• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODE PENELITIAN

5.5. Pembahasan

Hipotesis dalam penelitian ini adalah fenomena fly paper effect pada Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Pendapatan Asli Daerah terhadap Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Hasil menunjukkan hipotesis tersebut dapat diterima.

Penelitian ini mendukung dari riset sebelumnya yang dilakukan oleh Maimunah (2006) di mana riset sebelumnya menyimpulkan bahwa besarnya nilai DAU dan PAD mempengaruhi besarnya nilai Belanja daerah (pengaruh positif). Selain itu, hasil pengujian hipotesis alternatif ketiga pada risetnya untuk mengetahui terjadi tidaknya flypaper effect, juga diterima. Hal tersebut membuktikan bahwa pada risetnya telah terjadi flypaper effect pada Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Sumatera. Riset Maimunah (2006) juga menemukan bahwa pengaruh flypaper effect tepat memprediksi Belanja Daerah periode ke depan.

Belanja daerah adalah segala bentuk kewajiban daerah selama periode tahun anggaran yang bersangkutan. Belanja daerah terdiri dari Belanja langsung dan Belanja tidak langsung. Jadi semakin besar pendapatan yang diperoleh dari PAD maka semakin besar pula dana yang harus disalurkan lewat belanja daerah untuk melaksanakan pemerintahan daerah. Kemandirian dalam APBD sangat terkait dengan kemandirian PAD, sebab semakin besar sumber pendapatan yang berasal dari potensi daerah, bukan sumber pendapatan dari bantuan, maka daerah akan semakin leluasa untuk mengakomodasikan kepentingan masyarakatnya tanpa muatan kepentingan Pemerintah Pusat yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah.

Kaitan fenomena flypaper effect dengan aspek lain berupa Dalam pengelolaan pendapatan daerah, sumber pendapatan yang berasal dari pemerintah melalui desentralisasi fiskal dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU) saat ini menempati proporsi yang paling besar terhadap total pendapatan daerah, yakni sekitar 70% dari total pendapatan daerah. Karena begitu besarnya proporsi DAU terhadap

pendapatan sehingga DAU merupakan salah satu indikator perekonomian daerah. Namun disayangkan jumlah DAU yang besar banyak dihabiskan untuk belanja tidak langsung dan pengaruhnya kecil terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kecendrungan dominasi Dana Alokasi Umum (DAU) dalam dana perimbangan karena sesuai kondisi yang digambarkan pada Kabupaten Kota di Sumatera Utara tidak lepas dari tujuan DAU itu sendiri yaitu untuk membiayai pelayanan dasar kepada masyarakat daerah, karena DAU merupakan transfer pusat ke daerah otonom yang penggunaannya ditetapkan sendiri oleh daerah.

Adanya DAU ini adalah untuk menciptakan pemerataan kemampuan keuangan daerah, sehingga daerah yang kurang mampu dari segi pembiayaan urusannya akan memperoleh alokasi DAU yang relatif besar. Meskipun demikian. Fenomena dominasi DAU yang juga terjadi di Kabupaten Kota di Sumatera Utara bukanlah dikarenakan ketidakmampuannya membiayai urusannya sendiri melainkan lebih mengarah pada upaya dan respon positif dari kebijakan nasional yang lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan akan pelayanan dasar masyarakat di daerah yang semakin meningkat secara signifikan seiring perjalanan waktu.

Pemerintah daerah mengalokasikan dana dalam bentuk anggaran belanja daerah dalam APBD untuk menambah belanja modal. Alokasi belanja daerah didasarkan pada kebutuhan daerah akan sarana dan prasarana, baik untuk kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan maupun untuk fasilitas publik. Upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik, pemerintah daerah seharusnya mengubah komposisi belanjanya. Selama ini belanja daerah lebih banyak digunakan untuk belanja rutin

yang relatif kurang produktif. Pemanfaatan belanja daerah hendaknya dialokasikan untuk hal-hal produktif, misalnya untuk melakukan aktivitas pembangunan. Penerimaan pemerintah hendaknya lebih banyak untuk program-program pelayanan publik, hal ini menyiratkan pentingnya mengalokasikan belanja pemerintah daerah untuk berbagai kepentingan publik.

Dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal, menunjukkan bahwa potensi fiskal pemerintah daerah antara satu dengan daerah yang lain bisa jadi sangat beragam. Perbedaan ini pada gilirannya dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang beragam pula. Pemberian otonomi yang lebih besar akan memberikan dampak yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi, hal inilah yang mendorong daerah untuk mengalokasikan secara lebih efisien berbagai potensi lokal untuk kepentingan pelayanan publik.

Dana Alokasi Umum (DAU) yang dialokasikan pada Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Berkaitan dengan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, hal tersebut merupakan konsekuensi adanya penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dengan demikian, terjadi transfer yang cukup signifikan di dalam APBN dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan pemerintah daerah secara leluasa dapat menggunakan dana ini apakah untuk memberi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat atau untuk keperluan lain yang tidak penting.

DAU merupakan salah satu alat bagi pemerintah pusat sebagai alat pemerataan pembangunan di Indonesia yang bertujuan untuk mengurangi ketimpangan dalam kebutuhan pembiayaan dan penguasaan pajak antara Pusat dan Daerah telah diatasi dengan adanya perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah (dengan kebijakan bagi hasil dan DAU minimal sebesar 25% dari Penerimaan Dalam Negeri). Dengan perimbangan tersebut, khususnya dari DAU akan memberikan kepastian bagi Daerah dalam memperoleh sumber-sumber pembiayaan untuk membiayai kebutuhan pengeluaran yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini sesuai dengan prinsip fiscal gap yang dirumuskan oleh Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan yang sejalan dengan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah bahwa kebutuhan DAU oleh suatu Daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota) ditentukan dengan menggunakan pendekatan konsep fiscal gap, di mana kebutuhan DAU suatu daerah ditentukan oleh kebutuhan daerah (fiscal needs) dan potensi daerah (fiscal capacity). Dengan pengertian lain, DAU digunakan untuk menutup celah/gap yang terjadi karena kebutuhan daerah melebihi dari potensi penerimaan daerah yang ada. Berdasarkan konsep fiscal gap tersebut, distribusi DAU kepada daerah-daerah yang memiliki kemampuan relatif besar akan lebih kecil dan sebaliknya daerah-daerah yang mempunyai kemampuan keuangan relatif kecil akan memperoleh DAU yang relatif besar. Dengan konsep ini beberapa daerah, khususnya daerah yang kaya sumber daya alam dapat memperoleh DAU yang negatif.

Pada riset ini, pengaruh positif DAU terhadap belanja daerah disebabkan oleh porsi DAU yang dikucurkan kepada pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2005 besarnya 5.6% dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Pada tahun 2006 besarnya DAU sebesar 5.9% dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Pada tahun 2007 besarnya DAU yang diakokasikan sebesar 6% dari total DAU yang dikucurkan di Indonesia. Hal tersebut menunjukkan perkembangan DAU yang terus meningkat untuk kabupaten/kota di Sumatera Utara. (www.depkeu.djpk.go.id).

Studi yang dilakukan oleh Legrenzi & Milas (2001) dalam Abdullah dan Halim (2004) menemukan bukti empiris bahwa dalam jangka panjang, transfer berpengaruh terhadap belanja dan pengurangan jumlah transfer dapat menyebabkan penurunan dalam pengeluaran belanja.

Dana Alokasi Khusus (DAK) tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja daerah hal ini disebabkan oleh karena DAK hanya digunakan untuk kepentingan khusus saja. Hal ini sesuai dengan data bahwa DAK hanya dialokasikan untuk Dana Reboisasi (DR) (www.depkeu.djpk.go.id), yang merupakan bagian 40 persen dari total penerimaan Dana Reboisasi. Sejalan dengan UU Nomor 33 Tahun 2004. Pada tahun 2004, DAK Non-DR dialokasikan untuk infrastruktur air bersih serta bidang kelautan dan perikanan, dan pada tahun 2005 terdapat penambahan bidang, yaitu pertanian. Tahun 2006 DAK DR yang sebelumnya merupakan bagian dari DAK dikelompokkan ke dalam DBH SDA Kehutanan. Selanjutnya, pada tahun 2006 bidang yang didanai melalui DAK ditambah bidang lingkungan hidup. Bahkan pada

