• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN HUMANIS DI SMP ALTERNATIF QARYAH THAYYIBAH SALATIGA TAHUN 2016 SKRIPSI Diajukan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "IMPLEMENTASI PENDIDIKAN HUMANIS DI SMP ALTERNATIF QARYAH THAYYIBAH SALATIGA TAHUN 2016 SKRIPSI Diajukan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN HUMANIS

DI SMP ALTERNATIF QARYAH THAYYIBAH

SALATIGA TAHUN 2016

SKRIPSI

Diajukan Guna Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh

HIDAYATUL MAGHFIROH

NIM: 111-12-030

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SALATIGA

2016

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

MOTTO

َنيِمَلاَعْلِل ًةَمْحَر الَِّإ َكاَنْلَسْرَأ اَمَو

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)

rahmat bagi semesta alam."

(QS. 21:107)

PERSEMBAHAN

Alhamdulillahi rabbilalamin, dengan izin Allah swt skripsi ini telah

selesai.

Skripsi ini penulis persembahkan kepada Bapak dan Ibu tercinta (Bapak Ali

Suwandi dan Ibu Rohmatun), kakak-kakak, dan adikku yang senantiasa

(7)

vii

KATA PENGANTAR ميحرلا نمحرلا الله مسب

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan

yang Maha Rahman dan Rahim yang dengan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya

skripsi dengan judul Implementasi Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah

Thayyibah tahun 2016 bisa diselesaikan.

Sholawat dan salam penulis haturkan kepada sang teladan utama, nabi

Muhammad shalallahualaihi wassalam, juga kepada para shahabat, keluarga dan

orang yang istiqomah mengikuti petunjuk beliau.

Penulisan skripsi ini tidak akan selesai tanpa motivasi, dukungan dan

bantuan dari berbagai pihak terkait. Sungguh menjadi kebahagiaan yang tiada tara

penulis rasakan setelah skripsi ini selesai. Oleh karena itu penulis ucapkan

terimakasih setulusnya kepada :

1. Dr. Rahmat Haryadi, M.Pd. selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri

(IAIN) Salatiga.

2. Bpk. Suwardi, MPd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

3. Ibu Ruhayati, M.Pdi. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.

4. Dr. Miftahuddin, M.Ag. selaku Pembimbing yang telah mengarahkan,

membimbing, memberikan petunjuk, dan meluangkan waktunya dalam

(8)

viii

5. Bapak dan Ibu dosen IAIN Salatiga yang telah memberikan ilmu, bagian

akademik dan staf perpustakaan yang telah memberikan layanan serta

bantuan kepada penulis.

6. Bapak Ahmad Bahruddin selaku kepala sekolah SMP Alternatif Qaryah

Thayyibah dan seluruh guru, terutama Ibu Heni, Ibu Zulfa, dan Bapak

Ahmad yang meluangkan waktu serta memberikan bantuan kepada penulis

untuk penelitian.

7. Siswa SMP Alternatif Qaryah Thayyibah, yang telah meluangkan waktu

serta memberikan bantuan kepada penulis untuk penelitian.

8. Teman-teman senasib seperjuangan PAI 2012, khususnya One Emi

Nasithoh dan Putri Rifa Anggraeni.Terima kasih atas dukungan dan

bantuannya.

9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih

atas bantuan dan dorongannya.

Atas segala hal tersebut, penulis hanya bisa berdoa, semoga Allah Azza wa

Jalla mencatatnya sebagai amal sholeh yang akan mendapatkan balasan yang

berlipat ganda. Aamiin.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, masih banyak

kekurangan baik dalam isi maupun metodologi. Untuk itu saran dan kritik yang

membangun penulis harapkan dari berbagai pihak guna kebaikan penulisan di

masa yang akan datang. Semoga skripsi bermanfaat untuk penulis pada khususnya

(9)

ix

Salatiga, 01 Juli 2016

Penulis,

(10)

x

ABSTRAK

Maghfiroh, Hidayatul. 2016. Implementasi Pendidikan Humanis di SMP

Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga Tahun 2016. Skripsi. Jurusan

Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. Miftahuddin, M.Ag.

Kata Kunci: Implementasi, Pendidikan Humanis.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penerapan pendidikan humanis di

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Sekolah tersebut mampu menerapkan pendidikan

humanis dalam pelaksanaan pembelajarannya. Pertanyaan utama yang akan dijawab

peneliti adalah (1) Apa konsep pendidikan humanis di SMP Alternatif Qaryah

Thayyibah? (2) Bagaimana implementasi pendidikan humanis di SMP Alternatif Qaryah

Thayyibah? (3) Apa faktor pendukung dan pendidikan humanis di SMP Alternatif Qaryah

Thayyibah?

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti mendapatkan data

menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tahap-tahap penelitian

meliputi pra lapangan, pekerjaan lapangan, dan analisis data. Analisis data pada

penelitian ini menggunakanreduksi data.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) konsep pendidikan humanis di SMP

Alternatif Qaryah Thayyibah adalah pendidikan yang membebaskan siswa untuk belajar

sesuai dengan keinginan dan tanpa ada kekerasan. (2) implemenatsi pendidikan humanis

di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah meliputi (a) metode pembelajaran pendidikan

humanis adalah siswa aktif belajar sesuai dengan keinginannya. (b) Siswa merasa bebas,

senang, dan nyaman. (c) guru seperti teman, sabar, dan baik. (d) Kurikulum disesuaikan

dengan kebutuhan setiap siswa (e) sarana dan prasarana SMP Alternatif Qaryah

Thayyibah (3) (a) faktor pendukung meliputi Siswa tidak tertekan dengan aturan-aturan

yang tidak mereka sukai, siswa bebas dalam proses pembelajaran, siswa betah di

sekolahan tidak cepat-cepat ingin pulang, siswa belajar sesuai keinginannya, dan siswa

senang dan nyaman di sekolah. (b) faktor penghambat adalah siswa yang dalam keadaan

(11)

xi A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Kegunaan Penelitian ... 5

E. Penegasan Istilah ... 6

F. Metode Penelitian ... 11

G. Sistematika Penulisan ... 21

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pendidikan Humanis ... 23

1. Pengertian Pendidikan Humanis ... 23

2. Guru dalam Pendidikan Humanis ... 25

3. Metode Pendidikan Humanis ... 28

4. Siswa dalam Pendidikan Humanis ... 36

B. Teori-teori Pendidikan Humanis ... 39

1. Abraham Maslow ... 40

2. John Dewey ... 42

(12)

xii

4. Ki Hajar Dewantara ... 47

C. Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah ... 48

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Gambaran Umum SMP Alternatif Qaryah Thayyibah ... 50

1. Sejarah ... 50

2. Letak Geografis ... 52

3. Prestasi ... 53

B. Konsep Filosofis ... 54

C. Implementasi Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Tahun 2016 ... 57

1. Metode Pembelajaran ... 57

2. Siswa ... 63

3. Guru ... 64

4. Kurikulum ... 67

5. Sarana dan prasarana ... 68

D. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Tahun 2016 ... 70

1. Faktor Pendukung ... 70

2.Faktor Penghambat ... 71

BAB IV PEMBAHASAN A. Konsep Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Tahun 2016 ... 73

B. Implementasi Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Tahun 2016 ... 77

1. Metode Pembelajaran ... 77

2. Siswa ... 79

3. Guru ... 80

4. Kurikulum ... 81

(13)

xiii

C. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan Humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Tahun 2016 ... 83 1. Faktor Pendukung ... 83 2. Faktor penghambat ... 84

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 86 B. Saran ... 87

(14)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Sekolah merupakan tempat menuntut ilmu. Di sekolah kita dapat

memperoleh ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan kita. Sekolah

merupakan bagian dari pendidikan bukan pendidikan bagian dari sekolah,

karena pendidikan tidak hanya dapat kita peroleh disekolahan. Kita dapat

memperoleh pendidikan di keluarga atau lingkungan masyarakat. Akan

tetapi masyarakat cenderung memasukkan anaknya di sekolah untuk

memperoleh pendidikan.

