• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Latihan/ Tugas/ Kasus

Dalam dokumen Modul Bina SMA-SMK KK H Prof-Ped (Halaman 39-162)

Kegiatan kreatif mencipta cerpen diantaranya melanjutkan penceritaan. Setiap orang akan mengarang sesuai dengan kekuatan imajinasinya. Akan tampak variasi cerita karena setiap orang dibebaskan berkreasi menutup cerita.

LK-02

Jenis prosa dapat dibagi menjadi empat. Jelaskan!: 1. Prosa Naratif

2. Yaitu karangan yang isinya menceritakan suatu peristiwa atau kejadian dengan tujuan agar pembaca seolah-olah mengalami kejadian yang diceritakan itu.

3. Prosa Deskriptif

4. Yaitu karangan yang isinya menggambarkan suatu objek sehingga pembaca seolah-olah melihat sendiri objek yang digambarkan itu.

5. Prosa Eksposisi

6. Yaitu karangan yang memaparkan sejumlah pengetahuan atau informasi dengan sejelas-jelasnya.

7. Prosa Argumentasi

8. Yaitu karangan yang berisi ide atau gagasan yang dilengkapi data-data kesaksian bertujuan mempengaruhi pembaca untuk menyatakan persetujuannya.

30 Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonsia SMA Kelompok Kompetensi Pedagogik H LK-03

1. Unsur intrinsik prosa terdiri dari: 2. Tema

Yaitu suatu yang menjadi pokok masalah atau persoalan sebagai bahan karangan, yang diungkapkan dalam suatu cerita oleh pengarang. Tema prosa fiksi terutama novel dapat terdiri dari tema utama serta beberapa tema bawahan. Sedangkan untuk cerpen (cerita pendek) hanya memiliki tema utama saja.

3. Alur/Plot

Yaitu urutan atau kronologi peristiwa yang dilukiskan pengarang dalam suatu cerita rekaan, terjalin satu dengan yang lainnya. Alur dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut.

Alur umum, tahap-tahapannya adalah sebagai berikut : 4. Eksposisi (Perkenalan/Pengantar)

Eksposisi adalah proses penggarapan serta memperkenalkan informasi penting kepada para pembaca. Melalui eksposisi, seorang pengarang mulai melukiskan atau memaparkan suatu keadaan, baik keadaan alam maupun tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita tersebut, serta informasi-informasi yang akan diberikan pengarang kepada pembaca melalui uraian eksposisi tersebut.

5. Komplikasi adalah adanya masalah yang terjadi di antara para tokoh, baik tokoh dengan tokoh, tokoh dengan tempat, maupun tokoh dengan suasana yang terdapat dalam cerita rekaan.

6. Klimaks (Puncak Ketegangan)

Klimaks adalah suatu permasalahan yang telah mencapai pada puncaknya (meruncing).

7. Antiklimaks (Ketegangan Menurun/peleraian)

Antiklimaks adalah suatu peristiwa yang ditandai dengan menurunnya tingkat permasalahan yang terjadi pada tokoh.

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMA Kelompok Kompetensi Profesional H 31 8. Resolusi (Penyelesaian)

Resolusi adalah kejadian akhir yang merupakan penyelesaian permasalahan di atara para tokoh cerita.

LK-04

Jenis penggambaran watak tokoh dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu:

1. Metode analitik, yaitu pemaparan secara langsung (eksplisit) watak atau tokoh dalam cerita, seperti; penyayang, penyabar, keras kepala, baik hati, pemarah, dan lain sebagainya.

2. Metode dramatik, yaitu metode penokohan yang dipergunakan pencerita dengan membiarkan para tokohnya untuk menyatakan diri mereka sendiri lewat kata-kata, dan perbuatan mereka sendiri, misalnya lewat dialog, jalan pikiran tokoh, perasaan tokoh, perbuatan, sikap tokoh, lukisan fisik, dan sebagainya.

