• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.2. Pembahasan Hasil Penelitian

5.2.1. Pembahasan Kegunaan Hasil Penelitian Secara Teoritis

Secara Teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pustaka bagi peneliti lain yang melakukan penelitian tentang peran komunikasi antarpribadi. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya para penari yang berkelompok untuk mengetahui hal- hal yang berhubungan mengenai peran komunikasi antarpribadi dimana komunikasi antarpribadi serta bentuk-bentuk komunikasi yang digunakan dalam komunikasi antarpribadi. Namun pada penelitian ini penulis lebih menyajikan kepada peran komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh penari saman dalam satu kelompok untuk menghasilkan atau membangun kekompakan gerak pada tarian mereka.

5.2.2. Pembahasan Kegunaan Hasil Penelitian Secara Praktis

Peran komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh para penari saman dalam satu kelompok sangat beragam. Melalui penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihak yang berminat meneliti secara khusus peran komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh penari saman dalam satu kelompok. Dengan beragamnya sifat serta karakteristik yang dimiliki oleh setiap penari dalam satu kelompok, maka beragam pula peran komunikasi antarpribadi yang muncul sesuai dengan masalah yang dihadapi. Peran komunikasi antarpribadi tersebut dihasilkan baik dalam bentuk verbal maupun dalam bentuk nonverbal.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan informan yaitu tiga orang penari Saman dan seorang pelatih tari Saman, maka didapatkan kesimpulan dari peran komunikasi antarpribadi dalam membangun kekompakan gerak penari pada tari Saman adalah sebagai berikut :

1. Peran komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh penari Saman dalam ekstrakurikuler seni tari SMPN 25 Bandar Lampung dapat membangun kekompakan gerak antar penari. Dimana peran komunikasi antarpribadi tersebut dilakukan untuk mengisi dan memenuhi kebutuhan informasi yang tidak didapatkan dalam komunikasi kelompok, dan dibutuhkan oleh para penari Saman dalam rangka untuk membangun kekompakan gerak dalam tarian mereka.

2. Terdapat enam peran komunikasi antarpribadi dalam membangun kekompakan gerak penari pada Tari Saman, yaitu :

a. Untuk menguatkan atau menjelaskan pesan yang berhubungan dengan tari Saman yang sebelumnya sudah disampaikan pada saat komunikasi kelompok. Maksudnya ialah pesan atau informasi yang sebelumnya telah dijelaskan atau diberitahu dalam komunikasi kelompok tidak semuanya dapat diserap dan diterima dengan baik oleh komunikan atau dalam hal ini adalah penari Saman. Oleh sebab itu untuk menjelaskan kembali pesan yang sudah disampaikan tersebut, para penari Saman umumnya berkomunikasi antarpribadi untuk mamahami maksud dari pesan yang disampaikan.

b. Untuk menyampaikan pesan yang berhubungan dengan tari Saman yang sebelumnya tidak disampaikan pada saat komunikasi kelompok. Terkadang ada beberapa informasi yang seharusnya diberitahukan pada saat komunikasi kelompok sedang berlangsung, namun karena keterbatasan manusia maka informasi yang seharusnya disampaikan tersebut malah terlupakan dan akhirnnya tidak jadi disampaikan. Maka dari itu komunikasi antarpribadi muncul dan berperan untuk menyampaikan pesan yang lupa atau tidak diberitahukan pada saat komunikasi kelompok sedang berlangsung.

c. Untuk menyampaikan pesan atau informasi yang tidak bias dilakukan melalui komunikasi kelompok. Artinya yakni tidak semua informasi atau pertukaran pesan dapat dilakukan penari Saman dalam bentuk komunikasi kelompok. Karena terkadang ada beberapa situasi yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk melakukan komunikasi dalam bentuk kelompok. Oleh sebab itu cara terbaik untuk melakukan pertukaran pesan adalah dengan melakukan komunikasi antarpribadi.

d. Untuk tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran, pengalaman atau pengetahuan baru tentang gerakan tari Saman. Para penari Saman umumnya memiliki kecenderungan melakukan komunikasi antarpribadi untuk berbagi informasi, perilaku, perasaa, pikiran, pengalaman bahkan pengetahuan baru yang berhubungan dengan tari Saman daripada melakukannya dalam bentuk komunikasi kelompok.

e. Untuk membina dan meningkatkan hubungan kerjasama agar tercipta pertukaran pesan yang efektif sehingga menghasilkan gerakan tari Saman yang maksimal pada setiap penari. Kalau dalam komunikasi kelompok para penari Saman tidak bias berkomunikasi secara bebas untuk mengungkapkan maksud dan pikirannya, hal ini dikarenakan intensitas pertemuan dalam komunikasi kelompok yang terbatas. Namun hal tersebut dapat ditutupi dengan adanya komunikasi antarpribadi yang sering dilakukan oleh para penari untuk saling mengenal kelebihan atau kekuatan serta kelemahan atau kekurangan yang dimiliki oleh penari Saman, sehingga akan terjalin hubungan

kerjasama yang baik diantara para penari Saman dalam melakukan suatu gerakan dalam Tari Saman.

f. Untuk menghindari dan mengatasi konflik-konfik pribadi yang dapat merusak hubungan kerjasama antar penari Saman. Artinya yaitu semakin sering intensitas komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh para penari Saman, maka semakin sedikit pula kesalahpahaman yang timbul diantara penari, sehingga dapat meminimalisir konflik pribadi yang dapat merusak hubungan kerjasama antar penari Saman.

