(1) (2) (3) (4) (5) 4 Paham akan Memahami
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Berikut ini merupakan pembahasan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti melalui metode wawancara yakni guru PAK dan siswa-siswi SMP Kanisius Gayam kelas 7, 8 dan 9 Periode 2015/2016 yang dimulai tanggal 3 Feb 2016 dan 7 Feb 2016.
1. Pembahasan Hasil Penelitian
a. Wawancara dengan Guru PAK
Bapak Benedictus Gerilyadi adalah Guru Pendidikan Agama Katolik di SMP Kanisius Gayam Yogyakarta. Dalam setiap proses belajar mengajar, beliau selalu membuat persiapan untuk mengajar dengan metode yang digunakan yaitu bercerita (cerita KS/rakyat), tanya jawab, diskusi kelompok, menyanyi, atau tambahan sedikit dengan sharing pengalaman (lihat tabel 4: 1).
Guru PAK sudah dapat menggunakan cerita dengan baik dan menggunakan buku tidak hanya buku pegangan saja melainkan buku penunjang lainnya yang mendukung proses belajar mengajar yaitu buku PAK dan Pendidikan Religiositas. Dengan demikian peranan guru sesuai dengan apa yang diharapkan Nana Sudjana (1989a: 32-35) dalam proses belajar mengajar yakni peranan guru sebagai pemimpin belajar. Guru merencanakan belajar dengan menentukan tujuan belajar siswa, apa yang dilakukan siswa dan sumber bahan apa yang disediakan, serta mengorganisasi dengan menentukan dan mengarahkan bagaimana cara siswa melakukan kegiatan belajar, mengatur lingkungan belajar siswa, mengoptimalkan sumber-sumber belajar dan mendorong motivasi belajar siswa.
Sarana atau alat yang digunakan guru PAK disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan saat itu. Guru PAK terkadang menggunakan CD ataupun cerita. Pola yang digunakan untuk proses belajar mengajar yaitu pola Naratif Eksperiensial. Pola ini dirasa sangat membantu dalam proses belajar mengajar terutama untuk mata pelajaran yang menekankan pada sharing pengalaman siswa terutama perkembangan iman (lihat tabel 4: 2). Dengan demikian pernyataan guru di atas sesuai dengan pandangan Dapiyanta (2008b: 73) bahwa pola yang sesuai dalam PAK yakni pola kegiatan komunikasi iman yang bersifat Naratif-Eksperiensial. Pola ini berdasarkan kurikulum 1994 yang bertujuan memperluas pengetahuan iman katolik, membantu pergumulan agar dapat menghayati hidup beriman dan dialog antar iman umat beragama.
Kendala-kendala pada saat proses belajar mengajar selalu dialami oleh guru seperti yang dialami Pak Gril. Pada saat proses belajar mengajar berlangsung, ada salah seorang siswa keluar untuk pergi ke toilet dan siswa lainnya mengetahui siswa ini merokok di kamar toilet melalui asap yang keluar dari cendela toilet tersebut. Tindakan ini segera dilaporkan oleh guru PAK selaku guru yang membimbing siswa yang bermasalah. Guru PAK segera bertindak dengan memantau kegiatan siswa yang merokok selama di sekolah. Apakah siswa yang merokok masih melakukan tindakannya setiap hari ataukah ada perubahan? Apabila tindakan itu sering dilakukan, guru PAK mendekati dan menanyakan dengan baik agar tidak menyinggung, apa yang menjadi masalah sampai bisa merokok. Guru PAK tidak hanya menanyakan masalahnya tetapi memberikan solusi dengan cara seperti mengganti rokok dengan permen (lihat tabel 4: 3). Nina Komala (1992: 26) memberikan penegasan bahwa pada usia 13-15 tahun siswa SMP hendaknya lebih memperhatikan perkembangan sikap batin dengan menanggapi problem-problem menurut suara hati meskipun tidak mudah menemukan bimbingan suara hati. Oleh sebab itu usaha yang dilakukan guru PAK, yaitu berusaha menanggapi problem- problem siswa agar tidak mengulang kembali tindakan yang salah.