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedogogy, yang

mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar

seorang pelayan. Dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan dengan

Educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang yang berada di dalam.

Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan To Educate yang berarti

memperbaiki moral dan melatih intelektual (Suwarno, 2006: 19). Dalam

UU No. 20/2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik

secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat,

(15)

2

Walau demikian, pendidikan berjalan terus tanpa menunggu keseragaman

arti.

Kegiatan pembelajaran di sekolah memiliki berbagai macam cara

yang digunakan. Cara tersebut disesuaikan dengan mata pelajaran dan

siswa yang diberi pembelajaran. Selain hal tersebut, ada juga tata tertib

yang berlaku di setiap sekolah. Tata tertib tersebut memiliki konsekuensi

tersendiri. Murid yang melanggar akan terkena hukuman yang telah

berlaku di sekolah atau terkena marah oleh guru yang bersangkutan

dengan murid. Akan tetapi, beberapa guru menggunakan hukuman yang

kurang sesuai dengan siswa.

Dengan adanya hukuman bagi yang melanggar aturan merupakan

cara untuk mencegah adanya hal-hal yang tidak baik dilakukan oleh siswa.

Murid akan mendapat hukuman apabila terlambat, tidak mengerjakan

pekerjaan rumah, memakai seragam tidak lengkap, dan lain-lain. Beberapa

hukuman yang diterima murid, ada hukuman yang sifanya tidak mendidik

dan malah membuat murid takut untuk sekolah. Apalagi hukuman fisik

yang kadang dilakukan oleh beberapa guru. Hal tersebut malah

mengajarkan siswa tentang kekerasan.

Ibn Khaldun berpendapat bahwa hukum yang keras dalam

pengajaran, berbahaya pada murid, khususnya bagi anak-anak kecil.

Karena itu termasuk tindakan yang dapat menyebabkan timbulnya

kebiasaan buruk. Kekasaran dan kekerasan dalam pengajaran terhadap

(16)

3

jiwa dan mencegah perkembangan pribadi anak yang bersangkutan.

Kekerasan membuka jalan ke arah kemalasan dan keserongan, penipuan,

serta kelicikan. Misalnya, tindak-tanduk dan ucapannya berbeda dengan

yang ada dalam pikiran, karena takut mendapatkan perlakuan tirani bila

mereka mengucapkan yang sebenarnya. Kecenderungan-kecenderungan

ini kemudian menjadi kebiasaan dan watak yang berurat dan berakar di

dalam jiwa (Kosim, 2012: 102). Hal ini pada gilirannya akan merusak sifat

kemanusiaan yang seyogianya dipupuk melalui hubungan sosial dalam

pergaulan. Orang-orang yang seperti itu merasa dirinya kecil dan tidak

mau berusaha.

Meskipun demikian bukan berarti hukuman tidak diperbolehkan

dalam pendidikan, akan tetapi hukuman tersebut haruslah bersifat edukatif.

Hukuman tersebut hendaknya diterapkan oleh guru dalam keadaan

terpaksa karena tidak ada jalan lain (sesudah semua cara yang

lemah-lembut tidak berhasil). Pendidikan yang seperti itulah yang mencerminkan

adanya pendidikan kemanusiaan.

Pendidikan yang mencerminkan kemanusiaan tersebut adalah

pendidikan yang humanis. Dalam pendidikan humanis guru tidak sekedar

melakukan transfer of knowledge atau transfer of values kepada murid,

akan tetapi mengharuskan seorang guru untuk mempersiapkan murid

dengan kasih sayangnya sebagai individu yang saleh dalam arti memiliki

tanggung jawab sosial, religius, dan lingkungan hidup. Dengan demikian,

(17)

4

bisa menjadi insan kamil, yakni sempurna dalam kacamata peradaban

manusia dan sempurna dalam standar agama (Mas’ud, 2002: 196).

Dalam pendidikan yang humanis, peserta didik dipandang sebagai

makhluk unik yang memiliki berbagai macam potensi dan kecerdasan

yang berbeda-beda. Dengan demikian, maka akan menciptakan

pembelajaran yang demokratis, mengakui hak anak untuk melakukan

tindakan belajar sesuai karakteristiknya. Setiap anak mempunyai

kelemahan di samping kekuatan yang dimilikinya, keberanian di samping

rasa takutnya, bisa marah, kecewa, dan gembira. Hal tersebutlah yang

membuat karakteristik setiap anak berbeda. Jadi wajar jika ada anak pintar

dan bodoh, berbakat dan tidak berbakat, introvert dan ekstrovert.

Keragaman inilah yang membuat munculnya berbagai macam kecerdasan

pada anak yang dapat mempengaruhi cara pembelajaran yang digunakan

oleh seorang guru. Tidak semua murid dapat memahami pelajaran yang

disampaikan oleh seorang guru. Ketika ulangan, wajar jika ada murid yang

mendapat nilai bagus, cukup bagus, atau malah mendapat nilai jelek.

Walau dipaksa atau diancam jika murid tersebut belum paham maka tentu

tidak bisa mengerjakan soal.

Tidak semua pendidikan di sekolah menerapkan pendidikan yang

humanis. Salah satu sekolah yang menerapkan pendidikan humanis adalah

Alternatif Qaryah Thayyibah. Sekolah tersebut sejajar dengan kampung

Isy Les Moulineauk di Prancis, Kecamatan Mitaka di Tokyo, dan lima

(18)

5

(Bahruddin, 2007: 5). Oleh karena itu, penulis mengambil judul

“Implementasi Pendidikan Humanis Di SMP Alternatif Qaryah

Thayyibah Salatiga Tahun 2016”. B. Fokus Penelitian

Kaitannya dengan judul penelitian diatas, maka ada beberapa hal

yang akan diungkap oleh penulis, yaitu:

1. Apa konsep pendidikan humanis di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah

Salatiga Tahun 2016?

2. Bagaimana implementasi pendidikan humanis di SMP Alternatif

Qaryah Thayyibah Salatiga Tahun 2016?

3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat pendidikan humanis di

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga Tahun 2016?

C. Tujuan Penelitian

1. Mendiskripsikan konsep pendidikan humanis di SMP Alternatif

Qaryah Thayyibah Tahun 2016.

2. Mengetahui implementasi pendidikan humanis di SMP Alternatif

Qaryah Thayyibah Salatiga Tahun 2016.

3. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat pendidikan humanis di

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga Tahun 2016.

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan secara praktik dan

(19)

6

1. Praktik

a. Bagi lembaga pendidikan dapat dijadikan masukan dalam upaya

meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di sekolah.

b. Bagi para pendidik dapat menjadi bahan masukan dalam

meningkatkan kualitas proses pembelajaran selanjutnya untuk

meningkatkan prestasi belajar siswa.

c. Bagi siswa sebagai pengalaman yang baru dalam proses

pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi

belajar siswa.

d. Bagi penulis dapat mengembangkan kemampuan meneliti suatu

permasalahan dan menemukan solusinya.

2. Teoritik

Diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan

pendidikan di Indonesia serta dapat memperkaya khasanah dunia

pendidikan yang diperoleh dari penelitian lapangan.

E. Penegasan Istilah

Dalam pembahasan penelitian ini, penulis melakukan telaah

pustaka pada sejumlah penelitian sebelumnya dan buku-buku yang

berkaitan dengan tema yang sedang penulis angkat. Serta untuk

(20)

7

pembahasan dalam penelitian, maka perlu dijelaskan beberapa pengertian

yang terkandung dalam judul skripsi di atas, yaitu:

1. Implementasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia implementasi

berarti pelaksanaan, penerapan. Sedangkan Browne dan

Wildavsky mengemukakan bahwa implementasi adalah

perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan (Usman, 2004:

70). Para ahli mengatakan implementasi sebagai suatu tindakan

atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang sudah disusun

secara matang dan terperinci. Jadi dapat disimpulkan arti

implementasi dalam penelitian ini adalah pelaksanaan atau

penerapan dari sebuah rencana yang sistematis.

