IMPLEMENTASI PENDIDIKAN HUMANIS
DI SMP ALTERNATIF QARYAH THAYYIBAH
SALATIGA TAHUN 2016
SKRIPSI
Diajukan Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh
HIDAYATUL MAGHFIROH
NIM: 111-12-030
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
2016
vi
MOTTO
َنيِمَلاَعْلِل ًةَمْحَر الَِّإ َكاَنْلَسْرَأ اَمَو
"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam."
(QS. 21:107)
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahi rabbilalamin, dengan izin Allah swt skripsi ini telah
selesai.
Skripsi ini penulis persembahkan kepada Bapak dan Ibu tercinta (Bapak Ali
Suwandi dan Ibu Rohmatun), kakak-kakak, dan adikku yang senantiasa
vii
KATA PENGANTAR ميحرلا نمحرلا الله مسب
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan
yang Maha Rahman dan Rahim yang dengan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya
skripsi dengan judul Implementasi Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah tahun 2016 bisa diselesaikan.
Sholawat dan salam penulis haturkan kepada sang teladan utama, nabi
Muhammad shalallahualaihi wassalam, juga kepada para shahabat, keluarga dan
orang yang istiqomah mengikuti petunjuk beliau.
Penulisan skripsi ini tidak akan selesai tanpa motivasi, dukungan dan
bantuan dari berbagai pihak terkait. Sungguh menjadi kebahagiaan yang tiada tara
penulis rasakan setelah skripsi ini selesai. Oleh karena itu penulis ucapkan
terimakasih setulusnya kepada :
1. Dr. Rahmat Haryadi, M.Pd. selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri
(IAIN) Salatiga.
2. Bpk. Suwardi, MPd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
3. Ibu Ruhayati, M.Pdi. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
4. Dr. Miftahuddin, M.Ag. selaku Pembimbing yang telah mengarahkan,
membimbing, memberikan petunjuk, dan meluangkan waktunya dalam
viii
5. Bapak dan Ibu dosen IAIN Salatiga yang telah memberikan ilmu, bagian
akademik dan staf perpustakaan yang telah memberikan layanan serta
bantuan kepada penulis.
6. Bapak Ahmad Bahruddin selaku kepala sekolah SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah dan seluruh guru, terutama Ibu Heni, Ibu Zulfa, dan Bapak
Ahmad yang meluangkan waktu serta memberikan bantuan kepada penulis
untuk penelitian.
7. Siswa SMP Alternatif Qaryah Thayyibah, yang telah meluangkan waktu
serta memberikan bantuan kepada penulis untuk penelitian.
8. Teman-teman senasib seperjuangan PAI 2012, khususnya One Emi
Nasithoh dan Putri Rifa Anggraeni.Terima kasih atas dukungan dan
bantuannya.
9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih
atas bantuan dan dorongannya.
Atas segala hal tersebut, penulis hanya bisa berdoa, semoga Allah Azza wa
Jalla mencatatnya sebagai amal sholeh yang akan mendapatkan balasan yang
berlipat ganda. Aamiin.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, masih banyak
kekurangan baik dalam isi maupun metodologi. Untuk itu saran dan kritik yang
membangun penulis harapkan dari berbagai pihak guna kebaikan penulisan di
masa yang akan datang. Semoga skripsi bermanfaat untuk penulis pada khususnya
ix
Salatiga, 01 Juli 2016
Penulis,
x
ABSTRAK
Maghfiroh, Hidayatul. 2016. Implementasi Pendidikan Humanis di SMP
Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga Tahun 2016. Skripsi. Jurusan
Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. Miftahuddin, M.Ag.
Kata Kunci: Implementasi, Pendidikan Humanis.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penerapan pendidikan humanis di
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Sekolah tersebut mampu menerapkan pendidikan
humanis dalam pelaksanaan pembelajarannya. Pertanyaan utama yang akan dijawab
peneliti adalah (1) Apa konsep pendidikan humanis di SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah? (2) Bagaimana implementasi pendidikan humanis di SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah? (3) Apa faktor pendukung dan pendidikan humanis di SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah?
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti mendapatkan data
menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tahap-tahap penelitian
meliputi pra lapangan, pekerjaan lapangan, dan analisis data. Analisis data pada
penelitian ini menggunakanreduksi data.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) konsep pendidikan humanis di SMP
Alternatif Qaryah Thayyibah adalah pendidikan yang membebaskan siswa untuk belajar
sesuai dengan keinginan dan tanpa ada kekerasan. (2) implemenatsi pendidikan humanis
di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah meliputi (a) metode pembelajaran pendidikan
humanis adalah siswa aktif belajar sesuai dengan keinginannya. (b) Siswa merasa bebas,
senang, dan nyaman. (c) guru seperti teman, sabar, dan baik. (d) Kurikulum disesuaikan
dengan kebutuhan setiap siswa (e) sarana dan prasarana SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah (3) (a) faktor pendukung meliputi Siswa tidak tertekan dengan aturan-aturan
yang tidak mereka sukai, siswa bebas dalam proses pembelajaran, siswa betah di
sekolahan tidak cepat-cepat ingin pulang, siswa belajar sesuai keinginannya, dan siswa
senang dan nyaman di sekolah. (b) faktor penghambat adalah siswa yang dalam keadaan
xi A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Kegunaan Penelitian ... 5
E. Penegasan Istilah ... 6
F. Metode Penelitian ... 11
G. Sistematika Penulisan ... 21
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pendidikan Humanis ... 23
1. Pengertian Pendidikan Humanis ... 23
2. Guru dalam Pendidikan Humanis ... 25
3. Metode Pendidikan Humanis ... 28
4. Siswa dalam Pendidikan Humanis ... 36
B. Teori-teori Pendidikan Humanis ... 39
1. Abraham Maslow ... 40
2. John Dewey ... 42
xii
4. Ki Hajar Dewantara ... 47
C. Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah ... 48
BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Gambaran Umum SMP Alternatif Qaryah Thayyibah ... 50
1. Sejarah ... 50
2. Letak Geografis ... 52
3. Prestasi ... 53
B. Konsep Filosofis ... 54
C. Implementasi Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Tahun 2016 ... 57
1. Metode Pembelajaran ... 57
2. Siswa ... 63
3. Guru ... 64
4. Kurikulum ... 67
5. Sarana dan prasarana ... 68
D. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Tahun 2016 ... 70
1. Faktor Pendukung ... 70
2.Faktor Penghambat ... 71
BAB IV PEMBAHASAN A. Konsep Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Tahun 2016 ... 73
B. Implementasi Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Tahun 2016 ... 77
1. Metode Pembelajaran ... 77
2. Siswa ... 79
3. Guru ... 80
4. Kurikulum ... 81
xiii
C. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Tahun 2016 ... 83 1. Faktor Pendukung ... 83 2. Faktor penghambat ... 84
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 86 B. Saran ... 87
1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Sekolah merupakan tempat menuntut ilmu. Di sekolah kita dapat
memperoleh ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan kita. Sekolah
merupakan bagian dari pendidikan bukan pendidikan bagian dari sekolah,
karena pendidikan tidak hanya dapat kita peroleh disekolahan. Kita dapat
memperoleh pendidikan di keluarga atau lingkungan masyarakat. Akan
tetapi masyarakat cenderung memasukkan anaknya di sekolah untuk
memperoleh pendidikan.
Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedogogy, yang
mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar
seorang pelayan. Dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan dengan
Educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang yang berada di dalam.
Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan To Educate yang berarti
memperbaiki moral dan melatih intelektual (Suwarno, 2006: 19). Dalam
UU No. 20/2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat,
2
Walau demikian, pendidikan berjalan terus tanpa menunggu keseragaman
arti.
Kegiatan pembelajaran di sekolah memiliki berbagai macam cara
yang digunakan. Cara tersebut disesuaikan dengan mata pelajaran dan
siswa yang diberi pembelajaran. Selain hal tersebut, ada juga tata tertib
yang berlaku di setiap sekolah. Tata tertib tersebut memiliki konsekuensi
tersendiri. Murid yang melanggar akan terkena hukuman yang telah
berlaku di sekolah atau terkena marah oleh guru yang bersangkutan
dengan murid. Akan tetapi, beberapa guru menggunakan hukuman yang
kurang sesuai dengan siswa.
Dengan adanya hukuman bagi yang melanggar aturan merupakan
cara untuk mencegah adanya hal-hal yang tidak baik dilakukan oleh siswa.
Murid akan mendapat hukuman apabila terlambat, tidak mengerjakan
pekerjaan rumah, memakai seragam tidak lengkap, dan lain-lain. Beberapa
hukuman yang diterima murid, ada hukuman yang sifanya tidak mendidik
dan malah membuat murid takut untuk sekolah. Apalagi hukuman fisik
yang kadang dilakukan oleh beberapa guru. Hal tersebut malah
mengajarkan siswa tentang kekerasan.
Ibn Khaldun berpendapat bahwa hukum yang keras dalam
pengajaran, berbahaya pada murid, khususnya bagi anak-anak kecil.
Karena itu termasuk tindakan yang dapat menyebabkan timbulnya
kebiasaan buruk. Kekasaran dan kekerasan dalam pengajaran terhadap
3
jiwa dan mencegah perkembangan pribadi anak yang bersangkutan.
Kekerasan membuka jalan ke arah kemalasan dan keserongan, penipuan,
serta kelicikan. Misalnya, tindak-tanduk dan ucapannya berbeda dengan
yang ada dalam pikiran, karena takut mendapatkan perlakuan tirani bila
mereka mengucapkan yang sebenarnya. Kecenderungan-kecenderungan
ini kemudian menjadi kebiasaan dan watak yang berurat dan berakar di
dalam jiwa (Kosim, 2012: 102). Hal ini pada gilirannya akan merusak sifat
kemanusiaan yang seyogianya dipupuk melalui hubungan sosial dalam
pergaulan. Orang-orang yang seperti itu merasa dirinya kecil dan tidak
mau berusaha.
Meskipun demikian bukan berarti hukuman tidak diperbolehkan
dalam pendidikan, akan tetapi hukuman tersebut haruslah bersifat edukatif.
Hukuman tersebut hendaknya diterapkan oleh guru dalam keadaan
terpaksa karena tidak ada jalan lain (sesudah semua cara yang
lemah-lembut tidak berhasil). Pendidikan yang seperti itulah yang mencerminkan
adanya pendidikan kemanusiaan.
Pendidikan yang mencerminkan kemanusiaan tersebut adalah
pendidikan yang humanis. Dalam pendidikan humanis guru tidak sekedar
melakukan transfer of knowledge atau transfer of values kepada murid,
akan tetapi mengharuskan seorang guru untuk mempersiapkan murid
dengan kasih sayangnya sebagai individu yang saleh dalam arti memiliki
tanggung jawab sosial, religius, dan lingkungan hidup. Dengan demikian,
4
bisa menjadi insan kamil, yakni sempurna dalam kacamata peradaban
manusia dan sempurna dalam standar agama (Mas’ud, 2002: 196).
Dalam pendidikan yang humanis, peserta didik dipandang sebagai
makhluk unik yang memiliki berbagai macam potensi dan kecerdasan
yang berbeda-beda. Dengan demikian, maka akan menciptakan
pembelajaran yang demokratis, mengakui hak anak untuk melakukan
tindakan belajar sesuai karakteristiknya. Setiap anak mempunyai
kelemahan di samping kekuatan yang dimilikinya, keberanian di samping
rasa takutnya, bisa marah, kecewa, dan gembira. Hal tersebutlah yang
membuat karakteristik setiap anak berbeda. Jadi wajar jika ada anak pintar
dan bodoh, berbakat dan tidak berbakat, introvert dan ekstrovert.
Keragaman inilah yang membuat munculnya berbagai macam kecerdasan
pada anak yang dapat mempengaruhi cara pembelajaran yang digunakan
oleh seorang guru. Tidak semua murid dapat memahami pelajaran yang
disampaikan oleh seorang guru. Ketika ulangan, wajar jika ada murid yang
mendapat nilai bagus, cukup bagus, atau malah mendapat nilai jelek.
Walau dipaksa atau diancam jika murid tersebut belum paham maka tentu
tidak bisa mengerjakan soal.
Tidak semua pendidikan di sekolah menerapkan pendidikan yang
humanis. Salah satu sekolah yang menerapkan pendidikan humanis adalah
Alternatif Qaryah Thayyibah. Sekolah tersebut sejajar dengan kampung
Isy Les Moulineauk di Prancis, Kecamatan Mitaka di Tokyo, dan lima
5
(Bahruddin, 2007: 5). Oleh karena itu, penulis mengambil judul
“Implementasi Pendidikan Humanis Di SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah Salatiga Tahun 2016”. B. Fokus Penelitian
Kaitannya dengan judul penelitian diatas, maka ada beberapa hal
yang akan diungkap oleh penulis, yaitu:
1. Apa konsep pendidikan humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah
Salatiga Tahun 2016?
2. Bagaimana implementasi pendidikan humanis di SMP Alternatif
Qaryah Thayyibah Salatiga Tahun 2016?
3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat pendidikan humanis di
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga Tahun 2016?
C. Tujuan Penelitian
1. Mendiskripsikan konsep pendidikan humanis di SMP Alternatif
Qaryah Thayyibah Tahun 2016.
2. Mengetahui implementasi pendidikan humanis di SMP Alternatif
Qaryah Thayyibah Salatiga Tahun 2016.
3. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat pendidikan humanis di
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga Tahun 2016.
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan secara praktik dan
6
1. Praktik
a. Bagi lembaga pendidikan dapat dijadikan masukan dalam upaya
meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di sekolah.
b. Bagi para pendidik dapat menjadi bahan masukan dalam
meningkatkan kualitas proses pembelajaran selanjutnya untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa.
c. Bagi siswa sebagai pengalaman yang baru dalam proses
pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi
belajar siswa.
d. Bagi penulis dapat mengembangkan kemampuan meneliti suatu
permasalahan dan menemukan solusinya.
2. Teoritik
Diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan
pendidikan di Indonesia serta dapat memperkaya khasanah dunia
pendidikan yang diperoleh dari penelitian lapangan.
E. Penegasan Istilah
Dalam pembahasan penelitian ini, penulis melakukan telaah
pustaka pada sejumlah penelitian sebelumnya dan buku-buku yang
berkaitan dengan tema yang sedang penulis angkat. Serta untuk
7
pembahasan dalam penelitian, maka perlu dijelaskan beberapa pengertian
yang terkandung dalam judul skripsi di atas, yaitu:
1. Implementasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia implementasi
berarti pelaksanaan, penerapan. Sedangkan Browne dan
Wildavsky mengemukakan bahwa implementasi adalah
perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan (Usman, 2004:
70). Para ahli mengatakan implementasi sebagai suatu tindakan
atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun
secara matang dan terperinci. Jadi dapat disimpulkan arti
implementasi dalam penelitian ini adalah pelaksanaan atau
penerapan dari sebuah rencana yang sistematis.
