BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Keterampilan proses sains adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi. Keterampilan proses dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar memperhatikan pengembangan pengetahuan sikap, nilai serta keterampilan. Aspek KPS yang diteliti pada penelitian ini meliputi meliputi mengajukan pertanyaan, mengamati (observasi), berhipotesis, merencanakan percobaan, menafsirkan (interpretasi), dan berkomunikasi.
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian pada lembar observasi, dari semua aspek keterampilan proses sains siswa terdapat aspek tertinggi dan terendah. Aspek mengamati (observasi) merupakan aspek tertinggi dengan nilai persentase rata-rata sebesar 87.50%. Hal ini karena pada aspek ini siswa diajak atau berinteraksi langsung pada objek atau peristiwa sesungguhnya. Sehingga siswa merasa senang ketika kegiatan pengamatan (observasi). Selain itu, dalam pembelajarannya juga mengguanakan model inkuiri terbimbing. Model ini dapat menarik minat belajar siswa karena kegiatan pembelajaran seperti ini tidak bosan atau monoton. Aspek merencanakan percobaan merupakan aspek terendah dengan nilai persentase rata-rata sebesar 69,44%. Hal ini siswa kurang memiliki kesiapan sebelum melakukan percobaan. Selain itu, dalam pembelajarannya menggunakan model inkuiri terbimbing dimana sehingga siswa sulit dilakukan karena mereka belum terbiasa untuk terbiasa belajar mandiri. Mereka terbiasa mengandalkan guru dalam belajar. Hasil dari semua aspek KPS memperoleh rata-rata persentase diperoleh sebesar 79,17% dan berdasarkan indikator keberhasilan, nilai tersebut dikategorikan baik. Untuk hasil penelitian pada lembar observasi tes Keterampilan Proses Sains (KPS) selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 12.
1. Pembahasan Hasil Penelitian pada Lembar Observasi
Berikut akan dijelaskan data hasil penelitian pada masing-masing aspek Keterampilan Proses Sains (KPS)
a. Aspek Mengajukan Pertanyaan
Mengajukan pertanyaan merupakan keterampilan mendasar yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari suatu masalah lebih lanjut.1 Keterampilan proses sains pada aspek mengajukan pertanyaan ini menggunakan indikator sebagai berikut:
1) Bertanya untuk meminta penjelasan
2) Bertanya mengenai percobaan yang dilakukan.
Pada aspek ini memiliki nilai persentase yang cukup tinggi. Hal ini karena mengajukan peranyaan merupakan hal yang mudah dilakukan oleh siswa. Terlihat pada saat penyajian masalah pada LKS dan siswa diminta untuk memberikan penjelasan, banyak siswa yang menjawab dengan cukup baik. Selain itu, terlihat pada saat percobaan berlangsung banyak siswa bertanya, tanpa ragu mengenai percobaan, tetapi masih banyak juga siswa yang masih ragu dan malu. untuk bertanya. Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa data hasil penilaian rata-rata pada aspek ini pada kelompok satu sampai kelompok enam sebesar 2,83 atau persentasenya sebesar 70,83%. Pada tabel 4.2, data hasil penilaian rata-rata kelompok satu sampai enam sebesar 3,17 dan menunjukkan peningkatan sebesar 8,33%. Hal ini menunjukan bahwa aspek keterampilan siswa semakin baik. Begitu pula pada tabel 4.3, keterampilan siswa pada aspek ini menunjukan peningkatan sebesar 8,33%. Dari semua data hasil penilaian rata-rata aspek keterampilan mengajukan pertanyaan diperoleh sebesar 3,17 atau persentasenya sebesar 79,19% atau aspek ini dikategorikan baik.
b. Berhipotesis
Kemampuan membuat hipotesis adalah salah satu keterampilan yang sangat mendasar dalam kerja ilmiah. Hipotesis adalah suatu perkiraan yang
1
Zulfiani, dkk, Strategi Pembelajaran Sains, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), hal. 55.
berlasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu.2 Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa data hasil penilaian rata-rata pada aspek ini pada kelompok satu sampai kelompok enam sebesar 2,83 atau persentasenya sebesar 70,83%. Pada tabel 4.2, data hasil penilaian rata-rata kelompok satu sampai enam sebesar 2,67 atau persentasenya sebesar 66,67%. Data ini menunjukkan adanya penurunan sebesar 0.16 atau persentasenya sebesar 4,13%. Hal ini dikarenakan adanya kelompok siswa yang tidak melakukan hipotesis pada LKS pada saat melakukan percobaan perpindahan kalor secara konveksi dan radiasi. Data ini bisa dilihat pada lampiran 11 tabel kedua. Pada tabel 4.3, data hasil penilaian rata-rata sebesar 3,00 atau persentasenya sebesar 75,00%. Walaupun adanya peningkatan kembali sebesar 8,33%, tetapi pada lembar observasi ini atau pada saat siswa melakukan percobaan perubahan wujud benda ada kelompok siswa yang tidak melakukan hipotesis. data ini bisa dilihat pada lampiran 12 tabel ketiga. Dari semua data hasil penilaian rata-rata aspek keterampilan berhipotesis diperoleh sebesar 2,83 atau persentasenya sebesar 70,19% atau aspek ini dikategorikan baik.
c. Merencanakan Percobaan
Sebelum siswa melakukan percobaan, siswa melakukan perencanaan percobaan seperti, menentukan apa yang diamati baik diukur atau ditulis , menentukan alat dan bahan, cara dan langkah kerja dan lain sebagainya. Pada pertemuan pertama, aspek ini memperoleh persentase terendah sebesar 58.33%. Hal ini dikarenakan pada percobaan pertama (asas Black dan perpindahan kalor secara konveksi) siswa terlihat masih terlihat bingung dan kurang faham dalam melakukan percobaan. Pada pertemuan selanjutnya, data hasil penilaian rata-rata kelompok satu sampai enam sebesar 3,17 dan menunjukkan peningkatan sebesar 12,50%. Hal ini menunjukan bahwa aspek keterampilan siswa semakin baik. Begitu pula pada pertemuan ketiga mengenai percobaan perubahan wujud benda, walaupun adanya peningkatan sebesar 8,33%, siswa masih kurang faham
2
Conny Semiawan, Pendekatan Proses Sains, (Jakarta: PT Gramedia Widiasmara, 1992),
memakai alat termometer. Aspek keterampilan ini merupakan aspek yang terendah yang dicapai siswa.
d. Observasi/Maengamati
Mengamti merupakan salah keterampilan ilmiah yang mendasar. Mengamati tidak sama dengan melihat. Dalam mengamati (observasi) siswa harus mampu menggunaka seluruh inderanya meliputi melihat, mendengar, merasa, mengecap dan mencium. Keterampilan proses sains pada aspek mengamati menggunakan indikator sebagai berikut:
1) Menggunakan sebanyak mungkin indera
2) Mengumpulkan/menggunakan fakta yang relevan.
Aspek ini merupakan aspek tertinggi yang dicapai siswa. Hal ini terlihat pada saat percobaan, siswa sangat antusias dalam melakukan pengamatan. Berdasarkan hasil lembar observasi pada pertemuan pertama dan kedua, menunjukkan adanya peningkatan sebesar 4,17%. Begitu pula pada pertemuan ketiga, keterampilan siswa pada aspek ini menunjukan peningkatan yang sama. Adanya peningkatan keterampilan mengamati ini menunjukkan bahwa hampir semua siswa menggunakan sebanyak mungkin alat indera dalam melakukan suatu pengamatan. Dari semua data hasil penilaian rata-rata aspek keterampilan mengamati (observasi) diperoleh sebesar 3,50 atau persentasenya sebesar 87,50% atau aspek ini dikategorikan sangat baik. Hal ini karena siswa melakukan pengamatan sesuai dengan langkah kerja.
