• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Need

Dalam dokumen MOTIVASI PERILAKU MERAWAT DIRI PADA LAKI-LAKI (Halaman 100-130)

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

2. Pembahasan Need

Need atau kebutuhan adalah suatu konstruk (fiksi atau konsep hipotesis) yang mewakili suatu daya dalam diri seorang individu pada bagian otak, kekuatan yang mengatur persepsi, apersepsi, pemahaman, konasi, dan kegiatan sedemikian rupa untuk mengubah situasi yang ada dan yang tidak memuaskan ke arah tertentu. Kebutuhan terkadang langsung dibangkitkan oleh proses-proses internal tertentu pada diri seorang individu, tetapi lebih sering (bila dalam keadaan siap) oleh terjadinya salah satu dari sejumlah kecil tekanan yang secara umum efektif (pengaruh-pengaruh lingkungan) dalam diri seorang individu.

Kebutuhan itu mungkin lemah atau kuat, bersifat sementara atau tahan lama. Tetapi biasanya kebutuhan itu bertahan lama dan menimbulkan serangkaian tingkah laku terbuka (atau fantasi) yang akan mengubah situasi permulaan sedemikan rupa untuk menghasilkan situasi akhir yang menyenangkan (meredakan atau memuaskan) individu (Murray, 1938).

Kebutuhan-kebutuhan bisa dibangkitkan dari dalam atau digerakan sebagai akibat rangsangan dari luar. Dalam kedua hal tersebut, kebutuhan

membuat seorang individu aktif dan terus aktif sampai situasi individu dan lingkungan diubah untuk mereduksikan kebutuhan tersebut. Beberapa kebutuhan dibarengi oleh emosi-emosi atau perasaan-perasaan tertentu dan seringkali dibarengi oleh tindakan-tindakan instrumental tertentu yang efektif untuk menghasilkan keadaan akhir yang diinginkan.

Sebelas kebutuhan yang muncul dalam hasil data penelitian ini adalah:

Tabel 2

Prosentase Need Subjek

Need Prosentase Passivity 100 % Recognition 100 % Harm Avoidance 100 % Blame Avoidance 85,7 % Affiliation 85,7 % Playmirth 42,8 % Sentience 42,8% Nurturance 28,6 % Abasement 28,6 % Counteraction 28,6% Cognizance 28,6 %

a. Passivity

Need Passivity adalah kebutuhan ketenangan, mencari atau

menikmati ketenangan, beristirahat, obat penenang, kedamaian. Merasa lelah, apatis, malas. Kebutuhan akan perenungan yang tenang (kontemplasi)

Subjek melakukan perawatan diri karena didorong adanya kebutuhan akan ketenangan dan kenyamanan. Kebutuhan ini tampak menonjol dengan muncul di semua subjek penelitian dengan prosentase 100%. Dengan pergi ke tempat-tempat perawatan diri subyek mendapatkan relaksasi yang menyegarkan fisik sehingga didapatkan rasa tenang dan segar secara pikiran. Ada juga subjek yang mendapatkan rasa nyaman setelah perawatan dengan hasil berupa penampilan yang menjadi lebih baik. Di samping itu mereka berpendapat bahwa di tempat-tempat perawatan bisa mengobati masalah pada wajah, dan keluhan akan terganggunya kenyamanan fisik (karena wajah berjerawat, dll), ataupun sekedar guna menjaga kebersihan wajah. Hal ini didukung dengan adanya penelitian mengenai perawatan diri yang menyebutkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut adalah adanya sebagai tindakan kesenangan yang berfokus pada perasaan kegembiraan dan memanjakan diri sendiri (Sturrock & Pioch, 1998). Kegiatan memanjakan diri inilah yang masuk dalam kategori passivity dimana perilaku subjek adalah dilakukan guna mendapatkan kenyamanan

dengan adanya perawatan diri. Kenyamanan tersebut didapatkan sebagai efek relaksasi memanjakan diri dalam perawatan diri.

