaat memberi nilailebih. 2. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan

mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan baru kepadakonsumen.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan wirausaha adalah kemampuan untuk berdiri sendiri, berdaulat, merdeka lahir dan batin, sumber peningkatan kepribadian memacu kreatifitas demi mencapai tujuan yang diinginkan.

5 Rusydi Ananda, PENGANTAR KEWIRAUSAHAAN REKAYASA AKADEMIK MELAHIRKAN ENTERPRENEURSHIP, (Medan: PERDANA PUBLISHING, 2016), hlm.1

6 Suryana, Kewirasuhaan: Pedoman Praktis, Kiat, dan Proses Menuju Sukses (Edisi Revisi), (Jakarta: Salemba Empat, 2003), hlm.13

(21)

2. Tujuan dan Manfaat Kewirausahaan

Adapun tujuan dari kewirausahaan diantaranya7 :

1. Meningkatkan jumlah wirausaha yangberkualitas

2. Mewujudkan kemampuan & kemantapan para wirausaha untuk menghasilkan kemajuan & kesejahteraanmasyarakat

3. Membudayakan semangat, sikap, perilaku & kemampuan kewirausahaan yang andal & unggul di kalanganmasyarakat

4. Menumbuhkan kesadaran kewirausahaan yang tangguh &kuat.

Lalu, adapun manfaat dari kewiirausahaan antara lain8 :

1. Menambah daya tampung tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran.

2. Sebagai generator pembangunan lingkungan di bidang produksi, distribusi, pemeliharaan lingkungan, kesejahteraan dansebagainya. 3. Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial

sesuai dengankemampuannya.

4. Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri, disiplin, jujur, tekun dalam menghadapipekerjaan

B. Ekonomi Kreatif

1. Pengertian Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep yang menempatkan kretivitas dan pengetahuan sebagai aset utama dalam menggerakkan ekonomi. Konsep ini telah memicu ketertarikan berbagai negara untuk melakukan kajian seputar Ekonomi Kreatif dan menjadikan Ekonomi Kreatif model utama pengembangan ekonomi Indonesia Kreatif9.

7 Ibid, hlm. 15 4 8 Ibid

(22)

Sedangkan dalam definisi yang berbeda, dikemukakan bahwa ekonomi kreatif pada hakikatnya adalah kegiatan ekonomi yang mengutamakan pada kretivitas berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda yang memiliki nilai dan bersifat komersial. Berikut telah dikemukakan oleh UNCTAD dalam Creative Economic Report (2008:3) “Creativity in this context refers to formulation of new ideas and to the application of these ideas to produce original works of art and cultural products, functional creation, observable in the way it contribuates to enteurpreneurship, fosters innovation, enchaces productivity and promotes economic growth”. (UNCTAD :2008)

Departemen Perdagangan Republik Indonesia (2008) merumuskan ekonomi kreatif sebagai upaya pembangunan ekonomi secara berkelanjutan melalui kreativitas dengan iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya yang terbarukan. Definisi yang lebih jelas disampaikan oleh UNDP (2008) yang merumuskan bahwa ekonomi kreatif merupakan bagian integratif dari pengetahuan yang bersifat inovatif, pemanfaatan teknologi secara kreatif, dan budaya. Seperti dijelaskan pada Gambar 1 :

Gambar 2.1 Bagan rumusan ekonomi kreatif menurut UNDP (2008) Scientific creativity Technologica creativity Economic creativity Cultural creativity

(23)

2. Pilar Utama Pengembangan Model Ekonomi Kreatif

Dalam model pengembangan ekonomi kreatif terdapat 5 pilar yang perlu terus diperkuat sehingga industri kreatif dapat tumbuh dan berkembang. Kelima pilar ekonomi kreatif tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Industri. Merupakan bagian dari kegiatan masyarakat yang terkait dengan produksi, distribusi, pertukaran serta konsumsi produk atau jasa dari sebuah negara atau area tertentu.

2. Teknologi. Teknologi dapat didefinisikan sebagai suatu entitas baik material dan non material, yang merupakan aplikasi penciptaan dari proses mendal atau fisik untuk mencapai nilai tertentu. Dengan kata lain, teknologi bukan hanya mesin ataupun alat bantu yang sifatnya berwujud, tetapi teknologi ini termasuk kumpulan teknik atau metode-metode, atau aktivitas yang membentuk dan mengubah budaya. Teknologi ini akan merupakan enabler untuk mewujudkan kreativitas individu dalam karya nyata.

3. Sumber Daya. Sumber daya yang dimaksudkan disini adalah input yang dibutuhkan dalam proses penciptaan nilai tambah, selain ide atau kreativitas yang dimiliki oleh sumber daya insani yang merupakan landasan dari industri kreatif ini. Sumber daya meliputi sumber daya alam maupun ketersediaan lahan yang menjadi input penunjang dalam industri kreatif.

