BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Pembahasan Penelitian
2.1 Pengetahuan perawat tentang Early Warning Score (EWS) di RSUP H. Adam Malik Medan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmojo, 2012).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 136 responden yang diteliti, terdapat mayoritas perawat memiliki pengetahuan baik tentang Early Warning Score (EWS) yaitu sebanyak 112 orang (82,4%). Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh responden telah memahami konsep Early Warning Score (EWS), dengan berdasarkan jawaban responden yang mayoritas menjawab dengan benar pertanyaan tentang parameter fisiologis yang dinilai dengan menggunakan sistem EWS.
Selain itu, kemungkinan juga dikarenakan mayoritas responden memiliki pengalaman kerja > 6 tahun yaitu 98 perawat (72,05%) sehingga berdasarkan pengalaman kerja yang sudah lama mengakibatkan peningkatan pengetahuan perawat tentang EWS. Sesuai dengan pernyataan Mubarak (2011) bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya pendidikan dan pengalaman.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Manurung (2018) tentang Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat dalam penerapan Early Warning Score (EWS) di Ruang Perawatan Lantai 2,5 dan 6 Rumah Sakit Siloam Dhirga Surya. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa hampir separuh perawat yang menjadi responden (43,2%) memiliki pengetahuan yang baik, sebagian besar perawat berpengatahuan cukup (54,1%) dan hanya 1 perawat (2,7%) yang memiliki pengetahuan kurang tentang EWS.
Penelitian serupa juga dilakukan oleh olang, dkk (2018) tentang Nurses’
Knowledge of Early Warning Score at a Private Hospital in Eastern Indonesia. Studi ini mengungkapkan bahwa sebagian besar perawat (81,25%) berada pada tingkat yang memadai dalam hal pengetahuan mereka tentang EWS. Hal ini mungkin dikarenakan hasil partisipasi perawat dalam pelatihan yang dilakukan dilapangan dalam sebulan sekali.
Penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari, dkk (2020) tentang Relationship between Nurses’ Knowledge of Initial Assesment and Application of Early Warning System at Emergency Department of Type A Hospital in Jakarta menyebutkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan perawat maka perilaku semakin meningkat. Hal ini juga harus diikuti oleh pelatihan secara berkala sehingga dapat mempertahankan penggunaan EWS yang sudah baik.
Berdasarkan hasil data demografi menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 45-55 tahun yaitu 53 orang (39,0%). Berdasarkan data
tersebut dapat dikatakan bahwa usia merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan pengetahuan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Mubarak (2011) yaitu tingkat kematangan dan kekuatan seseorang dalam berfikir akan lebih besar dengan bertambahnya usia seseorang, sehingga pengetahuan yang didapatkan akan lebih baik.
Hasil data demografi lainnya yaitu berkaitan dengan jenis kelamin responden. Mayoritas responden pada penelitian ini adalah perempuan yaitu sebanyak 127 orang (93,4%). Hal ini dijelaskan dalam penelitian yang dilakukan oleh Halpern (1997) yang menyatakan bahwa perempuan lebih baik dalam kemampuan verbal, perhitungan matematika, serta tugas-tugas yang memerlukan koordinasi motorik halus dan persepsi, sedangkan laki-laki cenderung lebih baik dalam kemampuan keruangan, matematika abstrak dan penalaran sains sehingga memungkinkan hasil penelitian pengetahuan perawat tersebut mayoritas dalam kategori baik.
Hasil data demografi menunjukkan bahwa pendidikan mayoritas responden adalah DIII Keperawatan yaitu 87 responden (64,0%).
Berdasarkan hal ini dapat diartikan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang dapat menambah pengetahuan seseorang, sehingga memungkinkan adanya tingkat pengetahuan yang baik pada penelitian ini.
Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2012) bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui proses belajar yang didapat dari pendidikan. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Mubarak (2011) bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan
pada akhirnya pengetahuan yang dimilikinya akan semakin banyak.