3. Terdapat dua bentuk komunikasi antarpribadi yang digunakan oleh penari Saman dalam ekstrakurikuler seni tari SMPN 25 Bandar Lampung dalam rangka menciptakan atau membangun kekompakan gerak, yaitu komunikasi antarpribadi verbal dan komunikasi antarpribadi nonverbal. Komunikasi antarpribadi verbal biasanya dipakai pada saat sebelum memulai latihan atau di luar jam latihan yang diucapkan secara lisan. Sedangkan komunikasi antarpribadi dalam bentuk nonverbal dipakai pada saat sedang melakukan pementasan tari. Komunikasi nonverbal tersebut direpresentasikan melalui kode-kode atau tanda-tanda yang hanya dimengerti oleh penari Saman dalam kelompok itu saja.

4. Setiap peran komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh penari Saman baik itu secara verbal ataupun yang menggunakan bentuk nonverbal, selalu mengacu pada model atau teori interaksional. Melalui model ini, para penari Saman diharapkan untuk selalu menjaga keseimbangan dari subsistem yang ada, sehingga nantinya akan menghasilkan sistem yang

terjaga dan terkoordinasi dengan baik serta dapat menjalin kerjasama yang sempurna, dan pada akhirnya akan menghasilkan kekompakan gerak pada setiap tari Saman yang mereka bawakan.

6.2. SARAN

Saran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Kepada penari Saman khususnya para penari Saman dalam ekstrakurikuler SMPN 25 Bandar Lampung agar dapat mengembangkan dan memperbanyak bentuk komunikasi antarpribadi, khususnya bentuk komunikasi antarpribadi nonverbal yang dipakai dalam menari Saman serta tetap menjaga hubungan komunikasi antarpribadi supaya dapat mengisi kekosongan yang tidak didapatkan pada saat komunikasi kelompok, sehingga dihasilkan kekompakan gerak pada setiap tari Saman yang dibawakan.

2. Kepada pelatih tari khususnya pelatih tari dalam ekstrakurikuler SMPN 25 Bandar Lampung agar dapat pula mengembangkan dan menyeimbangkan porsi komunikasi antarpribadi, jadi tidak hanya mengandalkan jenis komunikasi kelompok saja.

3. Kepada penari Saman khususnya para penari Saman dalam ekstrakurikuler SMPN 25 Bandar Lampung untuk terus mengembangkan bakat menarinya, bukan hanya dalam menarikan tari Saman tetapi juga

jenis tari tradisional Indonesia yang lain. Agar kebudayaan Indonesia tetap terjaga dan terpelihara.

4. Kepada ekstrakurikuler seni tari SMPN 25 Bandar Lampung agar dapat terus mengajarkan tarian-tarian tradisional kepada generasi penerus bangsa. Bukan hanya jenis tari Saman saja tetapi juga jenis tari tradisional lain, supaya budaya tari tradisional yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tetap dapat terjaga dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Tidak dapat dipungkiri bahwa komunikasi merupakan salah satu hal yang sangat vital dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak ada satu orang manusia yang tidak pernah berkomunikasi selama hidupnya. Melalui komunikasi manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Komunikasi memegang peranan penting dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat sebagai media bertukar pesan. Tanpa adanya komunikasi, maka akan sangat mungkin timbul kesalahpahaman dalam memberi ataupun menerima pesan atau informasi.

Komunikasi dapat dikatakan efektif apabila terjadi kesamaan makna antara komunikator (pemberi pesan) dan komunikan (penerima pesan). Pesan atau informasi yang dikomunikasikan pun tidak hanya terbatas pada pesan verbal saja, namun komunikasi dapat pula dilakukan secara nonverbal. Lasswell menyebutkan bahwa ada tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab mengapa manusia perlu berkomunikasi. Pertama adalah hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya. Kedua adalah upaya manusia untuk dapat

beradaptasi dengan lingkungannya. Dan ketiga adalah upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi.

Mengingat hakikat hidup manusia sebagai makhluk sosial, maka komunikasi yang sangat sering dilakukan tiap individu sebagai proses untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan individu lainnya maupun lingkungan sekitar yaitu komunikasi antarpribadi. Komunikasi antarpribadi itu sendiri dapat diartikan sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan diantara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang, dengan berbagai efek dan umpan balik (feed back). Dalam definisi ini setiap komponen harus dipandang dan dijelaskan sebagai bagian-bagian yang terintegrasi dalam tindakan komunikasi antarpribadi.