4. Institusi. Institusi dalam pilar pengembangan industri kreatif dapat didefinisikan sebagai tatanan sosial dimana termasuk di dalamnya adalah kebiasaan, norma, adat, aturan, serta hukum yang berlaku. Tatanan sosial ini bersifat informal – seperti sistem nilai, adat istiadat, norma – maupun formal dalam bentuk peraturan perundang-undangan.

5. Lembaga Intermediasi Keuangan. Lembaga ini berperan menyalurkan pendanaan kepada pelaku industri yang membutuhkan, baik dalam bentuk modal/ekuitas maupun pinjaman/kredit. Lembaga intermediasi keuangan merupakan salah satu elemen penting untuk menjembatani kebutuhan keuangan bagi pelaku dalam industri kreatif.

(24)

C. Ekonomi Syariah

1). Pengertian Ekonomi Syariah

Ekonomi Syariah adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, menganalisis, dan akhirnya menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara Islam, yaitu berdasarkan atas ajaran agama Islam, yaitu Al Qur'an dan Sunnah Nabi10

2). Tujuan Ekonomi Syariah

Tujuan Ekonomi Syariah selaras dengan tujuan dari syariat Islam itu sendiri (maqashid asy syari’ah), yaitu mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat (falah) melalui suatu tata kehidupan yang baik dan terhormat (hayyah thayyibah). Tujuan falah yang ingin dicapai oleh Ekonomi Syariah meliputi aspek mikro ataupun makro, mencakup horizon waktu dunia atau pun akhirat11.

3). Prinsip-prinsip Ekonomi Syariah

Pelaksanaan ekonomi syariah harus menjalankan prinsip-prinsip sebagai berikut 12:

1. Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada manusia.

2. Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.

3. Kekuatan penggerak utama Ekonomi Syariah adalah kerja sama.

4. Ekonomi Syariah menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.

5. Ekonomi Syariah menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan banyak orang.

6. Seorang muslim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.

10 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI). 2012. Ekonomi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. hal17 .

11 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI). 2012. Ekonomi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Hal 54

(25)

7. Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab).

8. Islam melarang riba dalam segala bentuk.

Layaknya sebuah bangunan, sistem ekonomi syariah harus memiliki fondasi yang berguna sebagai landasan dan mampu menopang segala bentuk kegiatan ekonomi guna mencapai tujuan mulia. Berikut ini merupakan prinsip-prinsip dasar dalam ekonomi syariah 13:

1. Tidak melakukan penimbunan (Ihtikar). Penimbunan, dalam bahasa Arab disebut dengan al-ihtikar. Secara umum, ihtikar dapat diartikan sebagai tindakan pembelian barang dagangan dengan tujuan untuk menahan atau menyimpan barang tersebut dalam jangka waktu yang lama, sehingga barang tersebut dinyatakan barang langka dan berharga mahal.

2. Tidak melakukan monopoli. Monopoli adalah kegiatan menahan keberadaan barang untuk tidak dijual atau tidak diedarkan di pasar, agar harganya menjadi mahal. Kegiatan monopoli merupakan salah satu hal yang dilarang dalam Islam, apabila monopoli diciptakan secara sengaja dengan cara menimbun barang dan menaikkan harga barang.

3. Menghindari jual-beli yang diharamkan. Kegiatan jual-beli yang sesuai dengan prinsip Islam, adil, halal, dan tidak merugikan salah satu pihak adalah jual-beli yang sangat diridhai oleh Allah swt. Karena sesungguhnya bahwa segala hal yang mengandung unsur kemungkaran dan kemaksiatan adalah haram hukumnya.

(26)

D. Kearifan lokal

1. Pengertian Kearifan Lokal

Kearifan lokal adalah budaya pada masyarakat yang tidak dapat dihilangkan namun ia melekat kuat di dalam kebiasaan dan adat istiadat masyarakat tersebut. Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup; pandangan hidup (way of life) yang mengakomodasi kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup. Di Indonesia—yang kita kenal sebagai Nusantara—kearifan lokal itu tidak hanya berlaku secara lokal pada budaya atau etnik tertentu, tetapi dapat dikatakan bersifat lintas budaya atau lintas etnik sehingga membentuk nilai budaya yang bersifat nasional. Sebagai contoh, hampir di setiap budaya lokal di Nusantara dikenal kearifan lokal yang mengajarkan gotong royong, toleransi, etos kerja, dan seterusnya. Pada umumnya etika dan nilai moral yang terkandung dalam kearifan lokal diajarkan turun-temurun, diwariskan dari generasi ke generasi melalui sastra lisan (antara lain dalam bentuk pepatah dan peribahasa, folklore), dan manuskrip.