Sebaliknya, jika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang rendah, maka akan menghambat perkembangan sikap orang tersebut terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan. Pendidikan keperawatan merupakan suatu proses penting yang harus didapatkan perawat dalam mencapai profesionalitas (Nurhidayah, 2011).
2.2 Sikap perawat tentang Early Warning Score (EWS) di RSUP H.
Adam Malik Medan
Sikap juga merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek (Notoadmojo. 2012). Sikap adalah perasaan, pikiran, dan kecenderungan seseorang yang bersifat permanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. Sikap dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap bukan suatu tindakan atau aktivitas, melainkan predisposisi tindakan dan perilaku (Mubarak. 2011).
Hasil penelitian sikap perawat tentang Early Warning Score (EWS) menunjukkan bahwa dari 136 responden yang diteliti, terdapat mayoritas perawat memiliki sikap positif tentang Early Warning Score (EWS) yaitu sebanyak 124 orang (91,2%). Hal ini dikarenakan mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik sesuai dengan pernyataan (Notoatmodjo, 2012) bahwa yang memegang peranan penting dalam penentuan sikap salah satunya adalah pengetahuan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh (Hehalatu, 2018) tentang gambaran perilaku perawat dalam pengkajian Early Warning Score (EWS) di ruang rawat inap lantai 2,5, dan 6 di rumah sakit swasta di Indonesia barat dapat disimpulkan bahwa perilaku pengkajian EWS oleh perawat yaitu 37 (90,2%) perawat berperilaku baik, 4 (9,8%) berperilaku cukup, dan tidak ada perawat berperilaku kurang.
Meskipun mayoritas perawat memiliki sikap yang positif, namun ada 12 orang (8,8%) yang memiliki sikap negatif. Hasil penelitian menemukan bahwa 12 orang tersebut berada pada rentang usia 24-35 tahun dengan lama bekerja 1-6 tahun. Hal ini mungkin terjadi akibat kurangnya pengalaman perawat dalam melakukan pendeteksian, sejalan dengan pernyataan Azwar (2013) yang mengatakan bahwa pengalaman merupakan faktor penting dalam pembentukan sikap.
Penelitian serupa juga dilakukan oleh (Situmorang, 2018) tentang hubungan pengetahuan dan sikap perawat terhadap kepatuhan skoring Early Warning Score (EWS) di ruang bethesda rumah sakit umum siloam kupang dengan hasil analisa data diperoleh 32 responden (50%) berpengetahuan baik, 13 responden (40,63%) berpengetahuan cukup dan 3 responden (9,37%) berpengetahuan kurang. Responden dengan sikap positif dan negatif memiliki proporsi yang sama yakni 16 responden (50%). Sebagian Responden tidak patuh melakukan skoring EWS, Patuh : 21 responden (34,37%), tidak patuh : 11 Responden (56,63%).
2.3 Keterampilan perawat tentang Early Warning Score (EWS) di RSUP H. Adam Malik Medan
Keterampilan atau tindakan yang dikemukakan oleh Notoadmodjo (2012) adalah gerakan atau perbuatan dari tubuh setelah mendapat rangsangan ataupun adaptasi dari dalam maupun dari luar tubuh suatu lingkungan.
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktik yang dengan mudah dapat di amati oleh orang lain.
Hasil penelitian keterampilan perawat tentang Early Warning Score (EWS) menunjukkan bahwa dari 136 responden yang diteliti, seluruh perawat memiliki keterampilan yang baik dalam mendeteksi dini perburukan pasien dengan menggunakan Early Warning Score (EWS) yaitu sebanyak 136 orang (100%). Hal ini dikarenakan mayoritas responden memiliki pengetahuan dan sikap yang baik. Hal ini sejalan dengan (Notoatmodjo, 2012) yang pendapat bahwa pengetahuan atau ranah kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh (Lami, 2018) mengenai gambaran pelaksanaan observasi pasien dengan Early Warning Score (EWS) kategori rendah dan medium di ruangan rawat inap Bethesda 2 Rumah Sakit Siloam Kupang mengungkapkan bahwa observasi EWS kategori rendah dengan ketepatan waktu mencakup 7,4% dan EWS katagori medium tidak dilakukan kategori perjam. Penelitian selanjutnya yaitu gambaran pelaksanaan monitoring perawat berdasarkan early warning score (EWS) di satu rumah sakit swasta diIndonesia bagian
tengah juga dilakukan oleh (La’a, 2018) dan ditemukan pelaksanaan monitoring perawat berdasarkan EWS tidak dilaksanakan 100% sesuai algoritma.