2. Pendidikan
Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedogogy,
yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang
sekolah diantar seorang pelayan. Dalam bahasa Romawi,
pendidikan diistilahkan dengan Educate yang berarti
mengeluarkan sesuatu yang yang berada di dalam. Dalam
bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan To Educate yang berarti
memperbaiki moral dan melatih intelektual (Wiji, 2006: 19).
8
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara. Jadi dapat disimpulkan bahwa
pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan untuk
memperoleh ilmu, pengetahuan, dan keterampilan.
3. Humanis
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia humanis adalah
orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya
pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas
perikemanusiaan, pengabdi kepentingan sesama umat manusia.
Humanisme, sebagaimana halnya rekonstruksionisme, menurut
skema George R Knigh, merupakan perkembangan dari
progresivisme. Fokus perhatian humanisme adalah manusia
(human). Dalam pemikiran edukatif Dewey, humanisme itu
merupakan refleksi timbal balik antara kepentingan individu
dengan masyarakat. Karenanya pendidikan harus
diselenggarakan dengan memusatkan perhatian pada keduanya
9
Definisi umum mengatakan bahwa pendidikan merupakan
proses pemanusiaan menuju lahirnya insan bernilai secara
kemanusiaan. Agenda utama pendidikan adalah proses
memanusiakan manusia menjadi manusia. (Danim, 2006: 4).
Pendidikan harus disertai kebijakan yang manusiawi. Tanpa
kebijakan yang manusiawi, dunia pendidikan justru bisa
mendorong munculnya konflik eksternal dan konflik dari
dalam diri seseorang (Mulkhan, 2002: 90). Dari sinilah
humanisasi pendidikan bisa menjadi media komunikasi antar
pribadi dan antar budaya yang terbuka, dialogis, dan
konstruktif. Pendidikian dikembangkan sebagai sebuah
proyeksi kemanusiaan, karena pada akhirnya seorang siswa
harus mempertanggungjawabkan segala tindakannya di dalam
kehidupan sosialnya. Kekurangcermatan kebijakan pendidikan
dalam memahami siswa sebagai manusia yang unik dan
mandiri serta harus secara pribadi mempertanggungjawabkan
tindakannya, pendidikan akan berubah menjadi “pemasungan”
daya kreatif setiap individu. Manusia sebagai makhluk unik
berarti setiap manusia memiliki berbagai macam potensi dan
kecerdasan yang berbeda-beda.
Humanisme dalam pendidikan adalah proses pendidikan
yang lebih memperhatikan aspek potensi manusia sebagai
10
khalifatullah, serta sebagai individu yang diberi kesempatan
oleh Tuhan untuk mengembangkan potensi-potensinya
(Mas’ud, 2002: 135). Jadi, humanis dalam penelitian ini adalah
proses pendidikan yang memperhatikan setiap karakteristik
orang yang berbeda-beda.
4. SMP Alternatif Qaryah Thayyibah
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah adalah sekolah berbasis
komunitas yang berada di desa Kalibening Kota Salatiga. SMP
ini mendidik muridnya bersama masyarakat yang selalu
bergerak untuk melakukan kerja-kerja pendidikan secara
dinamis sesuai dengan hakikat pendidikan yang sepanjang
hayat.
Pendidikan alternatif diorganisasikan dengan pola
pendidikan yang kurikulumnya bersifat desentralistik, di mana
anak didik dapat memilih materi pembelajaran sesuai dengan
minatnya atau keberbakatannya, mengikuti kebutuhan anak dan
lingkungan, biaya murah, sederhana, luwes birokrasinya, dan
menempatkan anak sebagai subjek (Danim, 2006: 139). Dan
metode pendidikannya pun berorientasi pada proses pendidikan
yang dilakukan secara dialogis serta memberi kesempatan yang
11
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian lapangan karena meneliti fenomena
yang ada di lapangan atau masyarakat dan memusatkan perhatian pada
suatu kasus secara intensif dan terperinci mengenai latar belakang
keadaan sekarang yang dipermasalahkan (Asmani, 2011: 66).
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian
kualitatif, yaitu penelitian yang mencoba memahami fenomena dalam
seting dan konteks naturalnya (bukan di dalam laboratorium) di mana
peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi fenomena yang diamati
(Sarosa, 2012: 7). Jadi penelitian kualitatif bermaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian
secara holistik (menyeluruh) dan dengan cara deskripsi dalam bentuk
kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan
dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan alat pengumpul
data utama. Peneliti berperanserta pada situs penelitian dan mengikuti
secara aktif kegiatan dan mengumpulkan data dari pengamatannya
12
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah
Kelurahan Kalibening Kecamatan Tingkir Kota Salatiga. Penelitian
dilakukan dalam rentang waktu bulan Mei-Juni 2016.
Peneliti memilih lokasi SMP Alternatif Qaryah Thayyibah karena
di sekolah tersebut menerapkan pendidikan humanis dalam proses
pembelajarannya. Murid-muridnya juga memiliki keterampilan yang
beraneka ragam sesuai kemampuan masing-masing tanpa adanya
tuntutan atau paksaan.
4. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini meliputi:
a. Data utama yakni data yang diperoleh langsung dari tempat
penelitian. Menurut Lofland dan Lofland, sumber data utama dalam
penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan (Moleong, 2011:
157). Kata-kata dan tindakan didapat dari wawancara atau pengamatan
berperanserta untuk mengetahui implementasi pendidikan humanis
dalam proses pembelajaran. Data utama penelitian ini, penulis
dapatkan dari kepala sekolah, guru-guru, siswa, dan pegawai di SMP
13
b. Data kedua atau data sekunder yaitu data tambahan yang berasal
dari sumber tertulis dan berbagai sumber lainnya yang berkaitan
dengan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Data kedua ini digunakan
peneliti untuk memperkuat dan melengkapi informasi yang didapat
dari data utama. Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari
sumber-sumber buku, majalah, artikel, serta data-data lain yang
dipandang relevan bagi penelitian ini.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
a. Wawancara
Wawancara didefinisikan sebagai diskusi antara dua orang
atau lebih dengan tujuan tertentu (Sarosa, 2012: 45). Wawancara
adalah salah satu alat yang paling banyak digunakan untuk
mengumpulkan data penelitian kualitatif. Wawancara
memungkinkan peneliti mengumpulkan data yang beragam dari
para responden dalam berbagai situasi dan konteks.
Dalam wawancara peneliti dapat mengajukan pertanyaan
mengenai fakta, kepercayaan, perspektif seseorang, perasaan,
perilaku, standar normatif, dan alasan seseorang melakukan
14
kepala sekolah, guru, pegawai, dan murid SMP Alternatif Qaryah
Thayyibah.
b. Observasi
Observasi adalah suatu kegiatan pengamatan (Arikunto,
1998: 234). Observasi bisa diartikan sebagai pengamatan dan
pencatatan secara sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki
dalam arti luas, observasi tidak hanya sebatas pada pengamatan
yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung,
pengamatan yang tidak langsung melalui kuesioner dan tes.