tahun 2008 bertambah dua bidang, yaitu bidang keluarga berencana (KB) dan bidang kehutanan. Untuk menunjukkan komitmen daerah dalam pelaksanaan DAK, kepada daerah diwajibkan menganggarkan dana pendamping dalam APBD, sekurang- kurangnya 10 persen dari besaran alokasi DAK yang diterima Hal ini menunjukkan kucuran DAK, merupakan bagian yang tidak dominan pada fenomena flypaper effect.

Dana Bagi Hasil (DBH) tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja daerah. Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang berasal dari Dana Bagi Hasil Pajak dan Non Pajak yang berasal dari daerah yang dialokasikan kepada daerah dengan memperhatikan potensi daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh terhadap belanja daerah. Hal ini konsisten dengan hasil yang dicapai oleh Maimunah (2006) dan Kuncoro (2007). kenaikan dalam pajak akan meningkatkan belanja daerah sehingga akhirnya akan memperbesar defisit. Ini juga disebabkan karena pendapatan asli daerah atau juga pajak adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Sumber pendapatan asli daerah berasal dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan pendapatan lain-lain yang sah (Mardiasmo, 2002).

Kewenangan pemerintah daerah dalam pelaksanaan kebijakannya sebagai daerah otonomi sangat dipengaruhi oleh kemampuan daerah tersebut dalam

menghasilkan Pendapatan Daerah. Semakin besar upaya maksimalisasi Pendapatan Asli daerah yang dilakukan suatu daerah, maka semakin besar pula kewenangan pemerintah daerah tersebut dalam melaksanakan kebijakannya. Maksimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam pengertian bahwa keleluasaan yang dimiliki oleh daerah dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) maupun untuk menggali sumber-sumber penerimaan yang baru. PAD adalah pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain. Pendapatan Asli Daerah yang sah yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan. Pemerintah daerah di dalam membiayai belanja daerahnya, selain dengan menggunakan transfer dari pemerintah pusat, mereka juga menggunakan sumber dananya sendiri yaitu PAD.

Dilihat dari landasan teori pada Bab II, fenomena flypaper effect di atas tampaknya lebih sesuai dijelaskan dengan model birokrat dari pada ilusi fiscal. Pertama, birokrat memiliki kebebasan dalam membelanjakan dana perimbangan dan pendapatan asli daerah yang diterimanya dan sebelum dibelanjakan anggaran belanja disusun terlebih dahulu. Sehingga dengan kenaikan dana perimbangan dan pendapatan asli daerah yang tinggi maka realisasi belanja menjadi lebih besar. Aliran pemikiran birokratik diawali oleh Niskanen (1968). Dalam pandangannya, posisi birokrat lebih kuat dalam pengambilan keputusan publik. Ia mengasumsikan birokrat berperilaku memaksimisasi anggaran sebagai proksi kekuasaannya. Kedua, Ketidak tahuan masyarakat akan jumlah dana perimbangan dan pendapatan asli daerah yang diterima dan tidak bisa mempengaruhinya serta mengalami keterbatasan informasi

terhadap anggaran pemerintah daerahnya. Fillimon, Romer, dan Rosenthal (1982) mengembangkan hipotesis ilusi fiskal dalam konteks ketidaktahuan masyarakat akan jumlah transfer yang diterima. Dalam kasus ini, pemerintah daerah menyembunyikan jumlah transfer yang diterima dari pusat dan kemudian membelanjakannya pada level puncak. Akibatnya, masyarakat memandang telah terjadi kenaikan pengeluaran pemerintah daerah dengan kenaikan yang lebih tinggi daripada kenaikan kuantitas yang diminta sebagai cerminan dari kenaikan pendapatannya fenomena ini sejalan dengan hasil penelitian Kuncoro (2007).

Dokumen terkait