Keterampilan perawat dalam mengimplementasikan EWS serta instrumen yang sesuai dengan pedoman yang ditetapkan, berpengaruh dalam menurunkan angka kejadian henti jantung-henti nafas hingga kematian pasien. Hal ini disampaikan dalam studi penelitian Implementasi EWS pada Kejadian Henti Jantung di Ruang Perawatan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang Ditangani Tim Code Blue Selama Tahun 2017 (Subhan, dkk.
2019). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi EWS di ruang rawat inap RSUP Dr. Hasan Sadikin belum cukup memuaskan.
Implementasi EWS yang tidak baik terjadi akibat kurangnya pengetahuan dan keterampilan perawat terhadap EWS.
Simulasi tutorial EWS dapat digunakan sebagai salah satu metode pelatihan dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan juga keterampilan perawat. Hal ini sejalan dengan penelitian Damayanti, dkk (2019) tentang Efektivitas Simulasi Tutorial Early Warning Score (EWS) terhadap pengetahuan perawat dan kinerja klinis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada pre-test dan post-test pengetahuan dan kinerja klinis terhadap simulasi tutorial. Simulasi tutorial EWS berpengaruh pada peningkatan kinerja klinis perawat.
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mayoritas perawat di RSUP H. Adam Malik Medan memiliki pengetahuan yang baik tentang Early Warning Score (EWS) yaitu sebanyak 112 orang (82,4%), mayoritas perawat memiliki sikap yang positif terhadap Early Warning Score (EWS) yaitu sebanyak 124 orang (91,2%) dan seluruh responden sebanyak 136 perawat (100%) memiliki keterampilan yang baik dalam mendeteksi dini perburukan pasien dengan menggunakan Early Warning Score (EWS).
2. Saran
2.1 Praktek Keperawatan
Peneliti menyarankan kepada praktek keperawatan agar dapat melakukan evaluasi terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan perawat tentang deteksi dini perburukan pasien dengan menggunakan sistem Early Warning Score (EWS), sehingga angka kejadian henti jantung, henti nafas serta mortalitas di rumah sakit dapat menurun.
2.2 Pendidikan Keperawatan
Peneliti menyarankan kepada institusi pendidikan keperawatan agar dapat memberikan pembelajaran tambahan khususnya tentang Early Warning Score (EWS) sehingga mahasiswa yang akan memasuki praktek keperawatan
memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan yang optimal tentang deteksi dini perburukan pasien dengan menggunakan sistem Early Warning Score (EWS).
2.3 Perawat
Perawat diharapkan agar dapat mempertahankan serta meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan perawat tentang Early Warning Score (EWS). Peneliti juga menyarankan sebaiknya perawat mengikuti seminar atau pelatihan tentang Early Warning Score (EWS) guna meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang optimal dalam mendeteksi dini perburukan pasien dengan menggunakan sistem Early Warning Score (EWS).
2.4 Penelitian selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan penelitian selanjutnya khususnya tentang Early Warning Score (EWS). Peneliti menyarankan agar penelitian selanjutnya membahas tentang hubungan implementasi Early Warning Score (EWS) terhadap angka kejadian code blue di RSUP H. Adam Malik Medan.
Rajawali Pers
Alam, Nadia. Irene, L. Eline, Houben. Et. al. (2015). Exploring The Performance of The National Early Warning Score (NEWS) in s European Emergency Department. Resuscitation. 90:111-5
Ariga, R. A. (2018) ‘Pengaruh Karakteristik Dan Persepsi Pasien Rawat Jalan Terhadap Bauran Pemasaran Dengan Keputusan Membeli Obat Di Apotek’, Talenta Conference Series: Tropical Medicine (TM), 1(2), pp.
