• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

3. Metode Pendidikan Humanis

Di sini metode tidak hanya diartikan sebagai cara mengajar dalam

proses belajar-mengajar bagi seorang guru, tapi dipandang sebagai

upaya perbaikan komprehensif dari semua elemen pendidikan sehingga

menjadi sebuah iklim yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.

Ada beberapa metode yang tidak mendukung perkembangan

kualitas keberagamaan anak yang biasanya ditemukan di sekolah, antara lain (Mas’ud, 2002: 198):

a. Guru hanya mengejar standar nilai, sehingga kurang atau tidak

memperhatikan budi pekerti anak.

b. Para pemimpin sekolah lebih berorientasi pada pembangunan

fisik sekolah daripada pembangunan manusia seutuhnya.

c. Pendekatan otoriter, baik pemimpin sekolah maupun guru.

d. Tiada penghargaan bagi anak didik yang berprestasi, bahkan

guru lebih sering menghukum.

e. Komunikasi guru dengan anak didik hanya terjadi di kelas.

f. Kegiatan keagamaan lebih merupakan kegiatan formalitas,

isendental, tidak sistematik, dan tidak berkelanjutan.

g. Kecerdasan anak tidak diimbangi dengan kepekaan sosial dan

29

Dari permasalahan tersebut, guru harus memilih metode sesuai

dengan humanisme yaitu memahami setiap peserta didik memiliki

kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Dan kepandaian peserta

didik tidak hanya dapat diukur dengan nilai bagus saat ulangan

atau tes akan tetapi perlu diperhatikan juga sikap dan tingkah laku. Pepatah lama berbunyi, “Berilah kail jangan beri ikan” masih berlaku hingga kini dan mendatang. Pepatah itu sesuai dengan pepatah Barat, “if you give a man fish you feed him a day, but if

you teach him how to fish you feed him for a life” learning how to

learn, yang selama ini diabaikan dalam pendidikan, harus

digunakan.

Secara teknis guru harus menggunakan metode sebagai berikut:

a. Role Model

Guru menjadi suri tauladan bagi kehidupan sosial akademis

murid, baik di dalam maupun di luar kelas.

b. Kasih sayang

Guru harus menunjukkan sikap kasih sayang, antusiasisme,

dan ikhlas mendengar atau menjawab pertanyaan. Serta

menjauhkan sikap emosional dan foedal, seperti cepat

marah dan tersinggung.

30

Menekankan belajar mandiri, kemampuan membaca, dan

berpikir kritis. Menerapkan proses pembelajaran yang

dialogis dan interaktif.

d. Promotor of learning

Membimbing, menumbuhkan kreatifitas, interaktif, dan

komunikatif dengan murid. Hal tersebut dapat dilakukan

dengan feedback konstruktif dari murid, baik secara

langsung maupun tidak langsung.

Berikut beberapa model pembelajaran humanistik:

a. Student Centered Learning

Konsep pembelajaran ini diajukan oleh Carl Rogers

yang intinya:

1) Kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya

bisa menfasilitasi.

2) Seseorang akan belajar secara signifikan hanya pada

hal-hal yang memperkuat dirinya.

3) Manusia tidak bisa belajar jika berada dibawah

tekanan. Pendidikan akan membelajarkan siswa

secara signifikan jika tidak ada tekanan kepada

siswa, dan perbedaan yang muncul difasilitasi.

b. Humanizing of The Classroom

Pendidikan model ini bertumpu pada tiga hal yakni

31

sedang dan akan terus berubah, mengenali konsep dan

identitas diri, dan menyatupadukan kesadaran hati dan

pikiran. Perubahan yang dilakukan tidak hanya pada

substansi materi saja, tetapi yang lebih penting pada

aspek metodologis yang dipandang sangat manusiawi.

c. Active Learning

Active Learning dicetuskan oleh M. L. Silberman.

Asumsi dasar yang dibangun dari model pembelajaran

ini adalah bahwa belajar bukan merupakan konsekuensi

otomatis dari penyampaian informasi kepada siswa.

Dalam kaitannya dengan strategi pembelajaran pada

pendidikan humanis, maka lebih menekankan pada

active learning, yang memiliki semboyan sebagai

berikut:

1) What I hear, I forget. Apa yang saya dengar

mudah saya lupakan, karena guru berbicara

100-200 kata permenit, sedangkan murid

mendengar 50-100 kata permenit, lama

kelamaan semakin berkurang.

2) What I hear and I see, I remember a little.

Apa yang saya dengar dan lihat akan saya

ingat sedikit atau sebentar, lama-kelamaan

32

3) What I hear, see, and askquestion about or

discuss with someone else, I begin to

understand. Apa yang saya dengar, lihat, dan

tanyakan atau diskusikan dengan orang atau

teman lain, maka saya mulai mengerti.

4) What I hear, see, discuss, and do, I recuire

knowledge and skill. Apa yang saya dengar,

lihat, diskusikan, dan laksanakan, maka saya

memperoleh pengetahuan dan keterampilan.