3. Metode kontekstual, yaitu cara menyatakan watak tokoh melalui konteks verbal yang mengelilinginya. Jelasnya, melukiskan watak tokoh dengan jalan memberikan lingkungan yang mengelilingi tokoh, misalnya: kamarnya, rumahnya, tempat kerjanya, atau tempat di mana tokoh berada. Watak tokoh terdiri dari sifat, sikap, serta kepribadian tokoh. Penokohan dapat dilakukan melalui dimensi (a) fisik, (b) psikis, dan (c) sosial.

LK-05

Ada empat macam sudut pandang, antara lain :

1. Pengarang sebagai orang pertama sebagai pelaku utama (pengarang = aku);

2. Pengarang sebagai orang pertama sebagai pelaku sampingan; 3. Pengarang berada di luar cerita sebagai orang ketiga; dan

4. Kombinasi atau campuran, kadang di dalam dan kadang-kadang di luar cerita.

32 Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonsia SMA Kelompok Kompetensi Pedagogik H LK-06

Bentuk-bentuk prosa lama adalah: 1. Hikayat

2. Sejarah (Tambo) 3. Kisah

4. Dongeng

LK-07

Bentuk-bentuk prosa baru adalah: 1. Roman 2. Novel 3. Cerpen 4. Riwayat 5. Kritik 6. Resensi 7. Esai LK-08

Tahap-tahap apresiasi sastra dapat dilakukan dalam beberapa kegiatan:

1. Tahap penikmatan atau menyenangi. Tindakan operasionalnya pada tahap ini adalah membaca karya sastra (puisi maupun novel}, menghadiri acara deklamasi, dan sebagainya.

2. Tahap penghargaan. Tindakan operasionalnya, antara lain, melihat kebaikan, nilai, atau manfaat suatu karya sastra, dan merasakan pengaruh suatu karya ke dalam jiwa, dan sebagainya.

3. Tahap pemahaman. Tindakan opersionalnya adalah meneliti dan menganalisis unsurintrinsik dan unsur ektrinsik suatu karya: astra, serta berusaha menyimpulkannya.

4. Tahap penghayatan. Tindakan operasionalnya adalah rnenganalisis lebih lanjut akan suatu karya, mencari hakikat atau makna suatu

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMA Kelompok Kompetensi Profesional H 33 karya beserta argumentasinya; membuat tafsiran dan menyusun pendapat berdasarkan analisis yang telah dibuat.

5. Tahap penerapan. Tindakan operasionalnya adalah mclahirkan ide baru, mengamalkan penemuan, atau mendayagunakan hasil operasi dalam mencapai material, moral, dan struktural untuk kepentingan sosial, politik, dan budaya

LK-09

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menulis prosa deskripsi sebagai berikut:

1. Rumuskan dahulu tujuan yang hendak dicapai oleh penulis;

2. Amatilah dengan seksama objek yang dijadikan topik dalam penulisan tersebut;

3. Buatlah perincian tentang apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan oleh penulis mengenai objek tersebut,terutama yang berhubungan dengan tujuan penulisan;

4. Supaya kekhususan menonjol, berilah penjelasan tambahan.

LK-10

Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam menulis prosa!

1. Teknik Reportase (deskripsi) merupakan teknik ulasan dari peristiwa yang dilihat baik peristiwa dalam perjalanan maupun peristiwa pengalaman.

Deskripsi menyajikan gambaran tentang suatu hal, suatu masalah atau suatu benda. Dengan kata lain karangan yang bercorak deskriptif isinya melukiskan suatu hal, suatu masalah, suatu peristiwa atau suatu benda.

a. Merumuskan tujuan

Sebagai contoh kita dapat merumuskan tujuan, misalnya : Memberi gambaran kepada pembaca khususnya para pelajar

34 Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonsia SMA Kelompok Kompetensi Pedagogik H akan perlunya menjaga akeamanan dn ketertiban lingkungan sekitarnya.

b. Mengumpulkan data

Data dapat dikumpulkan melalui:

a) penglihatan : apa yang kita lihat di sekitar kita. b) pendengaran : apa yang kita dengar

c) apa yang kita rasakan dan apa yang kita alami

Data yang terkumpul diinventarisasi, seleksi dan disusun ke dalam kerangka karangan.

c. Kerangka karangan

Seperti telah kita ketahui, kerangka karangan yang terperinci dengan baik akan memudahkan kita menyusun sebuah karangan selanjutnya.