2. Pendidikan

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedogogy,

yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang

sekolah diantar seorang pelayan. Dalam bahasa Romawi,

pendidikan diistilahkan dengan Educate yang berarti

mengeluarkan sesuatu yang yang berada di dalam. Dalam

bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan To Educate yang berarti

memperbaiki moral dan melatih intelektual (Wiji, 2006: 19).

(21)

8

terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan

potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya,

masyarakat, bangsa, dan negara. Jadi dapat disimpulkan bahwa

pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan untuk

memperoleh ilmu, pengetahuan, dan keterampilan.

3. Humanis

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia humanis adalah

orang yang mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya

pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas

perikemanusiaan, pengabdi kepentingan sesama umat manusia.

Humanisme, sebagaimana halnya rekonstruksionisme, menurut

skema George R Knigh, merupakan perkembangan dari

progresivisme. Fokus perhatian humanisme adalah manusia

(human). Dalam pemikiran edukatif Dewey, humanisme itu

merupakan refleksi timbal balik antara kepentingan individu

dengan masyarakat. Karenanya pendidikan harus

diselenggarakan dengan memusatkan perhatian pada keduanya

(22)

9

Definisi umum mengatakan bahwa pendidikan merupakan

proses pemanusiaan menuju lahirnya insan bernilai secara

kemanusiaan. Agenda utama pendidikan adalah proses

memanusiakan manusia menjadi manusia. (Danim, 2006: 4).

Pendidikan harus disertai kebijakan yang manusiawi. Tanpa

kebijakan yang manusiawi, dunia pendidikan justru bisa

mendorong munculnya konflik eksternal dan konflik dari

dalam diri seseorang (Mulkhan, 2002: 90). Dari sinilah

humanisasi pendidikan bisa menjadi media komunikasi antar

pribadi dan antar budaya yang terbuka, dialogis, dan

konstruktif. Pendidikian dikembangkan sebagai sebuah

proyeksi kemanusiaan, karena pada akhirnya seorang siswa

harus mempertanggungjawabkan segala tindakannya di dalam

kehidupan sosialnya. Kekurangcermatan kebijakan pendidikan

dalam memahami siswa sebagai manusia yang unik dan

mandiri serta harus secara pribadi mempertanggungjawabkan

tindakannya, pendidikan akan berubah menjadi “pemasungan”

daya kreatif setiap individu. Manusia sebagai makhluk unik

berarti setiap manusia memiliki berbagai macam potensi dan

kecerdasan yang berbeda-beda.

Humanisme dalam pendidikan adalah proses pendidikan

yang lebih memperhatikan aspek potensi manusia sebagai

(23)

10

khalifatullah, serta sebagai individu yang diberi kesempatan

oleh Tuhan untuk mengembangkan potensi-potensinya

(Mas’ud, 2002: 135). Jadi, humanis dalam penelitian ini adalah

proses pendidikan yang memperhatikan setiap karakteristik

orang yang berbeda-beda.

4. SMP Alternatif Qaryah Thayyibah

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah adalah sekolah berbasis

komunitas yang berada di desa Kalibening Kota Salatiga. SMP

ini mendidik muridnya bersama masyarakat yang selalu

bergerak untuk melakukan kerja-kerja pendidikan secara

dinamis sesuai dengan hakikat pendidikan yang sepanjang

hayat.

Pendidikan alternatif diorganisasikan dengan pola

pendidikan yang kurikulumnya bersifat desentralistik, di mana

anak didik dapat memilih materi pembelajaran sesuai dengan

minatnya atau keberbakatannya, mengikuti kebutuhan anak dan

lingkungan, biaya murah, sederhana, luwes birokrasinya, dan

menempatkan anak sebagai subjek (Danim, 2006: 139). Dan

metode pendidikannya pun berorientasi pada proses pendidikan

yang dilakukan secara dialogis serta memberi kesempatan yang

(24)

11

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian lapangan karena meneliti fenomena

yang ada di lapangan atau masyarakat dan memusatkan perhatian pada

suatu kasus secara intensif dan terperinci mengenai latar belakang

keadaan sekarang yang dipermasalahkan (Asmani, 2011: 66).

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian

kualitatif, yaitu penelitian yang mencoba memahami fenomena dalam

seting dan konteks naturalnya (bukan di dalam laboratorium) di mana

peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi fenomena yang diamati

(Sarosa, 2012: 7). Jadi penelitian kualitatif bermaksud untuk

memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian

secara holistik (menyeluruh) dan dengan cara deskripsi dalam bentuk

kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan

dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan alat pengumpul

data utama. Peneliti berperanserta pada situs penelitian dan mengikuti

secara aktif kegiatan dan mengumpulkan data dari pengamatannya

(25)

12

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah

Kelurahan Kalibening Kecamatan Tingkir Kota Salatiga. Penelitian

dilakukan dalam rentang waktu bulan Mei-Juni 2016.

Peneliti memilih lokasi SMP Alternatif Qaryah Thayyibah karena

di sekolah tersebut menerapkan pendidikan humanis dalam proses

pembelajarannya. Murid-muridnya juga memiliki keterampilan yang

beraneka ragam sesuai kemampuan masing-masing tanpa adanya

tuntutan atau paksaan.

4. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini meliputi:

a. Data utama yakni data yang diperoleh langsung dari tempat

penelitian. Menurut Lofland dan Lofland, sumber data utama dalam

penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan (Moleong, 2011:

157). Kata-kata dan tindakan didapat dari wawancara atau pengamatan

berperanserta untuk mengetahui implementasi pendidikan humanis

dalam proses pembelajaran. Data utama penelitian ini, penulis

dapatkan dari kepala sekolah, guru-guru, siswa, dan pegawai di SMP

(26)

13

b. Data kedua atau data sekunder yaitu data tambahan yang berasal

dari sumber tertulis dan berbagai sumber lainnya yang berkaitan

dengan SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Data kedua ini digunakan

peneliti untuk memperkuat dan melengkapi informasi yang didapat

dari data utama. Dalam penelitian ini data sekunder diperoleh dari

sumber-sumber buku, majalah, artikel, serta data-data lain yang

dipandang relevan bagi penelitian ini.

5. Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara

sebagai berikut:

a. Wawancara

Wawancara didefinisikan sebagai diskusi antara dua orang

atau lebih dengan tujuan tertentu (Sarosa, 2012: 45). Wawancara

adalah salah satu alat yang paling banyak digunakan untuk

mengumpulkan data penelitian kualitatif. Wawancara

memungkinkan peneliti mengumpulkan data yang beragam dari

para responden dalam berbagai situasi dan konteks.

Dalam wawancara peneliti dapat mengajukan pertanyaan

mengenai fakta, kepercayaan, perspektif seseorang, perasaan,

perilaku, standar normatif, dan alasan seseorang melakukan

(27)

14

kepala sekolah, guru, pegawai, dan murid SMP Alternatif Qaryah

Thayyibah.

b. Observasi

Observasi adalah suatu kegiatan pengamatan (Arikunto,

1998: 234). Observasi bisa diartikan sebagai pengamatan dan

pencatatan secara sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki

dalam arti luas, observasi tidak hanya sebatas pada pengamatan

yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung,

pengamatan yang tidak langsung melalui kuesioner dan tes.