Selama pelajaran PAK berlangsung siswa ikut terlibat dalam proses belajar mengajar. Hal ini ditampakkan melalui sikap senang terhadap agama. Siswa yang tidak senang dengan agama mengikuti pelajaran dengan membuat suasana gaduh atau ramai (lihat tabel 5: 2). Melihat masalah ini, guru PAK berusaha untuk membimbing mereka terus menerus dengan memberikan rangsangan bagi siswa agar siswa dapat fokus mengikuti pelajaran agama dan mendapatkan hasil yang baik.
Hal ini sesuai dengan pandangan Nana Sudjana (1989a: 32-35) bahwa guru hendaknya memberikan rangsangan belajar yang ditumbuhkan dalam diri siswa yaitu motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang muncul dari kebutuhan siswa akan belajar, maka yang harus diupayakan guru adalah dengan menumbuhkan kesadaran siswa. Pemberian rangsangan itu dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan dalam setiap materi pelajaran dan tugas baik secara berkelompok maupun pribadi (lihat tabel 5: 1). Hal ini sesuai dengan pandangan Warkitri, dkk (1990: 23-25) bahwa guru berusaha memberikan motivasi intrinsik terhadap siswa yaitu salah satunya dengan melibatkan siswa dalam tugas, istilah lain dapat dikatakan motivasi tugas (task Motivation). Membangkitkan motivasi intrinsik merupakan bagian dari usaha guru untuk mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar karena tugas guru adalah memberikan motivasi untuk mencapai hasil belajar yang baik (Soeitoe, 1982: 53).
Demikian pula keterlibatan siswa dengan siswa lain, guru hendaknya membiasakan siswa untuk mendiskusikan suatu pendapat mereka masing-masing pada saat diskusi kelompok (Mahfudh Shalahuddin, 1990: 122). Pada saat proses kegiatan diskusi berlangsung, guru PAK menemukan masalah yaitu salah seorang siswa menolak diskusi bersama teman satu kelompoknya. Namun pada akhir diskusi, siswa ini mampu mengumpulkan hasil pertanyaan diskusi dengan jawaban sendiri (lihat tabel 5: 3). Tindakan yang dilakukan siswa ini sangat mengganggu proses belajar mengajar karena dalam kegiatan diskusi dibutuhkan jawaban atas hasil kerja sama.
Melalui pengalaman ini kendala-kendala yang sudah dialami guru PAK mampu ditangani dengan cara memberikan pendampingan dan pengarahan kepada siswa terus menerus bahwa kita saling membutuhkan satu sama lain. Pendampingan secara terus menerus membuat siswa ini semakin berubah disaat ia membutuhkan bantuan dengan orang lain. Tindakan guru PAK harus menciptakan kondisi kelas yang merangsang siswa melakukan kegiatan belajar sebagai pendorong agar siswa mau melakukan kegiatan belajar dan mendapatkan hasil yang memuaskan, baik kegiatan individu maupun kelompok (Nana Sudjana, 1989a: 32-35).
b. Wawancara dengan Siswa
Kegiatan belajar mengajar PAK di SMP Kanisius Gayam sudah berjalan sesuai pelaksanaan proses belajar mengajar PAK. Pola Naratif Eksperiensial ternyata memberikan pengaruh terhadap kelancaran belajar mengajar PAK. Berdasarkan cara mengajar guru agama, 66,67% siswa menjawab bahwa pada saat pelajaran secara umum guru memulai pelajaran dengan penampilan cerita kehidupan, penampilan cerita atau Kitab Suci, pengolahan cerita, dan pembahasan contoh praktik hidup sehari-hari (lihat tabel 6: 1). Cara mengajar guru seperti ini lebih menampilkan unsur ceritanya baik melalui cerita yang ada di buku pelajaran, cerita rakyat atau cerita Kitab Suci. Namun 38,89% siswa mengatakan mengikuti pelajaran agama itu membosankan dan kurang menarik karena cara mengajar guru PAK monoton atau penyampaian materi berupa cerita hanya dibacakan.
