BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. LANDASAN TEORI
4. Pembahasan MARPOL Annex VI
Annex VI of Marpol 73/78 - Regulations for the Prevention of Air Pollution from Ships adalah MARPOL Annex VI, “Peraturan untuk Pencegahan Polusi Udara dari Kapal”, diadopsi pada Konvensi MARPOL 1997. Lampiran ini akan mulai berlaku pada 19 Mei 2005, setelah ratifikasi konvensi oleh Samoa pada 18 Mei 2004, memenuhi persyaratan 15 negara yang mewakili setidaknya 50 persen dari tonase kotor dunia.
MARPOL Annex VI mengatur emisi ke atmosfer dari polutan tertentu dari kapal, termasuk nitrogen okside (NOx), sulfur okside (SOx), senyawa organik volatile (VOC), polychlorinated biphenyls (PCB) dan logam berat, dan klorofluorokarbon (CFC). Zat-zat ini berkontribusi terhadap masalah lingkungan termasuk pengasaman / hujan asam (NOx, SOx), eutrofikasi atau
penipisan oksigen di daratan dan beberapa perairan pesisir (NOx), penciptaan ozon permukaan tanah (VOC dan NOx), penipisan ozon atmosfer (CFC) dan akumulasi PCB dan logam berat dalam rantai makanan yaitu, berbagai masalah lingkungan regional dan global.
Ketika Lampiran VI mulai berlaku, pemilik kapal harus memastikan bahwa semua kapal berkapasitas 400 GT atau lebih, dan semua anjungan dan rig pengeboran yang terlibat dalam pelayaran ke pelabuhan dan perairan tempat konvensi MARPOL berlaku, memiliki Sertifikat Pencegahan Polusi Udara Internasional atau International Air Pollution Prevention Certificate (IAPPC) yang berlaku yang mengonfirmasikan kepatuhan dengan peralatan dan persyaratan operasional Lampiran VI. Sertifikat dikeluarkan atas nama negara bendera. Seperti sertifikat MARPOL lainnya, negara bagian dalam banyak kasus akan mendelegasikan sertifikasi ke masyarakat klasifikasi. Masa tenggang disediakan bagi kapal-kapal yang sedang beroperasi untuk mendapatkan sertifikat yang diperlukan; dalam hal ini survei awal IAPPC harus dilakukan selambat-lambatnya dari jadwal dry-dock setelahnya, meskipun dalam semua kasus dalam waktu tiga tahun sejak tanggal berlakunya.
MARPOL Annex VI, yang pertama kali diadopsi pada tahun 1997, membatasi polutan udara utama yang terkandung dalam gas buang kapal, termasuk sulfur okside (SOx) dan nitro okside (NOx), dan melarang emisi yang disengaja dari bahan perusak ozon (ODS). MARPOL Annex VI juga
16
mengatur pembakaran kapal, dan emisi senyawa organik volatile (VOC) dari kapal tanker.
Setelah diberlakukannya MARPOL Annex VI pada tanggal 19 Mei 2005, Komite Perlindungan Lingkungan Laut atau Marine Environment Protection Committee (MEPC) pada sesi ke - 53 (Juli 2005), sepakat untuk merevisi MARPOL Annex VI dengan tujuan untuk secara signifikan memperkuat batas emisi dengan mempertimbangkan teknologi peningkatan dan pengalaman implementasi. Sebagai hasil dari pemeriksaan tiga tahun, MEPC 58 (Oktober 2008) mengadopsi MARPOL Annex VI yang direvisi dan Kode Teknis NOx 2008 yang terkait, mulai berlaku pada 1 Juli 2010.
Perubahan utama pada MARPOL Annex VI akan melihat pengurangan progresif emisi SOx dari kapal, dengan tutup belerang global pada awalnya berkurang menjadi 3,50% (dari 4,50% saat ini), efektif mulai 1 Januari 2012;
kemudian secara progresif menjadi 0,50%, efektif sejak 1 Januari 2020, tergantung pada tinjauan kelayakan yang harus diselesaikan selambat- lambatnya 2018. Lampiran VI yang direvisi memungkinkan Area Kontrol Emisi atau Emission Control Areas (ECA) ditunjuk untuk SOx dan partikel, atau NOx, atau ketiga jenis emisi dari kapal, tunduk pada proposal dari suatu Pihak atau Pihak pada Lampiran, yang akan dipertimbangkan untuk diadopsi oleh Organisasi, jika didukung oleh kebutuhan yang ditunjukkan untuk mencegah, mengurangi dan mengendalikan satu atau ketiga emisi tersebut dari kapal. ECA Amerika Utara baru, untuk SOx, nitrogen okside (NOx) dan
materi partikulat diadopsi oleh IMO pada bulan Maret 2010. Peraturan untuk mengimplementasikan ECA ini diharapkan mulai berlaku pada Agustus 2011, dengan ECA mulai berlaku sejak Agustus 2012. Pengurangan progresif dalam emisi NOx dari mesin laut juga mulai berlaku, dengan kontrol paling ketat pada apa yang disebut mesin "Tier III", yaitu yang dipasang di kapal yang dibangun pada atau setelah 1 Januari 2016, beroperasi di ECA. MARPOL Annex VI Peraturan untuk Pencegahan Polusi Udara dari Kapal, sampai saat ini, telah diratifikasi oleh 59 negara, mewakili sekitar 84,23% dari tonase kotor armada pengiriman pedagang dunia.