336–341. doi: 10.32734/tm.v1i2.196.
Ariga, R. A. (2019) ‘Decrease anxiety among students who will do the objective structured clinical examination with deep breathing relaxation technique’, Open Access Macedonian Journal of Medical Sciences, 7(16), pp. 2619–
2622. doi: 10.3889/oamjms.2019.409.
Ariga, R. A. (2020a) BUKU AJAR IMPLEMENTASI MANAJEMEN. Edited by C.
T. Siregar.
Ariga, R. A., Astuti, S. B., et al. (2020) ‘Improved knowledge and attitude about healthy snack at school through peer education’, International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology, 10(4), pp.
1662–1668. doi: 10.18517/ijaseit.10.4.6373.
Ariga, R. A., Nasution, S. Z., Amelia, R. and Nasution, S. S. (2020) ‘Increase Medicine Adherecence TB Patient with Ners-Short Message Service Intervenstion (N-SMSI)’, (Icosteerr 2018), pp. 519–524. doi:
10.5220/0010076905190524.
Ariga, R. A. (2020b) Soft Skills, Soft Skills Keperawatan di Era Milenial 4.0.
Yogyakarta: deepublish. doi: 10.15358/9783800644582.
Ariga, R. A., Nasution, S. Z., Amelia, R., Dardanila, ., et al. (2020) ‘Stakeholder Perception about Soft Skill Graduated Faculty of Nursing Universitas Sumatera Utara’, (Icosteerr 2018), pp. 514–518. doi:
Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research, 11(Special Issue 1), pp. 239–242. doi: 10.22159/ajpcr.2018.v11s1.26617.
Ariga, R. A., Amelia, R. and Sari, S. (2018) ‘Relationship of extrovert and introvert personality types against student achievement faculty of nursing USU’, Journal of Physics: Conference Series, 1116(5), pp. 0–8. doi:
10.1088/1742-6596/1116/5/052007.
Ariga, R. A., Nasution, S. S. and Ariadni, D. K. (2018) ‘Community service activities counseling in making who mp-asi based on local food for posyandu cadres and baduta’ mothers 1’, Jurnal USU, 3(2), pp. 171–175.
Ariga, R. A, Siti Zahara Nasution, Ely Hayati Nasution, Muhammad Taufik, Rossy Nurhasanah, Muhammad Khaliqi, M. hadya. Y. P. (2020) Penyusunan Kurikulum RPS,SAP dan Kampus Merdeka, USUpress. doi:
10.1017/CBO9781107415324.004.
Azwar, Saifuddin. (2013). Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Bertnus. (2009). Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan. Dikutip 2019
Desember 09. Tersedia dalam URL
http://digilib.unimus.ac,id/files/disk1/115/
Damayanti, Roshy., dkk. (2019). Effects of Early Warning Score (EWS) Tutorial Simulation on Nurses’ Knowledge and Clinical Performance. Nurse Media Journal of Nursing, 9(2), 2019, 231-241
Drower, D., McKeany, R., Jogia, P., Jull, A. (2013). Evaluating the Impact of Implementing an Early Warning Score System on Incidence of in-hospital Cardiac Arrest. N Z Med J;126:26-34
Duncan, K. & McMullan, C. (2012). Early Warning System. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins publisher of Nursing2012 Journal
Hehalatu, Lidya M. (2018). Gambaran Perilaku Perawat dalam Pengkajian Early Warning Score di Ruang Rawat Inap Lantai 2, 5 dan 6 di Rumah Sakit Swasta di Indonesia Barat. Skripsi. Fakultas Keperawatan dan Ilmu
178
Komite Akreditasi Rumah Sakit. (2017). Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1. Jakarta: KARS
Kolic, I. Crane, S. McCartney, S. Perkins, Z. Taylor, A. (2014). Factors Affecting Response to National Early Warning Score (NEWS). United Kingdom:
Elsevier Ireland Ltd.