2. Teknik Evita merupakan teknik menulis prosa dengan melibatkan siswa secara langsung menjadi tokoh dalam suatu cerita yang akan ditulis. Langkah pertama munculkan seorang tokoh bernama Evita yang dalam hal ini dijadikan sebagai objek konflik, langkah kedua siswa menjadi tokoh lain yang terlibat peristiwa dengan langsung mendialogkan dengan tokoh lain.Selanjutnya siswa diminta untuk mengungkapkan kembali peritiwa yang baru saja mereka dialogkan menjadi sebuah prosa. Terserah siswa akan memulai dari peristiwa mana yang penting dasar cerita mereka sesuai dengan konflik yang mereka dialogkan.

3. Teknik Kenangan Lama merupakan teknik menulis prosa dengan melibatkan memori (kenangan) yang paling berkesan dalam diri siswa. kemampuan menggali sesuatu yang pernah dialami dan keterampilan meramu konflik menjadi sebuah alur yang runtut merupakan satu modal besar bagi siswa.

4. Teknik Dia yang Malang merupakan teknik menulis prosa dengan menceritakan teman, sahabat, atau orang lain yang mengalami peristiwa tragis atau mengenaskan. Dalam teknik ini pigura cerita merupakan satu bagian yang menarik untuk masuk

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMA Kelompok Kompetensi Profesional H 35 ke inti cerita. Maksudnya sebelum ke inti kemalangan, rangkaian alur diawali dengan peritiwa pertemuan dengan tokoh yang malang kemudian dia menceritakan, setelah itu akhiri dengan peristiwa perpisahan menggunakan latar yang sama saat pertemuan pertama.Jadi ending cerita berlatar sama dengan latar pertemuan.

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMA Kelompok Kompetensi Profesional H 37

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2

MEMENTASKAN NASKAH DRAMA SEDERHANA

A. Tujuan

Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan memiliki keterampilan bermain drama.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

KOMPETENSI INTI (KI) KOMPETENSI GURU MAPEL (KG) INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI 20. Menguasai materi,

struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

20.7 Mengapresiasi karya sastra secara reseptif dan produktif. 20.7.6 Mementaskan naskah drama sederhana Indonesia

C. Uraian Materi

Pembelajaran sastra di sekolah merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Banyak manfaat yang dapat dipetik dengan mempelajari sastra, seperti yang dikatakan oleh Horatius ’dulce et utile’. Ungkapan yang berarti menyenangkan dan bermanfaat ini, berkaitan dengan segala aspek hiburan yang diberikan dan segala pengalaman hidup yang ditawarkan oleh sastra.

Agar pembelajaran sastra dapat diterima dengan baik, pengajar sastra dituntut minimal dapat: (1) menyenangi sastra, (2) menguasai materi sastra, (3) memahami hakikat dan tujuan pembelajaran sastra, (4) memiliki kemampuan mengapresiasi sastra, dan (5) menguasai metode pengajaran dan penilaian sastra.

38 Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonsia SMA Kelompok Kompetensi Pedagogik H Modul ini berisi tentang pembelajaran mementaskan naskah drama sederhana. Sesuai dengan tujuan apresiasi maka kompetensi yang ingin dicapai yaitu dapat memantaskan naskah drama sederhana secara reseptif dan produktif agar memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang drama. Dengan demikian akan mendapatkan pengetahuan dasar tentang sastra khsususnya mementaskan naskah drama, bagaimana menikmati drama, bahkan kesadaran yang lebih baik terhadap diri sendiri, orang lain, serta kehidupan sebagai upaya pembentukan watak yang baik.