Konsep-konsep penting dalam observasi antara lain:
1. Dimensi Situasi Sosial
Pada setiap tiap situasi sosial dapat diidentifikasi
adanya tempat, pelaku, dan aktivitas. Yang diamati oleh
peneliti adalah tempat, pelaku yang terlibat, aktivitas
pelaku, objek atau benda fisik yang ada, peristiwa atau
rentetan aktivitas, waktu, tujuan yang hendak dicapai
para pelaku, dan perasaan yang dirasakan atau
15
2. Memperoleh Akses Masuk
Akses mendalam dan luas terhadap komunitas yang
diteliti harus didapatkan peneliti.
3. Diterima oleh Komunitas Partisipan
Dengan berjalannya waktu dan kehadiran serta
keterlibatan peneliti dalam komunitas maka anggota
komunitas akan lebih menerimanya sebagai bagian dari
mereka.
4. Asas Timbal Balik
Dalam melakukan penelitian, para partisipan akan
menyisihkan waktu dan tenaga untuk menjadi
narasumber. Kesediaan peneliti untuk menjadi
konsultan atau menyelesaikan masalah di komunitas
bisa menjadi balasan.
5. Informan Kunci
Leedy dan Ormrod (dalam Sarosa, 2012: 59) informan
kunci adalah partisipan yang karena kedudukannya
dalam komunitas memiliki pengetahuan khusus
mengenai orang lain, proses, maupun peristiwa secara
16
6. Jangka Waktu Studi Lapangan
Peneliti dapat mengakhiri studi lapangan ketika telah
mendapatkan pemahaman terhadap situasi yang diteliti
dan tidak ada lagi temuan baru.
7. Peralatan
Peneliti dapat menggunakan perekam suara, perekam
video, kamera, dan alat dokumentasi lain.
8. Catatan Lapangan
Catatan lapangan merupakan sumber data yang
berharga. Catatan berupa komentar dari peneliti
mengenai apa yang diamati.
c. Dokumentasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dokumentasi
adalah pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan
informasi di bidang pengetahuan. Pemberian atau pengumpulan
bukti dan keterangan (seperti gambar, kutipan, potongan koran, dan
bahan referensi lain).
Dokumen yang digunakan meliputi denah lokasi sekolah,
17
ketika penelitian berlangsung, RPP, dokumen sekolah, dan visi
misi sekolah. Dokumen digunakan peneliti untuk memperkuat dan
melengkapi berbagai macam informasi yang ditemukan selama
proses penelitian dilaksanakan.
a. Analisis Data
Menurut Bogdan dan Briklen (dalam Moleong, 2011 :248)
mendefinisikan analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan
bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya
menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan
menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang
dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang
lain.
Menurut Miles dan Huberman (dalam Emzir, 2011: 129) ada tiga
macam kegiatan dalam analisis data kualitatif, yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data merujuk pada proses pemilihan, pemfokusan,
penyederhanaan, abstraksi, dan transformsian data mentah yang
terjadi dalam catatan-catatan lapangan tertulis. Reduksi data adalah
suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memokuskan,
membuang, dan menyusun data dalam suatu cara dimana
18
2. Model Data
Model data adalah suatu kumpulan informasi tersusun yang
membolehkan pendeskripsian dan pengambilan tindakan. Bentuk
paling sering dari model data kualitatif adalah teks naratif. Teks
naratif adalah tulisan yang berisi rangkaian peristiwa dari waktu ke
waktu yang dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir.
Selain dalam bentuk teks naratif, bentuk lain dari model data
kualitatif adalah matrik, grafik, jaringan kerja, dan bagan.
3. Penarikan atau Verifikasi Kesimpulan
Upaya penarikan kesimpulan dilakukan peneliti secara terus
menerus selama berada di lapangan. Sejak permulaan
pengumpulan data, peneliti mulai mencari arti benda-benda,
mencatat keteraturan pola-pola (dalam catatan teori),
penjelasan-penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab
akibat, dan proposisi.
Kesimpulan diverifikasi selama penelitian berlangsung
dengan cara: memikir ulang selama penulisan, tinjauan ulang
catatan lapangan, tinjauan kembali dan tukar pikiran antarteman
sejawat, dan upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan
suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. Setelah
19
metode analisis deskripstif yaitu memaparkan gambaran mengenai
situasi yang diteliti dalam bentuk uraian naratif.
a. Pengecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan data merupakan upaya agar hasil
penelitian yang disajikan valid dan dapat dipertanggungjawabkan
(Moleong, 2011: 324-332). Untuk menetapkan keabsahan data
diperlukan teknik pemeriksaan yang didasarkan atas sejumlah kriteria
yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability),
kebergantungan (dependability), dan kepastian (comfirmability).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik ketekunan
pengamatan peneliti dan triangulasi.
Ketekunan pengamatan bertujuan untuk menemukan ciri-ciri dan
unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau
isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal- hal
tersebut secara rinci. Teknik ini menuntut agar peneliti mampu
menguraikan secara rinci bagaimana proses penemuan secara tentatif
dan penelaahan secara rinci tersebut dapat dilakukan.
b. Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan
memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk pengecekan atau
20
informasi yang didapat bisa dibuktikan kevalidannya. Hal itu dicapai
dengan:
1) Membandingkan data hasil wawancara dengan hasil
pengamatan.
2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum
dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
3) Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi
penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.
4) Membandingkan keadaan dan pendapat seseorang dengan
berbagai pendapat dan pandangan orang.
5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen
yang berkaitan.
Melalui teknik triangulasi setiap data yang didapatkan akan
dibandingkan dengan data-data lainnya sehingga menjadi suatu data
yang valid dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.
c. Tahap-tahap Penelitian
1. Tahap Pra-lapangan
Tahap pra lapangan adalah tahap di mana ditetapkannya apa
saja yang harus dilakukan sebelum seorang peneliti masuk ke
lapangan obyek studi (Kasiram, 2010: 281). Tahapan yang
21
a) Menyusun proposal penelitian
b) Mengurus perijinan
c) Mencari informasi tentang lokasi
d) Observasi
e) Membuat daftar pertanyaan untuk wawancara
f) Menyiapkan perlengkapan penelitian
g) Mempelajari etika dalam penelitian.
2. Tahap Penelitian Lapangan
Pada tahap penelitian lapangan, peneliti mempersiapkan
dirinya untuk menghadapi lapangan penelitian dengan mamahami
latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan,
berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran sambil mengumpulkan
data yang diperoleh. Selain itu peneliti juga melakukan beberapa
wawancara pada murid, guru, kepala sekolah, atau pegawai di
lokasi dan melakukan dokumentasi.
G. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan penjelasan, pemahaman, dan penelaahan
terhadap pokok-pokok permasalahan yang akan dikaji maka perlu adanya
sistematika penulisan sehingga pembahasan akan lebih sistematis dan
22
Bab I : Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian,
kegunaan penelitian, penegasan istilah, metode penelitian, dan sistematika
penulisan skripsi.
Bab II : Kajian Pustaka
Berisi tentang implementasi pendidikan humanis di SMP Alternatif
Qaryah Thayyibah dalam kajian pustaka.
Bab III : Paparan Data dan Temuan Penelitian
Bab ini berisi tentang kondisi umum SMP Alternatif Qaryah Thayyibah
dan penyajian data tentang implementasi pendidikan humanis di SMP
Alternatif Qaryah Thayyibah.