Kyriacos, U. Jelsma, J. Jordan, S. (2011). Monitoring Vital Signs Using Early Warning Scoring Systems: A Review of The Literature. Journal of Nursing Management 19, 311-330
La’a, Destryna. (2018). Gambaran Pelaksanaan Monitoring Perawat Berdasarkan Early Warning Score (EWS) di Satu Rumah Sakit Swasta di Indonesia Bagian Tengah. Skripsi. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan, UPH. Tangerang
Lami, Dian Mentari P. S. (2018). Gambaran Pelaksanaan Observasi Pasien dengan Early Warning Score (EWS) Kategori Rendah dan Medium di Ruangan Rawat Inap Bethesda 2 Rumah Sakit Umum Siloam Kupang.
Skripsi. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan, UPH. Tangerang Larasati, Sri. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: CV Budi
Utomo
Manurung, Desi Ratnasari. (2018). Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat dalam Penerapan Early Warning Score di Ruang Perawatan Lantai 2, 5 dan 6 Rumah Sakit Siloam Dhirga Surya. Skripsi. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan, UPH. Tangerang
Mubarak, W. I. (2011). Promosi Kesehatan untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
Nair, S., Dockrell, L., MacColgain, S. (2018). Maternal Early Warning Scores (MEWS). Ireland: Anaesthesia Tutorial of The Week: 383
Noor, Juliansyah (2011). Metodologi Penelitian. Jakarta: Prenada Media Group Notoatmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta
Purnamasari, Sekar Dwi., dkk. (2020). Relationship between Nurses’ Knowledge of Initial Assesment and Application of Early Warning System at Emergency Department of Type A Hospital in Jakarta. UI Proceedings on Health and Medicine Vol. 4
Riyanto, Agus. (2015). Statistika Deskriptif untuk Kesehatan Cetakan Ke-2.
Yogyakarta: Nuha Medika
Royal College of Physicians. (2017). National Early Warning Score (NEWS) 2:
Standardising the assessment of acute-illness severity in the NHS. London:
RCP
Situmorang, Augustinus S. (2018). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat terhadap Kepatuhan Skoring Early Warning Score di Ruang Bethesda Rumah Sakit Umum Siloam Kupang. Skripsi. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan, UPH. Tangerang
Subhan, N. Giwangkencana, G. Prihartono, A. Tavianto, D. (2019). Implementasi Early Warning Score pada Kejadian Henti Jantung di Ruang Perawatan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang ditangani Tim Code Blue Selama Tahun 2017. Jurnal Anestesi Perioperatif: 7 (1): 33-41
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R & D. Bandung:
Alfabeta
The Irish Pediatric. (2016). The Irish Pediatric Early Warning Score (PEWS) Version 2. Ireland: Department of Health
Wawan, A. & Dewi, M. (2011). Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku. Yogyakarta: Nuha Medika
Wibowo, Adik. (2014). Metodologi Penelitian Praktis Bidang Kesehatan. Jakarta:
Rajawali Pers
49
Nama Peneliti : Nurul Aini Jamal
Judul Penelitian : Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Perawat tentang Early Warning Score (EWS) di RSUP H. Adam Malik Medan
Saya adalah mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan.
Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Perawat tentang Early Warning Score (EWS). Untuk keperluan tersebut saya mohon kesediaan perawat untuk menjadi responden dalam penelitian ini. Selanjutnya saya mohon kesediaan perawat untuk mengisi kuesioner dengan jujur dan apa adanya. Jika bersedia, silahkan menandatangani lembar persetujuan ini sebagai bukti kesukarelaan perawat.
Partisipasi perawat dalam penelitian ini bersifat sukarela, sehingga perawat bebas mengundurkan diri setiap saat tanpa adanya sanksi apapun. Identitas pribadi perawat dan semua informasi yang diberikan akan dirahasiakan dan hanya akan digunakan dalam penelitian ini. Terima kasih atas partisipasi perawat dalam penelitian ini.
