• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.6. Sektor Unggulan Kaitannya dengan Pengembangan

Hasil analisa per sektor menunjukkan bahwa pada Kabupaten Aceh Utara hanya terdapat satu sektor yang merupakan sektor unggulan, yaitu sektor pertanian.

Sektor pertanian memiliki beberapa sub sektor yang layak dikembangkan, sehingga kontribusinya terhadap produksi pertanian meningkat dan secara keseluruhan akan meningkatkan PDRB Kabupaten Aceh Utara.

Hasil analisis Location Quotient terhadap sub sektor pertanian sebagaimana tercantum pada Lampiran 6, nilai LQ > 1 dijumpai pada sub sektor tanaman bahan makanan, sub sektor tanaman perkebunan, sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya dan sub sektor perikanan. Hanya sub sektor kehutanan yang nilai LQ nya < 1.

Bila nilai LQ > 1 berarti sub sektor tersebut merupakan sub sektor unggulan di Kabupaten Aceh Utara dan potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian daerah, namun apabila LQ < 1 berarti sub sektor tersebut bukan merupakan sub sektor unggulan dan kurang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian daerah.

Peran pemerintah daerah untuk memberdayakan sub sektor unggulan sebagai penggerak perekonomian daerah sangat diperlukan, terutama dalam proses pertukaran komoditas antar daerah yang mendorong masuknya pendapatan dari luar daerah ke Kabupaten Aceh Utara.

Pertumbuhan sektor pertanian akan memberikan kontribusi besar terhadap penanggulangan kemiskinan dan dapat mendorong kenaikan nilai tambah sektor non pertanian. Pengembangan sektor pertanian sebagai sektor unggulan akan berdampak luas terhadap masyarakat, sebagaimana ditunjukkan Gambar 4.12. mata pencaharian penduduk Kabupaten Aceh Utara 65,07 % bekerja di sektor pertanian.

Sumber: Bappeda Kabupaten Aceh Utara

Gambar 4.12. Komposisi Mata Pencaharian Penduduk Kabupaten Aceh Utara menurut Sektor

Tabel 4.20 menunjukkan bahwa kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan terhadap PDRB sektor pertanian merupakan yang terbesar dengan rata-rata 35,01 % per tahun dalam periode tahun 2000-2007. Lalu diikuti sub sektor perikanan sebesar 29,64 %, sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya sebesar 17,69 %, sub sektor tanaman perkebunan sebesar 16,62 % dan sub sektor kehutanan sebesar 1,04 %.

Tabel 4.20. Perkembangan Kontribusi Sub Sektor Pertanian Terhadap PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Aceh Utara Tahun 2000-2007 atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (dalam persentase)

Tahun No Sub Sektor Pertanian 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Rata - Rata a Tanaman Bahan Makanan 33,89 35,67 35,02 34,46 35,00 35,18 35,36 35,47 35,01 b Tanaman Perkebunan 18,89 15,32 16,45 17,07 16,39 16,27 16,29 16,32 16,62

Lanjutan Tabel 4.20. c Peternakan dan Hasil- Hasilnya 14,20 16,90 18,12 18,97 18,44 18,43 18,28 18,19 17,69 d Kehutanan 1,55 1,35 1,17 0,97 0,84 0,82 0,81 0,79 1,04 e Perikanan 31,48 30,75 29,24 28,52 29,33 29,31 29,26 29,23 29,64 Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber: Lampiran 4

Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi sub sektor unggulan dari sektor pertanian adalah sub sektor tanaman bahan makanan, sub sektor tanaman perkebunan, sub sektor peternakan dan hasil-hasilnya dan sub sektor perikanan.

Sub sektor tanaman pangan apabila ditinjau dari jumlah produksi pada tahun 2007 sebagaimana tercantum pada Lampiran 9 didominasi oleh tanaman padi dengan jumlah produksi mencapai 213.303,43 ton pada areal tanam seluas 51.613 ha, ubi kayu sejumlah 7.925,93 ton dengan luas tanam 398 ha, semangka sejumlah 6.977,65 ton dengan luas tanam 363 ha, jagung sejumlah 5.595,86 ton dengan luas tanam 3.103 ha, dan ketimun sejumlah 4.708,23 ton dengan luas tanam 441 ha.

Luas lahan perkebunan mengalami kenaikan dari tahun 2003 seluas 36.534 ha menjadi 50.116 ha pada tahun 2007, hal ini menunjukkan terjadinya penambahan luas lahan perkebunan. Lampiran 10 menunjukkan bahwa produksi komoditi utama sub sektor tanaman perkebunan yang paling besar pada tahun 2007 adalah produksi tanaman kelapa sawit sebesar 166.751 ton kemudian diikuti komoditi kelapa sebesar 9.966 ton, kakao sebesar 7.396 ton, pinang sebesar 6.662 ton dan karet sebesar 5.147 ton. Tanaman kelapa sawit sebagian besar dibudidayakan pada Kecamatan Paya

Bakong, Sawang, Nisam, Tanah Jambo Aye dan Lhoksukon.