Mementaskan Naskah Drama Sederhana Indonesia a. Mengenal Drama

Drama merupakan cabang seni sastra sekaligus seni pertunjukan yang dapat berbentuk puisi maupun prosa. Dengan demikian, jika kita berbicara mengenai drama berarti terdapat 2 pengertian, yaitu: (1) drama sebagai seni sastra dan (2) drama sebagai seni pertunjukan.

Drama sebagai seni sastra berbentuk naskah drama. Dengan kata lain, naskah drama sering disebut juga sebagai text play, repertoir, atau pun closet-drama. Naskah drama berupa bacaan atau karya sastra yang memerlukan pembaca, serta merupakan milik pribadi pengarangnya. Sebuah naskah drama membutuhkan penggarapan dengan baik, agar tercipta sebuah pertunjukan yang baik pula.

Agar Anda dapat lebih mengenal ciri naskah drama, perhatikan cuplikan teks drama Kalung Ajaib karangan Subdiyanto berikut ini.

(Di kamar tidur Sari. Malam hari hampir subuh. Sari sedang gelisah dalam tidurnya. Ayah datang membangunkan Sari. Lampu dan musik pembukaan pengantar suasana ke dunia impian Sari. Semua peristiwa babak satu ini terjadi dalam dunia impian Sari.)

1. AYAH : “Sari ... Sari ... Sari ... Bangunlah! Ayahmu datang, Sari.” 2. SARI : (Bangun. Duduk. Heran.)

“Ayah? Benarkah kau ayahku? Bukankah ayah sudah meninggal?”

3. AYAH : “ Benar katamu, Sari. Aku ayahmu yang telah meninggal. Aku datang padamu karena aku lihat kau bersedih dalam

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMA Kelompok Kompetensi Profesional H 39 tidurmu. Aku bermaksud akan membahagiakan kamu. Apa yang kausedihkan, Sari?”

4. SARI : “Ayah akan membahagiakan aku? Bisakah ayah memenuhi segala keinginanku?”

5. AYAH : “Ya Sari, aku akan memenuhi segala keinginanmu.” (Ayah mengeluarkan Kalung Ajaib.)

“Terimalah ini, Kalung Ajaib, yang akan bisa memenuhi segala keinginanmu. Kalau kau menginginkan sesuatu,

mintalah pada Kalung Ajaib ini, tentu akan kau dapatkan segala apa yang kau inginkan.” (Menyerahkan Kalung Ajaib. Sari menerimanya dengan senang.)

6. SARI : “Terima kasih, Ayah. Saya sangat senang.”

7. AYAH : “Sari, dengarlah baik-baikpesan ayah. Kalung Ajaib itu tak boleh perlihatkan kepada siapa pun juga. Kau tak boleh menceritakan hal Kalung Ajaib ini kepada orang lain. Kau tak boleh mengatakan kepada siapa pun juga, dari mana kaudapatkan segala apa yang kau miliki secara ajaib ini. Itu adalah pantangan!”

8. SARI : “Ya, Ayah. Sari akan merahasiakan Kalung Ajaib ini.”

9. AYAH : “Nah, sekarang tidurlah, ayah mau pergi.” (Sari menyimpan Kalung Ajaib di bawah bantal lalu berbaring. Ayah merapikan selimut Sari,lalu membelai kepala Sari.)“Selamat tinggal Sari. Berhati-hatilah. Ingatlah pesan Ayah baik-baik.”