Kebutuhan passivity tidak jarang berdiri sendiri tanpa muncul dengan didahului oleh kebutuhan sebelumnya maupun menghasilkan kebutuhan baru. Berdasarkan hasil penelitian, kebutuhan passivity muncul bersama dengan kebutuhan sentience (kebutuhan akan kesan yang menyenangkan). Kebutuhan akan kenyamanan dan ketenangan yang sudah terpenuhi ternyata dapat memunculkan kebutuhan akan kesan yang menyenangkan salah satunya kesan akan rasa dan suasana. Hasil dari perawatan dianggap dapat memunculkan kenyamanan dan ketenangan bahkan ketika kebutuhan tersebut sudah terpenuhi, muncul bayangan subjek mengenai kesan yang menyenangkan dari hasil perawatan. Di sisi lain, kebutuhan passivity dapat muncul bersama dengan kebutuhan harm avoidance, sentience, dan recognition.

b. Recognition

Need Recognition atau kebutuhan eksibisi adalah merupakan

kebutuhan untuk mencari pujian, penghargaan, dan perhatian. Membuat perilaku yang menarik perhatian, mendramatisasi penampilan, menyombongkan diri termasuk bagian di dalamnya. Disini dibedakan dengan Need Achievment yang menunjukan perilaku untuk melakukan sesuatu, karena Need Recognition hanya bertujuan agar orang lain memperhatikan (Murray, 1938).

Kebutuhan akan penghargaan dan perhatian banyak menjadi alasan bagi subjek untuk pergi ke tempat-tempat perawatan. Mereka merasa setelah pergi ke tempat perawatan diri mampu meningkatkan kepercayaan dirinya dan perasaan bangga dengan diri sendiri, juga merasa dapat memperbaiki penampilan dan mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitar. Subjek mempunyai perasaan selalu dinilai oleh lingkungan sekitar. Mereka beranggapan bahwa penampilan yang baik adalah sebagai bentuk pencitraan dirinya sehingga meningkatkan kenyamanan dalam berinteraksi dengan orang lain maupun lingkungan. Hal ini terbukti dengan munculnya kebutuhan ini dalam semua subjek penelitian dengan prosentase sebesar 100%.

Keinginan untuk terlihat menonjol dan mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarpun merupakan alasan subjek merawat diri. Bagi subyek yang telah dewasa merawat diri bahkan dirasakan sangat perlu untuk memperbaiki penampilan dan mengembalikan penampilan seperti dulu lagi (seperti pada umur yang mereka anggap paling baik kondisinya). Mereka beranggapan bahwa dengan penampilan yang baik, akan memunculkan pencitraan yang baik juga. Pencitraan yang baik bahkan dipandang akan meningkatkan respek positif dari lingkungan. Penampilan yang baik juga dapat meningkatkan perhatian dan penghargaan diri mereka di hadapan orang lain.

Hasil tersebut juga pernah diungkapkan dalam penelitian yang mengungkapkan bahwa perhatian terhadap citra diri menjadi stimulus

akan perilaku melakukan perawatan diri dan konsumsi produk perawatan diri (Kellner dalam Souiden & Diagne, 2009) penciptaan identitas melalui kompleks proses kegiatan konsumsi produk perawatan juga masih termasuk dalam lingkup penciptaan citra diri. Komponen konsep diri dalam citra diri meliputi fisik, psikologis, dan atribut sosial, yang dapat dipengaruhi oleh sikap individu, kebiasaan, keyakinan dan ide. Dalam hal ini, merawat diri dapat dianggap sebagai salah satu alat yang dapat digunakan untuk meningkatkan konsep dan citra diri. Featherstone (dalam Souiden & Diagne, 2009) mendukung pendapat ini dan menyatakan bahwa salah satu rangsangan utama untuk konsumsi produk perawatan pada laki-laki adalah penciptaan, pengembangan dan pemeliharaan citra diri. Pembentukan citra diri merupakan salah satu bagian dari hasil penelitian yang dimunculkan subjek dalam hasil datanya. Hasil tersebut diantaranya adalah memunculkan pencitraan yang baik di hadapan orang lain. Citra yang positif akan menimbulkan perhatian dan penghargaan dari lingkungan sekitar.