BAB IV: Pembahasan
Bab ini berisi pembahasan tentang konsep pendidikan humanis di SMP
Alternatif Qaryah Thayyibah, implementasi pendidikan humanis di SMP
Alternatif Qaryah Thayyibah, dan faktor pendukung dan penghambat
pendidikan humanis yang diterapkan.
Bab V : Penutup
23
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Pendidikan Humanis
1. Pengertian Pendidikan Humanis
Menurut George F. Keller (dalam Suwarno, 2006: 20), pendidikan
memiliki arti luas dan sempit. Dalam arti luas pendidikan diartikan
sebagai tindakan atau pengalaman memengaruhi perkembangan jiwa,
watak, ataupun kemauan fisik individu. Dalam arti sempit, pendidikan
adalah suatu proses mentransformasikan pengetahuan, nilai-nilai, dan
keterampilan dari generasi ke generasi yang dilakukan oleh masyarakat
melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, pendidikan
tinggi, atau lembaga-lembaga lain.
Humanisme merupakan kesatuan dari manusia yang wajib
memanusiakan manusia lainnya. Humanisme, sebagaimana halnya
progesivisme merupakan bagian dari fokus perhatian manusia
(human). Memanusiakan manusia dalam pendidikan berarti usaha
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan
alat-alat potensialnya seoptimal mungkin untuk dapat difungsikan
sebagai sarana bagi pemecahan masalah-masalah hidup dan kehidupan,
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya
manusia, dan pengembangan sikap iman dan takwa kepada Allah Swt
24
Menurut Kartini Kartasapoetra (dalam Maslikhah, 2009: 31)
humanis adalah sesuatu yang berhubungan dengan sikap yang
terfokuskan pada kepentingan manusia. Menurut Jusuf Amir Faisal
pendidikan humanisme mendasarkan pada teori Immanuel Kant yang
mengutamakan peranan aktif pikiran yang akan menumbuhkan
kesadaran manusia akan sejarah peradabannya, dengan demikian
memahami gejala-gejala alam, kemudian diterapkan pada peradaban
manusia yang dikenal dengan hukum perkembangan dan perubahan.
Pendidikan dihadapkan pada konsep utama yang merumuskan
pendidikan humaniora sebagai general education yang mengutamakan
pendidikan moral dan agama.
R.A. Kartini, (dalam Danim, 2006: 171) dalam notesnya tanggal 19
April 1903 yang dikirim kepada pemerintah Hindia Belanda antara lain
menulis, pertama, kepandaian merupakan salah satu capaian mulia
dalam hidup, dalam makna aktualitas pribadi untuk berbuat baik dan
luhur. Kedua, kecerdasan otak yang tinggi bukanlah untuk ijazah
melainkan untuk keluhuran budi pekerti.
Manusia sebagai makhluk yang dapat mendidik dan dididik (homo
educabile) pada dimensi ini manusia berpotensi sebagai objek dan
subjek pengembangan diri. Oleh karea itu manusia tidak bisa
berkembang tanpa rangsangan dari luar, seperti pendidikan misalnya.
Maka, pendidikan harus berpijak pada potensi yang ada pada manusia
25
kebebasan memilih, sadar diri, memiliki norma, dan kebudayaan.
Implikasinya sebagai berikut:
a. Pendidikan lebih bersifat menyediakan stimulus agar peserta
didik secara otomatis memberikan respon.
b. Pendidik tidak dapat memaksakan kehendak kepada peserta
didik.
c. Demokratisasi merupakan model pendidikan yang sangat
relevan untuk pengembangan potensi dasar manusia, sekaligus
membantu menanamkan sikap percaya diri dan tanggung
jawab.
d. Proses pendidikan harus selalu mengacu pada sifat-sifat
ketuhanan (Assegaf, 2004: 205).
Sekolah merupakan tempat dimana kepentingan setiap diri dihargai
dan secara sadar diletakkan sebagai bagian integral kepentingan
bersama dan kepentingan nasional. Guru bukanlah orang yang serba
dan paling mengerti dunia anak dan siswa. Guru adalah seseorang yang
mampu mendorong siswa menyadari diri dan kemampuannya sendiri.
2. Guru dalam Pendidikan Humanis
Tenaga pendidik atau guru merupakan pihak yang melaksanakan
pendidikan. Guru tidak hanya dihormati oleh manusia, bahkan Allah
sendiri pun menghormati karena ilmunya. Allah berfirman (QS
26
اوُحَسْفاَف ِسِلاَجَمْلا يِف اوُحاسَفَ ت ْمُكَل َليِق اَذِإ اوُنَمآ َنيِذالا اَهُّ يَأ اَي
اوُنَمآ َنيِذالا ُهاللا ِعَفْرَ ي اوُزُشْناَف اوُزُشْنا َليِق اَذِإَو ْمُكَل ُهاللا ِحَسْفَ ي
َمْعَ ت اَمِب ُهاللاَو ٍتاَجَرَد َمْلِعْلا اوُتوُأ َنيِذالاَو ْمُكْنِم
ريِبَخ َنوُل
(Muhaimun, 2007: 156)
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi lmu pengetahuan beberapa derajad. Dan allah akan mengetahui apa yang akan kamu kerjakan.
Penghormatan manusia berupa sikap, pujian, dan sanjungan
bahkan membalas jasanya dengan materi. Allah akan meninggikan
drajatnya karena guru merupakan sosok manusia berilmu.
Menurut Al-Abrasyi, sebagaimana dikutip Ahmad Tafsir, syarat
dan sifat guru itu antara lain adalah:
a. Guru harus selalu mengetahui karakter murid.
b. Guru harus selalu berusaha meningkatkan keahliannya, baik
dalam bidang yang diajarkannya maupun dalam cara
mengajarkannya.
c. Guru harus mengamalkan ilmunya dan jangan berbuat
berlawanan dengan ilmu yang diajarkannya.
Bagi guru, mengetahui karakter murid sangatlah penting
27
harus ikhlas, sabar, jujur dalam menyampaikan apa yang
diserukannya, dan juga harus mampu mengelola murid dan tegas
dalam bertindak serta meletakkan perkara secara profesional. Guru
juga harus mempelajari psikis anak didik dan bersikap adil kepada
semua siswa.
Guru merupakan pemimpin bagi murid di sekolah. Teori
kepemimpinan humanistik menghendaki setiap individu di beri
kondisi yang bebas, yang memungkinkannya merealisasikan
potensi-potensi internal yang ada dengan tidak melupakan tujuan
komunitas kelompoknya. Likert (dalam Baharuddin, 2011: 185)
berpendapat bahwa pemimpin harus memperhitungkan
harapan-harapan, nilai-nilai, dan keterampilan individual dari mereka yang
terlibat dalam interaksi yang berlangsung.
Dalam kaitannya dengan ini, seorang guru harus melaksanakan
tugasnya sebagai pendidik harus melibatkan peserta didiknya
secara aktif dan dinamis. Guru juga perlu memahami setiap peserta
didik mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing yang
berbeda.
Menurut Hamacheek (dalam Aprilianalistria, 2007: 10),
guru-guru yang efektif adalah guru-guru-guru-guru yang manusiawi. Mereka
mempunyai rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis
28
dengan mudah dan wajar dengan para murid, baik secara
perorangan maupun kelompok.