Pada bagian awal teks drama di atas, terdapat tulisan yang diberi tanda kurung (...). Bagian tersebut dinamakan notasi. Notasi merupakan bagian dari naskah drama yang tidak diucapkan karena bukan merupakan dialog, melainkan gambaran situasi atau pun gambaran gerak. Notasi tidak selalu ditulis di dalam kurung, dapat pula ditulis dalam huruf kapital semua. Perhatikan dialog ketika Sari terbangun. Kata (Bangun. Duduk. Heran.) yang terletak di dalam tanda kurung merupakan notasi. Dengan demikian tidak diucapkan oleh Sari, melainkan dilakukan atau dikerjakan. Selain itu ada pula notasi yang ditulis dengan huruf biasa, namun penulisannya sejajar dengan nama-nama tokoh.

Selain notasi tentu Anda melihat bahwa dalam teks tersebut terdapat dialog antara Sari dan ayahnya yang sudah meninggal. Dialog dan notasi merupakan unsur intrinsik sekaligus ciri dari sebuah naskah drama.

40 Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonsia SMA Kelompok Kompetensi Pedagogik H Lakon drama lebih mementingkan perwatakan, namun prosa lebih mementingkan penokohan. Perwatakan adalah cara kerja pengarang menggambarkan watak tokoh. Cara pengarang menampilkan watak tokoh dapat dilakukan melalui 3 dimensi, yaitu:

1) Dimensi fisiologis

Pengarang menggambarkan watak tokoh melalui gambaran fisiknya, antara lain dikemukakan jenis kelamin tokoh, usia ciri tubuh, ciri khas yang menonjol, cacat jasmani, ras.

2) Dimensi psikologis

Pengarang mengemukakan kejiwaan tokoh yang antara lain meliputi: temperamen, moral,ambisi, kegemaran.

3) Dimensi sosiologis

Pengarang menggambarkan keadaan sosial tokoh yang di antaranya meliputi: suku, bangsa,agama, ideologi, pekerjaan, jabatan, serta kelas ssoial.

Fokus antara drama dengan prosa fiksi dibedakan dengan adanya drama yang lebih mementingkan plot dibandingkan dengan alur. Dalam prosa fiksi, alur menduduki peran yang sangat penting. Plot merupakan jalinan konflik yang pada akhirnya akan menimbulkan klimaks. Konflik terjadi karena adanya sebab akibat yang menghubungkan antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya di dalam cerita. Konflik juga terjadi karena adanya pertentangan karakter dan pertentangan kepentingan dari para tokoh. Tahapan plot di dalam drama meliputi:

1) Eksposisi

Pada tahap ini diperkenalkan para tokoh dengan karakter masing-masing kepadapembaca.

2) Konflik

Pada tahap ini mulai muncul hambatan, sehingga timbullah pertikaian awal yang disebabkan oleh adanya perbedaan karakter dari masing-masing tokoh. Konflik pun mulai terjadi. Konflik ialah ketegangan yang

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMA Kelompok Kompetensi Profesional H 41 terjadi karena adanya pertentangan, yang terwujud melalui tokoh-tokoh lakon. Konflik terdiri atas: (a) konflik internal atau konflik batin, serta (b) konflik eksternal atau konflik sosial. Konflik internal adalah konflik yang terjadi pada batin seorang tokoh, sedangkan konflik eksternal merupakan konflik yang terjadi antara: (1) tokoh dengan tokoh lain, (2) tokoh dengan masyarakat, dan (3) tokoh dengan alam.

3) Komplikasi

Pada tahap ini konflik semakin banyak dan saling terkait sehingga terjadilah kerumitan.

4) Klimaks

Klimaks merupakan titik puncak cerita dalam lakon drama. Penyebab timbulnya klimakskarena adanya peningkatan konflik yang semakin lama semakin memuncak takterkendali.