Kebutuhan recognition dalam hasil penelitian ini muncul bersama dengan banyak kebutuhan lain. Kebutuhan recognition dapat muncul didahului dengan kebutuhan affiliation dan harm avoidance berdasarkan hasil data pada beberapa subjek. Kebutuhan recognition juga dapat muncul bersama dengan dua hingga tujuh kebutuhan lain, antara lain adalah kebutuhan passivity, affiliation, blame avoidance, harm

ini, kebutuhan yang muncul dan mendominasi pada awalnya adalah kebutuhan recognition, dan ketika kebutuhan tersebut sudah terpenuhi, kemudian secara disadari maupun tidak memunculkan kebutuhan baru atau bahkan muncul bersamaan dengan kebutuhan lain yakni yang didapat dari hasil data adalah tujuh kebutuhan yang sudah disebutkan tadi.

c. Harm Avoidance

Need Harm Avoidance adalah kebutuhan menghindari bahaya

yang artinya menghindari sakit fisik, menarik diri, melarikan diri. Termasuk reaksi kecemasan / ketakutan pada suara keras, kehilangan dukungan, atau hadirnya orang asing. Menghindari diri dari situasi yang membahayakan. Hati-hati, cemas, dsb (Murray, 1938).

Harm avoidance merupakan kebutuhan untuk menghindari sakit

fisik muncul pada subjek penelitian. Subjek pergi ke tempat-tempat perawatan diri untuk melakukan pengobatan terhadap kondisi wajah, menjaga kesehatan dengan harapan akan memperoleh penampilan yang membaik setelah melakukan perawatan dan menghindari efek negatif terhadap fisik dari perawatan yang dianggap tidak aman, artinya perawatan dilakukan di tempat-tempat tertentu guna menghindari resiko kesehatan dalam memperbaiki penampilan. Hal ini mengisyaratkan bahwa penampilan yang tidak baik atau bermasalah menimbulkan ancaman secara fisik dan harus segera diatasi atau agar dapat segera terhindar dari ancaman fisik tersebut. Prosentase subjek dalam

menjawab kebutuhan ini dalam hasil datanya juga memegang prosentase tertinggi yakni 100%. Kebutuhan ini pernah diungkap pada penelitian Souiden & Diagne (2009) menyimpulkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku merawat diri pada pria adalah pada kesehatan mereka. Di sisi lain dijelaskan bahwa perhatian akan kesehatan pada manusia meningkat, terutama karena mereka menyadari bahwa diri mereka semakin tua. Asumsinya adalah bahwa penggunaan produk perawatan diri dan perilaku merawat diri tertentu dapat membantu mencapai hal hal tersebut yang menyangkut kesehatan. Kebutuhan ini menitikberatkan pada tujuan kesehatan dan menghindari hal-hal yang dianggap mengancam keselamatan diri.

Kebutuhan ini tidak jauh berbeda dengan kebutuhan-kebutuhan yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kebutuhan ini muncul bersama atau bahkan didahului oleh kebutuhan-kebutuhan lain. Kebutuhan harm avoidance ternyata muncul bersama dengan empat kebutuhan lain yang tersebar dengan pola yang berbeda-beda pada beberapa subjek. Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain kebutuhan passivity, playmirth, recognition, dan sentience. Di sisi lain, kebutuhan harm avoidance tidak jarang juga yang muncul diawali dengan kemunculan kebutuhan lain terlebih dahulu yakni terdapat beberapa subjek yang memunculkan pola kebutuhan harm avoidance yang diawali dengan kebutuhan recognition terlebih dahulu.

d. Blame avoidance

Need Blame Avoidance atau kebutuhan menghindari rasa hina

artinya seseorang itu bertindak dengan alasan untuk menghindari kesalahan atau penolakan (blame/rejection). Menghambat impuls asosial, menghindari hukuman atau hinaan karena kesalahan berulang. Mengaku salah, menyerah untuk menghindari hinaan lanjutan, bersikap konvensional (mengikuti kebiasaan), rajin, tahu tanggung jawab tugas, dsb (Murray, 1938).

