• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.3. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Pengujian Hipotesis

Dalam pengujian hipotesis yang menyatakan bahwa Likuiditas, Profitabilitas dan Leverage secara simultan dan secara parsial berpengaruh terhadap Dividen Payout Ratio, dilakukan goodness of fit untuk menentukan kelayakan suatu model regresi, karena variabel penelitian lebih dari dua variabel maka kelayakan tersebut dapat dilihat dari nilai Adjusted R Square.

Nilai Adjusted R Square yang diperoleh dari hasil pengolahan data dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut ini :

Tabel 5.6 Pengujian Goodness of Fit Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .414(a) .172 .134 .64470

a Predictors: (Constant), LOG_DER, LOG_CR, LOG_ROA b Dependent Variable: LOG_DPO

Penggunaan Adjusted R Square berdasarkan bahwa penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan kedalam model (Ghozali, 2001 : 83). Setiap tambahan satu variabel independen, maka R Square pasti akan meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu hal diatas menjadi dasar penggunaan nilai Adjusted R Square daripada menggunakan R Square.

Nilai Adjusted R Square pada tabel 5.6 diatas sebesar 13,40. Hal ini menunjukkan bahwa hanya 13.40 persen variasi Dividen Payout Ratio dapat dijelaskan oleh variasi dari ke tiga variabel Cash Ratio, Return on Assset dan Debt to Equity Ratio, sedangkan sisanya sebesar 86.6 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan oleh model penelitian ini.

Untuk menguji apakah parameter koefisien Adjusted R Square signifikan atau tidak maka dilakukan pengujian dengan bantuan alat uji statistik metode Fisher (Uji F) dengan tingkat keyakinan (confident level) sebesar 95 persen. Kriteria pengujian yang digunakan adalah apabila Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak, dan apabila Fhitung

Ftabel maka Ho dapat diterima.

Atas hal tersebut berdasarkan pada ikhtisar pengujian terdapat dalam tabel 5.7 berikut ini :

Tabel 5.7 Hasil Perhitungan Uji F ANOVA(b)

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 5.686 3 1.895 4.560 .006(a) Residual 27.432 66 .416 Total 33.118 69

a Predictors: (Constant), LOG_DER, LOG_CR, LOG_ROA b Dependent Variable: LOG_DPO

Tabel 5.7 menunjukkan bahwa nilai Fhitung adalah 4,560 dengan tingkat signifikansi 0,006. Sedangkan Ftabel pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) adalah 2.76. Oleh karena pada kedua perhitungan Fhitung > Ftabel (4,560 > 2.76), maka Ho

ditolak yang menunjukkan bahwa secara simultan variabel cash ratio, return on asset dan debt to equity ratio berpengaruh terhadap dividen payout ratio.

Untuk melihat pengaruh variabel independen cash ratio, return on asset dan debt to equity ratio terhadap dividen payout ratio secara parsial digunakan uji T yang dapat dilihat sesuai dengan tabel 5.8 berikut:

Tabel 5.8 Hasil Perhitungan Uji T Coefficients(a)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -.279 .159 -1.758 .083 LOG_CR .066 .039 .191 1.690 .096 LOG_ROA .188 .065 .355 2.910 .005 LOG_DER -.009 .042 -.025 -.206 .837

a Dependent Variable: LOG_DPO

Dari tabel 5.8 diatas diperoleh suatu model regresi yang dibentuk dari nilai Unstandardized Coefficients sebagai berikut:

Y = - 0,279 + 0,066 Log X1 + 0,188 Log X2 - 0,009 Log X3 + ε

Adapun makna dari model tersebut yaitu :

1. Konstanta sebesar - 0,279 dapat diartikan jika cash ratio, return on asset dan debt to equity ratio tidak mengalami perubahan atau sama dengan nol, maka dividen payout ratio akan berkurang sebesar 0,279 persen.

2. Dari coefficient variabel Log X1 sebesar 0,066 diperoleh coefficient variabel X1 sebesar 1,164 yang berarti bahwa apabila cash ratio bertambah satu satuan maka dividen payout ratio akan bertambah sebesar 1,164 persen.

3. Dari coefficient variabel Log X2 sebesar 0,188 diperoleh coefficient variabel X2 sebesar 1,542 yang berarti bahwa apabila return on asset bertambah satu satuan maka dividen payout ratio akan bertambah sebesar 1,542 persen.