3. Metode Pendidikan Humanis
Di sini metode tidak hanya diartikan sebagai cara mengajar dalam
proses belajar-mengajar bagi seorang guru, tapi dipandang sebagai
upaya perbaikan komprehensif dari semua elemen pendidikan sehingga
menjadi sebuah iklim yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.
Ada beberapa metode yang tidak mendukung perkembangan
kualitas keberagamaan anak yang biasanya ditemukan di sekolah,
antara lain (Mas’ud, 2002: 198):
a. Guru hanya mengejar standar nilai, sehingga kurang atau tidak
memperhatikan budi pekerti anak.
b. Para pemimpin sekolah lebih berorientasi pada pembangunan
fisik sekolah daripada pembangunan manusia seutuhnya.
c. Pendekatan otoriter, baik pemimpin sekolah maupun guru.
d. Tiada penghargaan bagi anak didik yang berprestasi, bahkan
guru lebih sering menghukum.
e. Komunikasi guru dengan anak didik hanya terjadi di kelas.
f. Kegiatan keagamaan lebih merupakan kegiatan formalitas,
isendental, tidak sistematik, dan tidak berkelanjutan.
g. Kecerdasan anak tidak diimbangi dengan kepekaan sosial dan
29
Dari permasalahan tersebut, guru harus memilih metode sesuai
dengan humanisme yaitu memahami setiap peserta didik memiliki
kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Dan kepandaian peserta
didik tidak hanya dapat diukur dengan nilai bagus saat ulangan
atau tes akan tetapi perlu diperhatikan juga sikap dan tingkah laku.
Pepatah lama berbunyi, “Berilah kail jangan beri ikan” masih
berlaku hingga kini dan mendatang. Pepatah itu sesuai dengan
pepatah Barat, “if you give a man fish you feed him a day, but if
you teach him how to fish you feed him for a life” learning how to
learn, yang selama ini diabaikan dalam pendidikan, harus
digunakan.
Secara teknis guru harus menggunakan metode sebagai berikut:
a. Role Model
Guru menjadi suri tauladan bagi kehidupan sosial akademis
murid, baik di dalam maupun di luar kelas.
b. Kasih sayang
Guru harus menunjukkan sikap kasih sayang, antusiasisme,
dan ikhlas mendengar atau menjawab pertanyaan. Serta
menjauhkan sikap emosional dan foedal, seperti cepat
marah dan tersinggung.
30
Menekankan belajar mandiri, kemampuan membaca, dan
berpikir kritis. Menerapkan proses pembelajaran yang
dialogis dan interaktif.
d. Promotor of learning
Membimbing, menumbuhkan kreatifitas, interaktif, dan
komunikatif dengan murid. Hal tersebut dapat dilakukan
dengan feedback konstruktif dari murid, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Berikut beberapa model pembelajaran humanistik:
a. Student Centered Learning
Konsep pembelajaran ini diajukan oleh Carl Rogers
yang intinya:
1) Kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya
bisa menfasilitasi.
2) Seseorang akan belajar secara signifikan hanya pada
hal-hal yang memperkuat dirinya.
3) Manusia tidak bisa belajar jika berada dibawah
tekanan. Pendidikan akan membelajarkan siswa
secara signifikan jika tidak ada tekanan kepada
siswa, dan perbedaan yang muncul difasilitasi.
b. Humanizing of The Classroom
Pendidikan model ini bertumpu pada tiga hal yakni
31
sedang dan akan terus berubah, mengenali konsep dan
identitas diri, dan menyatupadukan kesadaran hati dan
pikiran. Perubahan yang dilakukan tidak hanya pada
substansi materi saja, tetapi yang lebih penting pada
aspek metodologis yang dipandang sangat manusiawi.
c. Active Learning
Active Learning dicetuskan oleh M. L. Silberman.
Asumsi dasar yang dibangun dari model pembelajaran
ini adalah bahwa belajar bukan merupakan konsekuensi
otomatis dari penyampaian informasi kepada siswa.
Dalam kaitannya dengan strategi pembelajaran pada
pendidikan humanis, maka lebih menekankan pada
active learning, yang memiliki semboyan sebagai
berikut:
1) What I hear, I forget. Apa yang saya dengar
mudah saya lupakan, karena guru berbicara
100-200 kata permenit, sedangkan murid
mendengar 50-100 kata permenit, lama
kelamaan semakin berkurang.
2) What I hear and I see, I remember a little.
Apa yang saya dengar dan lihat akan saya
ingat sedikit atau sebentar, lama-kelamaan
32
3) What I hear, see, and askquestion about or
discuss with someone else, I begin to
understand. Apa yang saya dengar, lihat, dan
tanyakan atau diskusikan dengan orang atau
teman lain, maka saya mulai mengerti.
4) What I hear, see, discuss, and do, I recuire
knowledge and skill. Apa yang saya dengar,
lihat, diskusikan, dan laksanakan, maka saya
memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
5) When I teach to another, I master Ketika saya
bisa mengajari orang atau teman lain, berarti
saya menguasai (Muhaimin, 2007:162).
Dengan demikian pelajaran aktif setidak-tidaknya
sampai pada tingkat yang ketiga, dan diusahakan untuk
mencapai tingkat terakhir. Untuk mencapai pada
tingkat tersebut maka pembelajaran harus berpusat pada
peserta didik agar kreativitasnya dapat berkembang,
menciptakan suasana pembelajaran yang
menyenangkan, dan menyediakan pengalaman belajar
yang beragam serta belajar melalui berbuat.
33
Quantum learning menggabungkan sugestologi,
teknik pemercepatan belajar dan neurolingusitik dengan
keyakinan, dan metode tertentu (De Porter dan
Hernacki, 2004: 16). Quantum Learning
mengasumsikan jika siswa mampu menggunakan
potensi nalar dan emosinya secara tepat akan membuat
loncatan prestasi yang tidak bisa terduga sebelumnya.
Konsep dasar dari Quantum Learning adalah belajar itu
harus mengasyikkan dan berlangsung secara gembira
sehingga akan lebih mudah informasi baru masuk dan
terekam dengan baik.
e. Quantum Teaching
Quantum Teaching berusaha mengubah mengubah
suasana belajar yang monoton dan membosankan
menjadi belajar yang meriah dan gembira dengan
memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi siswa
menjadi satu kesatuan kekuatan yang integral. Model
pembelajaran quantum teaching bersandar pada asas
utama bawalah dunia siswa ke dunia guru, dan
antarkanlah dunia guru ke dunia siswa. Pembelajaran ini
merupakan pembelajaran yang melibatkan semua aspek
34
di samping pengetahuan, sikap dan keyakinan
sebelumnya serta persepsi masa mendatang.
f. The Accelerated Learning
Penggagas model pembelajaran ini adalah Dave
Meir. Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa
pembelajaran itu berlangsung secara cepat,
menyenangkan, dan memuaskan. Dalam mengelola
kelas menggunakan pendekatan Somatic, Auditory,
Visual dan Intellectual (SAVI). Somatic berarti learning
by moving and doing (belajar dengan bergerak dan
berbuat). Auditory berarti learning by talking and
hearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan).
Visual berarti learning by observing and picturing
(belajar dengan mengamati dan menggambarkan).
Intellectual maksudnya learning by problem solving and
reflecting (belajar dengan pemecahan masalah dan
melakukan refleksi).
Adapun proses belajar yang umum dilalui adalah:
1) Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
2) Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak
belajar yang bersifat jelas, jujur, dan positif.
3) Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan
35
4) Mendorong siswa untuk peka berfikir kritis, memaknai
proses pembelajaran secara mandiri.
5) Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat,
memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang
diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang
ditunjukkan. Guru mencoba memahami jalan pikir
siswa, mendorong siswa bertanggung jawab atas
perbuatannya.
6) Memberikan kesempatan siswa untuk maju sesuai
dengan kecepatannya.
7) Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan
perolehan prestasi siswa. Penilaian belajar yang
dilakukan adalah penilaian berbasis proses. Guru punya
kesempatan untuk menilai aktivitas siswa setiap kali
bertatap muka dengan siswanya (Chatib, 2009: 159).
Selain itu juga bisa memakai penilaian proyek, penilaian
produk, penilaian portofolio dan penilaian diri (self
assessment).
Selain metode-metode tersebut, pembelajaran dapat dilakukan
dengan E-Learning, yaitu sistem pembelajaran secara elektronik,
menggunakan media elektronik, internet, komputer, dan file
36
Keuntungan penggunaan E-Learning:
a. Real-time dan on-demands online information
b. Mobility acces, fleksibel dan praktis
c. Menjangkau wilayah geografis yang luas
d. User friendly, bebas dari kerepotan dan keruwetan
e. Benefit in cost, mengurangi (menghemat) biaya pendidikan
secara keseluruhan
f. Mengoptimalkan kualitas belajar
g. Dapat melengkapi aktivitas belajar konvensional
h. Melatih belajar lebih mandiri dan berkembang dalam ilmu dan
pengetahuan
i. Sumber ilmu dan informasi yang tidak terbatas, sehingga
kuncinya bukan mendapatkan kesemuanya namun filtering atau
penyaringan yang kita butuhkan saja (Daryanto dan Tasrial,
2012: 34) .
Di zaman modern ini teknologi semakin berkembang pesat, jadi
teknologi yang semakin canggih dapat dimanfaatkan dalam proses
pembelajaran. Dan dengan mengakses internet dapat menambah
wawasan dari berbagai sumber, cara pemikiran yang semakin luas,
dan membuat pembelajaran menjadi tidak membosankan.
37
Aliran humanistik membantu siswa untuk mengembangkan dirinya
sesuai dengan potensi yang dimiliki. Siswa merupakan pelaku utama
(subyek) dalam proses belajar. Memberi bimbingan yang tidak
mengekang kepada siswa dalam kegiatan belajarnya akan
memudahkan dalam penanaman nilai-nilai yang akan memberinya
informasi tentang hal yang positif dan hal yang negatif.
Kolb (dalam Uno, 2008: 15) dalam aliran humanistik siswa
mengalami 4 siklus belajar. Pertama, seorang siswa hanya mampu
sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mempunyai
kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti
bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu.
Tahap kedua, siswa tersebut lambat laun mampu mengadakan
observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan
dan memahaminya. Inilah yang terjadi pada tahap pengamatan aktif
dan reflektif.
Pada tahap ketiga, siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi
atau teori tentang suatu hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini
siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum
dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda,
tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.
Pada tahap akhir, siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu
aturan umum ke situasi yang baru. Dalam pelajaran matematika
38
ia juga mampu memakai rumus tersebut untuk memecahkan suatu
masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Siklus tersebut terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung
di luar kesadaran siswa. Meskipun dalam teorinya mampu membuat
garis tegas antara tahap satu dengan tahap lainnya, namun dalam
praktik peralihan dari satu tahap ke tahap lainnya itu seringkali terjadi
begitu saja.
Menurut Rogers ada prinsip pendidikan dan pembelajaran yang
harus diperhatikan guru yaitu:
a. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk
belajar.
b. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi siswa.
c. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan
bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
Siswa berperan aktif dalam kegiatan pendidikan. Mereka memiliki
potensi yang berbeda-beda, sehingga wajar jika mereka memiliki
kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda pula.
Allah berfirman dalam surah an-Nahl, 16: 53, yaitu
اَمَو
Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatannya, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.Akal pikiran manusia merupakan salah satu nikmat dari Allah.
39
mungkin. Salah satunya dengan belajar. Jadi setiap orang memiliki
akal pikiran yang berbeda-beja, sehingga potensi setiap orang juga
berbeda pula. Sama halnya dengan siswa yang memiliki bakat yang
berbeda dan seharusnya bakat tersebut di asah bukan malah terkekang
dengan adanya tuntutan-tuntutan dalam pembelajaran di sekolah.
B. Teori-teori Pendidikan Humanis
Teori-teori pendidikan humanis lebih mengutamakan kebebasan
individu memahami materi pembelajaran untuk memperoleh informasi
baru dengan cara belajarnya sendiri selama proses pembelajaran. Dalam
teori, peserta didik berperan sebagai subjek atau sebagaianak didik. Peran
guru dalam pembelajaran humanis adalah menjadi fasilitator bagi para
siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna
belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar
kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan
pembelajaran.
Beberapa teori pendidikan humanis menurut para tokoh, antara
lain:
1. Abraham Maslow
40
seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hierarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).
Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut: a. Kebutuhan fisiologis / dasar: seperti makan dan minum.
Yaitu kebutuhan paling dasar.
41
c. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi: bagaimana rasanya dianggap di komunitas sosialnya.
d. Kebutuhan untuk dihargai: rasa bagaimana dibutuhkan untuk kepercayaan dan tanggung jawab dari orang lain. e. Kebutuhan untuk aktualisasi diri: untuk membuktikan
dan menunjukkan dirinya terhadap orang lain.
Hal tersebut jika dikaitkan dalam dunia pendidikan, maka kekerasan di lingkungan sekolah tidak boleh dilakukan. Guru haruslah dapat mengerti setiap karakter anak yang berbeda-beda, jadi wajar jika setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Dengan demikian anak akan belajar dengan nyaman.
42
pengalaman memerintah diri sendiri, ditentukan sendiri bukan orang lain ( Maslow, 2004: 77).
Dengan demikian siswalah yang aktif dalam proses pembelajaran ditujukan agar siswa dapat mengalami berbagai pengalaman. Dari pengalaman yang dialami oleh siswa tersebut munculah masalah yang akan dipecahkan oleh dirinya sendiri. Disini guru hanya sebagai pendamping dalam proses pembelajaran.
2. John Dewey
Menurut John Dewey, Pendidikan berarti
perkembangan, perkembangan sejak lahir hingga menjelang
kematian. Jadi, pendidikan itu juga berarti sebagai kehidupan.
Bagi Dewey, Education is growth, development, life. Ini berarti
bahwa proses pendidikan itu tidak mempunyai tujuan di luar
dirinya, tetapi terdapat dalam pendidikan itu sendiri. Proses
pendidikan juga bersifat kontinu, merupakan reorganisasi,
rekonstruksi, dan pengubahan pengalaman hidup. Jadi,
pendidikan itu merupakan organisasi pengalaman hidup,
pembentukan kembali pengalaman hidup, dan juga perubahan
pengalaman hidup sendiri.
Dalam penyusunan bahan ajar menurut Dewey
43
a. Bahan ajaran hendaknya konkret, dipilih yang
betul-betul berguna dan dibutuhkan, dipersiapakan secara
sistematis dan mendetail
b. Pengetahuan yang telah diperoleh sebagai hasil belajar,
hendaknya ditempatkan dalam kedudukan yang berarti,
yang memungkinkan dilaksanakannya kegiatan baru,
dan kegiatan yang lebih menyeluruh.
