BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.5. Pembahasan Per Sektor
Analisis ini digunakan untuk mengambil kesimpulan dengan menggabungkan tiga hasil analisis, yaitu analisis Klassen Tipology, analisis Location Quotient (LQ), dan analisis shift share untuk menentukan sektor unggulan.
Analisis ini hanya dilakukan terhadap PDRB Kabupaten Aceh Utara tanpa migas dengan tujuan untuk menilai sektor-sektor lain di luar sub sektor minyak dan gas. Sebagaimana kita ketahui bahwa kontribusi sub sektor minyak dan gas terhadap PDRB Kabupaten Aceh Utara sangat besar rata-rata mencapai 77,4 persen, tetapi kontribusi ini terus menurun seiring akan berakhirnya era migas di Kabupaten Aceh Utara.
4.5.1. Analisis Sektor Pertanian
Sektor pertanian mempunyai peran yang sangat besar terhadap PDRB Kabupaten Aceh Utara, hal ini ditunjukkan oleh kontribusi rata-rata sektor pertanian yang mencapai 38,61 % per tahun dan menempati urutan pertama dalam kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Aceh Utara. Laju pertumbuhan rata-rata sektor pertanian 3,26 % melebihi laju pertumbuhan di tingkat Provinsi, sehingga sektor ini diklasifikasikan sebagai sektor maju dan tumbuh cepat.
Berdasarkan analisis LQ, sektor pertanian menunjukkan nilai LQ rata-rata sebesar 1,31 (>1), hal ini berarti sektor ini merupakan sektor basis. Artinya sektor ini tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan Kabupaten Aceh Utara saja, tapi mampu memenuhi kebutuhan daerah lainnya sehingga sektor pertanian merupakan sektor yang berpotensi ekspor.
Tabel 4.11. Analisis Sektor Petanian
No. Aspek Parameter Makna
1. Tipologi Klassen Kuadran I Sektor maju dan tumbuh cepat
2. LQ > 1 Sektor basis
3. P Negatif Tumbuh lambat di Provinsi 4. D Positif Pertumbuhan lebih cepat
dibanding Provinsi Sumber: Data diolah dari Lampiran 4, 6 dan 8
Berdasarkan Gambar 4.3, perkembangan nilai LQ sektor pertanian dari tahun 2000-2007 menunjukkan trend menaik dan semua nilainya > 1. Selama kurun waktu analisis, nilai LQ mempunyai rata-rata 1,31, hanya pada tahun 2001 terjadi penurunan.
Sumber: Data diolah dari Lampiran 6
Gambar 4.3. Grafik Perkembangan LQ Sektor Pertanian
Hasil perhitungan shift share sektor pertanian nilai komponen P sebesar -80.107,57 menunjukkan bahwa sektor ini merupakan sektor yang tumbuh lambat di tingkat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sedangkan nilai komponen D sebesar 64.841.88, berarti bahwa sektor pertanian mempunyai daya saing yang meningkat, karena pertumbuhannya lebih cepat daripada Provinsi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sektor pertanian dapat digolongkan sebagai sektor unggulan karena sektor ini tergolong sektor maju dan tumbuh cepat, merupakan sektor basis, dan pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan Provinsi.
4.5.2. Analisis Sektor Pertambangan dan Penggalian
Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDRB Kabupaten Aceh Utara rata-rata hanya sebesar 1,31 persen per tahun dan berada pada urutan ketujuh dibandingkan sektor-sektor lain. Laju pertumbuhan sektor ini rata-rata sebesar 7,58 persen per tahun, sehingga dapat dikategorikan sebagai sektor yang memiliki pertumbuhan cukup signifikan. Tetapi laju pertumbuhan sektor ini lebih rendah dibandingkan sektor yang sama di tingkat Provinsi, sehingga sektor ini diklasifikasikan sebagai sektor maju tapi tertekan.