4. Dari coefficient variabel Log X3 sebesar - 0,009 diperoleh coefficient variabel X3 sebesar - 1,021 yang berarti bahwa apabila debt to equity ratio bertambah satu satuan maka dividen payout ratio akan berkurang sebesar 1,021 persen. Hasil uji statistik tersebut menunjukkan bahwa thitung untuk variabel cash ratio sebesar 1,690 sedangkan ttabel pada tingkat keyakinan 95% adalah 1,994 dimana 1,994 > 1,690 dan karena ttabel > thitung maka Ho diterima, yang artinya bahwa cash ratio tidak berpengaruh terhadap dividen payout ratio. Hal ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Prihantoro (1997) dan Kapoor (2007) dimana cash ratio berpengaruh secara signifikan terhadap dividen payout ratio.

Pemerintah selaku pemegang saham dalam pengelolaan BUMN menciptakan kebijakan yang dalam jangka panjang bisa menyulitkan BUMN. Pembebanan dividen yang besar kepada BUMN berpotensi membebani cashflow. Ini karena secara, laba (net income) dengan arus kas (cash flow) adalah dua aspek yang tidak sama. Sebuah BUMN yang memiliki laba besar bukan berarti pada saat yang sama memiliki cashflow untuk membayar dividen yang besar pula. Akibatnya menjadi tidak sehat apabila BUMN harus meminjam dana dari bank untuk membayar dividen.

Perkembangan BUMN dapat terganggu akibat kebijakan Dividen Payout Ratio yang besar karena untuk dapat bersaing dengan kompetitor, BUMN membutuhkan dana investasi yang tidak kecil dimana sebagian dana tersebut diambil dari pencadangan laba. Apabila dana cadangan laba tersebut terlalu kecil karena habis untuk membayar dividen, maka BUMN akan menunda rencana investasinya yang berarti melepas peluang bisnis yang ada atau meminjam ke bank untuk konsekuensi membayar bunga.

Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa thitung untuk variabel return on asset sebesar 2,910 sedangkan ttabel pada tingkat keyakinan 95% adalah 1,994 dimana 1,994 < 2,910 dan karena ttabel < thitung maka Ho ditolak, yang artinya bahwa return on asset berpengaruh secara signifikan terhadap dividen payout ratio. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dwiyani (2005) dimana return on asset berpengaruh secara signifikan terhadap Dividen Payout Ratio.

Kebijakan dividen yang diterapkan pada BUMN selalu berdasarkan pada laba akuntansi yang diperoleh dengan melihat kemampulabaan (Profitabilitas) dari suatu perusahaan BUMN tersebut. Pemerintah dalam menetapkan jumlah dividen hanya berpatokan kepada jumlah laba yang dihasilkan, dan dari setiap rupiah laba yang dihasilkan tersebut harus menjadi suatu bagian dividen yang disetor ke negara berdasarkan Dividen Payout Ratio yang ditetapkan. Hal ini membuat BUMN menjadi raksasa yang gemuk yang bergerak lamban yang disebabkan oleh jumlah asset yang tinggi sementara pengelolaan asset tersebut agar dapat menghasilkan profit yang tinggi masih rendah. Akibatnya accounting profit yang dihasilkan sering

mengandung unsur manipulasi baik melalui proses smoothing atau financial engineering untuk memoles kinerja manajemen.

Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa thitung untuk variabel debt to equity ratio sebesar - 0,206 sedangkan ttabel pada tingkat keyakinan 95% adalah 1,994 dimana 1,994 > - 0,206 dan karena ttabel > thitung maka Ho diterima, yang artinya bahwa debt to equity ratio tidak berpengaruh terhadap dividen payout ratio. Hal ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Prihantoro (1997), dan Palenti (2008) dimana Debt to Equity Ratio berpengaruh secara signifikan terhadap Dividen Payout Ratio.

Kebijakan dividen BUMN yang ditetapkan tanpa melihat Debt to Equity Ratio BUMN membuat BUMN semakin terbebani. Akibat dari tingginya pembayaran dividen kepada negara, maka dana internal yang tersedia yang akan digunakan untuk menaikkan potensi pertumbuhan perusahaan menjadi berkurang. Akibatnya BUMN akan mencoba mencari dana dari eksternal yang sudah tentu akan menambah beban BUMN yaitu besaran bunga atas pinjaman tersebut dan aliran cashflow yang semakin berat dengan adanya pembayaran atas cicilan dana pinjaman tersebut ditambah lagi dengan aliran cashflow yang harus tersedia untuk membayar dividen kepada negara.

Hasil Penelitian diatas banyak yang bertolak belakang dengan hasil penelitian sebelumnya, dimana hal ini disebabkan oleh perbedaan sample penelitian dimana peneliti sebelumnya meneliti perusahaan swasta sementara pada penelitian ini ditujukan kepada BUMN.

