• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SMP KANISIUS GAYAM, YOGYAKARTA

A. Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Katolik di SMP

Pendidikan Agama Katolik (PAK) di sekolah dipahami sebagai proses pendidikan dalam iman atau proses pendidikan dalam rangka membantu para siswa agar semakin beriman. PAK merupakan suatu proses pendidikan yang berjalan secara berkesinambungan dan sarana untuk membantu siswa dalam mencapai kedewasan iman (Telaumbanua, 1999: 111). Oleh sebab itu proses pendidikan yang berkesinambungan dijelaskan untuk mengetahui proses belajar mengajar yang seharusnya dalam PAK.

Menurut Nana Sudjana (1989a: 28), belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan siswa yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang dilakukan guru sebagai pengajar.

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang yang ditunjukkan dalam perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan tingkah laku pada individu untuk belajar. Tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari diri individu seperti kemampuan yang dimilikinya, minat dan perhatiannya, kebiasaan, usaha dan motivasi serta faktor-faktor lainnya (Nana Sudjana, 1989a: 5-6).

Minat dan perhatian akan mata pelajaran tertentu membuat siswa mendorong dirinya untuk mempelajarinya. Melalui kebiasaan belajar, siswa akan berusaha untuk mempelajari sendiri tanpa ada dorongan dari luar, sehingga muncullah motivasi atau timbul tingkah laku untuk belajar. Siswa yang tidak memiliki minat dan perhatian terhadap mata pelajaran tertentu akan malas untuk belajar ataupun mempelajari pelajaran lainnya, maka sering terlihat ada beberapa siswa yang unggul dalam bidang yang disukainya namun rendah dalam bidang lainnya. Oleh sebab itu, diperlukan dorongan dari luar diri siswa yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

Dalam lingkungan keluarga yang berperan aktif dalam belajar siswa adalah orang tua. Orang tua mendorong siswa belajar sebagai proses lanjutan dari proses belajar mengajar di sekolah. Siswa mendapat pengetahuan kemudian dipelajari

kembali di rumah atau keluarga agar apa yang didapat lebih diperdalam lagi. Lingkungan masyarakat juga memengaruhi siswa untuk belajar terutama lingkungan tempat tinggal siswa yang pada umumnya orang-orang yang memiliki semangat untuk belajar atau mengenyam pendidikan. Lingkungan sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar siswa dalam proses belajar-mengajar seperti guru, sarana belajar, kurikulum, teman-teman sekelas, kedisiplinan, peraturan sekolah dan lain-lain (Nana Sudjana, 1989a: 6).

Guru dalam proses belajar mengajar memiliki peranan sebagai fasilitator, pendorong atau motivator agar motif- motif yang positif pada diri siswa dapat dibangkitkan dan ditingkatkan guna mencapai hasil belajar. Motif-motif positif yang ada pada diri siswa dibangkitkan dan ditingkatkan dengan memberikan rangsangan berupa sarana belajar yang disukai siswa, sesuai dengan taraf dan perkembangannya dalam menyampaikan kurikulum (Semiawan, 1985: 10).

Dalam buku Cara Belajar Siswa Aktif (Nana Sudjana, 1989: 8) terdapat konsep mengajar:

Konsep mengajar di atas bertitik tolak pada peranan guru bukan sebagai pengajar melainkan sebagai pembimbing belajar, pemimpin belajar atau fasilitator belajar. Dikatakan pembimbing karena dalam proses tersebut guru memberikan bantuan kepada siswa agar siswa itu sendiri yang melakukan kegiatan belajar. Dikatakan pemimpin karena guru yang menentukan ke mana kegiatan siswa diarahkan, dan dikatakan fasilitator karena guru harus menyediakan fasilitas.

Proses Tingkah laku Siswa

Proses Belajar Siswa

Proses Mengajar

Inti dari proses mengajar adalah menumbuhkan kegiatan siswa belajar, sehingga keterpaduan dua konsep ini melahirkan konsep baru yang disebut “proses belajar mengajar”.