Tabel 4.12. Analisis Sektor Pertambangan dan Penggalian
No. Aspek Parameter Makna
1. Tipologi Klassen Kuadran II Sektor maju tapi tertekan
2. LQ > 1 Sektor Basis
3. P Positif Tumbuh cepat di Provinsi 4. D Negatif Pertumbuhan lebih lambat
dibanding Provinsi Sumber: Data diolah dari Lampiran 4, 6 dan 8
Nilai LQ sektor pertambangan dan penggalian menunjukkan nilai lebih besar dari 1, yaitu 1,26 yang berarti sektor ini termasuk ke dalam sektor basis. Perkembangan nilai LQ sektor ini selama periode penelitian berfluktuatif, di mana secara umum mengalami penurunan seperti ditunjukkan Gambar 4.4.
Hasil analisis shift share sektor pertambangan dan penggalian, komponen P sebesar 17.858,07 menunjukkan sektor ini termasuk ke dalam sektor yang di Provinsi tumbuh dengan cepat, sedangkan nilai D sebesar -19.495,41 berarti sektor ini mempunyai daya saing yang menurun, sehingga pertumbuhannya lebih lambat
dibandingkan Provinsi.
Berdasarkan analisis sektor pertambangan dan penggalian, menunjukkan bahwa sektor ini tidak dapat digolongkan ke dalam sektor unggulan, karena sektor ini termasuk ke dalam sektor maju tapi tertekan. Walaupun termasuk sektor basis, tetapi nilai LQ nya menunjukkan kecenderungan menurun serta pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan Provinsi.
S umber: Data diolah dari Lampiran 6
Gambar 4.4. Grafik Perkembangan LQ Sektor Pertambangan dan Penggalian
4.5.3. Analisis Sektor Industri Pengolahan
Sektor industri pengolahan apabila ditinjau dari segi kontribusinya terhadap PDRB menduduki urutan kedua dengan konstribusi rata-rata 24,28 persen per tahun lebih besar dibandingkan Provinsi, namun memiliki laju pertumbuhan rata-rata
negatif sebesar -2,60 lebih kecil daripada Provinsi. Sehingga sektor ini diklasifikasikan ke dalam sektor maju tapi tertekan.
Berdasarkan Gambar 4.5. perkembangan LQ sektor industri pengolahan berfluktuatif dengan trend menurun tajam pada tiga tahun akhir periode pengamatan. Walaupun demikian, nilai LQ rata-rata sektor ini merupakan yang paling besar dibandingkan sektor lain, yaitu sebesar 2,11, sehingga dapat digolongkan sebagai sektor basis.
Tabel 4.13. Analisis Sektor Industri Pengolahan
No. Aspek Parameter Makna
1. Tipologi Klassen Kuadran II Sektor maju tapi tertekan
2. LQ > 1 Sektor Basis
3. P Negatif Tumbuh lambat di Provinsi 4. D Negatif Pertumbuhan lebih lambat
dibanding Provinsi Sumber: Data diolah dari Lampiran 4, 6 dan 8
Sektor industri pengolahan memiliki nilai komponen P sebesar -295.506,76 yang menunjukkan bahwa sektor ini tumbuh lambat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sedangkan nilai komponen D sebesar -143.223,47 menggambarkan bahwa sektor industri pengolahan sebagai sektor yang daya saingnya menurun, sehingga pertumbuhannya lebih lambat daripada pertumbuhan di Provinsi.
Sumber: Data diolah dari Lampiran 6
Gambar 4.5. Grafik Perkembangan LQ Sektor Industri Pengolahan Berdasarkan hasil analisis sektor industri pengolahan, maka sektor ini tidak termasuk ke dalam sektor unggulan. Walaupun termasuk sektor basis tetapi pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan Provinsi (tidak kompetititf) dan tergolong ke dalam sektor maju tapi tertekan.
4.5.4. Analisis Sektor Listrik dan Air Minum
Hasil analisis menggunakan Klassen Tipology sektor listrik dan air minum diklasifikasikan sebagai sektor relatif tertinggal. Hal ini disebabkan pertumbuhan rata-rata sebesar 8.12 % masih lebih kecil dibandingkan pertumbuhan rata-rata di tingkat Provinsi sebesar 10.68 %. Sedangkan kontribusi rata-rata terhadap PDRB sebesar 0.19 % juga lebih kecil dibandingkan Provinsi sebesar 0.31 %.
