• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dimensi

extraversion dan openness to experience dalam kepribadian big five

dengan kecenderungan remaja melakukan cyberbullying. Kepribadian big five memiliki lima dimensi yaitu agreableness, extraversion, neuroticism, conscientiousness, dan openness to experience. Penelitian ini hanya berfokus pada dua dimensi yaitu extraversion dan opennes to experience. Hal ini dikarenakan pada penelitian-penelitian sebelumnya telah menguji dan menemukan hubungan tiga dimensi kepribadian big five dengan tindakan agresi dan cyberbullying yaitu dimensi agreableness, extraversion, dan neuroticism.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa dimensi extraversion

tidak berhubungan secara signifikan dengan kecenderungan cyberbullying. Sedangkan pada dimensi openness to experience diketahui memiliki hubungan yang signifikan namun bersifat negatif atau dengan kata lain kedua hipotesis pada penelitian ini ditolak.

Penelitian ini menggunakan skala cyberbullying terpakai dari Mutia Mawardah. Alat ukur tersebut digunakan karena sesuai dengan tujuan dan sasaran dalam penelitian ini serta alat ukur tersebut telah memenuhi

kriteria alat ukur yang baik. Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang mampu memberikan informasi yang dapat dipercaya dan telah memenuhi beberapa kriteria yaitu reliable, valid, standar, ekonomis dan praktis (Azwar, 2009). Sedangkan menurut Widhiarso (2012) reliabilitas yang tinggi tidak menjamin skala yang digunakan cukup valid. Hal ini karena reliabilitas yang tinggi dapat muncul dari skala yang kurang valid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara dimensi extraversion dalam kepribadian big five dengan kecenderungan remaja melakukan cyberbullying dan ada hubungan yang negatif antara dimensi openness to experience dengan kecenderungan remaja melakukan

cyberbullying atau dengan kata lain kedua hipotesis ditolak. Hal tersebut dapat dijelaskan dari keterbatasan alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini. Keterbatasan alat ukur tersebut terletak pada penulisan item

unfavorable yang menggunakan kata “tidak” pada variabel cyberbullying. Penulisan butir item tersebut cenderung mengarahkan respon subjek pada indikator perilaku yang akan diukur yaitu kecenderungan melakukan

cyberbullying. Hal ini membuat subjek memilih respon jawaban yang tidak sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Selain itu, penulisan butir item yang kurang tepat tersebut diduga juga berkontribusi terhadap distribusi data pada variabel cyberbullying yang tidak normal. Hal ini berarti bahwa variabel cyberbullying tidak menunjukkan pengaruh hubungan yang signifikan sehingga kedua hipotesis dalam penelitian ini ditolak.

Faktor kedua yang diduga mempengaruhi hasil penelitian adalah kecenderungan cyberbullying pada remaja dalam penelitian ini masuk dalam kategori rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai mean empiris yang lebih rendah daripada nilai mean teoritik (26,29 > 66) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05.

Kecenderungan cyberbullying yang masuk dalam kategori rendah ini dapat disebabkan oleh karakteristik personal subjek yaitu dilihat dari jenis kelamin. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 160 dimana sebagian besar didominasi oleh remaja perempuan yaitu sebanyak 96 sedangkan remaja laki-laki sebanyak 64. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa laki-laki lebih berpotensi besar untuk terlibat dalam

cyberbullying dan cenderung mudah untuk menunjukkan perilaku

cyberbullying dari pada perempuan yang lebih cenderung berpotensi untuk menjadi target atau korban cyberbullying (Alonzo & Aiken dalam Kowalski dkk, 2012 ; Dilmac, 2009 ; Ozden & Icellioglu, 2014). Menurut teori agresi yang dikemukakan oleh Bartol (dalam Sarwono, 1988) proses sosialisasi pada masa kanak-kanak memberi pengaruh atau menghasilkan sifat-sifat yang khas pada remaja. Sifat-sifat ekspansif atau exploratif, manipulatif, dan agresif adalah sifat khas remaja laki-laki sedangkan sifat- sifat submisif, memelihara, menahan diri dan non agresif menjadi sifat khas remaja perempuan.

Disisi lain, penelitian menemukan bahwa remaja perempuan lebih cenderung dan sering terilibat dalam tindakan cyberbullying daripada

remaja laki-laki (Smith, Mahdavi dkk, 2008 ; Kowalski & Limber dalam Kowalski dkk, 2012). Hal ini sesuai dengan teori agresi yang mengatakan bahwa perilaku agresi laki-laki cenderung mudah diekspresikan secara langsung sedangkan perilaku agresi pada perempuan sulit diekspresikan secara langsung sehingga perempuan cenderung melakukan perilaku agresi secara tidak langsung atau indirect seperti bergosip atau menyebarkan rumor, memanipulasi orang lain untuk mengancam orang lain (Baron & Byrne, 2005). Perilaku agresi tidak langsung tersebut merupakan salah satu bentuk dari cyberbullying. Disamping itu, beberapa penelitian mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin dengan cyberbullying (Hinduja & Patchin, Mishna dkk dalam Kowalksi dkk, 2012). Laki-laki ataupun perempuan memiliki porsi yang hampir sama untuk melakukan cyberbullying, perbedaan yang dapat ditemukan hanya terletak pada frekuensi dan intensitasnya dalam perilaku

cyberbullying yaitu dikatakan bahwa frekuensi laki-laki lebih besar dari pada perempuan untuk melakukan cyberbullying (Kowalski dkk, 2012).

Faktor lainnya yang diduga juga mempengaruhi hasil penelitian ini adalah faktor teman sebaya. Menurut penelitian yang dilakukan Gottfried (2012) pengalaman melakukan cyberbullying di Indonesia sebagian besar terjadi dalam lingkup atau komunitas teman sebaya, dengan kata lain teman sebaya memberi pengaruh terhadap remaja di Indonesia dalam melakukan cyberbullying. Dalam penelitian tersebut Gottfried mengungkapkan bahwa 53 % remaja di Indonesia yang melakukan

cyberbullying dipengaruhi oleh komunitas teman sebaya, sedangkan sisanya 37 % dipengaruhi oleh faktor lain dari dalam maupun dari luar diri remaja itu sendiri. Berdasarkan hasil penelitian Gottfried tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel kepribadian dalam penelitian ini diduga hanya berkontribusi kecil terhadap kecenderungan remaja di Indonesia dalam melakukan cyberbullying.

Berdasarkan hasil pembahasan tersebut, peneliti menyadari bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan. Keterbatasan dalam penelitian ini terletak pada alat ukur yang digunakan untuk melihat kecenderungan remaja melakukan cyberbullying. Alat ukur tersebut memiliki kelemahan pada butir penulisan item unfavorable, dimana item tersebut cenderung mengarahkan respon subjek. Hal ini menyebabkan data pada penelitian ini tidak menunjukkan keadaan yang sesuangguhnya dari subjek.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa dimensi extraversion dalam kepribadian big five tidak terbukti berhubungan signifikan dengan kecenderungan remaja melakukan cyberbullying (r = - 0,026, p = 0,373 > 0,05). Sedangkan pada dimensi openness to experience dalam kepribadian big five terbukti berkorelasi negatif dengan kecenderungan remaja melakukan cyberbullying (r = - 0,211, p = 0,004 < 0,05). Hubungan bersifat negatif artinya semakin tinggi skor openness to experience maka semakin rendah kecenderungan remaja melakukan cyberbullying.

Dokumen terkait