2. Ciri-ciri Kearifan Lokal

Ciri-ciri dari kearifan lokal adalah sebagai berikut:

 Kearifan lokal merupakan bentuk warisan peradaban yang dilaksanakan secara terus menerus dari generasi ke generasi

 Kearifan lokal dianggap bisa menjadi pengendali berbagai pengaruh dari luar

 Kearifan lokal seringkali berhubungan dengan nilai dan moral pada masyarakat setempat

 Kearifan lokal tidak tertulisakan tetapi tetap diakui sebagai kekayaan dalam berbagai segi pandang hukum

(27)

E. Ekonomi Kreatif dan Kearifan Lokal

Peran ekonomi kreatif dalam perekonomian nasional serta karakteristik Indonesia yang terkenal dengan keragaman sosio-budaya yang tersebar di seluruh pelosok nusantara tentunya dapat menjadi sumber inspirasi dalam melakukan pengembangan industri kreatif Keragaman budaya Indonesia menandakan tingginya kreatifitas yang telah tertanam dalam masyarakat Indonesia. Belum lagi dukungan keragaman etnis dalam masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan Indonesia memiliki faktor pendukung yang kuat dalam melakukan pengembangan ekonomi kreatif14.

Menumbuh kembangkan ekonomi kreatif tidak bisa lepas dari budaya setempat. Sehingga, mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya dan kearifan lokal merupakan solusi alternatif untuk menstimulus perkembangan ekonomi kreatif agar bisa mandiri dan bisa mengembangkan usaha terutama di daerah. Pada umumnya setiap daerah memiliki potensi produk yang bisa diangkat dan dikembangkan. Keunikan atau kekhasan produk lokal itulah yang harus menjadi intinya kemudian ditambah unsur kreatifitas dengan sentuhan teknologi.

F. Ekonomi Kreatif dan Kearifan Lokal dalam Perspektif Ekonomi Islam Sebagaimana dikutip oleh an-Nabhany dalam jurnalnya Siti dan Muhfiatun mengatakan bahwa ada tiga pilar yang dipergunakan untuk membangun sistem ekonomi dalam pandangan Islam, yaitu bagaimana harta diperoleh yakni menyangkut kepemilikan (al-milkiyah), lalu bagaimana pengelolaan kepemilikan harta (tasharruf fil milkiyah), serta bagaimana distribusi kekayaan di tengah masyarakat (tauzi’ul tsarwah bayna an-naas). Tiga pilar ini, relevan pada kasus pengembangan ekonomi kreatif yang

14 Siti dan Muhfiatun. 2017. Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal Pandanus

Handicraft dalam Menghadapi Pasar Modern Perspektif Ekonomi Syariah (Study Case di Pandanus Nusa Sambisari Yogyakarta). APLIKASIA: Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama ISSN 1411-8777 | EISSN 2598-2176 Volume 17, Nomor 2. Hal 67

(28)

mengedepankan kreatifitas sumberdaya manusia yang pada akhirnya mampu menciptakan produktivitas yang mampu memberikan full employment pada masyarakat. Dengan begitu, cita-cita ekonomi Islam dalam hal pembangunan segi ekonomi dengan mengentaskan kemiskinan dapat terwujud.

Pengembangan ekonomi kreatif dalam konteks ke Indonesia-an, ialah mampu mengintegrasikan tekhnologi, informasi dengan tetap mempertahankan kekhasan yang ada dalam rangka perbaikan ekonomi yang lebih baik, untuk meraih keunggulan yang mampu menekan pengangguran serta memberikan peluang yang adil sesama masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan tujuan dalam pembangunan ekonomi dalam Islam berkaitan dengan konsep falah yang berarti kesejahteraan ekonomi di dunia dan keberhasilan hidup di akhirat, yaitu kesejahteraan yang meliputi kepuasan fisik sebab kedamaian mental yang hanya dapat dicapai melalui realisasi yang seimbang antara kebutuhan materi dan ruhani dari personalitas manusia.

Sejarah kenabian yang dibawa oleh Rasulullah. Karena dalam konteks kenabiannya, bahwa beliau telah menterjemahkan nilai-nilai keragaman dalam realitas kehidupan umat manusia, yaitu dengan berpijak pada etika kehidupan kemanusiaan (insaniyyah) yang universal. Artinya, Ekonomi Kreatif berbasis kearifan lokal telah dicontohkan sejak zaman Rasulullah, melalui nilai universalisme Islam yang mampu menghargai dan bersikap arif terhadap tradisi lokal yang pada memunculkan penghargaan terhadap kosmologi alam. Alam menjadi bagian kehidupan manusia yang stabil dan ramah lingkungan. Karena itu, apresiasi terhadap budaya lokal sebagai wujud akulturasi agama dan budaya, bahwa keberagamaan tidak hanya dibentuk oleh wahyu dan teks, melainkan dibentuk oleh budaya lokalnya. Ini dalam rangka mewujudkan keberagaman dalam keberagamaan, khususnya menjamin hak-hak dasar masayakat lokal termasuk hak dalam

(29)

berekonomi15.