Medan, Februari 2020
Responden Peneliti
Nurul Aini Jamal
Kegiatan Sept Okt Nop Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul 1. Pengajuan judul
2. Proses persetujuan judul 3. Menyusun Bab I
4. Menyusun Bab II 5. Menyusun Bab III 6. Menyusun Bab IV 7. Sidang proposal 8. Perbaikan proposal 9. Uji etik penelitian
10. Uji validitas dan realibilitas 11. Pengumpulan data
12. Analisa data
13. Penyusunan laporan 14. Sidang akhir penelitian 15. Perbaikan laporan akhir 16. Penyerahan laporan dan
manuskrip
1. Persiapan Proposal dan Perbaikan Proposal
a. Biaya kertas print proposal Rp. 200.000,-b. Fotocopy sumber tinjauan pustaka Rp. 100.000,-c. Perbanyak proposal dan penjilidan Rp. 50.000,-2. Pengumpulan Data dan Pengolahan Data
a. Izin penelitian dan ethical clearance Rp. 100.000,-Fakultas Keperawatan USU
b. Biaya print Instrument dan lembar persetujuan Rp.
200.000,-c. Souvenir Penelitian Rp.
200.000,-d. Alat Tulis Rp.
50.000,-3. Persiapan Skripsi
a. Biaya kertas print Rp.
250.000,-b. Penggandaan dan Penjilidan Rp.
150.000,-c. CD Rp.
20.000,-Jumlah Rp.
1.320.000,-Biaya tak terduga (10%) Rp.
132.000,-Total Rp.
1.452.000,-Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Perawat tentang Early Warning Score (EWS) di RSUP H. Adam Malik Medan
1. Kuesioner Data Demografi Petunjuk Pengisian:
1. Semua pertanyaan harus diberi jawaban 2. Beri (√) centang pada kolom yang disediakan
3. Setiap pertanyaan dijawab dengan 1 jawaban yang sesuai menurut responden 4. Bila ada yang kurang dimengerti dapat ditanyakan pada peneliti.
Kode :
1. Nama :
2. Usia : tahun
3. Jenis Kelamin : ( ) Laki-laki ( ) Perempuan 4. Pendidikan Terakhir: ( ) Diploma ( ) S1
5. Lama kerja : tahun
2. Setiap pertanyaan dijawab dengan 1 jawaban yang sesuai menurut responden 3. Jawaban harus diisi sendiri oleh responden
4. Bila ada yang kurang dimengerti dapat ditanyakan pada peneliti
1) Pengertian Early Warning Score (EWS) adalah ...
A. Sistem penilaian fisiologis yang digunakan untuk mendeteksi dini kondisi pasien sebelum pasien mengalami perburukan dengan hasil analisa tanda-tanda vital dalam parameter fisiologis sesuai hasil scoring
B. Sistem penilaian dini kondisi pasien yang mengalami peningkatan tanda-tanda vital sebagai upaya mencegah kematian dengan hasil analisa tanda-tanda vital dalam parameter fisiologis sesuai hasil scoring
C. Sistem skoring fisiologis dan psikologis yang digunakan untuk mendeteksi kondisi sebelum mengalami perburukan dengan hasil analisa tanda-tanda vital dalam parameter fisiologis sesuai hasil scoring
D. Sistem penilaian psikologis yang digunakan untuk mendeteksi dini kondisi pasien sebelum pasien mengalami perburukan dengan hasil analisa tanda-tanda vital dalam parameter fisiologis sesuai hasil scoring
E. Sistem skoring fisiologis yang digunakan untuk memantau kondisi setelah mengalami perburukan dengan hasil analisa tanda-tanda vital dalam parameter fisiologis sesuai hasil scoring
2) Tujuan dari Early Warning Score (EWS) adalah untuk ...