Konsep-konsep penting dalam observasi antara lain:

1. Dimensi Situasi Sosial

Pada setiap tiap situasi sosial dapat diidentifikasi

adanya tempat, pelaku, dan aktivitas. Yang diamati oleh

peneliti adalah tempat, pelaku yang terlibat, aktivitas

pelaku, objek atau benda fisik yang ada, peristiwa atau

rentetan aktivitas, waktu, tujuan yang hendak dicapai

para pelaku, dan perasaan yang dirasakan atau

(28)

15

2. Memperoleh Akses Masuk

Akses mendalam dan luas terhadap komunitas yang

diteliti harus didapatkan peneliti.

3. Diterima oleh Komunitas Partisipan

Dengan berjalannya waktu dan kehadiran serta

keterlibatan peneliti dalam komunitas maka anggota

komunitas akan lebih menerimanya sebagai bagian dari

mereka.

4. Asas Timbal Balik

Dalam melakukan penelitian, para partisipan akan

menyisihkan waktu dan tenaga untuk menjadi

narasumber. Kesediaan peneliti untuk menjadi

konsultan atau menyelesaikan masalah di komunitas

bisa menjadi balasan.

5. Informan Kunci

Leedy dan Ormrod (dalam Sarosa, 2012: 59) informan

kunci adalah partisipan yang karena kedudukannya

dalam komunitas memiliki pengetahuan khusus

mengenai orang lain, proses, maupun peristiwa secara

(29)

16

6. Jangka Waktu Studi Lapangan

Peneliti dapat mengakhiri studi lapangan ketika telah

mendapatkan pemahaman terhadap situasi yang diteliti

dan tidak ada lagi temuan baru.

7. Peralatan

Peneliti dapat menggunakan perekam suara, perekam

video, kamera, dan alat dokumentasi lain.

8. Catatan Lapangan

Catatan lapangan merupakan sumber data yang

berharga. Catatan berupa komentar dari peneliti

mengenai apa yang diamati.

c. Dokumentasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dokumentasi

adalah pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan

informasi di bidang pengetahuan. Pemberian atau pengumpulan

bukti dan keterangan (seperti gambar, kutipan, potongan koran, dan

bahan referensi lain).

Dokumen yang digunakan meliputi denah lokasi sekolah,

(30)

17

ketika penelitian berlangsung, RPP, dokumen sekolah, dan visi

misi sekolah. Dokumen digunakan peneliti untuk memperkuat dan

melengkapi berbagai macam informasi yang ditemukan selama

proses penelitian dilaksanakan.

a. Analisis Data

Menurut Bogdan dan Briklen (dalam Moleong, 2011 :248)

mendefinisikan analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan

bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya

menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan

menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang

dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang

lain.

Menurut Miles dan Huberman (dalam Emzir, 2011: 129) ada tiga

macam kegiatan dalam analisis data kualitatif, yaitu:

1. Reduksi Data

Reduksi data merujuk pada proses pemilihan, pemfokusan,

penyederhanaan, abstraksi, dan transformsian data mentah yang

terjadi dalam catatan-catatan lapangan tertulis. Reduksi data adalah

suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memokuskan,

membuang, dan menyusun data dalam suatu cara dimana

(31)

18

2. Model Data

Model data adalah suatu kumpulan informasi tersusun yang

membolehkan pendeskripsian dan pengambilan tindakan. Bentuk

paling sering dari model data kualitatif adalah teks naratif. Teks

naratif adalah tulisan yang berisi rangkaian peristiwa dari waktu ke

waktu yang dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir.

Selain dalam bentuk teks naratif, bentuk lain dari model data

kualitatif adalah matrik, grafik, jaringan kerja, dan bagan.

3. Penarikan atau Verifikasi Kesimpulan

Upaya penarikan kesimpulan dilakukan peneliti secara terus

menerus selama berada di lapangan. Sejak permulaan

pengumpulan data, peneliti mulai mencari arti benda-benda,

mencatat keteraturan pola-pola (dalam catatan teori),

penjelasan-penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab

akibat, dan proposisi.

Kesimpulan diverifikasi selama penelitian berlangsung

dengan cara: memikir ulang selama penulisan, tinjauan ulang

catatan lapangan, tinjauan kembali dan tukar pikiran antarteman

sejawat, dan upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan

suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. Setelah

(32)

19

metode analisis deskripstif yaitu memaparkan gambaran mengenai

situasi yang diteliti dalam bentuk uraian naratif.

a. Pengecekan Keabsahan Data

Pengecekan keabsahan data merupakan upaya agar hasil

penelitian yang disajikan valid dan dapat dipertanggungjawabkan

(Moleong, 2011: 324-332). Untuk menetapkan keabsahan data

diperlukan teknik pemeriksaan yang didasarkan atas sejumlah kriteria

yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability),

kebergantungan (dependability), dan kepastian (comfirmability).

Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik ketekunan

pengamatan peneliti dan triangulasi.

Ketekunan pengamatan bertujuan untuk menemukan ciri-ciri dan

unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau

isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal- hal

tersebut secara rinci. Teknik ini menuntut agar peneliti mampu

menguraikan secara rinci bagaimana proses penemuan secara tentatif

dan penelaahan secara rinci tersebut dapat dilakukan.

b. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan

memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk pengecekan atau

(33)

20

informasi yang didapat bisa dibuktikan kevalidannya. Hal itu dicapai

dengan:

1) Membandingkan data hasil wawancara dengan hasil

pengamatan.

2) Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum

dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

3) Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi

penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu.

4) Membandingkan keadaan dan pendapat seseorang dengan

berbagai pendapat dan pandangan orang.

5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen

yang berkaitan.

Melalui teknik triangulasi setiap data yang didapatkan akan

dibandingkan dengan data-data lainnya sehingga menjadi suatu data

yang valid dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

c. Tahap-tahap Penelitian

1. Tahap Pra-lapangan

Tahap pra lapangan adalah tahap di mana ditetapkannya apa

saja yang harus dilakukan sebelum seorang peneliti masuk ke

lapangan obyek studi (Kasiram, 2010: 281). Tahapan yang

(34)

21

a) Menyusun proposal penelitian

b) Mengurus perijinan

c) Mencari informasi tentang lokasi

d) Observasi

e) Membuat daftar pertanyaan untuk wawancara

f) Menyiapkan perlengkapan penelitian

g) Mempelajari etika dalam penelitian.

2. Tahap Penelitian Lapangan

Pada tahap penelitian lapangan, peneliti mempersiapkan

dirinya untuk menghadapi lapangan penelitian dengan mamahami

latar penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan,

berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran sambil mengumpulkan

data yang diperoleh. Selain itu peneliti juga melakukan beberapa

wawancara pada murid, guru, kepala sekolah, atau pegawai di

lokasi dan melakukan dokumentasi.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan penjelasan, pemahaman, dan penelaahan

terhadap pokok-pokok permasalahan yang akan dikaji maka perlu adanya

sistematika penulisan sehingga pembahasan akan lebih sistematis dan

(35)

22

Bab I : Pendahuluan

Berisi tentang latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian,

kegunaan penelitian, penegasan istilah, metode penelitian, dan sistematika

penulisan skripsi.

Bab II : Kajian Pustaka

Berisi tentang implementasi pendidikan humanis di SMP Alternatif

Qaryah Thayyibah dalam kajian pustaka.

Bab III : Paparan Data dan Temuan Penelitian

Bab ini berisi tentang kondisi umum SMP Alternatif Qaryah Thayyibah

dan penyajian data tentang implementasi pendidikan humanis di SMP

Alternatif Qaryah Thayyibah.

BAB IV: Pembahasan

Bab ini berisi pembahasan tentang konsep pendidikan humanis di SMP

Alternatif Qaryah Thayyibah, implementasi pendidikan humanis di SMP

Alternatif Qaryah Thayyibah, dan faktor pendukung dan penghambat

pendidikan humanis yang diterapkan.