Emisi gas rumah kaca dari kapal. Sementara itu, IMO telah menangani pengurangan gas rumah kaca atau Greenhouse Gases (GHGs) dari kapal, sebagai bagian dari kontribusi IMO terhadap upaya dunia untuk membendung perubahan iklim dan pemanasan global dan kemajuan yang baik telah dilakukan pada langkah-langkah teknis dan operasional terkait, dengan pekerjaan lebih lanjut sedang dilakukan pada langkah-langkah berbasis pasar.
Pertimbangan lebih lanjut dari langkah-langkah untuk mengurangi GHGs dari kapal akan berlanjut pada sesi berikutnya dari Komite Perlindungan Lingkungan Laut dari IMO (MEPC 61), yang akan bertemu dari 27 September hingga 1 Oktober 2010.
a. Implementasi MARPOL Annex VI di Indonesia
MARPOL Annex VI mengatur emisi ke atmosfer dari polutan tertentu dari kapal, termasuk nitrogen okside (NOx), sulfur okside (SOx), senyawa
18
organik volatile (VOC), polychlorinated biphenyls (PCB) dan logam berat, dan clorofluoro carbon (CFC). Zat-zat ini berkontribusi terhadap masalah lingkungan termasuk pengasaman / hujan asam (NOx, SOx), eutrofikasi atau penipisan oksigen di daratan dan beberapa perairan pesisir (NOx), penciptaan ozon permukaan tanah (VOC dan NOx), penipisan ozon atmosfer (CFC) dan akumulasi PCB dan logam berat dalam rantai makanan yaitu, berbagai masalah lingkungan regional dan global.
Penerapan Marine Pollution (Marpol) Annex VI. Annex VI merupakan konvensi internasional yang mengatur tentang polusi udara yang disebabkan oleh kegiatan pelayaran. Selama ini, banyak kapal yang dalam gas buangnya masih banyak mengandung gas NOx dan Sox yang dapat merusak udara.
Penerapan Annex VI membutuhkan banyak persiapan, salah satunya dari sisi teknologi. Namun menurutnya, di Indonesia, banyak pemilik kapal yang enggan menambah biaya untuk membeli teknologi tersebut. Karena menurut pemilik kapal hal itu hanyalah salah satu masalah yang akan dihadapi dalam menerapkan Annex VI ini. Saat ini Indonesia memiliki sekitar 14 ribu kapal. Namun sayangnya, tidak semua kapal tersebut dapat beroperasi dengan baik. Banyak kapal yang telah berumur sangat tua namun masih digunakan. Bahkan jumlah kapal baru Indonesia jauh lebih sedikit dari itu.
Kondisi kapal ini sangat berhubungan dengan operasi kapal. Kapal yang telah berumur tua tentunya akan menghasilkan gas emisi berbahaya yang lebih banyak. Di samping itu, kapal-kapal ini juga akan sulit untuk menerapkan Annex VI sebagai kelengkapannya.
Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) meragukan kesungguhan pemerintah dalam mempersiapkan diri menyongsong diberlakukannya kebijakan internasional tentang pembatasan bahan bakar dengan kandungan sulfur tidak melebihi 0,5%.
Menurut INSA, Indonesia telah meratifikasi MARPOL 73/78 Annex VI yang melarang penggunaan bahan bakar dengan kandungan sulfur melebihi 0,5%, baik yang beroperasi di dalam negeri maupun luar negeri, melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 29 tahun 2012 sehingga Indonesia wajib melaksanakannya. Konvensi MARPOL (termasuk Annex VI) berlaku untuk semua kapal tanpa ada batasan ukuran.