Blame avoidance pada subjek muncul dengan alasan untuk

menghindari hukuman, kesalahan dan ketakutan akan penolakan. Dalam penelitian Blame avoidance munculsebanyak 85,7% dari subjek penelitian. Jadi sebanyak 85,7% subyek menganggap bahwa pergi ke tempat-tempat perawatan diri dapat mengatasi kebutuhannya untuk menghindari hukuman, kesalahan dan ketakutan akan penolakan. Semula mereka ketakutan akan penolakan dari lingkungan sekitar, tetapi dengan merawat diri mereka timbul rasa percaya dirinya bahwa mereka akan diterima dalam pergaulan di lingkungan sekitar.

Subjek juga berpendapat bahwa pergi ke tempat perawatan diri merupakan pengobatan atas kondisi wajahnya yang memburuk, di sisi lain ini juga merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan pada orang tua dengan mengikuti saran orang tua guna memperbaiki penampilan. Beberapa subyek juga mengikuti saran dari lingkungan dikarenakan ketakutan akan resiko disalahkan dan ditolak oleh

lingkungan. Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa dorongan dari pasangan juga diungkapkan menjadi salah satu faktor pendorong melakukan perawatan diri. Tidak jarang pasangan mengajak langsung untuk melakukan perawatan diri. Guna memenuhi kebutuhan pasangan dalam bentuk membahagiakan dan membuat bangga pasangan melalui perbaikan penampilan dan meningkatkan daya tarik fisik (Simpson, Abraham, Goenka, Pandey, & Nair, 2005). Hasil penelitian ini masuk dalam kebutuhan menghindari kesalahan dan hukuman karena tidak jarang hasil penelitian motivasi merawat diri ini menunjukkan bahwa beberapa subjek melakukan perawatan diri guna menghindari hukuman dari orang lain yang memberikan saran ataupun memberikan masukan akan perbaikan penampilan terhadap subjek.

Kebutuhan blame avoidance dalam kemunculannya pada pola beberapa subjek diawali dengan kemunculan kebutuhan lain terlebih dahulu yakni kebutuhan recognition. Namun di sisi lain ternyata kebutuhan ini juga muncul bersama atau bahkan juga memunculkan kebutuhan lain setelah kebutuhan tersebut terpenuhi. Kebutuhan yang muncul bersama atau setelah kebutuhan blame avoidance terpenuhi adalah kebutuhan recognition, abasement, counteraction, passivity dan

affiliation. Tidak jarang bahwa kebutuhan yang muncul bersama

dengan kebutuhan blame avoidance memang masih salling terkait satu sama lain. Seperti pada kebutuhan blame avoidance yang muncul bersama dengan kebutuhan affiliation, bahwa pada beberapa subjek

didapatkan pernyataan bahwa perawatan diri dilakukan atas dasar saran dan masukan dari lingkungan sekitar dan bukan atas kemauan sendiri. Hal ini secara tidak langsung terkait satu sama lain, ketika subjek menuruti saran dan masukan orang lain, di sisi lain hal tersebut dilakukan agar dirinya merasa diterima oleh lingkungan dengan melakukan apa yang di sarankan oleh orang lain tersebut.

e. Affiliation

Manusia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan aktivitas-aktivitas lain seperti mencari kenalan baru, bersama dengan temanteman dan berbagi perasaan pribadi telah dinilai sebagai hal yang sangat penting. Menurut Baron, hal tersebut tidak terlepas dari adanya kecenderungan pada diri manusia untuk memenuhi keinginan berkelompok bersama orang lain agar mendapatkan kesenangan, hiburan, ketenangan. Selanjutnya, keadaan ini merupakan determinan dari perilaku berafiliasi (Baron, & Byrne, 2003).