Bab V : Penutup

(36)

23

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Pendidikan Humanis

1. Pengertian Pendidikan Humanis

Menurut George F. Keller (dalam Suwarno, 2006: 20), pendidikan

memiliki arti luas dan sempit. Dalam arti luas pendidikan diartikan

sebagai tindakan atau pengalaman memengaruhi perkembangan jiwa,

watak, ataupun kemauan fisik individu. Dalam arti sempit, pendidikan

adalah suatu proses mentransformasikan pengetahuan, nilai-nilai, dan

keterampilan dari generasi ke generasi yang dilakukan oleh masyarakat

melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, pendidikan

tinggi, atau lembaga-lembaga lain.

Humanisme merupakan kesatuan dari manusia yang wajib

memanusiakan manusia lainnya. Humanisme, sebagaimana halnya

progesivisme merupakan bagian dari fokus perhatian manusia

(human). Memanusiakan manusia dalam pendidikan berarti usaha

memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan

alat-alat potensialnya seoptimal mungkin untuk dapat difungsikan

sebagai sarana bagi pemecahan masalah-masalah hidup dan kehidupan,

mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta budaya

manusia, dan pengembangan sikap iman dan takwa kepada Allah Swt

(37)

24

Menurut Kartini Kartasapoetra (dalam Maslikhah, 2009: 31)

humanis adalah sesuatu yang berhubungan dengan sikap yang

terfokuskan pada kepentingan manusia. Menurut Jusuf Amir Faisal

pendidikan humanisme mendasarkan pada teori Immanuel Kant yang

mengutamakan peranan aktif pikiran yang akan menumbuhkan

kesadaran manusia akan sejarah peradabannya, dengan demikian

memahami gejala-gejala alam, kemudian diterapkan pada peradaban

manusia yang dikenal dengan hukum perkembangan dan perubahan.

Pendidikan dihadapkan pada konsep utama yang merumuskan

pendidikan humaniora sebagai general education yang mengutamakan

pendidikan moral dan agama.

R.A. Kartini, (dalam Danim, 2006: 171) dalam notesnya tanggal 19

April 1903 yang dikirim kepada pemerintah Hindia Belanda antara lain

menulis, pertama, kepandaian merupakan salah satu capaian mulia

dalam hidup, dalam makna aktualitas pribadi untuk berbuat baik dan

luhur. Kedua, kecerdasan otak yang tinggi bukanlah untuk ijazah

melainkan untuk keluhuran budi pekerti.

Manusia sebagai makhluk yang dapat mendidik dan dididik (homo

educabile) pada dimensi ini manusia berpotensi sebagai objek dan

subjek pengembangan diri. Oleh karea itu manusia tidak bisa

berkembang tanpa rangsangan dari luar, seperti pendidikan misalnya.

Maka, pendidikan harus berpijak pada potensi yang ada pada manusia

(38)

25

kebebasan memilih, sadar diri, memiliki norma, dan kebudayaan.

Implikasinya sebagai berikut:

a. Pendidikan lebih bersifat menyediakan stimulus agar peserta

didik secara otomatis memberikan respon.

b. Pendidik tidak dapat memaksakan kehendak kepada peserta

didik.

c. Demokratisasi merupakan model pendidikan yang sangat

relevan untuk pengembangan potensi dasar manusia, sekaligus

membantu menanamkan sikap percaya diri dan tanggung

jawab.

d. Proses pendidikan harus selalu mengacu pada sifat-sifat

ketuhanan (Assegaf, 2004: 205).

Sekolah merupakan tempat dimana kepentingan setiap diri dihargai

dan secara sadar diletakkan sebagai bagian integral kepentingan

bersama dan kepentingan nasional. Guru bukanlah orang yang serba

dan paling mengerti dunia anak dan siswa. Guru adalah seseorang yang

mampu mendorong siswa menyadari diri dan kemampuannya sendiri.

2. Guru dalam Pendidikan Humanis

Tenaga pendidik atau guru merupakan pihak yang melaksanakan

pendidikan. Guru tidak hanya dihormati oleh manusia, bahkan Allah

sendiri pun menghormati karena ilmunya. Allah berfirman (QS

(39)

26

اوُحَسْفاَف ِسِلاَجَمْلا يِف اوُحاسَفَ ت ْمُكَل َليِق اَذِإ اوُنَمآ َنيِذالا اَهُّ يَأ اَي

اوُنَمآ َنيِذالا ُهاللا ِعَفْرَ ي اوُزُشْناَف اوُزُشْنا َليِق اَذِإَو ْمُكَل ُهاللا ِحَسْفَ ي

َمْعَ ت اَمِب ُهاللاَو ٍتاَجَرَد َمْلِعْلا اوُتوُأ َنيِذالاَو ْمُكْنِم

ريِبَخ َنوُل

(Muhaimun, 2007: 156)

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi lmu pengetahuan beberapa derajad. Dan allah akan mengetahui apa yang akan kamu kerjakan.

Penghormatan manusia berupa sikap, pujian, dan sanjungan

bahkan membalas jasanya dengan materi. Allah akan meninggikan

drajatnya karena guru merupakan sosok manusia berilmu.

Menurut Al-Abrasyi, sebagaimana dikutip Ahmad Tafsir, syarat

dan sifat guru itu antara lain adalah:

a. Guru harus selalu mengetahui karakter murid.

b. Guru harus selalu berusaha meningkatkan keahliannya, baik

dalam bidang yang diajarkannya maupun dalam cara

mengajarkannya.

c. Guru harus mengamalkan ilmunya dan jangan berbuat

berlawanan dengan ilmu yang diajarkannya.

Bagi guru, mengetahui karakter murid sangatlah penting

(40)

27

harus ikhlas, sabar, jujur dalam menyampaikan apa yang

diserukannya, dan juga harus mampu mengelola murid dan tegas

dalam bertindak serta meletakkan perkara secara profesional. Guru

juga harus mempelajari psikis anak didik dan bersikap adil kepada

semua siswa.

Guru merupakan pemimpin bagi murid di sekolah. Teori

kepemimpinan humanistik menghendaki setiap individu di beri

kondisi yang bebas, yang memungkinkannya merealisasikan

potensi-potensi internal yang ada dengan tidak melupakan tujuan

komunitas kelompoknya. Likert (dalam Baharuddin, 2011: 185)

berpendapat bahwa pemimpin harus memperhitungkan

harapan-harapan, nilai-nilai, dan keterampilan individual dari mereka yang

terlibat dalam interaksi yang berlangsung.

Dalam kaitannya dengan ini, seorang guru harus melaksanakan

tugasnya sebagai pendidik harus melibatkan peserta didiknya

secara aktif dan dinamis. Guru juga perlu memahami setiap peserta

didik mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing yang

berbeda.

Menurut Hamacheek (dalam Aprilianalistria, 2007: 10),

guru-guru yang efektif adalah guru-guru-guru-guru yang manusiawi. Mereka

mempunyai rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis

(41)

28

dengan mudah dan wajar dengan para murid, baik secara

perorangan maupun kelompok.

3. Metode Pendidikan Humanis

Di sini metode tidak hanya diartikan sebagai cara mengajar dalam

proses belajar-mengajar bagi seorang guru, tapi dipandang sebagai

upaya perbaikan komprehensif dari semua elemen pendidikan sehingga

menjadi sebuah iklim yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.