Dalam proses belajar mengajar terutama dalam PAK, dibutuhkan interaksi antara guru dengan siswa, maupun siswa dengan siswa lainnya. Interaksi siswa dengan guru dibangun atas dasar tujuan, isi atau bahan, metode dan alat, serta penilaian. Dalam interaksi siswa diarahkan oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran melalui bahan pengajaran yang dipelajari oleh siswa dengan menggunakan metode dan alat kemudian dinilai untuk mengetahui ada tidaknya perubahan pada diri siswa setelah menyelesaikan proses belajar mengajar. Keberhasilan interaksi antara guru-siswa tergantung pada bentuk komunikasi yang digunakan guru pada saat berinteraksi dengan siswa. Komunikasi yang sesuai yaitu komunikasi sebagai transaksi yang menuntut keaktivan dari siswa (Nana Sudjana, 1989: 9-10).

Pelajaran Agama Katolik di sekolah merupakan salah satu bentuk komunikasi atau interaksi iman. Komunikasi iman itu mengandung unsur pengetahuan iman, pergumulan iman dan unsur penghayatan iman dalam pelbagai bentuk. Bagi siswa yang beriman katolik dan memiliki pengetahuan mengenai iman katolik, komunikasi iman diharapkan membantu mereka dalam menggumuli dan menghayati hidup beriman. Hidup beriman juga tidak hanya bagi yang beriman katolik, melainkan siswa yang beragama lain pun dapat mengkomunikasikan imannya melalui agamanya sendiri. Dengan adanya keterbukaan, pengharapan dan kebebasan dari masing- masing agama komunikasi iman antar siswa semakin diperkaya (Jacobs, 1992: 9).

Dalam Silabus Pendidikan Agama Katolik (Jacobs, 1992: 10-11) diterangkan bahwa pelajaran agama di sekolah diharapkan dapat menumbuhkan sikap untuk bekerja sama dengan saudara beriman lainnya dan semua orang yang berkehendak baik. Kegiatan komunikasi juga memerlukan sarana yaitu bahan. Bahan ini bukanlah bahan mati melainkan mitra dalam dialog yang bersaksi dan menggairahkan siswa untuk ikut dalam gerakan Kerajaan Allah. Supaya bahan menjadi mitra dialog yang hidup, menarik dan tidak memaksa, bahan perlu diolah dalam bentuk cerita. Dalam dialog terjadi komunikasi iman yang hidup antar siswa dalam kelas sehingga melalui cerita, siswa mampu mengekspresikan, mengungkapkan dan menyatakan iman dalam bentuk cerita pengalaman. Dengan demikian dalam menyampaikan cerita, dibutuhkan pola yaitu pola yang bersifat Naratif Eksperiensial. Berdasarkan pengertian cerita pola yang bersifat naratif-eksperiensial adalah pola cerita pengalaman. Naratif berarti bahan diceritakan (narasi) sebagai mitra dialog yang bersaksi mengenai pengalaman serta penghayatan iman (eksperiensi). Komunikasi tersebut berawal dari dan menuju ke pengalaman dan penghayatan (eksperiensi) sehari-hari siswa. Dalam pola komunikasi cerita membantu siswa untuk membuka dan menyapa pengalamannya secara terbuka, tidak memaksa dan tidak mengindoktrinasi, sehingga terjadi komunikasi yang menciptakan iklim untuk memperkembangkan kreativitas siswa. Pola komunikasi juga diharapkan dapat membantu penghayatan hidup beriman siswa melalui sharing pengalaman hidup siswa sehari-hari.

Oleh sebab itu, pelaksanaan Pendidikan Agama Katolik di SMP merupakan salah satu bentuk komunikasi dan interaksi (tanya jawab dan atau dialog) iman katolik. Kegiatan PAK harus berkisar pada ajaran Gereja Katolik dan hidup Kristiani yaitu bertumpu pada iman akan Yesus Kristus, Allah yang mendatangi manusia. Pendidikan Agama Katolik di SMP juga dilaksanakan untuk memberikan sumbangan bagi pembentukan dan pembangunan hidup beriman Kristiani para siswa untuk mengenal dan mencintai Yesus Kristus serta menerapkan iman Kristiani dalam hidup sehari-hari (Komkat KWI, 1999: 5-6).

B. Pengaruh Pola Naratif Eksperiensial terhadap Motivasi Belajar Siswa