Dalam pengaplikasiannya, komunikasi antarpribadi banyak dipakai di segala aspek kehidupan. Salah satunya digunakan pula dalam bidang seni, sebab komunikasi antarpribadi dapat mengembangkan orang untuk saling mengetahui satu sama lain dengan lebih baik. Tidak hanya seni dalam bidang suara dan musik saja, namun dalam seni tari pun juga harus menggunakan komunikasi antarpribadi agar tercipta keserempakan gerak antar penari. Tari sebagai bahasa gerak merupakan alat ekspresi manusia sebagai media komunikasi yang universal dan dapat dinikmati oleh siapa saja. Sebagai sarana komunikasi, tari memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat.

Hal itu pula yang juga dibutuhkan dalam tari Saman. Tari daerah yang berasal dari Aceh ini merupakan salah satu jenis tari yang sangat menuntut

kekompakan yang sangat tinggi antara gerak serta nyanyian. Hal ini dikarenakan posisi penari yang satu dengan yang lain saling berdempetan sehingga tidak adanya ruang atau celah antar penari. Selain itu keseragaman formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dan penilaian dalam menampilkan tarian ini. Permasalahan timbul, ketika proses menari sedang dilakukan tidak terdapat koordinasi yang baik antar penari, yang disebabkan kurangnya pengetahuan para penari karena tidak ada atau kurang komunikasi antarpribadi para penari dalam satu kelompok, akibatnya tarian yang ditampilkan tidak serempak sehingga tidak tercipta kesempurnaan dan keindahan dalam tarian tersebut.

Berawal dari kecintaan peneliti akan seni tari khususnya tari Saman, maka peneliti tertarik untuk meneliti masalah mengenai peran komunikasi antarpribadi dalam membangun kekompakan gerak penari pada tari saman. Peneliti lebih memilih komunikasi antarpribadi dibanding jenis komunikasi yang lain dikarenakan kekuatan untuk mempersuasi dan menginformasikan pesan pada komunikasi antarpribadi lebih besar dibanding komunikasi yang lain dalam seni tari. Hal ini dapat terlihat dari sikap para penari yang lebih suka bertanya dan berlatih berdua dengan sesama penari yang dianggap lebih mahir dalam kelompok tari dibanding dengan pelatih tari. Alasan lain peneliti mengangkat tari Saman untuk diteliti dikarenakan dewasa ini banyak remaja Indonesia yang kurang mencintai seni tari tradisional. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya remaja atau siswa yang mempelajar itarian modern (modern dance) di sekolah atau sanggar tari dibanding menarikan tarian tradisional, salah satunya seperti tari Saman. Kurangnya kecintaan

remaja Indonesia terhadap budaya sendiri khususnya seni tari, membuat kekhawatiran penulis terhadap pelestarian budaya bangsa Indonesia. Selain sebagai pelestarian budaya daerah, alasan lain peneliti mengangkat tari Saman dalam penelitian ini yaitu untuk lebih mengenalkan kepada masyarakat, khususnya masyarakat lampung mengenai tari Saman, karena cukup banyak masyarakat di Lampung yang belum mengetahui tentang tari Saman, padahal tari Saman sudah mulai banyak dikenal di beberapa negara lain, terbukti dari banyaknya video tentang tari Saman di internet yang ditarikan di luar negeri.

Peneliti memilih penari dalam ekstrakurikuler seni tari SMPN 25 Bandar Lampung karena ekstrakurikuler seni tari SMPN 25 Bandar Lampung merupakan satu-satunya sekolah menengah tingkat pertama yang mempelajari tari Saman dan para penari yang notabennya masih berusia remaja tersebut merupakan generasi penerus dari pelestarian budaya tari Indonesia. Selain itu, dengan banyaknya prestasi yang dimiliki oleh ekstrakurikuler seni tari SMPN 25 Bandar Lampung membuat keingintahuan penulis tentang apakah ada peran komunikasi didalamnya. Sehingga peneliti merasa pentingnya peran komunikasi antarpribadi yang terjalin agar pemahaman antar penari bersifat sama dan memiliki pemaknaan yang sama pula, sehingga terciptalah suatu gerakan yang indah dan serempak.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah yang akan diteliti yaitu :

“Bagaimanakah peran komunikasi antarpribadi dalam membangun kekompakan gerak penari pada tari Saman?”

1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menggambarkan dan menjelaskan peran komunikasi antarpribadi dalam membangun kekompakan gerak penari pada tari Saman.

1.4. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini yaitu :

a. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu komunikasi dan juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya khususnya yang berkaitan dengan peran komunikasi antarpribadi dalam membangun kekompakan gerak penari pada tari Saman.

b. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran penulis dalam memberikan gambaran dan informasi mengenai peran komunikasi antar pribadi dalam membangun kekompakan gerak

penari pada tari Saman sehingga dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian berikutnya yang sejenis.

Dokumen terkait