Penelitian diatas juga membuktikan bahwa pemerintah dalam menentukan target Dividen Payout Ratio terhadap masing-masing BUMN kurang mempertimbangkan ukuran likuiditas dan leverage perusahaan BUMN, namun hanya melihat laba akuntansi saja dan penetapan dividen berdasarkan state budget approach yaitu penetapan target dividen yang lebih banyak ditentukan oleh kebutuhan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Berapapun besarannya yang dibutuhkan APBN, besaran itu pula yang harus disetor oleh BUMN, baik mampu atau tidak mampu. APBN adalah proses politik yang melibatkan pihak eksekutif dan legislatif. Didalamnya ada proses negosiasi, lobi dan kompromi yang sering mengabaikan kondisi-kondisi objektif BUMN. Dengan posisi tawar yang sangat lemah, state budget approach akan menyebabkan BUMN selalu berada dalam posisi objek penderita bukan sebagai subjek penentu.

Idealnya penentuan dividen harus dengan menggunakan pendekatan korporasi. Dalam pendekatan ini setiap BUMN diberi ruang cukup untuk menentukan besaran dividen, tetapi terlebih dahulu mengukur kebutuhan investasi. Dengan pendekatan ini kesinambungan usaha akan lebih terjamin dan kontribusi jangka panjangnya terhadap APBN dapat lebih diharapkan.

Kondisi BUMN saat ini adalah ibarat sapi perah yang terus-menerus diambil susunya tanpa perlu diberikan asupan yang cukup. Akibatnya, tubuhnya makin kurus, sakit-sakitan dan akhirnya mati. Celakanya ketika sapi tersebut sakit dan minta disuntik dengan infus, opini yang muncul adalah BUMN dalam jamaknya selalu tergantung, tidak efisien dan cap-cap buruk lainnya.

Tarik-menarik kepentingan antara pemilik dan pengelola adalah masalah klasik yang dalam manajemen disebut dengan agency theory. Namun, dalam kasus ini konflik kepentingan antara BUMN dan negara sepertinya tidak dalam posisi yang seimbang.

Hal lain yang memberatkan BUMN adalah kebijakan dividen interim. Dividen interim yaitu dividen yang diambil lebih awal dari yang seharusnya. Normalnya dividen diambil dari laba yang dibagi yang berasal dari kinerja BUMN tahun sebelumnya bukan tahun berjalan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan menarik bagian laba pemerintah didepan dari kinerja laba tahun berjalan untuk menutupi defisit APBN. Dividen interim ini ibarat sistem ijon, dimana didalamnya mengandung ketidak pastian yang tinggi. Apa jadinya jika laba yang sebagiannya sudah dibayarkan kepada pemegang saham ternyata tidak tercapai. Selanjutnya, kebijakan dividen interim yang selama ini diterapkan kepada beberapa BUMN besar juga menjadi salah satu faktor pengganggu likuiditas. Kas yang semestinya digunakan untuk operasi tahun berjalan namun harus dibayarkan kepada negara.

Normalnya sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No 41/PMK.02/2005, jatuh tempo pembayaran dividen satu bulan setelah RUPS atau BUMN dapat mengajukan penetapan jatuh tempo. Terhadap keterlambatan pembayaran akan dikenakan denda sebesar dua persen sebulan dan bagian dari bulan dihitung satu bulan.

Kebijakan dividen merupakan resultansi dari keterlibatan banyak stakeholders BUMN, bukan hanya Kementerian Negara BUMN, tetapi juga Departement Keuangan, bahkan DPR. Konsensus penyempurnaan kebijakan dividen BUMN yang adil juga harus mencakup semua pihak termasuk konsensus Departement Keuangan dengan cara mencari alternatif pembiayaan untuk menutup defisit APBN.

Dewan Perwakilan Rakyat seharusnya memiliki political will yang sama untuk memberikan kesempatan kepada BUMN tumbuh lebih pesat meski harus dengan konsekuensi menurunnya setoran dividen BUMN dalam jangka pendek. Kemauan politik ini juga dapat diperkuat dengan argumen bahwa BUMN yang sehat dan kuat akah lebih dapat memberikan kotribusi dengan bentuk yang lebih luas dan dengan tingkat kesinambungan yang lebih tinggi. Minimal BUMN yang sehat tidak akan menjadi beban APBN dan pada sisi lain keterlibatan Dewan Perwakilan Rakyat dalam penetapan dividen semestinya tidak melebihi posisinya sebagai legislator.

BAB VI

Dokumen terkait