Sub sektor peternakan memberikan kontribusi rata-rata 5,97 % per tahun terhadap PDRB Kabupaten Aceh Utara tanpa migas (17,69 % terhadap sektor pertanian). Jenis usaha peternakan yang terdapat di Kabupaten Aceh Utara adalah sapi, kerbau, kambing, domba dan unggas dengan jumlah populasi pada tahun 2007 sebagaimana tercantum pada Lampiran 11.

Perusahaan ternak umumnya merupakan usaha ternak masyarakat, sehingga skala usahanya juga relatif masih kecil. Sebagian besar pengelolaan usaha ternak oleh masyarakat tersebut masih berupa pengembalaan, karena dukungan ketersediaan lahan yang masih sangat luas.

Sub sektor perikanan, sebagaimana tercantum pada Lampiran 12, pada tahun 2007 menghasilkan produksi perikanan laut sebesar 8.918,60 ton dan budidaya sebesar 4.080,82 ton. Kontribusi sub sektor perikanan yang rata-rata mencapai sebesar 29,64 % per tahun memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sub sektor unggulan. Letak geografis Kabupaten Aceh Utara di mana sebelah utara sebagian besar berbatasan langsung dengan Selat Malaka menyediakan areal yang cukup potensial untuk pengembangan sub sektor perikanan, baik untuk kegiatan penangkapan ikan maupun budidaya.

Kegiatan penangkapan perikanan laut di Kabupaten Aceh Utara sampai saat ini masih ditujukan untuk konsumsi lokal dan umumnya masih berkisar pada daerah pesisir dan pantai. Beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Utara yang merupakan pusat kegiatan perikanan laut, yaitu Kecamatan Syamtalira Bayu, Tanah Jambo Aye,

Seunuddon, Samudera, Muara Batu dan Dewantara.

Pemahaman terhadap kondisi ekonomi daerah menjadi semakin penting dengan diberlakukannya otonomi daerah. Pelimpahan kewenangan dan sumber daya finansial yang besar kepada Kabupaten Aceh Utara harus diikuti dengan peningkatan efektivitas pembangunan ekonomi. Perencanaan harus didukung dengan data yang akurat dan analisis yang komprehensif untuk pengambilan keputusan yang berkualitas dalam pembangunan ekonomi.

Potensi pertumbuhan ekonomi adalah penting untuk diidentifikasi, melalui penerapan alat analisis ekonomi regional dapat diperoleh informasi untuk membantu perencana dan pengambil keputusan di daerah guna mengetahui kondisi perekonomian, mengendalikan tingkat pertumbuhan, mengetahui kecenderungannya dan meramalkan dampak keputusan di masa mendatang.

Prioritas pembangunan ekonomi di Kabupaten Aceh Utara haruslah di dasarkan pada sektor dan sub sektor unggulan, tidak hanya di dasarkan pada sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga memperhatikan teknologi dan kualitas sumber daya manusia. Sehingga produk-produk yang dihasilkan akan mempunyai daya saing yang tinggi, karena didukung oleh potensi spesifik yang dimiliki Kabupaten Aceh Utara.

Perkembangan sektor pertanian dan sub sektornya akan mendorong perkembangan sektor yang menggunakan produk sektor pertanian sebagai inputnya (forward linkage) dan sektor yang produknya merupakan input bagi sektor pertanian (backward linkage). Peningkatan permintaan terhadap produk sektor pertanian akan

mendorong penambahan jumlah produksi, sehingga berimplikasi pada peningkatan kebutuhan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat. Kondisi yang sama akan terjadi pada sektor lainnya, sehingga pengembangan sektor pertanian akan mendorong terjadi pengembangan wilayah Kabupaten Aceh Utara.

Sebagai basis perekonomian masyarakat, maka pembangunan pada sektor pertanian di pedesaan juga dapat lebih menjamin pemerataan pendapatan, karena sebagian besar masyarakat Kabupaten Aceh Utara tinggal di pedesaan dan menggantungkan hidupnya pada sektor ini.

Analisis penentuan sektor unggulan diperlukan sebagai dasar untuk perumusan pola kebijakan pembangunan ekonomi Kabupaten Aceh Utara di masa mendatang, sehingga kebijaksanaan pembangunan ekonomi dapat di arahkan untuk menggerakkan sektor-sektor tersebut. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dapat menentukan alokasi dan prioritas anggaran untuk sektor pertanian secara signifikan untuk memacu perkembangan atau pertumbuhan ekonomi daerah, sehingga mendorong tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Dokumen terkait