Ada beberapa metode yang tidak mendukung perkembangan

kualitas keberagamaan anak yang biasanya ditemukan di sekolah,

antara lain (Mas’ud, 2002: 198):

a. Guru hanya mengejar standar nilai, sehingga kurang atau tidak

memperhatikan budi pekerti anak.

b. Para pemimpin sekolah lebih berorientasi pada pembangunan

fisik sekolah daripada pembangunan manusia seutuhnya.

c. Pendekatan otoriter, baik pemimpin sekolah maupun guru.

d. Tiada penghargaan bagi anak didik yang berprestasi, bahkan

guru lebih sering menghukum.

e. Komunikasi guru dengan anak didik hanya terjadi di kelas.

f. Kegiatan keagamaan lebih merupakan kegiatan formalitas,

isendental, tidak sistematik, dan tidak berkelanjutan.

g. Kecerdasan anak tidak diimbangi dengan kepekaan sosial dan

(42)

29

Dari permasalahan tersebut, guru harus memilih metode sesuai

dengan humanisme yaitu memahami setiap peserta didik memiliki

kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Dan kepandaian peserta

didik tidak hanya dapat diukur dengan nilai bagus saat ulangan

atau tes akan tetapi perlu diperhatikan juga sikap dan tingkah laku.

Pepatah lama berbunyi, “Berilah kail jangan beri ikan” masih

berlaku hingga kini dan mendatang. Pepatah itu sesuai dengan

pepatah Barat, “if you give a man fish you feed him a day, but if

you teach him how to fish you feed him for a life” learning how to

learn, yang selama ini diabaikan dalam pendidikan, harus

digunakan.

Secara teknis guru harus menggunakan metode sebagai berikut:

a. Role Model

Guru menjadi suri tauladan bagi kehidupan sosial akademis

murid, baik di dalam maupun di luar kelas.

b. Kasih sayang

Guru harus menunjukkan sikap kasih sayang, antusiasisme,

dan ikhlas mendengar atau menjawab pertanyaan. Serta

menjauhkan sikap emosional dan foedal, seperti cepat

marah dan tersinggung.

(43)

30

Menekankan belajar mandiri, kemampuan membaca, dan

berpikir kritis. Menerapkan proses pembelajaran yang

dialogis dan interaktif.

d. Promotor of learning

Membimbing, menumbuhkan kreatifitas, interaktif, dan

komunikatif dengan murid. Hal tersebut dapat dilakukan

dengan feedback konstruktif dari murid, baik secara

langsung maupun tidak langsung.

Berikut beberapa model pembelajaran humanistik:

a. Student Centered Learning

Konsep pembelajaran ini diajukan oleh Carl Rogers

yang intinya:

1) Kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya

bisa menfasilitasi.

2) Seseorang akan belajar secara signifikan hanya pada

hal-hal yang memperkuat dirinya.

3) Manusia tidak bisa belajar jika berada dibawah

tekanan. Pendidikan akan membelajarkan siswa

secara signifikan jika tidak ada tekanan kepada

siswa, dan perbedaan yang muncul difasilitasi.

b. Humanizing of The Classroom

Pendidikan model ini bertumpu pada tiga hal yakni

(44)

31

sedang dan akan terus berubah, mengenali konsep dan

identitas diri, dan menyatupadukan kesadaran hati dan

pikiran. Perubahan yang dilakukan tidak hanya pada

substansi materi saja, tetapi yang lebih penting pada

aspek metodologis yang dipandang sangat manusiawi.

c. Active Learning

Active Learning dicetuskan oleh M. L. Silberman.

Asumsi dasar yang dibangun dari model pembelajaran

ini adalah bahwa belajar bukan merupakan konsekuensi

otomatis dari penyampaian informasi kepada siswa.

Dalam kaitannya dengan strategi pembelajaran pada

pendidikan humanis, maka lebih menekankan pada

active learning, yang memiliki semboyan sebagai

berikut:

1) What I hear, I forget. Apa yang saya dengar

mudah saya lupakan, karena guru berbicara

100-200 kata permenit, sedangkan murid

mendengar 50-100 kata permenit, lama

kelamaan semakin berkurang.

2) What I hear and I see, I remember a little.

Apa yang saya dengar dan lihat akan saya

ingat sedikit atau sebentar, lama-kelamaan

(45)

32

3) What I hear, see, and askquestion about or

discuss with someone else, I begin to

understand. Apa yang saya dengar, lihat, dan

tanyakan atau diskusikan dengan orang atau

teman lain, maka saya mulai mengerti.

4) What I hear, see, discuss, and do, I recuire

knowledge and skill. Apa yang saya dengar,

lihat, diskusikan, dan laksanakan, maka saya

memperoleh pengetahuan dan keterampilan.

5) When I teach to another, I master Ketika saya

bisa mengajari orang atau teman lain, berarti

saya menguasai (Muhaimin, 2007:162).

Dengan demikian pelajaran aktif setidak-tidaknya

sampai pada tingkat yang ketiga, dan diusahakan untuk

mencapai tingkat terakhir. Untuk mencapai pada

tingkat tersebut maka pembelajaran harus berpusat pada

peserta didik agar kreativitasnya dapat berkembang,

menciptakan suasana pembelajaran yang

menyenangkan, dan menyediakan pengalaman belajar

yang beragam serta belajar melalui berbuat.

(46)

33

Quantum learning menggabungkan sugestologi,

teknik pemercepatan belajar dan neurolingusitik dengan

keyakinan, dan metode tertentu (De Porter dan

Hernacki, 2004: 16). Quantum Learning

mengasumsikan jika siswa mampu menggunakan

potensi nalar dan emosinya secara tepat akan membuat

loncatan prestasi yang tidak bisa terduga sebelumnya.

Konsep dasar dari Quantum Learning adalah belajar itu

harus mengasyikkan dan berlangsung secara gembira

sehingga akan lebih mudah informasi baru masuk dan

terekam dengan baik.

e. Quantum Teaching

Quantum Teaching berusaha mengubah mengubah

suasana belajar yang monoton dan membosankan

menjadi belajar yang meriah dan gembira dengan

memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi siswa

menjadi satu kesatuan kekuatan yang integral. Model

pembelajaran quantum teaching bersandar pada asas

utama bawalah dunia siswa ke dunia guru, dan

antarkanlah dunia guru ke dunia siswa. Pembelajaran ini

merupakan pembelajaran yang melibatkan semua aspek

(47)

34

di samping pengetahuan, sikap dan keyakinan

sebelumnya serta persepsi masa mendatang.

f. The Accelerated Learning

Penggagas model pembelajaran ini adalah Dave

Meir. Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa

pembelajaran itu berlangsung secara cepat,

menyenangkan, dan memuaskan. Dalam mengelola

kelas menggunakan pendekatan Somatic, Auditory,

Visual dan Intellectual (SAVI). Somatic berarti learning

by moving and doing (belajar dengan bergerak dan

berbuat). Auditory berarti learning by talking and

hearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan).

Visual berarti learning by observing and picturing

(belajar dengan mengamati dan menggambarkan).

Intellectual maksudnya learning by problem solving and

reflecting (belajar dengan pemecahan masalah dan

melakukan refleksi).

Adapun proses belajar yang umum dilalui adalah:

1) Merumuskan tujuan belajar yang jelas.

2) Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak

belajar yang bersifat jelas, jujur, dan positif.

3) Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan

(48)

35

4) Mendorong siswa untuk peka berfikir kritis, memaknai

proses pembelajaran secara mandiri.

5) Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat,

memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang

diinginkan dan menanggung resiko dari perilaku yang

ditunjukkan. Guru mencoba memahami jalan pikir

siswa, mendorong siswa bertanggung jawab atas

perbuatannya.

6) Memberikan kesempatan siswa untuk maju sesuai

dengan kecepatannya.

7) Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan

perolehan prestasi siswa. Penilaian belajar yang

dilakukan adalah penilaian berbasis proses. Guru punya

kesempatan untuk menilai aktivitas siswa setiap kali

bertatap muka dengan siswanya (Chatib, 2009: 159).

Selain itu juga bisa memakai penilaian proyek, penilaian

produk, penilaian portofolio dan penilaian diri (self

assessment).