Selain itu, kearifan lokal dalam perspektif hukum ekonomi Islam adalah ’urf. Secara etimologi ’urf berarti baik, kebiasaan dan sesuatu yang dikenal. ‘Urf sering diartikan dengan segala sesuatu yang sudah saling dikenal di antara manusia yang telah menjadi kebiasaan atau tradisi, baik bersifat perkataan, perbuatan atau dalam kaitannya dengan meninggalkan perbuatan tertentu. ‘Urf tidak terjadi pada individu tetapi merupakan kebiasaan orang banyak atau kebiasaan mayoritas suatu kaum dalam perkataan atau perbuatan. ‘Urf bukan kebiasaan alami, tetapi muncul dari praktik mayoritas umat yang telah mentradisi16.

G. Penelian Relevan

Terdapat beberapa literatur yang berkaitan tentang penelitian ini, namun kajiannya berbeda. Berikut ini rincian mengenai Penelitian Relevan yaitu :

1) Mursyid tahun 2011 mengkaji tentang Dinamika Pesantren dalam Perspektif Ekonomi, hasil research nya mengatakan bahwa Pesantren dalam menajamkan perannya di masyarakat pada era globalisasi sekarang ini perlu melakukan up greading dan melakukan transformasi agar tetap up to date dan menjadi primadona bagi masyarakat sekitar terutama terhadap kemajuan ekonomi pasar bebas dan boom ekonomi syariah agar kemandirian ekonomi akan tercapai. Oleh sebab itu, merupakan tantangan bagi dunia pesantren untuk melakukan re-definisi ulang visi, misi dan fungsi otentik ditengah-tengah modernis yang meningkat. Persamaan dengan Penelitian penulis yaitu sama-sama mengkaji tentang Pesantren dilihat dari perspektif ekonomi, tetapi

15 H.A.Djazuli. 2006. Kaidah-kaidah Fikih, Cetakan ke-1. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hal 102

16Siti dan Muhfiatun. 2017. Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal Pandanus Handicraft dalam Menghadapi Pasar Modern Perspektif Ekonomi Syariah (Study Case di Pandanus Nusa Sambisari Yogyakarta). APLIKASIA: Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama ISSN 1411-8777 | EISSN 2598-2176 Volume 17, Nomor 2. Hal 68

(30)

perbedaannya penulis menghasilkan beberapa rekomendasi berupa model pengembangan santripreneur didasarkan pada kearifan lokal yang ada di pesantren melalui survey langsung ke beberapa pesantren yang ada di wilayah Provinsi Banten sedangkan Mursyid hanya melakukan studi pustaka.

2) Siti Nur Azizah dan Muhfiatun tahun 2017 mengkaji tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal Pandanus Handicraft dalam menghadapi Pasar Modern Perspektif Cekonomi Syariah (Study Case di Ponpes Pandanus Nusa Sabisari Yogyakarta), hasil research nya menyatakan bahwa handycraft memiliki efek multyplier terhadap masyarakat, karena anyaman pandan telah berkontribusi menggerakan sektor perdagangan jasa dan pertanian. Serta mampu mengembalikan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat baik dari sisi Integrasi sektor ekonomi maupun integrasi bidang sosial yang meliputi ukhuwah islamiyah, dan terciptanya solidartas sosial. Persamaan dengan Penelitian penulis yaitu sama-sama mengkaji tentang Ekonomi Kreatif di Pesantren berdasarkan Syariah dan ada unsur kearifan lokal, tetapi perbedaannya dalam penelitian tersebut hanya mengkaji di satu pondok pesantren sedangkan penulis akan mengkaji di beberapa pondok pesantren yang tersebar di Wilayah Provinsi Banten, Selain itu penulis menemukan alternatif model pengembangan santripreneur didasarkan pada temuan kearifan lokal tersebut sedangkan hasil penelitian Siti dan Muhfiatun tidak menemukan atau menjelaskan Model pengembangan tetapi hanya sebatas deskriptif hasil dari Pandanus Handicraft.

3) Ririn Noviyanti tahun 2017 mengkaji tentang Peran Ekonomi Kreatif Terhadap Pengembangan Jiwa Entrepreneurship di Lingkungan Pesantren: Studi Kasus di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1, hasil research nya menyatakan bahwa peran ekonomi kreatif terhadap

(31)

pengembangan jiwa entrepre-neurship di lingkungan pesantren yaitu Memberikan stimulus perilaku kreatif dan inovatif atas suatu produk/jasa, Mengekplorasi dan mengasah kemampuan/skill hingga mampu bersaing dalam dunia kerja, Memberikan pengetahuan dengan metode learning by doing sehingga pelaku wirausaha dapat mempraktikkan secara langsung materi dan segera mengevaluasi kekurangan dan kesalahan, serta Memberikan pelatihan tentang analisis SWOT (Strenght, Weakness, Oppor-tunity dan Threat). Persamaan dengan Penelitian penulis yaitu sama-sama mengkaji tentang Ekonomi Kreatif di Pondok Pesantren. Namun memiliki perbedaan yaitu Ririn hanya meneliti di satu pondok pesantren tentang seberapa kuat pengaruh Ekonomi Kreatif terhadap Pengembangan Jiwa Entre-preneurship di Lingkungan Pesantren sedangkan penulis meneliti ke beberapa pondok pesantren yang berada di Wilayah Provinsi Banten dan yang di teliti lebih ke aspek kearifan lokal, Potensi Usaha, serta alternatif Model-model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah.