5) Resolusi

Tahap ini ditandai dengan mulai meredanya konflik. Para tokoh sudah mulai dapat menemukan penyelesaian bagi pertikaian mereka

sebelumnya. 6) Denoument

Tahap ini berisi keputusan yang diambil para tokoh untuk mengakhiri pertikaianyang sekaligus mengakhiri lakon drama. Denoument dapat berupa pengakhiran yang baik (happy ending), pengakhiran yang buruk (sad ending), atau pun pengakhiran lakon diserahkan pada penafsiran pembaca sehingga bersifat terbuka (open ending).

b. Jenis Drama

Ada tiga unsur yang dapat dibicarakan dalam drama, yaitu bentuk, unsur, serta macam drama. Berdasarkan bentuknya drama terdiri atas: (1) drama tradisional yang meliputi drama klasik serta drama rakyat, dan (2) drama modern yang meliputi drama konvensional dan drama eksperimental.

42 Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonsia SMA Kelompok Kompetensi Pedagogik H Unsur drama mencakup vokal dan gerak. Unsur vokal dalam naskah drama terdiri dari: prolog, dialog, epilog, serta monolog. Adapun unsur gerak yang lebih banyak muncul dalam pementasan drama, meliputi: mimik, gesture, dan pantomimik. Prolog merupakan bagian permulaan dalam naskah drama, yang bersifat pengantar dan memberikan gambaran umum secara keseluruhan. Percakapan antartokoh dinamakan dialog.

Dialog merupakan hakikat utama dalam drama, yang membedakannya dari genre sastra lain. Dialog yakni cakapan yang terjadi antartokoh yang menjalankan arus cerita menuju ke konflik, klimaks, serta berakhir pada penyelesaian cerita. Dalam drama terjadi dialog antartokoh, dialog tokoh dengan Tuhan, tokoh dengan penonton, bahkan tokoh dengan dirinya sendiri. Dengan demikian di dalam drama dapat terjadi cakapan (dialog) serta cakapan tunggal (monolog).

Apabila seorang tokoh berbicara dengan dirinya sendiri atau mengungkapkan pikiran dan perasaannya tanpa membutuhkan tanggapan tokoh lain, hal tersebut dinamakan monolog. Epilog ada pada bagian akhir atau penutup yang menceritakan kembali inti lakon atau komentar singkat tentang lakon.

Macam drama dapat dilihat berdasarkan isi dan pementasannya. Isi drama berdasarkan sifatnya terdiri dari drama tragedi, komedi, tragikomedi, melodrama, dan farce. Isi drama berdasarkan jenis terdiri atas: drama historis, drama didaktis, drama ide, dan drama problema. Adapun berdasarkan pementasannya terdiri atas: (1) drama atau teater, (2) drama mini kata, (3) drama radio, (4) drama bersajak, (5) pantomim, (6) opera atau operet, (7) sendratari, (8) tablo atau tableau, dan (9) lawak.

2. Mementaskan Naskah Drama Sederhana Indonesia

a. Pengertian Drama

Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani yaitu “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya. Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMA Kelompok Kompetensi Profesional H 43 sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut aktor atau lakon.

Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak dan konflik merupakan sumber pokok dari drama.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) drama memiliki beberapa pengertian. Pertama, drama diartikan sebagai komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Kedua, cerita atau kisah terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Ketiga, kejadian yan menyedihkan.

Dalam pementasan drama, juga dikenal istilah unsur intrinsik.Unsur-unsur intrinsik drama adalah intrinsik.Unsur-unsur-intrinsik.Unsur-unsur pembangunan struktur yang ada di dalam drama itu sendiri. Unsur-unsur intrinsik drama menurut Akhmad Saliman (1996 : 23) ada 7 yaitu: (1) alur, (2) amanat, (3) bahasa, (4) dialog, (5) latar, (6) tema, dan (7) tokoh.

b. Bentuk-Bentuk Drama

1. Drama menurut masanya

Drama menurut masanya, dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama:

a. Drama Baru / Drama Modern

Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada mesyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.

2) Drama Lama / Drama Klasik

Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain sebagainya.