Perkembangan nilai LQ sektor listrik dan air minum berfluktuatif dengan
trend menurun dan nilainya tidak pernah > 1 (Gambar 4.6.), sehingga sektor ini
dikategorikan sebagai sektor non basis.
Tabel 4.14. Analisis Sektor Listrik dan Air Minum
No. Aspek Parameter Makna
1. Tipologi Klassen Kuadran IV Sektor relatif tertinggal
2. LQ < 1 Sektor Non Basis
3. P Positif Tumbuh cepat di Provinsi 4. D Negatif Pertumbuhan lebih lambat
dibanding Provinsi Sumber: Data diolah dari Lampiran 4, 6 dan 8
Analisis shift share sektor listrik dan air minum selama periode penelitian, diperoleh nilai P sebesar 2.420,33 menunjukkan sektor ini tumbuh cepat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sementara nilai D yang negatif sebesar -3.364,90, berarti sektor ini mempunyai daya saing yang menurun, sehingga pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan Provinsi.
Su mber: Data diolah dari Lampiran 6
Gambar 4.6. Grafik Perkembangan LQ Sektor Listrik dan Air Minum Hasil analisis terhadap sektor listrik dan air minum menunjukkan bahwa sektor ini tidak termasuk sektor unggulan, karena tergolong sebagai sektor relatif tertinggal, bukan sektor basis dan laju pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan Provinsi (tidak kompetitif).
4.5.5. Analisis Sektor Bangunan dan Konstruksi
Sektor bangunan dan konstruksi memberikan kontribusi rata-rata sebesar 5,35 % dan menempati peringkat keenam dibandingkan sektor-sektor lain, namun persentasenya masih lebih kecil dibandingkan Provinsi yang mencapai 7,72 %. Tetapi laju pertumbuhan rata-rata yang mencapai 5,18 % lebih tinggi daripada Provinsi yang hanya sebesar 2,79 %. Kondisi ini menyebabkan sektor bangunan dan konstruksi digolongkan
ke dalam sektor potensial atau masih dapat berkembang.
Tabel 4.15. Analisis Sektor Bangunan dan Konstruksi
No. Aspek Parameter Makna
1. Tipologi Klassen Kuadran III Sektor Potensial
2. LQ < 1 Sektor Non Basis
3. P Negatif Tumbuh lambat di Provinsi 4. D Positif Pertumbuhan lebih cepat
dibanding Provinsi Sumber: Data diolah dari Lampiran 4, 6 dan 8
Sektor bangunan dan konstruksi memiliki nilai LQ rata-rata sebesar 0,67 %, sehingga tidak tergolong sebagai sektor basis. Perkembangan nilai LQ sektor ini menunjukkan penurunan di akhir periode pengamatan dimulai tahun 2005 sampai dengan 2007 seperti ditunjukkan Gambar 4.7.
Berdasarkan hasil analisis shift share, sektor bangunan dan konstruksi dapat dikategorikan sebagai sektor yang kompetitif, karena memiliki nilai komponen D positif sebesar 56.945,41, sehingga pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan Provinsi. Sementara nilai komponen P yang negatif sebesar -7.826,76 berarti sektor ini merupakan sektor yang tumbuh lambat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Su mber: Data diolah dari Lampiran 6
Gambar 4.7. Grafik Perkembangan LQ Sektor Bangunan dan Konstruksi Hasil analisis terhadap sektor bangunan dan konstruksi dapat disimpulkan bahwa sektor ini bukan merupakan sektor unggulan karena bukan merupakan sektor basis. Tetapi sektor ini mempunyai peluang untuk dikembangkan menjadi sektor unggulan karena tergolong sektor potensial atau masih dapat berkembang, kompetitif dan laju pertumbuhan lebih besar daripada Provinsi.