4) Ahmad Sururi tahun 2017 mengkaji tentang Inovasi Model Pengembangan Kebijakan Ekonomi Kreatif Provinsi Banten. Hasil reseach nya menunjukkan bahwa Provinsi Banten memiliki modal dan potensi dari ekspor produk, terdapat peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan, dan perlu penguatan sinergitas antara berbagai aktor ekonomi kreatif yaitu masyarakat, pemerintah, akademisi/intelektual, pelaku bisnis dan komunitas kreatif sehingga dapat mendorong pengembangan ekonomi kreatif di Provinsi Banten melalui sebuah inovasi model pengembangan kebijakan ekonomi kreatif. Persamaan dengan Penelitian penulis yaitu sama-sama mengkaji tentang model pengembangan ekonomi kreatif di provinsi Banten. Tetapi perbedaannya, Ahmad Saruri meneliti tentang Produk yang sudah Ekpor

(32)

di berbagai Industri yang ada di Provinsi Banten, sedangkan penulis meneliti tentang Model Pengembangan Ekonomi Kreatif di lingkungan Pondok Pesantren. Selain itu, Ahmad Saruri meneliti lebih ke aspek Administrasi Negara yaitu Kebijakan, sedangkan penulis lebih kepada aspek sosiologi dan Ekonomi yaitu kearifan lokal, Potensi Usaha, serta alternatif model-model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah.

5) Zuanita, Azmi, Retno tahun 2018 mengkaji tentang Membangun Jiwa Enterpreneurship Santri Melalui Pengembangan Usaha Ekonomi Kreatif di Pondok pesantren Raudlotul Qur‟an. Hasil reseach nya menunjukkan bahwa jiwa enterpreneurship santri yang terbangun mulai berkembang setelah diadakannya pendampingan. Para Santri semakin kritis dengan keadaan lingkungan dan berpikir bahwa limbah dapat bernilai ekonomi seperti kelapa tua yang terselipkan diantara degan-degan dapat diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO), tempurung kelapa dijadikan bahan arang, limbah-limbah plastik bungkus jajanan dan minuman ringan menjadi tas, dan kulit pisangpun dapat dijadikan bahan pembuatan brownies. Persamaan dengan Penelitian penulis yaitu sama-sama mengkaji tentang Ekonomi Kreatif di Pondok Pesantren. Namun Perbedaannya yaitu peneliti Melakukan Penelitian di berbagai pondok pesantren di Wilayah Provinsi Banten, sedangkan Zuanita, Azmi, dan Retno hanya meneliti di satu Pondok Pesantren yaitu Pondok pesantren Raudlotul Qur‟an. Selain itu, Bahan Kajian penulis mengkaji tentang kearifan lokal, Potensi Usaha, serta alternatif model-model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah dengan melakukan survey dan wawancara, sedangkan Zuanita, Azmi, dan Retno meneliti hasil pelaksanaan pengabdian di Pondok Pesantren dengan menggunakan metode Trainning of Trainner (TOT) yaitu melalui pemberian materi melalui ceramah, kemudian

(33)

dilanjutkan dengan praktik langsung oleh masing-masing peserta, kemudian dilakukan pendampingan kepada pengurus ponpes (15 orang Putri dan 10 orang Putra) dengan memproduksi masing-masing produk yaitu VCO, arang, browncankupang, kreasi dompet dan tas dari bungkus marimas.

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

1. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian

Tempat penelitian ini yaitu di wilayah Provinsi Banten. Namun karena keterbatasan waktu, dana dan masih dalam kondisi Pandemi Covid-19, maka dalam penelitian ini penulis memfokuskan penelitian di wilayah Kota Tangerang Selatan.

Waktu Penelitian

Waktu penelitian mulai dari penyusunan proposal sampai pada tahap pelaporan yaitu dilakukan selama 7 bulan yaitu mulai bulan April sampai dengan Oktober 2020. Sedangkan pengumpulan datanya 2 bulan yaitu bulan Juli sampai dengan bulan Agustus, hal ini dikarena kondisi pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak instansi pemerintah dan beberapa pondok pesantren yang lockdown sehingga menyulitkan kami memperoleh perizinan penilitian. Berikut ini merupakan rancangan alokasi waktu penelitian :

Tabel 3.1

Rancangan Alokasi Waktu Penelitian

No Kegiatan Bulan

April Mei Juni Juli Agst Sept Okt 1 Revisi Proposal Penelitian V

2 Penyusunan Instrumen Penelitian V 3 Pengujian Instrumen Penelitian V V

4 Bimbingan I (WIP 1) V

5 Pengumpulan Data V V

6 Pengolahan Data V V

7 Penyusunan Laporan Penelitian V V V V

8 Bimbingan II (WIP 2) V

(35)