5) When I teach to another, I master Ketika saya

bisa mengajari orang atau teman lain, berarti

saya menguasai (Muhaimin, 2007:162).

Dengan demikian pelajaran aktif setidak-tidaknya

sampai pada tingkat yang ketiga, dan diusahakan untuk

mencapai tingkat terakhir. Untuk mencapai pada

tingkat tersebut maka pembelajaran harus berpusat pada

peserta didik agar kreativitasnya dapat berkembang,

menciptakan suasana pembelajaran yang

menyenangkan, dan menyediakan pengalaman belajar

yang beragam serta belajar melalui berbuat.

33

Quantum learning menggabungkan sugestologi,

teknik pemercepatan belajar dan neurolingusitik dengan

keyakinan, dan metode tertentu (De Porter dan

Hernacki, 2004: 16). Quantum Learning

mengasumsikan jika siswa mampu menggunakan

potensi nalar dan emosinya secara tepat akan membuat

loncatan prestasi yang tidak bisa terduga sebelumnya.

Konsep dasar dari Quantum Learning adalah belajar itu

harus mengasyikkan dan berlangsung secara gembira

sehingga akan lebih mudah informasi baru masuk dan

terekam dengan baik.

e. Quantum Teaching

Quantum Teaching berusaha mengubah mengubah

suasana belajar yang monoton dan membosankan

menjadi belajar yang meriah dan gembira dengan

memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi siswa

menjadi satu kesatuan kekuatan yang integral. Model

pembelajaran quantum teaching bersandar pada asas

utama bawalah dunia siswa ke dunia guru, dan

antarkanlah dunia guru ke dunia siswa. Pembelajaran ini

merupakan pembelajaran yang melibatkan semua aspek

34

di samping pengetahuan, sikap dan keyakinan

sebelumnya serta persepsi masa mendatang.

f. The Accelerated Learning

Penggagas model pembelajaran ini adalah Dave

Meir. Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa

pembelajaran itu berlangsung secara cepat,

menyenangkan, dan memuaskan. Dalam mengelola

kelas menggunakan pendekatan Somatic, Auditory,

Visual dan Intellectual (SAVI). Somatic berarti learning

by moving and doing (belajar dengan bergerak dan

berbuat). Auditory berarti learning by talking and

hearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan).

Visual berarti learning by observing and picturing

(belajar dengan mengamati dan menggambarkan).

Intellectual maksudnya learning by problem solving and

reflecting (belajar dengan pemecahan masalah dan

melakukan refleksi).

Adapun proses belajar yang umum dilalui adalah:

1) Merumuskan tujuan belajar yang jelas.

2) Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak

belajar yang bersifat jelas, jujur, dan positif.

3) Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan

35

4) Mendorong siswa untuk peka berfikir kritis, memaknai

proses pembelajaran secara mandiri.

5) Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat,

memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang

diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang

ditunjukkan. Guru mencoba memahami jalan pikir

siswa, mendorong siswa bertanggung jawab atas

perbuatannya.

6) Memberikan kesempatan siswa untuk maju sesuai

dengan kecepatannya.

7) Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan

perolehan prestasi siswa. Penilaian belajar yang

dilakukan adalah penilaian berbasis proses. Guru punya

kesempatan untuk menilai aktivitas siswa setiap kali

bertatap muka dengan siswanya (Chatib, 2009: 159).

Selain itu juga bisa memakai penilaian proyek, penilaian

produk, penilaian portofolio dan penilaian diri (self

assessment).

Selain metode-metode tersebut, pembelajaran dapat dilakukan

dengan E-Learning, yaitu sistem pembelajaran secara elektronik,

menggunakan media elektronik, internet, komputer, dan file

36

Keuntungan penggunaan E-Learning:

a. Real-time dan on-demands online information

b. Mobility acces, fleksibel dan praktis

c. Menjangkau wilayah geografis yang luas

d. User friendly, bebas dari kerepotan dan keruwetan

e. Benefit in cost, mengurangi (menghemat) biaya pendidikan

secara keseluruhan

f. Mengoptimalkan kualitas belajar

g. Dapat melengkapi aktivitas belajar konvensional

h. Melatih belajar lebih mandiri dan berkembang dalam ilmu dan

pengetahuan

i. Sumber ilmu dan informasi yang tidak terbatas, sehingga

kuncinya bukan mendapatkan kesemuanya namun filtering atau

penyaringan yang kita butuhkan saja (Daryanto dan Tasrial,

2012: 34) .

Di zaman modern ini teknologi semakin berkembang pesat, jadi

teknologi yang semakin canggih dapat dimanfaatkan dalam proses

pembelajaran. Dan dengan mengakses internet dapat menambah

wawasan dari berbagai sumber, cara pemikiran yang semakin luas,

dan membuat pembelajaran menjadi tidak membosankan.

Dokumen terkait