4.5.6. Analisis Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Hasil analisis menggunakan Klassen Tipology terhadap sektor perdagangan, hotel dan restoran menunjukkan bahwa sektor ini tergolong ke dalam sektor relatif tertinggal. Hal ini disebabkan kontribusi rata-ratanya sebesar 12,43 % dan laju pertumbuhan rata-ratanya sebesar 2,26 % masih lebih kecil dibandingkan Provinsi.
Tabel 4.16. Analisis Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
No. Aspek Parameter Makna
1. Tipologi Klassen Kuadran IV Sektor relatif tertinggal
2. LQ < 1 Sektor Non Basis
3. P Negatif Tumbuh lambat di Provinsi 4. D Negatif Pertumbuhan lebih lambat
dibanding Provinsi Sumber: Data diolah dari Lampiran 4, 6 dan 8
Berdasarkan Gambar 4.8. perkembangan nilai LQ sektor perdagangan, hotel dan restoran menunjukkan nilai LQ rata-rata < 1 yaitu sebesar 0,69. Hal ini berarti sektor ini termasuk sektor non basis, sehingga sektor ini dapat dikatakan belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat daerah Kabupaten Aceh Utara atau berpotensi impor.
Su mber: Data diolah dari Lampiran 6
Gambar 4.8. Grafik Perkembangan LQ Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Nilai komponen P sektor perdagangan, hotel dan restoran yang negatif sebesar -10.243.08 berarti bahwa sektor ini tumbuh lambat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Demikian juga dengan nilai komponen D yang negatif sebesar -102.340,13 menunjukkan sektor ini tumbuh lebih lambat dibandingkan pertumbuhan di Provinsi atau dapat dikatakan tidak kompetitif.
Hasil analisis terhadap sektor perdagangan, hotel dan restoran dapat ditarik kesimpulan bahwa sektor ini bukan merupakan sektor unggulan, karena tergolong sektor relatif tertinggal, bukan merupakan sektor basis, dan tidak kompetitif.
4.5.7. Analisis Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
Sektor pengangkutan dan komunikasi menduduki peringkat keempat dalam kontrtibusi rata-ratanya terhadap PDRB Kabupaten Aceh Utara, yaitu sebesar 9.89 % dan melebihi kontribusi sektor yang sama di tingkat Provinsi. Laju pertumbuhan rata-rata mencapai 10.11 % lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan di tingkat Provinsi yang sebesar 8.53 %. Sehingga berdasarkan Klassen Tipology sektor ini diklasifikasikan sebagai sektor maju dan tumbuh pesat.
Tabel 4.17. Analisis Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
No. Aspek Parameter Makna
1. Tipologi Klassen Kuadran I Sektor maju dan tumbuh cepat
2. LQ > 1 Sektor Basis
Lanjutan Tabel 4.17.
4. D Negatif Pertumbuhan lebih lambat dibanding Provinsi
Sumber: Data diolah dari Lampiran 4, 6 dan 8
Perkembangan nilai LQ sektor ini seperti ditunjukkan Gambar 4.9 cenderung menurun dimulai tahun 2003, tetapi nilai LQ rata-ratanya masih > 1. Sehingga sektor ini tergolong sebagai sektor basis.
Hasil analisis shift share terhadap sektor pengangkutan dan komunikasi
diperoleh nilai komponen P sebesar 55.393,32 dan nilai komponen D sebesar -89.147,19. Hal ini berarti sektor ini tergolong ke dalam sektor yang tumbuh cepat di tingkat Provinsi dan mempunyai daya saing yang menurun, sehingga pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan Provinsi.
Hasil analisis terhadap sektor pengangkutan dan komunikasi dapat disimpulkan bahwa sektor ini merupakan sektor non unggulan walaupun tergolong ke dalam sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat dan merupakan sektor basis tetapi sektor ini tumbuh lebih lambat dibanding Provinsi (tidak kompetitif).