Pembatasan ukuran berlaku untuk perberlakuan kewajiban melakukan sertifikasi (diatas 400 GT). Khusus untuk MARPOL Annex VI, Pasal 14, karena tidak secara spesifik disebutkan, pembatasan kadar sulfur bahan bakar berlaku untuk semua jenis kapal.
Menurut INSA juga mengingatkan bahwa poin 5 Surat Edaran No.
UM. 003/93/14/DJPL-18 yang membolehkan kapal berbendera Indonesia yang beroperasi di wilayah perairan Indonesia untuk menggunakan bahan bakar dengan kandungan sulfur melebihi 0.5% setelah 1 Januari 2020
20
lebih tepatnya berlaku untuk kapal non- konvensi, sedangkan kapal yang beroperasi di Indonesia mayoritas tidak termasuk ke dalam kategori kapal non-konvensi. Menurut INSA, terhadap kapal non - konvensi yang hanya beroperasi di dalam negeri, Pemerintah berhak menyatakan dikecualikan dari ketentuan wajib menggunakan bahan bakar dengan kandungan sulfur tidak melebihi 0,5% dengan catatan Pemerintah mengajukannya kepada IMO. Tanpa persetujuan dari IMO, maka pengecualian tersebut tidak dapat berlaku.
Bagaiamana pelaksanaan penerapan MARPOL Annex VI di atas
Pelaksanaan penerapan MARPOL Annex VI di atas kapal guna mencegah pencemaran udara
Analisis penerapan MARPOL Annex VI di atas kapal MV. MERATUS MANADO guna mencegah polusi udara
Kesimpulan
SELESAI C. KERANGKA PENELITIAN
Dalam penulisan karya ilmiah ini penulis menuangkan pokok – pokok pikiran ke dalam sebuah kerangka berpikir yang dirangkai pada suatu skema alur pembahasan sebagai berikut :
22
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “Penelitian adalah pemeriksaan yang teliti atau penyelidikan, serta kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum”.
Penelitian merupakan suatu proses dari suatu rangkaian langkah-langkah yang dilakukan secara terencana dan sistematis, guna mendapatkan pemecahan masalah atau jawaban terhadap pernyataan-pernyataan tertentu. Dalam penyusunan proposal ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif.
Menurut Dr. Ibrahim, M.A dalam bukunya yang berjudul “Metodologi Penelitian Kualitatif”, pendekatan kualitatif adalah cara kerja penelitian yang menekankan pada aspek pendalaman data demi mendapatkan kualitas dari hasil suatu penelitian. Dengan kata lain, pendekatan kualitatif (qualitative approach) adalah suatu mekanisme kerja penelitian yang mengandalkan uraian deskriptif kata, atau kalimat, yang disusun secara cermat dan sistematis mulai dari menghimpun data hingga menafsirkan dan melaporkan hasil penelitian.
Pada umumnya penelitian merupakan refleksi keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan yang merupakan kebutuhan
dasar manusia sehingga menjadi motivasi untuk melakukan penelitian. Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif.
Menurut Dr. Ibrahim, M.A dalam bukunya yang berjudul “Metodologi Penelitian Kualitatif”, metode deskriptif adalah cara kerja penelitian yang dimaksudkan untuk menggambarkan, melukiskan, atau memaparkan keadaan suatu objek (realitas atau fenomena) secara apa adanya, sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat penelitian itu dilakukan.
B. LOKASI PENELITIAN
Waktu dan tempat yang digunakan penulis untuk melaksanakan penelitiannya yakni di salah satu kapal niaga yaitu di kapal tipe kontainer MV.
MERATUS MANADO dimana penulis nanti akan melaksanakan praktek laut (PRALA) selama satu tahun dari periode November 2019 sampai November 2020.
C. JENIS DAN SUMBER DATA
Menurut Dr. Ibrahim, M.A dalam bukunya yang berjudul “Metodologi Penelitian Kualitatif”, data adalah segala bentuk informasi, fakta dan realita yang terkait atau relevan dengan apa yang dikaji atau diteliti. Data dalam konteks ini bisa berupa kata-kata, lambang, simbol ataupun situasi dan kondisi riel yang terkait dengan penelitian yang dilakukan. Sedangkan sumber data dalam penelitian adalah orang, benda, objek yang dapat memberikan informasi,
24
fakta, data, dan realitas yang terkait atau relevan dengan apa yang dikaji atau diteliti.
Data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penyusunan proposal ini adalah data yang merupakan informasi yang diperoleh penulis melalui pengamatan langsung dan wawancara. Dari sumber-sumber ini diperoleh data sebagai berikut .