Selain metode-metode tersebut, pembelajaran dapat dilakukan

dengan E-Learning, yaitu sistem pembelajaran secara elektronik,

menggunakan media elektronik, internet, komputer, dan file

(49)

36

Keuntungan penggunaan E-Learning:

a. Real-time dan on-demands online information

b. Mobility acces, fleksibel dan praktis

c. Menjangkau wilayah geografis yang luas

d. User friendly, bebas dari kerepotan dan keruwetan

e. Benefit in cost, mengurangi (menghemat) biaya pendidikan

secara keseluruhan

f. Mengoptimalkan kualitas belajar

g. Dapat melengkapi aktivitas belajar konvensional

h. Melatih belajar lebih mandiri dan berkembang dalam ilmu dan

pengetahuan

i. Sumber ilmu dan informasi yang tidak terbatas, sehingga

kuncinya bukan mendapatkan kesemuanya namun filtering atau

penyaringan yang kita butuhkan saja (Daryanto dan Tasrial,

2012: 34) .

Di zaman modern ini teknologi semakin berkembang pesat, jadi

teknologi yang semakin canggih dapat dimanfaatkan dalam proses

pembelajaran. Dan dengan mengakses internet dapat menambah

wawasan dari berbagai sumber, cara pemikiran yang semakin luas,

dan membuat pembelajaran menjadi tidak membosankan.

(50)

37

Aliran humanistik membantu siswa untuk mengembangkan dirinya

sesuai dengan potensi yang dimiliki. Siswa merupakan pelaku utama

(subyek) dalam proses belajar. Memberi bimbingan yang tidak

mengekang kepada siswa dalam kegiatan belajarnya akan

memudahkan dalam penanaman nilai-nilai yang akan memberinya

informasi tentang hal yang positif dan hal yang negatif.

Kolb (dalam Uno, 2008: 15) dalam aliran humanistik siswa

mengalami 4 siklus belajar. Pertama, seorang siswa hanya mampu

sekedar ikut mengalami suatu kejadian. Dia belum mempunyai

kesadaran tentang hakikat kejadian tersebut. Dia pun belum mengerti

bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperti itu.

Tahap kedua, siswa tersebut lambat laun mampu mengadakan

observasi aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan

dan memahaminya. Inilah yang terjadi pada tahap pengamatan aktif

dan reflektif.

Pada tahap ketiga, siswa mulai belajar untuk membuat abstraksi

atau teori tentang suatu hal yang pernah diamatinya. Pada tahap ini

siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum

dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda,

tetapi mempunyai landasan aturan yang sama.

Pada tahap akhir, siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu

aturan umum ke situasi yang baru. Dalam pelajaran matematika

(51)

38

ia juga mampu memakai rumus tersebut untuk memecahkan suatu

masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Siklus tersebut terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung

di luar kesadaran siswa. Meskipun dalam teorinya mampu membuat

garis tegas antara tahap satu dengan tahap lainnya, namun dalam

praktik peralihan dari satu tahap ke tahap lainnya itu seringkali terjadi

begitu saja.

Menurut Rogers ada prinsip pendidikan dan pembelajaran yang

harus diperhatikan guru yaitu:

a. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk

belajar.

b. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi siswa.

c. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan

bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.

Siswa berperan aktif dalam kegiatan pendidikan. Mereka memiliki

potensi yang berbeda-beda, sehingga wajar jika mereka memiliki

kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda pula.

Allah berfirman dalam surah an-Nahl, 16: 53, yaitu

اَمَو

Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatannya, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.

Akal pikiran manusia merupakan salah satu nikmat dari Allah.

(52)

39

mungkin. Salah satunya dengan belajar. Jadi setiap orang memiliki

akal pikiran yang berbeda-beja, sehingga potensi setiap orang juga

berbeda pula. Sama halnya dengan siswa yang memiliki bakat yang

berbeda dan seharusnya bakat tersebut di asah bukan malah terkekang

dengan adanya tuntutan-tuntutan dalam pembelajaran di sekolah.

B. Teori-teori Pendidikan Humanis

Teori-teori pendidikan humanis lebih mengutamakan kebebasan

individu memahami materi pembelajaran untuk memperoleh informasi

baru dengan cara belajarnya sendiri selama proses pembelajaran. Dalam

teori, peserta didik berperan sebagai subjek atau sebagaianak didik. Peran

guru dalam pembelajaran humanis adalah menjadi fasilitator bagi para

siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna

belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar

kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan

pembelajaran.

Beberapa teori pendidikan humanis menurut para tokoh, antara

lain:

1. Abraham Maslow

(53)

40

seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).

Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hierarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).

Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut: a. Kebutuhan fisiologis / dasar: seperti makan dan minum.

Yaitu kebutuhan paling dasar.

(54)

41

c. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi: bagaimana rasanya dianggap di komunitas sosialnya.

d. Kebutuhan untuk dihargai: rasa bagaimana dibutuhkan untuk kepercayaan dan tanggung jawab dari orang lain. e. Kebutuhan untuk aktualisasi diri: untuk membuktikan

dan menunjukkan dirinya terhadap orang lain.

Hal tersebut jika dikaitkan dalam dunia pendidikan, maka kekerasan di lingkungan sekolah tidak boleh dilakukan. Guru haruslah dapat mengerti setiap karakter anak yang berbeda-beda, jadi wajar jika setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Dengan demikian anak akan belajar dengan nyaman.

(55)

42

pengalaman memerintah diri sendiri, ditentukan sendiri bukan orang lain ( Maslow, 2004: 77).

Dengan demikian siswalah yang aktif dalam proses pembelajaran ditujukan agar siswa dapat mengalami berbagai pengalaman. Dari pengalaman yang dialami oleh siswa tersebut munculah masalah yang akan dipecahkan oleh dirinya sendiri. Disini guru hanya sebagai pendamping dalam proses pembelajaran.

2. John Dewey

Menurut John Dewey, Pendidikan berarti

perkembangan, perkembangan sejak lahir hingga menjelang

kematian. Jadi, pendidikan itu juga berarti sebagai kehidupan.

Bagi Dewey, Education is growth, development, life. Ini berarti

bahwa proses pendidikan itu tidak mempunyai tujuan di luar

dirinya, tetapi terdapat dalam pendidikan itu sendiri. Proses

pendidikan juga bersifat kontinu, merupakan reorganisasi,

rekonstruksi, dan pengubahan pengalaman hidup. Jadi,

pendidikan itu merupakan organisasi pengalaman hidup,

pembentukan kembali pengalaman hidup, dan juga perubahan

pengalaman hidup sendiri.

Dalam penyusunan bahan ajar menurut Dewey

(56)

43

a. Bahan ajaran hendaknya konkret, dipilih yang

betul-betul berguna dan dibutuhkan, dipersiapakan secara

sistematis dan mendetail

b. Pengetahuan yang telah diperoleh sebagai hasil belajar,

hendaknya ditempatkan dalam kedudukan yang berarti,

yang memungkinkan dilaksanakannya kegiatan baru,

dan kegiatan yang lebih menyeluruh.

Bahan pelajaran bagi anak tidak bisa semata-mata diambil

dari buku pelajaran, yang diklasifikasikan dalam mata-mata

pelajaran yang terpisah. Bahan pelajaran harus berisikan

kemungkinan-kemungkinan, harus mendorong anak untuk

bergiat dan berbuat. Bahan pelajaran harus memberikan

rangsangan pada anak-anak untuk bereksperimen. Demikianlah

dengan bahan pelajaran ini, kita mengharapkan anak-anak yang

aktif, anak-anak yang bekerja, anak-anak yang bereksperimen.

Bahan pelajaran tidak diberikan dalam disiplin-disiplin ilmu

yang ketat, tetapi merupakan kegiatan yang berkenaan dengan

sesuatu masalah (problem).