Sumber: Data diolah dari Lampiran 6
Gambar 4.9. Perkembangan LQ Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
4.5.8. Analisis Sektor Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya
Berdasarkan analisis Klassen Tipology sektor bank dan lembaga keuangan lainnya termasuk ke dalam klasifikasi sektor relatif tertinggal. Laju pertumbuhan rata-rata yang bernilai negatif sebesar -32.695 persen jauh lebih kecil dibandingkan pertumbuhan di tingkat Provinsi. Sedangkan nilai kontribusi rata-rata terhadap PDRB sebesar 1,20 persen juga lebih kecil dibandingkan Provinsi.
Tabel 4.18. Analisis Sektor Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya
No. Aspek Parameter Makna
1. Tipologi Klassen Kuadran IV Sektor relatif tertinggal
2. LQ < 1 Sektor Non Basis
Lanjutan Tabel 4.18.
4. D Positif Pertumbuhan lebih cepat
dibanding Provinsi Sumber: Data diolah dari Lampiran 4, 6 dan 8
Berdasarkan analisis LQ, sektor bank dan lembaga keuangan lainnya menunjukkan nilai LQ rata-ratanya < 1, yaitu sebesar 0,46 % sebagaimana ditunjukkan Gambar 4.10. Hal ini berarti sektor bank dan lembaga keuangan lainnya termasuk sektor non basis.
Sumber: Data diolah dari Lampiran 6
Gambar 4.10. Grafik Perkembangan LQ Sektor Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya
Perhitungan analisis shift share terhadap sektor bank dan lembaga keuangan lainnya diperoleh nilai komponen P sebesar -73.341,92 yang berarti sektor ini merupakan sektor yang tumbuh lambat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,
karena bernilai negatif. Sedangkan nilai komponen D sebesar 81.567,71 berarti sektor ini mempunyai laju pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan Provinsi.
Berdasarkan hasil analisis terhadap sektor bank dan lembaga keuangan lainnya menunjukkan bahwa sektor ini bukan merupakan sektor unggulan. Sektor ini tergolong ke dalam sektor relatif tertinggal dan bukan merupakan sektor basis.
4.5.9. Analisis Sektor Jasa-jasa
Sektor jasa-jasa tergolong ke dalam sektor relatif tertinggal, karena kontribusi rata-rata sektor ini sebesar 6,73 % lebih kecil dibandingkan kontribusi rata-rata di tingkat Provinsi sebesar 13.91%. Sedangkan laju pertumbuhan rata-rata sektor jasa-jasa sebesar 1,5 % juga lebih kecil dibandingkan Provinsi sebesar 8,61 %.
Tabel 4.19. Analisis Sektor Jasa-jasa
No. Aspek Parameter Makna
1. Tipologi Klassen Kuadran IV Sektor relatif tertinggal
2. LQ < 1 Sektor Non Basis
3. P Positif Tumbuh cepat di Provinsi 4. D Negatif Pertumbuhan lebih lambat
dibanding Provinsi Sumber: Data diolah dari Lampiran 4, 6 dan 8
Perkembangan nilai LQ sektor jasa-jasa menunjukkan kecenderungan menurun sepanjang periode pangamatan sebagaimana ditunjukkan Gambar 4.11. Nilai LQ rata- rata sektor ini sebesar 0,33 % yang lebih kecil dari satu, sehingga digolongkan ke dalam sektor non basis.
Hasil analisis shift share terhadap sektor jasa-jasa menunjukkan nilai komponen P sebesar 115.184,49 berarti bahwa sektor ini tumbuh cepat di tingkat Provinsi. Sedangkan nilai komponen D yang negatif sebesar -143.909,94 berarti sektor ini pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan pertumbuhan di tingkat Provinsi.
Berdasarkan hasil analisis terhadap sektor jasa-jasa dapat disimpulkan bahwa sektor ini bukan merupakan sektor unggulan, karena tergolong ke dalam sektor relatif tertinggal, bukan merupakan sektor basis dan pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan Provinsi.
Sumber: Data diolah dari Lampiran 6
Gambar 4.11. Grafik Perkembangan LQ Sektor Jasa-jasa