e. Menafsirkan
Seperti Aspek mengamati memiliki indikator, pada aspek menafsirkan juga memiliki indikator yaitu:
1) Menghubungkan hasil-hasil pengamatan 2) Menemukan pola dalam suatu pengamatan 3) Menyimpulkan
Berdasarkan tabel 4.1 menunjukan bahwa data hasil penilaian rata-rata pada aspek ini pada kelompok satu sampai kelompok enam hanya sebesar 3,00
atau persentasenya sebesar 75,00%. Pada tabel 4.2, data hasil penilaian rata-rata kelompok satu sampai enam sebesar 3,33 dan menunjukkan peningkatan sebesar 8,33%. Hal ini menunjukan bahwa aspek keterampilan siswa semakin baik. Data ini bisa dilihat pada lampiran 12. Tabel 4.3, data hasil penilaian rata-rata kelompok satu sampai enam sebesar 3,33. Keterampilan siswa pada aspek ini menunjukan peningkatan lebih rendah yaitu sebesar 4,17%. Pada aspek keterampilan ini siswa dapat menuliskan kesimpulan hasil pengamatan dan menghubungkan dengan konsep materi. Dari semua data hasil penilaian rata-rata aspek keterampilan mengajukan pertanyaan diperoleh sebesar 3,28 atau persentasenya sebesar 81,94% atau aspek ini dikategorikan sangat baik.
f. Berkomunikasi
Berkomunikasi dapat dilakukan melalui tulisan, gambar, (grafik atau bagan), membaca dan berbicara (diskusi dan presentasi).3 Keterampilan mengomunikasikan pada aspek ini meliputi menggambarkan data empiris hasil percobaan atau pengamatan dengan grafik atau tabel atau diagram, mendiskusikan hasil percobaan dan membandingkan data dengan kelopok lain dan menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis. Berdasarkan pada data hasil lembar observasi, pada percobaan pertama dan kedua menunjukkan adanya peningkatan sebesar 4,17%. Percobaan kedua dan ketiga menunjukkan peningkatan sebesar 8,33%. Adanya peningkatan ini menunjukkan aspek berkomunikasi mereka semakin baik. Pada aspek ini siswa bebas menyampaikan gagasan mereka sesuai dengan percobaan yang telah dilakukan. Dari semua data hasil penilaian rata-rata aspek keterampilan mengajukan pertanyaan diperoleh sebesar 3,39 atau persentasenya sebesar 84,17% atau aspek ini dikategorikan sangat baik.
2. Pembahasan Hasil Tes Uraian Keterampilan Proses Sains (KPS)
Hasil belajar merupakan tingkat peguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan kepada siswa. Hasil belajar ini adalah salah satu tolok ukur tingkat keberhasilan proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini
3
adalah menggunakan model inkuiri terbimbing (guided inquiry) untuk mengukur dan mengembangkan keterampilan siswa melalui tes keterampilan proses sians. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Lutfi Eko Wahyudi, Z.A. Imam Supardi, dengan melatihkan keterampilan proses sains (KPS) dengan menggunakan model inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa.4 Hal ini sesuai dengan data tabel 4.5 diperoleh nilai rata-rata hasil belajar siswa sebesar 77,19 dan data pada tabel 4.6, yang menunjukkan bahwa kategori siswa kelompok atas sebesar 17,24%, kelompok sedang sebesar 58,62%, kelompok bawah sebesar 24,14%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki nilai yang baik.
Berdsarakan pembahasan di atas, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa yang berkembang dalam pembelajaran konsep kalor dengan model inkuiri terbimbing. Untuk itu, keterampilan ini perlu diberikan kepada siswa agar keterampilan dasar siswa berkembang dan siswa dapat berfikir efektif. Pembelajaran ini juga diharapkan siswa dapat menemukan pengetahuan berupa konsep, prinsip maupun terori dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.