Bahan pelajaran bagi anak tidak bisa semata-mata diambil
dari buku pelajaran, yang diklasifikasikan dalam mata-mata
pelajaran yang terpisah. Bahan pelajaran harus berisikan
kemungkinan-kemungkinan, harus mendorong anak untuk
bergiat dan berbuat. Bahan pelajaran harus memberikan
rangsangan pada anak-anak untuk bereksperimen. Demikianlah
dengan bahan pelajaran ini, kita mengharapkan anak-anak yang
aktif, anak-anak yang bekerja, anak-anak yang bereksperimen.
Bahan pelajaran tidak diberikan dalam disiplin-disiplin ilmu
yang ketat, tetapi merupakan kegiatan yang berkenaan dengan
sesuatu masalah (problem).
Beberapa ide Dewey (dalam Surna dan Pandeirot, 2014:
32) yang memberi kontribusi penting bagi pendidikan yaitu :
a. Anak sebagai pribadi aktif dalam belajar (child as an
active learner). Sebelumnya berkembang pandangan
44
duduk dan mendengarkan penjelasan dari guru), Dewey
berpendapat secara tegas bahwa belajar yang terbaik
adalah “learn best by doing”.
b. Dalam melaksanakan pengajaran, anak harus dipandang
sebagai pribadi utuh (whole child) dan menekankan
makna penyesuaian anak terhadap lingkungannya.
Pelaksanaan pembelajaran haruslah memberi penekanan
pada upaya guru untuk mendorong bagaimana belajar
untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia luar di luar
sekolah, bukannya memberikan topik-topik sempit
untuk dikuasai anak.
c. Dewey sangat percaya bahwa semua anak berhak
mendapat keahlian dan keterampilan yang semestinya.
Peranan guru bukan hanya berhubungan dengan mata
pelajaran, melainkan dia harus menempatkan dirinya dalam
seluruh interaksinya dengan kebutuhan, kemampuan, dan
kegiatan siswa. Guru juga harus dapat memilih bahan-bahan
yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan.
Jadi disini guru berupaya mendorong anak untuk belajar
bagaimana menjadi pribadi yang mampu memecahkan
masalahnya sendiri. Dengan demikian anaklah yang berperan
aktif dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, semua anak
45
3. Paulo Friere
Sebagian besar sekolah (di Indonesia khususnya) hanya berfokus pada target kuantitatif yang bisa diukur, seperti misalnya harus lulus mata pelajaran dengan nilai tertentu. Padahal, model pendidikan seperti itu jelas menimbulkan efek yang buruk bagi peserta didik. Menurut Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas model pendidikan yang semacam itu ia sebut sebagai banking education alias pendidikan gaya bank.
“Pendidikan karenanya menjadi sebuah kegiatan menabung, di mana para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya. Yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi guru menyampaikan
pernyataan-pernyataan dan “mengisi tabungan” yang diterima, dihafal dan diulangi
dengan patuh oleh para murid (Friere, 2008: 52).
Dalam pendidikan gaya bank, peserta didik hanya dijejali dengan ilmu secara satu arah dengan tujuan mendapatkan nilai-nilai kuantitatif yang dituju. Praktek pendidikan hanya dipahami sebatas sarana pewarisan ilmu. Pendidikan tidak dipahami sebagai transformasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang lebih menekankan pada proses pendewasaan pemikiran dan mengartikan belajar sebagai proses memaknai dan mengkritisi realitas sosial yang ada di lingkungan sekitar. Bukan hanya mencari ijazah dengan nilai yang tinggi maupun sebagai sarana meningkatkan status sosial.
46
penuh hanya mungkin apabila manusia berintegrasi dengan dunia. Dalam kedudukannya sebagai subjek, manusia senantiasa menghadapi berbagai ancaman dan tekanan, namun ia tetap mampu terus menapaki dan menciptakan sejarah berkat refleksi kritisnya (Murtiningsih, 2006: 55).
Pendidikan dengan pendekatan kemanusiaan sering diidentikkan dengan pembebasan, yakni pembebasan dari hal-hal yang tidak manusiawi. Jadi, untuk mewujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia dibutuhkan suatu pendidikan yang membebaskan dari unsur dehumanisasi. Dehumanisasi tersebut bukan hanya menandai seseorang yang kemanusiannya telah dirampas, melainkan (dalam cara yang berlainan) menandai pihak yang telah merampas kemanusiaan itu, dan merupakan pembengkokkan cita-cita untuk menjadi manusia yang lebih utuh.
47
keduanya sama-sama dalam suasana dialogis membuka cakrawala realita dunia.
4. Ki Hajar Dewantara
Sistem pendidikan disesuaikan dengan kondisi anak-anak,
agar kelak mereka menjadi manusia-manusia yang mandiri,
cerdas, cermat, serta menjadi pribadi yang handal secara lahir
dan batin ( Musyafa, 2015: 260). Tugas seorang tenaga
pengajar tidak hanya sebatas memberikan materi pelajaran di
sekolah. Tapi mengabdikan seluruh waktu yang dimilikinya
untuk mendidik dan mendampingi anak didiknya setiap saat,
dimanapun, kapan pun, dan dalam kondisi kapan pun.
Selain itu tenaga pendidik juga harus memiliki keikhlasan
untuk menjalankan perannya sebagai orang tua yang dapat
membuat anak-anaknya merasa senang, tenang, dan nyaman.
Sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi
manusia-manusia yang bermartabat dan berkarakter.
Melalui Tamansiswa, Ki Hajar Dewantara mewujudkan
gagasannya di bidang pendidikan. Menurutnya pendidikan
senyatanya adalah jalan menuju kemerdekaan lahir dan batin.
Pendidikan itu yang benar adalah mengubah pendidikan
“berdaya saing” menjadi pendidikan “mandiri dan
berkepribadian”.
48
SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga terletak di
Jl. R. Mas Said 12, Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga.
SMP ini mendidik muridnya bersama masyarakat yang selalu bergerak
untuk melakukan kerja-kerja pendidikan secara dinamis sesuai dengan
hakikat pendidikan yang sepanjang hayat.
Sekolah alternatif bertujuan mengembangkan bakat atau
keterampilan vokasional yang berfungsi bagi kehidupan lulusan sesuai
dengan potensi dasarnya (Danim, 2006: 139). Dengan format dasar ini,
kehadiran sekolah alternatif akan menggeser paradigma kinerja sekolah
dari kembali ke barak utamanya (the back to basics) menuju barak masa
depan (the forward to future basics), dengan tiga titik tekan utama yaitu,
bagaimana berfikir (how to think), bagaimana belajar (how to learn), dan
bagaimana berkreasi (how to create), bukan semata atas dasar apa yang
boleh dan tidak boleh mereka lakukan.
Pendidikan alternatif diorganisasikan dengan pola pendidikan yang
kurikulumnya bersifat desentralistik, di mana anak didik dapat memilih
materi pembelajaran sesuai dengan minatnya atau keberbakatannya,
mengikuti kebutuhan anak dan lingkungan, biaya murah, sederhana, luwes
birokrasinya, dan menempatkan anak sebagai subjek (Danim, 2006: 139).
Dan metode pendidikannya pun berorientasi pada proses pendidikan yang
dilakukan secara dialogis serta memberi kesempatan yang sama antara