B. Setting (Latar) Penelitian

Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat terkait dengan Model Pengembangan Santripreneur Sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah di Provinsi Banten yaitu pertama Kantor Kementrian Agama Kota Tangerang selatan untuk mengetahui perkembangan pondok pesantren di wilayah Tangerang selatan. Kedua, Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kota Tangerang Selatan, dimana FSPP ini merupakan wadah dari suatu Forum silaturahmi yang berfungsi mengumpulkan suatu aspirasi dari perwakilan pondok pesantren yang ada di Kota Tangerang Selatan sehingga bisa saling berdiskusi tentang perkembangan dan permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing pondok pesantren yang ada di Kota Tangerang Selatan. Keluh kesah ini yang nantinya akan disampaikan ke tingkat Provinsi bahkan nasional untuk kemajuan pondok pesantren secara keseluruhan. Dan Ketiga, beberapa pondok pesantren yang ada di wilayah Tangerang Selatan.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik Pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara dengan Pihak Kemenag Kota Tangerang Selatan, Pimpinan/ Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kota Tangerang Selatan, dan beberapa Pengelola atau pimpinan Pondok Pesantren yang berada di Wilayah Kota Tangerang Selatan, Studi Dokumentasi dan Study Pustaka.

D. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini yaitu pihak-pihak yang berkaitan Santripreneur di Kota Tangerang Selatan. Sampelnya yaitu pihak-pihak yang ada di wilayah Kota Tangerang Selatan yang merupakan bagian dari Provinsi

(36)

Banten meliputi Kemenag Kota Tangsel, FSPP Kota Tangsel, dan Beberapa pimpinan/ pengelola pondok pesantren di Kota Tangsel.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data melalui wawancara langsung ke Kemenag Kota Tangsel, FSPP Kota Tangsel, dan Beberapa pimpinan/ pengelola pondok pesantren di Kota Tangsel, Dokumen-dokumen pendukung dan Studi Pustaka.

E. Prosedur Pengolahan Data

Yang menjadi responden penelitian adalah Pihak Kemenag Kota Tangerang Selatan, dan Pimpinan/ Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kota Tangerang Selatan, dan beberapa Pengelola atau Pimpinan Pondok Pesantren yang berada di Wilayah Provinsi Banten. Sumber data diperoleh dari data primer dan data sekunder. Berikut rincian tentang desain penelitian :

Tabel 3.2 Desain Penelitian

No Pertanyaan Indikator Jenis Data Sumber Data Kemenag Kota Tangerang Selatan

1 Model

Pengembangan Santripreneur

1. Perkembangan Pondok Pesantren di Kota Tangerang Selatan?

2. Jumlah Pondok pesantren yang terdaftar 3. Program khusus dari Kementrian Agama Kota

Tangerang Selatan tentang pengembangan santripreneur sebagai penggerak ekonomi kreatif berbasis syariah

4. Hambatan dalam pengembangan santripreneur sebagai penggerak ekonomi kreatif

5. Harapan kedepan bagi pondok pesantren dalam meningkatkan ekonomi kreatif berbasis syariah

Wawancara dan Dokumen

Kemenag Kota Tangsel

(37)

1 Model Pengembangan Santripreneur

1. Jumlah Pondok Pesantren yang tergabung dalam FSPP

2. Kegiatan yang dilakukan oleh FSPP terkait peningkatan kualitas Santripreneur di pondok pesantren

3. Pihak-pihak yang mendukung kegiatan 4. Hambatan FSPP terkait program tsb

5. Harapan kedepan agar pondok pesantren bisa semakin berkualitas 6. Model pengembangannya Wawancara dan Dokumen Pimpinan/ Ketua FSPP Kota Tangsel

Pengelola atau Pimpinan Pondok Pesantren

1 Bagaimana kearifan lokal para santri kaitannya dengan ekonomi kreatif di Pondok Pesantren?

1. Potensi Lokal yang dimiliki Pondok Pesantren

2. Program penciptaan wirausahawan (santripreneur)

3. Keberadaan santripreneur sesuai dengan potensi lokal atau kearifan lokal yang ada

Primer : Wawancara Sekunder : Dokumentasi Pengelola Pondok Pesantren 2 Bagaimana Potensi Usaha yang dikelola oleh para Santri di Pondok Pesantren ?

1. Jenis usaha yang dilakukan oleh para santri di pondok pesantren

2. Rencana Usaha yang dilakukan untuk lebih mengoptimalkan keberadaan wirausaha di pondok pesantren

3. Pihak yang mendukung kegiatan Ekonomi Kreatif di Pondok Pesantren

4. Fasilitas/ sarana dan prasarana yang dimiliki pondok pesantren dalam berwirausaha 5. Sistem manajemen pengelolaan

kewirausahaannya (berbasis syariah)

Primer : Wawancara Sekunder : Dokumentasi Pengelola/ Pimpinan Pondok Pesantren 3. Bagaimana Model Pengembangan Santripreneur sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah di Provinsi Banten ?