Murray mengatakan afiliasi adalah perilaku mendekatkan diri, bekerjasama atau membalas ajakan orang lain yang bersekutu (orang lain yang menyukai subjek), membuat senang, mencari afeksi dari objek yang disukai dan tetap setia dan patuh kepada seorang kawan (Hall & Lindzey, 1993). Dengan kata lain Affiliation merupakan kebutuhan untuk menjalin hubungan dengan orang lain.

Sebanyak 85,7% subjek berpendapat dengan melakukan perawatan diri mereka akan diterima oleh lingkungan sekitar.

Mengobati masalah pada wajah, menjaga kesehatan, mengembalikan rasa nyaman saat tidak berjerawat, menjaga kebersihan wajah berarti memperbaiki penampilan, dengan penampilan yang lebih baik dianggap membantu dalam menjalin relasi dengan lingkungan baru. Penampilan yang baik dianggap membantu subjek dalam menjalin relasi dan menimbulkan penerimaan lingkungan terhadap diri mereka. Penelitian mengenai kebutuhan afiliasi dapat dibuktikan melalui perilaku merawat diri yang dilakukan untuk tampil menarik, dalam konteks situasi seksual atau romantis, dapat dilihat untuk mendasari motif beberapa individu 'untuk pembelian produk-produk perawatan pribadi. Dikatakan analogi dapat ditarik antara observasi dan melihat bahwa beberapa produk sekarang sedang dipasarkan untuk laki-laki melalui implikasi bahwa konsumsi produk tersebut akan membuat mereka lebih rapi untuk wanita (Sturrock & Pioch, 1998). Hal ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa perilaku merawat diri dilakukan guna membantu subjek guna membangun hubungan atau relasi dengan orang lain.

Kebutuhan affiliasi muncul bersama dengan satu kebutuhan lain yakni kebutuhan recognition. Di sisi lain, kebutuhan affiliation banyak didahului dengan kemunculan kebutuhan lain yang menonjol dan mempengaruhi hingga memunculkan kebutuhan affiliation. Kebutuhan-kebutuhan tersebut antara lain adalah Kebutuhan-kebutuhan recognition,

Kebutuhan-kebutuhan tersebut sebagian besar dilakukan guna menuju pada pemenuhan keinginan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Kebutuhan untuk mengalah pada kebutuhan orang lain

(nurturance), melawan hinaan (blame avoidance), mendapatkan

perhatian dan penghargaan (recognition), dan abasement (menerima hinaan) dilakukan guna memenuhi atau bahkan justru memunculkan kebutuhan baru yakni kebutuhan affiliation.

f. Counteraction

Need Counteraction (kebutuhan mengatasi kelemahan) yaitu

kebutuhan untuk memperbaiki kesalahan/kekalahan, mengatasi kelemahan/kompensasi, dan melawan penghinaan. Need Counteraction muncul tergantung pada adanya penghinaan, kegagalan atau kekalahan yang telah dialami sebelumnya (Murray: 1938).

Counteraction yang kebutuhan untuk melawan penghinaan muncul

sebanyak 28,6% dari subjek. Sebuah penelitian (Darley, Glucksberg & Kinchla, 1986) menyatakan bahwa merawat diri menghilangkan ketakutan akan penolakan dari lingkungan sekitar. Merawat diri bisa mengatasi kelemahan dan melawan penghinaan. Di tempat-tempat perawatan diri mereka menjaga dan melakukan pengobatan pada wajah. Penampilan yang baik dianggap mampu memperbaiki hubungan dan kesalahan di depan orang lain dan mampu membantu subjek melawan hinaan dari lingkungan sekitar.