44 Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonsia SMA Kelompok Kompetensi Pedagogik H 2. Berdasarkan Bentuk Sastra Cakapnya

Berdasarkan bentuk sastra cakapannya, drama dibedakan menjadi dua: a. Drama puisi, yaitu drama yang sebagian besar cakapannya disusun

dalam bentuk puisi atau menggunakan unsur-unsur puisi.

b. Drama prosa, yaitu drama yang cakapannya disusun dalambentuk prosa.

3. Berdasarkan sajian isinya

a. Tragedi (drama duka), yaitu drama yang menampilkan tokoh yang sedih atau muram, yang terlibat dalam situasi gawat karena sesuatu yang tidak menguntungkan. Keadaan tersebut mengantarkan tokoh pada keputusasaan dan kehancuran. Dapat juga berarti drama serius yang melukiskan tikaian di antara tokoh utama dan kekuatan yang luar biasa, yang berakhir dengan malapetaka atau kesedihan.

b. Komedi (drama ria), yaitu drama ringan yang bersifat menghibur, walaupun selorohan di dalamnya dapat bersifatmenyindir, dan yang berakhir dengan bahagia.

c. Tragikomedi (drama dukaria), yaitu drama yang sebenarnya menggunakan alur duka cita tetapi berakhir dengan kebahagiaan. 4. Berdasarkan kuantitas cakapannya

a. Pantomim, yaitu drama tanpa kata-kata

b. Minikata, yaitu drama yang menggunakan sedikit sekali kata-kata. c. Dialog monolog, yaitu drama yang menggunakan banyak kata-kata. 5. Berdasarkan besarnya pengaruh unsur seni lainnya

a. Opera/operet, yaitu drama yang menonjolkan seni suaraatau musik. b. Sendratari, yaitu drama yang menonjolkan seni eksposisi.

c. Tablo, yaitu drama yang menonjolkan seni eksposisi. 6. Bentuk-bentuk lain

a. Drama absurd, yaitu drama yang sengaja mengabaikan atau melanggar konversi alur, penokohan, tematik.

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMA Kelompok Kompetensi Profesional H 45 b. Drama baca, naska drama yang hanya cocok untuk dibaca,bukan

dipentaskan.

c. Drama borjuis, drama yang bertema tentang kehidupan kembangsawanan (muncul abad ke-18).

d. Drama domestik, drama yang menceritakan kehidupanrakyat biasa. e. Drama duka, yaitu drama yang khusus menggambarkan kejathan atau

keruntuhan tokoh utama

f. Drama liturgis, yaitu drama yang pementasannya digabungkan dengan upacara kebaktian gereja (di Abad Pertengahan).

g. Drama satu babak, yaitu lakon yang terdiri dari satu babak, berpusat pada satu tema dengan sejumlah kecil pemerangaya, latar, serta pengaluran yang ringkas.

h. Drama rakyat, yaitu drama yang timbul dan berkembang sesuai dengan festival rakyat yang ada (terutama dipedesaan).

c. Pembagian Tugas Dalam Pementasan Drama

Sebelum sampai pada penggarapan naskah untuk pementasan,terlebih dahulu perlu kita kenal beberapa fungsi atau peran dalam pementasan. Pada dasarnya kerja pementasan adalah kerja kelompok atau tim. Tim terbagi menjadi dua, yaitu tim penyelenggara dan tim pementasan.

1. Tim pementasan

Yang dimaksud tim pementasan adalah sekelompok orang yang bertugas menyajikan karya seni (drama) untuk ditonton. Tim pementasan terdiri dari sutradara, penulis naskah, tim artistik, tim tata rias, tim kostum, tim lighting, dan aktor. Sebenarnya tim pementasan ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu tim on stage (di atas panggung) atau aktor, dan tim behind stage (belakang panggung). Kedua tim ini memiliki

peran yang sama dalam mensukseskan

Dalam dokumen Modul Bina SMA-SMK KK H Prof-Ped (Halaman 39-162)

Dokumen terkait