1. Kendala-kendala yang dihadapi ketika melakukan wirausaha di pondok pesantren 2. Harapan kedepan terkait pengembangan

ekonomi kreatif di pondok pesantren 3. Model Pengembangan Santripreneur yang

dijadikan sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah di pondok pesantren Model dirumuskan sejalan dengan Hasil Analisis Peneliti Tim Peneliti

Tabel 3.3 Instrumen Penelitian

No Sumber Data Pertanyaan Indikator

(38)

Tangsel Kota Tangerang Selatan?

2. Ada Berapa Jumlah Pondok pesantren yang terdaftar di Kota Tangerang Selatan?

3. Apakah ada program khusus dari Kementrian Agama Kota Tangerang Selatan tentang pengembangan santripreneur sebagai penggerak ekonomi kreatif berbasis syariah? Seperti apa? 4. Apa hambatan selama ini dalam pengembangan

santripreneur sebagai penggerak ekonomi kreatif di Pondok Pesantren khususnya di wilayah Kota Tangerang Selatan?

5. Apa harapan kedepan bagi pondok pesantren yang ada di Kota Tangerang Selatan dalam rangka meningkatkan ekonomi kreatif berbasis syariah? Model pengembangannya seperti apa? Siapa saja yang diharapkan terlibat?

pengembangan santripreneur

2 Pimpinan/ Ketua FSPP

1. Ada berapa Jumlah Pondok Pesantren yang tergabung dalam FSPP Kota Tangerang Selatan?

2. Apakah ada kegiatan yang dilakukan oleh FSPP Kota Tangerang Selatan terkait peningkatan kualitas Santripreneur di pondok pesantren? Seperti apa ?

3. Pihak-pihak mana saja yang mendukung kegiatan tersebut?

4. Apa hambatan yang dirasakan FSPP selama ini terkait program tersebut?

5. apa harapan kedepannya agar pondok pesantren yang ada di Kota Tangerang Selatan bisa semakin berkualitas terutama dalam hal pencetakan santripreneur sebagai penggerak ekonomi kreatif? Model pengembangannya seperti apa? Siapa saja yang diharapkan dapat terlibat?

3 Pengelola Pondok Pesantren

1. Potensi Lokal yang dimiliki Pondok Pesantren ini?

2. Apakah di Pondok Pesantren ini memiliki program penciptaan wirausahawan (santripreneur)? Jika Ya, bisa di jelaskan Program pengembangan seperti apa sehingga bisa membentuk santripreneur yang baik?

3. Apakah keberadaan santripreneur yang ada sudah sesuai dengan potensi lokal atau kearifan lokal yang ada? Bisa dijelaskan kenapa?

4. Jenis usaha apa saja yang sudah dilakukan oleh para santri di pondok pesantren ini?

5. Rencana Usaha apa yang akan dilakukan untuk lebih mengoptimalkan keberadaan wirausaha yang ada di pondok pesantren?

6. Siapa saja yang mendukung kegiatan Ekonomi Kreatif di Pondok Pesantren?

7. Fasilitas/ sarana dan prasarana apa saja yang sudah dimiliki pondok pesantren yang digunakan oleh para santri berwirausaha?

8. Apakah Sarana dan Prasarana yang ada sudah

1. Kearifan lokal kaitannya dengan ekonomi kreatif di Pondok Pesantren 2. Potensi Usaha yang dikelola di Pondok Pesantren 3. Model pengembangan santripreneur

(39)

mendukung para santri dalam berwirausaha? Sarana dan prasarana apa yang kira-kira masih diperlukan? 9. Apakah sistem manajemen pengelolaan

berbasis syariah? Kenapa, Bisa dijelaskan seperti apa?

10. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi oleh para santri ketika melakukan wirausaha di pondok pesantren?

11. Apa harapan kedepan terkait pengembangan ekonomi kreatif di pondok pesantren?

12. Menurut Bapak/ Ibu/ Saudara kira-kira Model Pengembangan Santripreneur seperti apa yang di harapkan oleh Pondok Pesantren agar mampu dijadikan sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah di pondok pesantren !

Tabel 3.4 Dokumen yang di Butuhkan

No Dokumen yang dibutuhkan Sumber Data

1. Laporan Kemenag Tahun 2019 dan informasi tentang KASI PAKIS

Kemenag Kota Tangsel 2. Laporan FSPP Tahun 2019 Terutama tentang Perkembangan Pondok

Pesantren 3. Dokumen Lainnya

F. Pemeriksaan Keabsahan Data

Untuk memeriksa keabsahan data, penulis menggunakan uji validitas internal (credibility) yaitu melalui kepercayaan terhadap ucapan yang diungkapkan oleh responden sebagai informan, uji validitas eksternal (transferability) yaitu dilakukan dalam konteks (setting) tertentu yang dapat ditransfer ke subyek lain yang memiliki tipologi yang sama, uji reliabilitas (dependentbility) yaitu dengan cara mengecek konsep rencana penelitiannya dengan teknik pengumpulan data dan pengintepretasiannya, dan uji obyektivitas (confirmability).