Dalam pemakaian sarana guru PAK menyesuaikannya dengan materi pelajaran saat itu. Sarana/media yang digunakan adalah buku pelajaran, cerita, Kitab Suci dan film. Pendapat dari 27,78 % siswa sarana yang digunakan yakni buku pelajaran dan Kitab Suci, 16,67% siswa memilih buku pelajaran dan cerita, 11,11% siswa memilih buku pelajaran, cerita dan Kitab Suci (lihat tabel 6: 2). Hal ini menunjukkan bahwa dalam setiap proses belajar mengajar guru menggunakan pola Naratif Eksperiensial karena sarana yang digunakan adalah cerita. Buku pelajaran tidak pernah lepas dalam proses belajar mengajar karena merupakan buku panduan yang membantu guru dalam menyampaikan materi. Sedangkan cerita, Kitab Suci dan film merupakan sarana pendukung proses belajar mengajar. Namun sarana lain juga masuk dalam pola naratif, yaitu 22,22% siswa memilih buku pelajaran dan film (cerita gambar bergerak) (lihat tabel 6: 2). Pandangan ini sesuai dengan Drewers (1996 No 01: 8) yang mengatakan bahwa unsur cerita dapat disajikan melalui sarana lain seperti film.
Berdasarkan 33,33% siswa mengatakan bahwa cara mengajar guru sudah baik dan menarik karena mereka melihat sisi dari diri sendiri yang peka terhadap penjelasan materi dari guru (lihat tabel 6: 3). Pengertian ini harus dilandasi atas dasar pengetahuan akan cara-cara pengolahan cerita bentuk lain. Dengan demikian siswa akan merasa senang dan membangkitkan motivasi siswa untuk ikut aktif dalam pelajaran PAK.
Pemahaman akan materi yang disampaikan guru PAK membawa pengaruh bagi 38,89% siswa dalam memahami materi yang disampaikan guru karena mereka menyadari akan pentingnya pendidikan.
Sebanyak 44,44% siswa kadang- kadang memahami akan materi yang disampaikan guru karena disesuaikan dengan suasana kelas dan mood (lihat tabel 6: 4). Pengaruh dari luar ternyata membawa dampak bagi motivasi siswa yaitu mood. Mood ini ada karena reaksi dari luar seperti suasana kelas yang ramai sehingga siswa menjadi malas mengikuti pelajaran. Didukung pula suara guru saat menjelaskan, bertabrakan dengan suara siswa yang ramai sehingga 16,67% siswa merasa sedikit memahami materi yang disampaikan guru (lihat tabel 6: 4) dengan alasan suara guru kurang keras.
Kesan siswa selama mengikuti PAK ternyata memberi pengaruh positif dan negatif. Sebanyak 77,78% siswa menyatakan kesan yang positif terhadap PAK bahwa pelajaran agama menyenangkan, dan menarik daripada pelajaran lainnya (lihat tabel 7: 1) karena dengan mempelajarai agama, wawasan kita semakin bertambah. Hal ini sesuai dengan pendapat 50% siswa yang menyatakan bahwa manfaat mempelajari agama adalah untuk menambah wawasan terutama dalam mengenal agama Kristiani maupun agama lain. Di Indonesia memiliki berbagai macam agama, maka berdasarkan 11,11% siswa, melalui agama kita diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai orang lain yang berbeda agama demikian pula iman kita semakin bertambah kuat dan kokoh. Di samping itu 22,22% siswa menyatakan bahwa melalui belajar agama kita dapat menerapkan sikap dalam hidup sehari-hari melalui contoh hidup saling menghargai yang sudah diterapkan di Indonesia pada saat perayaan hari besar keagamaan. Pendapat lain 5,56% siswa juga mengatakan pelajaran agama mampu membantu siswa dalam memecahkan masalah pribadi siswa.