A. Mengetahui kondisi klinis pasien dan memantau perburukan fisiologis pasien sehingga dapat dilakukan respon klinis tepat waktu dan kompoten
B. Mendeteksi dini perubahan psikologis pasien selama dalam perawatan dirumah sakit sehingga dapat dilakukannya respon klinik yang tepat waktu secara kompeten
C. Menilai kondisi pasien dengan sistem skoring fisiologis dan psikologis dalam perawatan dirumah sakit sehingga dapat dilakukannya respon klinik yang tepat waktu secara kompeten
D. Mendeteksi dini perubahan psikologis pasien, sehingga dapat dilakukannya respon klinik yang tepat waktu secara kompeten
E. Menilai kondisi pasien dengan sistem skoring fisiologis dan psikologis dalam perawatan pra-rumah sakit dan rumah sakit sehingga dapat dilakukannya respon klinik yang tepat waktu secara kompeten
3) Parameter yang dinilai dalam EWS dewasa (EWSS) meliputi ...
A. Pernafasan, suhu, nadi, tekanan darah, GCS, saturasi oksigen, dan keadaan umum B. Pernafasan, suhu, nadi, tekanan darah diastol, saturasi oksigen, alat bantu nafas, dan
keadaan umum
C. Pernafasan, suhu, nadi, tekanan darah sistolik, saturasi oksigen, alat bantu nafas, dan tingkat kesadaran
D. Pernafasan, suhu, nadi, tekanan darah sistolik, terapi oksigen, Capillary Refill Time (CRT), dan tingkat kesadaran
E. Pernafasan, suhu, nadi, tekanan darah sistolik, saturasi oksigen, alat bantu nafas, dan keadaan umum
B. Pernafasan, nadi, terapi oksigen, suhu, denyut jantung (Heart Rate), tekanan darah sistolik, Capillary Refill Time (CRT), dan APGAR
C.pernafasan, upaya nafas, terapi oksigen, suhu, denyut jantung (Heart Rate), tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, dan tingkat kesadaran
D. Pernafasan, suhu, nadi, tekanan darah sistolik, saturasi oksigen, alat bantu nafas, dan keadaan umum
E. Pernafasan, suhu, nadi, tekanan darah, GCS, saturasi oksigen, dan keadaan umum 5) Parameter yang dinilai dalam EWS ibu hamil (OEWS) meliputi ...
A.Tekanan darah sistolik, alat bantu nafas, pernafasan, denyut jantung, saturasi oksigen, suhu dan tingkat kesadaran
B.Tekanan darah sistolik, tekanan darah diastol, pernafasan, denyut jantung, saturasi oksigen, suhu dan tingkat kesadaran
C.Tekanan darah sistolik, tekanan darah diastol, pernafasan, denyut jantung, saturasi oksigen, suhu dan GCS
D. Pernafasan, suhu, nadi, tekanan darah, GCS, saturasi oksigen, dan keadaan umum
E. Pernafasan, suhu, nadi, tekanan darah sistolik, tekanan darah diastol, saturasi oksigen, dan keadaan umum
6) Frekuensi observasi yang dilakukan bila kategori skoring 0-1 ...
A. Setiap 4 jam B. Setiap 8 jam C. Setiap jam D. Setiap 2 jam E. Bedside Monitor
7) Frekuensi observasi yang dilakukan bila kategori skoring 2-3 ...
A. Setiap 8 jam B. Setiap 2 jam C. Setiap 4 jam D. Bedside Monitor E. Setiap jam
8) Frekuensi observasi yang dilakukan bila kategori skoring 4-6 ...
A. Setiap jam B. Setiap 8 jam C. Bedside Monitor D. Setiap 4 jam E. Setiap 2 jam
9) Parameter EWS dewasa skor 1 apabila ...
A. Pernafasan: 12-20 x/i B. CRT: ≤ 3 detik
C. Keadaan umum: Compos Mentis
D. Tekanan Darah Sistolik: 101-110 mmHg E. Menggunakan Alat Bantu Nafas
C. Tekanan Darah: 110/90 mmHg
C. Tekanan Darah: 110/90 mmHg