Untuk Uji validitas internal (credibility), penulis melakukan 1) Perpanjangan pengamatan melalui terjun langsung ke lokasi penelitian tidak hanya 1 kali tetapi beberapa kali, 2) Triangulasi yaitu melalui pengecekan data dari berbagai sumber, berbagai cara, dan berbagai waktu (perbandingan tahun). 3) Diskusi dengan teman yang memiliki pemahaman tentang

(40)

santripreneur, 4) Menggunakan bahan referensi yaitu menggunakan pendukung rekaman wawancara untuk membuktikan data penelitian, 5) Mengadakan member check yaitu dengan cara mengklarifikasi data kepada pemberi data agar data benar-benar valid.

G. Teknik Analisis Data

Teknis analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman melalui 3 tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan17.

1) Data Reduction (Reduksi Data) ; Data yang diperoleh di lapangan kemudian dirangkum, dipilih mana hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Pada saat mereduksi data dibantu dengan alat elektronik seperti : komputer, dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu. 2) Data Display (Penyajian Data) ; Setelah data direduksi, maka langkah

berikutnya adalah mendisplaykan data, maksudnya adalah menguraikan data secara singkat dalam bentuk naratif baik melalui bagan, grafik, matriks, network (jejaring kerja), hubungan antar kategori, flowchart dan sebagainya. Intinya data-data yang ditemukan di lapangan, selanjutnya diuji melalui pengumpulan data yang terus menerus. Bila pola-pola yang ditemukan telah didukung oleh data selama penelitian, maka pola tersebut menjadi pola yang baku yang tidak lagi berubah. Pola tersebut selanjutnya didisplaykan pada laporan akhir penelitian. 3) Conclusion Drawing/ verification ; Langkah ketiga adalah penarikan

kesimpulan dan verifikasi. Bila kesimpulan telah didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan

17 Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Qualitative And Quantitative Research Methods). Bandung: Alfabeta.

(41)

kesimpulan yang kredibel (dapat dipercaya). Berikut ini gambaran teknik analisis Interaktif Miles dan Huberman :

(42)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Kota Tangerang Selatan 1. Geografis Kota Tangerang Selatan

Sumber : Kementrian Agama Kota Tangerang Selatan

Gambar 4.1 Peta Kota Tangerang Selatan

Kota Tangerang Selatan merupakan kota termuda yang resmi memisahkan diri sejak tahun 2008 dari Kabupaten Tangerang, terletak di bagian Timur Propinsi Banten yang secara geografis berada diantara 6º39’ - 6º47’ Lintang Selatan dan 106º14’ - 106º22’ Bujur Timur dengan luas wilayah 147,19 kilometer persegi (km²) atau sebesar 1,63 persen dari luas wilayah Provinsi Banten. Sedangkan secara administratif, Kota Tangerang Selatan terdiri dari 7 Kecamatan, dan 54 kelurahan.

Gambar

Gambar 2.1 Bagan rumusan ekonomi kreatif menurut UNDP (2008)Scientific creativityTechnologicacreativityEconomiccreativityCulturalcreativity
Tabel 3.2 Desain Penelitian
Tabel 3.3 Instrumen Penelitian
Tabel 3.4 Dokumen yang di Butuhkan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengumpulan data kearifan lokal dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap informan terpilih yang dianggap mengetahui tentang budaya lokal yang berhubungan dengan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses dan hasil pengembangan soal cerita berbasis kearifan lokal berbantuan aplikasi Hot Potatoes pada siswa SMP kelas

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk kearifan lokal dan mendeskripsikan bagaimana kearifan lokal yang berada di masyarakat dalam menjaga

Integrasi sistem informasi iklim, sistem informasi bencana dan nilai pengetahuan- kearifan lokal terbangunlah Model Budidaya Pertanian Desa Berbasis Pengetahuan dan Kearifan

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bentuk pemanfaatan sumber daya alam dan mengetahui bentuk kearifan lokal serta menganalisis pengaruh kearifan lokal terhadap

PENGEMBANGAN USAHA > DIMENSI EKONOMI > JARINGAN PEMASARAN KEGIATAN SKALA PRIORITAS RANKING Model Internal Bagi Pengembangan Usaha .327 1 Kriteria Perizinan .071 6

KESIMPULAN Hasil penelitian menyatakan bahwa strategi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif berdasarkan kearifan lokal di desa Cisantana dapat dikembangkan melalui pendekatan a

Paper ini akan membahas model pengembangan ekonomi pesantren yang berbasis kearifan lokal khususnya dalam upayanya mengoptimalkan potensi pesantren dan masyarakat lokal untuk