Beberapa subjek mengemukakan bahwa lingkungan sekitar akan menerima mereka dengan penampilan mereka yang lebih baik. Untuk itulah mereka begitu peduli untuk memperbaiki penampilan. Penampilan yang baik membuat mereka tidak akan menerima penghinaan sehingga mereka tidak akan mengalami penolakan dari lingkungan. Penampilan yang baik dianggap dapat membantu mereka dalam melawan penghinaan dari lingkungan sekitar. Sebuah penelitian (Souiden & Diagne, 2009) menyebutkan bahwa perhatian laki-laki menunjuk pada daya tarik fisik yang telah meningkat karena tekanan sosio-budaya dan digunakannya secara luas gambar tubuh ideal di iklan. Faktor lain yang berhubungan dengan penuaan dan citra diri adalah daya tarik fisik pria. Arti dari penampilan fisik didominasi oleh apa yang dapat dilihat secara eksternal, ini mencakup fitur-fitur yang terlihat seperti wajah, proporsi tubuh, bentuk tubuh dan sifat-sifat terlihat. Penelitian tersebut mendukung hasil penelitian karena perilaku merawat diri dilakukan guna memperbaiki penampilan sehingga perbaikan penampilan tyersebut dapat dianggap sebagai bagian dari usaha untuk melawan hinaan dan mengatasi kelemahan pada diri subjek.

Kebutuhan counteraction muncul bersama dengan dua kebutuhan lain yakni kebutuhan blame avoidance dan kebutuhan affiliation pada beberapa subjek. Kebutuhan tersebut muncul dalam beberapa pola yang berbeda. Ketiganya memiliki hubungan yang terkait satu sama lain.

Kebutuhan untuk melawan hinaan (counteraction) dilakukan untuk menuju pada kebutuhan menjalin hubungan dengan orang lain. Sedangkan kebutuhan untuk menghindari kesalahan dan hukuman diikuti dengan melawan hinaan sehingga dapat terhindar dari hukuman atau sebagai bentuk pembelaan diri.

g. Playmirth

Need Playmirth (kebutuhan permainan) artinya bertindak untuk

kesenangan (fun), tanpa tujuan jelas selain kesenangan itu sendiri. Tertawa, bermain, bercanda, menari, bermain peran (make-believe

activity), dsb (Murray:1938).

Playmirth yang merupakan kebutuhan akan melakukan sesuatu

yang menghasilkan kesenangan juga muncul dalam penelitian. Sebanyak 42,8% subjek mengatakan bahwa mereka pergi ke tempat-tempat perawatan diri untuk mendapatkan kesenangan. Menjaga penampilan agar tetap baik merupakan pemenuhan atas kesenangannya merawat diri. Subjek dapat memenuhi keinginan mereka karena bisa menyalurkan hobby misalnya salah satu subjek menyatakan bahwa mewarnai rambut menjadi kesenangan dan memunculkan kepuasan tersendiri. Mereka mendapatkan kepuasan dan kesenangan tersendiri dari hasil yang didapatkan melalui perawatan diri. Kebutuhan ini didukung dengan penelitian yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku merawat diri adalah adanya sebagai tindakan kesenangan yang berfokus pada perasaan kegembiraan dan

memanjakan diri sendiri (Sturrock & Pioch, 1998). Kegiatan merawat diri dianggap sebagai kesenangan atau bahkan menjadi hobby tersendiri, dengan kata lain, kegiatan merawat diri membawa kepuasan dan kesenangan tersendiri bagi beberapa subjek dalam hasil penelitian yang mencantumkan kegiatan merawat diri seagai pemenuhan atas kebutuhan akan kesenangan.

Kebutuhan playmirth berdasarkan hasil data menunjukkan bahwa kebutuhan playmirth muncul bersama dengan dua kebutuhan lain yakni kebutuhan akan menghindari rasa sakit dan menghindari kecemasan

(harm avoidance) serta kebutuhan akan perhatian dan penghargaan

(recognition). Pada hasil data didapat adanya subjek yang mengaku

merasa puas dan bahagia ketika mendapatkan perhatian dan penghargaan dari lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan-kebutuhan tersebut saling terkait satu sama lain.

h. Sentience

Need Sentience (kebutuhan keharuan) artinya mencari dan

menikmati kenangan/kesan yang menyenangkan. Menikmati pemandangan yang indah, mengomentari atmosfif, cuaca, warna ruang, gambar, suara, rasa dan bau yang menyenangkan (Murray,1938).