1. Data Primer
Data primer adalah segala informasi, fakta, dan realitas yang terkait atau relevan dengan penelitian yang didapatkan di lapangan, dimana kaitan atau relevansinya sangat jelas, bahkan secara langsung. Disebut sebagai data utama (primer), karena data tersebut menjadi penentu utama berhasil atau tidaknya sebuah penelitian. Artinya, hanya dengan didapatkannya data tersebut sebuah penelitian dapat dikatakan berhasil dikerjakan. Dari data itulah pertanyaan utama penelitian dapat dijawab. Dan dari data itu pula, penelitian tersebut dapat dikembangkan menjadi lebih detil, mendalam dan rinci. Data yang memiliki karakteristik seperti inilah yang disebut dengan data utama (primer). (Dr. Ibrahim, M.A,2015).
Dari penelitian yang saya buat, data primer yang saya ambil yaitu warna asap pembakaran dari cerobong asap dan data sampel uji lab bahan bakar.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah segala informasi, fakta dan realitas yang juga terkait atau relevan dengan penelitian, namun tidak secara langsung, atau
tidak begitu jelas relevansi. Data sekunder bisa didapatkan dari buku, artikel, atau media lain dengan cara studi pustaka. Data sekunder ini lebih bersifat kulitnya saja, yang tidak mampu menggambarkan substansi terdalam dari informasi, fakta dan realitas yang dikaji atau diteliti. Sebagai data pendukung (sekunder), informasi ini memang tidak menentukan (tidak substantif), akan tetapi data ini bisa memperjelas gambaran sebuah realitas penelitian. (Dr. Ibrahim, M.A,2015).
Dari penelitian yang saya buat, data sekunder yang saya ambil yaitu dari buku, penelitian sebelumnya dan internet.
D. PEMILIHAN INFORMAN
Pada penelitian ini, informan penelitian merupakan awak kapal di salah satu kapal niaga yang nantinya akan ditempati sebagai tempat melaksanakan praktek laut (PRALA). Dalam penelitian ini, subjek penulis atau informan adalah awak kapal sehari-hari yang berkaitan dengan masalah bagaimana penerapan MARPOL Annex VI upaya pencegahan polusi udara di atas kapal.
Untuk mendapatkan kelengkapan informasi yang sesuai dengan fokus penelitian maka yang dijadikan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Teknik Observasi (Pengamatan)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, observasi dapat diartikan sebagai peninjauan secara cermat. Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui suatu pengamatan, dengan disertai pencatatan-
26
pencatatan terhadap keadaan atau perilaku objek sasaran. Metode ini dilakukan melalui pengamatan langsung pada obyek yaitu mengamati cara pencegahan terhadap masalah yang diteliti diatas kapal. Tujuan penulis mengadakan observasi adalah agar mengerti dan mengetahui penerapan MARPOL Annex VI upaya pencegahan polusi udara di atas kapal.
Pengamatan yang saya ambil di kapal yaitu warna gas buang/asap yang dikeluarkan dari cerobong asap.
2. Teknik Wawancara (Interview)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wawancara adalah suatu kegiatan tanya jawab dengan seseorang (pejabat dan sebagainya) yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal, untuk dimuat dalam surat kabar, disiarkan melalui radio, atau ditayangkan pada layar televisi.
Wawancara merupakan suatu metode yang digunakan dalam suatu penelitian untuk mendapatkan data dan informasi dengan cara tanya jawab atau dialog dengan narasumber yang bersangkutan.
Dalam penelitian ini, metode wawancara dapat pula diartikan sebagai cara pengumpulan informasi dan data dengan bertanya kepada narasumber yang ada, yaitu para perwira di atas kapal terkait dengan penerapan MARPOL Annex VI upaya pencegahan polusi udara di atas kapal, dimana penulis melaksanakan praktek berlayar nantinya.
Berkaitan dengan judul penelitian saya, maka objek wawancara yang saya ambil yaitu MASINIS III. Pemilihan informan yang saya ambil
berkaitan tentang polusi udara yaitu MASINIS III, karena beliau yang bertanggung jawab terhadap data bahan bakar pada kapal. Kandungan zat dari asap yang dikeluarkan dari cerobong asap tidak terlepas dari bahan bakar itu sendiri, maka dari itu pemilihan informan tidak jauh dari pembahasan penelitian ini.
3. Teknik Dokumentasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dokumentasi adalah pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi di bidang pengetahuan, artinya dokumentasi adalah mengumpulkan data dan memilah - milah berdasarkan kebutuhan penelitian kemudian mengolahnya menjadi sebuah informasi. Dokumentasi yang ditunjukkan dalam hal ini adalah segala dokumen yang berhubungan dengan kelembagaan dan administrasi, struktur manajemen dalam upaya menerapkan MARPOL Annex VI upaya pencegahan polusi udara di atas kapal.