Beberapa ide Dewey (dalam Surna dan Pandeirot, 2014:

32) yang memberi kontribusi penting bagi pendidikan yaitu :

a. Anak sebagai pribadi aktif dalam belajar (child as an

active learner). Sebelumnya berkembang pandangan

(57)

44

duduk dan mendengarkan penjelasan dari guru), Dewey

berpendapat secara tegas bahwa belajar yang terbaik

adalah “learn best by doing”.

b. Dalam melaksanakan pengajaran, anak harus dipandang

sebagai pribadi utuh (whole child) dan menekankan

makna penyesuaian anak terhadap lingkungannya.

Pelaksanaan pembelajaran haruslah memberi penekanan

pada upaya guru untuk mendorong bagaimana belajar

untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia luar di luar

sekolah, bukannya memberikan topik-topik sempit

untuk dikuasai anak.

c. Dewey sangat percaya bahwa semua anak berhak

mendapat keahlian dan keterampilan yang semestinya.

Peranan guru bukan hanya berhubungan dengan mata

pelajaran, melainkan dia harus menempatkan dirinya dalam

seluruh interaksinya dengan kebutuhan, kemampuan, dan

kegiatan siswa. Guru juga harus dapat memilih bahan-bahan

yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan.

Jadi disini guru berupaya mendorong anak untuk belajar

bagaimana menjadi pribadi yang mampu memecahkan

masalahnya sendiri. Dengan demikian anaklah yang berperan

aktif dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, semua anak

(58)

45

3. Paulo Friere

Sebagian besar sekolah (di Indonesia khususnya) hanya berfokus pada target kuantitatif yang bisa diukur, seperti misalnya harus lulus mata pelajaran dengan nilai tertentu. Padahal, model pendidikan seperti itu jelas menimbulkan efek yang buruk bagi peserta didik. Menurut Paulo Freire dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kaum Tertindas model pendidikan yang semacam itu ia sebut sebagai banking education alias pendidikan gaya bank.

“Pendidikan karenanya menjadi sebuah kegiatan menabung, di mana para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya. Yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi guru menyampaikan

pernyataan-pernyataan dan “mengisi tabungan” yang diterima, dihafal dan diulangi

dengan patuh oleh para murid (Friere, 2008: 52).

Dalam pendidikan gaya bank, peserta didik hanya dijejali dengan ilmu secara satu arah dengan tujuan mendapatkan nilai-nilai kuantitatif yang dituju. Praktek pendidikan hanya dipahami sebatas sarana pewarisan ilmu. Pendidikan tidak dipahami sebagai transformasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang lebih menekankan pada proses pendewasaan pemikiran dan mengartikan belajar sebagai proses memaknai dan mengkritisi realitas sosial yang ada di lingkungan sekitar. Bukan hanya mencari ijazah dengan nilai yang tinggi maupun sebagai sarana meningkatkan status sosial.

(59)

46

penuh hanya mungkin apabila manusia berintegrasi dengan dunia. Dalam kedudukannya sebagai subjek, manusia senantiasa menghadapi berbagai ancaman dan tekanan, namun ia tetap mampu terus menapaki dan menciptakan sejarah berkat refleksi kritisnya (Murtiningsih, 2006: 55).

Pendidikan dengan pendekatan kemanusiaan sering diidentikkan dengan pembebasan, yakni pembebasan dari hal-hal yang tidak manusiawi. Jadi, untuk mewujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia dibutuhkan suatu pendidikan yang membebaskan dari unsur dehumanisasi. Dehumanisasi tersebut bukan hanya menandai seseorang yang kemanusiannya telah dirampas, melainkan (dalam cara yang berlainan) menandai pihak yang telah merampas kemanusiaan itu, dan merupakan pembengkokkan cita-cita untuk menjadi manusia yang lebih utuh.

(60)

47

keduanya sama-sama dalam suasana dialogis membuka cakrawala realita dunia.

4. Ki Hajar Dewantara

Sistem pendidikan disesuaikan dengan kondisi anak-anak,

agar kelak mereka menjadi manusia-manusia yang mandiri,

cerdas, cermat, serta menjadi pribadi yang handal secara lahir

dan batin ( Musyafa, 2015: 260). Tugas seorang tenaga

pengajar tidak hanya sebatas memberikan materi pelajaran di

sekolah. Tapi mengabdikan seluruh waktu yang dimilikinya

untuk mendidik dan mendampingi anak didiknya setiap saat,

dimanapun, kapan pun, dan dalam kondisi kapan pun.

Selain itu tenaga pendidik juga harus memiliki keikhlasan

untuk menjalankan perannya sebagai orang tua yang dapat

membuat anak-anaknya merasa senang, tenang, dan nyaman.

Sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi

manusia-manusia yang bermartabat dan berkarakter.

Melalui Tamansiswa, Ki Hajar Dewantara mewujudkan

gagasannya di bidang pendidikan. Menurutnya pendidikan

senyatanya adalah jalan menuju kemerdekaan lahir dan batin.

Pendidikan itu yang benar adalah mengubah pendidikan

“berdaya saing” menjadi pendidikan “mandiri dan

berkepribadian”.

(61)

48

SMP Alternatif Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga terletak di

Jl. R. Mas Said 12, Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga.

SMP ini mendidik muridnya bersama masyarakat yang selalu bergerak

untuk melakukan kerja-kerja pendidikan secara dinamis sesuai dengan

hakikat pendidikan yang sepanjang hayat.

Sekolah alternatif bertujuan mengembangkan bakat atau

keterampilan vokasional yang berfungsi bagi kehidupan lulusan sesuai

dengan potensi dasarnya (Danim, 2006: 139). Dengan format dasar ini,

kehadiran sekolah alternatif akan menggeser paradigma kinerja sekolah

dari kembali ke barak utamanya (the back to basics) menuju barak masa

depan (the forward to future basics), dengan tiga titik tekan utama yaitu,

bagaimana berfikir (how to think), bagaimana belajar (how to learn), dan

bagaimana berkreasi (how to create), bukan semata atas dasar apa yang

boleh dan tidak boleh mereka lakukan.

Pendidikan alternatif diorganisasikan dengan pola pendidikan yang

kurikulumnya bersifat desentralistik, di mana anak didik dapat memilih

materi pembelajaran sesuai dengan minatnya atau keberbakatannya,

mengikuti kebutuhan anak dan lingkungan, biaya murah, sederhana, luwes

birokrasinya, dan menempatkan anak sebagai subjek (Danim, 2006: 139).

Dan metode pendidikannya pun berorientasi pada proses pendidikan yang

dilakukan secara dialogis serta memberi kesempatan yang sama antara

Referensi

Dokumen terkait

demikian, pendidikan berbasis komunitas adalah satu solusi lebih untuk Indonesia yang masih kental dengan kultur kekerabatan. Pendidikan yang berbasis komunitas ini

Penelitan ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar roll belakang siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatife STAD.Penelitan ini

(3) Apakah ada faktor yang mempengaruhi sikap belajar siswa antara siswa yang berasal dari SD Islam dan SD Umum dalam proses belajar mengajar pendidikan agama Islam di

Adapun hipotesis penulis adalah Ada peran positif pendidikan akhlak terhadap pembentukan perilaku ihsan kepada kedua orang tua pada siswa siswi MI Plus At-Taqwa Nguter,

(3) Terdapat pengaruh persepsi atas upaya guru dalam memotivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar Bahasa Indonesia.. Berdasarkan hal tersebut, maka semakin

Nilai-nilai humanisme di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah dapat di lihat dalam bentuk bagaimana seorang pendidik disana memperlakukan siswa bukan hanya sebagai obyek didik

a. Perhatian siswa dalam belajar memahami kalimat thayyibah. Keaktifan siswa mengikuti pembelajaran lebih antusias yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang

Sehingga hipotesis yang menyatakan ada korelasi positif antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas VIII SMP N 4