Sentience yang merupakan kebutuhan akan kesan yang

menyenangkan muncul sebanyak 42,8% dari subjek. Mereka mengemukakan bahwa dengan pergi ke tempat perawatan diri mendapatkan kesan yang menyenangkan atas hasil dari perawatan. Rasa

nyaman dan segar setelah melakukan perawatan mereka dapatkan karena mereka dapat memperbaiki penampilan dengan kondisi fisik yang lebih baik, kenyamanan fisik saat sebelum berjerawatpun dapat dinikmati kembali. Rasa nyaman dan kepuasan tersendiri dari hasil perawatan memunculkan kesan yang menyenangkan, bahkan ketika perilaku itu tidak sedang dilakukan, akan memunculkan bayangan dan harapan mengenai kegiatan dan hasil yang didapat dari perilaku tersebut. Penelitian mengenai kebutuhan ini belum ada yang secara gamblang menyhebutkan mengenai kebutuhan sentience yang menjadi salah satu daya dorong perilaku merawat diri. Di sisi lain, dengan munculnya kebutuhan akan kenikmatan, memunculkan bayangan akan sensasi yang menyenangkan. Sensasi akan bayangan yang menyenangkan tersebut yang secara sadar maupun tidak mendorong subjek untuk melakukan perilasku merawat diri. Kebutuhan didukung dengan penelitian yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku merawat diri adalah adanya sebagai tindakan kesenangan yang berfokus pada perasaan kegembiraan dan memanjakan diri sendiri (Sturrock & Piosch, 1998). Kegiatan merawat diri dianggap sebagai kesenangan dan menciptakan kenikmatan dimana bahkan ketika kebutuhan yang terkait seperti passivity belum muncul, bayangan akan sensasi menyenangkan ini sudah dapat muncul.

Kebutuhan sentience muncul bersama dengan tiga kebutuhan lain, seperti yang sudah terjadi pada kebutuhan-kebutuhan lain di beberapa

hasil data subjek. Tiga kebutuhan tersebut yakni kebutuhan untuk menghindari rasa sakit (harm avoidance), kebutuhan akan perhatian dan penghargaan (recognition) serta kebutuhan akan kenyamanan dan ketenangan (passivity). Kebutuhan tersebut dapat saling terkait, salah satunya adalah kebutuhan akan menghindari rasa sakit (harm

avoidance) yang diikuti oleh kebutuhan akan kesan yang

menyenangkan (sentience). Dimana dalam hal ini kesan yang menyenangkan didapat dari hasil yang sudah dibayangkan oleh subjek terhadap hasil yang didapat dari perawatan yang antara lain adalah kondisi sehat dan penampilan yang makin membaik.

i. Nurturance

Need Nurturance (kebutuhan sikap memelihara) artinya memberi

simpati atau memuaskan kebutuhan orang lain. Membantu, memberi makan, mendukung, menghibur, melindungi atau membuat nyaman / tenang, mereka yang membutuhkan kenyamanan dan ketenangan. Meningkatkan kesejahteraan orang yang tidak berdaya. Memberikan waktu, tenaga atau uang sebagai sarana membantu orang lain. Memberi kebebasan (Murray, 1938).

Nurturance yang merupakan kebutuhan untuk memuaskan

kebutuhan orang lain dalam penelitian ini muncul 28,6%, Subjek mengatakan bahwa mereka pergi ke tempat perawatan diri untuk memenuhi tuntutan lingkungan terutama pasangan, untuk peduli dan menjaga penampilan. Kebanyakan mengatakan bahwa pasangannya

menginginkan subjek berpenampilan yang lebih baik. Pasangan akan merasa senang dan bangga jika penampilan subjek baik dan sesuai keinginannya.

Penelitian Simpson, Abraham, Goenka, Pandey, dan Nair ( 2005)

Dalam dokumen MOTIVASI PERILAKU MERAWAT DIRI PADA LAKI-LAKI (Halaman 100-130)

Dokumen terkait