E. TEKNIK ANALISIS DATA
Teknik yang digunakan oleh penulis adalah metode deskriptif kualitatif.
Data diperoleh dari berbagai sumber. Penulis akan menganalisa antara data primer dan data sekunder untuk mencari solusi dalam menganalisa pelaksanaan penerapan MARPOL Annex VI dalam upaya pencegahan polusi udara di atas kapal.
Kegiatan yang dilakukan setelah memulai langkah-langkah untuk menganalisis yaitu untuk mengadakan penelitian di kapal untuk mengetahui
28
situasi dengan bekal pengetahuan yang di dapatkan dari studi kepustakaan.
Data yang telah diperoleh diolah sesuai dengan teori dan metode yang telah ditetapkan dari awal sebelum melakukan pengumpulan data. Setelah itu menganalisa hasil yang telah diperoleh.
Menurut Moleong (2000) terdapat tiga komponen utama yang harus benar benar dipahami oleh setiap peneliti.
1. Reduksi Data
Reduksi data dapat didefinisikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan.
2. Penyajian Data
Penyajian data merupakan sekumpulan informasi yang telah tersusun secara terpadu dan mudah dipahami yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan mengambil suatu tindakan.
3. Menarik Simpulan
Menarik kesimpulan merupakan kemampuan peneliti dalam menyimpulkan berbagai temuan data yang diperoleh selama proses penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Lukman. 2007. Kamus Istilah Sastra, Jakarta, Balai Pustaka.
Badudu J.S dan Zain, Sutan Mohammad. (1996). Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Helfre J.F., Boot P.A.C., (2013). Emission reduction in the shipping industry :regulations, exposure and solutions, Sustainlytics.
Humas laut (02 November 2018) Penerapan Pembatasan Kandungan Sulfur pada Bahan Bakar - Kesiapan Pemerintah Khawatirkan Pengusaha Pelayaran Nasional(online) .(http://hubla.dephub.go.id/berita/Pages/PELAYARAN- INDONESIA-SIAP-PATUHI-ATURAN-MARPOL-TENTANG--
KANDUNGAN-SULFUR-DI-BAHAN-BAKAR-KAPAL.aspx) Ibrahim, M. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif. Pontianak.
IMO, Prevention of Air Pollution from Ships (online).
(http://www.imo.org/en/OurWork/Environment/PollutionPrevention/AirPolluti on/Pages/Air-Pollution.aspx)
International Maritime Organization. (2013 Edition). MARPOL (Marine Pollution) Annex VI and NTC 2008 With Guideline for Implementation. 2013.
Kennedy, RD. 2019. An investigation of air pollution on the decks of 4 cruise ships.
A report for Stand.earth. Hopkins University, Bloomberg School of Public Health
Keputusan Menteri Negara Kependudukan Dan Lingkungan Hidup (2012). Pedoman Baku Mutu Lingkungan, Nomor KEP02/MENKLH/I/1988
Marpoltraining, Annex VI - Regulations for the Prevention of Air Pollution from Ships Chapter 3 - Requirements for control of emissions from ships (online).
http://www.marpoltraining.com/MMSKOREAN/MARPOL/Annex_VI/r12.ht m
Mulia, Ricky.M. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Moleong, J. L. (2000). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
30
Moleong, L. J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Offset.
Notosoedirdjo & Latipun. (2005). Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan.Jakarta:
EGC
Nugroho, A. 2005. Bioindikator Kualitas Udara. Universitas Trisakti, Jakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara Presiden Republik Indonesia (Online).
http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/
Prastowo, A. (2010). Menguasai Teknik-teknik Koleksi Data Penelitian. Jogjakarta:
DIVA Press.
Rohmatulloh. 2018. Analisa Risiko Pencemaran LingkunganAkibat Operasional kapal Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. (online).
(https://ejurnal.itats.ac.id/sntekpan/article/view/362)
Sunu, Pramudya. 2001. Melindungi Lingkungan dengan Menerapkan ISO 14001.
Jakarta : Grasindo.
Sudiono, Kandungan Sulfur di Bahan Bakar Laut akan dibatasi 0.5%, DetikNews.
(online). Hari Selasa, Tgl 30 Juli 2019. (https://news.detik.com/berita/d - 4645684/kandungan-sulfur-dibahan-bakar-kapal-laut-akandibatasi-05#)