Faktor pendukung dalam proses belajar mengajar 38,89% siswa mengatakan bahwa ketenangan dan suasana kelas sangat memengaruhi terjadinya proses belajar mengajar PAK. Faktor lain juga dipengaruhi dari dalam diri siswa yaitu, 27,78% siswa menanggapi pendukung bahwa proses belajar mengajar dipengaruhi oleh niat atau mood. Sedangkan fasilitas menurut 5,56% siswa juga menjadi pendukung dalam proses belajar mengajar (lihat tabel 8: 1). Kalaupun tidak ada fasilitas, diharapkan seorang guru memiliki keahlian dalam mengolah pelajaran karena terkadang siswa merasa bosan dengan penyampaian cerita yang biasa. Selain itu, di jaman yang sudah maju, guru diharapkan memanfaatkan teknologi yang ada, agar siswa semakin bersemangat dan mendapat pengetahuan baru.
Ketenangan dan suasana kelas juga menjadi penghambat besar dalam proses belajar mengajar berdasarkan 66,67% siswa. Apabila kondisi ini memungkinkan siswa untuk tetap memperhatikan guru mengajar, proses belajar mengajar menjadi lancar karena 16,67% siswa mengatakan bahwa faktor dalam diri siswa seperti mood dan niat ternyata dapat menjadi penghambat dalam proses belajar mengajar PAK (lihat tabel 8: 2). Jika siswa membuat suasana belajar menjadi ramai guru harus berperan aktif, karena 11,11% siswa mengatakan bahwa pada saat suasana kelas menjadi ramai, guru kurang memberikan peringatan dengan tegas kepada siswa yang membuat masalah.
Dengan demikian 33,33% siswa memberikan saran agar pelajaran PAK lebih menarik yaitu penambahan fasilitas belajar siswa. Karena itu guru hendaknya memanfaatkan teknologi yang ada berupa macam-macam sarana seperti cerita yang divisualisasikan melalui gambar, patung, foto, alam, ataupun audio visual.
Cerita dan nonton film masih mendapat perhatian dari 27,78% siswa sebagai pendukung agar pelajaran PAK lebih menarik siswa (lihat tabel 7: 3). Kesempatan ini merupakan usaha siswa dalam keprihatinannya terhadap pelajaran PAK yang dirasa membosankan. Oleh sebab itu guru diharapkan peka terhadap keinginan dan pendapat siswa.
Usaha ini merupakan upaya siswa dalam penyampaian inspirasi mereka terhadap pelajaran agama. Daya tarik siswa berbeda-beda, maka dibutuhkan keterampilan khusus yang dimiliki seorang guru dalam meningkatkan semangat belajar siswa yang dapat membantu peningkatan hasil belajar siswa. Sebanyak 5,56% siswa mengemukakan pendapat bahwa game dan hadiah masih dibutuhkan untuk meningkatkan semangat belajar siswa (lihat tabel 7: 3). Sedangkan 5,56% siswa juga mengharapkan belajar di luar kelas agar pelajaran agama tidak membosankan sebab dapat memunculkan ide baru pada saat menyatu dengan alam.
2. Keterbatasan Hasil Penelitian
Penulis menyadari bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki khususnya dalam pelaksanaan penelitian ini. Salah satunya adalah kurangnya jumlah responden yang diteliti.
Jumlah responden yang diteliti sebagai sampel tidak memenuhi standar yang diharapkan, maka dari itu diharapkan selanjutnya bagi penulis untuk lebih mencermati jumlah sampel sebagai responden yang diteliti sebanding dengan populasi.
Keterbatasan lain yang dialami peneliti adalah keterbatasan waktu. Peneliti merasa terlalu santai dalam melakukan penelitian padahal pihak sekolah sudah sejak lama mempersilahkan peneliti untuk melakukan penelitian. Karena peneliti terlalu santai dalam pengerjaannya, penelitian baru bisa terlaksana bulan Februari 2016 yang lalu.
USULAN PROGRAM POLA NARATIF EKSPERIENSIAL